PTK SMP Menggambar Bentuk Melalui Pengamatan Langsung

UPAYA MENINGKATKAN KREATIFITAS DAN HASIL BELAJAR MENGGAMBAR BENTUK  MELALUI PENGAMATAN LANGSUNG

4

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 3 Banyumas, bertujuan untuk meningkatan kreatifitas dan hasil belajar menggambar bentuk melalui pengamatan langsung  dalam  pembelajaran Seni Budaya. Penelitian terlaksana dalam 2 (dua) siklus. Pada siklus 1 siswa masih terlihat kaku dan ragu-ragu dalam menggoreskan alat gambar karena belum memahami cara menggambar bentuk, dan ada sebagian siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru. Pada siklus 2 sudah Nampak keberanian dalam menggoreskan alat gambar di atas bidang gambar karena sudah mengetahui langkah-langkahnya dari siklus 1. Masing- masing siswa berusaha untuk membuat karya menyerupai aslinya. Peningkatan kreatifitas dan hasil belajar dilihat dari hasil karya dan prosentase nilai kreatifitas siswa, juga ditunjukkan dengan ketuntasan secara klasikal, siswa yang kreatif (K) atau sangat kreatif(SK) secara klasikal naik dari 75% pada siklus 1,menjadi (SK) 86,00% pada siklus 2, dan hasil belajar  siswa secara klasikal dari 70% pada siklus 1 naik menjadi 87% pada siklus 2. sehingga telah mencapai ketuntasan kelas yang di inginkan yaitu 85% pada siklus 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya untuk meningkatkan kreatifitas dan hasil belajar menggambar bentuk melalui pengamatan langsung dalam  belajar Seni Budaya berhasil dengan baik.

Kata kunci: meningkatkan kreatifitas dan hasil belajar, pengamatan langsung

 

PENDAHULUAN

Pembelajaran menggambar merupakan salah satu pembelajaran yang disenangi oleh sebagian siswa dan dirasa sulit oleh siswa tertentu. Salah satu Kompetensi Dasar yang harus dicapai peserta didik  pada pelajaran Seni Budaya pada kelas IX adalah Kompetensi Dasar : Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa murni yang dikembangkan dari unsur seni rupa.

Berdasarkan pengamatan selama proses belajar mengajar pada semester sebelumnya, menunjukkan bahwa kreatifitas dan hasil belajar  pelajaran seni budaya dalam hal menggambar masih rendah. KKM dalam pembelajaran Seni Budaya sebesar 76.Jumlah peserta didik  kelas IX A SMP Negeri 3 Banyumas  ada 30 orang terdiri dari laki-laki 19 orang dan perempuan 11 orang. Berdasarkan data hasil penelitian awal terhadap produk yang dilakukan, ditemukan hanya 18 peserta didik  atau 60% yang mampu mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM 76), sisanya 12 peserta didik  atau 40% belum berhasil mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Berdasarkan analisis situasi dan masalah di kelas IX A SMP Negeri 3 Banyumas permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut “ Bagaimanakah peningkatan kreatifitas dan hasil belajar menggambar bentuk melalui pengamatan langsung pada kelas IX A SMP Negeri 3 Banyumas semester gasal Tahun Pelajaran 2014-2015 ?”

 

KAJIAN PUSTAKA

  1. Kerangka Teoritis

Upaya adalah suatu usaha atau ikhtiar untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Meningkatkan adalah menaikkan derajat, taraf, mempertinggi; memperhebat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Kreatifitas diartikan sebagai penggunaan imaginasi dan kecerdikan untuk mencapai sesuatu atau untuk mendapatkan solusi  unik dalam mengatasi persoalan Sahid Susanto (1999: 3).

Menurut kamus Webster dalam Anik Pamilu (2007: 9) kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk mencipta yang ditandai dengan orisinilitas dalam berekspresi yang bersifat imajinatif. Berdasarkan atas berbagai pendapat tentang pengertian kreativitas tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu yang baru dengan berbagai bentuk, menampilkan bentuk yang asli(original), goresan alat gambar yang menarik  yang sebelumnya belum dikenal dan sentuhan akhir yang maksimal.

Ausubel mengemukakan bahwa belajar dikatakan menjadi bermakna bila informasi yang akan dipelajari siswa dengan struktur kognitif yang dimilikinya, sehingga siswa tersebut dapat mengkaitkan iformasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya. (Hudaya, 1990: 54).

Menurut Sudjana (2010: 22) hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar. Selanjutnya Warsito (dalam Depdiknas, 2006: 125) mengemukakan bahwa hasil dari kegiatan belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku ke arah positif yang relatif permanen pada diri orang yang belajar. Model belajar kognitif mengatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasiyang berhubungan dengan tujuan belajarnya.  Belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang nampak.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil adalah sesuatu yang dicapai dari usahanya, sedangkan pengertian hasil belajar merupakan tujuan akhir dari sesuatu yang dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Hasil belajar dapat ditingkatkan melalui usaha sadar yang dilakukan secara sistematis mengarah kepada perubahan yang positif yang kemudian disebut dengan proses belajar. Akhir dari proses belajar adalah perolehan suatu hasil belajar siswa.

Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa gambar adalah tiruan barang berupa orang, binatang, benda alam yang diwujudkan secara visual dalam bentuk dua dimensi dengan coretan pensil atau alat gambar pada kertas atau bidang gambar sebagai curahan perasaan atau pikiran pembuatnya. Menggambar adalah membuat gambar yang dilakukan dengan cara mencoret, menggores, menorehkan benda tajam ke benda lain dan memberi warna sehingga menimbulkan gambar (Pamadhi, 2008: 2.5). Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat di simpulkan bahwa substansi praktik menggambar adalah latihan kemampuan memahami obyek dan mengutarakannya sesuai dengan pengamatan. Tujuan menggambar adalah kemampuan menelaah objek sesuai dengan realita, misalnya melatih ketepatan menggambar dengan mengamati obyek/ model. Menggambar bentuk adalah menggambar dengan melihat model (obyek manusia, binatang atau benda alam) yang ditempatkan secara langsung di hadapan penggambar.

  1. Kerangka Pikir

Adapun kerangka pikir penelitian tindakan ini digambarkan sebagai berikut:  

 4-2

Gambar 1: Skema kerangka berpikir

  1. Hipotesa Tindakan

Berdasarkan kajian pustaka di atas, maka dapat diasumsikan hipotesa tindakannya adalah : Dengan menggunakan metode pengamatan langsung dalam menggambar bentuk, maka kreatifitas dan hasil belajar akan meningkat.

 

METODE PENELITIAN

  1. Subyek dan Obyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IX A SMPN 3 Banyumas, Kabupaten Banyumas, tahun pelajaran 2014/2015. Obyek penelitian ini adalah kegiatan selama proses pembelajaran dan hasil belajar.

  1. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Langkah-langkah penelitiam yang akan dilaksanakan mengacu pada model Kemis dan Mc. Taggart (1988: 14). Setiap siklus tindakan meliputi perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.

  1. Pemilihan Setting dan Waktu Penelitian

Peneliti membuat desain (merancang) pembelajaran Seni Budaya. Peneliti sebagai guru yang mengampu mata pelajaran Seni Budaya sebagai pelaksana tindakan kelas (PTK) sedangkan guru lain sebagai kolaborator yang mengamati jalannya KBM (Kegiatan Belajar dan Mengajar).  Waktu yang digunakan untuk menyelesaikan penelitian tindakan kelas ini adalah pada September  s/d Desember 2014.

  1. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu:

  1. Pengamatan
  2. Dokumen
  3. Angket

Indikator Ketuntasan Belajar

Indikator ketuntasan hasil belajar siswa mengacu pada kriteria belajar tuntas sbb:

  1. Siswa telah belajar tuntas, jika mencapai KKM 76 atau secara klasikal mencapai prosentase keberhasilan 85%
  2. Siswa kreatif apabila mencapai nilai kreatifitas >= 4 dari kriteria kreatif atau secara klasikal mencapai prosentase 80 % siswa yang telah belajar tuntas.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan metode Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang terdiri atas minimal dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu: planning, acting, observing, dan reflecting.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Pembelajaran Sebelum Pelaksanaan

Sebelum pembelajaran pada siklus 1 dilaksanakan, telah dilaksanakan pengamatan pada siswa tentang kreatifitas dan hasil belajar pada pembelajaran seni rupa khususnya menggambar bentuk bebas sesuai dengan kemampuan siswa. Maka diperoleh prosentasi dan hasil belajar yang ternyata masih rendah. Berikut ini tabel data ketercapaian kreatifitas dan hasil belajar kondisi awal.

Tabel 1 : Kreatifitas Siswa pada Kondisi Awal

No Kualifikasi Indikator Indikator Indikator Indikator Indikator
1 2 3 4 5
1 Sangat tidak kreatif 0 0 0 0 0
2 Tidak kreatif 5 6 4 2 1
3 Cukup   kreatif 9 7 5 11 8
4 Kreatif 11 11 13 11 15
5 sangat kreatif 5 6 8 6 6
jumlah n>=4 16 17 21 17 21
Prosentase 53% 57% 70% 57% 70%
Rt-rt prosentase 61%

Akibat dari kreatifitas pada kondisi awal rendah, menyebabkan nilai hasil belajar dalam menggambar bentuk juga rendah. Hasil belajar pada kondisi awal hanya

18 yang termasuk kategori tuntas atau 60% sedangkan 12 siswa atau 40% belum    tuntas.

  1. Pelaksanaan Tindakan Siklus 1
    1. Perencanaan

Pada siklus 1 ini, kompetensi dasar yang direncanakan akan dilakukan oleh siswa adalah menggambar bentuk  dengan teknik pengamatan langsung pada model akan di gambar, obyek gambar satu buah dan dilihat oleh beberapa siswa.

Secara garis besar, rencana tindakan yang akan diberikan pada siklus 1:

Tabel 2:  Rangkuman Rencana Siklus 1

No Komponen Waktu Keterangan
1.

 

 

 

2.

 

 

3.

 

 

 

4.

 

 

 

 

 

5.

 

 

6.

 

7.

Apersepsi kelas

 

 

 

Penjelasan langkah-langkah menggambar bentuk

 

Persiapan praktek menggambar

 

 

Proses menggambar

 

 

 

 

 

Finishing

 

 

Evaluasi ,presentasi

 

Penghargaan, reword,penutup

10”

 

 

 

10”

 

 

10”

 

 

 

80”

 

 

 

 

 

20”

 

 

20”

 

10”

Guru menjelaskan tujuan pelajaran, memotivasi siswa, apersepsi dan mengaitkan dalam kehidupan sehari-hari

Guru menjelaskan langkah-langkah proses menggambar bentuk dan membuat kelompok-kelompok kecil

Siswa secara kelompok menyiapkan satu obyek sebagai model sedangkan peralatan gambar disiapkan secara individu

Siswa mengamati obyek yang sudah dipilih sesuai sudut pandang masing-masing lalu praktek menggambar secara individu dengan memperhatikan prinsip dan unsur menggambar.Guru membimbing secara individual.

Siswa menyelesaikan hasil akhir dalam hal gelap terang dan mempertegas bentuk

Siswa mempresentasi karya dan guru menilai hasil gambar

Guru mengumumkan karya terbaik dan memberi reward

 

  1. Deskripsi Data Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan pada siklus 1 dimulai pada pertemuan 1, Hari Jumat tanggal 3 Oktober 2014. Setiap pertemuan terdiri dari 2 jam pelajaran selama 80 menit. Secara rinci, pelaksanaannya sebagai berikut:

Pembukaan

Pelaksanaan pembelajaran dimulai dengan berdoa dan presensi kelas, diteruskan dengan guru menuliskan dan menjelaskan tujuan pembelajaran.Guru menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan pada jam tersebut, serta guru memberikan apersepsi dan motivasi dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

Inti

  • Kegiatan diawali dengan penjelasan materi gambar bentuk serta langkah-langkah menggambar yang benar.
  • Siswa mulai praktek menggambar diawali dengan membuat sketsa, membentuk sesuai model, membuat kesan tiga dimensi, dengan memperhatikan prinsip dan unsur seni.
  • Guru mengadakan pembimbingan bagi yang memerlukan baik secara individu maupun kelompok.
  • Siswa menyelesaikan hasil akhir (finishing)

Penutup

  • Merefleksi tentang kesulitan dan kreatifitas siswa
  • Memberi penghargaan pada siswa yang nilai karyanya tinggi dan memberi motivasi pada siswa yang nilainya belum tuntas.
  • Kegiatan ditutup dengan berdoa dan salam

Perolehan  hasil belajar menggambar bentuk pada siklus I yang tercapai dan terlampaui ada 21 siswa atau 70%, sedangkan siswa yang masih memiliki nilai rendah atau belum mencapai KKM 76  ada 30%  atau 9 siswa.

Dalam hal  ini penulis mencoba membandingkan antara hasil belajar pada kondisi awal dengan siklus I, yang dapat dilihat dari tabel di bawah ini:

Tabel 7: Rekapitulasi hasil penelitian gambar bentuk

Pada kondisi awal dan Siklus 1

KKM 76

No Diskripsi Nilai Jumlah siswa prosentase
kondisi awal Siklus I awal siklus I
1 Terlampaui 8 13 27% 43%
2 Tercapai 10 8 33% 27%
3 Belum Tercapai 12 9 40% 30%
Jumlah Siswa 30 30 100% 100%
Prosentase Ketercapaian 60% 70%

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil nilai gambar bentuk pada kondisi awal dibandingkan dengan hasil nilai gambar bentuk siklus I terjadi peningkatan prosentase ketercapaian dari 60% menjadi 70%.

  1. Observasi (pengamatan)

Kegiatan pengamatan obyek dalam menggambar bentuk ini diamati oleh observer dan didokumentasikan lewat foto. Pengamatan kreatifitas meliputi; Menguasai  sudut pandang; Kemampuan membuat sketsa, menampilkan bentuk benda, menggoreskan pensil dan  finishing gambar.

Tabel 8: Kreatifitas Siswa Siklus 1

No Kualifikasi Indiktr Indiktr Indiktr Indiktr Indiktr
1 2 3 4 5
1 Sangat tidak kreatif 0 0 0 0 0
2 Tidak kreatif 0 0 0 0 1
3 Cukup   kreatif 8 8 7 8 5
4 Kreatif 14 12 12 10 17
5 sangat kreatif 8 10 11 12 7
Jumlsh n>=4 22 22 23 22 24
Prosentase 73% 73% 77% 73% 80%
Rt-rt prosentase 75%

Dari tabel di atas terlihat bahwa kreatifitas paling tinggi adalah pada indikator kreatifitas finishing yaitu 80% atau 24 siswa, sedangkan  ketercapaian kreatifitas secara keseluruhan mencapai 75% atau 23 siswa.

Penulis mencoba membandingkan antara prosentase kreatifitas siswa antara kondisi awal dengan prosentase kreatifitas pada siklus I. Hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 9: Perbandingan antara kreatifitas pada kondisi awal

dengan kreatifitas pada siklus I

Kualifikasi Indiktr Indiktr Indiktr Indiktr Indiktr
1 2 3 4 5
 Kondisi -awal

 

jumlah n>=4 16 17 21 17 21
Prosentase 53% 57% 70% 57% 70%
Rt-rt prosentase 61%
 Siklus I jumlah n>=4 22 22 23 22 24
Prosentase 73% 73% 77% 73% 80%
Rt-rt prosentase 75%

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa prosentase kreatifitas pada kondisi awal dibandingkan dengan prosentase siklus I terjadi peningkatan prosentase ketercapaian kreatifitas dari 18 siswa atau 61% yang tergolong kreatif naik menjadi 23 siswa atau75%.

  1. Hasil Refleksi

Berdasarkan hasil pengamatan kreatifitas, hasil analisis nilai gambar,  dan hasil angket  pada siklus 1 diperoleh refleksi pembelajaran sebagai berikut:

  • Siswa masih kelihatan kurang serius dalam menggambar bentuk melalui pengamatan langsung karena satu model digambar oleh sekelompok siswa.Ada kecenderungan siswa untuk mencontoh hasil gambar temannya, padahal sudut pandang masing-masing berbeda.
  • Siswa yang kreatif terlihat sangat antusias dalam menggambar, karena mereka memahami unsur-unsur dan prinsip-prinsip  dalam seni rupa. Disamping itu mereka terbiasa membaca buku pelajaran dan buku-buku pendukung lainnya.
  • Siswa memerlukan bimbingan dan motivasi individu atau kelompok, sehingga guru Seni Budaya dan kolaborator ikut membantu membimbing siswa.
  • Secara klasikal, siswa mencapai prosentase kreatifitas 75% sehingga belum mencapai ketuntasan kelas sebanyak 80 %.
  • Prestasi rata-rata siswa 70% sehingga belum mencapai prosntasi ketercapaian klasikal rata-rata 85%. Hasil refleksi ini digunakan sebagai dasar untuk merevisi skenario pembelajaran siklus 1 untuk dilaksanakan pada siklus 2.
  1. Pelaksanaan Tindakan Siklus 2
  1. Perencanaan Tindakan siklus 2

Pada siklus 2 ini, kompetensi dasar yang direncanakan akan dikuasi oleh siswa adalah Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa murni menggambar 2. 2.

bentuk benda mati (sepatu) dengan melalui pengamatan langsung.

  1. Pelaksanaan Tindakan Siklus 2

Pelaksanaan tindakan pada siklus 2 dimulai pada pertemuan 1, Hari Jumat tanggal 24 Oktober 2014. Setiap pertemuan terdiri dari 2 jam pelajaran selama 80 menit, pertemuan berikutnya tanggal 31 Oktober 2014 Secara rinci, pelaksanaannya sebagai berikut:

  • Pembukaan

Pelaksanaan pembelajaran dimulai dengan berdoa dan presensi kelas, diteruskan dengan guru menuliskan dan menjelaskan tujuan pembelajaran.Guru menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan pada jam tersebut, serta guru memberikan apersepsi dan motivasi dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

2) Inti

  • Kegiatan diawali dengan penjelasan materi gambar bentuk serta langkah-langkah menggambar yang benar.
  • Siswa disuruh melepas salah satu sepatunya, lalu meletakkan dan mengatur model di meja dengan memperhatikan sudut pandang.
  • Masing-masing siswa menyiapkan peralatan menggambar lalu mulai mengadakan pengamatan langsung terhadap model yang akan digambar yaitu sebuah sepatu sesuai dengan sudut pandang dari tempat duduk masing-masing.
  • Siswa praktek menggambar diawali membuat sketsa, membentuk sesuai model, membuat kesan tiga dimensi, dengan memperhatikan prinsip dan unsur seni.
  • Guru mengadakan pembimbingan bagi yang memerlukan baik secara individu maupun kelompok.
  • Siswa menyelesaikan hasil akhir (finishing)
  • Siswa mempresentasikan atau menunjukkan karyanya di hadapan teman-temannya, guru menilai dan siswa lain memperhatikan.

3) Penutup

  • Merefleksi tentang kesulitan dan kreatifitas siswa
  • Memberi penghargaan pada siswa yang nilai karyanya tinggi dan memberi motivasi pada siswa yang nilainya belum tuntas.
  • Kegiatan ditutup dengan berdoa dan salam

Perolehan  hasil belajar menggambar bentuk pada siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 10: Rekapitulasi HasiI Penilaian Gambar Bentuk Pada Siklus 2

KKM 76

No Diskripsi Nilai Jumlah Prosentase
1 Terlampaui 22 73%
2 Tercapai 4 13%
3 Belum Tercapai 4 13%
Jumlah Siswa 30 100%
Prosentase Ketercapaian 87%

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil nilai gambar bentuk pada siklus II adalah , dari 30 siswa  yang mendapat nilai terlampaui ada 22 siswa atau 73%, tercapai dan belum tercapai masing-masing 4 siswa atau 13% . Maka prosentase kreatifitas siswa pada siklus II adalah 87%.  Untuk lebih jelasnya penulis akan membandingkan antara hasil penilaian gambar bentuk pada siklus I dengan siklus II. Pada tabel di bawah ini :

Tabel 11 : Rekapitulasi hasil penilaian gambar bentuk

Pada siklus dan siklusII

KKM.76

No Diskripsi Nilai Jumlah siswa prosentase
Siklus I Siklus II Siklus I siklus II
1 Terlampaui 13 22 43% 73%
2 Tercapai 8 4 27% 13%
3 Belum Tercapai 9 4 30% 13%
Jumlah Siswa 30 30 100% 100%
Prosentase Ketercapaian 70% 87%

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil nilai gambar bentuk pada kondisi siklus I dibandingkan dengan hasil nilai gambar bentuk siklus II terjadi peningkatan prosentase ketercapaian dari 70% menjadi 87%.

  1. Observasi (pengamatan)

Pada observasi pelaksanaan pembelajaran  siklus 2 dimulai dengan pengamatan suasana kelas, dimana siswa terlihat lebih siap dalam kegiatan belajar mengajar.Kemudian guru menyuruh siswa untuk menyiapkan peralatan menggambar , selanjutnya adalah guru menyuruh  siswa melepas salah satu sepatunya sebagai model,lalu diatur dan diletakkan di atas meja sesuai komposisi yang di inginkan.Siswa mengamati langsung obyek sepatu tersebut sesuai sudut pandang dari tempat duduk. Hal yang diamati meliputi bentuk sepatu, model sepatu, kesan bahan ( rasa bahan) dan  keunikan sepatu. Keseriusan mulai tampak, dibuktikan dengan suasana yang tenang, karena masing-masing siswa sibuk mengamati sepatu sendiri.

Kegiatan pengamatan obyek sangat leluasa karena satu siswa mengamati satu obyek sehingga kejujuran dan tanggungjawab siswa tinggi, yang berdampak pada siswa lancar dalam kegiatan menggambar bentuk. Semua langkah-langkah menggambar dilakukan oleh siswa dengan segenap kemampuannya.

Kolabor dan peneliti selalu mengamati kegiatan siswa terutama yang berhubungan dengan indikator kreatifitas. Maka diperoleh hasil pengamatan kreatifitas pada tabel di bawah in :

Tabel 12.  Rekapitulasi presentase Kreatifitas Siswa Siklus II

No Kualifikasi Indiktr Indiktr Indiktr Indikar Indiktr
1 2 3 4 5
1 Sangat tidak kreatif 0 0 0 0 0
2 Tidak kreatif 1 0 0 0 0
3 Cukup   kreatif 4 5 6 3 2
4 Kreatif 12 13 10 11 17
5 sangat kreatif 13 12 14 16 11
Jumlah n>=4 25 25 24 27 28
Prosentase 83% 83% 80% 90% 93%
Rt-rt prosentase 86%
Rt-rt Jml Siswa kreatif 26

Dari tabel di atas terlihat bahwa kreatifitas dalam hal pengamatan dari sudut pandang masing-masing tampak ada 1 siwa yang masih kurang kreatif, paling tinggi adalah pada indikator kreatifitas menggoreskan pensil  yaitu mencapai angka 90% .Prosentase kreatifitas siswa secara keseluruhan mencapai 86% atau 23 siswa. Hal ini sangat bagus, karena target Pencapaian kreatifitas dari penulis adalah 85%.

Tabel 13: Perbandingan antara kreatifitas pada siklus I

dengan kreatifitas pada siklus II

Kualifikasi Indiktr Indiktr Indiktr Indiktr Indiktr
1 2 3 4 5
 Siklus I jumlah n>=4 22 22 23 22 24
Prosentase 73% 73% 77% 73% 80%
Rt-rt prosentase 75%
              Rt-rt Jml Siswa kreatif                                                    23
Jumlah n>=4 25 25 24 27 28
Prosentase 83% 83% 80% 90% 93%
Rt-rt prosentase 86%
Rt-rt Jml Siswa kreatif 26

Pada tabel di atas diketahui perbandingan tingkat kreatifitas pada siklus I rata-rata prosentase 75% atau sebanyak 23 siswa tergolong kreatif, dan pada siklus II mengalami kenaikan menjadi 86% atau sebanyak 26 siswa yang tergolong kreatif.

  1. Hasil Refleksi

Berdasarkan hasil pengamatan,dan hasil analisis siklus 2 diperoleh refleksi pembelajaran sebagai berikut:

  1. Siswa nampak kreatif, serius, dan gembira dalam praktek menggambar bentuk melalui pengamatan langsung dimana obyek yang digambar adalah sepatu sendiri, sehingga lebih leluasa dalam mengamati. Kemandirian sudah tampak, tidak ada kecenderungan siswa untuk mencontoh hasil gambar temannya, karena jenis obyek berbeda-beda.
  2. Siswa yang kreatif terlihat sangat antusias dalam menggambar, karena mereka memahami unsur-unsur dan prinsip-prinsip  dalam seni rupa yang sangat mendukung keberhasilan gambar bentuk siswa.
  3. Siswa memerlukan bimbingan dan motivasi individu atau kelompok, sehingga guru Seni Budaya dan kolaborator ikut membantu membimbing siswa.
  4. Secara klasikal, siswa yang belajar tuntas 87%, sehingga sudah mencapai prosentase ketuntasan kelas sebanyak 85 %.

Hasil refleksi ini digunakan sebagai dasar untuk merevisi skenario pembelajaran siklus 1 untuk dilaksanakan pada siklus 2.

  1. Pembahasan

Dalam pembahasan penelitian ini Pada awal siklus, telah dilaksanakan pengamatan pada siswa tentang kreatifitas dan hasil belajar  mata pelajaran seni rupa khususnya menggambar bebas, dengan  cara dan obyek di bebaskan sesuai dengan kemampuan siswa.Maka diperoleh prosentasi kreatifitas dan hasil belajar yang masih rendah.Hal tersebut mendasari pelaksanaan siklus 1 .

  1. Pada siklus 1  terdapat kenaikan kreatifitas siswa  dengan jumlah siswa yang kreatif 23 siswa atau 75%.Dibandingkan dengan kreatifitas siswa pada kondisi awal dengan jumlah siswa sebanyak 21 atau 60%.Tingkat ketercapaian kreatifitas dan hasil belajar meningkat, tetapi masih  tetapi belum mencapai target 80%, sehingga dilanjutkan pada siklus 2.
  2. Pada siklus 1 juga terdapat kenaikan hasil belajar dengan jumlah siswa tuntas 21 siswa atau 70% yang tuntas dibandingkan dengan hasil pada kondisi awal yang hanya mencapai 60% .Tingkat ketercapaian kreatifitas dan hasil belajar lebih meningkat dan memenuhi target, sehingga ditentukan dalam penelitian ini seluruhnya tercapai setelah siklus II berakhir, dengan demikian siklus tidak dilanjutkan.
Indikator Kinerja Kondisi Awal Siklus 1 Siklus 2
Kreatifitas Sekurang-kurangnya 80% peserta didik SMP Negeri 3 Kebasen kelas IX A kreatif dalam pembelajaran menggambar desain batik melalui media visual, dengan mencapai rata-rata skor ≥4 61 75 86
Hasil Belajar Sekurang-kurangnya 85% peserta didik SMP Negeri 3 Kebasen kelas IX A kreatif dalam pembelajaran menggambar desain batik melalui media visual, dengan mencapai rata-rata skor ≥76 60 70 87

4-1

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa: Pembelajaran menggambar bentuk melalui pengamatan langsung dapat meningkatkan kreatifitas dan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan ketuntasan hasil belajar naik secara signifikan yaitu pada siklus 1sebesar 70% menjadi 87% pada siklus 2. Rata-rata kreatifitas naik  yaitu pada siklus 1 sebesar 75% menjai 86% pada siklus 2.

 

DAFTAR PUSTAKA

Asri Budiningsih, C.  (2004). Belajar dan pembelajaran. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Pendidikan UNY.

Sudjana, Nana.(2011). Penilaian hasil proses belajar mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Slameto  (2003). Pengertian belajar. Diakses tanggal 24 September 2014 dari https://biologymayscience.wordpress.com/2011/03/17/

pengertian-dan-ciri-ciri-belajar/

Webster dalam Anik Pamilu (2007: 9) kreativitas https://www.google.com/?gws_rd=ssl#q=Pengertian+kreatif+Webster+dalam+Anik+Pamilu+

BIODATA PENULIS

 

Nama                                                    : Kanti Wigati, S.Pd

Nip                                                         : 19680516 199802 2 004

Tempat tgl lahir                                 : Banyumas, 16 Mei 1968

Pangkat/gol/ruang                          : Pembina/ IV.a

Unit kerja                                            : SMP Negeri 3 Banyumas




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *