PTK SD Model CTL Berbantuan Kopaja KW

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR MATERI PENGUKURAN MELALUI MODEL CTL BERBANTUAN KOPAJA KW PADA PESERTA DIDIK KELAS V SD NEGERI KLAMPOK 01

fauzi

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model CTL berbantuan Kopaja KW pada materi pengukuran dalam pembelajaran matematika di kelas V sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (action research) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan: prestasi belajar matematika peserta didik mengalami peningkatan yaitu pada siklus 1 rata-rata hasil belajar 68,4 dengan persentase 67,57% menjadi 80 dengan persentase 89,19% pada siklus 2; dan keaktifan peserta didik dari kategori kurang aktif dengan persentase 18,13% pada siklus 1 menjadi sangat aktif dengan persentase 21,67% pada siklus 2. Dari penelitian ini diperoleh simpulan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model CTL berbantuan Kopaja KW dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik dan berpengaruh positif terhadap keaktifan peserta didik di kelas V SDN Klampok 01 semester 2 tahun pelajaran 2014/2015, saran yang dapat diajukan adalah pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran dan alat peraga ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran matematika.

Kata Kunci : pembelajaran matematika, model CTL, dan Kopaja KW

 

PENDAHULUAN

Keberhasilan pendidikan ditentukan oleh banyak hal baik dari peserta didik, guru, masyarakat, pemerintah, maupun yang lainnya. Guru sebagai pengelola kelas mempunyai peranan sangat dominan dalam proses belajar mengajar. Bagaimana mungkin jika seseorang guru di depan kelas bersikap monoton, angker, menyeramkan, tidak ada alat peraga yang menarik, sukar ditanya, dan tidak simpatik. Sikap demikian bukan hanya membuat kegiatan belajar tidak menyenangkan saja, akan tetapi lebih fatal lagi menyebabkan anak memandang matematika seperti halnya memandang gurunya, yaitu seperti halnya momok atau hantu yang menakutkan. Sebenarnya anak tadi membutuhkan untuk memecahkan masalah, melainkan siswa hanya diberikan contoh soal kemudian siswa dimintai untuk menyelesaikan sejumlah soal.

Disinilah diperlukan suatu model pembelajaran dengan bantuan alat peraga yang sesuai dengan materi, kondisi dan kesiapan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran, sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dengan indikator ketercapaian pembelajaran meningkat. Untuk itu agar penanaman konsep tentang pembelajaran materi pengukuran pada hubungan antar satuan jarak, kecepatan dan waktu, kami mencoba membuat alat peraga sederhana dengan tujuan membantu peserta didik dan guru dalam menyajikan materi pengukuran, serta menampilkan alat peraga yang meningkatkan motivasi peserta didik.

Dari beberapa penjelasan di atas pembelajaran yang dirasa cocok adalah model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) atau disingkat CTL. Agar penanaman konsep materi pengukuran akan hubungan antar satuan jarak, kecepatan dan waktu mudah diterima, peneliti mencoba membuat alat peraga sederhana yang diberi nama “Kopaja KW(Koordinat Pencari Jarak, Kecepatan dan Waktu) dengan tujuan membantu teman dan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar pada materi pengukuran serta menampilkan alat peraga yang meningkatkan motivasi peserta didik.

Masalah utama dalam penelitian ini adalah keaktifan belajar dan prestasi belajar matematika peserta didik masih rendah, hal tersebut dikarenakan belum menerapkan model pembelajaran CTL berbantuan Kopaja KW pada materi pengukuran. Adapun permasalahan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut, seberapa besar pembelajaran matematika dengan menerapkan model CTL berbantuan Kopaja KW dapat meningkatkan : (1) keaktifan peserta didik dalam pembelajaran matematika; dan (2) prestasi belajar matematika peserta didik pada materi pengukuran di kelas V SD Negeri Klampok 01 semester 2 tahun pelajaran 2014/2015?

KAJIAN PUSTAKA

Kokom Komalasari (2010:2), mendefinisikan belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku dalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperoleh dalam jangka waktu yang lama dan dengan syarat bahwa perubahan yang terjadi tidak disebabkan oleh adanya kematangan atau perubahan sementara karena hal. Pengertian belajar berisi tentang apa yang terjadi dan apa yang diharapkan terjadi pada proses perkembangan dan perubahan peserta didik.

Matematika merupakan terjemahan dari Mathematics, namun arti atau definisi yang tepat dari matematika tidak dapat diterapkan secara pasti dan singkat. Ruseffendi (1988:261) mengemukakan bahwa: Matematika ratu ilmu (mathematics is the queen of the science), matematika tidak bergantung pada bidang studi yang lain: bahasa, dan agar dapat dipahami orang dengan tepat harus menggunakan simbol dan istilah yang cermat yang disepakati secara bersama. Ilmu deduktif yang tidak menerima generasi yang didasarkan kepada observasi (induktif) terapi generalisasi yang didasarkan kepada pembuktian secara deduktif.

Belajar matematika pada dasarnya merupakan proses yang diarahkan pada suatu tujuan. Tujuan belajar matematika dapat dilihat dari kemampuan seseorang memfungsionalkan materi matematika yang dipelajari, baik secara konseptual maupun secara praktik. Secara konseptual dimaksudkan dapat mempelajari matematika lebih lanjut, sedangkan secara praktik dimaksudkan menerapkan matematika pada bidang lain (Partono, 2008).

Menurut Herman Hudojo (1988:6) seseorang dikatakan belajar matematika bila dapat diasumsikan dalam diri orang tersebut terjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku, dimana tingkah laku ini dapat diamati, yang diperoleh dengan adanya usaha orang tersebut. Perubahan yang diakibatkan oleh proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan pemahaman, perubahan pengetahuan, sikap dan tingkah laku, keterampilan dan aspek-aspek lain yang ada pada diri orang yang belajar. Seseorang belajar matematika jika pada diri orang tersebut terjadi perubahan tingkah laku yang berkaitan dengan matematika. Misal, orang yang telah belajar matematika akan terjadi perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dan mampu menerapkanya dalam kehidupan nyata.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar matematika merupakan perubahan yang diakibatkan seseorang oleh proses belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan pemahaman, perubahan pengetahuan, sikap dan tingkah laku, keterampilan dan aspek-aspek lain yang ada pada diri orang yang belajar yang berkaitan dengan matematika.

Model Pembelajaran CTL Matematika

Menurut La Iru dan La Ode Safiun Arihi (2012:6), model berarti contoh, acuan atau ragam sesuatu yang akan dibuat atau yang dihasilkan. Model pembelajaran berarti acuan pembelajaran yang dilaksanakan berdasarkan pola-pola pembelajaran tertentu secara sistematis. Pemilihan penggunaan model-model pembelajaran dilakukan sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran tertentu dan disesuaikan dengan materi, kemampuan siswa, karakteristik siswa dan sarana penunjang yang terjadi.

Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkanya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan mereka (Wina Sanjaya, 2005:109).

Pembelajaran matematika kontekstual telah berkembang dinegara-negara lain dengan berbagai nama, di Belanda dengan nama RME (Realistic Mathematics Education), di Amerika berkembang dengan nama CTL (Contextual Teaching Learning in Mathematics) atau CME (Contextual Methematics Education). Sementara itu tahun 1980-an telah terjadi perubahan pijakan teori belajar pada pembelajaran matematika behavioris dan strukturalis kearah kognitif dan kontruktivis realistic (Nur M : 2000:1).

Model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan komponen utama pembelajaran efektif, yakni konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assesment). (Depdiknas, 2003 dalam La Iru dan La Ode Safiun Arihi, 2012:71).

Pada dasarnya pembelajaran matematika yang kontekstual mengacu pada konstuktivisme. Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa realitas ada pada pikiran seseorang. Manusia mengkonstruksi dan menginterprestasikannya berdasarkan pengalaman (Asri Budiningsih, 2005:60). Peranan Guru dalam belajar konstuktivistik adalah membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan oleh peserta didik berjalan lancar. Guru tidak mentransferkan pengetahuan yang telah dimiliki, melainkan membantu peserta didik untuk membentuk pengetahuan sendiri.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran CTL (kontekstual) matematika adalah pedoman yang akan digunakan guru dalam membantu perubahan yang baik dari kepribadian peserta didik yang berkaitan dengan pembelajaran matematika kontekstual berupa masalah-masalah yang aktual bagi peserta didik (sungguh-sungguh ada dalam kenyataan kehidupan sehari-hari) atau masalah-masalah yang dapat dibayangkan sebagai masalah yang nyata oleh peserta didik.

Alat Peraga Kopaja KW

Secara umum pengertian alat peraga adalah seperangkat benda kongkret yang dirancang, dibuat atau disusun secara sengaja yang digunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika (Djoko Iswadji, 2003). Menurut Estiningsih (1994), pengertian alat peraga adalah media pembelajaran yang mengandung atau membawakan ciri-ciri dari konsep yang dipelajari. Guru sadar bahwa tanpa bantuan alat peraga, maka bahan pelajaran sukar untuk dicerna dan dipahami oleh setiap anak didik, terutama bahan pelajaran yang rumit atau kompleks. Dapat disimpulkan bahwa alat peraga adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran (Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2010:121).

Dari uraian-uraian di atas jelaslah bahwa pengertian alat peraga pendidikan adalah merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri peserta didik. Di jenjang pendidikan Sekolah Dasar sudah diperkenalkan beberapa konsep matematika walaupun masih bersifat sederhana dan terbatas sesuai dengan tingkat kemampuan dan perkembangan peserta didik. Namun dalam pembelajaran matematika materi hubungan antar satuan jarak, kecepatan dan waktu sepertinya belum ada alat peraga yang dapat membantu pemahaman akan konsep tersebut. Untuk itu agar penanaman konsep materi pengukuran akan hubungan antar satuan jarak, kecepatan dan waktu mudah diterima, peneliti mencoba membuat alat peraga sederhana yang diberi nama “Kopaja KW” (Koordinat Pencari Jarak, Kecepatan dan Waktu) dengan tujuan membantu teman dan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar pada materi pengukuran tentang hubungan antara jarak, kecepatan dan waktu, serta menampilkan alat peraga yang meningkatkan motivasi peserta didik.

Rancangan dan proses pembuatannya tidak begitu rumit. Peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan alat peraga Kopaja KW melalui sumbu koordinat sangat sederhana dan banyak terdapat di sekitar  lingkungan sekolah dan rumah, sehingga mudah dalam proses pembuatannya. Dalam pembuatan alat peraga Kopaja KW’ ini diharapkan untuk mengetahui hubungan antara beberapa konsep matematika, membuktikan kebenaran beberapa rumus matematika, dan memotivasi semangat belajar peserta didik. Manfaat yang terpenting dalam pembuatan alat peraga ini adalah sebagai alat peraga dalam membantu pembelajaran matematika khususnya pada materi pengukuran akan hubungan antar satuan jarak, kecepatan dan waktu.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan uraian kerangka berpikir tersebut, peneliti berasumsi bahwa : (1) penerapan model CTL berbantuan Kopaja KW pada materi pengukuran diduga meningkatkan aktivitas belajar peserta didik; dan (2) penerapan model CTL berbantuan Kopaja KW diduga efektif meningkatkan prestasi belajar materi pengukuran peserta didik kelas V SD Negeri Klampok 01 semester 2 tahun pelajaran 2014/2015.

METODE PENELITIAN

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan mulai bulan Januari 2015 sampai Mei 2015 di kelas V SD Negeri Klampok 01 pada semester 2 tahun pelajaran 2014/2015. Pada pelaksanaannya dilakukan dengan siklus-siklus kegiatan. Hasil siklus sebelumnya digunakan untuk merevisi rancangan pada siklus berikutnya. Siklus 1 dilaksanakan pada tanggal 21-22 Januari 2015 dan siklus 2 dilaksanakan pada tanggal 15-16 April 2015.

Subjek penelitian adalah peserta didik kelas V berjumlah 31 peserta didik yang terdiri dari 15 laki-laki dan 16 perempuan dengan latar belakang pendidikan orang tua sebagian besar adalah lulusan SD dan SMP, sedangkan latar belakang pekerjaan orang tua sebagian besar adalah sebagai buruh. Alasan peneliti melakukan penelitian ini adalah karena peserta didik cenderung pasif dalam proses pembelajaran dan rendahnya prestasi belajar matematika pada standar kompetensi menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan waktu, jarak dan kecepatan atau pengukuran.

Desain pada penelitian ini akan dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing siklus ada empat tahapan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Pada penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data berbentuk tes dan non tes. Tes digunakan untuk mengetahui hasil atau prestasi belajar peserta didik. Teknik non tes berupa observasi dan wawancara menggunakan lembar observasi dan lembar wawancara untuk menilai keaktifan peserta didik.

Analisis dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk analisis kualitatif dengan pemaparan data yang diperoleh secara deskriptif komparatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan mendeskripsikan kegiatan pembelajaran tiap-tiap siklus dalam penelitian disertai dengan data-data kuantitatif yang dilakukan secara sederhana.

Indikator penelitian yang diteliti adalah peningkatan keaktifan dan prestasi belajar peserta didik melalui model CTL berbantuan Kopaja KW bagi peserta didik kelas V SD Negeri Klampok 01 semester 2 tahun pelajaran 2014/2015. Indikator keberhasilan dari penerapan model CTL berbantuan Kopaja KW dalam peningkatan keaktifan dan prestasi belajar peserta didik adalah sebagai berikut : (1) meningkatnya keaktifan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran yang ditandai dengan kehadiran, keberanian peserta didik dalam mengemukakan pendapat, dan kerjasama dalam kelompok kategori Baik; (2) adanya ketuntasan belajar peserta didik lebih dari 75% dengan (KKM ≥ 65).

Alat pengumpulan data pada penelitian adalah instrumen sebelum dan sesudah tindakan berupa lembar observasi, pedoman wawancara, dan lembar tes tertulis peserta didik.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA

Kondisi awal peserta didik kelas V SD Negeri Klampok 01 semester 2 tahun pelajaran 2014/2015 adalah peserta didik masih cenderung bersifat pasif dalam menerima pembelajaran, perhatian peserta didik terhadap pembelajaran matematika masih rendah, kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan soal-soal matematika masih rendah, dan prestasi belajar matematika peserta didik masih rendah. Berikut adalah kondisi peserta didik ketika pembelajaran matematika dengan teknik klasikal tanpa menggunakan model CTL dan alat peraga, gambar berikut diambil pada hari Senin, 12 Januari 2015 sebelum pembelajaran setiap siklus dimulai.

Data nilai peserta didik yang diperoleh menunjukkan kondisi awal peserta didik memiliki prestasi belajar matematika yang rendah. Hal ini tergambar dari nilai ulangan harian sebelum penelitian peserta didik yang mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM sekolah 65) sebanyak 20 peserta didik (64,52%) dari jumlah peserta didik seluruhnya 31. Nilai rata-rata kelas peserta didik 62,35 dengan nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 45.

Deskripsi Siklus 1

Pembelajaran pada siklus 1 merupakan pelaksanaan analisis tindakan perbaikan sebagai hasil dari refleksi kegiatan pembelajaran pra siklus. Pada siklus 1 ini menitik beratkan pada pemahaman peserta didik terhadap materi pengukuran akan hubungan jarak, kecepatan, dan waktu.

Pelaksanaan tindakan siklus pertama ini dilakukan pada hari Rabu tanggal 21 Januari 2015 untuk pertemuan pertama, dan pertemuan kedua dilaksanakan hari Kamis tanggal 22 Januari 2015. Kegiatan pembelajaran dengan model CTL berbantuan Kopaja KW ini dilakukan di dalam kelas oleh guru kelas sebagai peneliti dan teman sejawat sebagai observer. Aktivitas proses kegiatan pembelajaran siklus 1 dapat dilihat dalam gambar berikut ini:

fauzi1                        faui2

Gambar 1. Peserta didik berdiskusi                                          Gambar 2. Guru membantu diskusi

fauzi3                         fauzi4

       Gambar 3. Presentasi peserta didik                            Gambar 4. Kelompok lain memberikan tanggapan

fauzi5

Gambar 5. Alat peraga Kopaja KW

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari RPP 1, LKS 1, soal tes formatif 1, dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengolahan pembelajaran dengan menggunakan model CTL berbantuan Kopaja KW, dan lembar observasi keaktifan peserta didik. Adapun data hasil penelitian tindakan kelas pada siklus 1 adalah sebagai berikut.

Tabel 1. Pengelolaan Pembelajaran pada Siklus 1

No Aspek yang diamati Penilaian Rata-rata
Pengamat 1 Pengamat 2
I Pengamatan KBM 2 2 2 (kurang)
II Pengelolaan Waktu 2 2 2 (kurang0
III Antusiasme kelas

1.     Peserta didik antusias

2.     Guru antusias

 

3

3

 

3

3

 

3Cukup)

3(cukup)

Jumlah 10 10 10

Berdasarkan Tabel 1 diketahui aspek-aspek yang mendapatkan kriteria kurang baik adalah pengamatan KBM (memotivasi peserta didik dan menyampaikan tujuan pembelajaran), pengelolaan waktu. Ketiga aspek yang mendapat penilaian kurang baik di atas, merupakan suatu kelemahan yang terjadi pada siklus 1, selanjutnya akan dijadikan bahan kajian untuk refleksi dan revisi yang akan dilakukan pada siklus 2. Hasil observasi berikutnya adalah keaktifan peserta didik seperti tabel berikut ini.

Tabel 2. Keaktifan Peserta Didik pada Siklus 1

No Keaktifan peserta didik yang diamati Persentase
1

2

3

4

5

6

 

7

 

8

9

Mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru;

Membaca buku siswa;

Bekerja dengan sesama anggota kelompok;

Diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru;

Menyajikan/ mempresentasikan hasil pelajaran;

Mengajukan pertanyaan/ menanggapi pertanyaan/ide;

Berani menggunakan bantuan alat peraga untuk menyelesaikan masalah;

Merangkum pembelajaran; dan

Mengerjakan tes evaluasi

20,63

12,29

18,75

14,38

3,96

6,25

 

8,75

 

6,88

8,13

Berdasarkan Tabel 2 tampak bahwa keaktifan peserta didik yang paling dominan adalah mengerjakan/ memperhatikan penjelasan guru yaitu 20,63%. Aktivitas lain yang persentasenya cukup besar adalah bekerjasama dengan sesama anggota kelompok, diskusi antar peserta didik/ antara peserta didik dengan guru, dan membaca buku siswa yaitu masing-masing 18,75%, 14,38%, dan 12,29%.

Pada siklus 1, secara garis besar kegiatan belajar dengan menggunakan model CTL berbantuan Kopaja KW sudah dilaksanakan dengan baik, walaupun peranan guru masih cukup dominan untuk memberikan penjelasan dan arahan karena model pembelajaran tersebut masih dirasakan asing oleh peserta didik. Berikutnya adalah rekapitulasi hasil tes formatif peserta didik seperti terlihat pada tabel berikut.

Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siklus 1

No Uraian Hasil Siklus 1
1

2

3

Nilai rata-rata tes formatif

Jumlah peserta didik yang tuntas belajar

Persentase ketuntasan belajar

68,4

21

67,57%

Dari Tabel 3 dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan model CTL berbantuan Kopaja KW diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar peserta didik adalah 68,4 dan ketuntasan belajar mencapai 67,57% atau ada 21 peserta didik dari 31 peserta didik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus 1 secara klasikal peserta didik belum tuntas, karena peserta didik yang memperoleh nilai ≥ 65 hanya sebesar 67,57% lebih kecil dari persentase yang dikehendaki yaitu sebesar 75%. Hal ini disebabkan karena peserta didik masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan dengan menerapkan model CTL  berbantuan Kopaja KW.

Deskripsi Siklus 2

Perbaikan pembelajaran pada siklus 2 merupakan pelaksanaan analisis tindakan perbaikan sebagai hasil dari refleksi kegiatan pembelajaran siklus 1. Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari RPP 2, LKS 2, soal tes formatif 2, dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengelolaan pembelajaran dengan menggunakan model CTL berbantuan Kopaja KW, dan lembar observasi keaktifan peserta didik.

Pelaksanaan tindakan siklus ke dua ini dilakukan pada hari Rabu tanggal 15 April 2015 untuk pertemuan pertama, dan pertemuan kedua dilaksanakan hari Kamis tanggal 16 April 2015. Kegiatan pembelajaran dengan model CTL berbantuan Kopaja KW ini dilakukan di dalam kelas oleh guru kelas sebagai peneliti dan teman sejawat sebagai observer. Adapun data hasil penelitian tindakan kelas pada siklus 2 adalah sebagai berikut di bawah ini.

Tabel 4. Pengelolaan Pembelajaran pada Siklus 2

No Aspek yang diamati Penilaian Rata-rata
Pengamat 1 Pengamat 2
I Pengamatan KBM 4 4 4 (Baik)
II Pengelolaan Waktu 3 3 3(cukup)
III Antusiasme kelas

1.     Peserta didik antusias

2.     Guru antusias

 

4

4

 

3

4

 

3,5(cukup)

4 (baik)

Jumlah 15 14 14,5

Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat aspek-aspek yang diamati pada kegiatan pembelajaran pada siklus 2 yang dilaksanakan oleh guru dengan menerapkan model CTL berbantuan Kopaja KW mendapatkan penilaian cukup baik dari pengamat adalah membimbing siswa merumuskan kesimpulan/ menemukan konsep, dan pengelolaan waktu. Penyempurnaan aspek-aspek di atas dalam menerapkan model CTL berbantuan Kopaja KW diharapkan dapat berhasil semaksimal mungkin. Berikut disajikan hasil observasi keaktifan peserta didik seperti tabel 5.

Tabel 5. Keaktifan Peserta Didik pada Siklus 2

No Keaktifan Siswa yang diamati Persentase
1

2

3

4

5

6

 

7

 

8

9

Mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru;

Membaca buku siswa;

Bekerja dengan sesama anggota kelompok;

Diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru;

Menyajikan/ mempresentasikan hasil pelajaran;

Mengajukan pertanyaan/ menanggapi pertanyaan/ide;

Berani menggunakan bantuan alat peraga untuk menyelesaikan masalah;

Merangkum pembelajaran; dan

Mengerjakan tes evaluasi

19,38

13,96

20,21

14,58

5,21

5,42

 

6,25

 

7,29

7,71

Berdasarkan Tabel 5 tampak bahwa keaktifan peserta didik yang paling dominan pada siklus 2 bekerja dengan sesama anggota kelompok yaitu 20,21%, dan mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru yaitu 19,38% dan diskusi antar peserta didik/ antara peserta didik dengan guru yaitu 14,58%. Berikutnya adalah rekapitulasi hasil tes formatif peserta didik pada siklus 2 seperti terlihat pada tabel berikut.

Tabel 6. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siklus 2

No Uraian Hasil Siklus 2
1

2

3

Nilai rata-rata tes formatif

Jumlah peserta didik yang tuntas belajar

Persentase ketuntasan belajar

80

28

89,19%

Refleksi yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan model CTL berbantuan Kopaja KW pada materi pengukuran. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik; 2) Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar; 3) Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa peserta didik aktif selama proses belajar berlangsung; 4) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik; dan 5) Hasil belajar peserta didik pada siklus 2 mencapai ketuntasan.

Pada siklus 2 guru telah menerapkan model CTL berbantuan Kopaja KW dengan baik dan dilihat dari keaktifan serta prestasi belajar peserta didik pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses pembelajaran selanjutnya penerapan model CTL berbantuan Kopaja KW dapat meningkatkan proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan analisis data, diperoleh keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran matematika pada materi pengukuran dengan model CTL berbantuan Kopaja KW yang paling dominan adalah bekerja sama dengan menggunakan alat peraga, mendengarkan atau memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar peserta didik/ antara peserta didik dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa keaktifan peserta didik dapat dikategorikan aktif yaitu dari 18,13% pada siklus 1 menjadi 21,67% pada siklus 2.

Melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model CTL berbantuan Kopaja KW memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Hal ini ditandai dengan semakin mantapnya pemahaman peserta didik terhadap materi yang disampaikan guru adanya ketuntasan belajar meningkat dari siklus 1 ke siklus 2 yaitu masing-masing 67,57% menjadi 89,19% sehingga ada peningkatan sebesar 21,62%. Pada siklus 2 ketuntasan belajar peserta didik secara klasikal telah tercapai.

Hal ini sesuai dengan pendapat Widia Asih Fitriani (2005), bahwa model pembelajaran CTL menghasilkan prestasi belajar yang lebih tinggi daripada model pembelajaran STAD. Hal ini juga senada dengan manfaat dari media, antara lain : 1) untuk menyalurkan pesan, 2) merangsang pikiran, 3) melatih perasaan dan perhatian, serta 4) menarik minat dan kreativitas peserta didik (Sadiman, 2002).

Berdasarkan deskripsi tersebut, maka hipotesis yang diajukan diterima, yakni proses pembelajaran matematika dengan menerapkan model CTL berbantuan Kopaja KW dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik terbukti adanya peningkatan keaktifan dan ketuntasan belajar peserta didik.

 

PENUTUP

Simpulan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut : (1) penerapan model CTL berbantuan Kopaja KW mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan keaktifan belajar peserta didik yang ditunjukkan dengan hasil wawancara dengan sebagian peserta didik, rata-rata jawaban peserta didik menyatakan bahwa peserta didik tertarik dan berminat dengan model CTL berbantuan Kopaja KW sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar;dan (2) pembelajaran dengan model CTL berbantuan Kopaja KW memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar peserta didik pada materi pengukuran di kelas V SD Negeri Klampok 01 semester 2 tahun pelajaran 2014/2015 yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar peserta didik dalam setiap siklus.

DAFTAR PUSTAKA

Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Estiningsih, E. 1994. Landasan Teknik Pengajaran Hitung SD. Yogyakarta: PPPG Matematika.

Fitriani, Widia Asih. 2005. “Studi Komparasi Model Pembelajaran CTL dan STAD pada Pokok Bahasan Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit Kelas X SMK Negeri 2 Surakarta Tahun Pelajaran 2004/2005”. Tesis. Surakarta: Program Pascasarjana UNS.

Hudojo, Herman. 1988. Mengajar Belajar Matematika. Depdikbud, Jakarta: P2LPTK.

Iru, La dan Arihi, La Ode Saifun. 2012. Analisis Penerapan Pendekatan, Metode, Strategi dan Model-model Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Persindo.

Iswadji, Djoko. 2003. Pengembangan Media/Alat Peraga Pembelajaran Matematika di SLTP. Yogyakarta: FMIPA UNY.

Komalasari, Kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi. Bandung:  Refika Aditama.

M, Nur. 2000. Belajar dan Strategi Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Partono. 2008. “Pengaruh Model Pembelajaran Kontekstual terhadap Prestasi Belajar Baris dan Deret Ditinjau dari Kemampuan Awal”. Tesis. Surakarta: Program Pascasarjana UNS.

Ruseffendi, E.T. 1988. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA (cetakan kedua). Bandung: Tarsito.

Sadiman. 2002. Media Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

Sanjaya, Wina. 2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Kencana.

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

BIODATA PENULIS

Nama                                        : FAUZI AMIN NASIR, M.Pd

NIP                                            : 19840613 200904 1 001

Tempat, tanggal lahir            : Brebes, 13 Juni 1984

Pangkat, Golongan                : Penata Muda Tk.I, III/b

Jabatan                                    : Guru Sekolah Dasar

Unit Tugas                      : SD Negeri Klampok 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *