BEST PRACTICE MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MENGGUNAKAN ALAT PERAGA ”GIRKAS” MATA PELAJARAN FISIKA DI KELAS X SMA NEGERI 3 KLATEN

Oleh : Bibit Supardi

SMA Negeri 3 Klaten, Jawa Tengah

ABSTRAK

Berdasarkan pada hasil pengamatan terhadap hasil penilaian formatif yang penulis lakukan setelah menyelesaikan materi konsep  gerak melingkar beraturan untuk menyelesaikan masalah hubungan roda-roda menunjukkan bahwa sebagian siswa atau 34% siswa kelas X belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Guru  hanya  menerangkan dengan gambar dengan  tidak  mempraktikkannya  secara langsung  kepada  siswa menyebabkan siswa  tidak  dapat  berperan  aktif   maupun kreatif dan bersifat monoton pada proses pembelajaran khususnya pada metode ceramah. Permasalahan tersebut mengakibatkan : peserta didik kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar dan hasil  belajar  peserta  didik  masih  rendah  hal  ini  terlihat  pada  nilai ulangan harian pelajaran fisika.

Selama berlangsungnya kegiatan belajar mengajar menggunakan alat peraga hubungan roda-roda, peran siswa sebagai subyek belajar tampak nyata. Sehingga dalam hal ini, guru berfungsi sebagai fasilitator dalam pembelajaran/eksperimen. Setelah menggunakan alat peraga “Girkas”, siswa mengalami peningkatan motivasi belajar dikarenakan siswa dapat: melihat dan mengamati secara nyata hubungan roda-roda, mengetahui perbedaan hubungan roda seporos/sepusat, bersinggungan, dan roda yang dihubungkan dengan rantai/sabuk, dan membuktikan teori secara langsung. Alat peraga dapat mengatasi keterbatasan alat praktikum dan media pembelajaran fisika.

Kata kunci : alat peraga, hasil belajar, dan pembelajaran fisika.

I.PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Kualitas pendidikan saat ini rendah, banyak faktor yang mempengaruhinya diantaranya yang perlu dibenahi yaitu kesesuaian bidang pendidikan dan pelajaran yang mampu diajarkan oleh seorang guru serta metode yang digunakan. Di sekolah-sekolah sebagian besar metode dan suasana pembelajaran yang digunakan oleh guru tampaknya lebih banyak menghambat daripada memotivasi potensi otak. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat mengubah paradigma (pola pikir) dari mengajar (teaching) menjadi belajar (learning), dengan menggunakan media internet untuk pembelajaran di sekolah.

Berdasarkan pada hasil pengamatan terhadap hasil penilaian formatif yang penulis lakukan setelah menyelesaikan materi konsep  gerak melingkar beraturan untuk menyelesaikan masalah hubungan roda-roda menunjukkan bahwa sebagian siswa atau 34% siswa kelas X belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM). Setelah penulis sebagai guru melakukan refleksi terhadap apa yang penulis lakukan pada saat melakukan proses pembelajaran maka penulis sebagai guru fisika melakukan identifikasi masalah terkait dengan proses pembelajaran fisika di kelas X.

Berdasarkan pada hasil identifikasi terhadap permasalahan yang penulis lakukan pada pengelolaan kegiatan pembelajaran fisika di kelas X, maka penulis menemukan permasalahan-permasalahan yang segera harus diatasi yaitu antara lain rendahnya hasil belajar siswa, minat dan motivasi siswa mengikuti pembelajaran yang masih rendah, partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran yang juga masih rendah.

Guru  hanya  menerangkan melalui gambar dengan  tidak  mempraktikkannya  secara langsung  kepada  siswa.  Sehingga,  siswa  tidak  bisa  berperan  aktif   maupun kreatif dan bersifat monoton pada proses pembelajaran khususnya pada saat ceramah. Permasalahan tersebut mengakibatkan :

1.Peserta didik kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar:

a.Apabila guru  menerangkan materi  pelajaran,  peserta  didik cenderung tidak memperhatikan.

b.Apabila guru  mengajukan  pertanyaan  untuk  mendapatkan  umpan balik, peserta didik cenderung tidak merespon.

c.Apabila guru memberi kesempatan bertanya tentang materi pelajaran, pada umumnya peserta didik tidak memanfaatkannya.

2.Hasil belajar  peserta  didik  masih  rendah  hal  ini  terlihat  pada  nilai pelajaran fisika  di  kelas  X pada bab gerak lurus rata-rata yaitu  59  dan presentase ketuntasan belajar = 66%. Sedangkan hasil ini masih dibawah nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) sekolah yaitu sebesar 67.

Permasalahan-permasalahan tersebut menurut pandangan penulis harus segera diperbaiki. Namun penulis juga menyadari bahwa permasalahan tersebut tidak semuanya segera diatasi namun perbaikannya harus dilakukan secara bertahap. Berdasarkan pertimbangan skala prioritas dan juga pertimbangan waktu maka penulis memfokuskan untuk mengatasi permasalahan yang terkait dengan rendahnya hasil belajar siswa dalam mata pelajaran fisika dengan menggunakan alat peraga hubungan roda-roda untuk memahamkan siswa tentang gerak melingkar.

Penggunaan alat peraga berpengaruh terhadap tugas guru dalam proses pembelajaran. Dengan adanya alat peraga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran fisika dan menyenangkan. Kaidah, hukum dan prinsip fisika yang sulit dapat diatasi dengan beberapa simulasi dan praktek langsung. Alat peraga dapat mengatasi keterbatasan perpustakaan dan media pembelajaran fisika.

B.Rumusan Masalah dan Cara Pemecahan

1.Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah tersebut diatas maka rumusan masalah pada penulisan pengalaman terbaik ini adalah sebagai berikut :

Apakah penggunaan alat peraga “Girkas” dapat meningkatkan hasil belajar Fisika pada siswa kelas X SMA Negeri 3 Klaten ?.

2.Cara Pemecahan Masalah

Berdasarkan pada hasil analisis terhadap akar permasalahan yaitu rendahnya hasil belajar fisika siswa kelas X dan berdasarkan pada pengalaman mengajar, maka penulis melakukan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 3 Klaten mata pelajaran fisika materi gerak melingkar sub konsep hubungan roda-roda.

C.Tujuan

Berdasarkan pada latar belakang dan rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka kegiatan ini bertujuan untuk menguji dengan menggunakan alat peraga “Girkas” dapat meningkatkan hasil belajar fisika pada siswa kelas X SMA Negeri 3 Klaten.

D.Manfaat

a.Bagi siswa, dengan menggunakan alat peraga “Girkas” dapat meningkatkan minat peserta didik terhadap pelajaran fisika, dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, dapat meningkatkan kreatifitas siswa dalam pembelajaran, dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

b.Bagi guru, dapat mengembangkan pembelajaran fisika pada materi gerak melingkar secara inovatif dan menyenangkan.

c.Bagi sekolah, hasil pengembangan ini dapat dijadikan acuan dan upaya pengembangan inovasi pembelajaran bagi para guru yang lain, juga memotivasi mereka untuk selalu melaksanakan inovasi dengan strategi yang bervariasi.

II.CARA PENYELESAIAN MASALAH

A.Strategi Pembelajaran Fisika

Agar proses Pembelajaran fisika berlangsung dengan baik maka diperlukan strategi pembelajaran fisika. Strategi  berkaitan dengan cara-cara yang dipilih  dalam menentukan ruang lingkup, urutan bahasan kegiatan dan sebagainya untuk  menyampaikan bahasan fisika adalah kegiatan yang dipilih pengajar dalam proses pembelajaran fisika yang dapat memberikan fasilitas belajar sehingga memperlancar tujuan belajar fisika. Selain itu, strategi pembelajaran fisika merupakan suatu kegiatan yang memelihara konsistensi dan kekompakan setiap komponen pengajaran yang tidak hanya terjadi pada tahap pelaksanaan evaluasi.

Hubungan roda-roda pada gerak melingkar dapat berupa sistem langsung yaitu dengan memakai roda-roda gigi atau roda-roda gesek, atau sistem tak langsung, yaitu dengan memakai sabuk/rantai/pita.

 

 

 

 

 

Pada gambar 1. menunjukkan hubungan roda-roda pada gerak melingkar, baik memakai sistem langsung atau tak langsung, sebagai contoh antara roda 1 dan roda 2 berlaku kecepatan linier (v) kedua roda tersebut adalah sama, tetapi kecepatan sudutnya (w) berbeda. Secara matematis dapat dituliskan:

 

 

 

 

B.Pembuatan Alat Peraga Hubungan Roda-Roda

1.Alat dan Bahan

a.Besi holo tebal 2,5 cm panjang 220 cm

b.Gir f = 10 cm, jumlah 3 buah

c.Gir f = 5 cm, jumlah 1 buah

d.Mesin pemotong

e.Mesin gerinda

f.Laker f =2,5 cm, jumlah 3 buah

g.Cat (berbagai warna)

h.Rantai

i.Alat pengelas

2.Proses Pembuatan

 

 

 

 

 

Keterangan :

1.Kaki penyangga dari besi holo

2.Poros untuk roda I

3.Poros untuk roda II (terdapat alat pemutar secara manual)

4.Poros untuk roda III (terdapat alat pemutar secara manual)

5.Rantai roda motor

6.Roda-roda (dari gir motor)

7.Besi pemutar poros roda I

 

 

 

 

 

 

 

C.Kondisi Sebelum Best Practice Dilakukan

Kondisi nyata yang terjadi pada kegiatan pembelajaran di SMA  Negeri 3 Klaten, yaitu tidak terdapat peralatan praktikum pembelajaran  fisika yang berupa gerak melingkar, sehingga kegiatan praktek  tidak dilaksanakan, hal ini mengakibatkan pembelajaran kurang efektif dan efisien. Di samping itu, motivasi siswa dalam pembelajaran fisika khususnya hubungan roda-roda belum optimal, seperti keinginan siswa untuk mempelajari hubungan roda-roda sebelum dimulainya pelajaran masih rendah, keingintahuan siswa tentang hubungan roda-roda juga masih rendah.

D.Proses Pelaksanaan Pembelajaran Menggunakan Alat Peraga

Setelah beberapa tahun mengajar di SMA Negeri 3 Klaten dengan menggunakan metode ceramah, dan diskusi yang pernah dikembangkan melalui MGMP, dan kondisi SMA Negeri 3 Klaten tidak memiliki peralatan praktikum yang memadai khususnya tentang materi gerak melingkar, dari situlah muncul gagasan untuk membuat alat peraga hubungan roda-roda yang terbuat dari barang-barang bekas berupa gir dan rantai motor bekas. Kemudian mencoba merancang alat peraga tersebut dibantu tukang las untuk merangkai alat tersebut. Setelah alat peraga tersebut jadi kemudian dipraktekannya di dalam pembelajaran dikelas yang sebelumnya sudah diberitahukan oleh gurunya.

Pembelajaran fisika menggunakan media alat peraga bagi guru memang diperlukan persiapan yang matang, karena berbeda dengan metode ceramah atau diskusi yang sudah biasa dilakukan oleh seorang guru fisika. Pembelajaran menggunakan media alat peraga, guru harus memberikan pengantar penjelasan pendahuluan dan cara kerja alat tersebut.

Berikut ini diuraikan beberapa langkah pelaksanaan pembelajaran menggunakan alat peraga :

1.Guru membuat RPP tentang gerak melingkar sub hubungan roda-roda,

2.Guru mempersiapkan kelas dengan membagi beberapa kelompok,

3.Siswa menerima lembar kerja siswa berisi petunjuk, langkah kerja dan hal-hal yang harus dikerjakan,

4.Siswa dapat membaca, mempelajari, kemudian melakukan unjuk kerja tiap-tiap kelompok secara bergantian,

5.Setelah semua kelompok selesai melakukan percobaan yang ditugaskan kemudian diadakan diskusi antar kelompok untuk membahas materi yang telah dikerjakan tadi,

6.Siswa dengan dibimbing guru untuk dapat mengambil kesimpulan terhadap materi yang didiskusikan,

Setelah semua kelompok telah mendiskusikan materi tersebut dan menarik kesimpulan sementara kemudian guru memberikan penguatan materi yang masih dirasa sulit dipecahkan siswa, jika terdapat materi-materi yang sulit digambarkan secara manual, guru dapat memberikan arahan penguatan materi melalui LCD, sehingga siswa akan lebih paham. Siswa dapat mencoba-coba tentang materi yang dipelajari melalui soal-soal yang ada pada lembar kerja siswa, dari situ siswa dapat mengetahui perubahan secara langsung dari perubahan variabel yang dimasukan. Melalui alat peraga pula siswa dapat berlatih mengerjakan soal-soal yang ada, untuk mengukur sejauh mana daya serap siswa setelah siswa mempelajari materi menggunakan alat peraga. Akhir dari pembelajaran satu kompetensi dasar maka siswa diperintahkan untuk mengarsip masing-masing individu untuk bahan belajar selanjutnya.

Selama pembelajaran berlangsung, guru disamping memberikan arahan-arahan cara menggunakan alat peraga, guru juga harus selalu mengontrol siswa jika terdapat siswa yang hanya bermain, berbicara dengan teman-temannya atau belajar yang lain.

BAB III

PELAJARAN YANG DIPEROLEH (LESSON LEARNED)

A.Hasil Pelaksanaan Proses Pembelajaran

Setelah menggunakan alat peraga, siswa mengalami peningkatan motivasi belajar dikarenakan siswa dapat:

1.Melihat dan mengamati secara nyata hubungan roda-roda.

2.Mengetahui perbedaan hubungan roda seporos/sepusat, bersinggungan, dan roda yang dihubungkan dengan rantai/sabuk.

3.Membuktikan teori secara langsung.

B.Keuntungan Dalam Pembelajaran/Pendidikan

Setelah melaksanakan pembelajaran menggunakan alat peraga ternyata terdapat beberapa keunggulan dibandingkan dengan metode ceramah atau diskusi, yaitu :

1.Peserta didik dapat melakukan percobaan dan merasakan langsung perubahan yang terjadi pada hubungan roda-roda.

2.Berubahnya peran siswa dari yang biasanya pasif menjadi aktif dan pembelajaran menjadi lebih menarik serta tidak membosankan.

3.Relatif lebih efisien, karena siswa dihadapkan hal yang nyata dan bukan khayalan.

4.Ada perubahan positif terhadap minat dan motivasi belajar siswa terwujud dalam berbagai bentuk kegiatan, misalnya : berbuat, bertindak, bereksperimen dan menyusun laporan.

5.Siswa lebih aktif berbuat dan berpikir secara ilmiah dalam proses belajarnya, sehingga siswa terlatih menggunakan metode ilmiah.

6.Dapat memotivasi atau mendorong kreativitas siswa dalam belajar agar dapat mengembangkan kemampuannya untuk membuat alat peraga sendiri.

Selama berlangsungnya kegiatan belajar mengajar menggunakan alat peraga hubungan roda-roda, peran siswa sebagai subyek belajar tampak nyata. Sehingga dalam hal ini, guru berfungsi sebagai fasilitator dalam pembelajaran/eksperimen. Dengan menggunakan alat peraga hubungan roda-roda diharapkan siswa:

a.Lebih aktif dan kreatif di dalam pembelajaran, karena melakukan sendiri percobaan atau demonstrasi dengan alat tersebut.

b.Mampu melakukan eksperimen dan bernalar untuk memahami materi hubungan roda-roda pada gerak melingkar.

c.Terhindar dari cara belajar dengan menghafal, sehingga siswa dilatih untuk berpikir dan bernalar.

d.Daya serap siswa didalam proses pembelajaran meningkat, sehingga siswa mengalami peningkatan prestasi didalam belajarnya.

e.Mampu membuktikan dan membandingkan antara hasil eksperimen dengan melalui konsep teoritis.

f.Dapat bekerja sama dan berdiskusi tentang sub-konsep hubungan roda-roda pada gerak melingkar yang sedang dipelajari dan diharapkan dapat mengembangkan percobaannya lebih lanjut.

 

 

 

 

 

 

IV.SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A.Simpulan

Setelah melaksanakan pembelajaran menggunakan alat peraga ternyata dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut:

1.Pemahaman siswa terhadap materi gerak melingkar pada hubungan roda-roda meningkat sangat tajam, terbukti terdapat beberapa pengaruh/dampak yang positif pada minat siswa, tingkat pemahaman, kemampuan berfikir ilmiah dan spontanitas pemahaman.

2.Siswa lebih aktif dan termotivasi dalam belajar fisika, serta dapat mengembangkan bakat dan daya kreasinya melalui kegiatan percobaan.

3.Siswa dapat merasakan langsung perubahan nilai besaran-besaran fisika, melalui kegiatan percobaan dan lebih mudah paham dibandingkan dengan metode ceramah.

4.Terdapat kemudahan bagi guru dalam hal penyampaian konsep karena siswa dihadapkan pada hal nyata dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu bernalar dan berdiskusi untuk memahami konsep tersebut serta mengalami peningkatan hasil belajarnya.

B.Rekomendasi

Berdasarkan simpulan di atas dapat diajukan beberapa rekomendasi sebagai berikut :

1.Jumlah anggota kelompok siswa diperkecil untuk mengurangi siswa yang pasif dalam mempraktekan dengan alat peraga.

2.Guru harus bisa mengkondisikan siswa dalam kelas agar KBM berjalan dengan baik dikarenakan keterbatasan alat peraga yang ada.

3.Sekolah hendaknya membuat duplikasi alat peraga lebih banyak lagi dari bahan yang lebih mudah didapatkan misal dengan kayu, sehingga memiliki beberapa alat peraga yang sama agar KBM berjalan dengan lancar.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alonso dan Finn, 1980, Dasar-dasar Fisika Universitas Jilid I (Terjemahan), Jakarta : Penerbit Erlangga

Arikunto, Suharsimi, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Rineka Cipta.2000. Psikologi Belajar. Semarang : IKIP PGRI.

Giancoli, Dauglas C., 2001, Fisika Jilid 1 dan 2 (Terjemahan) Jakarta : Penerbit Erlangga

Halliday dan Resnick, 1999, Fisika Jilid 1dan 2 (Terjemahan) Jakarta : Penerbit Erlangga

Hamalik, Oemar. 2004. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algesindo.

Tipler, P.A., 1998, Fisika untuk Sains dan Teknik Jilid 1dan 2 (Terjemahan), Jakarta : Penerbit Erlangga

Van Cleave, Janice., 2004, A+ Proyek-proyek Fisika (Terjemahan), Bandung : Penerbit Pakar Raya

Wardhani, dkk, 2010, Materi Pokok Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Universitas Terbuka

Wasisto, Agus, 2012, Publikasi Ilmiah Melalui Penelitian Tindakan Kelas/Sekolah (PTK/PTS), Yogyakarta : Graha Cendekia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *