Literasi Sekolah

APAKAH KITA MELAKSANAKAN `GERAKAN LITERASI SEKOLAH` SEBATAS GAYA?

APAKAH KITA MELAKSANAKAN

`GERAKAN LITERASI SEKOLAH`  SEBATAS GAYA?

Oleh: Dra. Wiwi Parluki, M.Pd

Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia No 23 Tahun 2015 mencantumkan adanya pendidikan budi pekerti dimana salah satu perwujudannya adalah pencanangan Gerakan Literasi Sekolah(GLS)

Pertanyaan yang menggelitik di atas muncul saat diskusi antar guru di sekolah.Tentu ini membutuhkan jawaban dan sikap kita sebagai pengemban tugas profesional yang dijuluki `pendidik atau guru pembelajar`.Jawabannya tentu membutuhkan kajian tersendiri.

Harian Republika di halaman pendidikan juga menulis ‘Gerakan literasi jangan hanya sebatas gaya.(Sarnapi dalam Republika 21 September 2016) Hal ini dilansir dari kutipan pendapat Kepala Dinas Pendidikan Bandung yakni, “Gerakan literasi sekolah (GLS) bukan sebatas gaya, tapi kita mendidik dan melatih siswa untuk membudayakan membaca, menulis, dan mengkomunikasikan gagasan,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Elih Setiapermana dalam “Pekan Lomba Literasi”, di SMAN 20 Bandung, Rabu 21 September 2016. Pendapat ini menyiratkan  pesanakan pentingnya pemahaman gerakan literasi sekolah (GLS).

Dari dua topik  di atas tersirat adanya pemahaman Gerakan literasi, hal ini memang yang semestinya ada pada pelaksana gerakan tersebut, namundi lingkungan masyarakat kita, banyak pula ditemukan fakta bahwa masih minimnya pengetahuan `program gerakan literasi`. Perlu  pemahaman tentang gerakan literasi, hal ini disampaikan oleh Plt Sekretaris Jenderal Kemendikbud Hamid Muhammad mengatakan, dari penelitian yang dilakukan UNESCO di tahun 2012, perbandingan orang yang membaca dan yang tidak di Indonesia sangat jauh, satu banding seribu. Angka tersebut didukung pula dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan orang Indonesia lebih gemar menonton televisi daripada membaca. “91,68 persen penduduk gemar menonton televisi dan hanya 17,6 persen yang membaca surat kabar atau majalah, hal ini juga bisa diartikan kurang paham pentingnya gerakan literasi di dalam masyarakat kita” tegasnya (Radar Banyumas,6 Juni 2016).

            Topik ke-3 berbeda dengan ke-1 dan ke-2 topik di atas, ada yang telah cukup memahami gerakan literasi namun ada yang belum memahaminya. Perbedaan ini memicu pertanyaan yang cukup menggelitik, `Apakah benarkita melaksanakan `Gerakan Literasi Sekolah`  sebatas gaya?

Latar belakang Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Membaca-menulis (literasi) merupakan salah satu aktifitas penting dalam hidup. Sebagian besar proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. Budaya literasi yang tertanam dalam diri peserta didik mempengaruhi tingkat keberhasilan baik di sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakak.Tidak berlebihan kiranya Farr (1984) menyebut bahwa “Reading is the heart of education”. Bagi masyarakat muslim, pentingnya literasi ditekankan dalam wahyu pertama Allah kepada Nabi Muhammad SAW, yakni perintah membaca (IQRA’) yang dilanjutkan dengan ‘mendidik melalui literasi’ (‘ALLAMA BIL QALAM). UNESCO (1996) mencanangkan empat prinsip belajar abad 21, yakni:

(1)  Learning to think (belajar berpikir)

(2)  Learning to do (belajar berbuat)

(3)  Learning to be (belajar

(4)  Learning to live together (belajar hidup bersama)

Keempat pilar prinsip pembelajaran ini sepenuhnya didasarkan pada kemampuan literasi (Literary skills).

Literasi saat ini dipandang penting, namun ditemukan beberapa beberapa kondisi yang merupakan ancaman global diantaranya:

  • Rendahnya literacy awareness bangsa Indonesia sekarang ini akan semakin melemahkan daya saing bangsa dalam persaingan global yang semakin kompetitif.
  • Dalam kontek internasional, pemahaman membaca tingkat sekolah dasar (kelas IV)diuji Asosiasi international untuk Evaluasi Prestasi Pendidikan(IEA-the International Association for the Evaluation of Educational Achievement) dalam Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) yang dilakukan setiap 5 tahun sekali (sejak 2001).UJi literasi membaca mengukur aspek memahami, menggunakan dan mereflekskan hasil membaca dalam bentuk tulisan. Dalam PIRLS tahun 2011 Indonesia menduduki peringkat 45 dari 48 negara peserta denganskor 428 dari skor 500, sementara dari uji literasi membaca dalam Programme for International Students Assessment (PISA) tahun 2012 Indonesia menduduki peringkat 64 dari 65 negara peserta dengan skor 396 dari rata rata skor 496 bagi Negara peserta. Data PIRLS dan PISA menunjukkan bahwa kompetensi memahami bacaan pada peserta didik Indonesia tergolong rendah
  • Sumber Daya Manusia Indonesia kurang kompetitif karena kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, ini adalah akibat turunan dari rendahnya kemampuan baca-tulis.
  • Membaca belum menjadi kebutuhan hidup dan belum menjadi budaya.

Jelas kondisi-kondisi tersebut menunjukkan akan pentingnya gerakan literasi, Hal ini didukung pula oleh pemahaman Andrew Miller yang merupan pelopor International Literation Association(ILA), yang berkantor pusat di Canada. Menurut Andrew Miller dari International Literation Association (ILA:2016),” The ability to read, write, and communicate connects people to one another and empowers them to achieve things they never thought possible. Communication and connection are the basis of who we are and how we live together and interact with the world.” Artinya Kemampuan membaca, menulis dan berkomunikasi berinteraksi  satu orang dengan lainnya dan mendukung mereka mencapai apa saja yang belum  pernah terpikir sebelumnya. Komunikasi dan interaksi adalah dasar bagi mereka yang tahu siapa dirinya, bagaimana kita hidup bersama dan berinteraksi dengan dunia

Keadaan/kondisi-kondisi tersebut membutuhkan solusi, mengingat persoalan bangsa yang sedemikian krusial dalam hal kesadaran literasi, dibutuhkan kerjasama banyak pihak untuk mengatasinya. Paling penting adalah adanya tindakan nyata yang bukan sekedar wacana semata. Solusi menggerakan kegiatan “Gerakan Literasi Sekolah”(GLS) menjadi alternatif yang pas untuk dilaksanakan.

Apa itu `Gerakan Literasi Sekolah`(GLS)?

Menurut panduan GLS SMP, Pengertian Literasi Sekolah dalam konteks GLS adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktifitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis dan atau berbicara.

Sedangkan `Gerakan Literasi Sekolah` (GLS) merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaryang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Siapa Sasaran Kegiatan Ini?

Gerakan Literasi Sekolah mengajak semua pihak untuk terlibat dalam usaha penyadaran budaya literasi, yakni:

  • Sekolah, sebagai lembaga yang menjadi tempat pelaksanaan gerakan
  • Guru, sebagai tenaga pendidik dan teladan bagi siswa
  • Siswa, sebagai sasaran utama gerakan
  • Pemerintah Daerah (Dinas Pendidikan), sebagai pembuat kebijakan
  • Yayasan penyelenggara pendidikan, sebagai pembuat kebijakan
  • Pengelola Perpustakaan, sebagai pusat kegiatan baca-tulis
  • Media Massa, sebagai saluran informasi masyarakat

Bagaimana Bentuk Kegiatannya?

Gerakan Literasi Sekolah adalah sebuah program intervensi pembudayaan literasi yang tepat, mudah dilaksanakan, dilakukan secara sistemik, komprehensif, merata pada semua komponen sekolah, berkelanjutan, dan dikelola secara profesional oleh lembaga yang kredibel.

Adapun kegiatan yang akan dilakukan dalam Gerakan Literasi Sekolah ini adalah disesuaikan dengan tingkat /jenjang, namun secara umum sebagi berikut…

  • Seminar dan Workshop

Seminar dilakukan di sekolah peserta GERAKAN LITERASI SEKOLAH, sekaligus sebagai launching project. Peserta dalam kegiatan seminar literasi ini adalah perwakilan penyelenggara sekolah, pimpinan sekolah, guru, dan siswa.Seminar dilaksanakan selama satu hari.

Workshop dilakukan secara berkala untuk meningkatkan kemampuan literasi warga sekolah peserta gerakan.Sasaran peserta workshop bervariasi bergantung pada materi workshop. Adapun materi workshop yang ditawarkan adalah:

  • Teknik-teknik Membaca Efektif
  • Menulis Dasar (Basic Writing) untuk siswa SD
  • Menulis Kreatif Terstruktur dengan Pendekatan Jurnalisme Sastrawi, untuk siswa SMP, SMA, dan Guru
  • Workshop bagi pustakawan, dilakukan secara kolektif dengan sekolah peserta yang lain
  • Workshop penerbitan buku, menghadirkan pakar penulisan dan penerbit.
  • Workshop jurnalistik dan manajemen media, untuk redaksi majalah sekolah.

Program Membaca Rutin di Sekolah

Program Membaca Rutin di Sekolah (Sustained Silent Reading) atau disingkat SSR adalah strategi intervensi membaca yang telah digunakan oleh negara-negara maju dalam membudayakan dan meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca.Program ini merupakan program yang krusial untuk menjamin terciptanya kebiasaan dan budaya membaca pada warga sekolah.

Program ini telah diujicobakan di SMA Negeri 5 Surabaya dengan hasil yang sangat memuaskan.Hanya dalam waktu kurang dari 2 (dua) bulan siswa SMAN 5 Surabaya telah membaca 1851 buku novel dari target 3000 buku dalam setahun. Program ini telah diulas di Koran Jawa Pos dan Koran Surya (5 Oktober 2012).

Pengembangan Perpustakaan Sekolah

Program ini ditujukan untuk membantu perpustakaan sekolah dalam menambah koleksi buku bacaan bermutu. Program pengembangan mencakup penambahan koleksi buku, maupun inovasi lain untuk mendekatkan siswa kepada perpustakaan misalnya melalui kegiatan perpustakaan kelas.

Adapun program peningkatan koleksi perpustakaan dilakukan dengan dua cara, yakni (1) secara internal melalui kegiatan One Student One Book (OSOB) melibatkan siswa/orang tua untuk menyumbang buku kepada perpustakaan, dan (2) secara eksternal melalui kegiatan sumbangan buku yang diberikan oleh perusahaan (sebagai CSR) atau penerbit.

Lomba Literasi (Membaca – Menulis)

Lomba literasi dilakukan untuk semakin menumbuhkan kebutuhan membaca-menulis kepada warga sekolah.Lomba literasi bisa diintegrasikan dengan kegiatan sekolah seperti pada peringatan Bulan bahasa.Lomba diadakan pada tingkat sekolah (antar siswa) maupun pada tingkat daerah (antar sekolah).

Beberapa jenis kegiatan lomba literasi yang bisa dilakukan antara lain: speed reading contest, comprehensive reading contest, story telling competition, essay competition, book review competition, poetry contest, dan magazine competition.

Jumpa Penulis & Bedah Buku

Kegiatan jumpa penulis (meet the author) ditujukan untuk memotivasi peserta Gerakan Literasi Sekolah untuk menjadi penulis sukses. Penulis yang dihadirkan adalah penulis buku bermutu dan terkait dengan dunia pendidikan / pengembangan diri siswa.

Bedah buku adalah kegiatan mengeksplorasi dan mengapresiasi pesan dari suatu buku. Program ini menghadirkan penulis buku tersebut dan ahli yang kompeten dengan bidang terkait isi buku.

Pemberian Penghargaan

Pemberian penghargaan ini dilakukan melalui kegiatan bertajuk Literacy Award, yakni sebuah program pemberian penghargaan kepada pihak-pihak yang dinilai berpartisipasi dan berperan baik secara langsung maupun tidak, dalam usaha penyadaran literasi bangsa melalui Gerakan Literasi Sekolah ini.

Sasaran penerima Literacy Award adalah sekolah secara kelembagaan, guru/tenaga pendidik, siswa, perusahaan peduli literasi, dan perorangan yang telah berpartisipasi. Penghargaan berupa piagam penghargaan dan dana pembinaan untuk peningkatan kesadaran literasi lebih lanjut. Kegiatan ini dilaksanakan berkala bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional.

Pameran Buku

Pameran buku (book expo) adalah kegiatan bazar buku yang bekerja sama dengan penerbit atau toko buku. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan penghargaan siswa dan masyarakat terhadap karya tulis, yang pada akhirnya secara kumulatif akan memotivasi penulis untuk semakin berkarya.

Berapa Lama Kegiatan Ini Dilaksanakan?

Pada dasarnya kegiatan ini dilaksanakan sepanjang mungkin, sebagaimana belajar juga dilaksanakan seumur hidup (long life education). Namun sekolah diberikan pilihan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini dalam beberapa jenis partisipasi:

  • Partisipasi penuh, yakni mengikuti semua program yang ditawarkan.
  • Partisipasi sebagian, yakni mengikuti beberapa program saja. Untuk waktu pelaksanannya bersifat tentatif dan disesuaikan dengan kegiatan sekolah.

Kegiatan GLS pun melalui pentahapan–pentahapan, contoh untuk tingkat SMP dilaksanakan melalui tahapan a) pembiasaan, yakni menumbuhkan minat baca melalui gerakan 15 menit membaca (Permendikbud No. 23 Tahun 2015), b) pengembangan, yakni melalui meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan, c). pembelajaran , yakni meningkatkan kempuan literasi di semua mata pelajaran  dengan menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran.

Target

Target yang hendak dicapai melalui GERAKAN LITERASI SEKOLAH ini adalah

  1. Terwujudnya masyarakat sadar literasi yang ditunjukkan dengan meningkatnya budaya baca-tulis di masyarakat
  2. Meningkatnya daya saing bangsa melalui peningkatan wawasan dan ilmu pengetahuan akibat minat baca yang tinggi

Sejak “Gerakan Literasi Sekolah”(GLS) dicanangkan pemerintah, namun bukan tanpa kendala program ini bergulir, ditemukan beberapa fakta diantaranya:

  • Perpustakaan yang ada di sebagian kota/kabupaten memiliki tingkat kunjungan pembaca yang rendah. Sebagai contoh di Jakarta, dari sekitar 10 juta penduduknya yang berkunjung ke perpustakaan hanya 200 orang/hari dan hanya 20% dari jumlah itu yang meminjam buku.
  • Disinyalir lebih dari 250 ribu sekolah di Indonesia, hanya 5% yang memiliki perpustakaan memadai. Hal ini merupakan fakta yang miris karena bisa menjadi indikator rendahnya budaya baca di sekolah.

 Fakta –fakta tersebut disinyalir karena:

  1. Belum optimalnya `Program Perpustakaan Sekolah`

Perpustakaan sekolah secara nasional bisa dikatakan telah gagal menciptakan budaya membaca bagi siswa.Kunjungan siswa dan jumlah peminjaman buku sangat minim. Hal ini dikarenakan beberapa faktor:

  1. Jumlah buku koleksi perpustakaan tidak cukup untuk memenuhi tuntutan kebutuhan membaca sebagai basis proses pendidikan. Rendahnya jumlah koleksi tidak diantisipasi dengan program pengadaan buku secara berkala.
  2. Peralatan, perlengkapan, dan petugas perpustakaan tidak sesuai kebutuhan. Sebagian petugas bukanlah tenaga pustakawan khusus dan minim mendapatkan peningkatan (pendidikan atau pelatihan kepustakaan).
  3. Sekolah belum mengalokasikan anggaran khusus yang memadai untuk pengembangan perpustakaan sekolah. Akhirnya keberadaan perpustakaan menjadi tidak bermakna karena kurangnya program kegiatan dan pengembangan.
  4. Persoalan Sosial
  1. Kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya budaya baca-tulis.
  2. Persoalan rendahnya budaya literasi belum dianggap sebagai masalah yang mendesak (critical problem) sehingga tidak muncul respon cepat yang diperlukan serta cenderung disepelekan.
  3. Anggapan bahwa tradisi literasi adalah ekslusif untuk kaum elit masyarakat saja, sehingga kelompok masyarakat awam merasa tidak perlu mengem-bangkan tradisi literasi.
  4. Anggapan keliru bahwa penyadaran literasi hanyalah kewajiban lembaga pendidikan sehingga yang lain yang belum bergerak membantu, seperti lembaga bisnis (perusahaan) atau perorangan.
  1. Persoalan Teknis di Lapangan
  1. Kurang tersedia buku bacaan yang bermutu karena kurangnya kuantitas perpustakaan dan kuantitas buku bacaan.
  2. Kurangnya Sumber Daya Manusia di bidang kepustakaan dan rendahnya kompetensi pengelola perpustakaan.
  3. Perpustakaan belum menjadi bagian integral dalam sistem pendidikan nasional.

Masalah perpustakaan memang menjadi topik tersendiri, paling tidak seperti pendapat Kasi Pendidikan Dasar Dindik Kabupaten Banyumas Edy Rahardjo melalui Kasi Sarpras, Gunadi pada Harian Suara Merdeka.”, mengungkapkan saat ini masih ada sekolah di wilayah Banyumas, terutama jenjang SD yang belum memiliki ruang perpustakaan sendiri” (SM,25 Mei 2016).Bahkan data terakhir menyebutkan, dari sebanyak 825 SD yang ada, setidaknya masih ada sekitar 124 sekolah yang belum memiliki ruang perpustakaan sendiri. Padahal keberadaan perpustakaan cukup penting untuk mendorong minat peserta didik agar mau membaca buku.

Penutup

Keterampilan membaca berperan penting dalm kehidupan kita karena pengetahuan diperoleh melalui membaca. Oleh karena itu, keterampilan ini  harus dikuasai peserta didik dengan baik sejak dini. Hasil penelitian tingkat international dan telaah lapangan menunjukkan data kemampuan berliterasi  di Indonesia rendah.

Kegiatan `Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan solusi atau upaya untuk mengatasi permasalahan yang ada, dengan tujuan menumbuh kembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Dalam pelaksanaanya muncul kendala diantaranya fasilitas perpustakaan yang belum memadai. Meski gaung program ini begitu keras, di seluruh penjuru tanah air menyambut program pemerintah ini dengan antusias, dengan segala kendala yang ada, pantaskah kekurangan ini menjadikan kita melaksanakan Gerakan Literasi Sekolah sebatas gaya?

DAFTAR PUSTAKA

Beer, C.S. Beers, J. W.&Smith, J.O.(2009). A principal`s Guide to Literacy Instruction, New YorK: Guilford Press.

…… .2015.Panduan Gerakan Literasi Sekolah Di SMP, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasioanal

…… .2016,ILA for contributing Literation Association, disampaikan pada Seminar Internasional IETAdi Bandung 14-15 September 2016

Harian Republika, Kemendikbud Rintis Gerakan Literasi Sekolah.18 Juli 2016

Harian Suara Merdeka, Gerakan Literasi Terbentur pada Persoalan Perpustakaan,25 Juli 2015

Harian Pikiran Rakyat, Gerakan Literasi Jangan Sebatas Gaya, 21 September 2016

https://foruminspirasi.wordpress.com/

http://radarbanyumas.co.id/gemar-membaca-tingkatkan-budaya-literasi/
Copyright © Radarbanyumas.co.id

Data Penulis :

Nama Dra Wiwi Parluki, M.Pd

Pangkat /gol. Pembina Tk 1/IVb

Sekolah : SMPN 4 Sumbang


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *