http://www.infopasti.net/media-pembelajaran-realia-untuk-meningkatkan-hasil-belajar-matematika-operasi-bilangan-bulat-bagi-siswa-kelas-1-sd/

PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN REALIA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA OPERASI BILANGAN BULAT BAGI SISWA KELAS I SD NEGERI 1 BUNIAYU PADA SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2015/2016

ABSTRAK

            Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar Matematika, tentang operasi bilangan bulat bagi siswa kelas I SD Negeri 1 Buniayu Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas dengan menggunakan media pembelajaran realia abakus. Penelitian ini dilaksanakan dengan latar belakang rendahnya nilai rata-rata mata pelajaran Matematika dalam ujian semester I yang hanya sebesar 50,0 sedangkan KKM untuk mata pelajaran Matematika di SD Negeri 1 Buniayu sebesar 61,0. Proses penelitian ini dilakukan dengan dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua pertemuan dengan menggunakan media pembekajaran realia abakus. Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menguasai materi yang telah diberikan, pada setiap siklus diadakan tes akhir siklus. Hasilyangdiperoleh mengalami peningkatan dilihat dari nilai rata-rata kondisi awal dan sesudah tindakan kelas dilaksanakan. Data hasil belajar yang diperoleh adalah sebagai berikut: Nilai rata-rata kondisi awal 50,0; nilai rata-rata akhir siklus I 69,0; nilai rata-rata akhir siklus II 77,93. Sedangkan ketuntasan tes awal 24%, siklus I 62,07%, siklus II 65,52%. Dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran realia abakus dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika tentang operasi bilangan bulat di kelas I.

Kata kunci: media pembelajaran realia, matematika, perasi bilangan bulat

PENDAHULUAN

Nilai mata pelajaran Matematika kelas I tahun pelajaran 2015/2016 semester 1 di SD Negeri 1 Buniayu tergolong rendah. Padahal pelajaran di kelas I merupakan dasar bagi siswa untuk menerima pelajaran yang lebih sulit di kelas berikutnya. Apabila siswa di kelas I nilainya kurang baik maka biasanya untuk kelas berikutnya pun  akan mendapatkan nilai yang kurang baik pula. Mata pelajaran di kelas satu biasanya merupakan awal mula seorang anak mengerti dan memahami mengenai baca, tulis, dan hitung (calistung). Di SD Negeri 1 Buniayu siswa kelas I berasal dari latar belakang pendidikan yang bervariasi. Ada yang berasal dari TK, PAUD, dan rumah tangga (sebelumnya tidak sekolah). Perbedaan latar belakang ini juga menyebabkan rata rata nilai mata pelajaran khususnya Matematika mereka menjadi rendah. Dalam Ujian semeter 1 nilai rata rata Matematika siswa kelas I SD Negeri 1 Buniayu Tahun Pelajaran 2015/2016 sebesar 5,00.

Sementara untuk mata pelajaran Matematika kelas I semester II di SD Negeri 1 Buniayu sesuai dengan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) telah ditetapkan nilai KKM (kriteria kelulusa minimal) –nya sebesar 6,1. KKM merupakan prasyarat seorang siswa dinyatakan layak untuk mengikuti materi pelajaran berikutnya. Karena dalam kurikulum KTSP materi pelajaran dibuat dalam satu rangkaian yang berjenjang sehingga seorang siswa untuk dapat melanjutkan pelajaran ke materi berikutnya harus sudah dinyatakan lulus dari materi pelajaran sebelumnya yang ditandai dengan nilai materi pelajaran sebelumnya di atas nilai KKM. Disamping itu KKM juga merupakan syarat untuk seorang siswa dapat naik kelas. Siswa yang naik kelas berarti mempunyai nilai melebihi KKM yang artinya siswa dinyatakan telah siap mengikuti program pembelajaran di kelas berikutnya.

Dari uraian di atas dapat dilihat adanya kesenjangan antara kondisi yang ada dengan harapan yang diinginkan. Kondisi yang ada atau kenyataan yang ada menunjukkan rendahnya nilai hasil belajar siswa kelas I SD N 1 Buniayu Tahun Pelajaran 2015/2016 khususnya pada pelajaran Matematika. Sementara harapan baik dari Guru maupun Orang tua wali adalah nilai hasil belajar mereka minimal sesuai dengan KKM atau bahkan lebih.

Kesenjangan yang terjadi antara kenyataan nilai mata pelajaran Matematika yang diperoleh siswa kelas I SD N 1 Buniayu tahun pelajaran 2015/2016 dengan harapan yang ada membuat saya selaku guru kelas I SD N 1 Buniayu berfikir untuk mencari solusi untuk mengatasinya. Dari banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan nilai hasil belajar siswa, saya mencoba melakukan penelitian tindakan kelas (PTK). Diharapkan melalui penelitian tindakan kelas dapat ditemukan solusi sehingga nilai hasil belajar siswa dapat meningkat seperti yang diharapkan oleh berbagai pihak selain itu melalui penelitian tindakan kelas dapat diketahui penyebab rendahnya nilai hasil belajar siswa. Sehingga melalui penelitian tindakan kelas ini dapat memenuhi harapan berbagai pihak terkait bagaimana mengatasi rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika khususnya.

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah sebagaimana tertulis di atas, maka dibuatlah perumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut : Apakah melalui penggunaan media pembelajaran realia abakus dapat meningkatkan hasil belajar Matematika operasi bilangan bulat bagi siswa kelas I SD Negeri 1 Buniayu pada semester II tahun pelajaran 2015/2016.

KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

  1. Media Pembelajaran Realia
  2. Media Pembelajaran

Arti media menurut para ahli dalam (Drs. H. Rostina Sundayana, M.Pd, 2015: 4-5) (1) Menurut Gerlach dan Ely (1971) menyatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memeperoleh pengetahuan, ketrampilan, atau sikap, (2) Menurut Hamidjojo dalam latuheru (1993) memberi batasan media sebagai semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebarkan ide, gagasan atau pendapat sehingga ide, gagasan atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang dituju.

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (UU Sisdiknas pasal 1 ayat 20); Pembelajaran adalah usaha sengaja, terarah dan bertujuan oleh seseorang atau sekelompok orang (termasuk guru dan penulis buku pelajaran) agar orang lain (termasuk peserta didik), dapat memperoleh pengalaman bermakna. Usaha ini merupakan kegiatan yang berpusat pada kepentingan peserta didik (Permendiknas no 41 tahun 2007); Media pembelajaran dapat diartikan sebagai sesuatu yang mengantarkan pesan pembelajaran antara pemberi pesan kepada penerima pesan. (Sri Anitah, 2010: 4).

  1. Realia

Realia atau disebut juga objek adalah benda yang sebenarnya dalam bentuk utuh. (Sri Anitah, 2010: 25).

  1. Media Pembelajaran Realia

Media pembelajaran realia yang dimaksud adalah suatu benda nyata yang masih asli yang ada dalam keadaan utuh, dapat dioperasikan, hidup, dalam ukuran yang sebenarnya, dan dapat dikenali sebagai wujud aslinya yang digunakan sebagai pengantar pesan pembelajaran antara pemberi pesan dengan penerima pesan.

Contoh media pembelajaran realia adalah bunga, bunga dapat dipakai sebagai media pembelajaran realia dalam kasus penjumlahan, misalnya 2 + 3 = 5, dengan menggunakan media pembelajaran realia bunga dapat dijelaskan kepada siswa dengan cara sebagai berikut : Dua bunga + tiga bunga menjadi lima bunga.

Media pembelajaran realia yang digunakan adalah abakus. Abakus merupakan alat hitung tertua yang masih digunakan hingga saat ini. (Drs. H. Rostina Sundayana, M.Pd. 2015 :108).

  1. Hasil Belajar Matematika Operasi Bilangan Bulat
  2. Belajar

Apakah belajar itu? Banyak pakar bidang pendidikan yang merumuskan teori tentang belajar. Dalam penelitian tindakan kelas ini penulis menyajikan teori belajar dari para ahli dalam (Dra. Tutik Rachmawati M.Pd dan Drs. Daryanto 2015: 35). (1) Menurut Slameto (Haling, 2006: 1) belajar adalah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. (2) Menurut Wingkel (1991) dalam Haling (2006: 2) menjelaskan bahwa belajar pada manusia merupakan suatu proses psikologis yang berlangsung dalam interaksi aktif subjek dengan lingkungan, dan menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang bersifat konstan/menetap. Perubahan-perubahan itu dapat berupa sesuatu yang baru yang segera nampak dalam prilaku nyata.

  1. Hasil Belajar Matematika

Hasil belajar Matematika adalah hasil belajar yang dicapai peserta didik dalam mata pelajaran Matematika setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar mata pelajaran Matematika dalam kurun waktu tertentu dan program tertentu. Kurun waktu yang digunakan unutk penelitian tindakan kelas ini adalah dua minggu sesuai dengan jumlah siklus yang dilaksanakan yang masing-masing siklus dilaknakanm selama satu minggu. Tindakan-tindakan dalam siklus tersebut dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2015/2016. Sedangkan program yang dilaksanakan adalah pembelajaran tentang operasi bilangan bulat. Program pembelajaran tersebut meliputi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Materi pelajaran dalam siklus I adalah tentang penjumlahan bilangan bulat. Materi pelajaran siklus II adalah tentang pengurangan bilangan bulat.

Hasil belajar dapat dapat disamakan pengertianya dengan produk belajar. Yaitu merupakan suatu pola perbuatan, nilai, makna, apresiasi, kecakapan, ketrampilan yang berguna bagi masyarakat (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang 1990 : 172). Ada tiga ranah hasil belajar yaitu kognitif, affektif dan psikomotorik. Ranah kognitif adalah hasil belajar yang berupa pengetahuan-pengetahuan atau kemampuan-kemampuan baru yang bersifat keilmuan. Ranah affektif adalah hasil belajar yang berupa perubahan-perubahan perilaku sebagai akibat telah dilakukannya proses belajar. Sedangkan ranah psikomotorik adalah hasil belajar yang berupa ketrampilan-ketrampilan praktis olah anggota badan seperti tangan, kaki, alat indra dan sebagainya. Untuk mata pelajaran Matematika, hasil belajar yang diperoleh peserta didik lebih dominan pada ranah kognitif.

  1. Bilangan Bulat

Kita sudah mempelajari bilangan-bilangan yang dimulai dari nol sampai tak terhingga. Selama ini yang kita pelajari 0 (nol) adalah bilangan terkecil. Tetapi, tahukah kamu bahwa ada bilangan yang labih kecil dari nol? Bilangan-bilangan 0, 1, 2, 3, 4, 5, ….. disebut bilangan cacah, sedangkan 1, 2, 3, 4, 5, …. disebut bilangan asli. Jadi bilangan cacah adalah gabungan dari bilangan nol dan bilangan asli. Adakah lawan bilangan asli? Bagaimana melambangkannya? Bilangan nol, bilangan asli, dan lawan bilangan asli disebut bilangan bulat. (Burhan Mustaqim – Ary Astuti, 2008 : 137)

  1. Operasi Bilangan Bulat

Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mata pelajaran Matematika Kelas I semester II tahun pelajaran 2015/2016 disebutkan bahwa operasi bilangan bulat yang dimaksud adalah sebagai berikut :

4.4. Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka

4.4.1. Menjumlahkan dua bilangan tanpa menyimpan

4.4.2. Mengurangkan dua bilangan tanpa meminjam

  1. Hasil Belajar Matematika Operasi Bilangan Bulat

Yang dimaksud dengan hasil belajar Matematika adalah hasil belajar yang dicapai peserta didik dalam mata pelajaran Matematika setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam kurun waktu tertentu atau program tertentu. Hasil belajar tersebut berupa kemampuan-kemampuan baru yang meliputi pola perbuatan, nilai, makna, sikap, apresiasi, kecakapan, ketrampilan yang berguna untuk memecahkan problematika dalam mata pelajaran Matematika khususnya dan problematika sosial pada umumnya.

Sebagai bukti telah dikuasainya kemampuan-kemampuan baru oleh peserta didik dinyatakan dengan nilai yang berupa angka-angka. Makin tinggi nilai yang diperoleh peserta didik berarti makin tinggi pula tingkat kemampuan-kemampuan baru yang dikuasainya. Penilaian kelas dapat dilaksanakan melalui tes (tertulis, lisan, dan perbuatan) dan nontes berupa pemberian tugas, tes perbuatan/praktek dan kumpulan hasil    kerja siswa    (portofolio), (Depdiknas, 2002: 5). Adapun jenis penilaian kelas meliputi ulangan harian, pemberian tugas, dan ulangan umum.

Dalam penelitian tindakan kelas ini, hasil belajar Matematika yang dimaksud adalah nilai mata pelajaran Matematika operasi bilangan bulat yang diperoleh siswa kelas I Sekolah Dasar Negeri 1 Buniayu Unit Pendidikan Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas pada semester II tahun pelajaran 2015/2016. Operasi bilangan bulat yang dimaksud adalah meliputi kompetensi dasar 4.4. Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. (Team KTSP SD N 1 Buniayu, 2015/2016).

Berdasarkan kajian teoritas dan kerangka berfikir di atas, maka dalam penelitian tindakan kelas ini diajukan hipotesis tindakan sebagai berikut : “Melalui penggunaan media pembelajaran realia dapat meningkatkan hasil belajar Matematika operasi bilangan bulat bagi siswa kelas I SD Negeri 1 Buniayu Unit Pendidikan Kecamatan Tambak pada semester II tahun pelajaran 2015/2016”

METODOLOGI PENELITIAN

Waktu penelitian adalah semester 2 taqhun 2015/2016. Penelitian Tindakan Kelas ini hanya menggunakan sumber data primer yang berupa nilai hasil belajar. Ada tiga macam nilai yang diambil dari subjek penelitian ini, yaitu nilai kondisi awal, nilai pekerjaan lembar kerja siswa, dan nilai akhir siklus. Dari tiga macam nilai tersebut yang dijadikan sebagai dasar penentuan ada tidaknya peningkatan hasil belajar adalah nilai kondisi awal dan nilai akhir siklus. Karena dalam penelitian tindakan kelas ini terdapat dua siklus, maka terdapat dua nilai akhir siklus, yaitu nilai akhir siklus I dan nilai akhir siklus II. Nilai pertama diperoleh melalui tes di akhir siklus I, dan nilai kedua diperoleh melalui tes di akhir siklus II. Yang dijadikan sebagai dasar penentuan ada tidaknya peningkatan hasil belajar siswa adalah nilai akhir siklus II (sebagai nilai kondisi akhir).

Penelitian tindakan kelas ini dinyatakan berhasil apabila nilai hasil belajar kondisi akhir lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai kondisi awal. Andaikata terjadi nilai kondisi akhir sama dengan atau lebih kecil dari pada nilai kondisi awal, maka penelitian tindakan kelas dikatakan belum berhasil. Tindakan guru peneliti harus dilanjutkan ke siklus III. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan melalui 4 langkah yaitu, Planning, Acting, Observing, Reflecting.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Siswa kelas I SD N 1 Buniayu berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda. Siswa kelas I SD N 1 Buniayu ada yang berasal dari TK, PAUD, rumah tangga (sebelumnya tidak sekolah), dan dari kelas I tahun pelajaran sebelumnya yang tidak naik kelas. Siswa kelas I SD N 1 Buniayu berjumlah 29 siswa, yang berasal dari tinggal kelas ada 4 siswa tersiri dari siswa perempuan semua, yang dari TK sebanyak 22 terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan, dari PAUD sebanyak 2 siswa laki-laki, dari rumah tangga sebanyak 1 siswa laki-laki. Perbedaan latar belakang ini menyebabkan perbedaan kemampuan dasar siswa dalam mengikuti pelajaran di kelas I dan memerlukan bimbingan yang lebih mendalam. Sampai saat ini ada dua siswa yang belum mau mengerjakan tugas di kelas, kalaupun mau mengerjakan, pekerjaannya tidak sampai selesai. Hal ini salah satu penyebab nilai rata-rata ulangan akhir semester I yaitu diperoleh nilai rata-rata 50. Nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 6.

Dikaitkan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dari 29 siswa yang mengikuti ulangan akhir semester I sebagai kondisi awal, 7 siswa (24,13%) yang mencapai ketuntasan. Sedangkan siswa yang belumtuntas mencapai nilai ketuntasan minimal ada 22 siswa (75,87%). KKM mata pelajaran Matematika kelas I adalah 61.

Bila keadaan yang demikian terus berlanjut, boleh jadi ulangan kenaikan kelas yang akan datang, nilai mata pelajaran Matematika merupakan penyebab banyaknya siswa yang tidak naik kelas. Rendahnya hasil belajar siswa kelas I barangkali tidak terlepas dari banyaknya keterbatasan yang dihadapinya. Terbatas kemampuan sosial ekonomi orang tua, terbatas sarana dan prasarana di sekolah, guru belum maksimal dalam pembelajaran karena banyaknya tugas sampingan, terbatasnya media dan alat peraga dan sebagainya.

Deskripsi Siklus I

Siklus I direncanakan dilaksanakan pada minggu ketiga bulan Maret 2016. Guru peneliti mengambil data melalui serangkaian tindakan dari dua kali pertemuan. Pertemuan pertama direncanakan dilaksanakan pada hari selasa tanggal 22 Maret 2016. Pertemuan kedua direncanakan dilaksanakan pada hari kamis 24 Maret 2016.

Siklus I direncanakan untuk menyampaikan materi kompetensi dasar 4.4 Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan indikator 4.4.1. Menjumlahkan dua bilangan tanpa menyimpan. Untuk menyampaikan materi pembelajaran, guru peneliti menyiapkan alat bantu berupa abakus untuk tiap kelompok.

Tabel 1

Rentang Nilai Kondisi Akhir Siklus I

NO. RENTANG NILAI JUMLAH SISWA KET.
1 91 – 100 10
2 81 – 90 3
3 71 – 80 2
4 61 – 70 3
5 51 – 60 4
6 41 – 50 4
7 31 – 40
8 21 – 30
9 11 – 20
10 1 – 10 3

Deskripsi Siklus II

Siklus II direncanakan dilaksanakan pada minggu keempat bulan Maret 2016. Guru peneliti mengambil data melalui serangkaian tindakan dari dua kali pertemuan. Pertemuan pertama direncanakan dilaksanakan pada hari selasa tanggal 29 Maret 2016. Pertemuan kedua direncanakan dilaksanakan pada hari kamis 31 Maret 2016.

Siklus II direncanakan untuk menyampaikan materi kompetensi dasar 4.4 Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan indikator 4.4.2. Mengurangkan dua bilangan tanpa meminjam. Untuk menyampaikan materi pembelajaran, guru peneliti menyiapkan alat bantu berupa abakus untuk tiap siswa. Rentang nilai Kondisi Akhir Siklus II

Tabel 2

Rentang Nilai Kondisi Akhir Siklus II

NO. RENTANG NILAI JUMLAH SISWA KET.
1 91 – 100 10
2 81 – 90 5
3 71 – 80 4
4 61 – 70
5 51 – 60 5
6 41 – 50 1
7 31 – 40 2
8 21 – 30 2

 

Pembahasan Antar Siklus

Tindakan peneliti dalam melaksanakan tindakan menjadi penentu keberhasilan penelitian ini. Berdasarkan pengamatan kolaborator, tindakan peneliti dalam memanfaatkan media pembelajaran dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3

Tindakan Peneliti dalam Penelitian Tindakan Kelas

NO. SITUASI TINDAKAN
1 Kondisi Awal Guru belum memanfaatkan media pembelajaran dalam pembelajaran
2 Siklus I Guru memanfaatkan media pembelajaran secara kelompok dalam pembelajaran
3 Siklus II Guru memanfaatkan media pembelajaran secara individual dalam pembelajaran

DIAGRAM GARIS PERUBAHAN HASIL BELAJAR

Kalau kita perhatikan diagram di atas maka terlihatlah dengan jelas pergerakan semua nilai hasil belajar subjek penelitian, dari kondisi awal ke siklus I sampai dengan siklus II. Nilai tertinggi dari kondisi awal ke siklus I sampai dengan siklus II tetap yaitu 100, untuk nilai terendah pada kondisi awal sebesar 6 namun mengalami penurunan pada siklus I menjadi 4 tetapi mengalami peningkatan yang signifikan pada siklus II sebesar 30 walau masih tergolong rendah. Nilai yang menjadi penentu tingkat keberhasilan penelitian tindakan kelas, yaitu nilai rata-rata mengalami peningkatan. Dari kondisi awal sebesar 50 menjadi 69 pada kondisi siklus I dan menjadi 77,93 pada kondisi siklus II.

Peningkatan hasil belajar yang terus menerus tersebut menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh guru peneliti, yaitu menggunakan media pembelajaran dalam pembelajaran telah mampu meningkatkan pula keaktifan atau peran serta subjek penelitian selama proses pembelajaran. Perubahan sistem penggunaan media pembelajaran dari siklus I ke siklus II juga mampu meningkatkan keaktifan atau peran serta subjek penelitian dalam pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran secara berkelompok pada siklus I dirubah menjadi secara individual pada siklus II. Nilai rata-rata di akhir siklus I yang mencapai angka 69 telah meningkat menjadi 77,93 di akhir siklus II. Dalam penelitian tindakan kelas, hasil belajar yang dijadikan dasar penentu tingkat keberhasilan adalah hasil belajar kondisi awal dibandingkan dengan hasil belajar kondisi akhir.

Dari data-data yang terkumpul dalam penelitian tindakan kelas ini terlihat dengan jelas bahwa pada kondisi awal nilai rata-rata subjek penelitian masih rendah, yaitu 50. Setelah dilakukan serangkaian tindakan dalam siklus I sampai siklus II maka pada kondisi akhir (kondisi siklus II) subjek penelitian mampu mencapai rata-rata 77,93. Berarti terjadi kenaikan nilai rata-rata sebesar 27,93 poin atau sebesar 55,86 %.

PENUTUP

Data-data empirik yang dikumpulkan selama proses penelitian tindakan kelas menunjukan bahwa tindakan kelas yang dilakukan oleh guru peneliti dalam siklus I dengan menggunakan media pembelajaran realia abakus secara berkelompok telah berhasil meningkatkan hasil belajar subjek penelitian. Nilai rata-rata kondisi awal yang hanya 50 dapat ditingkatkan menjadi 69 di akhir siklus I.

Pada siklus II, guru peneliti melakukan perubahan teknik penggunaan media pembelajaran realia. Media pembelajaran realia abakus penggunaanya diubah menjadi secara individual pada siklus II. Dengan perubahan teknik penggunaan media pembelajaran realia tersebut menunjukkan bahwa rata-rata di akhir siklus II mengalami peningkatan menjadi 77,93. Kalau nilai rata-rata kondisi awal hanya 50 sedangkan nilai rata-rata kondisi akhir adalah 77,93 berarti telah terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 27,93 poin atau peningkatan sebesar 55,86 %.

Berdasarkan data empirik yang dikumpulkan dalam penelitian tindakan kelas sebagaimana tertulis di atas menunjukkan bahwa tindakan kelas yang dilakukan oleh guru peneliti telah berhasil meningkatkan hasil belajar Matematika operasi bilangan bulat bagi siswa kelas I SD Negeri 1 Buniayu pada semester II tahun pelajaran 2015/2016.

Kesimpulan berdasarkan data empirik tersebut sesuai dengan pengajuan hipotesis berdasarkan kajian teoritis sebagaimana tercantum dalam bab II yang berbunyi : “Melalui penggunaan media pembelajaran realia dapat meningkatkan hasil belajar Matematika operasi bilangan bulat bagi siswa kelas I SD Negeri 1 Buniayu Unit Pendidikan Kecamatan Tambak pada semester II tahun pelajaran 2015/2016”.

 

DAFTAR PUSTAKA

Burhan Mustaqim, Ari Astuti, 2008, Matematika Elektronik BSE Depdiknas Kelas IV, Depdiknas, Jakarta.

Peraturan Kementrian Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementrian Pendidikan Nasional, Jakarta.

Portofolio Depdiknas, 2002, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Puskur-Balitbang, Jakarta.

Rostina Sundaya, 2015, Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika, Alfabeta, Bandung.

Sri Anitah 2010, Media Pembelajaran, Yuma Pustaka, Surakarta.

Tim pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990, Psikologi Belajar, IKIP Semarang, Semarang.

Titik Rahmawati, Daryanto, 2015, Teori Belajar dan Proses Pembelajaran yang Mendidik, Gava Media, Yogyakarta.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Departeman Pendidikan Nasional, Jakarta.

 

BIODATA

NAMA                                    : SITI KARMAH SRI MULYATI, S.Pd.SD.

TEMPAT / TGL LAHIR      : BANYUMAS / 20 JULI 1959

NIP                                         : 19590720 197802 2 005

JABATAN                              : GURU

GOLONGAN RUANG         : PEMBINA, IV/a

UNIT KERJA                         : SD N 1 BUNIAYU UPK TAMBAK KAB BANYUMAS




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *