infopasti.net

PTK SD Model Demonstrasi IPA Materi Pokok Cahaya dan Sifatnya

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN  DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI POKOK CAHAYA DAN SIFAT-SIFATNYA PADA SISWA KELAS V  SDN SIDAYU 01 UPT DISDIKPORA KECAMATAN BINANGUN

nasim

ABSTRAK

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas V SDN Sidayu 01 semester dua pada materi pokok cahaya dan sifat-sifatnya. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Pada setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, dianataranya adalah tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.  Pada observasi awal didapat bahwa siswa yang aktif atau mengalami ketuntasan belajar adalah sebanyak  13 siswa atau 46,43% dari 21 jumlah siswa. Setelah dilaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus I jumlah siswa yang aktif atau mengalami ketuntasan belajar meningkat menjadi 15 siswa atau 53,57%, dari 21 siswa dan setelah dilaksanakn tindakan pada siklus ke dua aktifitas belejar siswa meningkat sesuai dengan target yaitu siswa yang aktif atau mengalami ketuntasan belajar menjadi 19 siswa atau 90,82% dengan nilai rata-rata 77,7. Ini berarti penerapan implementasi model  pembelajaran Demonstrasi cukup berhasil.

Kata kunci: Hasil Belajar IPA, Cahaya dan Sifat-sifatnya, Metode Demonstrasi

 

PENDAHULUAN

Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiri) untuk menumbuhkan kemampuan berfikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD menekankan pada pemberian pengalaman belajar langsung melalui penggunaan dan pengembangan ketrampilan proses dan sikap ilmiah.

Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SD merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh  peserta didik dan menjadi acuan dalam  pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.

Uraian di atas oleh peneliti digunakan sebagai dasar untuk menentukan strategi, media, metode dalam pembelajaran IPA di kelas V SD Negeri Sidayu 01 UPT Disdikpora Kec Binangun. Karena pada pembelajaran IPA materi”Cahaya dan sifat-sifatnya” hasil evaluasinya rendah sehingga tidak mencapai ketuntasan minimal yang telah ditetapkan yaitu 67. Pada observasi awal didapat bahwa siswa yang aktif atau mengalami ketuntasan belajar adalah sebanyak  13 siswa atau 46,43% dari 21 jumlah siswa, rata-rata nilai 59,77. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis merencanakan untuk melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Berdasarkan hasil identifikasi bersama dengan teman sejawat diketahui bahwa materi pembelajaran ”Cahaya dan Sifatnya”  merupakan materi yang belum dikenal sebelumnya. Siswa masih terbawa oleh cerita – cerita bahwa pelangi adalah selendang para Bidadari dari langit. Terbukti dari pertanyaan guru “ Apakah Pelangi itu?“ Terdapat beberapa anak yang menjawab bahwa pelangi berasal dari selendang Bidadari.

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka perlu diadakan pemecahan masalah yang serius, agar penelitian Tindakan Kelas berjalan dengan lancar, masalah di atas akan dipecahkan  dengan menerapkan implementasi model pembelajaran Demonstrasi, khusunya pada materi cahaya dan sifatnya.

KAJIAN PUSTAKA

HakekatPembelajaran

Penggunaan metoda yang tepat dalam mengajar, akan dapat memotivasi dan meningkatkan prestasi belajar siswa”(Winataputra, 1997: 44). Dalam pembelajaran IPA di Sekolah Dasar berbagai macam metode dapat digunakan. Dalam pembelajaran IPA jika anak langsung mempraktekkan apa yang sedang dipelajari maka anak akan menemukan langsung pengalaman yang digali melalui proses dalam praktek IPA. Dengan demikian pengalaman tersebut akan tertanam dalam diri anak dan tidak mudah terlupakan. Dalam Penelitian Tindakan Kelas penulis menekankan pendekatan ini dengan harapan agar tidak sesuai pepatah Cina Kuno :

                  Saya mendengar,  maka saya lupa

                  Saya melihat , maka saya tahu

                  Saya melakukan, maka saya ingat

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh setelah mengalami aktifitas (Tri Anni, 2004;4 ).Memang betul teori diatas, karena perubahan tingkah laku siswa yang terjadi merupakan bukti telah terjadi proses belajar mengajar, dan ini merupakan hasil belajar yang telah dilakukan.

Model Pembelajaran Demonstrasi

Mengajar didepan kelas tidak terlepas dari metode, karena metode atau cara didalam menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa, ada beberapa pendapat tentang metode pembelajaran.

  1. Menurut Subijanto (1990;40) bahwa metode mengajar menyangkut pengertian yang luas dan merupakan garis-garis besar.
  2. Menurut Udin S.Wiranata (1992;217) bahwa metode mengajar diartikan sebagai cara menyajikan atau mengantarkan materi pelajaran.
  3. Menurut Nana Sujana (2000;76) bahwa metode adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa saat berlangsungnya pembelajaran.

Dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti menggunakan metode demonstrasi secara bervariasi dengan metode-metode lain seperti ceramah, tanya jawab, diskusi dan pemberian tugas pada saat menyampaikan latihan

Metode Demonstrasi

Metode demontrasi adalah cara menyampaikan pelajaran kepada siswa lebih mengedepankan melakukan perbuatan atau praktek dari pada ceramah. Menurut Hisyam Zaini bahwa metode demonstrasi digunakan sebagai cara untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dengan mencoba berbuat, atau tindakan terhadap sesuatu. Jadi aktifitas siswa lebih banyak berpraktek dan mengamati dari pada mendengarkan penjelasan guru. Beberapa hal yang dapat menunjang keberhasilan Metode Demonstrasi dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :

  1. Peralatan mudah
  2. Siswa dengan mudah mempraktekkan alat tersebut.
  3. Siswa yang melakukan praktek benar-benar sudah siap.
  4. Semua harus mendapatkan
  5. Tujuan yang akan dicapai hendaknya jelas.
  6. Setiap tahapan hendaknya sudah dapat diukur keberhasilannya, sehingga tahapan berikutnya dapat dilanjutkan.

METODE PENELITIAN

Penelitian Tindakan Kelas ini akan dilaksanakan di SDN Sidayu 01 UPT Disdikpora Kecamatan Binagun. Subjek penelitian siswa kelas V yang berjumlah 21 siswa terdiri dari L:11, P: 10, dengan latar belakang orang tua siswa yang berbeda-beda dan berpengaruh sekali pada tingkah laku dan pola pikir siswa /siswi.

        Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam dua Siklus, yaitu Siklus I dan Siklus II, yang terdiri dari 2 X pertemuan, Siklus I dilaksanakan pada tanggal, 8 dan 10 Februari 2016, dan Siklus II dilaksankan pada tanggal  15 dan 17 Februari 2016.

Faktor-faktor yang diteliti dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah:

  1. Implementasi model pembelajaran Demostrasi terhadap siswa kelas V dengan materi Cahaya dan Sifatnya pada mata pelajaran IPA.
  2. Ketrampilan guru dalam penggunaan model pembelajaran
  3. Keaktifan siswa dalam pembelajaran IPA khusunya Cahaya dan Sifatnya, pada mata pelajaran IPA yang menerapkan model pembelajaran
  4. Hasil belajar siswa setelah peneggunaan pendekatan Model Demonstrasi dalam pembelajaran IPA khususnya Cahaya dan Sifatnya.

Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas terdiri dari

  1. Perencanaan :

Menentukan materi pelajaran dari silabus kelas V semester 2, 1). Menyusun RPP sesuai dengan Indikator, 2). Menyiapkan alat peraga yang diperlukan. 3). Menyiapkan Lembar Kerja Siswa. 4). Menyiapkan alat evaluasi.

  1. Pelaksanaan Tindakan

Melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dalam bentuk siklus-siklus yang akan dilaksanakan. Masing-masing siklus tidak sama waktu pelaksanaannya, dan masih saling terkait antara siklus yang satu dengan siklus lainnya.

  1. Observasi

Kegiatan observasi dilaksanakan secara kolaboratif dengan observer lainnya untuk mengamati tingkah laku dan sikap siswa pada saat pembelajaran berlangsung.

  1. Refleksi

Refleksi dilaksnakan untuk menganalisa sejauh mana indikator yang dapat dicapai pada tiap-tiap siklus, indikator yang belum tercapai dapat dilanjutkan pada siklus berikutnya. Teknik pengumpulan data dilaksanakan dengan tes formatif sebanyak 10 soal,  dan pnilaian  sekor 1 X 10.  Pada proses pengamatan, pengamat mengamati proses pembelajaran yang difokuskan pada kegiatan guru dalam menerapkan metode eksperimen dengan kaca kristal. Pengamat menulis semua temuan pada proses pembelajaran sampai hasil perolehan siswa.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Data penelitian yang telah terkumpul akan dianalisis guna mencapai tujuan penelitian. Tehnik analisis dengan menggunakan teknik deskriptif komperatif yang dilanjutkan dengan refleksi.

Deskripsi Hasil Siklus I

Seperti yang sudah diuraikan bahwa kegiatan siklus I terdiri dari 4 tahapan, yaitu, perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pada tahap perencanaan, data yang diperoleh berupa rencana perbaikan pembelajaran (RPP) yang di dalamnya tercakup komponen skenario pembelajaran yang akan diimplementasikan, seperangkat instrument yang akan digunakan untuk pengumpulan data dan data pendukung pembelajaran berupa lembar kerja siswa (LKS).

Pada tahap pelaksanaan tindakan, data yang diperoleh berupa rekapitulasi keaktifan siswa dan nilai tes formatif pembelajarandan keaktifan belajar hal ini dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel .1  Rekapitulasi Basil Belajar Siswa Data Awal dan Siklus I

No Prestasi Belajar Pra Siklus Siklus I
1 KKM 67 67
2 Jumlah Nilai 1192 1.491
3 Rata-rata Kelas 59,77 67,63
4 Nilai Tertinggi 80 85
5 Nilai Terendah 55 60
6 Tuntas 40,9 % 61,9%
7 Belum Tuntas 59,1 % 38,1%
8 Jumlah Siswa 21 21

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa keaktifan siswa dari rekapitulasi tersebut, tampak bahwa penggunaan implementasi model pembelajaran Demontrasi emeningkat. Hal ini terlihat pada study awal menunjukan rendahnya keaktifan siswa yang mencapi tuntas KKM yaitu 40,9 %, setelah diadakan tindakan pada Siklus I pembelajaran menunjukan peningkatan yaitu   59,1 %  siswa yang aktif  atau tuntas KKM.

Deskripsi Hasil Siklus II

Setelah mengakomodasi masukan dari siklus I, dalam pelaksanaan perbaikan siklus II, peneliti  memncoba menyempurnakan tindakan perbaikan. Dalam siklus II ini pemecahan masalah dengan penggunaan implementasi model pembelajaran Demonstrasi menunjukan kenaikan yang signifikan untuk semua sektor. Hasil ini terlihat dari data hasil perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.  Data hasil perencanaan pada tahap perencanaan data yang diperoleh berupa RPP siklus II, yang di buat dengan tambahan sesuai perubahan-perubahan perbaikan setelah mengakomodasikan masalah dari silkus I yaitu seperangkat instrument yang akan digunakan dalam pengumpulan data dan pendukung pembelajaran berupa LKS.

Data hasil pelaksanaan pada tahap  tindakan Siklus II data yang diperoleh berupa rekapitulasi keaktifan siswa dan nilai tes formatif pembelajaran hal ini dapat dijelaskan pada tabel berikut ini:

Tabel 2 Rekapitulasi Perbandingan data Per Siklus

No Prestasi Belajar Pra Siklus Siklus I Siklus II
1 KKM 67 67 67
2 Jumlah Nilai 1192 1.491 1632
3 Rata-rata Kelas 59,77 67,63 77,71
4 Nilai Tertinggi 80 85 95
5 Nilai Terendah 20 60 70
6 Tuntas 40,9 % 61,9% 90,48%
7 Belum Tuntas 59,1 % 38,1% 9,52%
8 Jumlah Siswa 21 21 21

Dari tabel di atas dapat diterangkan   bahwa pada siklus I nilai rata-rata kelas 67,63 siswa yang tuntas KKM 61,9 % dan belum tuntas 38, 1 %,  setelah dilakukan perbaikan dengan mengakomodasikan kelemahan pada siklus I, nilai rata-rata kelas pada siklus II mengalami kenaikan menjadi 77,71 rata-rata kelas naik 10,8 dari siklus I dan siswa yang mengalami keaktifan atau tuntas KKM 90, 48 % dan belum tuntas 9,52 %.  Jika dibandingkan dengan  studi awal, siswa yang aktif atau mengalami ketuntasan belajar adalah sebanyak  13 siswa atau 46,43% dari 21 jumlah siswa. Secara lebih jelas akan disajikan dalam grafik 4.1 berikut ini.

nasimm

Gambar 1 Histogram Presentase Hasil Belajar Pra Siklus Siklus I dan Siklus II

Dari gambar histogram diatas dijelaskan bahwa  terjadi peningkatan yang signifikan, dari mulai tindakan Siklus I sampai dengan Siklus II, yaitu dari data awal siswa yang mencapai ketuntasan KKM hanya 40,9 % meningkat menjadi 61,9 % pada Siklus I atau naik 21 %, dan setelah dilaksanakan tindakan pada Siklus II, prestasi belajar siswa lebih meningkat, yaitu siswa yang mencapai ketuntasan KKM menjadi 90,48 %, atau naik 28,58 %.

Dari hasil penelitian tindakan kelas dengan menerapkan implementasi pembelajaran model Demonstrasi, pada materi pokok cahaya dan sifat-sifatnya dinyatakan sudah berhasil. Hal ini terlihat adanya peningkatan-peningkatan yang signifikan pada setiap ahir tindakan.

PENUTUP

Kesimpulan

          Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa pembalajaran dengan menerapkan pembelajaran model Demonstrasi di kelas V SD Negeri Sidayu 01, pada pelajaran IPA materi pokok cahaya dan sifat-sifatnya, mendorong siswa melakukan aktivitas belajar mengajar dengan baik, sehingga memacu siswa untuk memperoleh prestasi belajar yang memuaskan. Hal ini terlihat dari hasil tindakan dari mulai tindakan Pra Siklus sampe Siklus II, yakni studi pada studi awal, siswa yang aktif atau mengalami ketuntasan belajar adalah sebanyak  13 siswa atau 46,43% dari 21 jumlah siswa, pada Siklus I meningkat menjadi nilai rata-rata kelas 67,63 siswa yang tuntas KKM 61,9 % dan belum tuntas 38, 1 %, dan setelah diadakan perbaikan pada Siklus II prestasi belajar siswa mengalaami peningkatan yang signifikan yaitu keaktifan atau tuntas KKM  menjadi 90, 48 % dan belum tuntas 9,52 %, dan nilai rata-rata kelas 77, 71. Dengan demikian penerapan implementasi pembelajaran model Demonstrasi dinyatakan berhasil.

Saran-saran

              Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh setelah melaksanakan penelitian tindakan kelas dalam upaya untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada materi pokok cahaya dan sifat-siftanya dengan menerapkan implementasi pembelajaran model demonstrasi, maka peneliti dapat memberikan saran sebagi berikut :

  1. Metode Demonstrasi cepat digunakan guru sebagai variasi dalam metode pembelajaran
  2. Dalam penggunaannya, sebaiknya guru merencanakannya dengan tujuan yang jelas, mempersiapkan hal-hal yang akan digunakan dengan maksimal, membantu siswa dalam melaksanakan praktek atau eksperimen, dan meminimalkan resiko buruk yang akan terjadi. Dengan demikian waktu yang digunakan dapat efisien dan praktek yang digunakan dapat efektif dan bermanfaat.
  3. Dalam penyampaiannya guru harus tegas dan kreatif dan jelas agar siswa paham dan mampu mempraktekanya sendiri, serta mampu menggunakan cahaya sebagais umber penerangan, misal pada malam hari perlu adanya penerangan untuk lingkungan sekitar.

 

DAFTAR PUSTAKA

Winataputra. 1997. Konsep Dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.

Tri Anni, 2004. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Subijianto, 1990. Stasistik dan Metode Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Belajar

Udin S Wiranata, 1992. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka

Sudjana, Nana. 2000. Dasar – Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algesindo.

BIODATA

Nama               : Nasim, S.Pd

NIP                    : 19610101 198304  1 014

Pangkat/gol     : Pembina IV/a

Unit Kerja        : SDN Sidayu 01 UPT Disdikpora Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *