Dan

Dan (ingatlah) ketika Alloh mengambil janji dari orang – orang yang telah diberi Kitab. (yaitu), “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.” (QS. Ali-Imran:187) “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. an-Nahl:125) Togog tercenung, menunduk, bersimpuh di lantai. Ketegasan kata – katanya tak kelihatan. Sikap kerasnya atas nama disiplin memudar. Ia tengah merenungkan teringat kembali ayat – ayat penuntun para guru di padepokan yang selalu ditekankan Romo Semar untuk dipahami. “Baiknya belajar Paedagogik lagi, Man (paman-red)! tidak salah kalau sedikit juga pahami psikologi anak dan remaja,” ujar Bagong tanpa menoleh pada Togog di sela – sela interogasi polisi. “Dari pada paman Togog noto merasa benar terus alih – alih menegakan disiplin. Dulu masyarakat menggerudug padepokan gara – gara paman main tinju sama cantrik. Beruntung Romo Semar bisa mendamaikan. Sekarang Dursasana pilih langsung datang ke kantor polisi, hanya karena Paman mencubit si Klontang, anaknya.” “Anak-anak perlu dididik disiplin,” gumam Togog membela diri.

“Ketika masih nyantrik, apakah Romo Semar pernah menempeleng Paman Togog? kalau tidak salah, dulu Paman Togog terkenal sebagai cantrik paling bandel. Tidak pintar di pelajaran, tapi lihai membuat alasan untuk menghindari tugas. Juga paling usil. Ujung matanya melesat tajam ke arah Togog yang kian tertunduk. Togog menggeleng pelan. “Romo Semar ndak pernah kasar. Tidak membentak. Apalagi samapi kaki mendepak atau tangan menampar,” gumamnya lirih. “Romo menatap aku tanpa tersenyum. Diam.

Lalu membacakan sabda Kanjeng Nabi, “Sesungguhnya para malaikat akan membentangkan sayapnya (merendahkan sayapnya untuk memberi perlindungan) bagi penuntut ilmu karena ridha dengan yang dilakukannya” (HR. Imam Ahmad). Tapi, anak – anak sekarang ndak bisa lagi didiamkan begitu.” Togog masih membela diri. “Jadi, kau sekarang merasa lebih baik dari para cantrikmu,” tanya Romo Semar. Togog diam, kian menunduk. “Tugas kita di padepokan bukan membuat si Klontang jera, tapi membuatnya tahu bahwa dirinya berbuat salah, dan mengerti harus berubah agar menjadi ksatria.”

Tugas kita membuat si Ceplis paham dirinya perempuan, yang mengemban banyak peran. Sebagai guru utama seperti Sumbadra, penenang keluarga seperti Dewi Larasati, sekaligus pejuang yang tak kalah tangguh dari kesatria, selayaknya Sri Kandi,” pungkas Romo Semar. “Lagi – lagi kita yang harus mengerti tentang para cantrik, bukan cantrik yang dipaksa memahami kita,” ujar Bagong menatap Togog yang kian tunduk di hadapan hukum.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *