KOLABORASI TEKNIK “AWALI DENGAN SENANG, AKHIRI DENGAN GEMBIRA” DAN MEDIA JCross

KOLABORASI TEKNIK “AWALI DENGAN SENANG, AKHIRI DENGAN GEMBIRA” DAN MEDIA JCross UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI DAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPS

3

KOLABORASI TEKNIK “AWALI DENGAN SENANG, AKHIRI DENGAN GEMBIRA” DAN MEDIA JCross UNTUK  MENINGKATKAN  PARTISIPASI  DAN HASIL  BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPS

A B S T R A K

Lenny Susanti, Penelitian Tindakan Kelas: Kolaborasi Teknik “Awali dengan senang, akhiri dengan gembira” dan Media Jcross untuk meningkatkan partisipasi danhasil belajarn siswa dalam pembelajaran IPS.

Tujuan penelitian tindakan ini  adalah 1) untuk meningkatkan partisipasi belajar siswa melalui pembelajaran dengan menerpkan kolaborasi teknik “Awali dengan Senang, Akhiri dengan Gembira” dan Media JCross”;2) untuk meningkatkan hasil belajarsiswa melalui pembelajaran dengan menerapkan kolaborasi teknik “Awali dengan Senang, Akhiri dengan Gembira” dan Media JCross”pada mata pelajaran IPS bagi siswa kelas VIII F SMP Negeri 1 Rawalo pada semester I Tahun Pelajaran 2015/2016.

Berdasarkan observasi awal, terdapat dua permasalahan dalam pelaksanakan  pembelajaran  IPS di  SMP N 1  Rawalo kelas VIII F. Pertama, sebagian besar siswa (67,6%) menunjukkan partisipasi belajar yang rendah, tampak kurang berminat, kurang aktif, dan cenderung tidak kreatif. Kedua, 55,9% siswa masih mencapai nilai di bawah KKM (77) atau tidak tuntas belajar.

Berdasarkan data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan Kolaborasi teknik “awali dengan senang, akhiri dengan gembira” dan media JCross dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa kelas VIII F dengan pencapaian sebesar 80,15% atau 27 siswa (indikator kinerja : 80%). Indikator kinerja kedua, sekurang-kurangnya 85% siswa hasil belajarnya dapat mencapai niliai minimal 77 (KKM) tercapai pada tes akhir siklus II dengan pencapaian 85,29% atau 29 siswa (indikator kinerja : 85%).  Dengan tercapainya kedua indikator kinerja yang telah ditentukan setelah siklus II berakhir, maka siklus penelitian tindakan kelas ini dihentikan.

Kata kunci: Partisipasi dan Hasil Belajar, Teknik “Awali dengan Senang, Akhiri  dengan Gembira, Media JCross

PENDAHULUAN

Banyak faktor yang menyebabkan ketidakmampuan siswa dalam menyerap pelajaran yang diberikan guru,  diantaranya bermula dari proses pembelajaran yang tidak menarik dan membosankan. Sebagai akibatnya, siswa menjadi malas dan tidak tertarik terhadap materi yang disampaikan. Oleh karena itu penting bagi guru untuk mengaplikasikan kegiatan pembelajaran yang menarik di kelas misalnya dengan cara menyapa siswa dengan ramah dan bersemangat, menciptakan suasana rileks, memotivasi siswa, dan menggunakan metode dan media pembelajaran yang variatif.

Kesan yang selama ini terjadi bahwa siswa sering menjadi objek yang dipersalahkan ketika tidak mampu menyerap pelajaran. Sehingga berbagai predikat pun selalu diberikan kepada siswa misalnya pemalas, tidak memperhatikan pejelasan guru, nakal, bodoh, dan lain-lain. Padahal boleh jadi penyebab ketidakmampuan siswa dalam menyerap pelajaran yang diberikan bermula dari proses pembelajaran yang tidak menarik dan membosankan, akibatnya siswa menjadi malas dan pasif dalam proses pembelajaran. Sebuah pernyataan yang patut menjadi renungan bagi para guru adalah apa yang diungkapkan oleh Andi Wira Gunawan dalam buku “Genius Learning Strategy”, bahwa sesungguhnya tidak ada mata pelajaran yang membosankan, yang ada adalah guru yang membosankan, suasana belajar yang membosankan. Hal ini terjadi karena proses belajar berlangsung secara monoton dan merupakan proses perulangan dari itu ke itu juga tanpa variasi. Proses belajar hanya merupakan proses penyampaian informasi satu arah, siswa terkesan pasif menerima materi pelajaran.

Berdasarkan observasi awal, terdapat dua permasalahan dalam pelaksanakan  pembelajaran  IPS di SMP N 1 Rawalo kelas VIII F. Pertama, sebagian besar siswa (67,6%) menunjukkan partisipasi belajar rendah, tampak kurang berminat, kurang aktif,  dan cenderung tidak kreatif. Hal ini ditunjukkan dengan sikap kurang antusias ketika pelajaran berlangsung, rendahnya respon positif dan umpan balik dari siswa terhadap pertanyaan dan penjelasan guru serta pemusatan perhatian yang kurang selama pelajaran. Kedua, hasil belajar siswa kelas VIII F dalam pembelajaran IPS cenderung rendah. Hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya siswa yang belum mencapai (tuntas) KKM pada kegiatan Ulangan Harian (UH), sebanyak 19 siswa (55,9%) mencapai nilai di bawah KKM IPS (77). Beberapa asumsi tentang permasalahan  siswa  kelas  VIII F tersebut dalam  pembelajaran  IPS  disebabkan  oleh : (1) materi pelajaran IPS terlalu luas sehingga sulit untuk dipelajari; (2) adanya anggapan bahwa IPS adalah pelajaran hafalan sehingga kurang menarik; (2) siswa kesulitan dalam pembelajaran materi IPS terpadu; (3) guru terlalu monoton dalam pembelajaran sehingga cenderung membosankan serta sulit dipahami oleh siswa; (4) guru belum menggunakan media pembelajaran yang menarik dan menyenangkan sehingga meningkatkan minat dan partisipasi siswa dalam pembelajaran IPS.

Pemanfaatan teknik yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan siswa dalam pembelajaran dapat dijadikan alternatif untuk mengatasi masalah tersebut. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPS serta tingkat partisipasi dan hasil belajar siswa perlu dilakukan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), fokus penelitian pada penggunaan teknik pembelajaran yang menuntut motivasi, partisipasi dan kreatifitas yang tinggi dari siswa, yaitu penerapan teknik “awali dengan senang, akhiri dengan gembira” yang dikolaborasikan dengan media JCross.   Masalah    dalam   penelitian  ini   adalah  partisipasi dan hasil belajar   siswa  kelas VIII F SMP Negeri 1 Rawalo Semester Gasal Tahun Pelajaran 2015/2016 dengan rumusan sebagai berikut : (1) Apakah partisipasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS dapat ditingkatkan melalui kolaborasi teknik “awali dengan senang, akhiri dengan gembira” dan media JCross ? (2) Apakah hasil belajar siswa pada pelajaran IPS dapat ditingkatkan melalui kolaborasi teknik “awali dengan senang, akhiri dengan gembira” dan media JCross?

Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahui peningkatan partisipasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS   melalui kolaborasi teknik “awali dengan senang, akhiri dengan gembira” dan media Jcross; (2) Mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS  melalui kolaborasi teknik “awali dengan senang, akhiri dengan gembira” dan media JCross.

KERANGKA TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

Kerangka Teoritis

Konsep Pembelajaran Menarik dan Menyenangkan

Istilah pembelajaran mengacu pada dua aktivitas yaitu mengajar dan belajar. Aktivitas mengajar berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh guru dan aktivitas belajar berkaitan dengan siswa. Hal ini seperti yang diungkap oleh Munib Chatib (dalam Abduh 2013), bahwa pembelajaran adalah proses transfer ilmu dua arah, antara guru sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi. Sementara Achjar Chalil mendefiniskan pembelajaran sebagai proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Sedangkan menurut Arief.S Sadiman pembelajaran adalah proses penyampaian pesan dari sumber pesan ke penerima pesan melalui saluran atau media tertentu (Arief S. Sadiman, dkk., 1990, hlm. 11). Dari ketiga definisi tersebut dapat dipahami bahwa dalam pembelajaran memuat tiga unsur penting yaitu :  (1) Proses yang direncanakan guru; (2) Sumber belajar; (3) dan siswa yang belajar.

Dalam konteks pembelajaran menyenangkan, siswa lebih diarahkan untuk memiliki motivasi tinggi dalam belajar dengan menciptakan situasi yang menyenangkan dan mengembirakan. Menurut Mulyasa, pembelajaran menyenangkan (joyfull instruction) merupakan suatu proses pembelajaran yang didalamnya terdapat suatu kohesi yang kuat antara guru dan siswa, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan. Pembelajaran menyenangkan adalah adanya pola hubungan baik antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran. Guru memosisikan diri sebagai mitra belajar siswa, bahkan dalam hal tertentu tidak menutup kemungkinan guru belajar dari siswanya.  Dalam hal ini perlu diciptakan suasana yang demokratis dan tidak ada beban, baik guru maupun siswa dalam melakukan proses pembelajaran.  (Rusman, 2011,hlm. 326 dalam Abduh).

Partisipasi Belajar Siswa

Teori yang dikemukakan oleh Rusman (2010:323) bahwa pembelajaran partisipatif yaitu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran secara optimal. Dalam meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran tidak lepas dari prinsip pengajaran yaitu aktivitas. Wina Sanjaya (2008:132) menuliskan bahwa aktivitas sendiri tidak dimaksudkan terbatas pada aktivitas fisik akan tetapi juga meliputi aktivitas yang bersifat psikis seperti aktivitas mental. Aktivitas fisik adalah peserta didik giat dan aktif dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain ataupun bekerja, ia tidak hanya duduk dan mendengarkan, melihat hanya pasif sedangkan aktivitas psikis adalah peserta didik yang daya jiwanya bekerja sebanyak- banyaknya atau banyak berfungsi dalam proses pembelajaran.

Partisipasi siswa dalam pembelajaran sangat penting untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan. Dengan demikian tujuan pembelajaran yang sudah direncakan bisa dicapai semaksimal mungkin. Tidak ada proses belajar tanpa partisipasi dan keaktifan anak didik yang belajar. Setiap anak didik pasti aktif dalam belajar, hanya yang membedakannya adalah kadar/bobot keaktifan anak didik dalam belajar. Ada keaktifan itu dengan kategori rendah, sedang dan tinggi.

Meningkatkan Partisipasi Belajar

Di dalam proses pembelajaran guru dapat meningkatkan partisipasi siswa dengan menimbulkan keaktifan belajar pada diri siswa. Kegiatan yang dapat  dilakukan oleh guru (Yeni herawati, 2008: 43) diantaranya :

  • Menggunakan multimetode dan multimedia.
  • Memberikan tugas secara individu maupun kelompok.
  • Memberikan kesempatan pada siswa melaksanakan eksperimen dalam kelompok kecil.
  • Memberikan tugas untuk membaca bahan belajar, mencatat hal- hal yang kurang jelas, serta mengadakan tanya jawab dan diskusi.

Jerrold (dalam Yeni Herawati, 2008: 50) berpendapat bahwa partisipasi tersebut dapat diwujudkan dengan berbagai hal, diantaranya:

  • Keaktifan siswa di dalam kelas Misalnya aktif mengikuti pelajaran, memahami penjelasan guru, bertanya kepada guru, mampu menjawab pertanyaan dari guru dan sebagainya.
  • Kepatuhan terhadap norma belajar. Misalnya mengerjakan tugas sesuai dengan perintah guru, datang tepat waktu, memakai pakaian sesuai dengan ketentuan, dan sebagainya

Selain itu Nana Sudjana (2000 : 21) juga menyampaikan bahwa siswa yang aktif berpartisipasi dapat dilihat dari :

  • Keinginan, keberanian menampilkan minat, kebutuhan dan permasalahannya.
  • Berpartisipasi dalam kegiatan persiapan, proses, belajar.
  • Menampilkan berbagai usaha atau kekreatifan belajar dalam menjalani dan menyelesaikan kegiatan belajar mengajar sampai mencapai keberhasilan.
  • Kebebasan atau keleluasaan melakukan hal tersebut di atas tanpa ada tekanan.

Dalam penelitian ini, siswa yang dikatakan aktif berpartisipasi dalam proses kegiatan belajar mengajar yaitu :

  • Siswa terkelola dalam pembelajaran yang aktif dan kondusif, yaitu meliputi : memiliki motivasi belajar yang tinggi, memahami materi yang sedang dijelaskan guru, bertanya bila kurang memahami materi yang disampaikan guru, menjawab pertanyaan yang disampaikan guru, mampu menyimpulkan materi yang telah disampaikan guru.
  • Menjalin hubungan timbal balik baik antara murid dengan murid ataupun murid dengan guru, yaitu meliputi : terjalin komunikasi 2 arah atau lebih antara siswa dengan guru ataupun antar siswa, mampu bekerjasama dan berdiskusi, mengemukakan pendapat dikelas. Mengembangkan materi yang disampaikan guru.
  • Menaati tata tertib pembelajaran, seperti : mengerjakan tugas sesuai dengan perintah guru, datang tepat waktu, membawa keperluan pendukung pembelajaran yang telah ditentukan (buku dan media pembelajaran lainnya), tertib dikelas (tidak mengganggu jalannya pembelajaran).

Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik setelah mengalami kegiatan belajar. Perolehan aspek- aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh peserta didik. Oleh karena itu apabila peserta didik mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep (Rifa’i, 2009:85).

Hasil belajar sangat tergantung pada proses belajar yang dilaksanakan. Hasil belajar tesebut akan terlihat setelah diberikan perlakuan pada proses belajar yang dianggap sebagai proses pemberian pengalaman belajar. Ciri terjadinya perubahan tingkah laku pada diri peserta didik ditunjukkan oleh  sejumlah kemampuan memahami dan menguasai hubungan-hubungan antara bekal kemampuan peserta didik dengan materi pelajaran yang diajarkan dalam proses belajar mengajar. Benyamin S.Bloom (dalam Rifai: 2009:86) menyampaikan tiga taksonomi yang disebut dengan ranah hasil belajar, yaitu ranah kognitif (cognitive domain), ranah afektif (affective domain), dan ranah psikomotorik (psychomotoric domain).

Teknik “Awali dengan senang, Akhiri dengan gembira”

Pembelajaran dikatakan menyenangkan apabila di dalamnya terdapat suasana yang rileks, bebas dari tekanan, aman, menarik, bangkitnya minat belajar, adanya keterlibatan penuh, perhatian peserta didik tercurah, lingkungan belajar yang menarik, bersemangat, perasaan gembira, konsentrasi tinggi. Sementara sebaliknya pembelajaran menjadi tidak menyenangkan apabila suasana tertekan, perasaan terancam, perasaan menakutkan, merasa tidak berdaya, tidak bersemangat, malas/tidak berminat,  jenuh/bosan, suasana pembelajaran monoton, pembelajaran tidak menarik siswa.

Teknik “Awali dengan senang, Akhiri dengan gembira” merupakan modifikasi teknik pembajaran aktif dan menyenangkan. Teknik ini bertujuan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, sehingga siswa akan terlibat secara aktif dan partisipatif dalam proses belajar. Dalam pelaksanaannya,   teknik  pembelajaran ini terbagi dalam 3 (tiga) tahap kegiatan, yaitu  :

Tahap awal

Pada tahap ini, guru memfasilitasi dan mengkondisikan siswa untuk siap mengikuti pembelajaran dengan rasa senang sehingga diharapkan siswa dapat terlibat secara aktif dalam seluruh kegiatan dan mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya. Kegiatan pada tahap ini disebut “awali dengan senang”. Aktivitas yang dilakukan, siswa bersama guru menyanyikan lagu yang liriknya mengandung   motivasi    dan   semangat untuk memulai kegiatan belajar. Lagu yang dipilih adalah lagu yang sudah familier di telinga siswa dan sudah dihafal. Lagu dan lirik ditayangkan dengan media audiovisual. Beberapa jenis lagu yang digunakan sebagai kegiatan awal untuk memulai pembelajaran dalam penelitian ini antara lain :

  • I Have A Dream (Westlife).
  • Lupa-lupa Ingat (Kuburan).
  • Hari Baru (RAN).
  • Bukalah Semangat Baru (Ello)
  • Jangan Menyerah (D’Masiv)

Agar suasana lebih rileks dan menyenangkan, dalam bernyanyi siswa sambil berdiri, bertepuktangan, dan berjoget sesuai irama musik.

Tahap Inti

Pada tahap kegiatan inti, guru memfasilitasi siswa untuk melakukan kegiatan belajar sesuai dengan materi yang telah ditentukan dengan media  JCross . Media  JCross  merupakan bagian dari program Hot Potatoes. Hot Potatoes terdiri dari 6 macam fasilitas yang bisa digunakan latihan-latihan berbasis web yang interaktif, dibuat oleh Research Developement Team di Universitas Victoria Humanities Computing and Media Center.  Dengan menggunakan software ini dapat membuat dalam bentuk 5 variasi latihan yaitu JCloze, JQuiz, JCross, JMatch dan JMix. JCloze latihan dalam bentuk essai, JQuiz latihan dalam bentuk pilihan ganda, JCross latihan dalam bentuk puzzle atau teka teki silang, JMatch latihan dalam bentuk menjodohkan dan JMix latihan dalam bentuk campuran dari 4 variasi yang ada. Software ini berisfat shareware diimana kita tidak harus membeli untuk dapat menggunakannya, tetapi software ini gratis untuk instansi pendidikan. Dalam penelitian ini, varian game latihan yang digunakan adalah Jcross.

Tahap Penutup

Pada tahap ketiga (penutup), merupakan penerapan dari teknik “Akhiri dengan gembira”. Kegiatan yang dilakukan, guru memfasilitasi siswa untuk melakukan yell – yell sebagai kegiatan penutup pembelajaran dengan suasana yang gembira. Yell-yell sudah dipersiapkan/dibuat dengan memodifikasi lirik lagu tertentu. Sama seperti pada teknik “awali dengan senang” di tahap pembuka, pada kegiatan ini siswa melakukan yell dalam suasana yang penuh kegembiraan. Membawakan yell dengan bernyanyi, bertepuk tangan dan menari/berjoged sesuai irama musik/midi (Lagu Senangnya Tuh di Sini versi Cita Citata).

Melalui pembelajaran IPS dengan Kolaborasi Teknik “ Awali dengan senang, Akhiri dengan gembira” dan media permainan JCross, maka pembelajaran dirancang dan direncanakan dalam suasana dan kondisi yang menyenangkan bagi siswa dari kegiatan tahap awal, kegiatan inti, dan kegiatan tahap akhir (penutup), sehingga diharapkan partisipasi dan hasil belajar siswa akan meningkat.

Media JCross (crossword puzzles)

Program untuk menyusun materi dalam bentuk teka-teki silang. Fungsinya adalah untuk membuat soal yang menyerupai teka-teki silang (TTS) dengan materi pengajaran bahasa interaktif berbasis web . Guru tidak harus merancang model dari teka-teki silang tersebut, yang guru butuhkan hanyalah mengisi clue-nya saja. Sesuai dengan fungsinya sudah pasti materi yang ada didalamnya tidak semua bisa di buat dengan menggunakan teka teki. Jcross merupakan salah satu Tools yang terdapat pada software Hot Potatoes, Program Hot Potatoes adalah software pengajaran bahasa yang terdiri atas enam program yang dapat digunakan untuk membuat materi pengajaran bahasa interaktif berbasis web. Software ini dibuat oleh Universitas Victoria di Canada. Software ini dapat digunakan secara bebas oleh institusi pendidikan. Dengan menggunakan Hot Potatoes ini, guru dapat menyajikan bentuk soal dalam lima variasi latihan yaitu JCloze, JQuiz, JCross, JMatch dan Jmix.

JCross sendiri merupakan tools yang paling sederhana dan mudah digunakan dalam pembelajaran. Hal ini mengingat dengan game JCross sama dengan TTS yang akrab digunakan dalam kegiatan bermain sehari-hari.  Sama halnya dengan Teka-teki silang atau TTS, JCross adalah suatu permainan di mana pemain harus mengisi ruang-ruang kosong (berbentuk kotak putih) dengan huruf-huruf yang membentuk sebuah kata berdasarkan petunjuk yang diberikan. Petunjuknya biasa dibagi ke dalam kategori ‘mendatar’ dan ‘menurun’ tergantung arah kata-kata yang harus diisi.

JCross yang merupakan game berbasis web berbentuk TTS dapat dikategorikan sebagai media yang berfungsi mengelola stress dan menghubungkan saraf-saraf otak yang terlelap. Sifat “fun” tapi tetap “learning” dari TTS memberikan efek menyegarkan ingatan, sehingga fungsi kerja otak kembali segar karena otak dibiasakan untuk terus belajar dengan santai. Kondisi pikiran yang jernih, rileks dan tenang akan membuat memori otak kuat, sehingga daya ingat pun meningkat. Sehingga game JCross yang mirip dengan permainan TTS dapat dikatakan sebagai media rekreasi otak karena selain mengasah kemampuan kognitif, meningkatkan daya ingat, memperkaya pengetahuan, juga menyenangkan dengan autrohing atau tampilan berbasis web (HTML/ JavaScript).

Menurut Sadiman (2006: 43) sebagai media pembelajaran, permainan mempunyai beberapa kelebihan, yaitu : permainan adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan, sesuatu yang menghibur dan menarik. Permainan memungkunkan adanya partisipasi aktif dari siswa untuk belajar. Permainan dapat memberikan umpan balik langsung. Permainan memungkinkan siswa untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata. Permainan memberikan pengalaman-pengalaman nyata dan dapat diulangi sebanyak yang dikehendaki, kesalahan-kesalahan operasional dapat diperbaiki. Membantu siswa meningkatkan kemampuan komunikatifnya. Membantu siswa yang sulit belajar dengan metode tradisional. Permainan besifat luwes, dapat dipakai untuk bernagai tujuan pendidikan. Permainan dapat dengan mudah dibuat dan diperbanyak.

Suatu media pembelajaran tentu tidak ada yang sempurna. Begitu juga dengan permainan, sebagai media pendidikan, tentu game memiliki kelebihan dan kekurangan. Permainan adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan, sesuatu yang menghibur dan menarik. Permainan memungkinkan adanya partisipasi aktif dari siswa untuk belajar. Namun tidak menutup kemungkinan melalui permainan juga akan terjadi misunderstanding dalam pemahaman materi ataupun gagalnya proses pembelajaran saat game dilaksanakan. Jadi wajar bila saja dalam sebuah pembelajaran suatu media permainan memiliki keunggulan  dan kelemahan.

3-1

   Tampilan halaman awal Hot Potatoes

3-2

Tampilan menubar JcrossGame siap dijalankan

PELAKSANAAN PENELITIAN

Setting Penelitian dan Karakteristik Kelas

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan untuk mata pelajaran IPS pada kelas VIII F SMP Negeri 1 Rawalo. Penelitian ini dilaksanakan pada semester gasal Tahun Pelajaran 2015/2016  yang dalam pelaksanaannya peneliti dibantu oleh satu orang guru (serumpun) sebagai kolaborator/observer.

Kelas VIII F berjumlah 34, terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Kelas ini dipilih sebagai subjek penelitian dengan beberapa pertimbangan : pertama kelas VIII F berdasarkan observasi awal memiliki prestasi belajar paling rendah pada mata pelajaran IPS dengan nilai rata-rata UH 1 mencapai 70 (KKM : 77), kedua siswa kelas VIII F adalah kelas yang paling banyak menunjukkan respon negatif/partisipasi rendah dalam pembelajaran IPS (kurang aktif, tidak kreatif dan kurang antusias dalam setiap KBM IPS).

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik  pengumpulan  data  menggunakan  instrumen  berupa    angket yang dilengkapi  wawancara,  observasi  aktivitas  kelas,  pengamatan,  catatan harian, pengukuran hasil belajar, dan learning logs.

  • Pengamatan : dilakukan secara kolaboratif yang melibatkan guru lain sebagai pengamat kelas. Pengamatan juga menggunakan lembar obeservasi meliputi pengamatan terhadap guru dan siswa dalam berbagai aktivitas belajar, baik di kelas maupun di luar kelas.
  • Catatan harian/jurnal : meliputi pengamatan perubahan tingkah laku siswa selama kegiatan belajar dalam berbagai aktivitas untuk berinteraksi dengan guru, siswa lain dan sumber belajar.
  • Observasi aktivitas kelas : dilakukan untuk merekam interaksi guru dan siswa dalam hal penanaman konsep yang meliputi suasana kelas, dan aktivitas (partisipasi) siswa pada kegiatan apersepsi dan diskusi kelompok.
  • Pengukuran hasil belajar : dilakukan menggunakan tes prestasi belajar yang disusun dalam bentuk soal uraian dan dilaksanakan pada akhir siklus.
  • Learning Logs : siswa menyampaikan kesan dan pengalamannya secara tertulis setelah mengikuti pembelajaran IPS menggunakan teknik ‘awali dengan senang, akhiri dengan gembira’ yang dilaksanakan dengan menggunakan media JCross.

Metode Analisis Data

Metode analisis data dalam penelitian ini dilakukan untuk melakukan analisis pencapaian indikator kinerja yang telah ditentukan melalui beberapa cara, diantaranya :

  1. Partisipasi Belajar Siswa

Indikator partisipasi belajar siswa yang diobservasi adalah terkelola dalam pembelajaran yang aktif dan kondusif, yaitu meliputi : memiliki motivasi belajar yang tinggi, memahami materi yang sedang dijelaskan guru, bertanya bila kurang memahami materi yang disampaikan guru, menjawab pertanyaan yang disampaikan guru, mampu menyimpulkan materi yang telah disampaikan guru.

Menjalin hubungan timbal balik baik antara murid dengan murid ataupun murid dengan guru, yaitu meliputi :  terjalin komunikasi 2 arah atau lebih antara siswa dengan guru ataupun antar siswa, mampu bekerjasama dan berdiskusi, mengemukakan pendapat dikelas, mengembangkan materi yang disampaikan guru, menaati tata tertib pembelajaran, seperti : mengerjakan tugas sesuai dengan perintah guru, datang tepat waktu, membawa keperluan pendukung pembelajaran yang telah ditentukan (buku dan media pembelajaran lainnya), tertib dikelas (tidak mengganggu jalannya pembelajaran), dinilai melalui lembar pengamatan (observasi). Skor pengamatan menggunakan Skala Likert dengan rentang 1 – 5, dengan rincian sebagai berikut :

  • Skor 1 : menunjukkan siswa sangat pasif
  • Skor 2 : menunjukkan siswa pasif
  • Skor 3 : menunjukkan siswa cukup aktif
  • Skor 4 : menunjukkan siswa aktif
  • Skor 5 : menunjukkan siswa sangat aktif

Nilai pengamatan = skor x 2

  1. Prestasi Hasil Belajar Siswa

Prestasi hasil belajar siswa dinilai melalui tes tertulis diakhir siklus (pembelajaran) yang dianalisis menggunakan rata-rata.

Indikator Kinerja

Indikator untuk mengetahui keberhasilan penelitian ini ditetapkan sebagai berikut :

  1. Sekurang-kurangnya 80% siswa kelas VIII F SMP Negeri 1 Rawalo meningkat partisipasi belajarnya dalam pembelajaran IPS  melalui kolaborasi teknik “awali dengan senang, akhiri dengan gembira” dan media permainan  JCross.
  2. Sekurang-kurangnya 85% siswa meningkat hasil belajarnya dan dapat mencapai/melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM IPS Kelas VIII) ≥ 77 pada tes akhir siklus.

Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus dimana tiap siklus dilakukan dalam tiga kali pertemuan. Tiap siklus dilaksanakan sesuai tujuan yang ingin dicapai dengan terlebih dahulu melakukan observasi. Dengan hasil pemantauan awal tersebut, dilaksanakanlah penelitian tindakan kelas dengan prosedur :

  • Perencanaan (planning)
  • Pelaksanaan (acting)
  • Observasi (observing)
  • Refleksi (reflecting)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Untuk mengetahui kondisi awal pembelajaran IPS di SMP Negeri 1 Rawalo, dilaksanakan kegiatan observasi, pengumpulan informasi (data awal) melalui pengamatan, dan analisis hasil UH 1. Dari hasil obeservasi dan analisis  data awal, diperoleh hasil sebagai berikut :

  1. Siswa kelas VIII F cenderung kurang aktif dan antusias dalam pembelajaran IPS.
  2. Sebanyak 15 siswa (44,12%) menyatakan bahwa pelajaran IPS membosankan karena terlalu banyak hafalan, sedangkan 9 siswa (26,47%) menyatakan pelajaran IPS sulit untuk dipahami karena materinya terlalu banyak. Sisanya, 10 siswa (29,41%) merasa senang dengan pelajaran IPS.
  3. Berdasarkan analisis hasil UH 1 (pra siklus materi KD 2 Mengidentifikasi permasalahan kependudukan dan upaya penanggulangannya), sebanyak 19 siswa (55,9%) belum mencapai KKM (77).
  4. Sebagian besar siswa (67,6%) masih memiliki partisipasi belajar yang rendah dalam pembelajaran IPS.

      Grafik 1.

Persentase Ketuntasan Hasil Belajar

3-3

Data observasi dan evaluasi awal tersebut dijadikan dasar untuk menyusun skenario penelitian tindakan dengan melaksanakan pembelajaran IPS berbasis nilai sosial dengan menerapkan teknik “awali dengan senang, akhiri dengan gembira” yang dikolaborasikan dengan media JCross di kelas VIII F SMP Negeri 1 Rawalo melalui berbagai  aktivitas belajar sebagai treatment (perlakuan tindakan).

 

Deskripsi  Siklus Pertama

Selama siklus I berlangsung, Guru mitra mengamati berbagai hal yang telah ditentukan pada setiap tahap kegiatan pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan yang telah dipersiapkan. Dari berbagai data hasil pengamatan guru mitra diperoleh data kegiatan siklus I sebagai berikut :

Tabel 1

Rekapitulasi Hasil Observasi Partisipasi Belajar Siswa Siklus I

3-7

Berdasarkan tabel  di atas,  dapat diperoleh analisis deskriptif pada observasi tingkat partisipasi belajar siswa  (pertemuan kedua siklus I) : Motivasi belajar (1) kemampuan mengidentifikasi, jumlah siswa yang mencapai  tingkat ’tinggi dan sangat tinggi’  sebanyak 23 siswa atau 67,65%; aspek (2) Memahami materi, jumlah siswa yang mencapai tingkat ’tinggi dan sangat tinggi’ sebanyak 18 siswa atau 52,94%; aspek (3) Berani Bertanya/Menjawab Pertanyaan Guru, jumlah siswa yang mencapai tingkat ’tinggi dan sangat tinggi’ sebanyak 16 siswa atau 47,06%; aspek (4) Mengerjakan dan Menyelesaikan Tugas Tepat Waktu, jumlah siswa yang mencapai tingkat ’tinggi dan sangat tinggi’ sebanyak 26 siswa atau 76,47%.  Rerata keseluruhan aspek pada observasi tingkat partisipasi belajar,  jumlah siswa yang mencapai mencapai tingkat   ‘cukup dan sangat aktif’ sebanyak 20,75    siswa atau 61,03%.

Pertemuan ketiga, adalah kegiatan tes akhir siklus I (ulangan harian dari KD 1.3). Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui pencapaian hasil belajar siswa selama pelaksanaan tindakan di siklus I. Tes akhir siklus I dilaksanakan dalam bentuk tes tertulis (uraian) dengan jumlah soal 5 butir (nilai = jumlah skor x 2). Berdasarkan analisis hasil tes, diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 2

Tabulasi Nilai Hasil Tes Akhir Siklus I

3-8

KKM : 77

Berdasarkan hasil tabulasi pada tabel 2, diperoleh data hasil tes tertulis pada akhir  siklus I : jumlah siswa yang berhasil mencapai/melampaui KKM (77) sebanyak 22 siswa (64,71%) sedangkan yang belum mencapai KKM sebanyak 12 siswa (35,29%).  Pencapaian ketuntasan hasil belajar pada siklus I jika diperbandingkan dengan data awal meningkat sebesar 20,6%.

Tabel 3

Rekapitulasi Data Hasil Observasi

  Pada Siklus I

3-9

3-7

Kesimpulan dari keseluruhan tabulasi data hasil observasi pada siklus I seperti tercantum pada tabel 7 : tingkat keberhasilan dari hasil pengamatan pada aktivitas siswa dalam KBM  mencapai 67,65% (23 orang); tingkat partisipasi belajar siswa mencapai 61,76% (21 orang); tingkat keberhasilan dari hasil pengamatan  pada  aktivitas siswa dalam diskusi  kelompok mencapai 73,53% (25 orang); dan tingkat ketuntasan hasil belajar mencapai 64,71% (22 orang).

3-4

3-5

Refleksi (reflecting). Keseluruhan proses dan hasil analisis data pada siklus I direfleksi sebagai dasar untuk perencanaan siklus II. Berdasarkan hasil pengamatan guru mitra dan dukungan data observasi, selama penerapan “awali dengan senang, akhiri dengan gembira” yang dikolaborasikan dengan media JCross pada pembelajaran IPS materi Kerusakan Lingkungan Hidup dan Upaya Penaggulangannya pada Siklus I diperoleh simpulan data sebagai berikut :

Pencapaian indikator kinerja pada siklus I :

  • Sekurang-kurangnya 80% siswa kelas VIII F SMP Negeri 1 Rawalo meningkat partisipasi belajarnya dalam pembelajaran IPS melalui kolaborasi teknik “awali dengan senang, akhiri dengan gembira” dan media permainan  JCross, pada siklus I baru mencapai 61,76% (belum tercapai).
  • Sekurang-kurangnya 85% siswa meningkat hasil belajarnya dan dapat mencapai/melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM IPS Kelas VIII) ≥ 77 pada tes akhir siklus, pada siklus I baru mencapai 64,71% (22 orang). (belum tercapai).
  • Rekomendasi : karena indikator kinerja belum tercapai, maka penelitian tindakan dilanjutkan pada siklus II.

Deskripsi Siklus Kedua

Guru mitra mengamati berbagai hal yang telah ditentukan pada setiap tahap kegiatan pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan yang telah dipersiapkan. Dari berbagai data hasil pengamatan guru mitra diperoleh data kegiatan siklus II sebagai berikut

Tabel 4

Rekapitulasi Hasil Observasi Partisipasi Belajar Siswa Siklus II

3-10

Dari tabel 4 di atas,  dapat diperoleh analisis deskriptif pada observasi tingkat partisipasi belajar siswa  (pertemuan kedua siklus II) : Motivasi belajar (1) kemampuan mengidentifikasi, jumlah siswa yang mencapai  tingkat ’tinggi dan sangat tinggi’  sebanyak 26 siswa atau 76,47%; aspek (2) Memahami materi, jumlah siswa yang mencapai tingkat ’tinggi dan sangat tinggi’ sebanyak 27 siswa atau 79,41%; aspek (3) Berani Bertanya/Menjawab Pertanyaan Guru, jumlah siswa yang mencapai tingkat ’tinggi dan sangat tinggi’ sebanyak 27 siswa atau 79,41%; aspek (4) Mengerjakan dan Menyelesaikan Tugas Tepat Waktu, jumlah siswa yang mencapai tingkat ’tinggi dan sangat tinggi’ sebanyak 29 siswa atau 85,29%.  Rerata keseluruhan aspek pada observasi tingkat partisipasi belajar,  jumlah siswa yang mencapai mencapai tingkat   ‘cukup dan sangat aktif’ sebanyak 27    siswa atau 80,15%.

Tabel 5

Tabulasi Nilai Hasil Tes Akhir Siklus II

3-11

KKM : 77

Berdasarkan hasil tabulasi pada di atas, diperoleh data hasil tes tertulis pada akhir  siklus II : jumlah siswa yang berhasil mencapai/melampaui KKM (77) sebanyak 29 siswa (85,29%) sedangkan yang belum mencapai KKM sebanyak 5 siswa (14,71%).  Pencapaian ketuntasan hasil belajar pada siklus II jika diperbandingkan dengan hasil pada siklus I meningkat sebesar 20,6%

  Tabel 6

Rekapitulasi Data Hasil Observasi

  Pada Siklus II

3-12

Kesimpulan dari keseluruhan tabulasi data hasil observasi pada siklus II seperti tercantum pada tabel 12 : tingkat keberhasilan dari hasil pengamatan pada aktivitas siswa dalam KBM  mencapai 79,41% (27 orang); tingkat partisipasi belajar siswa mencapai 80,15%; tingkat keberhasilan dari hasil pengamatan  pada  aktivitas siswa dalam diskusi  kelompok mencapai 88,24% (30 orang); dan tingkat ketuntasan hasil belajar mencapai 85,29% (29 orang).

3-6

Refleksi (reflecting). Keseluruhan proses dan hasil analisis data pada siklus II direfleksi untuk mengetahui hasil pencapaian selama siklus. Berdasarkan hasil pengamatan guru mitra dan dukungan data observasi, selama penerapan “awali dengan senang, akhiri dengan gembira” yang dikolaborasikan dengan media JCross pada pembelajaran IPS materi Permasalahan Kependudukan dan Dampaknya bagi Pembangunan pada Siklus II diperoleh simpulan data sebagai berikut :

Pencapaian indikator kinerja pada siklus II :

  • Sekurang-kurangnya 80% siswa kelas VIII F SMP Negeri 1 Rawalo meningkat partisipasi belajarnya dalam pembelajaran IPS melalui kolaborasi teknik “awali dengan senang, akhiri dengan gembira” dan media permainan  JCross, pada siklus II sudah  mencapai 80,15% (tercapai).
  • Sekurang-kurangnya 85% siswa meningkat hasil belajarnya dan dapat mencapai/melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM IPS Kelas VIII) ≥ 77 pada tes akhir siklus, pada siklus II sudah mencapai 85,29% (29 orang). (tercapai).

Rekomendasi :  karena  indikator  kinerja  sudah tercapai,  maka penelitian tindakan dihentikan pada siklus II.

P E N U T U P

 

Kesimpulan

  1. Berdasarkan data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan kolaborasi teknik ‘awali dengan senang, akhiri dengan gembira’ dan media  JCross  dapat meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa kelas VIII F SMP Negeri 1 Rawalo dalam pembelajaran IPS dalam berbagai aktivitas belajar dengan pencapaian sebesar 80,15% atau 27 siswa (indikator kinerja : 80%).
  2. Indikator kinerja kedua, sekurang-kurangnya 85% siswa prestasi belajarnya dapat mencapai niliai minimal 77 (KKM) tercapai pada tes akhir siklus II dengan pencapaian 85,29% atau 29 siswa (indikator kinerja : 85%)
  3. Dengan tercapainya kedua indikator kinerja yang telah ditentukan setelah siklus II berakhir, maka siklus penelitian tindakan kelas ini dihentikan.

Saran-saran

  1. Mengingat pelaksanaan siklus pada penelitian ini baru berjalan dua kali, siklus penelitian diharapkan tetap dilanjutkan untuk mendapat temuan yang lebih signifikan.
  2. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini masih merupakan instrumen yang tingkat validitasnya belum memuaskan, siklus berikutnya dapat mencoba dengan intrumen yang lebih standar.
  3. Pada akhir siklus kedua, tingkat pencapaian kedua indikator kinerja yang ditentukan belum maksimal, siklus berikutnya diharapkan dapat lebih meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA

 

A.M. Sardiman, 1992. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Rajawali Pers.

Arikunto Suharsimi, Suhardjoono, 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.

Asri Budiningsih, C. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Fakultas Ilmu Pendidikan UNY

BSNP, 2006. Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan SMP-MTs. Jakarta : BP. Cipta Jaya

Danim Suarwan, 1994. Media Komunikasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

De Porter Bobbi, MR & SS, 2001. Quantum Teaching. Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas. Bandung : Kaifa

Karso,  1995. Materi pokok dasar-dasar pendidikan MIPA. Jakarta: UT

Moh. Asikin, dkk, 2009. Cara Cepat dan Cerdas Menguasi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Bagi Guru. Semarang : Manunggal Karso

Muhibbin Syah, 2002. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Cetakan ke 7). Bandung : PT Remaja Rosdakarya

SJ, J. Drost, 2006. Dari KBK  sampai MBS. Jakarta : Kompas

Surakhmad Winarno, 1984. Pengantar Interaksi Mengajar-Belajar. Bandung : Tarsito.

Umaedi, 1999. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta : Dikdasmen – Depdiknas.

Wasis Sucipto, S.Pd, 2008. Strategi Pembelajaran dan Peran Guru untuk Mempersiapkan masusia Indonesia masa depan., makalah pada seminar nasional : Purwokerto : Education Watch

Yulianto,  2002. Pendekatan Lingkungan dalam Pembelajaran. Jakarta : Buletin Pelangi Dikdasmen




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *