Sumber Daya manusia Berkualitas

Mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas

Budaya Literasi Sekolah dan Pembelajar Sepanjang Hayat dalam Mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas

                                   Oleh Drs. Hari Prasetio, M.M.

 

Guru Pembelajar harus memiliki empat kemampuan yaitu ; berfikir kritis (critical thinking), kreatifitas (creativity), kolaborasi (collaboration), dan komunikasi (communication), karena guru pembelajar adalah bagian dari konsekuensi profesi pendidik yang pada hakekatnya adalah suatu pernyataan atau janji terbuka, bahwa seseorang akan mengabdikan dirinya kepada suatu jabatan atau pekerjaan.

 

Latar Belakang

Guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan setiap upaya pendidikan. Oleh karena itu, setiap ada inovasi pendidikan, hal itu selalu bermuara pada faktor guru. Dengan demikian, dapat dibuktikan betapa pentingnya keberadaan guru dalam dunia pendidikan. Dalam upaya membelajarkan peserta didik, guru dituntut memiliki multi peran sehingga mampu menciptakan kondisi belajar yang efektif. Agar dapat mengajar efektif, guru harus meningkatkan kesempatan belajar bagi peserta didik, meningkatkan kompetensi mengajar, merencanakan program pembelajaran, dan mampu melakukan interaksi belajar mengajar yang baik. Keberhasilan mengajar seorang guru akan menimbulkan kepuasan, rasa percaya diri, dan semangat belajar yang tinggi. Hal ini menunjukkan sebagian dari sikap guru profesional yang dibutuhkan pada era globalisasi dengan berbagai kemajuannya, khususnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berpengaruh pada dunia pendidikan. Salah satu yang dibutuhkan pada era globalisasi dan berkaitan dengan budaya literasi adalah kebudayaan membaca.

Kemajuan suatu bangsa tidak hanya bisa dibangun dengan bermodalkan kekayaan alam yang melimpah maupun pengelolaan tata negara yang mapan, melainkan berawal dari peradaban buku atau penguasaan literasi yang berkelanjutan dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Namun yang terjadi sekarang, budaya literasi sudah semakin ditinggalkan oleh generasi muda Indonesia. Padahal pendidikan berbasis literasi merupakan salah satu aspek penting yang harus diterapkan di lembaga-lembaga sekolah guna memupuk minat dan bakat yang terpendam pada diri peserta didik, sehingga dibutuhkan strategi alternatif yang bisa dilakukan untuk menopang peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan, budaya membaca di Indonesia sampai saat ini masih sulit diterapkan. Ia mengatakan budaya membaca buku sampai saat ini masih rendah. Berdasarkan data UNESCO, persentase minat baca Indonesia sebesar 0,01 persen (Suara Pembaharuan, 28 Februari 2015). Sedangkan rata-rata indeks tingkat membaca di negara-negara maju berkisar antara 0,45 hingga 0,62. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan, hal ini menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia/IPM (Syahruddin El-Fikri, Republika, 26 Mei 2015).

Negara maju memiliki SDM yang kompeten. Manusia-manusia di dalamnya sangat gemar membaca buku. Budaya membaca mereka telah mendarah daging dan sudah menjadi kebutuhan mutlak dalam kehidupan sehari-harinya. Pada masyarakat negara maju, membaca sudah menjadi budaya yang diwariskan turun-temurun. Jadi, agar tidak semakin tertinggal, sudah saatnya Indonesia berbenah. Kita harus menumbuhkan minat baca sejak dini terutama pada peserta didik di setiap tingkat satuan pendidikan dari sekolah dasar sampai sekolah menengah. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi penonton berbagai kemajuan teknologi dan informasi modern.

Tantangan pendidikan pada masa kini nampaknya semakin berat karena tuntutan masyarakat modern semakin komplek, maka kompetensi guru harus terus dikembangkan sesuai dengan lajunya pertumbuhan kemajuan zaman. Pada hari Sabtu tanggal 21 Mei 2016 di Jakarta, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, meluncurkan program peningkatan kompetensi guru yakni Program Guru Pembelajar. Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru, namun demikian ada perubahan paradigma dalam memahami program ini yakni tidak hanya murid yang belajar tetapi juga gurunya, sifat pembelajar merupakan sifat yang harus ada pada semua baik guru maupun murid.

Menurut Anies Baswedan, seorang guru harus memiliki empat kompetensi abad 21, yaitu ; kemampuan berfikir kritis (critical thinking), kreatifitas (creativity), kolaborasi (collaboration), dan komunikasi (communication). (Luki Aulia, Kompas, 20 Januari 2016). Guru harus peka dan tanggap terhadap perubahan, pembaharuan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat sejalan dengan tuntutan masyarakat dan perkembangan zaman. Di sinilah tugas guru untuk senantiasa meningkatkan wawasan ilmu pengetahuan dan kualitas pendidikannya, sehingga apa yang diberikan kepada peserta didik selalu up to date sesuai dengan perkembangan zaman sehingga output pendidikan mempunyai daya saing yang tinggi. Namun kenyataannya, hingga saat ini kondisi SDM Indonesia masih perlu perhatian, khususnya dalam menghadapi era globalisasi. Bagi bangsa Indonesia yang SDM-nya tinggi, mereka bisa survive, sebaliknya bagi bangsa yang SDM-nya rendah, mereka akan terpinggirkan dalam kancah persaingan global.

  1. Permasalahan

Atas dasar uraian tersebut di atas, makalah ini akan menjawab permasalahan sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah budaya literasi dalam menghadapi era globalisasi ini ?
  2. Upaya apa yang dilakukan oleh guru untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas ?
  3. Penegasan Istilah
  4. Budaya adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan akal serta budi manusia.
  5. Literasi adalah kemampuan membaca dan menulis.
  6. Pembelajar sepanjang hayat adalah belajar yang berlangsung sepanjang kehidupan seseorang.
  7. Sumber Daya Manusia adalah produk dari hasil pendidikan sekolah yang mempunyai pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang siap bekerja.
  8. Kualitas adalah karakteristik unggulan suatu produk.
  9. Pembahasan
  10. Budaya Literasi Sekolah

Budaya suatu bangsa biasanya berjalan seiring dengan budaya literasi. Kemampuan berliterasi peserta didik berkaitan erat dengan tuntutan keterampilan membaca yang berujung pada kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Berdasarkan hal itulah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

            Literasi lebih dari sekedar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan itu disebut sebagai literasi informasi. Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/infoLit.pdf) dalam Kemendikbud, 2016, menjabarkan komponen literasi informasi sebagai berikut ;

  • Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung. Dalam literasi dasar, kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk menghitung (calculating), mempersiapkan informasi (perceiving), mengkomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan keputusan pribadi.
  • Literasi Perpustakaan (Library Literacy), yaitu kemampuan lanjutan untuk bisa mengoptimalkan Literasi Perpustakaan yang ada. Maksudnya, pemahaman tentang keberadaan perpustakaan sebagai salah satu akses mendapatkan informasi. Pada dasarnya, literasi perpustakaan, antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dengan menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dengan pengideksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.
  • Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak (Koran, majalah), media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya. Secara gamblang, saat ini dapat dilihat di masyarakat kita bahwa media lebih sebagai hiburan semata. Kita belum terlalu jauh memanfaatkan media sebagai alat untuk pemenuhan infomasi tentang pengetahuan dan memberikan persepsi positif dalam menambah pengetahuan.
  • Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti piranti keras (hardware), piranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, dapat memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta menjalankan program perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.
  • Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang setiap hari membanjiri kita, baik dalam bentuk tercetak, di televisi maupun internet, haruslah terkelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar-benar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan.

            Literasi yang komprehensif dan saling terkait memampukan seseorang untuk berkontribusi kepada masyarakatnya sesuai dengan kompetensi dan perannya sebagai warga negara global (global citizen). Dalam konteks Indonesia, kelima keterampilan di atas perlu diawali dengan literasi usia dini yang mencakup fonetik, alphabet, kosakata, sadar dan memaknai materi cetak (print awareness), dan kemampuan menggambarkan serta menceritakan kembali (narrative skills).

  1. Pembelajar Sepanjang Hayat

Sejalan dengan konsep pembelajar sepanjang hayat, pendidik pada masa kini diharapkan memiliki kompetensi untuk mengimbangi perkembangan pendidikan, agar pendidik atau guru tidak ketinggalan dengan alur pemikiran perkembangan jiwa peserta didik. Tujuan dari Program Guru Pembelajar adalah untuk meningkatkan kompetensi guru. Sebagaimana amanat Undang-Undang (UU) Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pembinaan, dan pengembangan profesi guru sebagai aktualisasi dari profesi pendidik. Terdapat beberapa karakteristik pembelajar, yaitu ; berfikir kritis, kreatifitas, kolaborasi, dan komunikasi.

Karakteristik yang utama, yaitu Kemampuan berfikir kritis menurut rumusan Santrock (1998), adalah berfikir yang melibatkan pemahaman yang mendalam akan masalah, pemikiran terbuka terhadap pendekatan dan pandangan-pandangan yang berbeda, tidak menerima begitu saja hal-hal yang disampaikan orang maupun buku, dan berfikir secara reflektif sebelum menerima ide yang muncul di pikiran. Dari rumusan itu dapat dipahami bahwa yang dimaksud berfikir kritis adalah memahami atau refleksi terhadap permasalahan secara mendalam, mensintesis, dan menarik kesimpulan untuk dapat memecahkan suatu permasalahan secara terarah, reflektif, dan evaluatif.

Selanjutnya, kreatifitas merupakan karakteristik pembelajar yang kedua. Dalam KBBI, kreatif didefinisikan sebagai kemampuan untuk mencipta atau proses timbulnya ide baru. Pada intinya pengertian kreatifitas adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, dalam bentuk ciri-ciri aptitude maupun non-aptitude, dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada dan semuanya relatif berbeda dengan yang ada sebelumnya. Sebenarnya ada banyak pengertian kratifitas, misalnya ada yang mengartikan kreatifitas sebagai upaya melakukan aktifitas baru dan mengagumkan. Di pihak lain, ada yang menganggap bahwa kreatifitas adalah menciptakan inovasi baru yang mencengangkan. Menurut NACCCE (National Advisory Committee on Creative and Culture Education) dalam Ana Craft (2005), kreatifitas adalah aktifitas imaginatif yang menghasilkan sesuatu yang baru dan bernilai.

Karakteristik berikutnya, yaitu kolaborasi. Definisi kolaborasi merupakan proses partisipasi beberapa orang, kelompok, dan organisasi yang bekerja sama untuk mencapai hasil tertentu (Kusnandar, 2008). Kolaborasi menyelesaikan visi bersama, mencapai hasil yang positif bagi khalayak yang mereka layani, dan membangun sistem yang saling terkait untuk mengatasi masalah dan peluang. Kolaborasi juga melibatkan berbagai sumber daya dan tanggung jawab untuk secara bersama merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi program-program untuk mencapai tujuan bersama. Anggota kolaborasi harus bersedia untuk berbagi visi, misi, kekuatan, sumber daya, dan tujuan.

Kemudian karakteristik yang keempat adalah komunikasi. Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa? mengatakan apa? dengan saluran apa? kepada siapa? dengan akibat dan hasil apa? (who? says what? in which channel? to whom? with what effect?) Lasswell (1960). Komunikasi terjadi antara guru dengan peserta didik. Guru sebagai komunikator memiliki pesan yang jelas yang akan disampaikan kepada peserta didik atau komunikan. Setelah itu, guru juga harus menentukan saluran untuk berkomunikasi baik secara langsung (tatap muka) atau tidak langsung (media). Setelah itu guru harus menyesuaikan topik atau tema yang sesuai dengan umur si komunikan, juga harus menentukan tujuan komunikasi/maksud dari pesan agar terjadi dampak/effect pada diri komunikan sesuai dengan yang diinginkan. Kesimpulan, komunikasi adalah pesan yang disampaikan kepada komunikan (penerima) dari komunikator (sumber) melalui saluran-saluran tertentu baik secara langsung/tidak langsung dengan maksud memberi dampak/effect kepada komunikan  sesuai  dengan  yang  diinginkan  komunikator. Yang  memenuhi 5 unsur ; who, says what, in which channel, to whom, with what effect.

Kemendikbud meluncurkan Program Guru Pembelajar ini merupakan tindak lanjut dari hasil pelaksanaan Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2015 yang lalu. Menurut Anies Baswedan, sebanyak 1.263 guru dengan nilai UKG di atas 80 dipilih sebagai narasumber untuk menyampaikan materi peningkatan kompetensi guru dan mendeliver pengalamannya (Indriani, Antara News.com, 2016). Sehingga bisa dipahami, belajar itu tidak hanya dilakukan oleh siswa tetapi juga oleh gurunya. Untuk menjadi seorang guru yang menginspirasi, harus memiliki kesadaran untuk terus belajar. Sehingga pendidikan yang diajarkan tidak hanya mencerahkan, tetapi juga membuka wawasan serta merangsang pengembangan kemampuan siswa. Seorang guru harus terus-menerus belajar, artinya begitu seorang guru merasa selesai belajar, maka itulah pertanda sebuah kemunduran dan sebaliknya, jika guru terus belajar di situlah kemajuan dimulai.

  1. Sumber Daya Manusia

Pendidikan merupakan instrumen amat penting bagi setiap bangsa untuk meningkatkan daya saing dalam percaturan politik, ekonomi, hukum, budaya, dan pertahanan pada tata kehidupan masyarakat global. Sadar akan hal itu negara-negara maju selalu membangun dunia pendidikan tanpa henti-hentinya. Bahkan ada kecenderungan semakin meningkatkan investasinya dalam dunia pendidikan (Suyanto dan Abbas, 2001). Semakin intensif melakukan investasi dalam dunia pendidikan semakin meningkatkan daya saing mereka. Hal ini karena peningkatan daya saing memerlukan sumber daya manusia yang prima.

Masalah pokok yang dihadapi bangsa Indonesia dalam menghadapi globalisasi adalah rendahnya sumber daya manusia (SDM), Berikut data menunjukkan kondisi penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja menurut tingkat pendidikannya yang cukup memprihatinkan.

Tabel 1 : Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2012-2013 (juta orang)

 

Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan

 

2012 2013
Februari Agustus Februari Agustus
(1) (2) (3) (4) (5)
SD ke Bawah 55,51 53,88 54,62 52,02
Sekolah Menengah Pertama 20,29 20,22 20,29 20,46
Sekolah Menengah Atas 17,20 17,25 17,77 17,84
Sekolah Menengah Kejuruan   9,43   9,50 10,18   9,99
Diploma I/II/III   3,12   2,98   3,22   2,92
Universitas   7,25   6,98   7,94   7,57
Jumlah   112,80 110,81   114,02  110,80

              Sumber : Data BPS (diolah)

                Untuk mengatasi kondisi tenaga kerja yang masih under skilled maka pemerintah melakukan penataan terhadap sistem pendidikan secara utuh dan menyeluruh, terutama berkaitan dengan kualitas pendidikan, serta relevansinya dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja melalui kurikulum 2013. Dalam hal ini, perlu adanya perubahan sosial yang memberi arah bahwa pendidikan merupakan pendekatan dasar dalam proses perubahan itu. Pendidikan adalah kehidupan, untuk itu kegiatan belajar harus dapat membekali peserta didik dengan kecakapan hidup (life skill atau life competency) yang sesuai dengan lingkungan kehidupan dan kebutuhan peserta didik (Mulyasa, 2014).

            Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus-menerus dilakukan baik secara konvensional maupun inovatif. Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah diamanatkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk meningkatkan mutu pada setiap jenis dan jenjang pendidikan. Pemerintah juga telah mencanangkan “Gerakan Literasi Sekolah” dan “Program Guru Pembelajar” dalam rangka mengantisipasi perubahan-perubahan global dan persaingan pasar bebas, serta tuntutan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi invormasi yang semakin hari semakin canggih, pemerataan layanan pendidikan perlu diarahkan pada pendidikan yang transparan, berkeadilan, dan demokratis. Dengan iklim pendidikan yang demikian diharapkan mampu melahirkan calon-calon penerus pembangunan masa depan yang sabar, kompeten, mandiri, kritis, rasional, cerdas, kreatif, dan siap menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi.

Baca Juga : PTK SMA Biologi : Penerapan Model PBI Untuk Meningkatkan Ketrampilan

Penutup

  1. Simpulan
    1. Pemahaman literasi dini sangat penting dipahami oleh masyarakat karena menjamurnya lembaga bimbingan belajar baca-tulis-hitung bagi batita dan balita dengan cara yang kurang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, perlu diberi perhatian terhadap keberlangsungan pendidikan literasi usia dini berlanjut ke literasi dasar. Dalam pendidikan formal, peran aktif para pemangku kepentingan, yaitu kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan pustakawan sangat berpengaruh untuk memfasilitasi pengembangan komponen literasi peserta didik.
    2. Guru Pembelajar harus memiliki empat kemampuan yaitu ; berfikir kritis (critical thinking), kreatifitas (creativity), kolaborasi (collaboration), dan komunikasi (communication), karena guru pembelajar adalah bagian dari konsekuensi profesi pendidik yang pada hakekatnya adalah suatu pernyataan atau janji terbuka, bahwa seseorang akan mengabdikan dirinya kepada suatu jabatan atau pekerjaan itu. Keempat unsur tersebut harus menyatu dalam diri seorang guru agar pekerjaan atau jabatan guru tersebut berdaya guna dan berhasil guna dalam proses belajar mengajar, sehingga guru tersebut dapat menjadi panutan atau teladan bagi peserta didik dan masyarakat.
  2. Saran

Diperlukan pendekatan cara belajar-mengajar yang keberpihakannya jelas tertuju kepada komponen-komponen literasi ini. Kesempatan peserta didik terpengaruh dengan kelima komponen literasi akan menentukan kesiapan peserta didik berinteraksi dengan literasi visual. Sebagai langkah awal, dapat disarankan bahwa diperlukan perubahan paradigma semua pemangku kepentingan untuk terciptanya lingkungan literasi pada setiap tingkat satuan pendidikan dalam membangun budaya literasi sekolah.

Profesi pada hakekatnya adalah suatu pekerjaan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang berkualifikasi tinggi dalam melayani atau mengabdi pada kepentingan umum untuk mencapai kesejahteraan manusia. Untuk itu, pekerjaan profesional harus memberikan pelayanan atau pengabdian yang dilandasi kemampuan profesi dan filasat hidup yang tinggi serta akan menampakkan keterampilan teknis yang didukung oleh pengetahuan dan sikap pribadi yang dilandasi norma-norma yang mengatur perilaku para anggota profesi, agar dapat membantu dan menopang tugas guru serta fungsi guru sebagai transfer of knowledge dan transfer of values dalam rangka menuju pengajaran yang berhasil dan proses belajar mengajar yang kondusif, sesuai dengan lajunya irama perkembangan zaman dan pemikiran manusia

DAFTAR PUSTAKA

Ana Craft, 2005. Membangun Kreativitas Anak, Insani Press, Jakarta.

Badan Pusat Statistik (BPS), 2010, Analisis Perkembangan Statistik Ketenagakerjaan, Jakarta.

Indriani, Mendikbud Luncurkan Program Guru Pembelajar, Antara News.com, Sabtu, 21 Mei 2016, Jakarta.

KBBI, 2008. Edisi Ke-Empat, Departemen Pendidikan Nasional, Balai Pustaka, Jakarta.

Kemendikbud, 2016. Materi Umum dan Materi Pokok SMA, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Jakarta.

Kusnandar, 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Lasswel, 1960. The Struture and Function of Communication in Society, The Communication of Ideals, Institute for Religious and Social Studies, New York.

Luki Aulia, Empat Kompetensi Baru yang Diperlukan di Abad XXI, Harian Kompas, 20 Januari 2016, Jakarta.

Muyasa, H.E., 2014, Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013, Rosda Karya, Bandung.

Pemerintah Republik Indonesia, 2005. Undang-Undang Republik Indonesia No.14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, Jakarta.

Santrock, J.W., 1998. Adolescence, Edisi Ke-9, McGraw-Hill, New York.

Suara Pembaharuan, Persentase Minat Baca Indonesia Hanya 0,01 Persen, Sabtu, 28 Februari 2015, Jakarta.

Suyanto dan Abbas, 2001. Wajah dan Dinamika Pendidikan Anak Bangsa, Adicita, Yogyakarta.

Syahruddin El-Fikri, Menumbuhkan Minat Baca Masyarakat, Republika.co.id., 26 Mei 2015, Jakarta.


TAG


One thought on “Mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *