Best Practice : MENINGKATAN KEMAMPUAN PENGHAYATAN TERHADAP AGAMA DAN KARAKTER POSITIF PESERTA DIDIK  MELALUI KEGIATAN REFLEKSI PADA PEMBELAJARAN

debi

Abstrak

Penghayatan terhadap agama dan peningkatan karakter positif peserta didik merupakan tujuan utama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Maka untuk dapat mencapai tujuan tersebut, penulis menggunakan pendekatan reflektif setiap kali akan memulai dan mengakhiri pembelajaran. Refleksi adalah tanggapan secara mendalam dan kritis seseorang atas pengalamannya sendiri. Melalui proses tersebut seseorang berusaha untuk memahami arti, makna, dan konsekuensi dari pengalamannya, sehingga mampu memilih tindakan yang cocok untuk pengembangan dirinya. Ada tiga tahap kegiatan refleksi, tahap menghadirkan kembali pengalaman, tahap mengelola perasaan, dan tahap mengevaluasi kembali pengalaman. Kegiatan refleksi di SMP An Nuriyyah memberi pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan penghayatan dan karakter positif peserta didik. Pengaruh ini dapat terlihat utamanya pada proses dan akhir pembelajaran. Pembelajaran terasa lebih terarah, bermakna dan jelas tujuannya

       Kata kunci: penghayatan, karakter positif, dan refleksi

PENDAHULUAN

Sejak menjadi guru Pendidikan Agama Islam, penulis telah menanamkan di dalam hati bahwa seorang guru  mata pelajaran Pendidikan Agama Islam harus merasa berbeda dengan guru-guru mata pelajaran lainnya. Karena mengajarkan Pendidikan Agama Islam, tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) dan mentransfer nilai (transfer of value), tetapi lebih dari itu, guru Pendidikan Agama Islam harus memiliki kemampuan untuk mentransfer energi religius (transfer of religius energy).

Proses mentransfer energi religius merupakan sebuah proses  mempengaruhi dan  menyentuh empat aspek dalam diri manusia, yaitu akal,  fitrah, ruh dan kemauan dasar manusia, agar ia mampu berperan sebaik baiknya sebagai wakil Tuhan dimuka bumi. Muhaimin (2006: 147) menjelaskan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam harus lebih diorientasikan pada tataran moral action, yakni agar peserta didik tidak hanya berhenti pada tataran competence tetapi sampai memiliki kemauan (will) dan kebiasaan (habit) dalam mewujudkan ajaran dan nilai-nilai agama tersebut dalam kehidupan sehari-hari

Apa yang disampaikan oleh Muhaimin menunjukkan bahwa pengahayatan dan karakter positif merupakan tujuan utama pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Akan tetapi pada kenyataannnya, keduanya (penghayatan dan karakter positif) merupakan sesuatu yang justru seringkali dilupakan, karena guru lebih berkonsentrasi terhadap pencapain hasil belajar kognitif  siswa.

Berdasarkan pengalaman penulis menjadi seorang guru  mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, hal yang paling sulit untuk ditanamkan kepada peserta didik adalah mengajarkan penghayatan terhadap agama.  Artinya menanamkan agama sebagai “ruh”, nafas dan dasar perilaku sehari hari. Pada umumnya, peserta didik dapat dengan mudah menghafalkan bacaan-bacaan shalat, mengidentifikasi bacaan tajwid dan menguasai materi- materi dalam bidang hukum, seperti syarat dan rukun dalam ibadah, tetapi jauh dari penghayatan dalam beragama.

Demikian juga di SMP An Nuriyyah Bumiayu yang menjadi obyek penelitian dalam kegiatan refleksi ini. Ketika peserta didik membaca doa, membaca bacaan shalat, mereka membacanya begitu saja seperti melafalkan sebuah mantra atau syair tanpa makna. Di saat membaca, disaat praktik, mereka lupa bahwa mereka sedang berhadapan dengan Dzat Yang Maha Segalanya. Ini tercermin dari sikap, dan perilaku mereka. Bahkan ketika menyebut nama Allah dalam Asmaul Husna, tidak terkesan ada rasa tawadhuk, khauf, raja’, dan sopan santun dalam membacanya, padahal Asmaul Husna adalah nama nama Allah yang agung.

Selain itu, berdasarkan data catatan perilaku dari wali kelas serta guru Bimbingan dan Konseling (BK), banyak sekali ditemukan kasus yang terjadi pada kelas 9, seperti merokok, nongkrong sepulang sekolah, membolos, berkata kasar, pacaran, perkelahian, tidak disiplin, berbohong, dan malas dalam beribadah dan bahkan sebagian ada yang telah terpengaruh minuman keras dalam pergaulannya di luar sekolah.

Kegiatan refleksi ini dilaksanakan di SMP An Nuriyyah Bumiayu pada kelas 9, pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

PEMECAHAN MASALAH

Penghayatan terhadap agama  dan peningkatan karakter positif peserta didik merupakan merupakan tujuan utama dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diampu oleh penulis. Maka untuk dapat mencapai tujuan tersebut, penulis mencoba berbagai macam cara. Diantara cara yang dilakukan adalah menggunakan pendekatan reflektif setiapkali akan memulai dan mengakhiri pembelajaran.

Pendekatan reflektif ini bertujuan untuk meningkatkan penghayatan terhadap agama dan karakter positif peserta didik. Dengan penghayatan yang kuat terhadap rasa keberagamaannya diharapkan akan dapat meminimalisir perilaku negatif mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Madjid (2013: 205) refleksi adalah tanggapan secara mendalam dan kritis seseorang atas pengalamannya sendiri. Melalui proses tersebut seseorang berusaha untuk memahami arti, makna, dan konsekuensi dari pengalamannya, sehingga mampu memilih tindakan yang cocok untuk pengembangan dirinya. Dalam istilah sehari-hari, kata refleksi sering diartikan instropeksi atau berkaca diri.

Kegiatan refleksi menurut sirojudin sebagaimana dikutip oleh Madjid (2013: 205) meliputi tiga tahapan.

  1. Tahap menghadirkan kembali pengalaman

Tahap ini disebut juga dengan proses debrifing, yaitu mengumpulkan kembali peristiwa peristiwa menonjol dan menghadirkan dalam fikiran. Proses ini akan terbantu jika yang bersangkutan menuliskannya dalam kertas atau menceritakannya kepada orang lain. (Madjid, 2013: 206)

Untuk mengungkapkan pengalaman yang dirasakan peserta didik, guru harus aktif menggali pengalaman dengan mengajukan pertanyaan seperti berikut pada dirinya sendiri:

  • Hal penting apakah yang harus saya dapatkan (jawaban) dari pesera didik?
  • Jenis pertanyaan apakah yang harus saya ajukan agar peserta menceritakan pengalaman pribadi yang berguna untuk diri sendiri dan kelompok belajarnya?
  • Pada tingkat manakah jawaban yang diberikan oleh peserta? apakah pada tingkat knowledge, tingkat comprehension, aplication, atau (Ancok, 2003: 13)

Pada tahap ini peserta didik mengobservasi dan merefleksi atau memikirkan pengalamannya dari berbagai segi. Pada tahap ini yang diutamakan adalah kemampuan mengamati diri mereka sendiri. Peserta didik lambat laun mampu mengadakan observasi aktif terhadap kejadian yang dialami dan dilihat, serta mulai memikirkan dan memahaminya.

  1. Tahap mengelola perasaan,

Pada tahap ini peserta didik mengobservasi dan merefleksi atau memikirkan pengalamannya dari berbagai segi. Pada tahap ini yang diutamakan adalah kemampuan mengamati diri mereka sendiri. Peserta didik lambat laun mampu mengadakan observasi aktif terhadap kejadian yang dialami dan dilihat, serta mulai memikirkan dan memahaminya. Pada tahap ini, proses mengeloalaan perasaan disebut juga kegiatan memproses pengalaman dan merefleksi pengalaman. Proses ini menurut Baharuddin (2008: 167) dikategorikan sebagai proses penemuan atau finding out.

  1. Tahap mengevaluasi kembali pengalaman.

Pada tahap ini berlangsung empat proses penting, yaitu asosiasi, integrasi, validasi, dan apropriasi.

Asosiasi adalah proses mempertautkan gagasan-gagasan dan perasaan yang merupakan bagian dari pengelaman baru yang muncul dalam refleksi. Integrasi adalah proses mencari keterkaitan antara data yang ada dengan cara mencari sifat-sifat hubungan yang terjadi pada proses asosiasi. kemudian menarik kesimpulan agar sampai pada konsep- konsep baru. Sedangkan Validasi, adalah sebuah proses menguji keautentikan gagasan dan perasaan yang telah dihasilkan, sedangkan apropriasi adalah proses menjadikan pengetahuan menjadi milik pelaku refleksi.

Proses penciptaan konsep pada tahap ini, oleh peserta didik dapat dilakukan dengan; (1) menuliskan semua hal yang telah diamati; (2) mengelompokkan yang dianggap penting dan menarik; (3) merumuskan kesimpulan; (4) membandingkan dengan pengetahuannya yang lampau atau kejadian yang pernah dialami; (5) menyimpulkan (Tafsir, 2004: 110).

Refleksi dalam sebuah pembelajaran sangatlah penting, karena ia menjadi dasar proses pemahaman prinsip-prinsip yang mendasari pengalaman. Lickona (2013: 295) menjelaskan bahwa refleksi moral sangat penting untuk membangun sisi kognitif karakter yang menjadikan kita mampu membuat pertimbangan moral terhadap perilaku kita sendiri dan orang lain

Untuk meningkatkan kemampuan pengahayatan dan meningkatkan perilaku positif dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, penulis melaksanakan kegiatan refleksi dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:

  1. Perencanaan

Tahap persiapan dalam proses pembelajaran merupakan tahap awal yang harus dilalui sebelum melaksanakan pembelajaran.

Perencanaan kegiatan refleksi ini adalah sebagai berikut:

  1. Persiapan Umum yang meliputi, mempersiapkan ruang kelas, kartu-kartu refleksi, pertanyaan-pertanyaan untuk menggali pengalaman dan harapan peserta didik, serta mempersiapkan materi
  2. Persiapan khusus dalam kegiatan refelksi meliputi, mempersiapkan media dari guru dan peserta didik, menyusun jenis aktifitas dan urutan aktifitas, menyiapkan lembar yang berisi pertanyaan-pertanyaan untuk menggali pengalaman dan yang menggiring peserta untuk melihat relevansi dari pengalaman dengan materi pelajaran dan kenyataan, khususnya yang berhubungan dengan materi yang akan diajarkan, dan membuat lembar catatan guru atas perkembangan peserta didik.
  1. Pelaksanaan

Data tentang pelaksanaan kegiatan refleksi di lapangan dapat digambarkan sebagai berikut. Sebelum memulai pembelajaran, guru memberikan penjelasan tentang pentingnya refleksi dan menekankan pentingnya keterbukaan  dan kesungguhan dalam mengikuti kegiatan refleksi ini, agar peserta didik dapat mengevaluasi dirinya sendiri pada setiap tahapan refleksi. Guru juga menjelaskan bahwa dengan refleksi ini peserta didik akan lebih mudah untuk menilai dirinya dan mengembangkan sikap positifnya dengan lebih baik.

Tahapan-tahapan kegiatan refleksi:

  1. Tahap menghadirkan kembali pengalaman

Pada tahap menghadirkan kembali pengalaman, penulis memulainya dengan meminta peserta didik untuk mengisi lembar refleksi pertama pada lembaran kertas yang telah dipersiapkan. Lembar refleksi tersebut  telah diklip dan diberi nama, tanggal dan halaman. Contoh kegiatan refleksi pada materi pembelajaran iman kepada hari kiamat kelas 9:

Lembar refleksi 1:

Apakah  kamu yakin bahwa setelah mati kita akan dibangkitkan dan dimintai pertanggung jawaban atas semua yang kita lakukan di dunia?

Halaman 2:

Perilaku baik yang sudah aku lakukan untuk mempersiapkan kehidupan akhiratku adalah…

Halaman 3:

Hal yang ingin aku rubah dalam diriku setelah belajar materi iman kepada hari kiamat adalah………………………………..

Tabel 1: Contoh lembar refleksi 1,2 dan 3

Proses refleksi diawali dengan proses debrifing, yaitu mengumpulkan kembali peristiwa peristiwa menonjol dan menghadirkan dalam fikiran. Proses ini akan terbantu jika yang bersangkutan menuliskannya dalam kertas atau menceritakannya kepada orang lain (Madjid, 2013: 206),  lihat lembar refleksi 1,2, dan 3, Kemudian  guru meminta peserta didik untuk membaca kembali catatan refleksi awal dalam pembelajaran materi iman kepada hari kiamat dan mengumpulkannya untuk disimpan oleh guru.

  1. Tahap mengelola perasaan

Tahap menghadirkan kembali pengalaman diperkuat dengan tahap berikutnya, yaitu tahap mengelola perasaan. Tahap mengelola perasaan ini penulis lakukan ditengah pembelajaran melalui kegiatan refleksi berikutnya.  lihat pada lembar refleksi halaman,4.

Halaman 4:

Hal yang aku rasakan selama mengikuti pembelajaran iman kepada hari kiamat adalah…………………………….

            Tabel2: Contoh lembar refleksi 4

Pada lembar halaman 4 tersebut diatas, guru meminta peserta didik menuliskan pengalaman dan hasil evaluasi dirinya dengan menuliskan hal apa yang sudah dicapai selama proses pembelajaran.

Untuk memperkuat proses pengelolaan perasaan, sebelum peserta didik menuliskan harapannya pada lembar halaman 4, guru mengajak peserta didik untuk berdzikir asmaul husna al Ghoffur dan al Mu’min. “Ya al Ghoffur (wahai yang Maha Pengampun) ya al Mu’min (wahai yang Maha Menjaga) ampunilah dosa-dosaku dan jagalah aku agar selalu dalam keadaan iman hingga akhir hayatku”.  Dzikir dilakukan dengan menggunakan nada lagu “yaman yara” yang telah digubah oleh penulis.

  1. Tahap mengevaluasi kembali pengalaman.

Tahap ketiga dari proses refleksi ini dilakukan setelah selesai proses pembelajaran. Pada tahap ini guru meminta peserta didik untuk  (1) menyimpulkan secara umum perilaku apa yang bisa berubah ke arah yang lebih baik; (2) menyimpulkan dan memberi penilaian diri apakah target perubahan yang dibuat telah mencapai hasil yang baik atau belum.

Kesimpulan dari kegiatan ini dituangkan peserta didik dalam lembar refleksi halaman 5, Setelah itu, peserta didik dapat menulis target perubahan karakter positifnya untuk pertemuan yang akan datang dalam lembar refleksi halaman 6.

Untuk memperkuat kegiatan mengevaluasi pengalaman , guru kembali mengajak peserta didik untuk berdoa dengan dzikir asmaul husna al Akhir. “Ya al Akhir (wahai yang Maha Akhir, jadikanlah akhir hidupku khusnul khatimah”. Dzikir dilakukan dengan menggunakan nada lagu “yaman yara” yang telah digubah oleh penulis.

Setelah seluruh kegiatan refleksi selesai, guru meminta peserta didik menuliskan pengalamn pribadinya berupa essay yang menggambarkan transformasi dirinya dalam beragama. Menjelaskan hal- hal positif yang dapat berubah dan tidak dapat dirubah dari dirinya, khususnya dalam hal penghayatan dan peningkatan karakter positif.

DESKRIPSI HASIL KEGIATAN REFLEKSI

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan penulis, selama proses kegiatan refleksi, mayoritas peserta didik di kelas antusias dan aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. Respon peserta didik semakin tampak ketika dalam kegiatan refleksi tahap pertama, guru meminta peserta didik untuk menuliskan pengalaman perilakunya dimasa lampau dan harapannya dimasa yang akan datang pada lembar refleksi 1,2, dan 3. Peserta didik sebagian ada yang dengan serius memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan dirinya, dan  tampak berusaha mencari jawaban, yang ditampakkan melalui sikap diam, dan kemudian saling berbisik dan berdiskusi dengan temannya. Namun ada juga beberapa orang yang masih merasa kebingungan untuk menentukan jawaban.  Untuk mengatasi rasa kebingungan siswa, guru memandu dengan memberi penjelasan penjelasan tambahan.

Namun demikian pada umumnya peserta didik terlihat menikmati proses berfikirnya. Sesekali peserta didik juga tampak mencoret kembali apa yang telah ditulisnya seolah ragu dengan penilaiannya terhadap dirinya sendiri.. Ketika penulis menanyakan kepada peserta didik perihal tersebut setelah selesai pelajaran, mereka menjawab bahwa apa yang mereka lakukan adalah karena mereka tidak yakin dan tidak terbiasa menanyakan hal-hal seperti tersebut.

Pada kegiatan refleksi tahap kedua peserta didik mendapatkan kartu refleksi yang telah dikumpulkannya pada refleksi sebelumnya. Guru meminta masing masing peserta didik membaca kembali, dan menuliskan peningkatan pemahaman mereka terhadap pembelajaran iman kepada hari kiamat.

Kejadian menarik terjadi Pada saat kegiatan doa yang menguatkan proses refleksi, sebagian siswa menitikkan air mata. Namun sebagian ada yang melirik kepada temannya dan terlihat acuh. Untuk mengatasi hal ini, guru berulangkali memberi penekanan, bahwa inti dari doa adalah pendekatan diri kepada Allah.

Setelah semua kegiatan dilakukan Guru meminta peserta didik membuat esai yang berhubungan dengan rasa iman dalam diri sendiri dan pengaruhnya terhadap perilaku

Hasil kegiatan refleksi berdasarkan angket yang penulis buat menunjukkan bahwa:

  1. Kegiatan refleksi sangat penting untuk mengukur perubahan sikap peserta didik dari sebelum kegiatan pembelajaran, saat kegiatan pembelajaran dan pada akhir kegiatan pembelajaran.
  2. Dengan kegiatan refleksi ini pembelajaran lebih terasa mendalam, bermakna dan fokus kepada tujuan yang ingin dicapai
  3. Pengukuran hasil kegiatan belajar yang berupa kemampuan penghayatan terhadap agama dan peningktan karakter positif bukan hanya dilakukan oleh guru, namun juga dapat dilakukan oleh peserta didik sendiri melalui program refleksi ini.
  4. Dari 36 siswa, ada 32 siswa yang merasa mengalami Peningkatan kemampuan penghayatan
  5. Sedangkan dalam hal peningkatan karakter positif, dari 36 siswa, terdapat 34 siswa yang merasa karakter positifnya meningkat.

Setelah beberapa kali dilakukan, kegiatan refleksi ini memberi pengaruh yang signifikan utamanya pada proses pembelajaran. Pengaruh yang paling terlihat dan tampak dari peserta didik adalah antusiasme, rasa ingin tahu, kesiapan mental, dan respon positif terhadap mata pelajaran pendidikan agama. Peserta didik terlihat lebih siap dalam menerima pembelajaran agama. Peserta didik bukan sekedar tahu, tetapi faham dan menghayati apa yang dipelajarinya.

Sikap yang ditampakkan peserta didik menjadi keuntungan awal bagi penulis untuk mempengaruhi peserta didik dan mentranfer ilmu pengetahuan, dan bahkan mentransfer energi religius yang berupa penghayatan terhadap agama. Rasa keagamaan yang muncul di dalam kelas ini memberi pengaruh kepada sikap peserta didik di luar kelas. Hal ini ditunjukkan dengan berkurangnya kasus-kasus membolos, dan berkata kasar dalam data guru Bimbingan dan Konseling (BK).

KESIMPULAN

Berdasarkan analisis hasil kegiatan refleksi dapat disimpulkan bahwa kegiatan refleksi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan penghayatan peserta didik terhadap agama dan meningkatkan karakter positifnya. Indikasi dari meningkatnya kemampuan penghayatan dapat terlihat utamanya pada proses dan akhir pembelajaran. Pada Proses pembelajaran muncul rasa keagamaan yang kuat. Pembelajaran juga berlangsung dengan penuh antusias, bermakna, dan terasa lebih terarah. Karena peserta didik memahami dengan jelas tujuan belajarnya. Sedangkan peningkatan perilaku positif peserta didik ditunjukkan dengan berkurangnya perilaku negatif di lingkungan sekolah seperti membolos, perkelahian,  dan berkata yang tidak baik. Wallahu a;lam bisshawab

REFERENSI

Ancok, Jamaluddin, 2003, Out Bound Management Training, Aplikasi Ilmu perilaku Dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia, Yogyakarta: UII Press

Baharuddin, et.al., 2008, Teori Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Lickona, Thomas, 2013 (terj;Lita.S), Pendidikan Karakter, Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar dan Baik, Bandung, PT Nusa Media

Madjid Abdul, 2013, Belajar Dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Bandung; PT   Remaja Rosda Karya

Muhaimin, 2006, Nuansa Baru Pendidikan Islam, Mengurai Benang Kusut Pendidikan Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Tafsir, Ahmad 2004, Metodologi Pengajaran Agama Islam, cet, 8, Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Penulis:

Debi Musdalifah, M.S.I

NIP     : 197506032005012002

GPAI  SMP An Nuriyyah Bumiayu




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *