PENINGKATAN SIKAP KEDISIPLINAN MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK MODELING PADA PESERTA DIDIK KELAS VIII SEMESTER 1 SMP NEGERI 1 TONJONG

sitir

ABSTRAK

Dra. Siti Rokhmiyah : Peningkatan Sikap Kedisiplinan Melalui Layanan Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Modeling Pada Peserta Didik Kelas VIII D SMP Negeri 1 Tonjong Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2014-2015”.

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas layanan bimbingan kelompok dengan teknik modeling dalam meningkatkan sikap disiplin pada peserta didik kelas VIII (delapan) di SMP Negeri 1 Tonjong Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2014-2015. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII D SMP Negeri 1 Tonjong Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2014-2015. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui instrument penelitian skala psikologis sikap kedisiplinan dengan empat alternative jawaban. Adapun metode dalam penelitian ini menggunakan 2 Siklus. Hasil penelitian menunjukan perkembangan aktifitas pada Kondisi Awal memperoleh rerata 64,18 dengan kategori sangat rendah sebanyak  2 peserta didik adalah 6,25%, Rendah 13 Peserta Didik adalah 40,63%, Kategori Sedang sebanyak 17 adalah 53,12%. Pada Siklus I memperoleh rerata 66.4 dengan kategori sangat rendah 0 peserta didik, Rendah sebanyak 27 Peserta Didik adalah 84,37%, Kategori Sedang sebanyak 4 adalah 12,5%, pada kategori Tinggi sebanyak 1 Peserta didik. Pada Siklus II memperoleh rerata 85,56 dengan kategori sangat rendah 0 peserta didik, Rendah 0 Peserta Didik, Kategori Sedang sebanyak 14 Peserta didik adalah 43%, pada kategori Tinggi sebanyak 18 Peserta didik adalah 56 %.

Kata Kunci : Layanan Bimbingan Kelompok, Teknik Modeling Meningkatkan Sikap Kedisiplinan Peserta Didik

PENDAHULUAN

Pada umumnya jalur pendidikan mempunyai jenjang pendidikan yang jelas. Pendidikan pada saat ini memiliki peran yang sangat penting dalam menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Didalam UU No.20/2003 tentang sistem pendidikan nasional, tercantum pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Undang-Undang Republik Indonesia, 2003).

Dalam nomor Undang–Undang yang sama, pasal 3, disebutkan juga bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Ditegaskan dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab V pasal 12 ayat 2 (a) yaitu mengenai kewajiban peserta didik menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan di Sekolah.

Sekolah pada umumnya memiliki fungsi mengembangkan potensi peserta didik untuk dapat memiliki sikap mental dalam melakukan berbagai macam hal yang seharusnya dilakukan, dan pada saat yang tepat. Sekolah juga berfungsi sebagai pengembangan intelektualitas atau kognitif dan pengembangan sikap yang didasarkan pada nilai.

Akan tetapi selain memiliki fungsi sebagai lembaga pendidikan, Sekolah juga memiliki manajemen dan strategi dalam melakukan monitoring dan evaluasi. Dalam fenomena dunia pendidikan masih banyak ditemukan terjadinya permasalahan yang berkaitan dengan sikap kedisiplinan.

Peran yang fundamental diemban oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK) disekolah, karena disamping sebagai pembimbing juga merupakan pendidik. Peran BK dalam penegakan sikap disiplin terkadang disalahartikan dengan menganggap guru BK adalah polisi sekolah. Untuk itu pencarian program bimbingan yang lebih preventif persuasif lebih penting dibandingkan program bimbingan penegakan disiplin yang bersifat represif.

Sikap kedisiplinan merupakan bagian dari faktor yang menunjang keberhasilan peserta didik dalam belajar. Disiplin sangat diperlukan baik di sekolah, di rumah, maupun dilingkungan masyarakatnya, karena disiplin merupakan salah satu modal dasar untuk mencapai keberhasilan dalam berprestasi. Peserta didik sudah selayaknya disiplin dalam kehidupan mereka secara kontinuitas, tepat waktu, melaksanakan kewajiban. Melalui manajemen waktu, peserta didik dapat melakukan disiplin diri dalam memanfaatkan waktunya untuk kegiatan yang bermanfaat bagi peningkatan prestasi.

Disiplin juga menjadi sarana pendidikan. Sebagaimana John Dewey (Jalaludin,2008: 65) mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan suatu kebutuhan, fungsi sosial, sebagai bimbingan sarana pertumbuhan yang mempersiapkan dan membukakan serta membentuk disiplin hidup. Dalam mendidik disiplin berperan mempengaruhi, mendorong, mengendalikan, mengubah, membina dan membentuk perilaku-perilaku tertentu sesuai dengan nilai-nilai yang ditanamkan, diajarkan dan diteladankan. Karena itu, perubahan perilaku seseorang, merupakan hasil dari suatu proses pendidikan dan pembelajaran yang terencana, informal atau otodidak.

Pada kenyataan masih banyak kita temukan peserta didik yang tidak bisa menerapkan disiplin dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga mereka melakukan pelanggaran terhadap sikap disiplin yang berupa perilaku membolos, gaduh didalam kelas saat pelajaran, perilaku mencoret-coret tembok, coret-coret meja, berpakaian yang tidak rapih, ceroboh dalam tindakan, tidak sopan terlambat berangkat sekolah, terlambat mengikuti pelajaran pada saat bell istirahat selesai, bermain bola di dalam kelas, tidak membawa buku pelajaran, tidak mencatat materi pelajaran, tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR), tidak mengumpulkan tugas, terlambat mengumpulkan tugas, sikap tidak hikmat ketika mengikuti pelajaran.

Penyebab terjadinya ketidakdisiplinan peserta didik SMP Negeri 1 Tonjong antara lain dikarenakan kurangnya perhatian dari orang tua, broken home, Salah pergaulan bebas, kurangnya pendekatan diri pada ilmu agama, dan pengaruh dari lingkungan.

Untuk mengatasi peserta didik, merupakan tugas guru pembimbing terutama yang bersifat psikologis. Oleh karena itu, sebagaimana tujuan dari bimbingan dan konseling adalah membantu mengatasi masalah peserta didik. Bantuan yang diberikan kepada peserta didik agar efektif harus mempertimbangkan relevansi antara jenis layanan bimbingan dengan masalah yang dialami peserta didik. Bantuan yang tepat akan menjadikan perubahan-perubahan tingkah laku yang diharapkan layanan bimbingan kelompok diduga dapat dijadikan salah satu pilihan untuk memberikan bantuan pada peserta didik.

Disinilah sangat dibutuhkan pemahaman tentang nilai-nilai humanistik sehingga peserta didik tidak hanya sekedar meniru atau mencontoh model yang dilakukan oleh peserta didik lainnya. Akan Tetapi juga memahami nilai yang terkandung didalamnya. Salah satu upaya yang akan dilakukan oleh konselor yaitu untuk menjaga, memelihara dan mengembangkan sikap kedisiplinan peserta didik yaitu dengan menggunakan teknik layanan bimbingan kelompok.

Bimbingan kelompok dengan teknik modeling adalah suatu upaya bimbingan melalui kegiatan kelompok yang dilaksanakan dengan men gamati dan menghadirkan model secara langsung untuk mencapai tujuan bimbingan dan konseling, sehingga kecakapan-kecakapan pribadi atau sosial tertentu bisa diperoleh dengan mengamati dan mencontoh tingkah laku model-model yang ada.

Menurut Juntika (2006:23) bimbingan kelompok adalah merupakan bantuan terhadap individu yang dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok dapat menjadi media peserta didik yang cenderung berkelompok dengan teman sejawatnya sehingga memungkinkan bagi peserta didik akan meniru model hal-hal yang positif  yang terjadi didalam layanan bimbingan kelompok. Layanan bimbingan kelompok merupakan lingkungan yang kondusif yang memberi kesempatan bagi anggotanya untuk menambah penerimaan diri dan orang lain, memberi ide, perasaan dan dapat berlatih tentang perilaku baru serta bertanggung jawab atas pilihan yang ditentukan sendirinya.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah seberapa besar sikap disiplin dapat ditingkatkan melalui Bimbingan Kelompok dengan teknik modeling pada peserta didik kelas VIIID SMP Negeri 1 Tonjong Kabupaten Brebes.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan sikap disiplin melalui Bimbingan Kelompok dengan teknik medeling pada peserta didik kelas VIIID SMP Negeri 1 Tonjong Kabupaten Brebes.

Hasil penelitian diharapkan bermanfaat bagi siswa, guru dan satuan pendidikan. Bagi siswa penelitian ini dapat memberikan manfaat praktis dalam layanan bimbingan kelompok. Bagi guru khususnya guru pembimbing dapat memberikan inspirasi dan motifasi untuk melakukan penelitian tindak lanjut. Bagi sekolah dapat memotifasi warga sekolah dalam mengembangkan budaya intelektual dan akademis.

Disiplin berasal dari kata ‘disciple’ yakni seseorang yang belajar secara sukarela mengikuti seorang pemimpin. Orang tua dan guru merupakan pemimpin dan anak merupakan murid yang menuju ke hidup yang berguna dan bahagia Jadi, disiplin adalah merupakan cara masyarakat mengajar anak perilaku moral yang disetujui kelompok (Hurlock, 2002:82).

Menurut Prijodarminto (2002), sikap disiplin memiliki 3 (tiga) aspek. Ketiga aspek tersebut adalah :

  1. Sikap mental (mental attitude) yang merupakan sikap taat dan tertib sebagai hasil atau pengembangan dari latihan, pengendalian pikiran dan pengendalian watak.
  2. Pemahaman yang baik mengenai sistem peraturan perilaku, norma, kriteria, dan standar yang sedemikan rupa
  3. Sikap kelakuan yang secara wajar menunjukkan kesungguhan hati, untuk mentaati segala hal secara cermat dan tertib.

Menurut Susilowati (2005) faktor yang mempengaruhi perilaku disiplin.

  1. Faktor keluarga

Keluarga adalah salah satu lembaga pendidikan yang pertama kali yang mendidik anak menjadi baik.

  1. Lingkungan sekolah

Lingkungan sekolah ini menyangkut faktor guru, faktor alat sekolah, faktor kondisi gedung dan faktor waktu sekolah.

  1. Masyarakat

Masyarakat sebagai suatu lingkungan yang lebih luas daripada  keluarga dan sekolah turut menentukan berhasil tidaknya pendidikan dan pembinaan disiplin.

Fungsi sikap kedisiplinan menurut Tu’u (2004: 79-80) adalah:

  1. Menata kehidupan bersama
  2. Membangun kepribadian
  3. Melatih kepribadian
  4. Pemaksaan
  5. Hukuman
  6. Menciptakan lingkungan yang kondusif

Hurlock (2002:85) menyatakan bahwa unsur-unsur disiplin meliputi: 1) Peraturan sebagai pedoman perilaku, 2) Konsistensi dalam peraturan, 3) Hukuman untuk pelanggaran, 4) Penghargaan untuk perilaku yang baik.

Bimo Walgito (2004:4-5) ”Bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya.

Kekurangan dan Kelebihan Layanan Bimbingan Kelompok.

Kelebihan dan kekurangan bimbingan kelompk menurut Sri Hastuti (2005:89) adalah:

  • Kelebihan Bimbingan Kelompok
  1. Bimbingan kelompok lebih bersifat efektif dan efisien,
  2. Bimbingan kelompok dapat memanfaatkan pengaruh-pengaruh seseorang atau beberapa orang individu terhadap anggota lainnya.
  3. Dalam bimbingan kelompok dapat terjadi saling tukar pengalaman diantara anggotanya.
  4. Bimbingan kelompok dapat merupakan awal dari konseling individual.
  5. Bimbingan kelompok dapat menjadi pelengkap dari tekhnik konseling individual.
  6. Tidak ragu-ragu didialam mengungkapkan suatu permasalahan terkini.
  • Kekurangan Bimbingan Kelompok
  1. Hanya terbatas pada pencegahan
  2. Lebih berorientasi pada pemberian informasi
  3. Kurang adanya interaksi antar sesama anggota kelompok

Kerangka Berfikir

Pada kondisi awal guru pembimbing belum menggunakan layanan bimbingan kelompok dengan teknik modeling, dan hasil layanan bimbingan konseling adalah rendah. Agar sikap disiplin peserta didik meningkat maka perlu dilakukan tindakan yang dilakukan guru pembimbing, yaitu menggunakan layanan Bimbingan Kelompok dengan teknik modeling

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori diatas, maka dapat diasumsikan bahwa penerapan Layanan Bimbingan Kelompok dengan teknik medeling dapat meningkatkan sikap disiplin peserta didik kelas VIIID SMP Negeri 1 Tonjong Kabupaten Brebes pada semester II Tahun Pelajaran 2014/2015

METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan selama 2 bulan yaitu bulan April sampai dengan bulan Mei 2015.  Pada bulan April 2015 dilakukan penyusunan rencana kegiatan dan instrumen penelitian yang meliputi pembuatan perangkat pembelajaran, pembuatan Skala, pembuatan media, penyusunan kisi-kisi, butir soal, dan pedoman penskoran serta penyusunan lembar observasi bagi guru maupun peserta didik.

Pengambilan data dilakukan pada bulan April sampai dengan Mei 20015. Pra siklus dilaksanakan pada minggu III dan IV bulan April 2015, siklus I dilakukan pada minggu I dan II bulan Mei 2015, sedangkan siklus II pada minggu III dan IV bulan Mei 2015. Pengolahan data dan penyusunan laporan dilaksanakan pada bulan Juni 2015.  Penelitian dilakukan di SMP Negeri 1 Tonjong pada kelas VIII D karena pada tahun pelajaran 2014/2015 peneliti mengajar di kelas VIII D SMP Negeri 1 Tonjong.

SMP Negeri 1 Tonjong terletak di Jl. Purwodadi No.10 Kecamatan Tonjong berada Kurang lebih 10 Kilometer dari pusat Kota, sehingga SMP Negeri 1 Tonjong termasuk sekolah dengan input peserta didik rata-rata sedang. data dilakukan dari hasil penilaian tes tertulis berupa ulangan harian pada tata bahasa Inggris, hasil observasi motivasi peserta didik dan dari hasil laporan tugas. Analisis data pada penelitian ini adalah deskriptif komparatif, karena membandingkan hasil belajar antara kondisi awal dengan siklus I, membandingkan hasil belajar antara siklus I dan siklus II dan membandingkan hasil belajar antara kondisi awal dan siklus II.

Hasil Bimbingan Kelompok pada kondisi awal didapat dari aitem skala berupa pre-test pada Bimbingan Kelompok dan pengamatan aktivitas peserta didik pada bimbingan sebelumnya. Nilai aitem skala tersebut dijabarkan dalam nilai rata–rata, nilai maksimal dan nilai minimal serta dibuat histogramnya. Pada siklus I penilaian diperoleh dari nilai hasil bimbingan kelompok sikap disiplin dan lembar laiseg, dari aitem skala sikap disiplin peserta didik. Hasil ini kemudian dibandingkan dengan kondisi awal dan siklus II. Pada siklus I ini bimbingan kelompok dilaksanakan dengan teknik modeling, sedangkan pada siklus II bimbingan kelompok silaksanakan menggunakan teknik modeling dan permainan.

Seluruh hasil belajar peserta didik dianalisa oleh peneliti dan kolaborator sebagai indikator untuk mengetahui berhasil atau tidaknya tindakan ini dan digunakan sebagai acuan tindakan berikutnya. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi dan refleksi dari tiap-tiap siklus.

HASIL DAN PEMBAHASANNYA

Deskripsi Hasil Penelitian

  1. Kondisi Awal

Prosentase kemampuan sikap kedisiplinan peserta didik sebesar 64.18 dengan kategori sedang dan skor terendah sebesar 44 dan tertinggi 75. hasil Kondisi awal dapat dilihat pada table berikut:

Distribusi frekuensi skor kondisi awal

Skor Kriteria F(01) %
85 < skor < 104 Tinggi 0 0
65 < skor < 84 Sedang 17 53,12
45 < skor < 64 Rendah 13 40,63
25 < skor < 44 Sangat Rendah 2 6,25
Jumlah 32 100 %

       Tingkat Sikap Kedisiplinan Peserta Didik (Kondisi Awal)

sitirr

Dari data kelompok skor Kondisi awal pada kriteia tinggi 85 sampai 104 adalah 3,12%, kriteria sedang 65 sampai 84 adalah 12,5%, kriteria rendah 45 sampai 64 adalah 84,37% .  dari skor kondisi awal didapat rata-rata sebesar 66,4 yaitu pada kategori kemampuan meningkatkan sikap kedisiplinan sedang. Kelompok ini mendapatkan layanan bimbingan kelompok

  1. Siklus 1 Layanan Bimbingan Kelompok

Prosentase kemampuan sikap kedisiplinan peserta didik sebesar 66,4 dengan kategori sedang dan skor terendah sebesar 55 dan tertinggi 86. hasil Siklus I dapat dilihat pada table berikut:

sitirrr

Distribusi frekuensi skor Siklus I

Tingkat Sikap Kedisiplinan Peserta Didik

Skor Kriteria F(01) %
85 < skor < 104 Tinggi 1 3,125
65 < skor < 84 Sedang 4 12,5
45 < skor < 64 Rendah 27 84,375
25 < skor < 44 Sangat Rendah 0 0
Jumlah 32 100 %

Kenaikan skor tes Kelompok Siklus I

Tingkat Sikap Kedisiplinan Peserta Didik

Dari data kelompok skor Siklus I pada kriteia tinggi 85 sampai 104 adalah 3,12%, kriteria sedang 65 sampai 84 adalah 12,5%, kriteria rendah 45 sampai 64 adalah 84,37% .  dari skor Siklus I didapat rata-rata sebesar 66,4 yaitu pada kategori kemampuan meningkatkan sikap kedisiplinan sedang. Kelompok ini mendapatkan layanan bimbingan kelompok

  1. Siklus II

Prosentase kemampuan meningkatkan sikap kedisiplinan peserta didik sebesar 85.56 dengan kategori sedang dan skor terendah sebesar 65 dan tertinggi 99. Hasil siklus II dapat dilihat pada table berikut:

sitirrrr

Distribusi frekuensi skor (Siklus II) Tingkat Sikap Kedisiplinan Peserta Didik

Skor Kriteria F(01) %
85 < skor < 104 Tinggi 18 56,25
65 < skor < 84 Sedang 14 43,75
45 < skor < 64 Rendah 0 0
25 < skor < 44 Sangat Rendah 0 0
Jumlah 32 100 %

Distribusi frekuensi skor Siklus II Tingkat Sikap Kedisiplinan Peserta Didik

Dari data kelompok siklus II diperoleh kriteia tinggi 85 sampai 104 adalah 56,25%, kriteria sedang 65 sampai 84 adalah 43,75%. Dari hasil siklus II didapat skor rata-rata sebesar 85,5 pada kategori disiplin Tinggi dan mengalami kenaikan sebesar 19,1

Pembahasan

untuk memperoleh gambaran peningkatan hasil layanan bimbingan kelompok dengan teknik modeling, peneliti membandingkan data dari tahap Kondisi Awal, I,dan II. Dari hasil tersebut dapat diketahui seberapa besar efektifitas layanan bimbingan konseling dalam meningkatkan sikap kedisiplinan peserta didik. Ringkasan hasil bimbingan kelompok sebelum dan sesudah tindakan dapat dilihat pada

Ringkasan kelompok Sebelum dan sesudah dilakukan tindakan

Skor Kriteria K1 % S1 % S1 %
85 < skor < 104 Tinggi 0 0 1 3,12 18 56
65 < skor < 84 Sedang 17 53,12 4 12,5 14 43
45 < skor < 64 Rendah 13 40,63 27 84,37 0 0
25 < skor < 44 Sangat Rendah 2 6,25 0 0 0 0
Jumlah 32 100% 32 100% 32 100%

Grafik Layanan bimbingan kelompok sebelum dan setelah diberi tindakan
sitirrrrr

Keterangan :

     K1 = Kondisi Awal       S1     = Siklus 1 (Pertama)

                                             S2     = Siklus 2 (Kedua)

Dari tabel 4.4 dapat dilihat nilai rata-rata tes peserta didik pada data awal (pra siklus) adalah 64,18 dan setelah menggunakan Layanan Bimbingan Kelompok meningkat menjadi 66,4 pada siklus I dan 85,56 pada siklus II.

PENUTUP

Simpulan

Dari perhitungan kondisi awal diperoleh rerata sebesar 64.18 dengan nilai terendah 44 dan tertinggi 75, pada Siklus 1 sebesar 66.4, dengan skor terendah 55 dan tertinggi 86, sedangkan pada hasil Siklus 2 sebesar 85,56 dengan skor terendah 65 dan skor tertinggi 99. Dengan demikian layanan bimbingan kelompok dengan tehnik modeling dalam meningkatkan kedisiplinan sikap peserta didik kelas VIII SMP Negeri 1 Tonjong tahun pelajaran 2014/2015 pada kondisi tersebut ada peningkatan yang signifikan antara kondisi awal, siklus 1 dan siklus ke 2.

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock. 2009. Perkembangan. Anak. Penerbit: Erlangga. Jakarta.

Jalaludin, (2008). Psikologi Agama. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Walgito, Bimo. (2004). Bimbingan dan Konseling (Studi & Karir). Yogyakarta: CV. Andi Offset.

Juntika, Nurihsan. (2006). Bimbingan dan konseling dalam berbagai latar kehidupan. Bandung: Refika Aditama.

Lutfifauzan. (2009). Teknik Modelling. Diakses Tanggal 17 Desember 2015 dengan alamat: http://lutfifauzan.wordpress.com/2009/12/teknik-modelling.

Prayitno, 2001. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok. Jakarta: Ghalia, Indonesia.

              , 2004. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Semarang: Bina Putra.

Prijodarminto, Soegeng. (1994). Disiplin Kiat Menuju Sukses. Jakarta: Pradnya Paramita.

Sri Hastuti (2005). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.

Susilowati, H. S (2005). Pengaruh Disiplin Belajar, lingkungan keluarga dan lingkungan Sekolah terhadap prestasi belajar siswa kelas X semester I tahun ajaran 2004/2005 SMAN 1 Gemolong Kabupaten Srageb. Skripsi. Universitas Negeri Semarang.

Tu’u, Tulus. (2004). Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.      

BIODATA

Nama                    : Dra. Siti Rokhmiyah

NIP                        : 19620707 198703 2 2004

Pangkat / Gol        : IVa

Unit Kerja            : SMP Negeri 1 Tonjong 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *