http://www.infopasti.net/interkoneksi-dan-integrasi-pendidikan-budi-pekerti-dan-karakter-dalam-kepramukaan/

PTS Interkoneksi dan Integrasi Pendidikan Budi Pekerti

INTERKONEKSI DAN INTEGRASI PENDIDIKAN BUDI PEKERTI DAN KARAKTER DALAM KEPRAMUKAAN

sokhibul

Di era modern dewasa ini generasi muda sering dipertanyakan kadar jiwa nasionalisme dan patriotismenya Arti penting pramuka begitu komplek syarat dengan muatan karakter sehingga posisinya cukup strategis dalam membentuk jati diri tangguh yang diyakini mampu menjawab tantangan jaman. Organisasi ini sangat tepat sebagai wadah untuk menyalurkan bakat, minat dan kemampuan serta mampu menumbuhkan nilai-nilai karakter, rasa kebersamaan antar anggota. Uraian berikut menyuguhkan pentingnya gerakan pramuka sebagai salah satu alternatif mengatasi multi krisis generasi muda.

 

Latar Belakang

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 81A tahun 2013 lampiran III menyebutkan bahwa dalam kurikulum 2013, kepramukaan ditetapkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib dari sekolah dasar (SD/MI) hingga sekolah menengah atas (SMA/SMK). Ekstrakurikuler wajib merupakan ekstrakurikuler yang harus diikuti oleh peserta didik, terkecuali peserta didik dengan kondisi tertentu yang tidak memungkinkan untuk mengikuti ekstrakurikuler tersebut.

Pengembangan kegiatan ekstrakurikuler pramuka memiliki fungsi sosial, rekreatif, dan persiapan karir. Selain itu juga berfungsi untuk mendukung perkembangan personal peserta didik melalui perluasan minat, pengembangan potensi siswa, dan memberikan kesempatan kepada siswa dalam pembentukan karakter serta pelatihan kepemimpinan. Selain itu juga berfungsi untuk mengembangkan rasa tanggung jawab sosial peserta didik. Hal ini dilakukan dengan cara memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperluas pengalaman sosialnya, dilakukan dengan cara praktik secara langsung mengimplementasikan nilai moral dan nilai sosial tersebut.

Namun sekarang ini dalam kenyataannya semakin banyak jumlah remaja yang terjebak kedalam perilaku menyimpang dan berpredikat sebagai penyandang masalah sosial. Mereka telah berlutut dan menghambakan dirinya kepada tata nilai asing. Mereka  berpotensi menimbulkan berbagai problema sosial di masyarakat. Di samping itu secara internal terdapat pula ketidaksiapan mental dan rohani pada sebagian remaja, sehingga mereka gagal untuk mempertahankan diri dari pengaruh negatif yang menyesatkan

Banyak remaja sekarang yang melupakan idiologi bangsa sendiri, banyak di antara mereka yang lebih mengutamakan kesenangan semata. Ini dapat kita lihat dari fakta banyaknya remaja yang terjerumus ke dalam pergaulan bebas, minum-minuman keras, narkoba, geng motor, seks bebas dan perilaku negatif lainnya yang bertentangan dengan norma agama dan adat keindonesiaan. Ini merupakan salah satu bentuk degradasi moral generasi bangsa Indonesia.

Degradasi moral yang terus menerus terjadi pada generasi bangsa ini dan nyaris membawa bangsa ini pada kehancuran, baik secara pribadi, masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya  nilai budaya bangsa yang mulai pudar, nilai-nilai kehidupan telah bergeser dari tatanannya,  budaya malu hampir musnah pada tiap tingkatan masyarakat, melemahnya kemandirian bangsa, dan manajemen keterbatasan perangkat. Budaya korupsi yang seakan telah mengakar pada kehidupan bangsa ini mulai dari tingkat kampung hingga pejabat tinggi negara, penyalahgunaan dan peredaran narkoba yang semakin menjalar, tawuran antar pelajar dan berbagai kejahatan yang telah menghilangkan rasa aman setiap warga, merupakan bukti nyata akan degradasi moral generasi bangsa ini.

Dalam upaya menghadapi problem yang begitu rumit dan kompleks seperti itu diperlukan adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia khususnya terlatak pada karakter individu tersebut. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan, dari SD sampai Perguruan Tinggi, salah satunya dengan Kepramukaan.

Dari sini Pramuka memiliki peran sangat penting untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan cara melaksanakan semua prinsip dasar yang sudah tertuang pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Sehingga, dengan begitu problema di masyarakat yang sebagian besar dialami dan disebabkan oleh kaum muda dapat diminimalisir bahkan dimusnahkan agar tercipta masyarakat yang makmur dan terorganisir dengan baik, serta terjaganya generasi muda dari segala bentuk ancaman era globalisasi yang semakin besar yang dapat menjerumuskan generasi muda kita.Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan dipaparkan hubungan saling terkait (interkoneksi) dan keterpaduan (integrasi) antara nilai pendidikan agama, budi pekerti dan karakter yang terkandung dalam kegiatan Kepramukaan.

Pengertian dan Arti Penting Pendidikan Karakter

  1. Karakter

Pembentukan karakter merupakan salah satu fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Pada Bab II Pasal 3 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 dinyatakan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Menurut bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Sedangkan menurut ahli psikologi karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu.

     (Munif. 2012. http://myupangg99.wordpress.com/html).

Dari dua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi kebiasaan serta ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

  1. Pendidikan

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1976) pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu mempunyai pola pikir dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya.

Prof. H. Mahmud Yunus (dalam Munif, 2012) menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha-usaha yang sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak dengan tujuan peningkatan keilmuan jasmani dan akhlak sehingga secara bertahap dapat mengantarkan si anak kepada tujuannya yang paling tinggi, agar si anak hidup bahagia serta seluruh apa yang dilakukanya menjadi bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menyiapkan peserta didik melalui proses pembelajaran, kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk peranannya di masa yang akan datang.

  1. Pendidikan Karakter

Merujuk pada pengertian karakter dan pendidikan sebagaimana telah diuraikan di atas, maka dapat dipahami bahwa Pendidikan karakter merupakan usaha sadar dan terencana untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi dari masing-masing individu untuk membentuk suatu pemikiran yang tertanam dalam dirinya sebagai suatu kebiasaan. Tentunya tujuan dari pendidikan karakter itu sendiri lebih kearah yang positif.

Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

Pendidikan karakter yang utuh dan menyeluruh tidak sekedar membentuk anak-anak muda menjadi pribadi yang cerdas dan baik, melainkan juga membentuk mereka menjadi pelaku baik bagi perubahan dalam hidupnya sendiri, yang pada gilirannya akan menyumbangkan perubahan dalam tatanan sosial kemasyarakatan

Menurut Mendiknas (sekarang mantan), Prof. Muhammad Nuh, pembentukan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Jika karakter sudah terbentuk sejak usia dini, maka tidak akan mudah untuk mengubah karakter seseorang. Ia juga berharap, pendidikan karakter dapat membangun kepribadian bangsa.

Dalam tujuan pendidikan nasional,  pendidikan karakter merupakan gambaran tentang kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh satuan pendidikan, serta menjadi dasar dalam mengembangkan pendidikan karakter bangsa. Pendidikan karakter lebih mudah  diberikan pada usia dini, hal ini akan mudah diterima dan tersimpan dalam memori anak,  akan membawa pengaruh pada perkembangan watak dan pribadi anak hingga dewasa.

Daniel Goleman dalam  bukunya Multiple Intelligences, dan Emosional Intelligence (1999) (dalam Sutarjo Adisusilo : 79) menyebutkan bahwa pendidikan karakter merupakan pendidikan nilai, yang mencakup 9 nilai dasar yang saling terkait yaitu : 1) Responsibility (tanggung jawab), 2) Respect (rasa hormat), 3) Fairness (keadilan), 4) Courage (keberanian), 5) Honesty (kejujuran), 6) Citizenship (rasa kebangsaan), 7) Self-discipline (disiplin diri), 8) Caring (peduli), 9) Perseverance (ketekunan)

Dalam pandangan Daniel, jika pendidikan berhasil menginternalisasikan kesembilan nilai tersebut dalam diri peserta didik, maka akan terbentuk seorang pribadi yang berkarakter dan pribadi yang berwatak.

Konsep Dasar Kepramukaan

  1. Sejarah Singkat Kepramukaan

Pramuka merupakan singkatan dari Praja Muda Karana yang berarti kaum muda yang suka berkarya. Di Indonesia sendiri penggunaan istilah “Pramuka” baru resmi digunakan pada tahun 1961. Akan tetapi gerakan pramuka sejatinya telah ada sejak jaman penjajahan Belanda dengan nama kepanduan yang didirikan oleh Mayor Jenderal Robert Baden Powell.

Sejarah pramuka di Indonesia dianggap lahir pada tahun 1961. Hal tersebut didasarkan pada Keppres RI No. 112 tahun 1961 tanggal 5 April 1961, tentang Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka dengan susunan keanggotaan seperti yang disebutkan Presiden pada 9 Maret 1961.

Peringatan hari Pramuka diperingati pada setiap tanggal 14 Agustus dikarenakan pada tanggal 14 Agustus 1961 adalah hari dimana Gerakan Pramuka diperkenalkan di seluruh Indonesia, sehingga ditetapkan sebagai hari Pramuka yang diikuti dengan pawai besar. Pendirian gerakan ini pada tanggal 14 Agustus1961 sedikit-banyak diilhami oleh Komsomoldi Uni Soviet. Sebelumnya presiden juga telah melantik Mapinas, Kwarnas, dan Kwarnari

Dalam AD/ART (Azrul Azwar, 2009) disebutkan bahwa gerakan pramuka yaitu Gerakan Kepanduan Praja Muda Karana, yang mana lembaga pendidikan kaum muda yang didukung oleh orang dewasa. Gerakan pramuka menyelenggarakan pendidikan kepramukaan sebagai cara mendidik kaum muda dengan bimbingan orang dewasa.

Menurut H.A Riva’i Harahap, kepramukaan merupakan proses pendidikan luar lingkungan sekolah dan di luar keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis, yang dilakukan di alam terbuka dengan prinsip dasar kepramukaan dan metode Kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak, dan budi pekerti luhur.

Kepramukaan pada hakekatnya adalah suatu proses pendidikan yang menyenangkan bagi anak muda, di bawah tanggungjawab anggota dewasa, yang dilaksanakan di luar lingkungan pendidikan sekolah dan keluarga, dengan tujuan, prinsip dasar dan metode pendidikan tertentu.

Gerakan Pramuka adalah suatu gerakan pendidikan untuk kaum muda, yang bersifat sukarela, nonpolitik, terbuka untuk semua, tanpa membedakan asal-usul, ras, suku dan agama, yang menyelenggarakan kepramukaan melalui suatu sistem nilai yang didasarkan pada Satya dan Darma Pramuka

  1. Sifat, Fungsi, Tujuan dan Prinsip Pramuka

Sifat Kepramukaan

  • Nasional, berarti bahwa kepramukaan untuk kepentingan nasional atau bangsa.
  • Internasional, berarti bahwa kepramukaan dikembangkan rasa bersaudara dengan sesama pramuka di dunia, dengan sasaran akhir tercapainya perdamaian dunia.
  • Universal, berarti bahwa semua organisasi pramuka di dunia menggunakan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan, yang merupakan ciri khasnya.
  1. Fungsi Kegiatan Pramuka
  • Kegiatan menarik bagi anak atau pemuda.

Kegiatan menarik di sini dimaksudkan kegiatan yang menyenangkan dan mengandung pendidikan.Karena itu permainan harus mempunyaitujuan dan aturan permainan, jadi bukan kegiatan yang hanya bersifat hiburan saja.

  • Pengabdian bagi orang dewasa.

Bagi orang dewasa kepramukaan bukan lagi permainan, tetapi suatu tugas yang memerlukan keikhlasan, kerelaan, dan pengabdian.Orang dewasa mempunyai kewajiban untuk secara sukarela membaktikan dirinya demi suksesnya pencapaian tujuan organisasi.

  • Alat bagi masyarakat dan organisasi.

Kepramukaan merupakan alat bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dan juga alat bagi organisasi untuk mencapai tujuan organisasinya

  1. Tujuan Kepramukaan

Gerakan Pramuka bertujuan untuk membentuk setiap pramuka yang:

  • memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, berkecakapan hidup, sehat jasmani, dan rohani;
  • menjadi warga negara yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup dan alam lingkungan.
  1. Prinsip Dasar Pendidikan Pramuka
  • Iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  • Peduli terhadap bangsa, negara, sesama manusia dan alam serta isinya.
  • Peduli terhadap diri sendiri.
  • Taat kepada kode kehormatan pramuka

Nilai Pendidikan Karakter Dalam Kegiatan Pramuka

Sesungguhnya nilai-nilai pendidikan karakter dalam kepramukaan sudah sangat jelas terlihat pada  10 Darma Pramuka yang kalau dirinci di dalamnya memuat 24 karakter, yaitu bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa (religius), cinta alam, kasih sayang sesama manusia, patriot, sopan, ksatria, patuh, suka bermusyawarah, rela menolong, tabah, rajin, terampil, gembira, hemat, cermat, bersahaja, disiplin, berani, setia, bertanggung jawab, dapat dipercaya, suci dalam pikiran, suci dalam perkataan, suci dalam perbuatan.

Semua unsur karakter sebagaimana tersebut di atas merupakan Komponen yang sangat penting dalam rangka pembinaan dan pembentukan karakter (watak) peserta didik dalam kegiatan Pramuka, yang kalau dirinci lagi mancakup 10 (sepuluh) komponen pokok, yaitu:

  1. Akhlak Mulia, antara lain rendah hati, lemah lembut, jujur, cinta damai, penyayang, berani mengakui kesalahan dan tidak cemburu.
  2. Budi pekerti santun, berarti memiliki watak, bertutur kata, dan berperilaku sopan, tertib serta menurut adat yang baik. Seseorang yang bersikap sopan santun kepada orang tua, guru, pimpinan, orang yang dituakan dan orang lain berarti telah melakukan perbuatan yang terpuji.
  3. Berpikir positif, dapat diartikan menerima kenyataan apa pun tanpa buruk sangka atau berprasangka. Intinya berpikir positif berarti tidak mempunyai pendapat atau anggapan yang kurang baik (negatif) mengenai sesuatu, sebelum mengetahui, menyaksikan dan menyelidiki sendiri.
  4. Siap menghadapi tantangan, berarti bersedia melawan rintangan atau halangan. Tantangan dimkasud terdiri dari ancaman, tantangan, hambatan dan ganguan. Siap menghadapi tantangan dapat dilakukan oleh orang yang mempunyai keberanian. Keberanian adalah kesediaan untuk menderita bahkan mati demi membela atau mempertahankan kebaikan.
  5. Percaya diri, berarti memastikan bahwa seseorang dapat memenuhi semua harapan atau kehendaknya, optimis, orang yang selalu berpengharapan baik.
  6. Tidak sombong, berarti  rendah hati, tidak menghargai diri sendiri secara berlebihan, tidak congkak.
  7. Disiplin, berarti menaati atau mematuhi aturan dan tata tertib yang berlaku.
  8. Inovatif, berarti mau menerapkan segala sesuatu sesuai penemuan baru atau bersedia menggunakan metode – metode baru.
  9. Rukun dan toleran. Rukun bermakna baik dan damai dalam pertalian persahabatan, suami istri dan sebagainya. Rukun juga berarti tidak bertengkar dan tidak bermusuhan. Toleran berarti sifat atau sikap menenggang (menghargai, membiarkan). Sikap ini membolehkan adanya pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan dan kelakuan) yang berbeda atau bertentangan dengan diri sendiri.
  10. Memiliki solidaritas sosial, berarti memiliki perasaan bersatu, senasib sepenanggungan, sehina dan semalu. Sebagai makhluk sosial manusia memerlukan orang lain. Orang tidak bisa hidup sendiri dan tidak bisa hidup menyendiri

Pramuka sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah sangat relevan sebagai wadah penanaman nilai karakter. Nilai karakter yang dapat dikembangkan melalui kegiatan kepramukaan adalah sebagai berikut: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Beberapa kegiatan kepramukaan yang mengandung nilai-nilai pendidikan budi pekerti dan karakter seperti dijelaskan di bawah ini:

  1. Tali Temali

Membuat simpul, ikatan dan tandu diharapkan dapat membentuk karakter ketelitian, kesabaran, kerjasama, dan tanggung jawab.

  1. Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD)

Mencari dan memberi obat diharapkan dapat membentuk karakter ketelitian, kesabaran, kerjasama, tanggung jawab, dan peduli sosial. Membalut luka, menggunakan bidai dan mitela diharapkan dapat membentuk karakter ketelitian, kesabaran, kerjasama, tanggung jawab, dan peduli sosial.

  1. Pionering

Dalam kegiatan membuat gapura, menara pandang dan membuat tiang bendera diharapkan dapat membentuk karakter ketelitian, percaya diri, ketekunan, dan kerjasama. Dalam kegiatan membuat jembatan tali goyang dan meniti dengan satu atau dua tali diharapkan dapat membentuk karakter keberanian, ketelitian, percaya diri, ketekunan, dan kesabaran.

  1. Morse dan Semaphore

Morse dan Semaphore diharapkan dapat membentuk karakter kecermatan, ketelitian, tanggung jawab, dan kesabaran.

  1. Membaca Sandi Pramuka

Sandi akar, sandi kotak biasa, sandi kotak berganda, sandi merah putih, sandi paku, dan sandi angka diharapkan dapat membentuk karakter kreatif, ketelitian, kerjasama, dan tanggung jawab.

  1. Kegiatan Pengembaraan

Kegiatan pengembaraan ini diharapkan dapat membentuk karakter mandiri, peduli lingkungan, tangguh, tanggung jawab, kepemimpinan, kerja sama, peduli sosial, ketelitian, dan religius

  1. Penjelajahan dengan Tanda Jejak (Mencari Jejak)

Penjelajahan dengan memasang dan membaca tanda jejak diharapkan dapat membentuk karakter religius, toleransi, cinta tanah air, peduli lingkungan, kerja sama, dan tanggung jawab.

  1. Baris-Berbaris

Keterampilan baris-berbaris ini diharapkan dapat membentuk karakter kedisiplinan, kreatif, kerja sama, dan tanggung jawab.

  1. Menentukan Arah (Peta Perjalanan)

Keterampilan menentukan arah ini diharapkan dapat membentuk karakter kreatif, kerja keras, rasa ingin tahu, dan kerja sama.

Dari paparan di atas, secara tersirat maupun tersurat sesungguhnya pendidikan karakter sudah ada dalam pramuka. Pramuka telah mengajarkan pendidikan karakter sejak berdirinya kepanduan ini, jauh sebelum isu pendidikan karakter marak di Indonesia.

Dengan adanya pramuka di satuan pendidikan yang keberadaanya tidak hanya sebatas papan nomor gudep, tetapi di dalamnya terdapat kegiatan rutin yang berkesinambungan, maka disadari atau tidak, secara langsung atau tidak, penanaman pendidikan karakter sudah berjalan seiring dengan berjalannya proses kepramukaan tersebut.

Solusi Implementasi

  1. Simpulan

Setidaknya ada 3 (tiga) hal pokok yang sangat penting dan mendasar dalam kegiatan kepramukaan dalam rangka pembentukan watak dan kepribadian peserta didik:

  1. Pembentukan karakter. Hal ini akan terlihat dari watak kepribadian akhlak mulia, mereka kita ajak mandiri, jujur, bertanggungjawab, dan kita ajak sopan santun melalui pendidikan nilai-nilai yang terkandung dalam kepramukaan.
  2. Penanaman semangat kebangsaan dan bela negara. Hal ini sesuai dengan darma yang kedua cinta tanah air dan kasih sayang sesama manusia. Cinta tanah air itu yang diartikan adalah rasa kebangsaan, cinta bangsa, bela Negara.
  3. Peningkatan keahlian atau keterampilan. Keterampilan itu bisa berupa keterampilan spritual, emosional, manajerial, fisik dan sosial. Bentuk nyata keterampilan yang bisa dilihat adalah keterampilan dalam teknik kepramukaan, seperti tali – temali, semaphore, morse, pionering, baris berbaris dan sejenisnya, bahkan bisa juga keterampilan dalam rangka menunjang kecakapan hidupnya (life skill) di masa-masa mendatang.
  1. Implementasi

Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka saran penulis adalah :

  1. Semua pihak harus berperan aktif dalam menanamkan pendidikan karakter pada anak, baik itu di lingkungan formal, nonformal, maupun informal.
  2. Pihak sekolah harus benar-benar memperhatikan pelaksanaaan kegiatan kepramukaan, agar kegiatan yang dilakukan sesuai dengan metode dan prinsip kepramukaan, sehingga pendidikan karakter dapat berjalan dengan baik.
  3. Lembaga atau dinas terkait harus memberikan dukungan dan dorongan penuh baik secara moril maupun materiil (berupa anggaran) yang cukup melalui gerakan Pramuka dalam rangka mewujudkan generasi bangsa yang berkarakter mulia sebagaimana diamanatkan dalam tujuan pendidikan nasional.
  4. Dalam tataran Lomba Tingkat (LT) bagi para juri (penilai) khususnya, penilaian harus benar-benar dilakukan secara jujur dan obyektif sesuai prestasi dan kemampuan yang mereka tunjukkan, karena ini juga menyangkut pendidikan karakter bagi para Kakak Pembina. Maju tak gentar membela yang benar! Bukan Maju Tak Gentar Membela yang Mbayar!

DAFTAR PUSTAKA

Anisa Noor, Pramuka Sebagai Pendidikan Karakter, diakses 6 Desember 2015 dari  http://anissanoor.blogspot.co.id/2015/01/html

Azrul Azwar, Gerakan Pramuka AD/ ART, 2009, Jakarta : Kwartir Nasional Gerakan Pramuka

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan Dan Kebudayaan Dan Penjaminan Mutu Pendidikan, 2014, Kepramukaan, Bahan Ajar Implementasi Kurikulum 2013 Untuk Kepala Sekolah, Jakarta: Kemendikbud

Fiqri Prasetyo, Peran  Kepramukaan  dalam Pendidikan Karakter Bangsa, diakses 6 Desember 2015 dari http://fiqriprasetyo18.blogspot.co.id

Gusjandjara Arni, Sekretaris Humas dan Protokol Jamnas IX Tahun 2011, Gerakan Pramuka Membangun Karakter Bangsa, diakses 6 Desember 2015 dari http://www.pramuka.or.id/news

Harahap, H.A. Rivai, t.th, Badan Serahan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD), Jakarta: Lembaga Pendidikan Kader Gerakan Pramuka (LEMDIKANAS) Candradimuka

Ifatun Nadhif, Peran Kepramukaan Dalam Pendidikan Karakter Bangsa, diakses 6 Desember 2015, dari  http://ifatunnadhif.blogspot.co.id/2014/03/html

Minati Ani, Pembentukan Karakter Generasi Muda Melalui Gerakan Pramuka, diakses tanggal 6 Desember 2015, dari http://minnatiani.blogspot.co.id/2015/03/html

Muin Arifah, Penelitian Deskriptif Tentang Pramuka, diakses 6 Desember 2015 dari http://muinarifah.blogspot.co.id/2014/05/html

Munif, Mukhamad. 2012. Peran Pramuka dalam Pendidikan Karakter, diakses 6 Desember 2015, dari http://myupangg99.wordpress.com/html

Mohammad Nuh. 2013, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 81A tahun 2013 lampiran III. Jakarta: Kemendikbud

Novan Ardy Wiyani, t.th, Pendidikan Karakter Dan Kepramukaan, Jakarta: PT Citra Aji Pratama

Surau Guru, Pendidikan Karakter Di Gerakan Pramuka, diakses  diakses 6 Desember 2015, dari http://suaraguru.wordpress.com

Usniyah, Peranan  pramuka  dalam membentuk karakter  pemuda di era modernisasi, diakses 6 Desember 2015 dari https://usniyah.wordpress.com

BIODATA PENULIS

Nama                        :  SOKHIBUL IKHSAN, S.Ag

NIP                             :  19730123 200701 1 008

Pangkat, Gol/Ruang :  Penata, III/c

Unit Kerja                    :  SMP Negeri 2 Rawalo Kab. Banyumas




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *