MEMAHAMI DIKSI PASEMON KUMPULAN PUISI ASMARADANA KARYA GOENAWAN MOHAMMAD : ALTERNATIF PENGAJARANNYA

foto-wasono-ardi-s

OLEH : W. ARDI SAPUTRO, M.Pd

SMA NEGERI  PATIKRAJA, BANYUMAS 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang sulit dinikmati dan dipahami isinya dibandingkan karya sastra lainnya. Hal ini disebabkan puisi merupakan karangan bahasa yang khas memuat pengalaman batin penyair yang telah diberi makna dan ditafsirkan secara estetik. Kekhasan susunan bahasa dan susunan peristiwa itu diharapkan dapat menggugah rasa haru pembaca. Di sini penyair mempunyai kebebasan untuk memperlakukan bahasa dan peristiwa sehingga tercapai nilai kupuitisan dan kepadatan.

Untuk memahami sebuah puisi, kita perlu mengapresiasinya. Kegiatan memahami puisi ini akan menimbulkan kepekaan kritis baik dari rasa dan emosi. Sikap jiwa ini menyiratkan suatu kualitas rohaniah dalam memahami puisi yang diapresiasi. Berdasarkan hal tersebut, puisi memperoleh perlakuan yang wajar sesuai dengan kodratnya sebagai sebuah karya sastra. Apresiator berusaha “menggauli” bahkan “merebut” makna puisi tersebut sesuai dengan apa yang dia temukan.

Salah satu cara untuk menafsirkan sebuah puisi yaitu dengan memahami pilihan kata-katanya. Pilihan kata (diksi) pada sebuah puisi pastilah memiliki makna dan misi tertentu. Pilihan kata ini digunakan penyair untuk mencurahkan perasaan, pikirannya, imajinasinya seperti yang dialami batinnya. Dengan demikian pilihan kata antara satu penyair dengan penyair lainnya berbeda. Perbedaan ini yang memungkinkan seorang penyair mempunyai ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki penyair lainnya. Misalnya, pilihan kata pada puisi-puisi Chairil Anwar kuat pada unsur individu, puisi-puisi karya Rendra ciri khasnya selain individu juga humanisme.

Keadaan demikian juga terdapat pada puisi-puisi Karya Goenawan Mohamad, seperti dikatakan Teeuw (1992 : 403), sajak-sajak Goenawan Mohamad sering terasa khas Indonesia dalam pengungkapan pemikiran, perasaan dan kesan, dalam simbolisme, motif dan topiknya. Kekuatan diksi dan kekhasannya dikemas dalam bentuk “pasemon”. Makna yang tidak diungkapkan secara eksplisit, terselubung atau kiasan dibalik kata tertulis atau diucapkan yang tidak mudah dibaca dan dipahami isinya.

Sikap dan konsep kreativitas Goenawan Mohamad dalam puisi-puisinya berpangkal pada sajak modern yang tidak berbicara atas nama institusi. Ia berpegang pada prinsip yang disebutnya “Keseorangan yang benar-benar utuh” (Toda, 1984 : 5).

Goenawan bebas untuk membicarakan segala sesuatunya sehingga banyak puisinya berbicara tentang “barangkali” dan “mungkin”. Puisinya juga memiliki latar belakang budaya yang beragam dan orisinal.

Ia mulai masuk sejarah sastra modern dan mendapat Anugerah Seni dari pemerintah RI pada tahun 1963 dari majalah Sastra – redaksi H.B. Jassin untuk esai-esainya yang ditertibkan majalah itu selama tahun penerbitan 1963 (Toda, 1984 : 1). Goenawan juga menerima Profesor Teeuw Award di gedung Akademi Universitas Leiden, Belanda, 25 Mei 1992 (Teeuw, 1992 : 401). Kumpulan puisi Goenawan yang sudah dibukukan adalah Parikesit (1971) dan Interlude (1971). Kumpulan puisi Asmaradana ini ditulis dan dihimpun sesudah tahun 1973 ditambah dengan sajak tahun 60-an.

Pembatasan Masalah

Berangkat dari luasnya pengertian puisi sebagaimana diuraikan di atas, pada tulisan ini akan difokuskan pada kajian tentang struktur batin puisi:diksi puisi. Adapun puisi yang yang menjadi objek kajian adalah puisi Asmaradana karya Goenawan Mohammad.

Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah tersebut. rumusan masalah tulisan ini adalah bagaimanakah analisis struktur batin puisi: diksi dalam puisi Asmaradana karya Goenawan Mohammad: alternatif pengajarannya?

 

Tujuan Penelitian

Tujuan dari kajian ini adalah :

menganalisis struktur batin puisi: diksi dalam puisi Asmaradana karya Goenawan Mohammad serta alternatif pengajarannya.

 

Manfaat Penelitian

Penulisan ini diharapkan akan mendatangkan manfaat sebagai berikut.

  1. Mengetahui struktur batin: diksi dalam puisi Asmaradana karya Goenawan Mohamad.
  2. Membantu pembaca mengapresiasi puisi Asmaradana karya Goenawan Mohamad sehingga dapat memetik manfaatnya
  3. Menerapkan alternatif pengajaran diksi pada puisi Asmaradana karya Goenawan Mohamad.

LANDASAN TEORI

 Identitas Buku

             Buku kumpulan puisi Asmaradana karya Goenawan Mohammad merupakan pilihan sajak 1961-1991. Diterbitkan oleh PT Gramedia Widiasarana (Grasindo) Indonesia, Jakarta, 1992. Terdiri dari 143 halaman dengan kata pembaca ditulis oleh A. Teeuw dan 84 puisi.

            Judul Puisi-puisi yang terdapat dalam buku tersebut adalah

1. Di Muka Jendela

2. Riwayat

3. Almanak

4. Lagu Pekerja Malam

5. Expratiate

6. Meditasi

7. Kabut

8. Kepada Kota

9. Surat Cinta

10. Berjaga padamukah Lampu-Lampu ini, Cintaku

11. Jangan Lagi Engkau Berdiri

12. Gerbong-Gerbong Senja

13. Lagu Hujan

14. Parikesit

15. Tahun Pun Turun Membuka Sayapnya

16. Nina Bobok

17. Pertemuan

18. Internasionale

19. Hari Terakhir Seorang Penyair, Suatu Siang

20. Malam yang Susut Kelabu

21. Gemuruh Laut Malam Hari

22. Tamu

23. Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

24. Senja Pun Jadi Kecil Kota Pun Jadi Putih

25. Kwatrin Musim Gugur (I)

26. Kwatrin Musim Gugur (IV)

27. Kwatrin Musim Gugur (II)

28. Kwatrin Musim Gugur (III)

29. Ranjang Pengantin, Kopenhagen

30. Bintang Kemukus

31. Z

32. Dingin Tak tercatat

33. Di Kota Itu, kata Orang, gerimis Telah Jadi Logam

34. Dongeng Sebelum Tidur

35. Asmaradana

36. Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum

37. Afterword

38. Rekes

39. Kwatrin tentang Sebuah Poci

40. Sajak Anak-Anak Mati

41 Tentang Sinterklas

42. (Waktu adalah …)

 

43. Potret Taman untuk Allen Ginsberg

44. Barangkali Telah Kuseka Namamu

45. Di Kebun jepun

46. Kematian Sang Juragan

47. Gatoloco

48. Pada Sebuah Pantai: Interlude

49. Sajak untuk Bungbung

50. Perjalanan Malam

51. Lagu Kedai

52. Cerita untuk Mita

53. Der Prozess

54. Pagi

55. Lanskap

56. Variasi untuk Sebuah lagu pada Kaset

57. Cerita buat Yap Thiam Hien

58. sajak Sehabis Mimpi

59. Buat H.J.

60. Sydney

61. Pangrango

62. Puisi untuk Wang Shih-wei

63. Dongeng

64. Pada Sebuah Tamasya

65. Di Serambi

66. Penangkapan Sukra

67. Suami

68. Ephesus

69. lagu obo

70. Tigris

71. Sajak buat Arti

72. Hiroshima, Cintaku

73. Lagu Orang perahu

74. New York

75. Sajak Untuk Svetlana B.

76. Perempuan yang Dirajam menjelang Malam

77. Di Negeri Winnetou

78. Nota Untuk Umur 49 Tahun

79. Buat H.J. dan P.G.

80. Di Jazirah Burung Hantu

81. Cambridge

82. Na Sonang Do Hita Na Dua

83. Di Mala Strana

84. Dari Jendela Bar Saya lihat Hujan ikut Hingar

 

 

     Teori Landasan Kajian

Puisi

Rene Wellek dan Austin Warren dalam bukunya Teori Kesusastraan, terjemahan Melani Budianta (1990:185) mengatakan bahwa puisi yang “sebenarnya” harus dilihat sebagai struktur norma yang diwujudkan sebagian melalui pengalaman membaca. Setiap pengalaman  (membaca, menghafal, dan lain-lain) hanya merupakan usaha untuk menangkap satu set norma dan standar tertentu tersebut. Istilah norma yang dipakai di sini adalah berbeda dengan norma klasik, romantik, etika, dan politik. Norma yang di maksud di sini adalah norma tersirat yang harus dikeluarkan dari setiap pengalaman membaca sastra dan secara keseluruhan membentuk karya sastra. Keduanya menyarankan lebih baik melihat karya sastra bukan saja sebagai satu sistem norma, melainkan sebagai suatu sistem yang terdiri dari beberapa strata yang tiap stratanya mempunyai kelompok yang lebih kecil.

Pradopo  (1997:6) mengumpulkan definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantik Inggris sebagai berikut.

(1)   Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya.

(2) Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi.

(3) Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.

(4) Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturu-turut secara teratur).

(5) Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam.

Roman Ingarden (dalam Rene Wellek dan Austin Warren, 1990:186-187) membagi strata norma karya sastra (puisi) menjadi lima lapis yaitu (1)  lapis bunyi, (2) lapis makna, (3) lapis objek, (4) lapis dunia penyair, (5) lapis metafisis.

Dalam hal lapis makna ini, I.A. Richard (dalam Situmorang, 1981:12) mengatakan bahwa dua hal penting yang membangun puisi adalah hakikat puisi (the nature of poetry) dan metode puisi ( the methode of poetry). Hakikat puisi terdiri dari empat unsur yang merupakan catur tunggal yaitu tema (sense), rasa (feeling), nada (tone), dan tujuan atau amanat (intention). Metode puisi terdiri dari lima unsur yang merupakan pancatunggal yaitu diksi (diction), imaji (imagery), kata-kata konkret (the concrete word), pigura bahasa (figurative language), dan irama, rima (rhythm, ritme).

      Unsur Kajian

Diksi (Pilihan Kata)

     Diksi tidak hanya digunakan dalam karya sastra puisi melainkan juga pda karya sastra pada umumnya. Penyair membutuhkan kecermatan dan kejelian tersendiri untuk memilih kata-kata tersebut. Hasil dalam memilih kata-kata itu akan menimbulkan efek-efek tertentu bagi benak pembaca sehingga makna keseluruhan sebuah karya sastra akan jelas.

     Karya sastra, puisi khususnya, dapat dipahami melalui pilihan kata-katanya. Pilihan kata dalam puisi bersifat khusus, artinya penyair memilih kata yang tepat agar puisinya yang dibuatnya benar-benar puitis. Puisi dikatakan puitis apabila dapat membangkitkan perasaan tertentu dan tanggapan yang jelas atau secara umum dapat menimbulkan keharuan. Ahmad badrun (1989:15) mengatakan bahwa untuk mencari sifat kepuitisan sebuah puisi dapat digunakan alat antara lain diksi, bahasa kiasan, sarana retorika atau bahkan pada baitnya. Walupun banyak unsur kepuitisan, penyair dalam hal mendapatkan jaringan efek kepuitisan dapat menggunakan satu unsur atau lebih, seperti dikatakan Teeuw (1980:12) dalam kutipan berikut ini.

Puisi adalah sebuah karya seni sastra dapat dikaji dari bermacam-macam aspeknya. Puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya, mengingat bahwa puisi itu adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan.

 

     Ahmad Badrun (1989:6) mengatakan bahwa sebuah puisi yang baik hendaknya mengandung kata-kata yang bermakan konotatif karena kata-kata yang demikian dapat memperkaya dan menyalurkan makna dengan baik. Oleh sebab itu, Gurey (dalam Ahmad badrun,1989:6) mengatakan bahwa kata-kata yang bagus dalam puisi akan menyarankan lebih banyak arti daripada kamus sederhana atau percakapan biasa sehari-hari.

      Sejalan dengan pendapat tersebut, Rahmat Djoko Pradopo (1997:58) mengatakan bahwa yang termasuk pembicaraan diksi adalah denotasi dan konotasi. Penyair harus mengetahui denotasi sebuah kata untuk memberikan gagasan atau gambaran yang jelas dan padat.

      Dari pendapat tersebut, penulis simpulkan bahwa dalam pemilihan kata, penyair selain harus mengerti arti kamusnya (arti denotatif), juga harus memperhatikan arti konotasinya yang timbul dari asonansi-asonansi arti denotatifnya. Selanjutnya, penulis akan mencari keistimewaan diksi puisi Asmaradana yang terkumpul dalam buku Asmaradana karya Goenawan Mohamad.

 

      PROSEDUR PENELAAHAN

      Metode dan Langkah-langkah Analisis

                       Untuk menganalisis sebuah puisi dapat digunakan berbagai metode analisis. Beberapa metode yang dapat dipakai untuk menganalisis puisi, antara lain metode eksplication de texte (pengudaraan naskah karya), metode dikhotomi, metode pendekatan linguistik, metode analitik, dan metode Ganzheit (Baribin, 1989: 73).

                       Metode yang digunakan untuk menganalisis puisi dalam makalah ini adalah metode analitik. Metode analitik menganalisis puisi bagian demi bagian. Sebuah puisi dianalisis mulai dari kata, frase, larik, dan bait. Meski demikian, pada dasarnya unsur-unsur itu merupakan kesatuan yang membentuk satu totalitas utuh sebuah puisi. Oleh sebab itu unsur-unsur dalam sebuah puisi sebenarnya saling mendukung.

           Analisis terhadap puisi dengan metode analitik tersebut dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Metode atau langkah kerja dalam pendekatan ini meliputi:

1.membaca dan mendalami teks;

2.mencari dan menafsirkan makna kata-kata dalam teks;

3.menentukan unsur-unsur hakikat puisi;

4.menentukan unsur-unsur metode puisi.

       Sumber Data

Kumpulan puisi Asmaradana karya Goenawan Mohamad berisi pilihan sajak dari tahun 1961 – 1991 yang berjumlah 84 puisi. Diterbitkan  oleh Grasindo Jakarta dengan sampul depan yang sederhana dengan dominasi coklat muda, tetapi memikat. Di halaman belakang terdapat kata pembaca dari A. Teeuw yang mengulas buku kumpulan puisi ini walaupun secara singkat tetapi mendalam.

Penulis tidak akan menggali semua pilihan kata dari puisi-puisi dalam buku ini, tetapi memilih satu puisi yang sekaligus menjadi judul dari buku ini. Puisi Asmaradana yang penulis pilih dengan harapan dapat mewakili diksi pasamon dari puisi-puisi Karya Goenawan Mohamad. 

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Biografi Goenawan Mohamad

Goenawan Soesatyo Mohamad (lahir di Batang, 29 Juli 1941; umur 70 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia terkemuka. Ia juga salah seorang pendiri Majalah Tempo. Ia merupakan adik Kartono Mohamad, seorang dokter yang menjabat sebagai ketua IDI.

Goenawan Mohamad adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas, mulai pemain sepak bola, politik, ekonomi, seni dan budaya, dunia perfilman, dan musik. Pandangannya sangat liberal dan terbuka. Seperti kata Romo Magniz-Suseno, salah seorang koleganya, lawan utama Goenawan Mohamad adalah pemikiran monodimensional.

Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo, ini pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum. Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas 6 SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian kakaknya yang dokter, ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B Jassin. Goenawan yang biasanya dipanggil Goen, belajar psikologi di Universitas Indonesia, ilmu politik di Belgia, dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.

Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Disana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.

Goenawan Mohammad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institusi Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Soeharto diturunkan pada tahun 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.

Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohammad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tommy Winata. Pernyataan Goenawan Mohammad pada tanggal 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Artha Graha itu.

Selepas jadi pemimpin redaksi majalah Tempo dua periode (1971-1993 dan 1998-1999), Goenawan praktis berhenti sebagai wartawan. Bersama musisi Tony Prabowo dan Jarrad Powel ia membuat libretto untuk opera Kali (dimulai 1996, tapi dalam revisi sampai 2003) dan dengan Tony, The King’s Witch (1997-2000). Yang pertama dipentaskan di Seattle (2000), yang kedua di New York.. Pada tahun 2006, Pastoral, sebuah konser Tony Prabowo dengan puisi Goenawan, dimainkan di Tokyo, 2006. Pada tahun ini juga ia mengerjakan teks untuk drama-tari Kali-Yuga bersama koreografer Wayan Dibya dan penari Ketut beserta Gamelan Sekar Jaya di Berkeley, California.

Dia juga ikut dalam seni pertunjukan di dalam negeri. Dalam bahasa Indonesia dan Jawa, Goenawan menulis teks untuk wayang kulit yang dimainkan Dalang Sudjiwo Tedjo, Wisanggeni, (1995) dan Dalang Slamet Gundono, Alap-alapan Surtikanti (2002), dan drama-tari Panji Sepuh koreografi Sulistio Tirtosudarmo. Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan, diantaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980). Tetapi lebih dari itu, tulisannya yang paling terkenal dan populer adalah Catatan Pinggir, sebuah artikel pendek yang dimuat secara mingguan di halaman paling belakang dari Majalah Tempo. Konsep dari Catatan Pinggir adalah sekedar sebagai sebuah komentar ataupun kritik terhadap batang tubuh yang utama. Artinya, Catatan Pinggir mengambil posisi di tepi, bukan posisi sentral. Sejak kemunculannya di akhir tahun 1970-an, Catatan Pinggir telah menjadi ekspresi oposisi terhadap pemikiran yang picik, fanatik, dan kolot.

Catatan Pinggir, esei pendeknya tiap minggu untuk Majalah Tempo, (kini terbit jilid ke-6 dan ke-7) di antaranya terbit dalam terjemahan Inggris oleh Jennifer Lindsay, dalam Sidelines (Lontar Foundation, 1994) dan Conversations with Difference (19….). . Kritiknya diwarnai keyakinan Goenawan bahwa tak pernah ada yang final dalam manusia. Kritik yang, meminjam satu bait dalam sajaknya, “dengan raung yang tak terserap karang”.

Kumpulan esainya berturut turut: Potret Seorang Peyair Muda Sebagai Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, Kita (1980), Kesusastraan dan Kekuasaan (1993), Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2001), Kata, Waktu (2001), Eksotopi (2002).

Setelah pembredelan Tempo pada 1994, ia mendirikan ISAI (Institut Studi Arus Informasi), sebuah organisasi yang dibentuk bersama rekan-rekan dari Tempo dan Aliansi Jurnalis Independen, serta sejumlah cendekiawan yang memperjuangkan kebebasan ekspresi. Secara sembunyi-sembunyi, antara lain di Jalan Utan Kayu 68H, ISAI menerbitkan serangkaian media dan buku perlawanan terhadap Orde Baru. Sebab itu di Utan Kayu 68H bertemu banyak elemen: aktivis pro-demokrasi, seniman, dan cendekiawan, yang bekerja bahu membahu dalam perlawanan itu.

Dari ikatan inilah lahir Teater Utan Kayu, Radio 68H, Galeri Lontar, Kedai Tempo, Jaringan Islam Liberal, dan terakhir Sekolah Jurnalisme Penyiaran, yang meskipun tak tergabung dalam satu badan, bersama-sama disebut “Komunitas Utan Kayu”. Semuanya meneruskan cita-cita yang tumbuh dalam perlawanan terhadap pemberangusan ekspresi.

Goenawan Mohamad juga punya andil dalam pendirian Jaringan Islam Liberal.

Tahun 2006, Goenawan dapat anugerah sastra Dan David Prize, bersama antara lain eseis & pejuang kemerdekaan Polandia, .Adam Michnik, dan musikus Amerika, Yo-yo-Ma. Tahun 2005 ia bersama wartawan Joesoef Ishak dapat Wertheim Award.

Puisi-puisinya dibukukan dalam Parikesit (1971), Interlude (1973), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998), dan Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 (2001). Terjemahan sajak-sajak pilihannya ke dalam bahasa Inggris, oleh Laksmi Pamuntjak, terbit dengan judul Goenawan Mohamad: Selected Poems (2004)

Karya terbaru Goenawan Mohamad adalah buku berjudul Tuhan dan Hal Hal yang Tak Selesai (2007), berisi 99 esai liris pendek. Yang edisi bahasa Inggrisnya berjudul On God and Other Unfinished Things diterjemahkan oleh Laksmi Pamuntjak.

 (Diunduh  dari “http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Goenawan_Mohamad&oldid=5099780” tanggal 27 Januari 2012 pukul 07.43 WIB).

Analisis dan Pembahasan

ASMARADANA

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan gayur sisa

          hujan dari daun,

Karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda

          serta langkah

pedati ketika langit bersih kembali menampakkan

          bimasakti,

Yang jauh. Ttapi di antara mereka berdua, tidak ada

          yang berkata-kata.

 

Lalu ia ucapkan perpisahan itu. Kematian itu. Ia

          melihat peta,

nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak

          semuanya

disebutkan.

lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis.

          Sebab bila esok

pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh

          ke utara,

ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang

          akan tiba,

karena ia tak berani lagi.

 

Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu

Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu

Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan

          wajahku,

kulupakan wajahmu

 

                                                                        1971

Asmaradana adalah sebuah tembang macapat dari Jawa, biasanya ditujukan untuk pemuda-pemuda yang sedang mengalami masa pertumbuhan. Asmaradana dalam tembang macapat Jawa mengisahkan tentang cinta Damarwulan dan Anjasmara. Goenawan Mohamad memang menulis puisi dalam tema yang luas. Kadang ia membahas tentang politik, perjuangan, sosial, tapi juga kadang membahas tentang hidup dan cinta. Puisi Asmaradana ini menangkap momen ketika Anjasmara berpisah dengan Damarwulan, kekasihnya. Goenawan Mohamad melukiskan perpisahan itu dengan menyayat hati dan kepasrahan total.

Puisi “Asmaradana” melambangkan kejadian-kejadian hebat didalamnya yaitu perpisahan antara Damarwulan dengan Anjasmara untuk melawan Menak Jingga. Judul ini sebenarnya merujuk pada cinta antara muda mudi. Perpisahan yang menjadi pokok masalah untuk selama-lamana. Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.

Pada bagian pertama ini penyair memakai kata-kata yang sederhana seperti angin, hijau, langit yang merupakan ciri khas Goenawan dalam setiap puisinya. Perbandingan-perbandingan terlihat jelas pada bagian ini.

/Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dan daun karena angin pada kemuning/

 

Hal ini dapat ditafsirkan pendahuluan sebelum seseorang berpisah. /tapi diantara mereka berdua, tidak ada yang berkata/

 

Goenawan Mohammad melukiskan perpisahan ini dengan menggambarkan latar alam yang suram sekaligus romantis. Suasana sehabis hujan pada malam hari mempunyai misteri daya magis tersendiri untuk perasaan kita: dingin, mencekam, suram. Goenawan Mohammad menggambarkan pada saat itu ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun. Langit yang tadi gelap gulita karena hujan deras kembali cerah menampakkan galaksi bimasakti yang jauh, tetapi tetap saja suasana gelap karena sudah malam. Kuda-kuda meringkik resah. Mereka seolah bisa merasakan kegelisahan hati tuannya. Hati Damarwulan dan Anjasmara bergejolak, ingin menyampaikan banyak hal yaitu kesedihan, tangis, kecemasan, dan ketidakberdayaan. Namun, mereka tidak ada yang berkata-kata.

/Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan./

 

Kelanjutan pada bagian kedua ini terjadilah perpisahan. Diksi yang jelas terlihat pada kata perpisahan dan kematian. Kemudian dilanjutkan

 /Ia melihat peta, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan/

 

Damarwulan mengetahui nasibnya bagaikan dua sisi mata uang yang sama pentingnya. Jika dia menang melawan Menak Jingga, ia akan dianugerahi jabatan dan dia akan menjadi kaum bangsawan kerajaan Majapahit. Dia pun akan diminta menikah dengan perempuan lain yang lebih baik dari lingkungan bangsawan. Namun, pilihan itu terasa absurd karena Menak Jingga sangat tangguh. Ia sangat sakti. Kemungkinan yang paling besar adalah Damarwulan dan Menak Jinggo akan bertarung sampai mati. Maka, pertemuan ini adalah pertemuan yang terakhir bagi dua kekasih itu.

Penikmat harus paham betul untuk memahami makna yang terselubung di balik cerita ini. Kalau tidak kita tidak dapat merebut makna puisi tersebut.

Kemudian pada bagian ini adanya kotradiksi yang membingungkan sekaligus jawaban atas kebingungan itu. Namun, Damarwulan tahu Anjasmara adalah wanita yang tegar. Ia takkan menangis walaupun nanti pagi ada tapak kaki dirinya yang menuju utara -menuju medan perang. Ia buang semua masa lalu dalam kepalanya hingga ia tak punya lagi alasan untuk bersedih.

/lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis.

          Sebab bila esok

pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh

          ke utara,

ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang

          akan tiba,

karena ia tak berani lagi./

 

Disini ada diksi yang sederhana seperti perempuan, menangis, esok pagi, rumput, halaman, tapak, utara, mencatat, lewat, tiba berani.

 

Adanya hubungan antara manusia yang rawan adalah masalah kesia-siaan cinta antar manusia. Cintanya hanya menunggu maut atau hanya sekedar menjadi pecundang.

Cinta berarti suka sekali, sayang benar, kasih sekali, terpikat sekali, rindu, susah hati, (kwatir). Sebagai renung balik keseluruhan isi sajak ini, ada pada bait keempat yang sekaligus ritual yang berupa pembicaraan langsung.

/Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu.

Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu

Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan

        wajahku,

Kulupakan wajahmu/

 

Dalam remang-remang malam dikelilingi puluhan kunang-kunang, Damarwulan pun meminta Anjasmara untuk melupakannya, karena dia pun akan melupakan Anjasmara. Damarwulan meminta Anjasmara agar tunduk kepada takdir dengan kepasrahan.

Puisi ini tidak hanya berbicara tentang asmara. Lebih dari itu, ia berbicara tentang kehidupan. Puisi ini mendorong seorang lelaki untuk gagah berani maju berperang untuk membela negara walaupun untuk itu ia harus tewas dan meninggalkan keluarganya yang tenang tenteram. Puisi ini juga mengajak agar para istri rela melepas suaminya untuk berjuang, walaupun untuk itu ia harus siap mendengar kabar kematian atau suaminya menikah dengan perempuan lain.

Selain itu, puisi Asmaradana juga bermain dengan takdir. Hidup tidaklah selamanya mulus. Ada saat-saat di atas dan ada pula saat-saat di bawah. Ketika kita menghadapi saat-saat yang buruk dan tanpa harapan, kita harus tetap melangkah dengan tegar dan menghadapinya dengan hati yang lapang. Kita harus memainkan peran kita sebaik mungkin dalam hidup ini sampai kita mati. Secara tidak langsung, puisi ini membuat kita semakin menghargai arti kehidupan, perpisahan, keluarga, dan cinta.

Puisi Goenawan Mohammad seringkali mengambil latar mitos. Ini adalah suatu perlawanan akan “keterlupaan sejarah” yang melanda negeri ini. Seolah-olah Goenawan Mohammad menyindir Indonesia bahwa dirinya masih menguasai kisah-kisah klasik dan menantang apakah kita bisa memahami puisinya atau tidak. Saat kita tidak memahami konteks budaya dan sejarah puisi ini (tentang kisah Damarwulan dan Anjasmara), Goenawan Mohammad tertawa sinis akan kebutaan kita tentang budaya dan sejarah negeri Indonesia.

Pada bagian akhir ini, Goenawan yang senang membicarakan sepi, fana, maut, religius, politik, dan bahkan cinta mulai pengakhirannya.

PENUTUP

Kesimpulan

1.Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Goenawan Mohamad adalah seorang penyair sekaligus jurnalis, pembaharu dalam sastra Indonesia modern. Keistimewaannya bisa dilihat dari diksi pasemonnya (tersembunyi) pada puisi Asmaradana.

2.Diksi yang banyak dipilih dalam puisi Asmaradana (sekaligus menjadi judul kumpulan puisinya), Goenawan Mohamad  senang membicarakan sepi, fana, maut, religius, politik, dan bahkan cinta.

Saran

Puisi-puisi karya Goenawan Mohamad adalah khas Indonesia dalam mengungkapkan pemikiran, perasaan dan kesan, dalam simbolisme, motif dan diksinya. Puisi Asmaradana mempunyai kekuatan pada diksi yang dikemas dalam bentuk “pasemon” yang tidak mudah dipahami. Dengan mempelajari puisi ini, para guru, sastrawan, atau penikmat sastra  dibawa untuk merenungi ada apa di balik puisi tersebut. Dibutuhkan kecerdasan emosional dan intelektual untuk memahami yang benar-benar tersembunyi. Selain itu, puisi-puisi Goenawan Mohamad dapat diajarkan sebagai bahan ajar di sekolah-sekolah menengah sampai perguruan tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Badrun, Ahmad.1989. Teori Puisi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Dikti P2LPTK.

Baribin, Raminah.1989. Teori dan Apresiasi Puisi. Semarang: IKIP Semarang Pers.

http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Goenawan_Mohamad&oldid=5099780” diunduh tanggal 27 Januari 2012 pukul 07.43 WIB

Mohamad, Goenawan.1992. Asmaradana. Jakarta : PT Gramedia Widia Sarana Indonesia.

Pradopo, Rakhmat Djoko. 1997. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Situmorang, B.P..1981. Puisi dan Metodologi Pengajarannya. Ende-Flores: Nusa Indah.

Toda, Dami N dan Pamusuk Nasution 1981. Sajak-Sajak Goenawan Mohamad dan Sajak-Sajak Taufik Ismail. Jakarta :Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Ilmu Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.

Teeuw, A.“Pidato Ucapan Selamat” Majalah Sastra Horison. Jakarta :Yayasan Indonesia

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990.Teori Kesusastraan, terjemahan Melani Budianta.  Jakarta: PT Gramedia.

BIODATA PENULIS

 

Nama                                                 : Wasono Ardi Saputro, M.Pd.

NIP                                                     : 19700910 199412 1 006

Pangkat/Golongan                          : Pembina / IVa

Mapel yang diampu                         : Bahasa Indonesia

Instansi                                              : SMA Negeri Patikraja Banyumas

Alamat Instansi                                : Jl Adipura 3 Telp (0281) 6844576 Patikraja Banyumas 53171


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *