PENINGKATAN KETERAMPILAN SOSIAL DENGAN MENGGUNAKAN METODE CIRC (COOPERATIVE INTEGRATED  READING AND COMPOSITION) PADA ANAK KELOMPOK B TK PERTIWI KECILA

riyati

Oleh:

RIYATI, S.Pd

ABSTRAK

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini berjudul Peningkatan Keterampilan Sosial Anak dengan Menggunakan Metode CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition) pada anak kelompok B TK Pertiwi Kecila Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas Semester Genap Tahun 2014/2015. Penelitian tindakan kelas dilakukan pada 2 siklus dan setiap siklus terdiri dari 3 pertemuan. Setiap siklus dilakukan beberapa tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian yaitu guru dan anak didik pada kelompok B TK Pertiwi Kecila sejumlah 16 anak. Metode pengumpulan data yang digunakan berupa teknik observasi yang meliputi lembar observasi guru dan anak. Dan teknik dokumentasi yang berupa Rencana Pembelajaran Harian (RKH) dan foto-foto kegiatan guru dan anak.analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan pada setiap siklusnya.  Pada kondisi awal yang berkembang sangat baik (BSB) yaitu 3 anak atau 19%, yang berkembang sesuai harapan (BSH) yaitu 5 anak atau 31%,yang mulai berkembang (MB) yaitu 4 anak atau 25%, dan yang belum berkembang (BB) 4 anak atau 25%. Kemudian pada siklus I yang berkembang sangat baik (BSB) yaitu 9 anak atau 56%,yang berkembang sesui harapan (BSH) yaitu 3 anak atau 19%, yang mulai berkembang (MB) yaitu 3 anak atau 19%, dan yang belum berkembang (BB) yaitu 1 anak atau 6%. Pada siklus II anak yang berkembang sangat baik (BSB) yaitu 13 anak atau 81%, yang berkembang sesuai harapan (BSH) yaitu 2 anak atau 13%, yang mulai berkembang (MB) yaitu 1anak atau 6%, dan yang belum berkembang (BB) yaitu 0 anak atau 0%. Berdasarkan analisis terhadap Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dapat disimpulkan bahwa melalui Metode CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition) dapat meningkatan keterampilan sosial anak pada anak kelompok BTK Pertiwi Kecila Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas Semester Genap Tahun 2014/2015.

Kata kunci : Keterampilan sosial, Metode CIRC, PTK .

PENDAHULUAN

Kemampuan sosial dalam kerjasama sangat penting untuk anak, hal ini akan menjadi bekal saat anak memasuki dunia pergaulan yang lebih luas, dimana pengaruh teman-teman dan lingkungan sosial akan mempengaruhi kehidupannya. Anak memiliki perkembangan sosial dan kerjasama dengan baik, apabila orangtua memberikan pola asuh yang baik, namun kebanyakan para orang tua sering beranggapan bahwa sosial kerjasama anaknya tidaklah begitu penting untuk diperhatikan dalam kehidupannya. Kurangnya keterampilan sosial dalam  kerjasama akan menyebabkan rasa rendah diri, kenakalan, dan dijauhi dalam pergaulan.

Hasil pengamatan dan observasi pada anak kelompok B TK Pertiwi Kecila, ditemukan kurangnya keterampilan sosial pada anak. Hal itu dapat terlihat dengan adanya anak yang masih belum mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Terkadang anak semaunya sendiri memilih-milih teman dan tidak mau bekerja sama dengan teman yang yang bukan pilihannya. Kemudian kegiatan pembelajran yang sering digunakan guru di Taman Kanak –Kanak umumnya bersifat konvensional. Data yang diperoleh peneliti setelah melakukan observasi awal yaitu anak yang belum berkembang sejumlah 4 dengan persentase 25%, anak yang mulai berkembang sejumlah 4 dengan persentase 25%, anak yang berkembang  sesuai harapan sejumlah  5 dengan persentase 31% sedangkan anak yang berkembang sangat baik sejumlah 3 anak dengan persentase 19%.

Berdasarkan permasalahan tersebut maka dibutuhkan adanya perbaikan untuk meningkatkan hasil pembelajaran. Model pembelajaran yang akan digunakan peneliti yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif metode CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition). Motode pembelajaran kooperatif merupakan metode mengajar yang dilakukan secara berkelompok. Sedangkan CIRC merupakan pembelajaran kooperatif membaca dan menulis secara terpadu.  Setelah disesuaikan dengan keadaan riil serta permasalah pembelajaran yang dihadapi anak, model CIRC akan divariasikan dengan media puzzle. Cara menggunakan media puzzle yaitu dengan menyusun kepingan-kepingan gambar sehingga menjadi satu kesatuan gambar yang utuh.

Penelitian tindakan kelas perlu dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan sosial anak. Dengan demikian maka peneliti akan melakukan peningkatan keterampilan sosial anak dengan menggunakan metode CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition) pada anak kelompok B TK Pertiwi Kecila tahun pelajaran 2014/2015.

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Apakah menggunakan metode CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition) dapat meningkatkan sosial anak pada kelompok B TK Pertiwi Kecila?”

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

Keterampilan sosial (social skills) merupakan  bagian penting dari kemampuan hidup manusia. tanpa memiliki keterampilan sosial manusia tidak dapat berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya karena keterampilan sosial dibutuhkan oleh setiap elemen masyarakat. Menurut Wikipedia (2007) keterampilan sosial adalah keterampilan yang digunakan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain sesuai peran dalam struktur sosial yang ada. Menurut Chaplin dalam Suhartini (2004:18), keterampilan sosial merupakan bentuk perilaku, perbuatan dan sikap yang ditampilkan oleh individu ketika berinteraksi dengan orang lain disertai dengan ketepatan dan kecepatan sehingga memberikan kenyamanan bagi orang yang berada di sekitarnya. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa ketrampilan sosial adalah kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain dengan cara berkomunikasi antara satu sama lain.

Menurut Beaty (Afiati, 2005:14) menjelaskan bahwa beberapa aspek penting dalam mengembangkan keterampilan sosial anak meliputi : (1) belajar untuk melakukan kontak dan bermain bersama anak yang lain, (2) belajar untuk berinteraksi dengan teman sebaya untuk saling memberi, (3) belajar untuk bergaul dengan anak lain dan berinteraksi secara harmonis, (4) belajar untuk melihat dari sudut pandang anak lain, (5) belajar untuk menunggu giliran, (6) belajar untuk berbagi dengan yang lain, (7) belajar untuk menghargai hak-hak oranglain, (8) belajar untuk menyelesaikan atau mengatasi konflik dengan oranglain.

Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Suprijono (2013: 54) pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebh luas meluputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Pada pembelajaran kooperatif guru memiiliki peranan untuk menetapkan tugas dan pertanyaan serta menyediakan bahan dan informasi untuk membantu anak menyelesaikan masalah.  Slavin (2005: 4) berpendapat bahwa dalam  kelas kooperatif, peran anak diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan dan berargumentasi, untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing.

Metode CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition)

Pembelajaran CIRC atau pembelajaran terpadu setiap anak bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide untuk memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas, sehingga terbentuk pemahaman dan pengalaman belajar yang lama. Tujuan utama dari penggunaan metode pembelajaran CIRC adalah menggunakan tim-tim kooperatif untuk membantu para anak mempelajari kemampuan memahami bacaan yang dapat diaplikasikan secara luas Slavin (2005:203).

Komponen Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) Model pembelajaran CIRC memiliki beberapa komponen yaitu :

1)   Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 atau 5 siswa.

2)  Placement test, misalnya diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai rapor agar guru mengetahui kelebihan dan kelemahan siswa pada bidang tertentu.

3)  Student creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.

4)  Team study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberika bantuan kepada kelompok yang membutuhkannya.

5)  Team scorer and team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas.

6) Teaching group, yakni memberikan materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok.

7)  Facts test, yaitu pelaksanaan test atau ulangan berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.

8)  Whole-class units, yaitu pemberian  rangkuman materi oleh guru di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah

Langkah – langkah metode CIRC menurut Suprijono, (2013:130- 131) adalah

  1. Membentuk kelompok yang anggotanya empat orang yang secara heterogen.
  2. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran.
  3. Anak bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada selembar kertas.
  4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok.
  5. Guru membuat kesimpulan bersama.
  6. Penutup

Melalui metode pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition) dapat meningkatkan keterampilan sosial pada anak kelompok B TK Pertiwi Kecila Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas  Tahun ajaran 2014/2015.

 

METODE PENELITIAN

Lokasi Penelitian dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober sampai 31 Oktober 2014 pada anak kelompok B TK Pertiwi Kecila Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas Semester Genap tahun pelajaran 2014/2015.Subyek penelitian adalah pada anak kelompok B TK Pertiwi Kecila Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas tahun pelajaran 2014/2015. Jumlah anak yang diobservasi 16 anak yang terdiri dari 8 perempuan dan 8 laki-laki.  Metode pengompulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: Observasi dan Dokumentasi. Pedoman evaluasi penelitian ini menggunakan perhitungan dengan bintang («) Menurut  Kemendiknas (2010:11) hasil penilaian harian perkembangan anak dicantumkan pada kolom penilaian. Tanda satu bintang («) digunakan untuk menilai anak yang belum berkembang (BB) sesuai dengan indikator, tanda bintang dua (««) digunakan untuk menilai anak yang sudah mulai berkembang (MB) sesuai indikator, tanda tiga bintang («««) digunakan untuk menilai anak yang sudah berkembang sesuai harapan (BSH) sedangkan tanda empat bintang (««««) digunakan untuk menilai anak yang berkembang sangat baik (BSB) melebihi indikator yang diharapkan.

Analisis data ini peneliti mempergunakan perhitungan persentase ketuntasan belajar anak didik yaitu 70%. Sudjana (2010:8) menyebutkan bahwa biasanya keberhasilan siswa ditentukan kriterianya yakni berkisar antara 75-80%, artinya siswa dikatakan berhasil apabila mencapai sekitar 75-80% dari tujuan atau nilai yang seharusnya dicapai, kurang dari tersebut dinyatakan kurang berhasil.

Indikator sosial anak yang akan dicapai terdapat pada tabel berikut ini:

Tabel 1 Indikator Sosial Emosional Kemandirian

No. Lingkup Perkembangan Tingkat Pencapaian Perkembangan Indikator
1 Sosial Emosional

Kemandirian

Bersikap kooperatif dengan teman Bekerja sama dalam menyelesaikan tugas

Berdasarkan tabel di atas maka indikator yang harus dicapai anak yaitu bekerja sama dalam menyelesaikan masalah. Pencapaian indikator dikatan berhasil jika anak dapat melakukan kegiatan dengan benar, anak mampu membantu temannya dan anak mampu bekerja sama dengan temannya dalam memecahkan masalah. Prosedur penbelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dua siklus. Siklus I akan dilakukan dalam 3 pertemuan dan siklus II akan dilakukan 3 pertemuan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Pada kondisi awal kemampuan sosial emosional kemandirian pada anak Kelompok B TK Pertiwi Kecila Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas masih sangat rendah dalam hal bekerjasama menyelesaikan tugas. Hal ini karena perilaku naka yang dipengaruhi oleh lingkungan dan asuhan orang tua. Anak yang dimanja berbeda dengan anak yang madiri. Dalam bersosialisasi sangattlah berbeda maka dari itu guru berusaha meningkatkan kemampuan sosil emosional kemandirian dengan menggunkan metode CIRC melalui media pembelajaran berupa puzzle.

Jumlah siswa Kelompok B TK Pertiwi Kecila yang diteliti adalah 16 anak. Setelah dilakukan observasi maka diperoleh hasil bahwa anak yang mempunyai kemampuan sosial emosional dengan baik pada kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB) yaitu 3 anak dengan persentase 19% dan anak yang masih kurang baik sejuml;ah 13 anak dnegan persentase 81%. Secara lebih jelasnya dapat terlihat pada tabel 2.

Tabel 2 Persentase keberhasilan pada kondisi awal

Periode Kegiatan Belum Berkembang Mulai Berkembang Berkembang Sesuai Harapan Berkembang Sangat Baik
F % f % F % f %
Kondisi Awal 4 25 4 25 5 31 3 19

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa pada kondisi awal anak yang belum berkembang sejumlah 4 dengan persentase 25%, anak yang mulai berkembang sejumlah 4 dengan persentase 25%, anak yang berkembang  sesuai harapan sejumlah  5 dengan persentase 31% sedangkan anak yang berkembang sangat baik sejumlah 3 anak dengan persentase 19%. Pada sekolah tersebut dapat terlihat bahwa masih ada sebagian siswa yang kurang baik dalam sosial emosional kemandirian.

Deskripsi Siklus I

Peneliti merencanakan kegiatan perbaikan untuk mengembangkan kemapuan sosial emosional kemandirian pada indikator bekerjasa dalam menyelesaikan tugas. Perencaan penelitian ini melaui tersedianya Rencana Kegiatan Harian (RKH), sesuai dengan tema atau materi yang akan diajarkan, adanya media puzzle untuk meningkatkan sosial anak dan minat anak, dan adanya instrument penilaian terhadap aktivitas siswa untuk mengukur kemampuan sosial emosional kemandirian melalui bermain puzzle.

Tabel 3 Persentase hasil penelitian siklus I pertemuan I

Periode Kegiatan Belum Berkembang Mulai Berkembang Berkembang Sesuai Harapan Berkembang Sangat Baik
f % f % f % f %
Bekerja sama dalam menyelesaikan tugas 4 25 4 25 5 31 3 19

Tabel 4 Persentase hasil penelitian siklus I pertemuan 2

Periode Kegiatan Belum Berkembang Mulai Berkembang Berkembang Sesuai Harapan Berkembang Sangat Baik
f % f % f % f %
Bekerja sama dalam menyelesaikan tugas 2 12 3 19 5 31 6 38

 

Tabel 5  Persentase hasil penelitian siklus I pertemuan 3

Periode Kegiatan Belum Berkembang Mulai Berkembang Berkembang Sesuai Harapan Berkembang Sangat Baik
f % f % f % f %
Bekerja sama dalam menyelesaikan tugas 1 6 3 19 3 19 9 56

 

Penilaian yang dihasilkan dari proses observasi pada kegiatan bermain puzzle sudah baik. Pada setiap pertemuan guru sudah melakukan kegiatan sesuai dengan RKH. Pembelajaran yang dilakukan guru juga sudah menyenangkan dan meraik minat anak sehingga dapat tercipta suasana yang kondusif.

Setelah melakukan tindakan pada siklus I peneliti mendiskusikan  hasil tindakan dengan guru dan kemudian melakukan refleksi. Berdasarkan musyawarah dengan kolaborator maka hasil refleksinya sebagai berikut:

  • Pada siklus I dalam pelaksanaan kegiatannya guru masih kesulitan dalam membagi kelompok guru masih kesulitan dalam membimbing dan mengarahkan anak saat kegiatan pembelajaran berlangsung.
  • Guru masih belum terbiasa dengan menggunakan metode CIRC sehingga alokasi waktunya masih kurang sesuai dan belum kondusif.
  • Media puzzle yang digunakan baru dikenal oleh sebagian anak sehinngga perlu waktu untuk bekerja sama dalam menyelesaikan tugas.

Berdasarkan hasil refleksi yang didapat pada pembelajaran siklus I maka perlu diadakan perbaikan pada siklus II. Berdasarkan hasil observasi yang diperoleh pada siklus I  yaitu dari 16 anak yang mampu bekerja sama dalam menyelesaikan tugas bermain puzzle dengan baik adalah  9 anak dengan persentase 56% dan yang masih kurang baik yaitu 7 anak dengan persentase 44%.

Deskripsi Siklus II

Peneliti merencanakan kegiatan perbaikan untuk mengembangkan sosial emosional kemandirian. Perencaan penelitian ini melaui tersedianya Rencana Kegiatan Harian (RKH), sesuai dengan tema atau materi yang akan diajarkan, adanya media puzzle untuk meningkatkan sosial anak dan minat anak, dan adanya instrument penilaian terhadap aktivitas siswa melalui bermain puzzle.

Tabel 6 Persentase hasil penelitian siklus II pertemuan I

Periode Kegiatan Belum Berkembang Mulai Berkembang Berkembang Sesuai Harapan Berkembang Sangat Baik
f % f % f % f %
Bekerja sama dalam menyelesaikan tugas 1 6 2 12 3 19 10 63

Tabel 7 Persentase hasil penelitian siklus I pertemuan 2

Periode Kegiatan Belum Berkembang Mulai Berkembang Berkembang Sesuai Harapan Berkembang Sangat Baik
f % f % f % f %
Bekerja sama dalam menyelesaikan tugas 0 0 1 6 3 19 12 75

 

Tabel 8 Persentase hasil penelitian siklus I pertemuan 3

Periode Kegiatan Belum Berkembang Mulai Berkembang Berkembang Sesuai Harapan Berkembang Sangat Baik
f % f % f % f %
Bekerja sama dalam menyelesaikan tugas 0 0 1 6 2 13 13 81

 

Penilaian yang dihasilkan dari proses observasi pada kegiatan bermain puzzle sudah sangat baik. Pada setiap pertemuan guru sudah melakukan kegiatan sesuai dengan RKH. Peneliti mengamati setiap kegiatan yang dilakukan anak pada siklus II. Pada proses kegiatan, peneliti juga melakukan evaluasi yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan sosial emosional dan kemandirian anak.

Setelah melakukan tindakan pada siklus II peneliti melakukan musyawarah dengan guru atau kolaborator dan kemudian melakukan refleksi. Berdasarkan hasil penelitian pada siklus II bahwa anak sudah mamapu melakukan kegiatan bermain puzzle dan membaca gambar puzzle serta bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. Data yang diperoleh pada siklus II bahwa anak yang sudah mampu bekerja sama menyelesaikan tugas yaitu sejumlah 13 anak dengan persentase 81% sedangkan anak yang masih belum mampu ada 3 anak dengan persentase 19%. Berdasarkan hasil penelitian pada siklus II maka tidak perlu diadakan siklus selanjutnya karena kriteria ketuntasannya sudah sangat baik yaitu 81%.

Pembahasan

Kemampuan sosial emosional kemandirian anak mengalami peningkatan dari mulai kondisi awal sampai siklus II. Pada kondisi awal kemampuan emosional kemandirian anak yang sudah baik ada 3 anak dengan persentase 19% dan anak yang belum masih kurang baik ada 13 anak (81%). Kemudian pada siklus I mengalami peningkatan pada setiap pertemuannya. Pada Siklus I anak yang sudah baik berkembang sangat baik ada 9 anak (56%) sedangkan anak yang masih kurang baik ada  7 anak (44%). Pada siklus II anak yang sudah berkembang sangat baik ada 13 anak (81%) dan anak yang belum berkembang dengan baik ada 3 akan (19%). Peningkatan dari kondisi awal, siklus I sampai siklus II dapat dilihat jelas pada tabel 9.

Tabel 9 Rekapitulasi peningkatan keterampilan sosial anak pada kondisi awal, siklus I dan siklus II

Hasil Belajar Studi Awal Siklus I Siklus II
F % f % f %
Belum Berkembang  (BB) 4 25 1 6 0 0
Mulai Berkembang  (MB) 4 25 3 19 1 6
Berkembang Sesuai Harapan (BSH) 5 31 3 19 2 13
Berkembang Sangat Baik (BSB) 3 19 9 56 13 81
Jumlah 16 100 16 100 16 100

Berdasarkan tabel tersebut dapat terlihat jelas bahwa terjadi peningkatan pada setiap periode kegiatannya. Pada kondisi awal samapi siklus I hasil belajar anak mengalami peningkatan sebesar 37%. Sedangkan peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 25%. Untuk lebih jelas peningkatannya dapat dilihat pada gambar histogram di bawah ini:

riyati

Gambar 1 Histogram peningkatan dari kondisi awal, siklus I dan siklus II

Pada kondisi awal anak yang belum berkembang (BB) masih 25% dan mengalami penurunan pada siklus I menjadi 6%. Sedanngkan pada siklus II anak yang belum berkembang (BB) adalah 0% . Pada siklus II pembelajaran yang dilakukan terbukti sudah sangat baik karena anak yang belum berkembang sudah tidak ada atau 0%. Kemudian anak yang mulai berkembang juga mengalami penurunan pada setiap periodenya. Pada kondisi awal anak yang mulai berkembang (MB) ada  25%, pada siklus I 19% dan pada siklus II 6%. Selain itu anak yang berkembang sesuai harapan (BSH) persentasenya juga terlihat menurun yaitu pada kondisi awal  31%, siklus I ada 19% dan siklus II ada 13%.  Dari gambar di atas dapat diketahui peningkatan secara terus-menerus dari kondisi awal samapi siklus II. Pada kondisi awal kemampuan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas pada aspek berkembang sangat baik (BSB) persentasenya yaitu 19%. Pada siklus i terjadi peningkatan yang cukup signifikan menjadi 56% dan pada siklus II juga mengalami peningkatan menjadi 81%. Peningkatan yang terjadi pada siklus II dirasa sudah sangat baik karena sudah sesuai dengan kriteria ketuntasan yang diharapkan oleh peneliti.

PENUTUP

Berdasarkan analisis data dan temuan selama di adakan siklus perbaikan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil peningkatan keberhasilan anak  pada kondisi awal yang berkembang sangat baik (BSB) yaitu 3 anak atau 19%, yang berkembang sesuai harapan (BSH) yaitu 5 anak atau 31%,yang mulai berkembang (MB) yaitu 4 anak atau 25%, dan yang belum berkembang (BB) 4 anak atau 25%. Kemudian pada siklus I yang berkembang sangat baik (BSB) yaitu 9 anak atau 56%,yang berkembang sesui harapan (BSH) yaitu 3 anak atau 19%, yang mulai berkembang (MB) yaitu 3 anak atau 19%, dan yang belum berkembang (BB) yaitu 1 anak atau 6%. Pada siklus II anak yang berkembang sangat baik (BSB) yaitu 13 anak atau 81%, yang berkembang sesuai harapan (BSH) yaitu 2 anak atau 13%, yang mulai berkembang (MB) yaitu 1anak atau 6%, dan yang belum berkembang (BB) yaitu 0 anak atau 0%. Dengan demikian peningkatan keberhasilan anak pada siklus II dinyatakan telah berhasil. Berdasarkan analisis terhadap Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dapat disimpulkan bahwa melalui Metode CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition) dapat meningkatan keterampilan sosial anak pada anak kelompok BTK Pertiwi Kecila Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas Semester Genap Tahun 2014/2015.

DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1989. Petunjuk Teknis Proses Belajar Mengajar di Taman Kanak-kanak. Jakarta: Depdikbud

Depdiknas. 2004. Pedoman Penilaian di Taman Kanak-kanak. Jakarta: Depdiknas.

Slavin, Robert E. (2005). Cooperatif Learning: Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media.

Suprijono, Agus. (2013). Cooperative Learning : Teori dan Aplikasi Paikem. Jogjakarta: Pustaka Belajar

Trianto. (2013). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif : Konsep, Landasan, dan pada Implementasi KTSP. Jakarta: Kencana

Sujana Nana. 2010. Penilaiain Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Satria. Pengertian Sosial.http://id.shvoong.com

BIODATA PESERTA

  1. N a m a                              : RIYATI, S.Pd
  2. Tempat Tanggal Lahir      : Banyumas, 03 Juni 1968
  3. Jenis Kelamin                    : Perempuan
  4. Jabatan                               : Guru Kelas
  5. Unit Kerja                          : TK Pertiwi Kecila Jl.Raya Buntu-Gombong Km. 5 Kecamatan Kemranjen

TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *