http://www.infopasti.net/eksperimentasi-model-pembelajaran-konvensional-make-match-dan-systematic-approach-problem-solving-dalam-pembelajaran-matematika-ditinjau-dari-kreativitas-siswa/

PTK SMA EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KONVENSIONAL, MAKE A MATCH DAN SYSTEMATIC APPROACH TO PROBLEM SOLVING

EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KONVENSIONAL, MAKE A MATCH DAN SYSTEMATIC APPROACH TO PROBLEM SOLVING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DITINJAU DARI KREATIVITAS SISWA

Abstract: The aim of the research was to determine the effect of learning models on mathematics achievement viewed from the student creativity. The learning model compared were Conventional, Make a Match and Systematic Approach to Problem Solving (SAPS). The type of the research was a quasi-experimental research. The population was the students of senior high school in Banyumas regency on academic year 2010/2011. The size of the sampel was 302 students consisted of 100 students in the control group, 101 students in the first experimental group and 101 in the second experimental group. The instrument used were mathematics achievement test and  questioner using Likert scale instrument. The conclusions of the research were as follows, (1) The Conventional, Make a Match and SystematicApproach to Problem Solving models give the same  mathematic achievement, 2) All types of creativity students have the same mathematic achievement, (3) For each learning model students who have high creativity, middle, or low creativity have the same mathematic achievement, (4) For high creativity category, students whose given learning by SystematicApproach to Problem Solving model gives better mathematic achievement than Make a Match, but for middle and low creativity students, the tree learning models have the same effectiveness.

 

Key words : Conventional, Make a Match, SystematicApproach to Problem Solving, Creativity.

 

PENDAHULUAN

Pendidikan mempunyai peranan yang sangat menentukan bagi perkembangan dan perwujudan diri individu agar diperoleh sumber daya yang benar-benar berkualitas. Individu yang berkualitas pada umumnya lahir melalui proses pendidikan yang baik dan dari institusi pendidikan yang bermutu. Tetapi kondisi sumber daya manusia yang dipersiapkan melalui pendidikan juga belum sepenuhnya memuaskan, terutama jika dilihat dari segi akhlak, moral, dan jati diri bangsa dalam kemajemukan budaya bangsa. Untuk itu sangat dituntut kemampuan untuk mencari pemecahan yang imajinatif (Made Wena, 2009 : 61).

Dalam pada itu, pendidikan matematika dikenalkan mulai dari anak usia dini sampai pada tingkat perguruan tinggi. Hal ini disebabkan karena matematika dapat digunakan secara luas dalam segala bidang kehidupan manusia. Karena itu diperlukan suatu upaya pembelajaran yang bermakna agar siswa dapat menerima matematika sebagai suatu hal yang menyenangkan dalam kondisi perspektif yang baik dan benar. Pendidikan matematika harus diarahkan untuk pengembangan kreativitas siswa selain pemupukan sikap dan ciri-ciri kepribadian kreatif, sehingga akan memiliki kebermaknaan dalam kehidupan.

Harus diakui, selama ini pembelajaran matematika  lebih diarahkan pada hafalan dan mencari jawaban yang benar terhadap soal-soal yang diberikan. Pembelajaran lebih berorientasi pada pemenuhan target penguasaan kompetensi. Pembelajaran matematika yang berorientasi target penguasaan materi, terbukti berhasil hanya dalam kompetisi. Hal seperti  inilah yang terjadi dikelas-kelas saat ini.

Kebermaknaan dalam pembelajaran harus dapat dirancang oleh guru secara lebih komprehensif, walaupun kegiatan ini menuntut banyak kesiapan, baik dari guru sendiri maupun siswa. Kesiapan guru meliputi banyak komponen antara lain  kemampuan penguasaan materi, pengelolaan kelas, kemampuan mengkonstruksi kreativitas yang dimiliki siswa maupun ketepatan dalam memilih serta  menggunakan model dan metode pembelajaran. Sedangkan kesiapan siswa dapat berupa minat, perhatian, kreativitas, keaktifan, gaya belajar serta sejauh mana dapat mengembangkan kreativitas yang dimiliki dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Lain daripada itu, pada pembelajaran matematika yang baik adalah guru harus mampu menerapkan suasana yang dapat membuat siswa antusias dalam mencaritemukan jawaban-jawaban dari persoalan yang ada sehingga mereka mampu mencoba memecahkan persoalannya. Guru perlu membantu mengaktifkan siswa untuk berpikir, serta berupaya membangun kreativitas yang dimiliki siswa agar dapat dikembangkan. Harus ada pemikiran bahwa akan lebih bermakna jika anak “mengalami” apa yang dipelajarinya, bukan “mengetahuinya”.

Matematika harus diakui tidak mudah dimengerti oleh banyak siswa, sehingga lebih sering mereka membuat kesalahan, yang berarti mereka lebih sering mendapat hukuman (punishment) daripada pujian (reward). Pelajaran matematika cenderung dipandang sebagai mata pelajaran yang “kurang diminati” atau “kalau bisa dihindari” oleh sebagian siswa. Di sisi lain, masih banyak proses pembelajaran matematika di sekolah yang dilaksanakan dengan paradigma “guru mengajar”, siswa diposisikan sebagai objek, dianggap tidak tahu atau belum tahu apa-apa, sementara guru memposisikan diri sebagai yang mempunyai pengetahuan. Guru berceramah dan menggurui, otoritas tertinggi adalah guru. Materi pembelajaran diberikan dalam bentuk jadi. Tidak dipungkiri, pembelajaran di sekolah cenderung text book oriented dan kurang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, pembelajaran lebih bersifat abstrak, sehingga dengan model pembelajaran yang masih konvensional, konsep-konsep akademik kurang bisa dimengerti dan sulit dipahami. Kebanyakan guru juga kurang memperhatikan kemampuan berpikir siswa, tidak melakukan pengajaran yang bermakna dan belum maksimal dalam membantu mengembangkan kreativitas siswa. Akibatnya kreativitas dan keaktifan siswa sulit ditumbuhkan dan pola belajar cenderung mekanistik.

Pembelajaran yang dirancang guru selama ini, masih banyak yang hanya diarahkan untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif. Model pembelajaran cenderung konvensional. Guru masih belum sepenuhnya menjadi fasilitator, sehingga kegiatan masih banyak berpusat pada guru (teacher centered). Meskipun dalam kegiatan pembelajaran tidak sinonim dengan ceramah dan resitasi, namun masih erat berhubungan dengan kadua hal tersebut. Dalam kegiatan pembelajaran biasanya guru lebih banyak menyampaikan informasi materi tahap demi tahap, selanjutnya diakhiri dengan mengecek pemahaman siswa dan memberikan umpan balik. Selama kegiatan pembelajaran kreativitas siswa kurang bisa ditumbuhkembangkan karena guru lebih bersifat mendominasi kegiatan dibanding mengkonstruksi kemampuan dan kreativitas siswa secara maksimal. Akibatnya kemampuan penguasaan materi siswa cenderung rendah. Hal ini dapat menyebabkan prestasi siswa kurang maksimal.

Mencermati hal tersebut, sudah saatnya perlu diadakan pembaharuan dan inovasi pembelajaran yang lebih berorientasi pada siswa. Pembelajaran matematika hendaknya dapat lebih dikembangkan variasi model maupun metodenya guna mengoptimalkan kemampuan dan mengkonstruksi kreativitas siswa. Guru harus berperan sebagai fasilitator dengan salah satu indikasi siswa benar-benar aktif mengikuti kegiatan pembelajaran, berani mengemukakan ide dan gagasan, serta mampu menunjukkan kreativitas yang dimiliki. Karena itu upaya-upaya yang dilakukan guru dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran merupakan bagian penting dalam rangka mewujudkan kegiatan pembelajaran yang lebih baik, yang berarti menggunakan model pembelajaran yang inovatif adalah tuntutan yang mesti dipenuhi agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan aktif, inovatif, efektif, kreatif dan menyenangkan.

Model pembelajaran Mencari Pasangan (Make a Match)  adalah salah satu model pembelajaran kooperatif dengan mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan dan dapat digunakan untuk semua mata pelajaran serta semua tingkatan (Anita Lie, 2010:5). Model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran inovatif yang dapat digunakan guru dalam rangka meningkatkan keaktifan dan mengembangkan kreativitas siswa. Siswa belajar untuk menemukan suatu jawaban dari suatu masalah yang diberikan. Model pembelajaran Make a Match dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : (1) Guru menjelaskan secara singkat materi pelajaran yang telah direncanakan, (2) Guru memberi contoh soal sesuai dengan materi yang telah disampaikan pada poin (1), (3) Guru mengelompokkan siswa ke dalam beberapa kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri atas 4 sampai 6 siswa, (4) Masing-masing siswa dari sebagian kelompok diberi tugas untuk mengambi kartu soal dan sebagian kelompok yang lain diberi tugas untuk mengambil kartu jawaban, (5) Setelah setiap siswa dari masing-masing kelompok memegang kartu soal/ jawaban, selanjutnya guru menyuruh mereka untuk segera mencari pasangannya, (6) Bagi siswa yang menemukan pasangannya lebih awal diberi nilai lebih baik dibanding yang sesudahnya, (7) Pada akhir kegiatan guru memberikan kesimpulan dari materi yang telah diberikan.

Disisi lain pembelajaran Penyelesaian Masalah Sistematis (Systematic Approach to Problem Solving) adalah model pembelajaran berbasis pemecahan masalah yang membangun sistem heuristik melalui empat fase utama yaitu analisis permasalahan, perencanaan proses penyelesaian, operasi perhitungan dan pengecekan jawaban serta interpretasi permasalahan (Made Wena, 2009:60). Secara operasional tahapan pemecahan masalah sistematis terdiri atas empat tahap yaitu : (1) memahami masalah; (2) membuat rencana penyelesaian; (3) melaksanakan rencana penyelesaian dan (4) memeriksa kembali, mengecek hasilnya. Kreativitas adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mencipta sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan yang baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya. Hal itu didasarkan pada beberapa definisi yang dikemukakan oleh Barron dalam Utami Munandar (2009:21) bahwa ‘kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru’.

Beberapa penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya oleh Riska Arianti (2011) dan Dita Yuzianah (2010) terkait dengan kedua model pembelajaran di atas, semuanya menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang signifikan. Diharapkan dengan menggunakan kedua model pembelajaran di atas dapat mengembangkan kemampuan berpikir aktif, reflektif, kritis, logis, sistematis dan kreatif. Terkait dengan hal-hal di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) diantara model pembelajaran, manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik, pembelajaran menggunakan model Konvensional, Make a Match atau Systematic Approach to Problem Solving, (2) diantara kategori kreativitas, manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik, siswa dengan kreativitas tinggi, sedang atau rendah, (3) pada masing-masing model pembelajaran, manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik, siswa dengan kreativitas tinggi atau siswa dengan kreativitas sedang atau siswa dengan kreativitas rendah, (4) pada masing-masing kategori kreativitas, manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik, pembelajaran menggunakan model Konvensional, Make a Match atau Sisthematic Approach to Problem Solving.

 

METODE PENELITIAN

Variabel penelitian terdiri atas dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat.  Variabel bebasnya adalah model pembelajaran dan kreativitas, sedangkan variabel terikatnya adalah prestasi belajar matematika. Penelitian dilaksanakan di beberapa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di Kabupaten Banyumas. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI tahun pelajaran 2010/2011, dan sampelnya terdiri atas siswa kelas XI SMA Negeri Banyumas, siswa kelas XI SMA Negeri Wangon dan siswa kelas XI SMA Negeri 1 Rawalo sebagai tempat eksperimen, serta siswa kelas XI SMA Negeri Jatilawang sebagai tempat uji coba instrumen. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dengan mengambil nilai Ulangan Akhir Semester (UAS) untuk mengetahui kemampuan awal kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Instrumen tes digunakan untuk mengetahui prestasi belajar siswa dan untuk mengukur kreativitas siswa digunakan angket dengan skala Likert. Uji normalitas data dilakukan menggunakan Lilliefors dan uji homogenitas dilakukan menggunakan uji Bartlet.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

            Angket yang digunakan untuk mengukur kreativitas siswa terdiri dari 50 butir pertanyaan. Sebelum digunakan sebagai alat ukur terlebih dahulu dilakukan analisis konsistensi internal, validitas dan reliabilitas terhadap angket tersebut. Validitas angket dilakukan dengan expert judgement. Dari 50 butir soal yang divalidasi, sebanyak 50 butir soal dinyatakan sesuai dengan indikator dan dapat digunakan. Untuk menganalisis reliabilitas dan konsistensi internal, angket diujicobakan kepada 70 orang siswa. Uji  reliabilitas angket menggunakan teknik Cronbach Alpha dengan kriteria uji yaitu : “Soal dikatakan reliabel jika indeks reliabilitas soal r11 ³ 0,70”. Dari analisis reliabilitas angket diperoleh hasil r11 = 0,8469 ³ 0,70. Yang berarti angket tersebut reliabel. Untuk uji konsistensi internal angket, kriteria yang digunakan adalah :”Jika indeks konsistensi internal untuk butir ke-i kurang dari 0,30 maka butir tersebut harus dibuang”. Dari analisis konsistensi internal yang dilakukan, 40 butir soal memenuhi syarat konsisten dan 10 butir soal tidak konsisten.

            Uji validitas soal tes prestasi belajar mengenai limit fungsi, dilakukan dengan expert judgement. Dari 30 butir soal tes yang divalidasi semua butir soal dinyatakan valid. Uji reliabilitas soal tes prestasi belajar menggunakan teknik KR 20 dengan kriteria : “Soal dikatakan reliabel jika indeks reliabilitas soal r11 ³ 0,70”. Dari analisis reliabilitas soal tes tersebut diperoleh hasil r11 = 0,839 ³ 0,70. Yang berarti soal tes tersebut reliabel. Kriteria uji daya beda soal tes prestasi adalah :”Daya beda dinyatakan dipakai jika d  ³ 0,30”. Dari hasil analisis, diperoleh hasil d ³ 0,30, yang berarti semua butir soal dapat dipakai. Kriteria yang digunakan untuk menguji tingkat kesukaran soal tes adalah :”Butir soal akan dibuang jika indeks tingkat kesukaran p < 0,3”. Dari analisis yang dilakukan, 5 butir soal harus dibuang dan 25 butir soal dapat dipakai.

                        Setelah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dinyatakan seimbang, eksperimen dilaksanakan. Untuk kelas eksperimen 1 pembelajaran menggunakan model Make a Match, kelompok eksperimen 2 pembelajaran menggunakan model SystematicApproach to Problem Solving, sedangkan untuk kelompok kontrol pembelajaran menggunakan model konvensional. Materi yang disampaikan baik kepada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen adalah materi pelajaran yang sama yaitu limit fungsi aljabar. Dari tes yang dilaksanakan diperoleh hasil seperti pada Tabel 1.


Tabel 1. Data Prestasi Belajar

Kelas n Maks Min R s
Kontrol 100 100 44 56 73,56 12,005
Eksp. 1 101 100 40 60 70,970 12,594
Eksp. 2 101 100 32 68 74,360 14,507

            Kreativitas siswa dikelompokkan ke dalam tiga kategori yaitu kreativitas rendah, sedang dan tinggi. Prestasi belajar siswa menurut kategori tingkat kreativitas siswa disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2. Prestasi Belajar Menurut Kategori Kreativitas

Tingkat Kreatifitas n Maks Min R s
Rendah 94 96 48 48 72,553 12,670
Sedang 106 100 40 60 72,533 13,092
Tinggi 102 100 32 68 72,823 13,001

Hasil uji normalitas dan homogenitas terhadap prestasi belajar disajikan dalam Tabel 3 dan Tabel 4.

Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Prestasi Belajar

Sumber Lobs Ltabel Keputusan Uji Kesimpulan
Model Pemb. I 0,0795 0,0886 Ho diterima Normal
Model Pemb. II 0,0784 0,0882 Ho diterima Normal
Model Pemb. III 0,0520 0,0882 Ho diterima Normal
Kreativitas Tinggi 0,0831 0,0877 Ho diterima Normal
Kreativitas Sedang 0,0735 0,0861 Ho diterima Normal
Kreatifitas Rendah 0,0762 0,0914 Ho diterima Normal

Keterangan :

Model Pemb. I : Model Pembelajaran Konvensional

Model Pemb. II ; Model Pembelajaran Make a Match

Model Pemb. III : Model Pembelajaran SystematicApproach to Problem Solving.

 

Tabel 4. Hasil Uji Homogenitas Prestasi Belajar

Sumber Keputusan Kesimpulan
Model Pembelajaran 3,7202 5,9991 Ho diterima Homogen
Kreativitas 5,5622 5,9991 Ho diterima Homogen

     Analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama dilakukan untuk mengetahui (1) sama atau tidaknya rataan prestasi belajar untuk masing-masing model pembelajaran, (2) sama atau tidaknya rataan masing-masing tingkat kreativitas siswa dan (3) terdapat interaksi atau tidak antara model pembelajaran dengan kreativitas. Hasil analisis variansi selengkapnya disajikan dalam Tabel 5.

Tabel 5. Rangkuman Analisis Variansi Dua Jalan

Sumber JK dk RK Fobs Fa Keputusan
Model Pembel. (A) 702,3157 2 351,1578 2,2781 3,00 Ho diterima
Kreativitas (B) 79,1057 2 39,5528 0,2566 3,00 Ho diterima
Interaksi (AB) 1789,5887 4 447,3971 2,9025 2,37 Ho ditolak
Galat 45163,1438 293 154,1404
Total 53,7887 301

                Dari hasil di atas diketahui bahwa HoA diterima, artinya ketiga model pembelajaran mempunyai rataan yang sama, berarti bahwa dalam penelitian ini pembelajaran menggunakan model Konvensional, Make a Match maupun SystematicApproach to Problem Solving memberikan prestasi belajar yang sama. Dalam kasus ini tidak diperlukan uji lanjut. HoB diterima artinya untuk masing-masing kategori kreativitas memberikan prestasi belajar yang sama. Sedangkan HoAB ditolak, berarti harus dilakukan komparasi ganda antar sel. Komparasi ganda ini untuk mengetahui mana dari kelompok kreativitas dan kelompok model pembelajaran yang memiliki rataan prestasi belajar yang berbeda. Hasil komparasi ganda selengkapnya disajikan dalam Tabel 6 dan Tabel 7.

 

Tabel 6. Hasil Komparasi Ganda Antar Sel pada Kolom yang sama

Ho F obs 8F0,05;8;293 p
m11 = m21 7,474 (8)(1.94)= 15,52 > 0,05
m11 = m31 0,851 (8)(1.94)= 15,52 > 0,05
m21 = m31 17,347 (8)(1.94)= 15,52 < 0,05
m12 = m22 0,041 (8)(1.94)= 15,52 > 0,05
m12 = m32 0,742 (8)(1.94)= 15,52 > 0,05
m22 = m32 0,473 (8)(1.94)= 15,52 > 0,05
m13 = m23 0,019 (8)(1.94)= 15,52 > 0,05
m13 = m33 0,317 (8)(1.94)= 15,52 > 0,05
m23 = m33 0,187 (8)(1.94)= 15,52 > 0,05

 

Tabel 7. Hasil Uji Komparasi Ganda Antar Sel pada Baris yang sama

Ho F obs 8F0,05;8;293 p
m11 = m12 0,038 (8)(1.94)= 15,52 > 0,05
m11 = m13 0,235 (8)(1.94)= 15,52 > 0,05
m12 = m13 0,086 (8)(1.94)= 15,52 > 0,05
m21 = m22 7,369 (8)(1.94)= 15,52 > 0,05
m21 = m23 3,602 (8)(1.94)= 15,52 > 0,05
m22 = m23 6,585 (8)(1.94)= 15,52 > 0,05
m31 = m32 3,902 (8)(1.94)= 15,52 > 0,05
m31 = m33 0,669 (8)(1.94)= 15,52 > 0,05
m32 = m33 3,866 (8)(1.94)= 15,52 > 0,05

              Dari Tabel 6 tampak bahwa untuk m21 = m31, nilai Fobs = 17,3473  dan nilai 8F0,05;8;293 = 15,52. Jadi nilai Fobs = 17,3473 > 8F0,05;8;293 = 15,52. Sehingga Fobs = 17,3473 Î DK, artinya pada siswa dengan kreativitas tinggi yang menggunakan model pembelajaran Make a Match mempunyai prestasi yang berbeda dengan kelompok siswa dengan kreativitas tinggi yang menggunakan model pembelajaran SystematicApproach to Problem Solving. Dengan melihat rerata prestasi siswa dengan kreativitas tinggi yang menggunakan model pembelajaran Make a Match sebesar 65,655 lebih rendah dibanding rerata prestasi siswa dengan kreativitas tinggi yang menggunakan model pembelajaran SystematicApproach to Problem Solving sebesar 76,923, berarti prestasi siswa dengan kreativitas tinggi yang menggunakan model pembelajaran SystematicApproach to Problem Solving lebih baik daripada prestasi siswa dengan kreativitas tinggi yang menggunakan model pembelajaran Make a Match.

              Dari Tabel 7 tampak bahwa pada masing-masing model pembelajaran, siswa dengan kategori kreativitas rendah, sedang dan tinggi memberikan prestasi belajar yang sama.

                 Memperhatikan hasil di atas, berdasarkan analisis variansi diperoleh bahwa Fa = 2,2781 < 3,00, berarti bahwa HoA diterima, artinya ketiga model pembelajaran mempunyai efektifitas yang sama. Jika mengacu kepada landasan teori, maka dapat dilihat bahwa ketiga model pembelajaran sama-sama berupaya meningkatkan prestasi belajar siswa. Pembelajaran menggunakan model Make a Match dan SystematicApproach to Problem Solving,  menekankan pada pembentukan pengetahuan dan keterampilan didasarkan pada pembelajaran kooperatif dan pemecahan masalah, sehingga potensi siswa yang salah satunya adalah kemampuan berpikir kritis dan kreatif akan mampu dioptimalkan oleh guru. Dengan demikian model pembelajaran Make a Match dan SystematicApproach to Problem Solving dapat mengoptimalkan potensi dan kemampuan yang dimiliki siswa sehingga prestasi belajar yang diperoleh siswa meningkat. Berarti terjadi kontradiksi. Adanya kontradiksi ini menurut peneliti karena siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran yang digunakan. Hal ini berakibat pelaksanaan pembelajaran kurang optimal.

                 Selanjutnya diketahui bahwa Fb = 0,2566 < 3,00, artinya bahwa HoB diterima, berarti kelompok siswa dengan kreativitas tinggi, sedang maupun rendah memiliki prestasi belajar yang sama. Hasil ini juga kontradiksi dengan teori dalam penelitian yang menyatakan siswa dengan kreativitas tinggi mempunyai prestasi belajar yang lebih baik daripada siswa dengan kreativitas sedang maupun rendah dan siswa dengan kreativitas sedang mempunyai prestasi belajar  yang lebih baik daripada siswa dengan kreativitas rendah. Adanya kontradiksi antara teori dengan hasil penelitian ini disebabkan antara lain bahwa peneliti melihat dalam proses pembelajaran, siswa yang memiliki kreativitas tinggi cenderung sangat dominan dalam melakukan aktivitas, bertanya, dan memberikan gagasan atau ide. Sedangkan siswa dengan kreativitas sedang dan rendah kurang melibatkan diri secara optimal meskipun guru telah memberikan dorongan dan motivasi dalam belajar.

SIMPULAN DAN SARAN

            Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa (1) Pembelajaran dengan model Konvensional, Make a Match maupun SystematicApproach to Problem Solving menghasilkan prestasi belajar matematika yang sama pada materi limit fungsi aljabar, (2) Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kreativitas tinggi sama dengan prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kreativitas sedang maupun rendah, (3) Pada  pembelajaran menggunakan model Konvensional, Make a Match maupun SystematicApproach to Problem Solving siswa yang mempunyai kreativitas tinggi sama prestasi belajarnya dengan siswa yang mempunyai kreativitas sedang dan rendah, dan siswa yang mempunyai kreativitas sedang sama prestasi belajarnya dengan siswa yang mempunyai kreativitas rendah, 4) Pada kategori tingkat kreativitas tinggi, siswa yang diberi pembelajaran dengan model Systematic Approach to Problem Solving lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan siswa yang diberi pembelajaran dengan model Make a Match. Pada kategori tingkat kreativitas sedang dan rendah, siswa yang diberi pembelajaran dengan model Konvensional, Make a Match maupun SystematicApproach to Problem Solving mempunyai prestasi belajar yang sama.

            Memperhatikan hasil di atas, penulis menyampaikan beberapa saran antara lain : (1) Siswa hendaknya memperhatikan dengan sungguh-sungguh setiap informasi, mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan dalam setiap kegiatan pembelajaran, dan hendaknya mendiskusikan kesulitan yang dialami selama kegiatan pembelajaran dengan teman atau guru, (2) Kepada Guru Matematika hendaknya selalu memperluas wawasannya tentang model-model pembelajaran agar dapat mengaplikasikannya dalam kegiatan pembelajaran.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anita Lie. 2010. Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta : Grasindo.

Dita Yuzianah. 2011. Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match. Penelitian Tindakan Kelas. Jogjakarta

Made Wena. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta : Bumi Aksara.

Riska Arianti. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Make a Match Pada mata Pelajaran Matematika Siswa Kelas VII SMPN 1 Porong. Porong : UMM Porong.

Utami Munandar. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta : Rineka Cipta

Nama                                       : Slamet Rijadi, M.Pd.

NIP                                          : 19691213 200801 1 008

Pangkat/ Gol                            : Penata/ IIIc

Unit Kerja                                : SMA Negeri 1 Rawalo




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *