PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR IPA MATERI SISTEM REPRODUKSI MELALUI PEMBELAJARAN MODEL KOOPERATIF TIPE TGT DALAM PERMAINAN ULAR TANGGA

Abstrak

Keaktifan dan hasil belajar siswa materi sistem reproduksi masih rendah. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini yaitu (1) bagaimana keaktifan siswa kelas IX SMP Negeri 4 Banjarnegara dalam proses pembelajaran IPA dapat ditingkatkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam permainan ULTANG dan (2) bagaimana hasil belajar IPA siswa kelas IX SMP Negeri 4 Banjarnegara pada materi Sistem Reproduksi dapat ditingkatkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT?. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II. Berdasarkan hasil tes dapat diketahui bahwa nilai rata-rata kelas pada materi Sistem Reproduksi pada tahap awal sebesar 50,9% dalam kategori sangat kurang. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I, nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 64,8  atau meningkat sebesar 14,1 %. Pada siklus II nilai rata-rata siswa meningkat menjadi sebesar 80,2  mengalami peningkatan sebesar 15,4 % dari siklus I ke siklus II dan 29,2 % dari awal ke siklus II. Selain itu, keaktifan siswa selama mengikuti pembelajaran pada tahap siklus I mengalami perubahan ke arah positif pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model kooperatif tipe TGT dalam permainan ULTANG dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas IX SMP Negeri 4 Banjarnegara.

Kata Kunci: Keaktifan siswa, hasil belajar, model pembelajaran kooperatif tipe TGT, dan permainan Ultang (Ular Tangga)

 

PENDAHULUAN

Pembelajaran IPA di SMP Negeri 4 Banjarnegara masih kurang dan perlu perhatian serta kreatifitas guru. Hal ini ditunjukkan dari hasil ulangan awal yang diperoleh masih relatif rendah. Dari hasil ulangan yang ada pada materi Sistem Reproduksi dari 26 siswa yang terdiri dari 13 anak perempuan dan 13 anak laki-laki, yang mendapatkan nilai 80 hanya satu anak dan yang mendapatkan nilai 51-60 ada 5 anak yang lainnya yaitu 20 anak mendapatkan nilai yang sangat memprihatinkan yaitu dibawah nilai 50. Siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM disebabkan karena mata pelajaran ipa KD Sistem Reproduksi yang sebenarnya mudah dan menarik, namun masih banyak bersifat pemberian informasi, belum sepenuhnya dipahami dan dimengerti  , siswa hanya membayangkan saja tanpa melihat atau paham betul apa yang sebenarnya sedang dipelajari.

Rendahnya hasil belajar siswa tersebut, dikarenakan beberapa faktor yang berkaitan dengan pembelajaran di sekolah, yaitu, (1) materi pelajaran dirasakan oleh siswa membingungkan, (2) Metode mengajar ipa yang masih menggunakan ceramah, hal ini dianggap sebagai cara yang paling mudah dan praktis dalam menyampaikan informasi kepada para siswa. (3) kurang kreatifitasnya guru dalam memanipulasi model pembelajaran yang menarik, inovatif, efektif dan tidak membosankan bagi siswa.

Apabila kondisi siswa dan guru dibiarkan, dikawatirkan dapat menjadikan hal-hal yang seharusnya tidak terjadi seperti kondisi kelas yang ramai sehingga tidak konduktif, dan tujuan pembelajaran yang tidak tercapai. Sadar akan keaadaan di atas maka penulis berencana melakukan tindakan perbaikan sehingga hasil belajar KD Sistem Reproduksi bisa meningkat sesuai harapan.  Guna membantu guru dalam mengusahakan suasana yang diharapkan menyenangkan, menarik dan meningkatkan pembelajaran maka guru menggunakan model Team Games Tournament (TGT) dalam permainan Ultang. Di samping itu model ini diharapkan dapat mengurangi rasa bosan anak yang hanya mendengarkan saja.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dalam penelitian ini permasalahan yang dikemukakan adalah sebagai berikut :

  1. Apakah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam permainan Ultang, keaktifan siswa kelas IX SMP Negeri 4 Banjarnegara dalam proses pembelajaran IPA dapat ditingkatkan?
  2. Apakah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam permainan Ultang hasil belajar siswa kelas IX SMP Negeri 4 Banjarnegara Pada materi Sistem Reproduksi dapat ditingkatkan?

LANDASAN TEORETIS

Keaktifan Belajar

Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dari segala sesuatu yang diperkirakan dan dikerjakan, belajar memegang peranan penting di dalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian, dan bahkan persepsi manusia.

Aktivitas siswa yang dimaksud menurut Sanjaya (2009; 137) adalah aktivitas fisik, mental, termasuk emosional dan intelektual.oleh karena itu, aktivitas siswa tidak dapat dilihat dari sisi aktivitas fisik saja melainkan juga aktivitas mental.

Hasil Belajar

            Alimudin (2008) mendefinisikan hasil belajar adalah ketercapaian setiap kompetensi dasar baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Menurut Akhmad Sudrajat (2008) hasil belajar peserta didik dapat diklasifikasikan kedalam tiga ranah (domain), yaitu :

  • Domain kognitif (pengetahuan atau yang mencakup kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika).
  • Domain afektif (sikap dan nilai atau yang mencakup kecerdasan antar pribadi, dengan kata lain kecerdasan emosional)
  • Domain psikomotor (keterampilan atau yang mencakup kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual-spasial, dan kecerdasan musikal).

Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa belajar dengan berbuat akan lebih bermanfaat dan lebih bermakna dari pada belajar dengan mendengar saja.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT

Team Game-Tournament (TGT) atau pertandingan-permainan-Tim merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang berkaitan dengan STAD. Dalam TGT, siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh tambahan poin pada skor tim mereka. Permainan disusun dari pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan pelajaran yang dirancang untuk mengetes pengetahuan yang diperoleh siswa dari penyampaian pelajaran di kelas dan kegiatan-kegiatan kelompok. Permainan itu dimainkan pada meja-meja tournament. Setiap meja tournament dapat diisi oleh wakil-wakil kelompok yang berbeda, namun yang memiliki kemampuan yang setara.Permainan itu berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. Tiap-tiap siswa akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut.turnament ini memungkinkan bagi siswa dari semua tingkat untuk menyumbangkan dengan maksimal bagi skor-skor kelompoknya bila mereka berusaha dengan maksimal. Turnamen ini dapat berperan sebagai reviu materi pelajaran.(Depdiknas, 2004:16).

Komponen-komponen dalam Team Game-Tournament adalah penyajian materi, tim, game, turnamen dan penghargaan kelompok. Team game Tournament (TGT) merupakan salah satu variasi dalam model pembelajaran kooperatif (CTL). Ada lima komponen utama dalam Team Game Tournament, yaitu : 1) Penyajian kelas: 2) kelompok atau team; 3) game; 4) Tournament; 5) Penghargaan (Alma 2008:379).

Permainan ULTANG (Ular Tangga)

   Ular  tangga  adalah  permainan  yang  menggunakan  dadu  untuk menentukan berapa langkah yang harus dijalani bidak. Permainan ini masuk dalam  kategori  “board  game”  atau  permainan  papan  sejenis  dengan permainan  monopoli,  halma,  ludo,  dan  sebagainya.  Papan  berupa  gambar petak-petak  yang  terdiri  dari  10  baris  dan  10  kolom  dengan  nomor  1-100, serta bergambar ular dan tangga (M. Husna A, 2009: 145). Permainan  ular  tangga  ini  ringan  jika  dibawa,  mudah  dimengerti  karena peraturan  permainannya  sederhana,  mendidik,  dan  menghibur  anak-anak  dengan cara yang positif (Satya, 2012).

Kerangka Berpikir

            Ketrampilan mengemukakan pendapat merupakan hal sangat penting dan diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.kemampuan berpendapat yang efektif akan sangat membantu manusia dalam kegiatan interaksi sosial. Siswa seringkali merasa kesulitan atau takut mengemukakan pendapat dalam situasi formal. TGT bisa menjadi untuk mengatasi masalah dalam proses pembelajaran,karena melalui pendekatan tersebut siswa bisa lebih aktif, tidak hanya membanyangkan obyek secara abstrak.

            Melalui pendekatan TGT dalam permainan Ultang siswa belajar dalam situasi santai, aktif dan inovatif. Dengan situasi santai siswa secara langsung melakukan pengamatan terhadap obyek.Dengan demikian, keterampilan berpendapat dan perilaku siswa dalam pembelajaran bisa berubah ke arah yang lebih positif.

Hipotesis Tindakan

            Hipotesis tindakan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Team Games Tournament dalam permainan Ultang dalam pembelajaran IPA ada peningkatan keaktifan siswa dan hasil belajar dalam kegiatan pembelajaran.

METODE PENELITIAN

            Penelitian ini dilakukan mulai dari bulan Juli 2015 sampai dengan bulan Desember 2015 di SMP N 4 Banjarnegara dengan subjek siswa kelas IX D semester satu tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 26 siswa dengan jumlah siswa laki-laki 13 dan 13 siswa perempuan. Sumber data adalah hasil belajar siswa kelas IX D dengan kondisi awal dan keaktifan siswa diambil dari hasil pengamatan.

Teknik pengumpulan data meliputi teknik tertulis atau tes dan teknik non tes. Teknik tertulis melalui ulangan harian dan hasil tournament. Teknik non tes melalui pengamatan atau observasi yang dilakukan kolaborator tentang keaktifan siswa.Untuk pengumpulkan data diperlukan alat pengumpul data atau instrument. Untuk ulangan harian dan games tournament, instrumen berupa butir soal. Data keaktifan siswa dikumpulkan dengan instrumen lembar pemgamatan / observasi.

Persentase Jumlah siswa yang aktif

=   Jumlah siswa yang aktif  X 100 %

 Jumlah Seluruh Siswa

 

Siswa dikatakan aktif bila persentase keaktifan siswa > 70 %.

Kategori keaktifan siswa dapat dikelompokkan dalam 4 kategori yaitu : 1) keaktifan siswa dikatakan Tidak aktif apabila dalam satu kelas yang aktif kurang dari 60 %; 2) keaktifan siswa dikatakan kurang aktif apabila dalam satu kelas yang aktif lebih dari 60% tetapi kurang dari 70%; 3) keaktifan siswa dikatakan Aktif apabila dalam satu kelas yang aktif lebih dari 70% tetapi kurang dari 79%; 4) keaktifan siswa dikatan Sangat Aktif apabila dalam satu kelas yang aktif lebih dari 80% .Adapun indikator keberhasilannya adalah meningkatkan keaktifan belajar IPA materi Sistem Reproduksi siswa kelas IX semester 1 tahun ajaran 2015/2016 .

Dalam penelitian tindakan kelas terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui. Tahapan tersebut, meliputi : (1) Perencanaan; (2) pelaksanaan; (3) pengamatan (observasi); dan (4) refleksi. Keempat tahapan tersebut dilaksanakan dalam dua siklus.

Prasiklus dilakukan sebelum mulai melaksanakan siklus I dan siklus II. Prasiklus dilakukan dengan melihat kenyataan kelas serta nilai hasil ulangan harian subpokok bahasan sistem reproduksi. Hal itu bisa menjadi pedoman, apakah sudah ada kesesuaian antara permasalahan yang telah dihadapi siswa dengan model pembelajaran yang akan digunakan.

Rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Prosedur Penelitian Siklus I

Perencanaan

Menyusun RPP pada KD Sistem Reproduksi sub pokok alat reproduksi pada wanita dan penyakit pada sistem reproduksi wanita, menyiapkan instrumen untuk guru dan siswa, menyiapkan instrumen hasil belajar berupa Game tes formatif, menyiapkan sumber belajar yang berupa materi, gambar Power Point, LKS dan mengembangkan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam permainan Ultang.

Tindakan

Guru melakukan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam permainan Ultang (ular tangga) dengan  dan dalam pelaksanaan game dibentuk kelompok, tiap kelompok terdiri atas 5/6 siswa, Team A terdiri dari A1, A2, A3, A4, A5 ,kelompok B terdiri dari B1,B2,B3,B4,B5 dan kelompok C terdiri dari C1 –C5, dan seterusnya. Setiap anak yg memiliki nomor yg sama menempati meja dalam kelompoknya untuk bersaing mendapatkan skor terbanyak.

risdiyantiii

Pengamatan

Observasi (kolaborasi) mengamati kegiatan guru saat pembelajaran dan mengamati kegiatan siswa dengan instrumen pengatan guru dan pengamatan siswa, mengamati hasil ulangan siswa tiap akhir siklus, instrumen penilaian guru dilakukan oleh kolaborator.

Refleksi

Dari hasil pengamatan terhadap kegiatan guru dan siswa oleh kolaborator,yaitu hasil kegiatan team game tournamen dan hasil tes siswa, yang kemudian dijadikan dasar penentuan tindakan untuk siklus berikutnya.

Prosedur Penelitian Siklus II

Perencanaan

Menyusun RPP pada KD Sistem Reproduksi sub pokok alat reproduksi pada laki-laki, menyiapkan instrumen untuk guru dan siswa, menyiapkan instrumen hasil belajar berupa Game tes formatif, menyiapkan sumber belajar yang berupa materi, gambar Power Point, LKS dan mengembangkan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam permainan Ultang.

Tindakan

Guru melakukan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT Dalam permainan Ultang  dan dalam pelaksanaan game dibentuk kelompok, tiap kelompok terdiri atas 5 siswa tetapi sudah dikelompok ke perolehan skor dari kelompok yang mendapatkan skor banyak sampai ke terkecil.

Pengamatan

Observasi (kolaborasi) mengamati kegiatan guru saat pembelajaran dan mengamati kegiatan siswa dengan instrumen pengatan guru dan pengamatan siswa, mengamati hasil ulangan siswa tiap akhir siklus, instrumen penilaian guru dilakukan oleh kolaborator.

Refleksi

Dari hasil pengamatan terhadap kegiatan guru dan siswa oleh kolaborator,yaitu hasil kegiatan team game tournamen dan hasil tes siswa, disimpulkan hasil tindakan pada siklus II.

HASIL DAN PEMBAHASANNYA

Perubahan Perilaku Keaktifan Siswa

No Perilaku Keaktifan Siswa Siklus I Siklus II Peningkatan dari Siklus I ke II
Frekuensi (%) Frekuensi (%)
1 Melaksanakan tugas Team 104 100 104 100 0 %
2 Menjawab pertanyaan game 70 67,3 71 68,3 1 %
3 Menghargai pendapat teman 52 50 71 68,3  

18,3 %

4 Berpartisipasi aktif dalam Games 79 74,0 83 79,8  

5,8 %

5 Menanggapi jawaban teman 37 35,6 74 71,2  

35,6 %

Jumlah 342 402
Rata-rata (%) 64,0 77,3
Peningkatan 13,3 %

Dari tabel perilaku keaktifan siswa pada siklus I dan siklus II dapat dilihat bahwa semua siswa100% melaksanakan tugas yang diberikan Team nya masing-masing, namun pada kegiatan menjawab pertanyaan dari game tidak semua siswa menjawab pada siklus I memperoleh 67,3% sedangkan pada siklus II memperoleh 68,3% jadi Cuma ada kenaikan 1%, pada perilaku menghargai pendapat teman siklus I memperoleh 50% dan siklus II memperoleh 71% sehingga ada peningkatan sebesar 18,3% sedangkan pada berpartisipasi aktif dalam game siklus I memperoleh 74,0% sedangkan pada siklus II memperoleh 79,8% jadi ada peningkatan sebesar 5,7% dan yang terakhir adalah perilaku menanggapi jawaban teman mendapat peningkatan yang signifikan yaitu pada siklus i memperoleh 35,6% sedang siklus II memperoleh 71,2% jadi mengalami peningkatan sebesar 35,6%. Meskipun peningkatan tersebut tidak begitu besar tetapi secara target kenaikan perilaku keaktifitas siswa tercapai.


Hasil Belajar Siswa

Peningkatan hasil belajar siswa kelas IX sampai akhir siklus II dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2. Peningkatan Hasil Ulangan Harian siswa pada prasiklus, siklus I, siklus II

No Kategori Kondisi awal/ Siklus I Siklus II
Prasiklus
Bobot Skor ( % ) Bobot Skor ( % ) Bobot Skor ( % )
1 Sangat Baik 16 3,1 18 3,47 146 28,1
2 Baik 77 14,8 219 42,1
3 Cukup 70 13,5 14 2,7
4 Kurang 60 11,5 172 33,1 38 7,3
5 Sangat Kurang 189 36,3
Jumlah 265 50,9 337 64,8 417 80,2
Skor Max 520 520 520
% Skor Tercapai 50,9 % 64,8 % 80,2 %
Peningkatan    

14,1 %

 

15,4 %

 

Tabel tersebut menunjukkan hasil ulangan harian siswa dari pra siklus ke siklus I mengalami peningkatan sebesar 14,1 % dan siklus II mengalami peningkatan sebesar 15,4 %. Pada PraSiklus Memperoleh Rata-rata 50,1 sedangkan pada siklus I siswa berhasil mencapai rata-2 klasikal sebesar 64,8 dalam katagori baik, kemudian meningkat lagi pada siklus II menjadi 78,3 dalam katagori baik.

Hasil Dokumentasi

risdiyanti
Gb 2. Aktivitas siswa pada saat TGT (teams Games Tournament) dalam permainan Ular TanggaGb1. Aktivitas guru pada saat menyampaikan apersepsi dan menyampaikan materi dengan bantuan power Point pada siklus I dan II

risdiyantii

PENUTUP

Simpulan dari penelitian ini peningkatan keaktifan dan hasil belajar IPA materi Sistem Reproduksi siswa kelas IX SMP N 4 Banjarnegara tahun ajaran 2015/2016 sebagai berikut.

  1. Perubahan perilaku keaktifan siswa kelas IX SMP N 4 Banjarnegara mengalami peningkatan setelah menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam permainanUltang. Dari data siswa mengalami peningkatan keaktifan.
  2. Hasil belajar siswa kelas IX SMP N 4 Banjarnegara pada materi sistem Reproduksi melalui pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam permainan Ultang mengalami peningkatan. Berdasarkan data tes hasil ulangan harian, nilai rata-rata secara klasikal pada siklus I mencapai 64,8 kemudian meningkat 80,2 pada siklus II hal tersebut termasuk dalam katagori baik. Nilai rata-rata secara klasikla telah melebihi target.

DAFTAR PUSTAKA

Akhmad Sudrajat. 2008. Media Pembelajaran.Akhmadsudrajat.wordpress.com/2008.diakses tanggal 27 Maret 2009.

Alimudin. 2008. Sistem Penilaian Hasil Belajar .penilaianhasil belajar.blogspot.com.di akses tanggal 23 Maret 2009.

Asep Herry Hernawan, Rudisusilana, Siti Julaena & Winasanjaya. 2008. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta Universitas Terbuka.

Husna, A. (2009). 100+ Permainan Tradisional Indonesia untuk Kreativitas,Ketangkasan, dan Keakraban. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Sanjaya,Wina.2009.Strategi Pembelajaran Berorentasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana

Biodata  :

Nama               :   Risdiyanti, S.Pd

Sekolah           :   SMP N 4 Banjarnegara




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *