Konsep Zaman Praaksara Kelas VII Melalui STAD

PENINGKATAN AKTIVITAS  DAN HASIL BELAJAR KONSEP ZAMAN PRAAKSARA BAGI SISWA SMP N 3 WANAYASA KELAS VIIA SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN 2016/2017 MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN STAD

 

Oleh : SUPONO, S.Pd


 

ABSTRAK

Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pembelajaran kooperatif STAD sebagai upaya meningkatkan keaktivan dan hasil belajar siswa SMP N 3 kelas VIIA semester gasal tahun pelajaran 2016/2017. Penelitian ini menggunakan metode PTK dengan melakukan 2 siklus tindakan. Setiap siklus dilakukan melalui tahapan : a) perencanaan, b) pelaksanaan, 3) pengamatan, dan 4) refleksi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Pelaksanaan pembelajaran IPS Terpadu pada konsep Zaman Praaksara dengan menerapkan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa SMP N 3 Wanayasa kelas VIIA semester gasal tahun  pelajaran 2016/2017, hal ini ditandai dengan : 1) Peningkatan aktivitas belajar  siswa pada pra siklus dengan kategori tinggi sebanyak 13 siswa (41,94% ), kategori sedang 10 siswa (32,26%), dan kategori rendah 8 siswa (25,81%). Pada siklus I kategori tinggi sebanyak 19 siswa (61,29%), kategori sedang 7 siswa (22,58%), dan kategori rendah  5 siswa (16,13%). Pada siklus II kategori tinggi sebanyak 26 siswa (83,87%), kategori sedang 4 siswa 12,90%) dan 1 siswa pada kategori rendah (3,23%). 2) Peningkatan hasil belajar siswa naik dari rata-rata skor 72,95  pada pra siklus menjadi 77,57  pada siklus I, dan pada siklus II naik dengan rata-rata skor menjadi 81,24 atau naik secara keseluruhan dari kondisi awal hingga siklus II sebesar 8,29%. Ketuntasan belajar juga naik yaitu dari 64,52%  pada pra siklus  menjadi 77,42%  pada siklus I , dan meningkat  menjadi 90,32% pada siklus II atau naik secara keseluruhan dari kondisi awal hingga siklus II sebesar 25,8%.

Kata Kunci : Keaktivan, Hasil Belajar, Model Pembelajaran STAD

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Rendahnya hasil belajar siswa merupakan salah satu masalah dalam pembelajaran di sekolah. Hasil belajar ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Blom ( 1978:11) mengemukakan adanya faktor utama yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu kemampuan kognitif, motivasi berprestasi dan kualitas pembelajaran. Kualitas pembelajaran adalah kualitas kegiatan pembelajaran yang dilakukan  atau menyangkut metode pembelajaran yang dilakukan. Model pembelajaran dan faktor lingkungan merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar.

Hasil analisis ulangan harian pada pra siklus dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 26 September 2016 pada peserta didik kelas VII A SMP Negeri 3 Wanayasa  pada mata pelajaran IPS Terpadu  siklus semester I tahun pelajaran  2016/2017 dapat dikatakan  rendah baru mencapai ketuntasan belajar 64,52%  , berarti ada peserta didik memperoleh nilai masih berada di bawah KKM sebesar 35,48%.  Nilai tertinggi baru mencapai 87,69, dan nilai terendah 58,46. Nilai rata-rata kelas sebesar 72, 95 berarti masih lebih rendah dari KKM yaitu ≥75.

Rendahnya hasil belajar tersebut ditandai dengan hal-hal sebagai berikut : 1) Guru kurang menggunakan metode yang variatif dan inovatif dalam proses pembelajaran sehingga membosankan dan kurang menarik minat siswa dalam belajar. 2) Pembelajaran masih menggunakan cara konvensional, seperti metode  metode ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas, 3) Keterbatasan fasilitas belajar, 4)  Guru kurang termotivasi untuk menggunakan metode belajar baru yang diaplikasikan di dalam kelas maupun di luar kelas sehingga hasil belajar, motivasi belajar dan aktivitas belajar pun terlalu sulit untuk meningkat lebih baik.  5) Guru masih mendominasi proses pembelajaran sehingga siswa terlibat dalam pembelajaran.

Berdasarkan hasil observasi awal tentang aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VIIA SMP N 3 Wanayasa yang masih rendah, maka guru sekaligus sebagai peneliti dan teman sejawat sebagai kolaborator akan merancang sebuah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran STAD (Student Team Achievment Devision ).

Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah dan pembatasan masalah sebagaimana telah  terpaparkan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah  :

  1. Bagaimana peningkatan aktivitas belajar Konsep Zaman Praaksara bagi Siswa SMP N 3 Wanayasa Kelas VIIA semester gasal tahun pelajaran 2016/2017 melalui penerapan model pembelajaran STAD ?
  2. Bagaimana peningkatan hasil belajar konsep Zaman Praaksara bagi Siswa SMP N 3 Wanayasa Kelas VIIA semester gasal tahun pelajaran 2016/2017 melalui penerapan model pembelajaran STAD ?

KAJIAN PUSTAKA

Pembelajaran kooperatif ( Cooperatif Learning )

Menurut Jamil  (2012: 191 ), menerangkan bahwa pembelajaran kooperatif atau  cooperatif  learning mengacu pada metode pembelajaran, di mana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil, saling membantu dalam belajar. Anggota – anggota kelompok bertanggungjawab atas ketuntasan tugas – tugas kelompok dan untuk mempelajari materi itu sendiri.

Langkah – Langkah Pembelajaran Kooperatif.

Menurut Ibrahim dalam Jamil (2012:192), ada 6 langkah utama atau tahapan di dalam pembelajaran kooperatif, seperti nampak dalam tabel 1 berikut :

Tabel 1.1

Langkah – Langkah Model Pembelajaran Kooperatif

Fase Tingkah Laku Guru
Fase 1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa
Fase 2

Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
Fase 3

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok – kelompok belajar

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase 4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
Fase 5

Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Fase 6

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara untuk menghargai, baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok

Model-model pembelajaran kooperatif STAD

STAD ( Student Team Achievment Division ) oleh Robert Slavin ( 1990 ). STAD merupakan salah satu model yang dapat digunakan sebagai strategi pada pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan baik digunakan bagi guru yang baru mengenal pendekatan kooperatif.

 Ada 5 komponen utama dalam STAD, yaitu :

  • Presentasi kelas ( guru menyajikan materi pelajaran )

Presentasi kelas merupakan kegiatan pembelajaran yang disampaikan guru, dapat berupa informasi instruksi atau penyampaian suatu materi dengan menggunakan audiovisual. Para siswa harus benar-benar memberi perhatian penuh selama kegiatan pembelajaran karena mereka akan mengerjakan kuis-kuis dan skor mereka akan menentukan skor tim / kelompoknya.

  • Tim atau Belajar kelompok.

Tiap kelompok terdiri dari 4 atau 5 orang siswa yang mewakili kelas dalam kelompok akademik, yang  beraneka ragam jenis kelamin, ras. Setiap anggota kelompok ikut bertanggungjawab atas maju mundurnya kelompok tersebut. Saat siswa belajar dalam kelompok, kegiatan yang dilakukan dapat berupa diskusi mengerjakan LKS, atau tugas lain yang diperintahkan oleh guru.

  • Tes individu

Setelah kegiatan belajar berlangsung selama 1 atau 2 periode guru memberikan pembelajaran, maka selanjutnya semua siswa harus mengikuti tes tulis. Selama tes berlangsung, maka setiap siswa mengerjakan sendiri, tidak boleh bekerja sama walaupun dengan teman kelompoknya sendiri. Hasil pekerjaan tes siswa selanjutnya diberi skor, boleh dengan cara dicocokan bersama-sama atau disilang dengan kelompok lain.

  • Skor Perkembangan Individu

Skor yang didapat tiap individu selanjutnya dicatat oleh guru, untuk dibandingkan dengan hasil prestasi belajar siswa  pada pokok bahasan atau materi sebelumnya. Berikutnya guru menghitung besarnya skor perkembangan setiap siswa dan skor perkembangan setiap kelompok, dan kemudian membuat nilai rata-rata, caranya adalah membagi dengan jumlah anggota kelompoknya sehingga hasil akhir berupa satu angka.

  • Penghargaan kelompok

Angka perkembangan siswa yang didapat setiap kelompok, digunakan untuk menentukan penghargaan kelompok tersebut. Penerapanaan model pembelajaran kooperatif  STAD dalam pembelajaran konsep Zaman Praaksara dalam penelitian tindakan kelas ini dengan alasan dan pertimbangan bahwa pembelajaran kooperatif STAD dengan kelompok kecil sekitar 2 – 6 orang terbukti lebih efektif dari pembelajaran kolaboratif  dibandingkan dengan jumlah lebih dari 6 orang.

METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Setting penelitian ini menggunakan setting kelas. Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIIA SMP Negeri 3 Wanayasa, yang terletak di desa Dawuhan Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, Propinsi Jawa Tengah  pada semester gasal tahun pelajaran 2016/2017.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Data diperoleh langsung dari sumber data, yaitu siswa kelas VIIA, SMP Negeri 3 Wanayasa  semester gasal tahun 2016/2017 melalui : 1) teknik tes, 2) pengamatan, 3) dokumentasi.

Validasi Data

Menurut Suharsimi Arikunto (2010), validasi data adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkatan kevalidan atau kesahihan sebuah instrumen. Suatu instrumen dinyatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Pada penelitian ini validasi menggunakan : 1) Data Hasil Belajar, 2) Data Pengamatan / Observasi, 3) Data Dokumentasi.

Teknik Analisis dan Pengolahan Data

Pada penelitian ini validasi data menggunakan :

Analisis Data Tes Hasil Belajar

Menurut Sugiyono (2013), analisis data merupakan suatu proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara : mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting, dan membuat kesimpulan agar mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Analisis tersebut dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :1) Menghitung skor yang diperoleh siswa dengan norma dan tabel penilaian, 2) Menghitung skor tertinggi, terendah dan median, 3) Menghitung ketuntasan belajar siswa, 4) Menghitung nilai rata-rata dengan rumus :

      Nilai rata-rata = Jumlah nilai seluruh siswa

                                         Jumlah siswa

Ketuntasan  belajar individu menggunakan kriteria ketuntasan minimal ≥ 75, ketuntasan belajar klasikal 85%. Untuk menghitung ketuntasan klasikal dengan rumus :

      Ketuntasan Klasikal  = Jumlah siswa tuntas    x   100%

                                                 Jumlah siswa

 

Kriteria dan Indikator Kinerja

Pengamatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pengamatan tentang aktivitas belajar siswa, ada 10 aspek meliputi : 1) kisi-kisi aktivitas belajar siswa , 2) butir instrumen proses aktivitas belajar siswa , 3) lembar observasi atau pengamatan. Instrumen yang digunakan untuk mengamati variabel aktivitas belajar siswa  menggunakan kemampuan aktivitas belajar siswa  yang terdiri dari 10 aspek atau indikator, yaitu : 1) Mengumpulkan / menggunakan fakta yang relevan, 2) Mencatat setiap pengamatan secara terpisah, 3) Menghubungkan hasil-hasil pengamatan, 4) Menemukan pola-pola hasil pengamatan, 5) Bertanya untuk meminta penjelasan, 6) Menyadari bahwa suatu penjelasan perlu  diuji kebenarannya, 7) Menentukan alat/bahan/sumber yang digunakan, 8) Mengetahui bagaimana menggunakan alat/bahan, 9) Menggunakan konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru, 10) Menyusun dan menyampaikan laporan secara sistematis.

Indikator kinerja untuk mengukur keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :

  1. Aktivitas belajar siswa terhadap penerapan model STAD dinyatakan berhasil jika mencapai 80% atau atau 25 siswa dari 31 siswa mencapai kriteria tinggi.
  2. Hasil belajar siswa terhadap penerapan model pembelajaran STAD dinyatakan tuntas atau mendapat nilai ≥75 sesuai KKM dan berhasil jika secara klasikal mencapai ≥ 85% atau 27 siswa dari 31 siswa yang tuntas belajar.

 

Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK/ Classroom Actioan Research) menggunakan konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kemmis dan Mc Taggart (1988), melalui tahapan 2 siklus. Prosedur atau pelaksanaan penelitian dilakukan secara siklus berulang di mana banyaknya siklus pada penelitian tindakan kelas ( PTK ) tergantung pada permasalahan yang perlu dipecahkan. terdiri dari empat komponen, yaitu : 1) Planning atau membuat perencanaan, 2) Acting atau melaksanakan tindakan, 3) Observing atau melakukan pengamatan , 4) Reflecting atau mengadakan refleksi.

 

Prosedur Tindakan Siklus I

  1. Rencana Tindakan

Pada bagian ini, peneliti melakukan perencanaan tindakan untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa  dan hasil belajar melalui penerapan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD), dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1) Menetapkan setting dan waktu pelaksanaan penelitian dengan 2 siklus dan tiap siklus 3 pertemuan,  2) Menetapkan materi pembelajaran yaitu KD 1.2 Mendeskripsikan kehidupan Zaman Praaksara (indikator 1.2.1 s/d indikator 1.2.4) dan jenis jenis manusia purba yang pernah hidup di Indonesia (indikator 1.2.5 s/d indikator 1.2.7), 3) Membuat ijin penelitian, rekomendasi kepala sekolah dan pernyataan sebagai kolaborator, 4) Menyusun rancangan penelitian terdiri dari uraian kegiatan dan pelaksanaan, 5) Menyusun RPP dan Silabus, 6) Menyusun PROTA dan PROMES, 7) Menyusun APKG 1 dan 2, 8) Menyusun instrumen penilaian hasil belajar, 9) Menyusun instrumen penilaian proses belajar, 10) Membuat daftar hadir, 11) Menentukan jadwal pelaksanaan refleksi

  1. Pelaksanaan Tindakan

Untuk meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar siswa, maka dilakukan pembelajaran melalui menerapkan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD)

  1. Pengamatan/Observasi

Sebelum melakukan penelitian pembelajaran, tugas pengamat adalah : 1) Menyusun lembar pengamatan bersama guru peneliti, 2) Menilai rencana perbaikan pembelajaran dengan menggunakan format Lembar Penilaian Keterampilan Menyusun Rencana Perbaikan Mengajar. Selama pelaksanaan perbaikan pembelajaran, tugas pengamat adalah : 1) bersama-sama peneliti melakukan refleksi tentang perbaikan pembelajaran, 2) memberikan saran untuk perbaikan pembelajaran siklus II.

  1. Refleksi

Dari data pengamatan di atas selanjutnya dianalisis sebagai bahan melakukan refleksi. Kegiatan refleksi dilakukan setelah selesai proses tindakan pertemuan ke -6, setelah pelaksanaan ulangan harian. Hal-hal yang dilakukan refleksi sebagai berikut : 1) Melaksanakan analisis kemampuan aktivitas belajar siswa, 2) Melakukan analisis hasil belajar, 3) Melakukan analisis kemampuan guru dalam melaksanakan rencana pembekajaran melalui alat penilaian APKG 1, 4) Melakukan analisis kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran alat APKG 2, 5) Melakukan diskusi refleksi dengan kolaborator menggunakan lembar diskusi refleksi, 6) Membandingkan hasil tindakan dengan indikator keberhasilan, 7) Menetukan langkah tindakan siklus II hasil diskusi refleksi bardasarkan kajian teori, 8) Menyusun instrumen rencana tindakan siklus II berdasarkan hasil refleksi dengan kolaborator.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pembahasan Tiap  dan Antar Siklus

  1. Pembahasan Antar Siklus
  2. Tindakan Peneliti

Proses pembelajaran pada pra siklus masih bersifat konvesional karena guru masih mendominasi pembelajaran dengan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan. Guru juga belum menggunakan alat peraga yang menunjang proses pembelajaran dan hanya memberikan contoh kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa belum nampak aktivitas belajar siswanya. Proses belajar mengajar yang demikian ternyata tidak menarik dan bahkan memberi kesan bahwa mata pelajaran IPS Terpadu sulit untuk dipahami. Guru juga belum membentuk kelompok-kelompok diskusi sehingga siswa belum terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini mengakibatkan aktivitas belajar siswa  dan hasil belajar siswa rendah.

Pada siklus I, peneliti menerapkan model pembelajaran STAD dengan membentuk 6 kelompok diskusi yang terdiri dari 5 dan 6 siswa. Tingkat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran mulai menunjukkan hasil yang lebih baik karena siswa terlibat langsung dalam proses belajar dengan bimbingan dari guru. Belajar dalam kelompok diskusi ternyata berdampak pada peningkatan aktivitas belajar siswa  dari pra siklus  dan hasil belajar siswa.

  1. Hasil Pengamatan

Gambaran hasil belajar dan proses pembelajaran pada konsep Zaman Praaksara dengan memenarapkan model STAD sebagai berikut :

Pada pra siklus, proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan Pembelajaran pada siklus I mulai dilaksanakan dengan  menerapkan model STAD. Demikian pula pada siklus II. Pada siklus I pembentukan  kelompok dibuat berdasarkan hasil ulangan harian kondisi awal, pembentukan kelompok pada siklus II dibuat berdasarkan hasil ulangan harian Siklus I. Pembagian kelompok yang demikian agar penyebaran siswa yang mempunyai kemampuan akademik menjadi lebih merata. Siswa yang berkemampuan akademik tinggi dan berkemampuan akademik rendah tidak mengelompok. Dalam pembelajaran kooperatif , siswa yang pandai akan bisa menjadi tutor sebaya, Mereka akan “berenang” dan “tenggelam” bersama untuk mencapai tujuan pembelajaran, baik secara individu kelompok. Anita Lie dalam Rumiyati ( 2011:78), menyatakan bahwa : Peneliti dan guru memberikan motivasi agar siswa aktif  berdiskusi karena hasil pemikiran beberapa siswa lebih baik daripada pemikiran satu siswa saja.

Dibandingkan dengan pra siklus, pembelajaran pada siklusI terjadi kenaikan baik dalam aktivitas belajar siswa  maupun hasil belajar. Ternyata pada siklus II juga terjadi kenaikan proses maupun hasil belajar dibanding pada siklus I. Hasil penelitian pada kondisi awal sampai dengan siklus II dapat digambarkan sebagai berikut.

Tabel 1.2

Perbandingan Hasil Aktivitas Belajar Siswa

Pada Pra Siklus s/.d Siklus II

No Aktivitas Belajar Siswa Pra Siklus  

%

 

Siklus I

 

%

 

Siklus II

 

%

1 Tinggi 13 41,94 19 61,29 26 83,87
2 Sedang 10 32,26 7 22,58 4 12,90
3 Rendah 8 25,81 5 16,13 1 3,23
Jumlah 31 100 31 100 31 100

Grafik : 1.2

Perbandingan Hasil Aktivitas Belajar Siswa

Pada Pra Siklus s/d Siklus II

Tabel 1.3

Penghargaan Kelompok pada Siklus I

No Kelompok Nilai Kelompok Penghargaan
1 E ≥ 21 SUPER TEAM ( KELOMPOK SUPER )
2 A, B, C, D, F 16 – 20 GREAT TEAM ( KELOMPOK HEBAT )
3 ≤  15 GOOD TEAM ( KELOMPOK BAIK )

Tabel 1.4

Penghargaan Kelompok pada Siklus II

No Kelompok Nilai Kelompok Penghargaan
1 E, G ≥ 21 SUPER TEAM ( KELOMPOK SUPER )
2 A, B, C, D, F, H 16 – 20 GREAT TEAM ( KELOMPOK HEBAT )
3 ≤ 15 GOOD TEAM (KELOMPOK BAIK)

      Berdasarkan grafik dan tabel di atas, menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa pada pelajaran IPS Terpadu pada konsep Zaman Praaksara siswa SMP N 3 Wanayasa kelas VIIA semester gasal tahun  pelajaran 2016/2017 melalui penerapan model STAD menunjukkan peningkatan dari kondisi awal ke siklus I dan dari siklus I ke siklus II.

Tabel 1.5

                             Deskripsi Interval Nilai Pra Siklus s/d  Siklus II

No Interval Persentase
Pra Siklus Siklus I Siklus II
1 91 – 100 3,23 6,45
2 81 – 90 19,35 19,35 45,16
3 71 – 80 45,16 64,52 48,39
4 61 – 70 12,90 12,90
5 51 – 60
6 0 – 50
Jumlah 100 100 100

 Tabel 1.6

                                   Deskripsi Hasil Belajar Pra Siklus s/d Siklus II

No Uraian Pra Siklus Siklus I Siklus II
1 Nilai Tertinggi 87,69 90,77 92,31
2 Nilai Terendah 58,46 67,69 70,77
3 Nilai Rerata 72,95 77,57 81,24
4 Rentang nilai 29,23 23,08 21,54

   Tabel 1.7

                     Perbandingan Hasil Persentase Ketuntasan Belajar Pra Siklus s/d Siklus II

Kategori Ketuntasan Skor Pra Siklus Siklus I Siklus II
Jumlah Siswa % Jumlah Siswa % Jumlah Siswa %
Tuntas ≥ 75 20 64,52 24 77,42 28 90,32
Tidak tuntas ≤ 74 11 35,48 7 22,58 3 9,68

Grafik : 1.2

Diskripsi Nilai Ulangan Harian Pra Siklus s.d dan Siklus II

Dari tabel dan gambar di atas juga dapat dilihat bahwa nilai rerata per siklus sebesar 72,95, pada siklus I sebesar 77,57 pada siklus II sebesar 81,24. Berarti setelah tindakan penelitian mengalami kenaikan nilai rerata dibandingkan sebelum tindakan. Untuk nilai tertinggi sebelum tindakan 87,69, pada siklus I naik mejadi 90,77 dan pada siklus II menjadi 92,31.

Nilai tertinggi pada pra siklus sebesar 87,69, naik menjadi 90,77 pada siklus I dan naik lagi menjadi 92,31 pada siklus II. Sedangkan untuk nilai terendah sebelum tindakan sebesar 58,46 pada kondisi awal, naik menjadi 67,69 pada siklus I dan naik lagi menjadi 70,77 pada siklus II. Ketuntasan belajar secara klasikal sebelum tindakan pada pra siklus sebesar 64,52%, pada siklus I naik menjadi 77,42%, dan pada siklus II naik menjadi menjadi 90.32%. Ini berarti secara keseluruhan pembelajaran dengan nilai rerata, nilai tertinggi, nilai terendah dan ketuntasan  pembelajaran dengan menerapkan model STAD dapat meningkatkan hasil belajar.

Berdasarkan data di atas, menunjukkan bahwa proses pembelajaran IPS Terpadu pada konsep Zaman Praaksara siswa SMP N 3 Wanayasa kelas VIIA semester gasal tahun  pelajaran 2016/2017 dengan menerapkan metode pembelajaran STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa yang  ditunjukkan dengan  peningkatan hasil dari kondisi awal ke siklus I, dan dari siklus I ke siklus II.

      Hal tersebut membuktikan bahwa melalui penerapan menerapkan model  STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar belajar IPS Terpadu pada konsep Zaman Praaksara. Hal ini sejalan dengan pendapat Depdiknas (2003:5), yang menyatakan bahwa  “Pembelajaran Kooperatif (cooperative learning) merupakan strategi pembelajaran melalui kelompok kecil siswa yang saling bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar”  Menurut Slavin  ( 2009: 41 ) menjelaskan bahwa terdapat dasar teoritis yang kuat untuk memprediksi bahwa metode pembelajaran kooperatif  yang menggunakan tujuan kelompok dan tanggungjawab individual akan meningkatkan prestasi siswa.

Guru membimbing siswa dalam menemukan sendiri suatu konsep dalam kelompok diskusi ternyata lebih meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran yang berdampak pada peningkatan aktivitas belajar siswa  dan hasil belajar siswa. Penerapan model pembelajaran STAD merupakan salah satu strategi untuk mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran dengan membentuk kelompok diskusi. Diskusi dalam kelompok kecil terbukti sebagai cara pembelajaran yang paling efektif ( Suyono, 2011: 221).

DAFTAR PUSTAKA

Hamzah. B.U. ( 2012 ). Model Pembalajaran : Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan  Efektif, Jakarta : Bumi Aksara.

Rasyid & Mansyur. (2008 ). Penilaian Hasil Belajar, Bandung : CV Wacana Prima.

Rumiyati. (2010). Penelitian Tiindakan Kelas : Upaya Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar  Siswa Tentang Gejala Gelombang Melalui Penerapan Pembelajaran Kooperatif  tipe STAD bagi Siswa Kelas XII.IPA.3 di SMA N I Purwanegara Semester Gasal Tahun Pelajaran 2010/2011. Purwanegara, Banjarnegara.

Suprihatiningrum, J. (2013). Strategi Pembelajaran dan Teori Aplikasi, Jogjakarta : Ar-ruzzmedia.

Syah, M. (2013). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung : Rosdakarya.

Slavin, R ( 2009 ). Cooperative Learning : Teori, Riset dan Praktik, Bandung : Nusa Media.

Suyono & Hariyanto, (2011). Belajar dan Pembelajaran : Teori dan Konsep Dasar, Bandung : Rosdakarya.

Sardiman. ( 2012 ). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Sunyono & Maryatun. (2005 ). Efektivitas Pembelajaran Kimia Kelas X Semester I SMA Swadhipa Natar melalui Penerapan Metoda Eksperimen Berwawasan Lingkungan. PTK SMA SWA DHIPA NATAR, Bandar Lampung.

BIODATA

NAMA                  : SUPONO,S.Pd

NIP                         : 19680525 199802 1 005

Pangkat/Gol      : Pembina, IV/ A

Jabatan                ; Kepala Sekolah

Unit Kerja           : SMP Negeri 3 Wanayasa

 




One thought on “Konsep Zaman Praaksara Kelas VII Melalui STAD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *