http://www.infopasti.net/konsep-pendidikan-akhlak-pada-pemikiran-ki-hadjar-dewantara/

KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK (pada Pemikiran Ki Hadjar Dewantara)

KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK

( Pada Pemikiran Ki Hadjar Dewantara)

Oleh : Sudiono

 

ABSTRAK

Lunturnya nilai-nilai moral dari diri manusia, telah melahirkan banyak pelanggaran dan penyelewengan di berbagai bidang. hal ini tidak bisa lepas dari peran dan tanggung jawab keluarga sebagai pilar pendidikan pertama bagi seseorang, masyarakat yang membesarkan, dan lembaga pendidikan di bangku bangku sekolah. Meskipun segala upaya telah dilakukan, kesadaran individu tetap mengambil tempat terdepan dalam aplikasi nilai-nilai yang diperolehnya. Apabila menilik lebih jauh, sebenarnya telah banyak solusi yang ditawarkan oleh paraulama dan tokoh pendidikan untuk masalah tersebut, di antaranya adalah  Ki Hadjar Dewantara. Konsep Pendidikan akhlak menurut Ki Hadjar Dewantara adalah pemberian nasehat-nasehat, materi-materi, anjuran-anjuran yang dapat mengarahkan anak pada keinsyafan dan kesadaran akan perbuatan baik yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak, mulai dari masa kecilnya sampai pada masa dewasanya agar terbentuk watak dan kepribadian yang baik untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Dalam proses pendidikan tersebut harus ada pendidik dan anak didik. Pendidikan akhlak yang dikembangkan oleh Ki Hadjar Dewantara berdasarkan pada asas pancadharma, yang terdiri dari kodrat alam, kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan dan kemanusiaan. Ki Hadjar Dewantara adalah bapak pendidikan di Indonesia. Ajarannya yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan/akhlak yang baik). Kontribusi pemikiran Ki Hadjar dewantara dalam mendekonstruksi lingkungan pendidikan di Indonesia yang hanya di sekolah menjadi lebih luas dan tidak terbatas (keluarga dan masyarakat) dalam internalisasi nilai-nilai akhlak kepada anak, yang dikenal dengan Tri Pusat Pendidikan.

 

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Tujuan pendidikan dalam Sistem Pendidikan Nasional UU RI NO. 20 TH. 2003 BAB II Pasal 3 dinyatakan:”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab

Namun, globalisasi yang memasuki dekade ini berdampak besar terhadap segala sendi kehidupan manusia. Nilai-nilai luhur bangsa dan agama secara bertahap terkikis oleh nilai barat dan modern. Materialis, hedonis dan individualis menjadi penyakit masyarakat. Fenomena-fenomena lain yang mewabah di kalangan remaja seperti merokok, hubungan seks pranikah, tawuran massal, penggunaan obat-obat terlarang, dan kenakalan lain seperti sering dikeluhkan para orang tua, penyelenggara pendidikan, maupun masyarakat luas, bukanlah fenomena baru. Krisis akhlak terjadi karena sebagian besar orang tidak mau lagi mengindahkan tuntunan agama, yang secara normatif  mengajarkan kepada pemeluknya untuk berbuat baik, meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat dan munkarat.

Ki Hadjar Dewantara, ia dikenal sebagai penggagas dan pemerhati utama pendidikan budi pekerti di Indonesia, sehingga para guru dan pengelola pendidikan dalam setiap langkahnya dalam mendidik putra-putri bangsa selalu mengikuti jejaknya. Berdasarkan itu penulisan ini mengkaji Konsep Pendidikan Akhlak menurut Ki Hadjar Dewantara, karena begitu penting untuk pegangan pemikirannya terkait pendidikan akhlak, sehingga perilaku amoral di negeri ini dapat terbenahi. Selain itu, Ki Hadjar Dewantara dikenal sebagai bapak pendidikan Indonesia dan penggagas pendidikan akhlak/budi pekerti di Indonesia.

  1. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka fokus masalah yang akan dibahas adalah:

  1. Bagaimana konsep pendidikan akhlak menurut Ki Hadjar Dewantara?
  2. Bagaimana kontribusi pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam pengembangan pendidikan akhlak saat ini?

Konsep Pendidikan Akhlak

  1. Hakikat Pendidikan Akhlak

Untuk memahami pendidikan, ada dua istilah yang dapat mengarahkan pada pemahaman hakikat pendidikan, yakni kata peadagogie dan peadagogiek. Peadagogie bermakna pendidikan, sedangkan peadagogiek berarti ilmu pendidikan. Secara etimologik, perkataan peadagogie berasal dari bahasa Yunani, yaitu peadagogia yang berarti pergaulan dengan anak. Paidagogod adalah hamba atau orang yang pekerjaannya mengantar dan mengambil budak-budak pulang pergi atau antar jemput sekolah. Perkataan “paida” merujuk kepada kanak-kanak, yang menjadikan sebab mengapa sebagian orang cenderung membedakan antara pedagogi (mengajar kanak-kanak) dan andragogi (mengajar orang dewasa), pendidikan merupakan sebuh proses yang membantu menumbuhkan, mengembangkan, mendewasakan, membuat yang tidak tertata atau liar menjadi semakin tertata, semacam proses penciptaan sebuah kultur dan tata keteraturan dalam diri maupun dalam diri orang lain. Proses tersebut senantiasa berada dalam nilai-nilai islami, yaitu nilai-nilai yang melahirkan norma-norma syariah dan akhlak al-karimah. Sedangkan secara terminologi, para ahli berbeda pendapat, hakikatnya khuluq (budi pekerti) atau akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian. Dari sini timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pikiran. Dapat dirumuskan bahwa akhlak ialah ilmu yang mengajarkan manusia berbuat baik dan mencegah perbuatan jahat dalam pergaulannya dengan Tuhan, manusia, dan makhluk sekelilingnya dalam kehidupannya sehari-hari sesuai dengan nilai-nilai moral dan nilai-nilai norma agama.

PEMBAHASAN

KONSEP PEMIKIRAN AHKLAK KI HADJAR DEWANTARA

Istilah akhlak menurut Ki Hadjar Dewantara sering disebut adab atau budipekerti, dan Ilmu akhlak ialah ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan dan keburukan di dalam hidup manusia pada umumnya, khususnya yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang berupa pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai aplikasinya yang berupa sebuah perbuatan. Ilmu akhlak adalah bagian dari ilmu filsafat, karena membahas mengenai manusia dalam menghadapi kekuatan alam, dalam berproses secara evolusi untuk kemajuan hidupnya, serta dalam berinteraksi dengan Tuhannya sebagai kesempurnaan hidup. Sedangkan rasa atau jasmaninya, yaitu bagian yang berwujud akan lenyap/binasa. Tiap-tiap barang yang hidup, tentu mempunyai iradat (kemauan) untuk hidup kekal; iradat atau kemauan ini terhadap hidup diririnya sendiri dan keturunannya. Iradat tersebut menimbulkan 3 macam tabiat, yaitu:

  • Keinginan untuk mempertahankan keselamatan tubuhnya, sehingga muncullah aliran materialisme yakni keduniawian.
  • Keinginan untuk mempertahankan keselamatan jiwanya, sehingga mendirikan

aliran idealisme yakni kebatinan, agama, dan lain sebagainya.

  • Kedua aliran tersebut membangkitkan nafsu untuk berkembang/maju (evolusi) dengan diikuti oleh differensiasi atau perkhususan hidup;itulah yang menimbulkan adab/akhlak-kemanusiaan.

                Akhlak yang sebenarnya adalah buah (emansipasi) dari iradat hidup itu, kemudian berbuah sendiri. Adapun bentuk/buah akhlak itu sendiri adalah wujud tertib, baik dan indah, yang keluar dari akal dan budi manusia. Hasil dari buah akhlak itu sendiri berupa kebudayaan (dari perkataan budi) atau dalam bahasa asing dikenal dengan istilah kultur (culture). Kultur menjelma dalam bentuk sifat tertibnya berupa aturan negeri (undang-undang/politik), sama halnya dengan undang-undang pengadilan, sama halnya dalam kesucian, yakni agama (akhlak dan religi), dan hubungannya di dalam masyarakat dinamakan adat (tata cara sosial) atau disebut dengan kesenian. Menurut Ki Hadjar Dewantara pendidikan akhlak bertujuan memberi macam-macam pendidikan (pengajaran), agar seutuhnya jiwa anak terdidik, bersama-sama dengan pendidikan jasmaninya. Jiwa dan raga dari setiap orang memiliki sifat masing-masing yang khusus dan mewujudkan individualitet (sifat satu-satunya manusia) yang sempurna. Individualitet ini jika terdidik menurut kodratnya akan menjadi kepribadian, yakni jiwa yang merdeka atau karakter (jiwa). Guru pendidikan akhlak di sini seringkali diharuskan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas. Kendatipun guru sering diartikan sebagai orang yang harus di-gugu dan di-tiru dalam hal ilmunya, menurut Ki Hadjar Dewantara, kriteria itu salah dan tidak benar. Untuk itulah perlu direnungi dan diresapi bahwa menurut Ki Hadjar Dewantara pendidikan akhlak adalah “membantu perkembangan hidup peserta didik, lahir dan batin, dari sifat kodratnya menuju ke arah peradaban dalam sifatnya yang umum”. Jadi, Makna pendidikan akhlak ini mengajak kepada segenap guru atau pendidik agar melaksanakan pendidikan akhlak dalam setiap saat di sekolah dan tidak harus berpengetahuan luas. Seperti perintah yang dicontohkan oleh Ki Hadjar Dewantara, yakni, menganjurkan atau memerintahkan anak-anak untuk duduk yang baik, jangan berteriak-teriak agar tidak mengganggu anak-anak , badan dan pakaiannyah,hormat terhadap ibu-bapak dan orang-orang tua lainnya,menolong teman-teman yang perlu ditolong, dan lain sebagainya. Selanjutnya mengenai obyek (peserta didik) pendidikan akhlak menurut Ki Hadjar Dewantara pendidikan akhlak diberikan kepada peserta didik dengancara bertahap dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Menurutnya, perkembangan dan kecerdasan jiwa itu terbatas oleh umur dan lingkungan masing-masing anak, yaitu:

  • Alam atau windu pertama, yakni alamnya anak-anak kecil, periode ini

merupakan alam panca-indera dan pertumbuhan jasmani; pada masa ini jiwa laki-laki dan perempuan belum ada perbedaan, jiwa masih utuh, belum ada differensiasi (total) sehingga pendidikannya difokuskan pada mendidik tubuh dan panca-indera dengan alat atau metode permainan, menggambar, cerita, menyanyi, pertunjukan dan lain sebagainya. Semua itu aktif dan pasif.

2) Alam atau windu kedua: alam anak-anak muda (remaja). Pada masa ini sudah ada perbedaan tabiat dan kebiasaan antara laki-laki dan perempuan; alam ini merupakan fase pertumbuhan atau bertumbuhnya pikiran, tetapi dalam hal ini perasaan masih belum dominan. Anak pada periode ini tertarik pada realita atau pengalaman sehingga pendidikan yang tepat adalah pendidikan atau pembiasaan akhlak yang meliputi; setia, berani, teguh, lemah lembut, tidak lekas bosan, suka beramal dan berbuat baik, serta ikhlas dalam pengabdian. Masa ini juga baik diajarkan pendidikan seni.

  • Alam atau windu ketiga: fase manusia dewasa, alam akil-baligh, periode bertingkah laku, serta alam kemasyarakatan. Pada periode ini pendidikan harus bersifat pendidikan watak dengan metode dan cara; pengajaran ilmu untuk mendapatkan kebiasaan atau pengetahuan, dalam hal ini tidak hanya sekedar paham/mengerti tetapi peserta didik dapat menggunakan ilmu atau mempraktekkan akhlak yang baik. Pada masa ini seyogyanya ditekankan pada pendidikan rasa, agama, kesenian dan kehalusan budi (etika dan estetika).

Kemudian metode pendidikan akhlak menurut Ki Hadjar Dewantara adalah pendidikan keagamaan (Islam) yakni syari’at, hakikat, thariqat dan ma’rifat. Untuk penjelasannya sebagai berikut: Pertama syari’at, Pendidikan syari’at diberikan kepada anak kecil dan harus kita artikan sebagai pembiasaan bertingkah-laku serta berbuat menurut peraturan atau kebiasaan yang umum. Agar peserta didik mau melakukan apa-apa yang diinstruksikan oleh guru, maka pendidik harus memberi contoh atau perintah yang baik. Jika ada anak yang bertanya mengenai materi-materi, maka guru disarankan untuk menjawabnya secara singkat dan dapat dicerna dengan mudah oleh peserta didik. Oleh karena itulah, seyogyanya guru selalu menegur/menasehati apabila peserta didik berperilaku negatif atau senonoh. Tetapi seorang guru tidak boleh melupakan hakikat-hakikat anak yang perilakunya selalu spontan (perilaku yang dilakukan secara tiba-tiba). Adapun tingkatan yang kedua menurut Ki Hajar Dewantara adalah pendidikan/metode hakikat (tingkatan hakikat) yang berarti kenyataan atau kebenaran, Pendidikan hakikat ini disampaikan kepada anak-anak fase akil-baligh yaitu disaat berkembangnya akal atau kematangan berpikir. Pada waktu inilah kita memberi ke-insyafan dan kesadaran tentang pelbagai kebaikan dan kejahatan, namun harus berdasarkan atas dasar pengetahuan, kenyataan atau kebenaran. Ki hadjar berpesan dan berprinsip bahwa syari’at tanpa hakikat adalah kosong, sedangkan hakikat tanpa syariat ialah tidak sah. Tingkatan yang ketiga ialah tarikat, yang lebih terkenal dengan sebutan tirakat. Tarikat berarti perilaku, yakni perbuatan yang dilakukan dengan sengaja dengan tujuan supaya kita dapat melatih diri untuk melaksanakan berbagai kebaikan, kendatipun sulit dan berat. Metode ini merupakan latihan yang diberikan kepada anak-anak yang beranjak dewasa untuk memaksa, menekan atau memerintah dan menguasai diri sendiri. Dalam lingkungan keagamaan atau kebatinan pada umumnya, tarikat itu berupa berbagai macam kegiatan/perilaku, seperti berpuasa, berjalan kaki menuju tempat yang jauh, mengurangi tidur dan makan dan menahan pelbagi hawa nafsu pada umumnya. Namun dapat diwujudkan pula melalui kegiatan/latihan kesenian dan olahraga, kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, dan kenegaraan, mulai dengan gerakan kepanduan dan pemuda, gerakan sosial dan lain sebagainya yang bertujuan melatih para pemuda untuk mengamalkan segala tanggungjawabnya terhadap kepentingan umum. Selanjutnya Ki Hadjar Dewantar menambahkan metode ma’rifat yang digunakan dalam pendidikan akhlak bagi anak-anak dewasa. Ma’rifat berarti benar-benar mengerti/paham. Mereka harus sudah mengerti akan adanya hubungan antara tata tertib lahir dan ketenangan batin dan telah cukup berlatih dan terbiasa menguasai dirinya sendiri, serta menempatkan dirinya di dalam koredor atau garis-garis syariat, hakikat dan tarikat. Jika mereka masih juga berbuat hal yang negatif (salah pilih jalan), maka setidaknya mereka sudah dapat berpikir, sehingga mereka tidak akan terombang ambingkan oleh pertentangan-pertentangan batin.Pada masa ini materi-materi pendidikan akhlak harus diberikan waktu tersendiri atau diberikan secara ceramah-ceramah. Lingkungan pendidikan itu oleh Ki Hadjar Dewantara disebut tri pusat pendidikan. Berikut ini Ki Hadjar Dewantara akan menjelaskan mengenai tri pusat pendidikan akhlak:

1) Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialamai oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik.Pendidikan keluarga berfungsi: sebagai pengalaman pertama masa kanakkanak, menjamin kehidupan emosional anak, menanamkan dasar pendidikan moral, memberikan dasar pendidikan sosial. meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak.

2) Sekolah sebagai lembaga terhadap pendidikan, diantaranya sebagai berikut; sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik.Selain itu Ki Hadjar Dewantara mengganggap sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah, sekolah melaqtih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain sifatnya mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan, di sekolah diberikan pelajaran akhlak, keagamaan, estetika, membenarkan benar atau salah, dan sebagainya.

3) Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah. Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampaknya lebih luas. Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat banyak sekali, ini meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan pengertia-pengertian (pengetahuan), sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.Oleh karena itulah, kita harus belajar pada konsep full day school ala Ki Hadjar Dewantara. Pelaksanaan full day school yang ditawarkan oleh Ki Hadjar Dewantara adalah konsep tri pusat pendidikan. Hubungan antara anak dengan orang tua bersifat alami dan tradisi , dapat memberikan beberapa bentuk pendidikan akhlak di dalam keluarga, yaitu orang tua mendorong agar putra-putrinya selalu melaksanakan syari’at Islam (sholat dan berpuasa,). Kemudian pendidikan yang terjadi dalam masyarakat dapat bersifat non-formal dan informal. Pendidikan yang bersifat non-formal yaitu yang sengaja diselenggarakan oleh badan atau lembaga dalam masyarakat yang berfungsi mendidik, seperti : TPQ, madrasah diniyah, masjid, pramuka, organisasi pemuda, perpustakaan masyarakat, musium, kebun binatang, kursus-kursus, dan lain-lain. Sedangkan pendidikan yang bersifat informal berlangsung melalui pergaulan atau melalui interaksi antar anggota masyarakat, dimana dalam interaksi itu terjadi proses imitasi, identifikasi dan sosialisasi. Di lembaga-lembaga tersebut bisa juga diajarkan nilai-nilai akhlak yang konkrit, yakni mengenai bagaimana berkomunikasi atau berinteraksi yang sopan dengan masyarakat (konstruktivistik) sebagai kelanjutan dari materi yang didapatkan di sekolah dan keluarga.Pendidikan yang berlangsung dalam masyarakat secara informal itu merupakan hidden curriculum yang justru banyak pengaruhnya pada pembentukan kepribadian seorang anak. Oleh karena itu sangat penting adanya saling bekerja sama, saling mengisi, dan saling peduli antara ketiga pusat pendidikan itu, Ki Hadjar Dewantara menyarankan dan menyumbangkan pemikirannya agar full day school tidak hanya difokuskan di lembaga formal (sekolah) tetapi di keluarga dan masyarakat. Jika ini diterapkan maka peserta didik tidak akan jenuh dan merasa terpenjara, karena pendidikan akhlak ini tidak hanya diperoleh dari pendidikan sekolah formal namun juga diperolehnya secara alamiah dan menyenangkan (dari keluarga dan masyarakat).

 

PENUTUP

Konsep pendidikan akhlak menurut Ki Hadjar Dewantara adalah berusaha memberikan nasehat-nasehat, materi-materi, anjuran-anjuran yang dapat mengarahkan anak pada keinsyafan dan kesadaran akan perbuatan baik yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak, mulai dari masa kecilnya sampai pada masa dewasanya agar terbentuk watak dan kepribadian yang baik untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Pendidikan akhlak yang dikembangkan oleh Ki Hadjar Dewantara berdasarkan pada asas pancadharma, yang terdiri dari kodrat alam, kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan dan kemanusiaan. Konsep pendidikan akhlak dari Ki Hadjar Dewantara disimpulkan sebagai berikut: Pertama, hakikat pendidikan akhlak, Ki Hadjar Dewantara berprinsip, hakikat pendidikan akhlak bisa ditransfer atau diinternalisasikan kepada manusia sejak ia lahir sampai meninggal duni. Akhlak bukanlah bawaan sejak lahir, tetapi muncul karena adanya pendidikan atau pembinaan. Kedua, tujuan pendidikan akhlak. Tujuan pendidikan akhlak yang dicetuskankan oleh Ki Hadjar Dewantara adalah untuk memberikan macammacam pendidikan (pengajaran), agar seutuhnya jiwa anak terdidik, bersamasama dengan pendidikan jasmaninya. Ketiga, pendidik dan anak didik, menurut Ki Hadjar Dewantara guru pendidikan akhlah tidak harus pandai dan perfect. Anak didik, manusia yang berhak didik sesuai dengan perkembangannya. Keempat, metode pembelajaran pendidikan akhlak. Ki Hadjar Dewantara memiliki beberapa metode dalam proses pendidikan akhlak, seperti ngerti, ngrasa dan nglakoni atau metode syari’at, hakikat, tharikat dan ma’rifat. Kelima, materi pendidikan akhlak. Materi pendidikan akhlak yang utama adalah syari’at dan dapat diambil dari cerita rakyat, lakon, babad dan sejarah, buku karangan pada pujangga, kitab suci agama dan adat istiadat. Keenam, Pusat pendidikan. Pusat pendidikan akhlak Ki Hadjar Dewantara yaitu: keluarga, sekolah dan masyarakat. 3. Kontribusi pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam pengembangan pendidikan akhlak sangat ideal untuk langsung kita terapkan. Kemudian Ki Hadjar Dewantara, sebagai bapak pendidikan di Indonesia pemikiran pendidikan beliau dijadikan panutan utama dalam mengembangkan pendidikan akhlak. Konsep beliau yang terkenal adalah Tri Pusat Pendidikan (keluarga, sekolah dan masyarakat), yakni lingkungan/tempat dilaksanakannya pendidikan. Menurutnya, ketiga lingkungan tersebut harus ada sinkronisasi dalam melaksanakan pendidikan akhlak, dari tiga tempat inilah menurutnya pendidikan sepanjang waktu bisa terjadi. Konsep ini merupakan konsep baru dalam mendekonstruksi model full day school yang selama ini dikenal sebagai model pendidikan bergaya penjara.

DAFTAR PUTAKA

Aat Syafaat, H. TB. dkk. 2008. Peranan Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Kenakalan Remaja (Juvenile Delinquency). Jakarta: Rajawali Pers.

A, Doni Koesoema. 2007. Pendidikan Karakter (Strategi Mendidik Anak di Zaman Global). Jakarta: Grasindo.

Abdullah, Yatimin. 2007. Studi Akhlak dalam Perspektif Al Qur’an. Cet.Ke-1 Jakarta: Amzah.

Ali, Muhammad Daud, 2005. Pendidikan Agama Islam, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Dewantara, Bambang S. 1989. Ki Hadjar Dewantara, Ayahku. Jakarta: Pustaka Harapan.

Dewantara, Ki Hadjar. 1961. Karya Bagian I: Pendidikan. Yogyakarta:

Muhaimin. 1991. Konsep Pendidikan Islam. Solo: Ramadlan.

Nizar, Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers.

Soeratman, Darsiti. 1983/1984. Ki Hadjar Dewantara. Jakarta: DepartemenPendidikan dan Kebudayaan.

Soewito, Irna H.N., 1985 Hadi Soewardi Soeryanigrat dalam Pengasingan. Jakarta: Balai Pustaka.

Sulaiman.Darwis.A, Sekolah , Keluarga dan Masyarakat Sebagai Pusat Kebudayaan ,Makalah, hlm.2-3

BIODATA

NAMA            : SUDIONO,S.PdI.,M.Pd.I

NIP.                : 19760918 199903 1 005

JABATAN      : KEPALA MADRASAH

UNIT KERJA : MIN WIRASABA PURBALINGGA

EMAIL           : sudiono_43@yahoo.com


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *