http://www.infopasti.net/meningkatan-motivasi-dan-ketrampilan-siswa-mata-pelajaran-matematika-penjumlahan-dua-bilangan-melalui-peraga-lidi/

PTK SD Matematika Penjumlahan Dua Bilangan Melalui Peraga Lidi

UPAYA  MENINGKATAN MOTIVASI DAN KETRAMPILAN SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA PENJUMLAHAN DUA BILANGAN MELALUI PERAGA LIDI DI KELAS I SD NEGERI PASIR LOR SEMSESTER II TAHUN PELAJARAN 2014/2015

ABSTRAK

Tujuan Penelitan ini adalah : 1. Untuk menganalisis dampak penggunaan alat peraga lidi dalam pembelajaran penjumlahan  sampai 50 agar dapat meningkatkan keterampilan dalam berhitung. 2. Untuk menganalisis penggunaan alat peraga lidi dalam pembelajaran penjumlahan bilangan sampai 50 terhadap tingkat motivasi belajar siswa.

Penelitian ini dilakukan melalaui proses berdaur (PTK) yang meliputi empat tahapan yaitu perencanaan (planing), pelaksanaan (action), observasi (observasion) dan refleksi (reflektion) dari data analisis kesimpulan, yang diperoleh, dari pengkajian ini adalah : Penggunaan alat peraga lidi dalam pembelajaran menjumlahkan enam himpunan yang bergambarkan buah jeruk. Agar siswa mampu meningkatkan keterampilan dalam menghitung. Hal ini terindikasikan dari peningkatan nilai rata-rata yang semula, 54,  sebelum perbaikan dilakukan menjadi 77, 84. Setelah perbaikan dilakukan. 2. Penggunaan alat peraga lidi dalam perbaikan pembelajaran menjumlah  dengan teknik membilang satu sampai dengan 50. Mempu meningkatkan motivasi dalam belajar. Hal ini terindikasi dari jumlah siswa yang benar-benar menunjukan motivasi belajar, sebelum perbaikan hanya, 13,6% menjadi 90,10% setelah perbaikan pembelajaran

Kata kunci: motivasi, keterampilan, matematika penjumlahan, peraga lidi

PENDAHULUAN

Matematika merupakan mata pelajaran dianggap sulit oleh sebagian siswa, sehingga mereka kurang tertarik. Oleh karena itu agar pelajaran lebih bermakna dan berhasil dengan baik untuk siswa kelas satu, digunakan dengan banyak bermain dan alat peraga yang nyata, atau benda sesungguhnya dan memberikan satu pujian, serta hadiah bagi siswa yang baik hasilnya. Untuk pembelajaran penjumlahan dan pengurangan  dengan teknik himpunan benda atau lidi, diupayakan ketrampilan proses, agar anak untuk aktif, agar dapat memotivasi siswanya, dan upaya yang terjadi siswa dapat terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran.

Penulis mengakui dalam matematika ada tantangan penjumlahan dengan teknik tertentu dan kurang ketelatenan dan ketekunan dalam membimbing siswa, maka siswa belum trampil menghitungnya. Sehubungan dengan keadaan tersebut, maka penulis mengobservasi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Kemudian mencoba melakukan upaya perbaikan melalaui PTK ( Penelitian Tindakan Kelas ) di SDN Pasir Lor UPK Karanglewas Kabupaten Banyumas.

Membelajarkan matematika tentang penjumlahan kepada siswa kelas satu tidaklah mudah. Dalam pembelajaran sebelumnya saya menggunakan metode ceramah, memberi tugas dan dengan jari tangan. Setelah tanya kepada siswa sudah bisa apa belum? Siswa menjawab bisa.

Untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan evaluasi. Setelah evaluasi hasil evaluasi di koreksi ternyata hanya 3 siswa dari 22 siswa yang nilainya di atas 70 (kriteria ketuntasan minimal) berarti hanya 13,6% yang telah mencapai ketuntasan belajar.

Rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah penggunaan alat peraga lidi dalam pembelajaran menjumlah dan mengurangkan bilangan sampai 50 dapat meningkatkan ketrampilan siswa dalam mengitung?
  2. Apakah penggunaan alat peraga lidi dalam pembelajaan menjumlah dua bilangan dengan cara menyimpan dapat memotivasi belajar siswa?

 

KAJIAN PUSTAKA

Matematika menurut Jonhson dan Mykbust (1967:224) matematika adalah bahasa simbol yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hitungan kwantitatif dan keuangan. Sedangkan fungsi teoristiknya untuk memudahkan berfikir. Jeaner (1988:430) mengemukaan bahwa “Matematika di samping sebagai bahas simbol juga merupakan bahasa universal yang memungkinkan bahwa matematika merupakan bahasa simbolis dan ciri utamanya adalah penggunaannya cara bernalar deduktif, tatapi cara bernalar induktif.

Jika konsep menuju pada pememahaman dasar, maka ketrampilan menunjuk sesuatu yang dilakukan, seseorang sebagai contoh proses menggunakan operasi dasar dalam penjumlahan pengurangan bilangan sampai 50, adalah suatu jenis ketrampilan matematika.

Ketrampilan penjumlahan merupakan dasar ketrampilan untuk anak. Penjumlahan adalah suatu cara pendek untuk mengitung, dan siswa dapat mengetahui bahwa mereka dapat mengambil jalan hitung jika gagal dalam penjumlahan. Penjumlahan dapat diajarkan dari sebagian ditambah sebagian sama dengan simbol-simbol penting adalah + dan =.

Secara jelas media diartikan sebagai medium atau perantara. Dalam kaitannya dengan proses komunikasi pembelajaran, media diartikan sebagai wahana penyalur proses pembelajaran. Beberapa ahli dan asosiasi telah menemukan pengertian tentang media pembelajaran antara lain : NE A (1969)  seperti yang dikutip Hermawan (5007 : 11-180 mengartikan media pembelajaran sebagai media komunikasi, baik dalam bentuk cetak, maupun pandang daya; Mikarso (1980) seperti dikutip Hermawan (5007: 11-18) menegaskan bahwa media pembelajaran adalah sesuatu yang dapat digunakan merangsang pikiran, perasaan, perbaikan dan kemampuan anak didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa.

Tuntutan masa kini, agar guru memilih dan menggunakan media pembelajaran yang tepat, perlu mendapat perhatian  dan tanggapan dari banyak pihak,  kalau tidak pendidikan di Indonesia akan semakin tertinggal dari negara-negara lain. Menurut Muksetyo (5007:2,4) banyak keuntungan yang diperoleh dalam penggunaan media pembelajaran antara lain 1) lebih menarik dan tidak membosankan bagi siswa, 2) Lebih mudah dipahami karena dibantu oleh visualisasi yang dapat menjelaskan uraian, 3) Lebih bertahan lama untuk diingat karena mereka lebih terkesan terhadap tayangan atau tampilan, 4) Mampu melibatkan peserta pembelajaran lebih banyak dan tersebar (terutama penggunaan media elektronik; radio, televisi dan internet), 5) Dapat digunakan berulang-ulang untuk meningkatkan penugasan bahan ajar (terutama media yang berbentuk rekaman kaset, vcd, dvd dll), 6) Lebih efektif karena dapat mengurangi waktu pembelajaran.

Menurut Lichuthe (1984:12) ada dua macam hasil belajar matematika yang harus dikuasi oleh siswa, perhitungan matematika. Berdasarkan hasil belajar semacam itu maka Lener (1998 : 430) mengemukaakan bahwa kurikulum bidang matematika hendaknya mencakup tiga elemen yaitu konsep, ketrampilan dan pemecahan masalah.

Menurut Hemawan (5005: 11.4) belajar adalah pada hakekatnya suatu proses yang aktif melibatkan panca indra atau fisik dan spekis. Agar siswa mengalami proses belajar kita harus merancang pembelajaran. Cara yang dapat dilaksanakan guru antara lain dengan menggunakan alat peraga sebagai metode atau media pembelajaran yang tepat dan dapat merangsang keterlibatan fisik dan spikis siswa.

Motivasi adalah dorongan untuk memenuhi atau memuaskan agar tetap hidup. Menurut Hull (1943) dorongan ini adalah menggunakan dan mengarahkan perhatian perasaan dan perilaku atau kegiatan seseorang. Menurut Suciati (1990) terhadap hubungan tingkat motivasi siswa dan hasil belajar, baik datanya hasil belajar.

Dengan memepertimbangkan bahan dan merujuk kepada pakar di atas, disusunlah hipotesis tindakan sebagai berikut :

  1. Penggunakan alat peraga lidi, dalam menjumlah sampai dengan 50 akan dapat meningkatkan ketrampilan siswa dalam berhitung.
  2. Penggunaan alat peraga lidi dalam penjumlahan dua bilangan akan dapat meningkatkan motivasi belajar

METODE PENELITIAN

PTK ini dilaksanakan  di SD Negeri Pasir Lor UPK Karanglewas. Jumlah siswa sebanyak 22 terdiri dari 15 anak laki-laki dan perempuan sebanyak 7 anak. Walaupun ada 2 anak yang berusia yang mencapai usia 8 tahun. Mayoritas anak berasal dari keluarga swasta dagang dan buruh. Petani sebanyak 11 anak. Tentang keadaan fisik siswa kelas 1 pada umumnya baik. Jarak dari rumah ke sekolah di bawah 1 km. Mayoritas siswa berangkat ke sekolah dengan jalan kaki sebanyak 13 siswa, 9 anak diantar orang tua. Penelitian ini memerlukan  waktu 2 bulan mulai bulan Februari sampai dengan  April  2015.

PTK dilakukan melalui pengkajian berdaur, yang terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

Jenis data yang dikumpulkan adalah data  kwantitatif berupa hasil belajar siswa dan hasil penilaian kegiatan siswa, data kualitatif berupa respon pendapat siswa tentang invenensi yang ditentukan, motivasi belajar siswa, tanggapan siswa selama proses pembelajaran, dan tanggapan observer selama pengamatan. Cara pengumpulan data dengan tes, observasi, dan wawancara

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada sebelum perbaikan, siswa yang tuntas sebanyak 3 siswa  dari 22 siswa atau 13,6%. Dengan nilai rerata 54, sedangkan siswa yang menunjukan motivasi belajar sebanyak 3 siswa atau sebesar 13,6%. Pada siklus I siswa yang menunjukan motivasi belajar 17 siswa atau sebesar 77,3%.  Dengan nilai rerata 73. Sedangkan siswa yang menunjukan motivasi belajar sebanyak 17 siswa atau sebesar 77,3%.

Dari hasil analisis dan refleksi pada siklus I ternyata tingkat ketuntasan belajar sampai pada batas kriteria yang ditetapkan. Ada 17 siswa dari 22 siswa yang menunjukan motivasi belajar. Dari hasil diskusi dengan pengamat diketahui gejala yang paling umum terjadi. Pada siswa yang belum tuntas karena kesulitan memahami penjumlahan dan ini terjadi pada kelompok siswa yang duduk di belakang.

Ketika peraga berlangsung, siswa yang duduk di belakang pindah ke depan. Saya memotivasi agar siswa tidak bermain sendiri untuk memperhatikan penjelasan guru dan lebih tenang pada pelajaran yang diberikan.

Setelah dilaksanakan perbaikan pembelajaran, jumlah siswa yang tuntas belajar mengalami kenaikan menjadi 20 siswa  dari 22 siswa  atau 90,91%.  Dengan nilai rerata 86. Sedangkan siswa yang menunjukan motivasi belajar sebanyak 20  siswa atau sebesar 90,91%.

Dari hasil analisis dan refleksi pada siklus II ternyata tingkat ketuntasan belajar sampai pada batas kriteria yang ditetapkan. Ada 20 siswa dari 22 siswa yang menunjukan peningkatan  motivasi belajar.

Alternatif pemecahan masalah untuk mengatasi rendahnya ketrampilan berhitung terhadap penjumlahan dan kurang motivasi belajar siswa dengan menggunakan alat peraga lidi/sedotan dalam pembelajaran penjumlahan dua bilangan dengan teknik menyimpan ternyata memberi hasil belajar yang praktis jika dibanding sebelumnya.

Berkat intervensi ini ada kenaikan ketuntasan belajar sebesar 63,6% kenaikan rerata 19, kenaikan motivasi siswa menjadi 64%. Intervensi yang saya lakukan mengimplementasi peraga lidi, ternyata menimbulkan keterkaitan bagi siswa, dan motivasi siswa dalam belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Di samping itu kehadiran peraga lidi/sedotan dalam pembelajaran dapat meningkatkan ketuntasan belajar.

Setelah dilakukan intervensi terhadap kelemahan hasil refleksi pada siklus I melalaui perubahan tempat duduk penggantian alat peraga, bentuk materi pembelajaran  kenaikan ketuntasan belajar sebesar 13,64% kenaikan rerata 13 dan kenaikan motivasi belajar 13,6%. Faktor lain yang memberikan kontribusi peningkatan hasil belajar dengan penggunaan metode, alat peraga dan bentuk materi.

Akan tetapi pada siklus II, walaupun sudah menujukan kenaikan melalaui batas kriteria yang telah ditetapkan dan materi variasi belajar siswa sudah cukup melampoi KKM yang ditentukan atau ditetapkan.

Peningkatan ketuntasan belajar naik sebesar 13,6%. Kenaikan motivasi belajar 13,6% dan rerata 86. Ternyata dengan berubah bentuk materi siswa memperoleh konsep penyelesaian berbeda untuk menyelesaikan permasalahan, dan dengan motivasi siswa lebih giat dalam belajar.

KESIMPULAN

Berdasar temuan dan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan:

  1. Penggunaan alat peraga lidi dalam pembelajaran penjumlahan dua bilangan dengan teknik menyimpan mampu meningkatkan ketrampilan siswa dalam mengitung. Hal ini dihasilkan dari peningkatan nilau rata-rata dari 54 pada studi awal, siklus I 73 dan siklus II 86 setelah dilakukan perbaikan.
  2. Penggunaan alat peraga lidi dalam pembelajaran penjumlahan bilangan dengan teknik menyimpan mampu meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Hal ini terindikasi dari jumlah siswa yang benar-benar menunjukan motivasi belajar, sebelum perbaikan 13,6%, siklus I 77,3 dan siklus II 90,91% setelah perbaikan pembelajaran.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arsito, Rahardi 5003. Media Pembelajaran Jakarta: Universitas Terbuka.

A Mes, Acger, 1989. Belajar dan Pembelajaran

Hermawan, A.H (5007.2.11.18) Pokok Perkembangan Kurikulum dan    Pembelajaran. Jakarta

Jonson, Dorisje, dan Myklobest, halner R, 1967. Learning Desabilities, New York: Genere dan Stories

Mulyono, Abdurrahman, 1995. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, Rhineka Cipta.

Ristosa R, 1998.Panduan  Penulisan Laporan Penelitian Tindakan Kelas ,Purwokerto .Universitas Terbuka.

Suciati, 5004. Belajar dan Pembelajaran.Jakarta.

BIODATA PENULIS

Nama                            :      MUKHRIYATI, S.Pd.

NIP                               :      19590828 198810 2 001

Tempat Mengajar      :      SD Negeri Pasir Lor UPK Karanglewas




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *