infopasti.net

PTS SD Diskusi Kelompok Dalam KKG Sebagai Sarana Sumber Belajar

KEGIATAN DISKUSI KELOMPOK DALAM KKG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MEMANFAATKAN LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR DI SD NEGERI ALANGAMBA 02 KECAMATAN BINANGUN KABUPATEN CILACAP

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar melalui kegiatan diskusi kelompok dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) di SD Negeri Alangamba 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap tahun pelajaran 2013/2014. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Alangamba 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap dengan subyek penelitian adalah guru-guru di SD Negeri Alangamba 02. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan penilaian RPP dan pelaksanaan pembelajaran. Analisis data menggunakan tekhnik deskriptif komparatif. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, masing-msaing siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar meningkat. Hasil penilaian RPP pada siklus I rata-rata 78,75 (kategori cukup) dan pada siklus II meningkat menjadi 82,5 (kategori baik) sedangkan untuk penilaian pelaksanaan pembelajaran pada siklus I memperoleh rata-rata 78,83 meningkat menjadi 82,5. Dari hasil penelitian metode diskusi kelompok dalam KKG layak digunakan.

Kata Kunci: diskusi kelompok, KKG, lingkungan sekitar, sumber belajar

PENDAHULUAN

Salah satu strategi pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan PAKEM yang memungkinkan guru untuk bisa mengembangkan kreativitas, motivasi, dan partisipasi siswa dalam pembelajaran adalah dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Hal ini juga sesuai dengan salah satu pilar pendekatan kontekstual yaitu masyarakat belajar (learning community). Untuk mencapai tujuan tersebut, adalah salah satu cara belajar yang disarankan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai upaya mendekatkan aktifitas belajar siswa pada berbagai fakta kehidupan sehari-hari di lingkungan siswa. Memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar menjadi alternative strategi pembelajaran untuk memberikan kedekatan teoritis dan praktis bagi pengembangan hasil belajar siswa secara optional.

Dari hasil pengamatan peneliti di SD Negeri Alangamba 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap tahun Pelajaran 2013/2014, selama ini guru masih sangat jarang memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Guru-guru di sekolah memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar hanya satu sampai dua kali dalam satu semester.

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, dalam Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini difokuskan pada masalah pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar dapat ditingkatkan melalui diskusi Kelompok Kerja Guru di SD Negeri Alangamba 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap Tahun Pelajaran 2013/2014?”

Berdasarkan rumusan masalah di atas, dapat ditentukan hipotesis tindakan dalam Penelitian Tindakan Sekolah ini adalah “Diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG), dapat meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar di SD Negeri Alangamba 02 Kecamatan Binangun kabupaten Cilacap Tahun Pelajaran 2013/2014.

KAJIAN PUSTAKA      

Pemanfaatan Lingkungan Sekolah sebagai Sumber Belajar

Lingkungan sekolah merupakan lingkungan yang sangat dekat dengan jiwa peserta didik. Anak akan merasa senang bermain di lingkungan sekolah mereka. Douglas dan Mill (dalam Rusyan 2001: 152) menjelaskan Nilai-nilai kegunaan sumber belajar masyarakat adalah: 1) menghubungkan kurikulum dengan kegiatan-kegiatan masyarakat untuk mengembangkan kesadaran dan kepekaan terhadap masalah sosial. 2) mengembangkan minat pribadi peserta didik sehingga belajar lebih bermakna. 3) mempelajari kondisi-kondisi masyarakat yang merupakan latihan berfikir ilmiah, 4) mempelajari masyarakat yang akan memperkuat dan memperkaya kurikulum melalui pelaksanaan praktis dalam situasi sesungguhnya; 5) peserta didik memperoleh pengalaman langsung yang kongkret, realistis, dan verbalisme.

Menurut Badru Zaman (2005) ada beberapa manfaat nyata yang dapat diperoleh dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, yaitu: 1) menyediakan berbagai hal yang dapat dipelajari anak, 2)memungkinkan terjadinya proses belajar yang lebih bermakna (meaningful learning), 3) memungkinkan terjadinya proses pembentukan kepribadian anak, 4) kegiatan belajar akan lebih menarik bagi anak, dan 5) menumbuhkan aktivitas belajar anak (learning activities).

Diskusi Kelompok Kerja Guru (KKG)

Diskusi kelompok adalah suatu kegiatan belajar yang dilakukan secara bersama-sama. Diskusi kelompok pada dasarnya untuk memecahkan persoalan secara bersama-sama. Artinya setiap anggota turut memberikan sumbangan pemikiran dan pendapat dalam memecahkan persoalan tersebut. diskusi kelompok adalah suatu kegiatan belajar untuk memecahkan persoalan secara bersama-sama sehingga akan diperoleh hasil,yang lebih baik (Tabrani dan Daryani dalam Kasianto, 2004).

Ischak dan Wajri (dalam Kasianto, 2004) mengemukakan beberapa petunjuk dalam pelaksanaan diskusi kelompok, yaitu sebagai berikut.

  1. Pilihlah teman yang cocok untuk bergabung dalam belajar kelompok. Jumlah setiap kelompok terdiri atas 5 hingga 7 orang.
  2. Tetapkan siapa sebagai pemimpin yang akan memimpin jalannya diskusi atau belajar kelompok.
  3. Selesaikan persoalan satu persatu dengan memberi kesempatan kepada anggota untuk mengajukan pendapatnya. Dari pendapat tersebut dikaji bersama dan pilih mana yang paling tepat.

Pengertian Proses Belajar Mengajar

Oemar Hamalik (2005:27) mengungkapkan belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan mealui pengalaman”. Pengertian ini dapat dimaknai bahwa belajar merupakan suatu proses bukan suatu tujuan. Belajar bukan hanya mengingat sejumlah pengetahuan, tetapi proses mengalami sehingga terjadi perubahan perilaku. Sedangkan menurut Suprayekti, (2003:4) belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku akibat interaksi individu dengan lingkungannya (Suprayekti, 2003:4). Pengertian belajar ini menekankan pada faktor interaksi lingkungan dengan individu sehingga terjadi perubahan tingkah laku.

Dari kedua pengertian belajar di atas, inti dari proses belajar adalah perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dapat diklasifikasikan dalam lima ranah kemampuan, yaitu:

  1. Keterampilan intelektual; sejumlah pengetahuan mulai dari baca tlis hitung sampai kepada pemikiran yang rumit. Kemampuan intelektual tergantung kepada kapasitas intelektual kecerdasan seseorang dan pada kesempatan belajar yang tersedia
  2. Strategi kognitif mengatur cara belajar dan berfikir seseorang dalam artiyang seluas-luasnya termasuk di dalamnya kemampuan memecahkan masalah.
  3. Informasi verbal, yaitu pengetahuan dalam arti informasi dan fakta.
  4. Keterampilan motoric yang diperoleh di sekolah antara lain keterampilan menulis, mengetik, dan sebagainya.
  5. Sikap dan nilai (afektif) berhubungan dengan arah serta intensitas emosional yang dimiliki seseorang sebagaimana dapat disimpulkan dari kecenderungan bertingkah laku terhadap orang, barang atau kejadian. (Mulyani Sumantri dan Johan Permana, 2003: 16).

Pengertian Lingkungan

Menurut Oemar Hamalik, (2001:195) lingkungan merupakan sesuatu yang memiliki makna dana tau pengaruh tertentu kepada individu. Lingkungan merupakan salah satu komponen pembelajaran yang sangat penting dan dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang. Lingkungan pembelajaraan dapat dikelompokkan menjadi lingkungan sosial, personal, alam, dan kultural.

Kania Tresnajati (2003:2) membagi lingkungan ke dalam dua kelompok yaitu: 1) lingkungan dalam yaitu hal-hal yang pada mulanya berada di luar individu yang akhirnya masuk ke dalam tubuh individu dan bersatu dengan sel-sel tubuh melalui makan dan minuman, serta pernafasan; 2) Lingkungan luar yaitu lingkungan yang berada di luar tubuh individu di antaranya lingkungan alam (physical environment), lingkungan sosial (social environment) dan lingkungan spiritual (spiritual environment). Sedangkan Nana Sudjana dan Ahad Rivai (2001:212) membagi lingkungan menjadi tiga kelompok yang lebih sederhana yaitu: lingkungan sosial, lingkungan alam, dan lingkungan buatan.

Model Pembelajaran dengan Pendekatan Lingkungan

Menurut Hilda Karli dan Margaretha (2002:97) mendefinisikan model pembelajaran dengan pendekatan lingkungan adalah strategi pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sebagai sarana belajar, sumber belajar, dan sasaran belajar. Pengajaran yang berpusat pada masyarakat yaitu suatu bentuk pengajaran yang memadukan antara sekolah dan lingkungan masyarakat dengan cara membawa sekolah ke dalam masyarakat dan atau membawa masyarakat dalam sekolah guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan (Oemar Hamalik, 2001:197). Pembelajaran yang berpusat pada masyarakat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:1) Pengajaran berorientasi pada masyarakat; 2) Pengajaran bertujuan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat; 3) Kurikulum yang menjadi landasan pengajaran terdiri dan proses-proses dan masalah sosial; 4) Kegiatan belajar memadukan antara kegiatan serba langsung di masyarakat dengan kegiatan belajar yang bersumber dari buku teks; 5) Disiplin kelas berdasarkan tanggung jawab bersama bukan berdasarkan paksaan atau kebebasan mutlak; 6) Metode mengajar terutarna dititik-beratkan pada pemecahan masalah untuk memenuhi kebutuhan perorangan dan kebutuhan sosial atau kelompok; 7) Bentuk hubungan dan kerja sama sekolah dan masyarakat adalah mempelajari sumber-sumber masyarakat, menggunakan sumber-sumber tersebut dan memperbaiki masyarakat tersebut.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Alangamba 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap Tahun Pelajaran 2013/2014 selama dua bulan yaitu bulan September s/d Oktober 2013. Subyek dalam penelitian ini guru-guru SD Negeri Alangamba 02 dalam pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Tehknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan observasi dan test hasil pembuatan RPP dan pelaksanaan pembelajaran. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah jika guru-guru dalam menyusun RPP dan melaksanakan pembelajaran dengan sumber belajar lingkungan sekitar rata-rata bernilai baik.

Secara rinci prosedur tindakan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan prosedur yang dikemukakan oleh Kemmis and Taggart melalui penelitian berdaur dengan langkah perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Secara rinci kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Membagi guru menjadi dua kelompok kecil;
  2. Peneliti memberi penjelasan tentang pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar;
  3. Melalui diskusi Kelompok KKG menyusun scenario pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.
  4. Peneliti membimbing kelompok guru dalam menyusun scenario pembelajaran;
  5. Wakil kelompok mempresentasikan scenario pembelajaran yang telah disusun.
  6. Peneliti memberi masukan terhadap scenario pembelajaran yang telah disusun.
  7. Guru melaksanakan skenario pembelajaran dalam proses pembelajaran yang sebenarnya.
  8. Peneliti mengevaluasi kemampuan guru dalam mengimplementasikan skenario pembelajaran.
  9. Dalam kelompok diskusi guru berbagi pengalaman terkait dengan pelaksanaan pembelajaran yang memanfaakan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Siklus I

Kegiatan dalam siklus I ini, diawali dengan kegiatan diskusi kelompok kerja guru (KKG) tentang permasalahan yang dihadapi dalam pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar, dilanjutkan dengan informasi tentang  manfaat  lingkungan sekolah sebagai sumber belajar bagi  siswa dan implementasinya dalam proses belajar mengajar. Saat guru berdiskusi dalam kelompok kerja guru (KKG) pada siklus I,  peneliti mengadakan observasi tentang sikap guru dalam berdiskusi tentang pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Adapun hasil observasi siklus I rata-rata sikap guru pada waktu berdiskusi adalah 78,33. Sedangkan untuk perancangan RPP diperoleh rata-rata penilaian 78,75 dengan perbandingan jumlah yang tuntas dan belum dapat dilihat pada grafik berikut.

supoyoo

Sedangkan untuk implementasi penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar rata-rata guru sucah cukup baik dalam pelaksanaannya dengan nilai rata-rata 78,33 (kategori cukup baik). Perbandingan guru yang sudah tuntas dan belum dapat dilihat pada grafik berikut.
supoyooa

Dari grafik diketahui bahwa ketuntasan guru dalam pembelajaran masih belum memenuhi kriteria keberhasilan dalam penelitian ini sehingga siklus dilanjutkan pada siklus II.

Siklus II

Pada siklus II, kegiatan yang dilaksanakan adalah mendiskusikan hambatan-hambatan yang dialami dalam menyusun skenario pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran di kelas pada siklus I melalui kegiatan kelompok kerja guru (KKG). Kegiatan yang dilaksanakan pada siklus ke dua adalah dengan skenario pembelajaran khususnya pada aspek  1, 2 dan 4 guru melakukan revisi, dipandu oleh guru yang sudah mampu, dengan bimbingan peneliti. Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, terkait dengan hambatan pada aspek 1. kegiatan awal, aspek 2. kegiatan inti, aspek 3. kemampuan guru mengaitkan materi pelajaran dengan lingkungan sekolah, dan aspek 6. Penutup pelajaran, maka guru mendiskusikan kembali hambatan tersebut dalam kelompok kerja guru (KKG) dibimbing pengawas/peneliti. Sebelum pelaksanaan pembelajaran di kelas, terlebih dahulu dilakukan simulasi atau modeling dengan menggunakan anggota kelompok guru sebagai siswa.

Hasil tindakan pada siklus II, aktivitas guru dalam diskusi mengalami kenaikan yaitu menjadi 84,9. Hasil penilaian RPP dan praktek pembelajaranpun mengalami kenaikan yaitu rata-ratanya menjadi 82,5 dalam kategori “Baik”. Dalam penyusunan RPP semua guru sudah mencapai indikator keberhasilan sesuai yang diarapkan. Sedangkan dalam pembelajarannya hanya satu orang guru yang belum tuntas.

Kenaikan hasil penilaian RPP dan pelaksanaan pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut.

TABEL REKAP HASIL PENILAIAN RPP DAN KETERLAKSANAAN PEMBELAJARAN SIKLUS I DAN II

NO Siklus Aktivitas RPP Pembelajaran
1 Siklus I 78,33 78,75 78,33
2 Siklus II 84,90 82,50 82,50

Perubahan nilai hasil tindakan dapat dilihat pada grafik berikut :

supoyooaa

Pembahasan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti pada pelaksanaan siklus I dan siklus II terjadi perubahan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Hasil dari tindakan yang dilaksanakan dalam Penelitian Tindakan Sekolah pada siklus I, dari 8 orang guru yang terlibat, 5 orang guru sudah mendapat skor dengan katagori “baik” sedangkan 3 orang dengan katagori “cukup”. Oleh karena itu dilanjutkan dengan tindakan pada siklus II. Setelah diadakan tindakan pada siklus II, didapatkan hasil yang baik. Secara umum hasil dari tindakan menunjukkan peningkatan ke arah yang lebih baik yaitu 75% guru sudah mendapatkan katagori baik dengan skor rata-rata 80 – 89. Hal ini sudah sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ditetapkan. Secara rinci perolehan nilai rata-rata peningkatan kemampuan guru memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar yaitu nilai rata-rata observasi hasil kegiatan diskusi 79,38 di siklus I menjadi 84,88 di siklus II ada peningkatan 5,5. kegiatan  penyusunan skenario  pembelajaran nilai rata-rata 78,75 di siklus I menjadi 82,50 di siklus II ada peningkatan 3,75, kegiatan pembelajaran atau dalam proses belajar mengajar nilai rata-rata 78,33 di sklus I menjadi 82,08 di siklus II, ada peningkatan 3,75.

PENUTUP

Berdasar data-data yang diperoleh dari hasil tindakan dalam penelitian tindakan sekolah terbukti bahwa diskusi kelompok dalam kegiatan KKG dapat meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Hal ini dapat dilihat dari hasil penyusunan RPP dengan lingkungan sebagai sumber belajar pada siklus I rata-rata nilai 78,75 dan pada siklus II meningkat menjadi 82,5. Begitu juga dalam pembelajaran. Guru mulai terampil dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Hal ini dapat dilihat dari hasil penilaian pembelajaran yang dilaksanakan yang pada siklus I memperoleh rata-rata nilai 78,33 dan pada siklus II meningkat menjadi 82,5.

Peneliti mengajak kepada para guru untuk memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Karena pemilihan sumber belajar yang tepat dapat meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Badru Zaman, dkk. 2005. Media dan Sumber Belajar TK. Buku Materi PGTK 2304. Modul 1-9. Jakarta: Universitas Terbuka

Ekowati,Endang. 2001. Strategi Pembelajaran Kooperatif. Modul Pelatihan Guru Terintegrasi Berbasis Kompetensi. Jakarta: Depdiknas.

Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta. Bumi Aksara

Kasianto, I Wayan. 2004. Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa dengan Pendekatan Diskusi Kelompok. Laporan Penelitian Tindakan Kelas. Tidak dipublikasikan.

Karli, Hilda. 2002. Penerapan Pembelelajaran Terpadu di SD. Makalah

Rusyan Tabrani. 2001. Pendekatan dalam Proses belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sarman, Samsuni. 2005. Implementasi Pendekatan Works Based Learning pada Sumber Belajar Masyarakat dalam Pembelajaran PS Ekonomi. Laporan Penelitian Tindakan kelas. Banjarmasin. Tidak dipublikasikan.

Sudjana, Nana, Rivai Ahmad. 2001. Metode dan Teknik Pembelajran Partisipatif. Bandung: Falah Production

Sumantri,   Mulyana   dan   Johar   Permana. 2001 .Strategi   Belajar   Mengajar. Bandung: Maulana

 Suprayekti, 2003. Interaksi Belajar Mengajar. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan.

Sutrisno Hadi. 2000. Metodologi Penelitian. Yogyakarta


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *