PTS SMP Profesionalisme Guru Melalui Pemberdayaan KKG

UPAYA MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU MELALUI PEMBERDAYAAN KKG ATAU MGMP

sutomo

Abstak

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Potret dan wajah diri bangsa dimasa depan tercermin dari potret diri para guru masa kini. Menjadi guru yang professional tidaklah semudah yang kita bayangkan. Dewasa ini keprofesionalan guru mulai dipertanyakan. Penilaian tersebut tidaklah semuanya salah mengingat guru tidak semuanya mampu memenuhi tuntutan keprofesionalan. Banyak kendala yang di temukan antara lain banyaknya guru yang menumpuk di golongan IV/a karena tidak mampu membuat karya ilmiah yang disyaratkan. Disamping itu banyak guru yang tidak mahir IT. Padahal IT sekarang merupakan kebutuhan vital bagi seorang guru. Peran KKG atau MGMP sangatlah di butuhkan untuk mengatasi masalah ini. Program KKG atau MGMP diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Pengurus dan anggota harus bersama-sama memberdayakan KKG atau MGMP. Hal ini penting mengingat KKG atau MGMP merupakan organisasi profesi yang seharusnya menjadi tempat untuk membantu mecari solusi terhadap masalah yang di hadapi oleh guru.

Kata Kunci: Professionalisme, guru, KKG atau MGMP.

PENDAHULUAN

Guru bagi suatu bangsa amatlah penting. Keberadaan guru  di dalam bangsa yang sedang membangun terlebih-lebih bagi keberlangsungan hidup bangsa ditengah-tengah lintasan perjalanan zaman dengan teknologi yang makin canggih dan segala perubahannya sangatlah vital. Dengan kata lain, potret dan wajah diri bangsa dimasa depan tercermin dari potret diri para guru masa kini dan gerak maju dinamika kehidupan bangsa berbanding lurus dengan citra para guru ditengah-tengah masyarakat.

Guru sebagai penggerak terdepan dalam peningkatan sumber daya manusia seharusnya memiliki kemampuan profesionalisme yang tinggi. Prinsip inilah yang ditanamkan negara Jepang yang banyak di ikuti negara lain di dunia. Ketika Hirosima dan Nagasaki di bom pada perang dunia II (1945) Kaisar Jepang bertanya “masih adakah guru yang hidup”. Ini berarti betapa besar perhatian Kaisar Jepang terhadap pendidikan dan betapa besar peranan guru dalam pembangunan suatu bangsa.

Bagaimana dengan profesionalisme guru Indonesia? Pada kenyataannya profesionalisme guru dewasa ini masih di ragukan. Hal ini di buktikan dengan beberapa permasalahan yang di jumpai antara lain:

  1. Menumpuknya guru pada pangkat IV/a karena tidak menghasilkan karya ilmiah yang dipersyaratkan.
  2. Penguasaan IT guru tergolong rendah
  3. Proses pembelajaran masih berjalan monoton.
  4. Guru kurang memahami model-model pembelajaran yang melibatkan keaktifkan siswa.
  5. Keberadaan KKG dan MGMP tidak berdayakan secara maksimal dalam meningkatkan profesionalisme guru.

Berdasarkan permasalahan diatas penulis tertarik untuk membuat sebuah artikel dengan judul: “Upaya Meningkatkan Profesionelisme Guru melalui Pemberdayaan KKG atau MGMP”. Tujuan dan manfaat dari artikel ini adalah melalui pemberdayaan KKG atau MGMP profesionalime guru meningkat dan memudahkan guru untuk naik pangkat ke jenjang yang lebih tinggi.

TINJAUAN PUSTAKA

  1. KKG atau MGMP

Kelompok Kerja Guru (KKG) adalah wadah kegiatan profesional bagi guru SD/MI/SDLB di tingkat kecamatan yang terdiri dari sejumlah guru dari sejumlah sekolah. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) adalah wadah kegiatan profesional bagi para guru mata pelajaran yang sama pada jenjang SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, dan SMK/MAK di tingkat kabupaten/kota yang terdiri dari sejumlah guru dari sejumlah sekolah. (POS Penyelenggaraan KKG dan MGMP Tahun 2010).

  1. Profesionlisme Guru

Menurut Undang-undang RI Nomor 14 tahun 2005, pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

Sebagai tenaga profesional, guru harus memiliki sejumlah kriteria yang menjadi ciri-ciri suatu profesi. Berdasarkan pendapat ahli, pada hakikatnya suatu profesi memiliki kesamaan ciri-ciri yaitu: memiliki ilmu atau dasar teori yang sistematis melalui pendidikan akademis, memiliki standar kinerja yang baku dan jelas, memiliki kewenangan profesional yang diakui masyarakat melalui proses akreditasi, memiliki kode etik dan memeiliki organisasi profesi.

Konsekuensi lebih lanjut dari ciri-ciri profesi tersebut, maka untuk menjadi guru profesional perlu memenuhi hal-hal sebagai berikut.

  1. Memiliki pendidikan keahlian dan ketrampilan tertentu agar dapat melaksanakan tugas mengajar dengan baik melalui pendidikan pra dan dalam jabatan yang dilaksanakan secara terpadu.
  2. Standar kompetensi sesuai dengan tuntutan kinerja sebagai guru profesional.
  3. Sertifikasi dan lisensi sebagai tanda kewenangan untuk melaksanakan tugas guru profesional.
  4. Kode etik guru yang mengatur perilaku guru sebagai pribadi maupun anggota masyarakat.
  5. Pengakuan masyarakat pengguna jasa guru melalui pemberian status sosial, proteksi jabatan, penghasilan dan status hukum yang lebih dibandingkan ketika guru masih di anggap sebagai suatu pekerjaan (vokasi).
  6. Organisasi profesi guru yang mewadahi anggotanya dalam mempertahankan, memperjuangkan eksistensi dan kesejahteraan serta pengembangan profesional guru.

 

PEMBAHASAN

Guru pada hakekatnya merupakan seseorang yang sangat dipercaya oleh orang tua peserta didik untuk memikul sebagian tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru. Siapapun tentu sependapat bahwa guru merupakan unsur utama dalam keseluruhan proses pendidikan. Tanpa guru, pendidikan hanya akan menjadi pembicaraan yang omong kosong. Oleh karena itu guru harus profesional. Dimanakah guru dapat meningkatkan profesionalismenya yang paling mudah? Jawabnya adalah KKG atau MGMP.

Organisasi KKG atau MGMP merupakan organisasi yang strategis untuk peningkatan kompetensi guru dan kinerja atau profesionalisme guru. Dalam kaitan peningkatan profesionalisme guru tersebut, pengurus KKG dan MGMP harus memiliki kemauan untuk mengembangkan program organisasi yang sesuai dengan kebutuhan anggota. Sebab program yang didasarkan atas kebutuhan itulah yang akan menjadi basis dari eksistensi organisasi KKG atau MGMP.

  1. Struktur Organisasi

Berdasarkan POS Penyelenggaraan KKG dan MGMP Tahun 2010 struktur organisasinya adalah sebagai berikut.

  1. Organisasi KKG atau MGMP terdiri dari pengurus dan anggota.
  2. Pengurus KKG atau MGMP terdiri dari: satu orang ketua, satu orang sekretaris, satu orang bendahara, dan tiga orang ketua bidang, yaitu (1) bidang perencanaan dan pelaksanaan program; (2) bidang pengembangan organisasi, administrasi, sarana dan prasarana; dan (3) bidang hubungan masyarakat dan kerjasama.
  3. Pengurus KKG atau MGMP dipilih oleh anggota berdasarkan AD/ART.
  4. Anggota KKG atau MGMP berasal dari guru sekolah negeri dan guru sekolah swasta, baik yang berstatus PNS maupun bukan PNS.
  5. Anggota KKG terdiri dari guru kelas, guru pendidikan agama, guru penjasorkes, dan guru lain di SD/MI/SDLB yang berasal dari 8 – 10 sekolah atau disesuaikan kondisi daerah setempat dan pembentukannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  6. Anggota MGMP terdiri dari guru mata pelajaran di SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, SMK/MAK (setiap mata pejalaran membentuk MGMP), yang berasal dari 8 – 10 sekolah atau disesuaikan dengan kondisi daerah setempat dan pembentukannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

B.       Program

Pengembangan program kerja KKG atau MGMP adalah upaya yang dilakukan oleh pengurus KKG atau MGMP dalam membuat program organisasi yang sesuai dengan kebutuhan anggota khususnya dalam peningkatan profesionalitas guru. Pengembangan program tersebut harus mengacu kepada kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yaitu kompetensi profesional, kepribadian, pedagogik,  dan sosial (UU Guru dan Dosen No 14 tahun 2005).

Sebelum menentukan program kegiatan yang akan dijadikan menu didalam pelaksanaan kegiatan KKG atau MGMP diawali dengan hal-hal berikut.

  1. Analisis kebutuhan peningkatan kompetensi guru sebagai anggota KKG atau MGMP yang meliputi kompetensi profesional, pedagogis, kepribadian dan sosial.
  2. Hasil dari analisis kebutuhan ini disusun program prioritas yang dituangkan dalam jadwal kegiatan tahunan dan semester.
  3. Ada tiga jenis program yang dapat dirancang untuk kegiatan di KKG dan MGMP, yaitu program umum, program inti (terdiri dari program rutin dan program pengembangan) dan program penunjang. Program tersebut memuat secara rinci sejumlah kegiatan untuk setiap pertemuan.
  4. Program hasil analisis kebutuhan dituangkan dalam jadwal pertemuan untuk satu tahun dan sekurang-kurangnya memuat 12 kegiatan yang dituangkan dalam 12 kali pertemuan dalam satu tahun.
  5. Program dan kegiatan dimaksud dimungkinkan disusun oleh Tim Khusus/pengurus, tetapi setelah program dan kegiatan terwujud, hal tersebut perlu dikomunikasikan oleh Tim Khusus/pengurus  kepada seluruh anggota kelompok.

Setiap program dan kegiatan KKG atau MGMP diharapkan memiliki kerangka program yang mencakup hal-hal sebagai berikut:

  1. Kerangka dasar dan struktur program kegiatan KKG atau MGMP

Kerangka dasar program kegiatan KKG atau MGMP merujuk kepada pencapaian empat kompetensi guru, yaitu kompetensi profesional, pedagogik, social, dan kepribadian.

  1. Struktur Program

Struktur program kegiatan KKG atau MGMP terdiri dari program umum, program inti/pokok, dan program penunjang dengan uraian sebagai berikut.

  1. Program umum adalah program yang bertujuan untuk memberikan wawasan kepada guru tentang kebijakan-kebijakan pendidikan di tingkat daerah sampai pusat.
  2. Program inti adalah program-program utama yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas kompetensi dan profesionalisme guru. Program inti dapat dikelompokkan ke dalam program rutin dan program pengembangan.
    • Program rutin terdiri dari:
  3. Diskusi permasalahan pembelajaran.
  4. Penyusunan dan pengembangan silabus, program semester, dan rencana program pembelajaran.
  5. Analisis kurikulum
  6. Penyusunan laporan hasil belajar siswa.
  7. Pendalaman materi.
  8. Pelatihan materi yang mendukung tugas mengajar.
  9. Pembahasan materi dan pemantapan menghadapi Ujian Nasional dan Ujian Sekolah
    • Program pengembangan dapat dipilih sekurang-kurangnya lima dari kegiatan-kegiatan berikut.
  10. Penelitian, diantaranya Penelitian Tindakan Kelas/Studi Kasus.
  11. Penulisan Karya Ilmiah.
  12. Seminar, lokakarya, kolokium dan diskusi panel.
  13. Pendidikan dan pelatihan berjenjang (diklat berjenjang).
  14. Penerbitan jurnal dan buletin KKG atau MGMP.
  15. Penyusunan dan pengembangan website KKG atau MGMP.
  16. Kompetisi kinerja guru.
  17. Pendampingan pelaksanaan tugas guru oleh pembimbing/tutor/ instruktur/ fasilitator di KKG atau MGMP.
  18. Lesson study
  19. Profesional Learning Community (komunitas belajar profesional)
  20. TIPD (Teachers International Profesional Development)
  21. Global Gateaway
  22. Program lain yang sesuai dengan kebutuhan setempat.
  1. Program penunjang bertujuan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan peserta KKG atau MGMP dengan materi-materi yang bersifat penunjang seperti bahasa asing, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), dll.

Berdasarkan Permen PAN dan RB No. 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Guru dan Angka Kreditnya, guru yang akan naik pangka harus memenuhi unsur utama  90% dan Unsur Penunjang 10%. Unsur utama sebagaimana dijelaskan pada bab V pasal 11, adalah: (a) Pendidikan, (b) Pembelajaran/Bimbingan, (c) Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan,  dan (d) Penunjang. Peran KKG atau MGMP adalah dalam kegiatan koletif guru yang merupakan bagian Pengembangan Keprofeian Berkelnjutan (PKB).

Kegiatan kolektif guru merupakan kegiatan pertemuan ilmiah atau mengikuti kegiatan bersama yang dilakukan baik disekolah maupun di luar sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Kegiatan wajib semua guru sebagaimana diatur dalam rambu-rambu penyelenggaraan KKG atau MGMP dalam 1 tahun guru diwajibkan mengikuti kegiatan KKG atau MGMP paling sedikit 12 pertemuan. Hal ini dapat diartikan bahwa minimal dalam 1 bulan terdapat 1 kali pertemuan. Oleh karena itu KKG atau MGMP harus menyusun program kegiatan yang bisa menghasilkan angka kredit. Kegiatan-kegiatan KKG atau MGMP di buat dalam bentuk paket. Adapun paket Kegiatan Kolektif Guru adalah sebagai berikut.

  1. Paket pengembangan Silabus, RPP, dan Bahan Ajar , minimal memerlukan 3 kali pertemuan dan bernilai angka kredit 0,15
  2. Paket pengembangan Instrumen penilaian minimal 3 kali pertemuan bernilai angka kredit 0,15
  3. Paket pengembangan Model-model Pembelajaran dan Jurnal Belajar, minimal 3 kali pertemuan bernilai angka kredit 0,15
  4. Paket pembuatan atau Pengembangan Alat Peraga, minimal 3 kali pertemuan berangka kredit 0,15
  5. Paket Pengembangan Karya Ilmiah Guru (PTK/Tinjauan Ilmiah/Buku/Modul/Diktat/Kajian Buku/Karya Terjemahan) minimal 4 kali pertemuan berangka kredit 0,15.

Berdasarkan penjelasan program paket diatas, seandainya KKG atau MGMP mengambil 4 paket minimal 3 pertemuan dalam satu tahun maka angka kredit yang di peroleh adalah 0,15 X  4 = 0,6.

Disamping itu setelah kegiatan selesai, guru diharapkan mempunyai kemampuan untuk memenuhi angka kredit sub unsur Publikasi Ilmiah dan Karya inovatif yang merupakan syarat wajib yang harus di penuhi untuk kenaikan pangkat. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut.

Tabel. Angka Kredit Minimal Sub unsur Pengembangan Diri dan  Sub unsur Publikasi Ilmiah dan Karya Inovatif.

Dari Jabatan

Golongan

Ruang

Ke Jabatan

Golongan Ruang

Jumlah Angka Kredit Minimal dan Jenis Kegiatan Jumlah angka kredit dari sub unsur publikasi ilmiah  dan atau Karya Inovatif Macam publikasi ilmiah yang wajib ada
Sub unsur Pengembangan Diri JenisKegiatan
Guru Pertama Golongan Ruang III/a Guru Pertama Golongan  Ruang III/b 3

(tiga)

Ketiga angka kredit diperoleh dari Dilat fungsional dan atau Kegiatan Kolektif Guru
Guru Pertama Golongan Ruang III/b Guru Muda Golongan Ruang III/c 3

(tiga)

Minimal 2 AK diperoleh dari Diklat Fungsional dan 1 dari Kegiatan Kolektif Guru 4

(empat)

Bebas pada jenis karya publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif
Guru Muda Golongan Ruang III/c Guru Muda Golongan Ruang III/d 3

(tiga)

Minimal 2 AK diperoleh dari Diklat Fungsional dan 1 dari Kegiatan Kolektif Guru 6

(enam)

Bebas pada jenis karya publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif
Guru Muda Golongan Ruang III/d Guru Madya Golongan Ruang IV/a 4

(empat)

Minimal 2 AK diperoleh dari Diklat Fungsional dan 2 dari Kegiatan Kolektif Guru 8

(delapan)

Minimal terdapat 1 (satu)  laporan  hasil penelitian
Guru Madya Golongan Ruang IV/a Guru Madya Golongan Ruang IV/b 4

(empat)

Minimal 2 AK diperoleh dari Diklat Fungsional dan 2 dari Kegiatan Kolektif Guru 12

(duabelas)

Minimal terdapat 1 (satu)  laporan  hasil penelitian (dan  1 (satu)

artikel yang dimuat di jurnal ber ISSN

Guru Madya Golongan Ruang IV/b Guru Madya Golongan Ruang IV/c 4

(empat)

Minimal 2 AK diperoleh dari Diklat Fungsional dan 2 dari Kegiatan Kolektif Guru 12 (duabelas) Minimal terdapat 1 (satu)  laporan  hasil penelitian dan  1 (satu) artikel yang dimuat di jurnal ber ISSN
Guru Madya Golongan Ruang IV/c Guru Utama Golongan Ruang IV/d 5

(lima)

Minimal 2 AK diperoleh dari Diklat Fungsional dan 3 dari Kegiatan Kolektif Guru 14

(empat

belas)

Minimal terdapat 1 (satu)  laporan  hasil penelitian dan  1 (satu) artikel yang dimuat di jurnal ber ISSN dan 1 (satu) buku pelajaran atau buku pendidikan ber ISBN
Guru Utama Golongan Ruang IV/d Guru Utama Golongan Ruang IV/e 5

(lima)

Minimal 2 AK diperoleh dari Diklat Fungsional dan 3 dari Kegiatan Kolektif Guru 20 (duapuluh) Minimal terdapat 1 (satu)  laporan  hasil penelitian dan  1 (satu) artikel yang dimuat di jurnal ber ISSN  dan 1 (satu) buku pelajaran atau buku pendidikan yang ber ISBN

KESIMPULAN

Jabatan guru merupakan jabatan profesi. Oleh karena itu guru harus memenuhi standar profesi sehingga guru memenuhi standar profesional yang harus di penuhi. Standar profesional tersebut meliput: pendidikan keahlian, standar kompetensi, sertifikasi dan lisensi, kode etik, pengakuan masyarakat pengguna  jasa guru dan organisasi profesi.

Profesionalisme guru terus di tingkatkan. KKG atau MGMP merupakan solusi terbaik untuk meningkatkan profesionalisme guru. KKG atau MGMP berdaya diharapkan berbanding lurus dengan peningkatan profesionalisme guru. Penyusunan program baik program semester maupun tahunan hendaknya di sesuaikan dengan kebutuhan anggota KKG atau MGMP. Pada awal tahun pengurus KKG atau MGMP menganalisis kebutuhan anggotanya. Sehingga program yang dijalankan memang benar-benar bermafaat bagi guru terutama untuk meningkatkan profesionalismenya.

DAFTAR PUSTAKA

Dirjen PMPTK Diknas, 2009,  tentang Rambu-rambu Pengembangan Kegiatan KKG dan MGMP

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan.

Prosedur Operasional Standar, 2010, tentang Penyelenggaraan KKG dan MGMP

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 16, 2010, tentang Jabatan Guru dan Anka Kreditnya

Undang-Undang RI No.14 Tahun 2005 (2006), Guru dan Dosen , Bandung, Citra Utama

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang SistemPendidikan Nasional

Zakiah Darajat, 1996, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara

BIODATA PENULIS

  1. Nama Lengkap : SUTOMO S.Pd
  2. NIP :19711121 199903 1 005
  3. Tempat, Tanggal Lahir : Cilangkap, 21 Nopember 1971
  4. Jabatan : Guru
  5. Pengkat/Golongan : Pembina/IVa
  6. Instansi : SMP Negeri 1  Gumelar Kab/Kota : Banyumas



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *