UPAYA PENINGKATAN MINAT SISWA TERHADAP PEMANFAATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SMP NEGERI 2 TAMBAK TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Biodata

N a m a                                            : Pudji Nurdianna Fauziah, S.Pd

N I P                                                 : 19720226 200701 2 007

Pangkat/Golongan                        : Penata Muda Tk.I/III b

Unit Kerja                                        : SMP Negeri 2 Tambak

 

Abstrak

Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan. Namun kenyataannya bahwa layanan Bimbingan Konseling dalam pelaksanaannya belum seperti yang diharapkan. Di sekolah kegiatan layanan bimbingan masih diwarnai dengan praktek “polisi sekolah” hal ini  sangat berlawanan dengan pelayanan bimbingan dan konseling yang ingin ditegakkan di sekolah, karena mengabaikan unsur psikologi, pendidikan dan budaya. Sehingga berdampak negatif pada diri siswa yaitu bersikap menolak kehadiran guru BK dan menimbulkan minat siswa untuk memanfaatkan layanan Bimbingan dan Konseling.

Pendahuluan

Setiap insan yang lahir ke dunia memerlukan pengembangan untuk menjadi manusia seutuhnya. Pengembangan pada dasarnya merupakan upaya memuliakan kemanusiaan manusia yang telah lahir. Peran lembaga pendidikan formal yaitu sekolah tidak terlepas dari kehidupan masyarakat. Sekolah dalam hal ini pendidik dan khususnya guru Bimbingan Konseling (BK) mempunyai tanggung jawab untuk membantu siswa atau peserta didik dalam mengembangkan potensi untuk mencapai kebahagiaan dalam kehidupannya. Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 6 disebutkan bahwa konselor atau guru BK merupakan salah satu jenis tenaga pendidik sebagaimana juga guru, dosen dan tenaga pendidik lainnya yang mempunyai tugas adalah mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran.

Layanan Bimbingan Konseling meliputi empat macam bidang bimbingan yaitu bidang bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir serta sembilan jenis layanan yaitu layanan orientasi, informasi, penguasaan konten, penyaluran dan penempatan, konseling perorangan, konseling kelompok, bimbingan kelompok, konsultasi dan mediasi.

Pelaksanaannya di SMP Negeri 2 Tambak belum seperti yang diharapkan. Berbagai kegiatan layanan di sekolah yang masih mencerminkan praktek “polisi sekolah” dan pelaksanaan “kredit pelanggaran” yang dilaksanakan guru BK sangat berlawanan dengan pelayanan bimbingan dan konseling yang ingin ditegakkan di sekolah, karena mengabaikan unsur psikologi, pendidikan dan budaya.Padahal menurut ABKIN: 2006, 4 bahwa paradigma layanan Bimbingan dan Konseling seharusnya bersifat psikopaedagogis dalam bingkai budaya dan masih menurut ABKIN : 2006: 62 bahwa praktek tersebut mencederai pelayanan Bimbingan dan Konseling yang profesional. Sehingga berdampak negatif pada diri siswa yaitu bersikap menolak kehadiran guru BK dan menimbulkan minat siswa untuk memanfaatkan layanan Bimbingan dan Konseling berkurang atau tidak ada sama sekali.

Layanan Bimbingan dan Konseling masih difokuskan pada siswa yang nampak mempunyai masalah serius khususnya masalah pribadi, kesulitan belajar dan pelanggaran siswa di sekolah saja. Apabila siswa mengalami permasalahan pribadi, kesulitan belajar, penyimpangan perilaku dan berbagai permasalahan yang dihadapi siswa maka siswa kurang berminat memanfaatkan layanan Bimbingan dan Konseling dengan kesadaran sendiri proaktif konsultasi ke guru BK, yang sering terjadi guru BK harus proaktif memanggil siswa untuk konsultasi, dengan jumlah siswa asuh cukup banyak akibatnya permasalahan sering berlarut-larut dan tidak cepat terselesaikan.

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah, maka pembahasan ini akan dibatasi pada upaya peningkatan minat siswa terhadap pemanfaatan layanan Bimbingan dan Konseling di SMP Negeri 2 Tambak.

Bimbingan Konseling

Bimbingan dan konseling adalah proses bantuan psikhologis dan kemanusiaan secara ilmiah dan profesional yang diberikan oleh pembimbing kepada yang dibimbing (siswa/ peserta didik) agar ia dapat berkembang secara optimal, yaitu mampu memhami diri, mengarahkan diri, dan mengaktualiasasikan diri sesuai tahap perkembangan, sifat-sifat, potensi yang dimiliki dan latar belakang kehidupan serta lingkungannya sehingga tercapai kebahagiaan dalam kehidupannya, Depdiknas (2004 : 4). Sedangkan menurut Prayitno dan Erman Amti (1994 :180) yang dimaksud bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan.

Berdasarkan pengertian bimbingan dan konseling tersebut dapat disimpulkan bahwa proses pelayanan bantuan psikologis dan kemanusiaan secara ilmiah dan profesional yang diberikan oleh guru pembimbing kepada yang dibimbing (siswa/peserta didik) baik secara perseorangan maupun kelompok agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal, yaitu mampu memahami diri, mengarahkan diri, dan mengaktualisasikan diri sesuai tahap perkembangan, sifat-sifat potensi yang dimiliki dan latar belakang kehidupan serta lingkungannya sehingga tercapai kebahagiaan dalam kehidupan dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar dan perencanaan karir melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan.

Tujuan Bimbingan dan Konseling adalah membantu siswa siswa dalam tugas perkembangan agar siswa memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki sikap positif dan dinamis terhadap perkembangan fisik dan psikisnya, memiliki sikap mandiri secara emosional dan sosial ekonomi, memiliki pola hubungan sosial yang baik di dalam keluarga, sekolah dan masyarakat, memiliki prestasi belajar yang baik dan dapat merencanakan dan mengembangkan karirnya.

Menurut Muh. Surya (1998) tujuan bimbingan dan konseling (Jumarin,2006 : 6) menyebut ada tiga orientasi tujuan bimbingan dan konseling yaitu tujuan yang bersifat kognitif, afektif dan perilaku. Adapun menurut Soli Abimanyu dan Thayeb Manrihu (1996) tujuan bimbingan dan konseling (Jumarin, 2006 :6) yaitu perubahan perilaku, pengambil dan pemecahan masalah.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan tujuan keputusan, keefektifan pribadi, kesehatan mental bimbingan dan konseling adalah membantu siswa dalam tugas perkembangan agar memiliki keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memiliki sikap positif dan dinamis terhadap perkembangan fisik dan psikhisnya, memiliki sikap mandiri secara emosional dan sosial ekonomi, memiliki pola hubungan yang baik di dalam keluarga, sekolah dan masyarakat, memiliki  prestasi belajar yang baik dan dapat merencanakan dan mengembangkan karirnya baik bersifat kogniif, afektif dan perubahan perilaku, pengambilan keputusan, keefektifan pribadi, kesehatan mental dan pemecahan masalah.

Bidang pelayanan Konseling menurut ABKIN (2006 :5) meliputi :

1.Pengembangan kehidupan pribadi

2.Pengembangan kehidupan sosial

3.Pengembangan kemampuan belajar

4.Pengembangan karir.

Bidang pelayanan bimbingan dan konseling menurut Jumarin : (2000 : 50) secara umum mencakup bidang pribadi, bidang sosial, bidang belajar dan bidang karir.         Adapun bidang  pelayanan bimbingan dan konseling (Depdiknas, 2004 : 6) mencakup bidang bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karir. Bidang pelayanan bimbingan dan konseling (Prayitno, 2004 :1) meliputi bidang pengembangan kehidupan pribadi, bidang pengembangan sosial, bidang pengembangan kegiatan belajar, bidang pengembangan karir, serta bidang pengembangan kehidupan berkarya, dan bidang pengembangan kehidupan keberagamaan.

Bedasarkan beberapa pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa bidang pelayanan bimbingan dan konseling meliputi bidang pengembangan kehidupan pribadi, bidang pengembangan sosial, bidang pengembangan kegiatan  belajar, bidang pengembangan karir, serta bidang pengembangan kehidupan berkarya, dan bidang pengembangan kehidupan keberagamaan.

Jenis layanan konseling menurut ABKIN (2006 : 6) meliputi : layanan orientasi, layanan informasi, layanan penempatan dan penyaluran, layanan penguasaan konten, layanan konseling perorangan, layanan bimbingan kelompok, layanan konsultasi dan layanan mediasi. Adapun jenis layanan bimbingan dan konseling ( Jumarin, 2000 : 52) yaitu layanan orientasi, layanan informasi, layanan pembelajaran, layanan penempatan dan penyaluran, konseling individual, layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok. Jenis layanan bimbingan dan konseling (Prayitno : 2004 : 11) meliputi : layanan orientasi, layanan informasi,layanan penempatan dan penyaluran, layanan penguasaan konten, layanan konseling perorangan, layanan bimbingan kelompok,layanan konseling kelompok, layanan konsultasi dan layanan mediasi.

Dari beberapa pendapat jenis layanan bimbingan dan konseling dapat dijelaskan sebagai berikut :

1.Layanan Orientasi, yaitu layanan yang membantu siswa memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah/madrasah dan obyek yang dipelajari untuk menyesuaikan diri serta mempermudah dan memperlancar peran peserta didik di lingkungan yang baru.

2.Layanan Informasi, yaitu layanan yang membantu siswa menerima dan memahami berbagai informasi diri, sosial, belajar serta karir/ jabatan atau pendidikan lanjutan.

3.Layanan Penempatan dan Penyaluran, yaitu layanan yang membantu siswa memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat di dalam kelas, kelompok belajar, jurusam/ program studi, program magang, latihan, dan kegiatan ekstra kurikuler.

4.Layanan Penguasaan Konten, yaitu layanan yang membantu siswa menguasai konten tertentu, terutama kompetensi dan atau kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah, keluarga dan masyarakat.

5.Layanan Konseling Perorangan, yaitu layanan yang membantu siswa dalam mengentaskan masalah-masalah pribadinya.

6.Layanan Bimbingan Kelompok, yaitu layanan yang membantu siswa dalam pengembangan kehidupan, kemampuan belajar, kemampuan hubungan sosial, karir/jabatan dan pengambilan keputusan serta melakukan kegiatan tertentu melalui kegiatan dinamika kelompok.

7.Layanan Konseling Kelompok, yaitu layanan yang membantu siswa dalam pemahaman dan pengentasan masalah pribadi melalui dinamika kelompok.

8.Layanan Konsultasi yaitu layanan yang membantu siswa dan atau pihak  lain dalam memperoleh wawasan dan pemahaman dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan masalah siswa.

9.Layanan Mediasi, yaitu layanan yang membantu siswa menyelesaikan permasalahan atau memperbaiki hubungan antar mereka.

Minat

Batasan pengertian minat banyak dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Mereka mengemukakan tentang minat dan pentingnya minat dalam dunia pendidikan, terutama dalam rangka mencapai tujuan pendidkan. Slameto (1995 :180) mengemukakan bahwa “Minat adalah suatu rasa lebih dan rasa tertarik pada suatu hal atau aktifitas, tanpa ada yang menyuruh.”. Dari pengertian diatas terdapat konsep dasar yang penting tentang minat, yaitu adanya unsur  perasaan senang atau tertarik terhadap sesuatu atau gairah atau keinginan.

Adapun Singgih D. Gunarsa (1995 : 129) mengemukakan bahwa minat dapat merupakan pendorong ke arah keberhasilan. Minat sebagai tenaga pendorong yang kuat dalam mencapai sesuatu. Orang yang menaruh minat pada suatu bidang akan mudah mencapai bidang itu. Dewa Ketut Sukardi (1987 : 105) menyatakan bahwa minat merupakan sumber penggerak dalam segala tindakan manusia. Pernyataan ini mengandung pengertian minat merupakan faktor yang penting bagi individu untuk mencapai tercapainya keberhasilan.

Berdasarkan berbagai pendapat yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh pendidikan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa minat adalah kecenderungan yang agak merasa senang atau tertarik pada bidang-bidang tertentu dan mendorong melakukan aktifitas dalam bidang-bidang itu tanpa ada yang menyuruh.

Minat terhadap sesuatu dalam diri manusia banyak macamnya. Dari berbagai  macam minat ini menurut Susilo Windarandini (1980 : 183) dapat dibagi dalam beberapa kategori. Khusus bagi remaja (termasuk di dalamnya siswa) minat mereka dapat dikelompokkan sebagai berikut : Minat social, Minat pribadi, Minat terhadap rekreasi, Minat terhadap jabatan, Minat terhadap sekolah dan Minat terhadap agama

1.Minat sosial

Minat ini karena individu ingin mengambil bagian dalam kehidupan sosial, bahkan mereka takut kalau tidak berpartisipasi dalam kelompoknya. Minat ini ditunjukkan dalam bentuk kegiatan : Mengadakan pesta dan pertemuan santai, Berkumpul dalam suatu kelompok dan membicarakan segala sesuatu yang menarik perhatiannya, Aktif dalam usaha membantu orang lain yang ditimpa kemalangan, Membaca hal politik dan pemerintahan yang sedang terjadi.

2.Minat Pribadi

Minat pribadi adalah minat yang paling kuat dimiliki individu. Minat ini timbul karena adanya kesadaran bahwa penerimaan sosial sangat dipengaruhi oleh kesan keseluruhan yang diberikan oleh individu kepada sekitarnya atau adanya kesadaran bahwa masyarakat menilai atas miliknya. Hal-hal yang bersifat pribadi seperti tampangnya, bentuk tubuh, pakaian, perhiasan sangat erat berkaitan dengan keberhasilan dalam pergaulan. Minat ini ditunjukkan dengan perilaku : bersolek, merawat tubuh, dan pengadaan pakaian perhiasan yang sesuai dengan nilai kelompoknya.

3.Minat terhadap rekreasi

Minat ini muncul karena adanya tekanan-tekanan pekerjaan sekolah dan kewajiban-kewajiban di rumah, mereka merasa waktunya mengadakan rekreasi kurang dibanding masa sebelumnya (anak). Remaja (siswa) benar-benar memilih macam keaktifan yang mereka gemari. Hal-hal yang berhubungan dengan rekreasi yang menarik minat individu remaja (siswa) antara lain :

a.Permainan dan olah raga yang banyak membutuhkan energi fisik, seperti berenang, basket, sepak bola, tennis, bulu tangkis.

b.Membaca cerita-cerita romantis.

c.Melihat film yang bertema romantis, petualangan dan yang lucu-lucu.

d.Mendengarkan radio dan menonton TV

e.Melamun

4.Minat terhadap Jabatan

Setelah individu remaja (siswa) mencapai umur sekolah lanjutan, dia mulai memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan jabatan dan masa depannya, dengan agak serius. Anak wanita pada umumnya kurang mengadakan perencananaan dari pada anak pria,karena jabatannya itu hanya mereka anggap sebagai kesibukan sementara sebelum menikah. Anak pria lebih serius dalam hal pemilihan jabatan. Pengharapan-pengharapan yang berhubungan dengan jabatan yang kurang realistis kini berubah menjadi pemikiran daripada konsep-konsep yang lebih realistis dengan memikirkan kemampuannya, pendidikannya dan kapasitasnya yang harus diperhitungkan dalam pemilihan sesuatu jabatan. Meskipun telah memiliki minat terhadap sesuatu jabatan, namun masih lebih dalam pemilihan jabatan yang ingin dipangkunya.

5.Minat terhadap Sekolah

Remaja (siswa) senang untuk pergi ke sekolah dan mereka pada umumnya dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap keadaan di sekolah. Pada umumnya remaja berkeluh kesah mengenai sekolahnya. Hal yang menyebabkan timbulnya keluh kesah antara lain : banyaknya pekerjaan rumah dan larangan-larangan di sekolah.

Sedangkan minat terhadap berbagai mata pelajaran atau kegiatan di sekolah dipengaruhi oleh faktor sebagai berikut :

a.Bagaimana kemajuannya dalam suatu mata pelajaran

b.Bagaimana pendapatnya tentang guru yang mengajarnya.

c.Sejauh manakah mata pelajaran itu ada hubungannya dengan jenis kelaminnya sendiri. Artinya apakah ada manfaatnya bagi seseorang anak wanita jika ia wanita, atau untuk anak pria jika ia anak pria.

d.Nilai praktis yang dimiliki oleh mata pelajaran itu. Maksudnya manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari di kemudian hari.

6.Minat terhadap agama

Remaja (siswa) mulai memikirkan kembali hal-hal yang berhubungan dengan agama yang dipercayainya dalam masa anak-anak. Mereka menilai dan mempertimbangkan hal-hal itu secara kritis. Mereka tertarik untuk memikirkan hal dosa, surga, neraka, arti doa bagi dirinya.

Minat terhadap sesuatu dipelajari yang selanjutnya mempengaruhi penerimaan minat-minat baru. Minat terhadap sesuatu hal tidak merupakan hal yang hakiki untuk dapat mempelajari hal tersebut, namun minat akan membantu seeorang dalam mempelajari sesuatu.Satu minat dapat diwujudkan melalui sesuatu pernyataan yang menunjukkan bahwa lebih menyukai sesuatu daripada hal lainya, dapat pula diwujudkan melalui partisipasi dalam suatu aktifitas.

Upaya meningkatkan minat pada suatu subyek yang baru dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

1.Menggunakan minat-minat siswa yang ada dapat dicapai dengan jalan menaruh minat siswa yang telah ada kemudian sedilit demi sedikat diarahkan ke materi pelajaran sesungguhnya.

2.Membentuk minat-minat baru dengan memberikan informasi pada siswa mengenai hubungan antara suatu bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang lalu, menguraikan kegunaannya bagi sswa pada masa yang akan dating dan Menghubungkan bahan pengajaran dengan suatu berita sensasional yang sudah diketahui kebanyakan siswa.

3.Membujuk agar melakukan sesuatu yang tidak mau melakukannya atau tidak dilakukannya dengan baik, yang mungkin dapat membangkitkan motivasi. Yang selanjutnya menimbulkan minat pada siswa.

4.Secara teratur dan sistematis siswa diberi hadiah karena telah belajar dengan baik atau karena perbaikan dalam kualitas belajarnya.

Peningkatan Minat Siswa Dalam Memanfaatkan Layanan Bimbingan dan Konseling.

Upaya peningkatan minat siswa dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling antara lain:

1.Menggunakan minat-minat siswa yang ada

Upaya meningkatkan minat siswa ini dapat dicapai dengan jalan menaruh minat siswa yang ada, kemudian sedikit demi sedikit diarahkan ke materi layanan yang sesungguhnya. Adapun minat siswa sesuai tahap perkembangannya (Soesilowindrandini, 1980 : 83) adalah minat sosial, pribadi, minat yang berhubungan rekreasi, minat terhadap jabatan, minat terhadap sekolah, dan minat terhadap agama.  Dengan menggunakan minat siswa sesuai tahap perkembangannya kemudian diarahkan sedikit demi sedikit ke materi layanan bimbingan dan konseling yang sesungguhnya.

Guru BK sebagai penyelenggara layanan bimbingan dan konseling dengan bentuk kegiatan seperti konseling kelompok dan bimbingan kelompok atau guru BK sebagai fasilitator dengan membantu mengarahkan dan menyalurkan dalam layanan penyaluran (Jumarin,2000 :61) yaitu bidang sosial ke dalam kelompok kegiatan bersama, sehingga siswa mampu belajar bersosialisasi, berkomunikasi secara dinamis, kreatif dan produktif (kegiatan kesiswaan, kepengurusan OSIS, kepengurusan kelas, kegiatan lapangan, KOPSIS, pengumpulan dana, bakti sosial).

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa siswa dapat meningkat minatnya dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling, apabila layanan bimbingan dan konseling menggunakan minat sesuai tahap perkembangan siswa dalam bentuk kegiatan konseling kelompok/bimbingan kelompok dan kegiatan sosial bersama.

2.Membentuk minat-minat baru

Upaya membentuk minat-minat baru dapat dilakukan dengan  memberi informasi pada siswa mengenai hubungan dan kegunaan layanan yang satu dengan yang lain dan menghubungkan bahan layanan dengan suatu berita sensasional yang sudah diketahui kebanyakan siswa.

Upaya meningkatkan minat siswa dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling dengan memberikan informasi pada siswa mengenai hubungan antara suatu bahan layanan yang akan diberikan dengan bahan layanan yang lalu, kemudian menguraikan kegunaannya bagi siswa pada masa yang akan datang.

Menghubungkan bahan layanan dengan suatu berita sensasional yang sudah diketahui kebanyakan siswa. Menurut Slameto (1995:181) upaya meningkatkan minat siswa terhadap pemanfaatan layanan bimbingan dan konseling dengan membentuk minat baru yaitu menghubungkan bahan layanan dengan suatu berita sensasional yang sudah diketahui kebanyakan siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Jumarin (2000 : 58) bahwa layanan bimbingan konseling harus dirancang sesuai kebutuhan subyek yang dibimbing, aktual, relevan dengan kehidupan subyek yang dibimbing dan harus memanfaatkan sumber daya yang ada secara optimal(material/non material) secara tepat.

Dari kedua pendapat tersebut diatas dapat dirumuskan bahwa siswa dapat meningkat minatnya dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling, dengan membentuk minat baru yaitu dengan menghubungkan bahan layanan bimbingan dan konseling dengan suatu berita sensasional yang sudah diketahui kebanyakan siswa dan informasi tersebut sangat diperlukan siswa.

3.Membujuk siswa agar melakukan sesuatu yang tidak mau melakukannya atau tidak dilakukannya dengan baik, yang mungkin dapat membangkitkan motivasi yang selanjutnya menimbulkan minat pada siswa.

Upaya meningkatkan minat siswa terhadap pemanfaatan layanan bimbingan dan konseling (Slameto, 1995 :181) dengan membujuk siswa agar melakukan sesuatu yang tidak mau melakukannya atau tidak dilakukannya dengan baik, yang mungkin dapat membangkitkan motivasi yang selanjutnya menimbulkan minat pada siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Jumarin (2000 : 8) bahwa, pembimbing merupakan sub sistem yang melaksanakan layanan bimbingan dan konseling.

Berhasil tidaknya suatu layanan bimbingan dan konseling banyak dipengaruhi oleh sub sistem pembimbing karena pembimbing berfungsi sebagai penyerap atau bahkan mungkin sebagai pencipta konsep dasar untuk dterapkan dalam layanan bimbingan dan konseling, sebagai pemakai dan pengembang metode/ tehnik/strategi.

Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan  bahwa siswa dapat memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling apabila guru BK dengan kualifikasi tertentu baik profesional  dapat membujuk siswa dengan membangun keterbukaan kepada semua peserta layanan, menggunakan metode dan teknologi yang tepat dan ditunjang oleh sarana dan prasarana yang memadai.

4.Secara teratur dan sistematis siswa diberi hadiah karena telah belajar dengan baik atau karena perbaikan dalam kualitas belajarnya.

Upaya peningkatan minat siswa dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling ini sesuai dengan pendapat Slameto (1995 :181) bahwa secara teratur dan sistematis siswa diberi hadiah karena telah belajar dengan baik atau perbaikan dalam kualitas belajarnya.

Menurut pendapat Umar Hamalik (2002 : 184-185) upaya yang ditempuh dalam meningkatkan motivasi selanjutnya menimbulkan minat siswa sebagai berikut : pemberian penghargaan, pemberian angka (grade), keberhasilan dan tingkat aspirasi, pemberian pujian, kompetisi dan koorperasi, dan pemberian harapan.

Pemberian penghargaan/hadiah bukan merupakan suatu tujuan akan tetapi merupakan alat, sehingga penghargaan memiliki perasaan untuk membangkitkan minat siswa dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling.

Sedangkan pemberian pujian yang diberikan secara tepat akan membangkitkan minat siswa dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling. Guru BK memberikan pujian kepada siswa. Bentuk-bentuk pujian verbal antara lain kata-kata bagus, hebat dan sebagainya. Sedangkan dengan pujian nonverbal seperti anggukan kepala, acungan ibu jari dan sebagainya.

Upaya peningkatan minat siswa terhadap pemanfaatan layanan  bimbingan dan konseling dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1.Layanan bimbingan dan konseling menggunakan minat sesuai tahap perkembangan siswa dalam bentuk kegiatan konseling kelompok/bimbingan kelompok dan kegiatan sosial bersama.

2.Membentuk minat baru yaitu dengan menghubungkan bahan layanan bimbingan dan konseling dengan suatu berita sensasional yang sudah diketahui kebanyakan siswa dan informasi tersebut sangat diperlukan siswa.

3.Guru BK dapat membujuk siswa dengan membangun keterbukaan kepada semua peserta layanan, menggunakan metode dan teknologi yang tepat dan ditunjang oleh sarana dan prasarana yang memadai.

4.Pemberian penghargaan

5.Pemberian angka (grade)

6.Menyampaikan keberhasilan dan tingkat aspirasi

7.Pemberian pujian

8.Meningkatkan kompetisi dan kooperasi

9.Pemberian harapan

Kesimpulan

Layanan Bimbingan dan Konseling akan dimanfaatkan siswa apabila guru BK mampu mengupayakan pengembangan segenap potensi siswa secara optimal pada setiap tahap perkembangan siswa dan berperan aktif dalam pembentukan manusia produktif dan diselenggarakan secara profesional.

Upaya peningkatan minat siswa terhadap pemanfaatan layanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan dengan menggunakan minat siswa sesuai tahap perkembangannya kemudian diarahkan sedikit demi sedikit ke materi layanan bimbingan dan konseling yang sesungguhnya seperti minat sosial, pribadi, minat yang berhubungan rekreasi, minat terhadap jabatan, minat terhadap sekolah, dan minat terhadap agama. Membentuk minat-minat baru  memberi informasi pada siswa mengenai hubungan- hubungan dan kegunaan layanan yang satu dengan yang lain.Upaya meningkatkan minat siswa dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling dengan memberikan informasi pada siswa mengenai hubungan antara suatu bahan layanan yang akan diberikan dengan bahan layanan yang lalu, kemudian menguraikan kegunaannya bagi siswa pada masa yang akan datang.

Guru BK dapat membujuk siswa dengan membangun keterbukaan kepada semua peserta layanan, menggunakan metode dan teknologi yang tepat dan ditunjang oleh sarana dan prasarana yang memadai, secara teratur dan sistematis siswa diberi hadiah karena telah belajar dengan baik atau perbaikan dalam kualitas belajarnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

ABKIN. (2006). Panduan Pengembangan Diri, Jakarta.

Depdikbud. (1995). Kamus Besar Bahasa Indonesia: Jakarta : Balai Pustaka.

…………….( 2004). Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta.

Dewa Ketut Sukardi (1987). Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah. Surabaya. Usaha Nasional.

Jumarin, (2000). Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling Jilid II. Yogyakarta. Program Studi BK FIP IKIP PGRI Wates.

………… (2002). Dasar-dasar Konseling Lintas Budaya Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Muh. As’ad (1984). Psikologi Industri. Jogjakarta: Liberty.

Mungin Edi Wibowo (2002). Menumbuhkembangkan Minat Siswa Untuk Memanfaatkan Layanan Bimbingan dan Konseling dan Kontribusinya terhadap Prestasi Siswa di Sekolah. Purwokerto. Panitia MGPBK, Kabupaten Banyumas.

 

Prayitno (1994). Dasar-dasar Bimbingan dan konseling. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud.

………. (2004). Layanan Mediasi. Padang. Jurusan BK FIP Universitas Negeri Padang.

Singgih D. Gunarsa (1995). Psikologi Untuk Keluarga. Jakarta: PT BPK Gunung Mulya.

Slameto (1995). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Salatiga: Rhineka Cipta.

Soesilo Windrandini (1980). Psikologi Perkembangan Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.

Suardiman. (1981). Psikologi Konseling. Yogyakarta. Percetakan Studing.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *