PTK SD Matematika Pecahan Melalui Alat Peraga Kartu Pecahan

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PECAHAN MELALUI PEMANFAATAN ALAT PERAGA KARTU PECAHAN BAGI SISWA KELAS VI A SD NEGERI 1 GUMELAR

samsiyaha

ABSTRAK

        Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Matematika bagi siswa kelas VI A SD Negeri 1 Gumelar pada semester II tahun pelajaran 2014/2015. Pengumpulan data dalam Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan teknik tes dan non tes. Teknik tes menggunakan tes tertulis, sedangkan teknik non tes menggunakan observasi. Hasil penelitian menunjukan, bahwa melalui pemanfaatan alat peraga kartu pecahan, aktivitas dan hasil belajar Matematika siswa kelas VI A SD Negeri 1 Gumelar pada semester II tahun pelajaran 2014/2015 dapat ditingkatkan. Aktivitas belajar siswa dapat ditingkatkan dari kategori “kurang” pada kondisi awal menjadi kategori “baik” pada kondisi akhir siklus II. Nilai rata-rata kondisi awal 61 dengan prosentase siswa mampu mencapai KKM sebesar 33% dapat ditingkatkan menjadi nilai 77 dengan prosentase siswa mampu mencapai KKM sebesar 90% pada kondisi akhir siklus II. Dapat disimpulkan, bahwa “Melalui pemanfaatan alat peraga kartu pecahan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Matematika pecahan bagi siswa kelas VI A SD Negeri 1 Gumelar pada semester II tahun pelajaran 2014/2015”.

 

Kata Kunci : Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Pecahan, Alat Peraga Kartu Pecahan.

PENDAHULUAN

Harus diakui, bahwa Matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang paling berat oleh sebagian siswa, sehingga banyak siswa yang merasa kesulitan dalam mempelajari materi mata pelajaran Matematika. Meskipun alokasi waktu per minggu untuk mata pelajaran Matematika kelas VI sebanyak 5 jam pelajaran, tetapi  masih banyak siswa yang memperoleh nilai tidak sesuai harapan. Pada gilirannya siswa yang tidak mampu mencapai KKM mata pelajaran Matematika. Hal tersebut terjadi pula pada siswa kelas VI SD Negeri 1 Gumelar. Dari KKM mata pelajaran Matematika sebesar 65, ternyata nilai yang diraih oleh mereka masih rendah. Sebagai bukti, dari tiga kali ulangan harian yang telah dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2014/2015 diperoleh nilai rata-rata 64, 59, dan 60. Apabila nilai rata-rata dari tiga kali ulangan harian tersebut dibuat rata-ratanya, maka akan diperoleh angka sebesar 61. Ketuntasan belajar secara individual yang ditandai dengan pencapaian KKM dari 20 siswa selama tiga kali ulangan secara berturut-turut 9 (45%), 5 (25%), dan 6 (30%).  Apabila dibuat rata-rata, maka siswa yang telah mencapai KKM baru 33%. Jika keadaan ini terus dibiarkan, maka pelajaran matematika menjadi penyebab siswa tidak naik kelas.

Selain itu, rutinitas pembelajaran Matematika dengan cara memberi contoh dan mengerjakan latihan menyebabkan kurangnya aktivitas belajar siswa. Indikasi dari kurangnya aktivitas belajar siswa ditandai dengan kurangnya persiapan belajar, kurangnya partisipasi aktif siswa dalam mengikuti pelajaran, mencatat, mengerjakan soal, melakukan kegiatan, dan mempelajari materi yang diterima.

Rendahnya aktivitas dan hasil belajar mata pelajaran Matematika memang banyak penyebabnya, sehingga tidak mungkin seluruh penyebab rendahnya hasil belajar Matematika diteliti dalam satu penelitian. Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini, peneliti hanya akan meneliti peningkatan aktivitas dan hasil belajar mata pelajaran Matematika dilihat dari pemanfaatan alat peraga. Dari sekian banyak alat peraga yang ada, peneliti hanya memanfaatkan alat peraga yang berkaitan dengan aspek bilangan. Lebih khusus lagi alat peraga untuk mendalami materi tentang pecahan. Alat peraga yang dimaksud adalah alat peraga yang mudah dibuat dan murah harganya berupa kartu pecahan.

Sejalan dengan permasalahan tersebut, maka tujuan dari Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar mata pelajaran Matematika pecahan melalui penggunaan alat peraga kartu pecahan bagi siswa kelas VI A SD Negeri 1 Gumelar Unit Pendidikan Kecamatan Gumelar pada semester II tahun pelajaran 2014/2015.

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah sebagaimana diuraikan di atas, maka dibuatlah perumusan masalah dalam Penelitian Tindakan Kelas ini sebagai berikut: ”Apakah melalui pemanfaatan alat peraga kartu pecahan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Matematika pecahan bagi siswa kelas VI A SD Negeri 1 Gumelar pada semester II tahun pelajaran 2014/2015?”

 

KAJIAN PUSTAKA

Aktivitas Belajar

        Menurut Sriyono (dalam Amitah, 2005: 21) aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani atau rohani. Aktivitas yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terciptalah situasi belajar aktif. Seperti dikemukakan oleh Natawijaya (dalam Depdiknas, 2006: 31) belajar aktif adalah suatu sistem belajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental intelektual, dan emosional guna memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

        Pada penelitian ini, indikator aktivitas belajar yang digunakan adalah indikator aktivitas belajar menurut Sanapiah Faisal dalam Sardiman (2011: 101) yang meliputi: persiapan belajar, sikap dan partisipasi siswa dalam mengikuti pelajaran, mencatat, mengerjakan soal, melakukan pekerjaan, dan mempelajari materi yang diterima

Alat Peraga Kartu Pecahan

        Alat peraga adalah alat bantu pengajaran untuk lebih memahami bahan kajian. Manfaat alat peraga adalah membantu guru memberikan pelajaran, agar murid dapat lebih jelas menerima keterangan-keterangan tersebut. (Ahmadi, 2000: 95).

       Alat peraga kartu pecahan yang dimaksud adalah kartu yang dibuat seperti kartu untuk permainan gambling dengan ukuran kira-kira 9 cm x 4 cm. Pada satu sisi muka dibagi dua bagian sama besar dan diberi tulisan bentuk pecahan yang berbeda pada masing-masing bagian (misal: pecahan biasa dengan campuran, pecahan biasa dengan pecahan desimal, dan sebagainya sesuai dengan perubahan pecahan yang dikehendaki). Banyaknya kartu disesuaikan dengan kebutuhan sehingga kartu-kartu itu bisa digunakan untuk permainan seperti layaknya permainan kartu gambling. Agar bentuk pecahan yang ditulis pada sisi muka kartu tidak tumpang tindih, maka pembuatan pasangan bilangan pecahannya dibuat matrik sehingga mempermudah dalam pembuatan pasangan bilangan pecahan pada masing-masing kartu. Berikut contoh gambar kartu pecahan yang peneliti maksud.

samsyah

METODE PENELITIAN

        Subjek Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas VI A SD Negeri 1 Gumelar Unit Pendidikan Kecamatan Gumelar pada semester II tahun pelajaran 2014/2015. Jumlah siswa kelas VI A adalah 20 siswa yang terdiri atas 13 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan. Seluruh siswa berasal dari Desa Gumelar Kecamatan Gumelar.

        Pada Penelitian Tindakan Kelas ini, peneliti  menggunakan sumber data primer dan data skunder. Data primer berupa nilai hasil belajar, sedangkan sumber data skunder berasal dari guru teman sejawat peneliti sebagai observer. Observer dalam penelitian Tindakan Kelas ini adalah Kudiyono, S.Pd, guru kelas V dan Datim, S.Pd.I., guru Pendidikan Agama Islam. Data yang diambil berupa hasil observasi terhadap aktivitas belajar siswa dan hasil observasi keterlaksanaaan pembelajaran dengan alat peraga kartu pecahan pada kondisi awal, siklus I dan siklus II.

        Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah tehnik tes dan non tes. Tehnik tes menggunakan tes tertulis, sedangkan tehnik non tes berupa lembar observasi. Alat pengumpul data untuk tes tertulis berupa perangkat tes tertulis yang terdiri atas kisi-kisi, butir-butir soal, kunci jawaban, pedoman penskoran dan pedoman penilaian. Alat pengumpul data non tes menggunakan pedoman observasi aktivitas belajar. Indikator aktivitas belajar berdasarkan pendapaat Sanapiah Faisal dalam Sardiman (2011: 101) meliputi: persiapan belajar, sikap dan partisipasi siswa dalam mengikuti pelajaran, mencatat, mengerjakan soal, melakukan pekerjaan , dan mempelajari materi yang diterima

        Sedangkan kategori rata-rata skor aktivitas belajar siswa mengacu pada pendapat Paul  B. Diedrich (dalam Sardiman A. M., 2011: 105), yaitu

  1. ≤ 60 atau kurang sekali,
  2. 61-70 atau kurang,
  3. 71-80 atau sedang,
  4. 81-90 atau baik, dan
  5. 91- 100 atau baik sekali

        Kriteria dalam observasi aktivitas siswa ditentukan berdasarkan respon siswa terhadap keenam indikator di atas dengan catatan aktivitas dikatakan rendah (jika hanya muncul 2 indikator atau kurang sedang (jika muncul 3 indikator, dan baik (jika muncul 4 indikator atau lebih). Siswa dikatakan memenuhi aktivitas jika memiliki kriteria baik.

       Selain observasi aktivitas belajar siswa, dalam pelaksanaan siklus dilakukan pula observasi aktivitas guru dalam pembelajaran dengan pemanfaatan alat peraga kartu pecahan pada siswa kelas VI A SD Negeri 1 Gumelar.  Bertindak sebagai observer adalah Kudiyono, S.Pd. dan Datim, S.Pd.I. Aktivitas guru yang diamati meliputi: persiapan guru memulai kegiatan pembelajaran, kemampuan guru mengelola kelas, kemampuan mengelola waktu pembelajaran, kemampuan memberikan apersepsi, kemampuan menyampaikan materi, kemampuan guru memberikan pertanyaan, kemampuan membimbing diskusi dan melakukan penjelasan konsep, perhatian guru terhadap siswa, kemampuan mengembangkan aplikasi, dan kemampuan menutup pelajaran.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kondisi Awal

        Rutinitas guru yang menyajikan materi dengan memberikan contoh dan mengerjakan latihan-latihan mengakibatkan aktivitas belajar siswa menjadi kurang. Indikasi dari kurangnya aktivitas belajar siswa antara lain ditandai dengan kurangnya persiapan belajar, kurangnya partisipasi aktif siswa dalam mengikuti pelajaran, mencatat, mengerjakan soal, melakukan kegiatan, dan mempelajari materi yang diterima.

        Rendahnya aktivitas belajar siswa menyebabkan banyak siswa yang tidak mampu mencapai KKM. KKM Matematika di SDN 1 Gumelar adalah 65. Nilai mereka masih rendah-rendah. Rendahnya nilai ulangan harian Matematika dapat dilihat dari 3 kali nilai harian. Nilai rata-rata ulangan harian I adalah 64, nilai rata-rata ulangan harian II adalah 59, dan nilai rata-rata ulangan harian III adalah 60. Jika nilai rata-rata dari tiga kali ulangan harian tersebut juga dibuat rata-rata, maka akan diperoleh angka sebesar 61.

Siklus I

        Pada siklus I, peneliti memanfaatkan alat peraga kartu pecahan secara kelompok. Hasil siklus I dapat disajikan sebagai berikut:

  1. Aktivitas Belajar

        Hasil observasi aktivitas belajar siswa pada siklus I dari dua orang observer dapat dilihat pada tabel berikut:

Obsever Prosentase Ketercapaian
I 70 %
II 75 %
Rata-rata 72,5 %

        Secara keseluruhan persentase rata-rata observasi aktivitas belajar Matematika siklus I mencapai 72,5 % termasuk kriteria “sedang”.

  1. Keterlaksanaan PBM

        Hasil observasi keterlaksanaan PBM pada siklus I dari dua orang observer dapat dilihat pada tabel berikut:

Observer Prosentase
I

II

79,17

75,00

Rata-Rata 77,09

        Secara keseluruhan persentase rata-rata observasi keterlaksanaan kegiatan pembelajaran Matematika menerapkan alat peraga kartu pecahan secara kelompok siklus I mencapai 77,09% termasuk kriteria “baik”.

  1. Hasil Belajar

        Dari kegiatan tes akhir siklus I yang diikuti oleh 20 siswa diperoleh hasil sebagai berikut: nilai rata-rata 73,5; nilai tertinggi 100; nilai terendah 50; modus 70; dan 75 % siswa mampu mencapai KKM.

Siklus II

        Pada siklus II, peneliti memanfaatkan alat peraga kartu pecahan secara berpasangan. Hasil siklus II dapat disajikan sebagai berikut:

  1. Aktivitas Belajar Siswa

        Hasil observasi aktivitas belajar siswa pada siklus II dari dua orang observer dapat dilihat pada tabel berikut:

Obsever Prosentase Ketercapaian
I 85 %
II 80 %
Rata-rata 82,5 %

        Secara keseluruhan persentase rata-rata observasi aktivitas belajar Matematika siklus II mencapai 82,5 % termasuk kriteria “baik”.

  1. Keterlaksanaan PBM

        Hasil observasi keterlaksanaan PBM pada siklus II dari dua orang observer dapat dilihat pada tabel berikut:

Observer Prosentase

I

II

83,33

83,33

Rata-Rata 83,33

        Secara keseluruhan persentase rata-rata observasi keterlaksanaan kegiatan pembelajaran Matematika menerapkan alat peraga kartu pecahan secara berpasangan siklus II mencapai 83,33% termasuk kriteria “amat baik”.

  1. Hasil Belajar

        Dari kegiatan tes akhir siklus II yang diikuti oleh 20 siswa diperoleh hasil sebagai berikut: nilai rata-rata 77; nilai tertinggi 90; nilai terendah 50; modus 80; dan 18 (90%) siswa mampu mencapai KKM.

Secara keseluruhan hasil-hasil tindakan peneliti dalam siklus I dan II tersaji dalam tabel berikut ini:

Variabel Pra Siklus Siklus I Siklus II
Nilai rata-rata 61 73,5 77
Prosentase ketuntasan 33% 75% 90%
Aktivitas belajar siswa

Rendah

72,5

Sedang

82,5

Baik

Keterlaksanaan PBM 77,09

Baik

83,33

Amat Baik

Jika disajikan dalam bentuk diagram batang. maka  hasil-hasil tindakan peneliti dalam siklus I dan II seperti di bawah ini.

samsyaha

Berdasarkan data-data penelitian yang tersaji di atas dapat dijelaskan hal-hal sebagai berikut;

Aktivitas belajar siswa meningkat dari kategori kurang pada kondisi awal menjadi kategori sedang dengan skor rata-rata 72,5 pada akhir siklus I. Aktivitas guru dalam PBM menunjukan kategori baik dengan skor rata-rata 77,09%. Peningkatan aktivitas belajar siswa berimbas pada peningkatan nilai rata-rata subjek penelitian. Nilai rata-rata pada kondisi awal 61 dengan prosentase siswa yang mampu mencapai KKM 33% dapat ditingkatkan menjadi 73,5 dengan prosentase siswa yang mampu mencapai KKM sebesar 75 % pada siklus I.

Penyempurnaan pemanfaatan alat peraga kartu pecahan secara berpasangan pada siklus II, ternyata lebih meningkatkan lagi aktivitas dan hasil belajar di siklus II. Hasil observasi menunjukan bahwa aktivitas belajar siswa meningkat dari kondisi akhir siklus I ke kondisi akhir siklus II. Pada siklus I skor rata-rata 72,5 termasuk kategori sedang, sedangkan di akhir siklus II memperoleh skor rata-rata 82,5 termasuk kategori baik. Aktivitas guru dalam PBM juga menunjukan peningkatan. Pada siklus I memperoleh skor rata-rata 77,09% termasuk kategori baik meningkat menjadi 83,33% termasuk kategori amat baik. Peningkatan aktivitas belajar siswa berimbas pada peningkatan nilai rata-rata subjek penelitian. Nilai rata-rata di akhir siklus I sebesar 73,5 dengan prosentase siswa tuntas 75% dapat ditingkatkan menjadi nilai rata-rata 77 dengan prosentase siswa tuntas 90 %.

PENUTUP

Mencermati data-data empirik yang terkumpul selama proses Penelitian Tindakan Kelas ini menunjukan terjadinya peningkatan aktivitas belajar siswa dari kategori rendah menjadi baik dengan skor capaian 82,5. Nilai rata-rata hasil belajar meningkat dari 61 menjadi 77 di akhir siklus II. Selain itu, terjadi pula peningkatan ketuntasan belajar dari 33% menjadi 90%. Dengan demikian terbukti, bahwa pemanfaatan alat peraga kartu pecahan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Matematika pecahan bagi siswa kelas VI A SD Negeri 1 Gumelar pada semester II tahun pelajaran 2014/2015?”

         Berkenaan dengan hasil penelitian ini, maka guru sebaiknya selalu memanfaatkan alat peraga dalam pelaksanaan pembelajara agar aktivitas dan hasil belajar meningkat. Sekolah agar berupaya semaksimal mungkin untuk melengkapi fasilitas pembelajaran, termasuk alat peraga yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 2000. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.

Anitah, Sri W. 2009. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Depdiknas. 2006. Standar Isi Kurikulum 2006. Jakarta: Puslitbang Depdiknas.

Sardiman, A.M. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali

BIODATA PENULIS

                                                                        Nama               : Samsiyah, S.Pd.

                                                                        NIP                 : 19630901 198508 2 002

                                                                        Pangkat/Gol    : Pembina/IV/a

                                                                        Jabatan             : Guru

                                                                       Unit Kerja       : SDN 1 Gumelar, UPK Gumelar




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *