http://www.infopasti.net/analisis-novel-di-kaki-bukit-cibalak-ahmad-tohari-infopasti-net/

ANALISIS NOVEL DI KAKI BUKIT CIBALAK KARYA AHMAD TOHARI

ANALISIS NOVEL DI KAKI BUKIT CIBALAK KARYA AHMAD TOHARI

Oleh : SUPENO, S.Pd

SMP NEGERI 3 BANYUMAS

 

 

ABSTRAK

Analisis bertujuan untuk mengetahui unsur – unsur intrinsik novel karya Ahmad Tohari. Analisis ini berbentuk analisis deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode content analysis. Sumber data adalah novel Di Kaki Bukit Cibalak  dan artikel-artikel dari internet. Hasil yang diperoleh unsur intrinsik dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak adalah Tema yaitu keboborokan pemerintahan desa Tanggir, alur dalam novel ini adalah alur lurus, penokohan dalam novel ini menggunakan dua teknik penokohan yaitu teknik analitik dan teknik dramatik. Latar terdiri dari latar sosial pengarang menggambarkan bahwa dalam masyarakat Tanggir ada dua golngan masyarakat yaitu golongan kaula dan golongan ningrat, latar tempat di desa Tanggir dan kota Yogyakarta. Latar waktu terjadi pada awal musim penghujuan. Pusat pengisahan  pengarang serba tahu, gaya dalam novel ini adalah gaya biasa dan sederhana.

Kata kunci :   Unsur intrinsik, Di Kaki Bukit Cibalak, Ahmad Tohari

  1. PENDAHULUAN

Di Kaki Bukit Cibalak diterbitkan pertama kali pada 1986. Sejak kemunculan novel Di Kaki Bukit Cibalak mendapatkan tanggapan positif dari penikmat sastra. Tingginya apresiasi masyarakat terhadap novel  Di Kaki Bukit Cibalak mendapatkan tanggapan dari Jakob Sumarjo (1993:109)  rupanya pengarang muda itu  baru saja muncul dan mendapat stimulasi  sayembara. Ia aktif menulis  dan punya bakat, ini merupakan harapan. Pengambilan tema yang bermacam ragam  selama ini setidak-tidaknya ia tidak jatuh  ke dalam penulisan novel pop.

Novel yang ditulis dengan latar waktu tahun 1970 masih rekevan dibaca sampai sekarang. Bukankah seorang Pambudi yang berteriak kejujuran dan mau berbuat untuk menolong warga yang miskin yang kesulitan untuk berobat  masih diperlukan sampai sekarang. Kecurangan lurah Dirga  dengan politik uang dalam pemilihan lurah, ketidakjujuran dalam penggunaan uang kas lumbung desa menjadi masalah dimasa ini, sejak tingkat desa  sampai tingkat pusat . politik uang, Pilkada, korupsi masih merebak dan bahkan makin menggila.

Analisis terhadap novel Di Kaki Bukit Cibalak penulis membatasi unsur intrinsik yang meliputi tema, alur, penokohan, pusat pengisahan dan gaya. Jadi, dari segi tinjuan intrinsik  diharapkan dapat diperoleh gambaran guna kepentingan penelitian lebih lanjut yang lebih tuntas.

KAJIAN PUSTAKA

        Novel berasal dari bahasa Itali novella yang secara harafiah berarti barang baru yang kecil. Novel kemudian diartikan “cerita pendek dalam bentuk prosa”. (Abrams dalam Nurgiyanto,2005:9). Dalam bahasa Latin kata novel  berasal dari novellus yang diturunkan pula dari kata noveis yang berarti baru. Dikatakan baru karena dibandingkan  dengan jenis-jenis lain, novel ini baru muncul kemudian (Tarigan, 1995:164).

Pendapat Tarigan diperkuat pendapat Semi (1993:32) bahwa novel merupakan  karya fiksi yang mengungkapkan  aspek-aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan disajikan dengan halus. Novel yang diartikan  sebagai memberikan konsentrasi kehidupan yang lebih tegas, dengan roman yang diartikan rancangannya lebih luas mengandung sejarah perkembangan yang biasanya terdiri dari beberapa fragmen  dan patut ditinjau kembali.

Sujiman (1998:53) mengatakan bahwa novel adalah prosa rekaan yang menyuguhkan tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa serta latar secara tersusun. Novel sebagai karya imajinatif mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang mendalam dan menyajikan secara halus. Novel tidak hanya sebagai alat hiburan, tetapi juga  sebagai bentuk seni  yang mempelajari dan meneliti segi-segi kehidupan dan nilai-nilai baik dan buruk (moral) dalam kehidupan ini dan mengarahkan pada pembaca tentang budi pekerti  yang luhur.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa novel adalah sebuah cerita fiktif yang berusaha menggambarkan atau melukiskan  kehidupan tokoh-tokohnya dengan menggunakan alur. Cerita fiktif tidak hanya  sebagai cerita khayalan semata, tetapi sebuah imajinasi yang dihasilkan oleh pengarang adalah realistis atau fenomena yang dilihat dan dirasakan.

  1. Ciri – ciri Novel

        Ciri-ciri novel adalah cerita yang lebih panjang dari cerita pendek, diambil dari cerita masyarakat yang diolah secara fiksi, serta mempunyai unsur intrinsik dan ekstrinsik. Ciri-ciri novel tersebut dapat menarik pembaca atau penikmat karya sastra karena cerita yang terdapat didalamnya akan menjadikan lebih hidup.

  1. Macam – macam Novel

                 Ada beberapa jenis novel dalam sastra. Jenis novel mencerminkan keragaman tema dan kreatifitas dari sastrawan yang tak lain adalah pengarang novel. Nurgiyanto (2005:16) membedakan novel menjadi novel serius dan novel populer.

  1. Novel Populer

Nurgiyanto (2005:18)  novel populer  adalah novel yang populer pada masanya dan banyak penggemarnya, khusunya pembaca dikalangan remaja. Novel jenis ini menampilkan masalah  yang aktual  pada saat novel itu muncul. Pada umumnya, novel populer bersifat artifisial, hanya bersifat sementara, cepat ketinggalan zaman, dan tidak memaksa orang untuk membacanya lagi, seiring dengan munculnya novel-novel baru  yang lebih populer pada masa sesudahnya. Di sisi lain, novel populer lebih mudah dibaca dan lebih mudah dinikmati karena semata-mata  menyampaikan  cerita (Stanton dalam Nurgiyanto, 2005:19). Novel populer tidak mengejar  efek estetis seperti yang terdapat dalam novel serius.

Berdasarkan  pendapat di atas, dapat disimpulkan  bahwa novel populer  adalah cerita  yang bisa dibilang tidak terlalu rumit. Alur cerita yang mudah ditelusuri, gaya bahasa yang sangat mengena, fenomena yang diangkat terkesan sangat dekat. Hal ini pulalah yang menjadi daya tarik bagi kalangan remaja sebagai kalangan yang paling menggemari novel populer. Novel populer juga mempunyai jalan cerita yang menarik, mudah diikuti, dan mengikuti selera pembaca..

  1. Novel serius

       Novel serius atau yang lebih dikenal dengan novel sastra merupakan jenis karya sastra  yang dianggap pantas dibicarakan dalam sejarah sastra yang bermunculan cenderung pada novel serius. Novel serius harus sanggup  memberikan segala sesuatu yang serba mungkin, hal itu disebut makna sastra yang sastra. Novel serius yang bertujuan untuk memberikan hiburan kepada pembaca, juga mempunyai tujuan memberikan pengalaman yang berharga dan mengajak pembaca untuk meresapi lebih sungguh-sungguh tentang masalah yang dikemukakan. Dalam novel serius, gagasan diolah  dengan cara yang khas. Hal ini penting mengingat novel serius membutuhkan  sesuatu yang baru  dan memiliki ciri khas  dari novel-novel yang dianggap biasa.

Unsur Intrinsik

  1. Tema

Menurut Panuti Sujiman (1984:74) tema adalah sebagai gagasan ide atau pikiran utama dalam karya sastra. Menurut S. Suharianto (1991:28) tema adalah dasar cerita yakni pokok permasalahan yang mendominasi suatu karya sastra. Lebih lanjut S. Suharianto menegaskan pada hakekatnya tema adalah permasalahan yang merupakan  titik tolak pengarang  dalam menyusun cerita atau karya tersebut sekaligus merupakan permasalahan  yang ingin dipecahkan pengarang dengan karyanya itu.

  1. Plot

Unsur berikutnya adalah alur atau plot. Menurat Mursal Esten (1993:26) membatasi sebagai urutan peristiwa dalam sebuah cerita rekaan yang terdiri: situasi, peristiwa mulai bergerak, keadaan mulai memuncak, mencapai titik puncak dan penyelesaian. Secara kualitatif Mursal Esten membedakan alur menjadi dua, yakni alur erat  dan alur longgar. Lebih lanjut dijelaskan bahwa alur erat hubungannya dengan  peristiwa yang satu dengan peristiwa lainnya padu sekali, sedangkan alur longgar hubungan peristiwa yang satu dengan yang lainnya tidak begitu padu.

  1. Penokohan

     Menurut S. Suharianto (1991:31) penokohan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita, baik keadaan lahirnya  maupun batinya yang dapat berupa  pandangan hidup, sikap, keyakinan, adat istiadat dan sebagainya. Dijelaskan lebih lanjut bahwa ada dua macam cara  yang sering digunakan pengarang  untuk melukiskan tokoh ceritanya, yaitu secara langsung dan secara tidak langsung. Dikatakan secara langsung apabila  pengarang langsung menguraikan  atau menggambarkan tokoh ceritanya, sedangkan secara tak langsung  apabila seorang tokoh  secara tersamar dalam memberitahukan wujud  atau tokoh ceritanya.

  1. Setting

Unsur  selanjutnya yang termasuk dalam segi intrinsik yaitu setting atau latar. Pradopo (1985:21) dalam sebuah cerita   latar dapat dikategorikan  menjadi latar sosial, latar tempat dan latar waktu. Latar sosial menyangkut seorang tokoh  didalam lingkungan kehidupan sosial. Latar tempat adalah yang berhubungan dengan masalah tempat suatu cerita terjadi.

  1. Pengisahan

Suharianto (1991:36) pusat pengkisahan adalah siapa yang bercerita. Dalam hal ini untuk menampilkan  cerita mengenai  kehidupan tokoh tersebut pengarang akan menentukan siapa orangnya  dan akan berkedudukan  sebagai apa pengarang dalam cerita tersebut.

  1. Gaya

Jakob Sumarjo (1984:62) gaya adalah cara khas pengungkapan seseorang. Hal ini tercermin dalam cara pengarang menyusun dan memilih kata-kata, memilih tema, meninjau persoalan, gaya mencerminkan pribadi seseorang. Jakob Sumarjo lebih lanjut menjelaskan  bahwa dalam hal penggunaan kalimat  sebagai gaya, seorang pengarang sering membawakan cerita dengan menggunakan kalimat-kalimat pendek atau panjang, kompleks atau sederhana. yang mempunyai gaya bertolak belakang dengan gaya tersebut. Dengan demikian jelaslah kalau gaya diartikan  sebagai cara khas pengungkapan seseorang. Gaya seorang pengarang mempunyai kaitan yang erat dengan pribadi pengarang tersebut.

  1. METODE ANALISIS

      Bentuk analisis ini adalah deskritif kualitatif  dengan metode content analysis atau analisis isi. Analisis ini mendeskripsikan atau menggambarkan apa yang menjadi masalah, kemudian menganalisis dan menafsirkan  data yang ada. Metode content analisys atau analisis isi untuk menelaah dokumen, dalam analisis ini dokumen yang dimaksud adalah novel Di Kaki Bukit Cibalak karya Ahmad Tohari. Teknik pengumpulan data yang digunakan  dalam analisis adalah teknik catat, karena data-data berupa teks. Adapun langkah-langkah  dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut: membaca novel Di kaki Bukit Cibalak secara berulang-ulang, mencatat kalimat – kalimat yang merupakan unsur intrinsik.

III . ANALISIS NOVEL DI KAKI BUKIT CIBALAK

  1. Tema

Tema Novel

No

Masalah

Pelaku Tema
1 Penyalahgunaan wewenang korupsi, manipulasi, perbuatan-perbuatan lainnya yang dilakukan oleh lurah desa Pambudi

Lurah Dirga

Poyo

Keboborkan pemerintahan desa Tanggir.

Di Kaki Bukit Cibalak merupakan sebuah novel yang mengisahkan masuknya  budaya korup di Indonesia. Dalam novel ini  permasalahan yang mendominasi keseluruhan cerita adalah masalah kebobrokan pemerintah desa. Kebobrokan ini nampak dalam penyalahgunaan wewenang, korupsi, manipulasi, dan perbuatan-perbutan curang lainnya yang dilakukan oleh lurah desa. Hal inilah yang menjadi titik sentral dari segala masalah  yang diungkapkan oleh Ahmad Tohari melalui novel Di Kaki Bukit Cibalak.

  1. Alur

                Alur Dalam Novel Di Kaki Bukit Cibalak

 Novel ini mempunyai alur lurus. Peristiwa-peristiwa yang terjadi  disusun secara kronologis, yaitu peristiwa diawali dengan situasi dan diakhiri dengan suatu penyelesaian. Kemudian secara kualitatif novel ini mempunyai  alur yang longgar.

supen

  1. Penokohan

 Tokoh dalam novel Di kaki Bukit Cibalak

Tokoh utama Tokoh bawahan
Pambudi

Pak Dirga, Pak Barkah, Mbok Ralem, Sanis, Mulyani, Topo, Poyo, Bambang Sumbodo

      Tokoh  yang mendukung novel ini cukup banyak yaitu : Pambudi, Pak Dirga, Pak Barkah, Mbok Ralem, Sanis, Mulyani, Topo, Poyo, Bambang Sumbodo dan lain-lain. Dari sekian banyak tokoh yang mendukung novel Di Kaki Bukit Cibalak ini hanya satu yang berperan sebagai tokoh utama yaitu Pambudi, sedangkan tokoh-tokoh yang lain  merupakan tokoh bawahan.

     Sebagai tokoh utama Pambudi dilukiskan memiliki watak yang baik. Ia jujur memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, kreatif, pandai dan tidak pernah mendendam. Kemudian pengarang juga menggambarkan adanya sesuatu yang logis, yaitu segala tingkah laku, sikap, tanggapan tokoh terhadap hal-hal yang terjadi disekelilingnya dapat dikatakan wajar sesuai dengan wataknya.

  1. Latar

Latar atau setting adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi atas pelaku. Untuk menunjang kecenderungan itu maka pengarang memang harus memperhatikan latar yang akan digunakan dalam cerita tersebut, dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak menampakan latar sebagai berikut:

 Latar Novel Di Kaki Bukit Cibalak

No Latar Keterangan
1 Sosial

Masyarakat desa Tanggir terbagi menjadi dua golongan besar yaitu golongan Kaula dan golongan Ningrat.

2 Tempat Desa Tanggir dan Yogyakarta (kantor redaksi Kalawarta, rumah sakit, losmen, tempat kos Topo,  toko milik orang tua Mulyani)
3 Waktu

Secara tersirat hanya dapat ditangkap bahwa keseluruhan cerita itu berlangsung pada awal musim penghujan (hal 8). Musim tanam ladang. Tegalan yang telah tercangkul  berbongkah-bongkah kering, tersiram hujan, wanginya tanah. Burung Srigunting berekor panjang akan muncul. Waktu yang digunakan oleh Ahmad Tohari adalah waktu yang menunjukkan  siang, malam, sore, senja.

 

  1. Pengisahan

Pusat pengisahan menerangkan siapa yang bercerita. Menganalisis  pusat pengisahan berarti menganalisis pertalian antara pencerita dengan ceritanya.untuk menampilkan cerita mengenai perikehidupan tokoh, pengarang akan menentukan siapa orangnya dan akan berkedudukan  sebagai apa pengarang dalam cerita tersebut.

Pengisahan Novel Di Kaki Bukit Cibalak

No Pengisahan Keterangan
1

Pengarang serba hadir atau pengarang serba tahu

1.    Pengarang tidak berperan apa-apa, para pelaku disebut dengan dia atau dengan menebut namanya.

2.    Pengarang serba tahu tentang apa yang akan dilakukan oleh para pelaku, bahkan apa yang ada dalam pikiran pelaku.

  1. Gaya

  Gaya merupakan cara khas pengungkapan seseorang. Ahmad Tohari sebagai pengarang novel Di Kaki Bukit Cibalak  menunjukkan gaya yang wajar dan biasa saja. Ahmad Tohari kelihatan lebih suka menceritakan suasana alam dan perkembangan watak tokoh-tokoh cerita dalam menghadapi perubahan sosial yang nyata. Hal ini tampak sekali dalam masalah-masalah sosial yang digarap  dalam novelnya. Masalah perubahan sosial  yang dialami rakyat kecil.

Kemudian dari segi bahasa atau penggunaan kalimat, gaya kepengarangan Ahmad Tohari terasa enak diikuti. Ia dengan leluasa sering menggunakan kata-kata jawa untuk menghidupkan suasana cerita, meskipun hal seperti ini dapat mengurangi bobot karyanya. Karena apabila orang daerah non jawa membaca karya tersebut ia akan mengalami kesulitan  dalam memahami istilah atau kata-kata jawa itu, Ahmad Tohari tidak memberikan catatan khusus terhadap istilah-istilah yang digunakan  tetapi disini Ahmad Tohari menampakkan gayanya. Ia begitu mahir mengubah suasana alam ke dalam kata-kata dengan pelukisan yang begitu hidup, dengan kata-kata yang tepat.

    Gaya Novel Di Kaki Bukit Cibalak

No

Gaya

Keterangan

1

Di Kaki Bukit Cibadak menunjukan gaya yang wajar dan biasa-biasa saja.

1.    Ahmad Tohari kelihatan lebih suka menceritakan suasana alam dan perkembangan watak tokoh-tokoh cerita dalam menghadapi perubahan sosial yang nyata.

2.    Masalah–masalah sosial yang digarap dalam novelnya.

3.    Masalah perubahan sosial yang dialami rakyat kecil.

4.    Disampaikan bukan dengan verbalisme, tetapi dengan pelukisan yang hidup, dengan kata-kata yang tepat.

5.    Ending cerita menampakan adanya pesan pembangunan, artinya cerita mengarah kepada pemecahan masalah yang sifatnya membangun.

SIMPULAN

Berdasarkan analisis novel Di kaki Bukit Cibalak ini khususnya menggunakan metode content analysis atau analisis isi dapat diambil kesimpulan bahwa Tema novel Di Kaki Bukit Cibalak adalah kebobrokan pemerintahan desa Tanggir. Alur novel ini apabila dilihat dari cara penyusunannya  mempunyai alur lurus. Penokohan di dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak apabila dilihat teknik penggambarannya pengarang menggunakan dua teknik secara bergantian, yaitu secara analitik dan secara dramatik.  Gaya yang penulis  adalah yang berkaitan dengan penggunaan kata – kata  atau kalimat. Ahmad Tohari  tidak dapat dilepaskan  dari penggunaan istilah – istilah Jawa.

 

Di Kaki Bukit Cibalak, yang dominan muncul adalah konflik sosial yang terjadi di desa Tanggir. Konflik ini terjadi karena ketidakberesan pemerintahan lurah desa Tanggir yang biasa dipanggil dengan nama Pak Dirga. Dari awal kompetisi pemilihan lurah, dia sudah menunjukkan kecurangan yang akhirnya mengantarkannya duduk sebagai lurah desa Tanggir. Setelah menjadi lurah, dia melakukan penyelewengan dana kas lumbung koperasi desa Tanggir. Dia tidak mau menolong Mbok Ralem yang notabennya warga miskin yang membutuhkan bantuan pemerintah desa demi penyembuhan penyakitnya. Pak Dirga bersama Poyo (pengurus lumbung desa Tanggir) melakukan manipulasi pada laporan keuangan lumbung desanya.

Nama        : Supeno, S.Pd

NIP           : 19620211 198703 1 006

Pangkat     : Pembina TK 1 / IV b

Unit Kerja : SMP Negeri 3 Banyumas

HP             : 08164285954

Email         : soepeno.spd@gmail.com

 

DAFTAR PUSTAKA

Esten, Mursal.1993. Kesustraan Pengantar Teori dan Sejarah. Bandung: Angkasa.

Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Pradopo, Sri Widati.1985. Struktur Cerita Pendek Jawa. Jakarta : Pusat  Pembinaa dan Pengembangan Bahasa.

Sudjiman, Panuti. 1998. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: Pustaka Jaya.

Sumarjo, Jakob.1984. Memahami Kesustraan. Bandung Alumni.

Sumarjo, Jakob. 1993.  Pengantar Novel Indonesia. Jakarta : PT Karya  Unipres.

Suharianto, S.1991.  Dasar – Dasar Teori Sastra. Surakarta Widya Duta.

Semi, Atar. M. 1993. Anatomi sastra. Padang: Angkasa Raya.

Tohari, Ahmad. 1986. Di Kaki Bukit Cibalak. Jakarta : Pustaka Jaya

Tarigan,Henry Guntur.1985. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *