Penelitian Tindakan Kelas SD

sukiman

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MATERI BAGIAN-BAGIAN LIDAH DAN FUNGSINYA MELALUI  METODE EKSPERIMEN PADA SISWA KELAS V SEMESTER I SD NEGERI JEPARA WETAN 03 KECAMATAN BINANGUN KABUPATEN CILACAP TAHUN PELAJARAN 2015/2016Pe

Oleh : Sukiman, S.Pd SD

ABSTRAK 

Suatu proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila guru dapat mencetak atau menghasilkan peserta didik yang berkualitas. Interaksi antara guru dengan peserta didik disini sangat berpengaruh penting untuk menciptakan suatu kegiatan belajar mengajar yang efektif. Belajar tidak harus selalu berpusat pada guru sebagai tenaga pendidik, tetapi peserta didik harus lebih aktif. Selain itu, keberhasilan seorang guru dalam mengajar ditentukan juga oleh beberapa hal yakni penguasaan materi belajar, tujuan, metode, media/alat peraga serta lingkungan belajar yang kondusif. Seperti halnya yang terjadi pada pembelajaran di awal Semester I Tahun Ajaran 2015/2016 di kelas V SDN Jepara Wetan 03. Pada pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan materi pokok “Bagian-Bagian Lidah Dan Fungsinya”, dari 29 peserta didik kelas V hanya 5 anak yang mendapatkan nilai di atas 70 atau setara dengan 17,24% peserta didik yang mampu menguasai materi. Berdasarkan perhitungan di atas dapat dirumuskan beberapa masalah, yaitu :

  1. Kurangnya motivasi peserta didik dalam proses kegiatan belajar mengajar.
  2. Rendahnya tingkat pemahaman materi peserta didik.
  3. Guru kurang optimal dalam menyediakan dan menggunakan alat peraga.

Berdasarkan uraian latar belakang dapat dibentuk rumusan masalah sebagai  berikut :

“Bagaimana cara meningkatkan pemahaman dan motivasi peserta didik dalam pembelajaran bagian-bagian lidah dan fungsinya kelas V melalui metode eksperimen sebagai media pembelajaran?”

Berdasarkan hasil temuan refleksi dan diskusi dengan teman sejawat, pembelajaran yang dilaksanakan sudah menunjukkan kemajuan. Hal ini ditunjukan dengan meningkatnya penguasaan dan pemahaman peserta didik terhadap mata pelajaran. Hasil dari perbaikan mata pelajaran IPA dibuktikan dengan peningkatan hasil nilai evaluasi peserta didik. Dari 29 peserta didik pada siklus I hanya 7 peserta didik yang mendapatkan nilai di atas 70 atau setara dengan 24,13%. Pada siklus II perbaikan pembelajaran terdapat 24 peserta didik yang mendapat nilai di atas 70 atau setara dengan 82,75 %, .

Kata Kunci : Pembelajaran IPA. Metode Eksperimen .Penelitian

PENDAHULUAN

            Suatu proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila guru dapat mencetak atau menghasilkan peserta didik yang berkualitas. Interaksi antara guru dengan peserta didik di sini sangat berpengaruh penting untuk menciptakan suatu kegiatan belajar mengajar yang efektif. Belajar tidak harus selalu berpusat pada guru sebagai tenaga pendidik, tetapi peserta didik harus lebih aktif. Oleh karena itu, peserta didik harus dibimbing agar lebih aktif dalam menemukan sesuatu yang dipelajarinya. Selain itu keberhasilan seorang guru dalam mengajar ditentukan juga oleh beberapa hal yakni penguasaan materi belajar, tujuan, metode, media/alat peraga serta lingkungan belajar yang kondusif.

            Kurang tepatnya penggunaan unsur-unsur tersebut dapat mengakibatkan suatu proses pembelajaran yang disampaikan akan mendapatkan hasil yang kurang maksimal. Seperti halnya yang terjadi pada pembelajaran di awal semester I Tahun Pelajaran 2015/2016 di kelas V SDN Jepara Wetan 03. Pada pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan materi pokok “Bagian-Bagian Lidah Dan Fungsinya”, dari 29 peserta didik kelas V hanya 5 anak yang mendapatkan nilai di atas 70 atau setara dengan 17,24 % peserta didik yang mampu menguasai materi.

            Pembelajaran IPA yang selama ini berlangsung dirasa belum memudahkan siswa memahami konsep yang abstrak. Hal ini dibuktikan dengan nilai ulangan tengah semester kelas V di SD Negeri Jepara Wetan 03 Kecamatan Binangun yang masih rendah. Berdasarkan dokumentasi dari guru kelas V di SD Negeri Jepara Wetan 03 Kecamatan Binangun pada pembelajaran IPA materi bagian-bagian lidah dan fungsinya, diperoleh data nilai ulangan tengah semester tahun pelajaran 2015/ 2016. Dari data tersebut, dapat diketahui bahwa siswa belum mampu menyerap dan memahami materi secara optimal. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil tes yang dilakukan guru sebagai evaluasi. Berdasarkan ketetapan nilai KKM sebesar 65 untuk mata pelajaran IPA, terdapat 24 dari 29 siswa (82,75%) yang belum memenuhi KKM. Berdasarkan hasil analisis pembelajaran siswa kurang antusias dalam pembelajaran IPA dengan metode konvensional seperti ceramah.

KAJIAN PUSTAKA

Metode Eksperimen

            Eksperimen dapat didefenisikan sebagai kegiatan terinci yang direncanakan untuk menghasilkan data untuk menjawab suatu masalah atau menguji sesuatu hipotesis. Suatu eksperimen akan berhasil jika variabel yang dimanipulasi dan jenis respon yang diharafkan  dinyatakan secara jelas dalam suatu hipotesis, juga kondisi-kondisi yang akan dikontrol sudah tepat. Untuk keberhasilan ini, maka setiap eksperimen harus dirancang dulu kemudian di uji coba.

Pengertian Metode Eksperimen

            Metode eksperimen menurut Djamarah (2002) adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami sendiri sesuatu yang dipelajari. Dalam proses belajar mengajar, dengan metode eksperimen, siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, keadaan atau proses sesuatu. Dengan demikian, siswa dituntut untuk mengalami sendiri , mencari kebenaran, atau mencoba mencari suatu hukum atau dalil, dan menarik kesimpulan dari proses yang dialaminya itu.

            Metode eksperimen (percobaan) adalah suatu tuntutan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar menghasilkan suatu produk yang dapat dinikmati  masyarakat secara aman dan dalam pembelajaran melibatkan siswa dengan mengalami dan membuktikan sendiri proses dan hasil percobaan itu, (Sumantri, 1999:157).

             Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran dengan suatu percobaan, mengalami dan membuktikan sendiri apa yang dipelajari, serta siswa dapat menarik suatu kesimpulan dari proses yang dialaminya.

Metode-Metode dalam Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar

Dalam menempatkan peserta didik dalam proses belajar mengajar maupun guru menempatkan diri sebagai fasilitator, mediator, dan motivator. Guru tidak semata-mata berperan sebagai pengajar dalam artian alih pengetahuan (transfer knowledge) atau dengan istilah lain sebagai demonstrator. Guru sebagai demonstrator, yaitu menguasai materi pelajaran dan mengembangkannya supaya peserta didik mengalami kemudahan dalam proses transformasi melalui proses belajar mengajar yang dilaksanakan. Abdurachman (1991), orientasi guru kepada peserta didik harus lebih banyak mendapat perhatian yang serius dan utama sehingga akan tercipta suasana interaktif dalam pembelajaran.

Beberapa ahli mendefinisikan metode eksperimen sama dengan metode percobaan. Hal ini barangkali karena arti eksperimen itu sendiri merupakan “percobaan”, “mencoba” dalam Bahasa Indonesia. Asal mula kata eksperimen merupakan peristiwa fusi bahasa dari bahasa asing experiment. Namun kata expriment diindonesiakan menjadi eksperimen dengan arti yang sama dengan bahasa aslinya.

Dalam dunia pendidikan metode eksperimen tidak asing lagi karena metode ini dapat memacu peserta didik untuk aktif belajar. Yusuf Jadjadisastra (1998) menjelaskan bahwa, “metode eksperimen adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran, cara melakukan sesuatu dengan mempertunjukkan prosesnya dengan percobaan”. Definisi lain tentang metode eksperimen yaitu diungkapkan oleh Winarno Surakhmad (1999) yaitu ”…suatu cara menyampaikan materi pelajaran dengan mempraktekkan atau mencoba secara langsung suatu proses untuk mencapai tujuan”.

Kedua definisi tersebut di atas pada prinsipnya sama, penulis menyimpulkan bahwa metode eksperimen yaitu suatu cara untuk  menyajikan bahan pelajaran dengan mempraktekkan atau memperlihatkan sesuatu untuk mencapai tujuan. “Sesuatu” dalam konteks ini dapat berwujud benda-benda konkrit, benda tiruan, atau suatu proses dari melakukan sesuatu. Sehingga metode eksperimen dapat diartikan sebagai suatu proses cara mengajar dengan menggunakan alat peraga, sehingga metode eksperimen tidak terlepas dari alat peraga atau media pembelajaran.

Kerangka Berpikir

Berdasarkan data hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Jepara Wetan 03 Kecamatan Binangun, tampak bahwa hasil belajar siswa belum optimal. Hal ini dibuktikan dengan data yang dipeoleh dari nilai ulangan tengah semester tahun pelajaran 2015/2016. Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat 19 dari 29 siswa (66,67%) yang belum memenuhi KKM sebesar 65 untuk mata pelajaran IPA.

            Salah satu hal yang dapat dilakukan agar pembelajaran IPA lebih menarik yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Metode Eksperimen terdiri atas beberapa tahap pelaksanaan pembelajaran, yaitu presentasi kelas, belajar kelompok, game (permainan), turnamen, dan team recognize (penghargaan kelompok). Metode Eksperimen sangat memungkinkan siswa untuk aktif dan memberikan proses belajar yang sangat menyenangkan tetapi efektif. Penerapan Metode Eksperimen juga akan meningkatkan kreativitas guru dalammelaksanakan proses belajar mengajar. Peningkatan juga terjadi pada hasil belajar siswa, baik dari kognitif maupun psikomotor. Metode Eksperimen tidak  hanya mengaktifkan siswa tetapi juga memudahkan siswa untuk mengerti dan memahami apa yang disampaikan oleh guru. Dari Hasil tes setiap siklus mengalami peningkatan dan diakhir siklu mengalami peningkatan mencapai 82,75 %. Dengan demikian, jelas bahwa melalui pembelajaran Metode Eksperimen dapat meningkatkan aktivitas dan hasil  belajar IPA kelas V  Negeri  Jepara  Wetan  03 Kecamatan Binangun.

Hipotesis Tindakan

            Berdsarkan kerangka teori dan kerangka berpikir tersebut di atas maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah

  1. Penggunaan model  pembelajaran  Metode  Eksperimen  dapat   meningkatkan hasil pembelajaran IPA  materi Bagian-bagian  Lidah  dan  Fungsinya  siswa  kelas V  SD Negeri Jepara Wetan 03 Kecamatan Binangun
  2. Model pembelajaran Metode Eksperimen dapat meningkatkan  motivasi  belajar  IPA siswa kelas V SD Negeri Jepara Wetan 03 Kecamatan Binangun

METODE  PENELITIAN

           Subjek penelitian tindakan kelas adalah siswa kelas V SD Negeri Jepara Wetan 03 UPT Disdikpora kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap semester I tahun pelajaran 2015/2016. Jumlah siswa dalam praktikan berjumlah 29 siswa, dengan jumlah siswa putra 11 siswa dan siswa putri 18 siswa. Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan pada bulan Oktober s.d  November 2015 yang terbagi menjadi dua siklus dan masing-masing siklus dua pertemuan.

      Teknik yang digunakan dalam pengumpulkan data dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Pengumpulan data secara kualitatif, pengamat menggunakan lembar observasi guru dan data kuantitatif diperoleh dari hasil nilai tes formatif. Dari hasil nilai tes formatif tersebut dapat diketahui tingkat keberhasilan penggunaan  Metode Eksperimen dalam meningkatkan motivasi siswa.

         Metode yang digunakan dalam Perbaikan Pembelajaran dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur, yang terdiri atas 4 tahap, yaitu merencanakan (planing), melakukan tindakan (acting),mengamati (observing) dan refleksi (reflecting).

  1. Study Awal

     Perencanaan

  • Mengecek kehadiran peserta didik
  • Mengkondisikan peserta didik dengan pengaturan duduknya secara berkelompok
  • Menyiapkan lembar kerja siswa
  • Mempersiapkan soal tes formatif
  • Menentukan jenis-jenis motivasi belajar untuk peserta didik
  • Menyampaikan tujuan dari kegiatan proses pembelajaran

Tindakan

  • Memberikan lembar tugas
  • Melakukan eksperimen tentang kepekaan indera pengecap secara berkelompok
  • Menyelesaikan tugas

Pengamatan

  • Melakukan pengamatan dengan melakukan penilaian terhadap tugas

Refleksi

  • Evaluasi tindakan
  • Menyimpulkan hasil eksperimen dan memberikan tugas rumah
  1. Siklus I

Perencanaan

  • Mengecek kehadiran peserta didik
  • Mengkondisikan peserta didik dengan pengaturan duduknya secara berkelompok
  • Menyelesaikan tugas LKS dari kegiatan eksperimen
  • Mempersiapkan soal tes formatif
  • Menentukan jenis-jenis motivasi belajar untuk peserta didik
  • Menyampaikan tujuan dari kegiatan proses pembelajaran

Tindakan

  • Memberikan lembar tugas
  • Memberikantanya jawab untuk mengaitkan pengetahuan peserta didik sebelumnya
  • Melakukan eksperimen tentang kepekaan indera pengecap secara berkelompok
  • Tanya jawab dalam proses
  • Menyelesaikan tugas

Pengamatan

  • Pengumpulan data tindakan

Refleksi

  • Evaluasi tindakan
  • Memberikan balikan terhadap hasil pekerjaan  peserta  didik  disertai  pemberian motivasi berupa penguatan
  • Menyimpulkan hasil pembelajaran dan memberikan tugas rumah
  1. Siklus II

Perencanaan

  • Identifikasi masalah dan penerapan alternatif pemecahan masalah
  • Pengembangan program tindakan

Tindakan

  • Membahas atau menilai pekerjaan rumah dan memberikan balikan
  • Memberikan lembar tugas
  • Mendapat bimbingan intensif dan perhatian serius dari guru secara Individual untuk menjaga kondusivitas pembelajaran
  • Pemberian penguatan verbal dan non verbal di sela-sela kegiatan eksperimen berlangsung
  • Menyelesaikan tugas
  • Peserta didik diberi kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas
  • Latihan mengerjakan soal dalam kelompok kecil

Pengamatan

  • Pengumpulan data tindakan

Refleksi

  • Membahas atau hasil pembelajaran dan memberikan balikan
  • Menyampaikan hasil pembelajaran dan memberikan pekerjaan rumah

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

   Penelitian tindakan kelas telah dilakukan oleh peneliti di kelas V SD Negeri Jepara Wetan 03 dalam dua siklus. Tiap siklusnya terdiri atas 2 pertemuan. Hal-hal yang dibahas dalam hasil penelitian yaitu hasil pengamatan performansi guru, hasil pengamatan aktivitas belajar siswa, dan hasil belajar siswa

    Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran mulai dari studi awal,siklus I sampai dengan siklus II dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).Peserta didik yang mendapat nilai 80 ada 5 orang atau 17,24% dan peserta didik yang mendapat nilai 40 ada 13 orang atau 44,82%. Pada siklus I sudah terdapat peserta didik yang mendapat nilai 80 yakni 5 peserta didik atau 17,24 %, dan pada siklus 2 meningkat menjadi 8 peserta didik yang mendapat nilai 80 atau 27,59%. Di siklus II masih ada peserta didik yang mendapatkan nilai kurang dari cukup. Peserta didik yang mendapat nilai 60 sebanyak 5 anak (17,24), hasil nilai evaluasi tersebut dapat dibuat tabel sebagai berikut :

No.

Skor Nilai Nilai Setiap Siklus Persentase Setiap Siklus
Study Awal Siklus

I

Siklus II Study Awal

Siklus  I

Siklus II

1. 100
2. 90
3. 80 5 5 8 17,24 17,24 27,59
4. 70 2 16 6,89 55,17
5. 60 11 21 5 37,93 72,,41 17,24
6. 50
7. 40 13 1 44,82 3,44
8. 30
9. 20
10. 10
Jumlah 29 29 29 100 100 100
Nilai Rata-rata 54,48 64,75 76,06 17,24 24,13 82,75

Dari tabel diatas dapat dibuat grafik presentase sebagai berikut:
sukim

Seperti terlihat pada grafik  di atas, pada study Awal mencapai 17,24 % dengan nilai rata-rata kelas 54,48 sedangkan siklus I penguasaan peserta didik hanya mencapai 24,13% dengan rata-rata kelas 64,75 . pada siklus II mengalami peningkatan signifikan sebesar 58,62 % menjadi 82,75 % dengan rata-rata kelas 76.06 Hal ini menunjukkan peningkatan yang cukup baik.

Pembahasan dari Setiap Siklus

         Berdasarkan hasil temuan, refleksi dan diskusi dengan teman sejawat dan supervisor, akhirnya dapat dikatakan bahwa perbaikan pembelajaran yang telah dilaksanakan menunjukkan peningkatan. Pembelajaran IPA menunjukkan tercapainya ketuntasan belajar dengan bukti 82,75% tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran IPA pada intinya secara keseluruhan, pelaksanaan perbaikan pembelajaran telah cukup memuaskan.

Pembahasan pada siklus I

             Tindakan perbaikan pembelajaran pada siklus ini diutamakan pada pengelolaan sarana dan prasarana dalam menggunakan metode eksperimen dengan bantuan kegiatan tanya jawab. Peserta didik juga mesti selalu diberikan penguatan berupa pujian maupun non verbal. Ternyata hasilnya cukup baik, peserta didik termotivasi dan merespon dengan positif. DR.Suciati,dkk. (Meece & Blumenfeld, 1987) mengemukakan bahwa ”terdapat interaksi antara cara mengajar guru dengan pola motivasi peserta didik, yang selanjutnya berpengaruh pula pada hasil belajar.

  1. Hasil Belajar Siswa

     Pengambilan data hasil belajar siswa diperoleh dari tes formatif siklus I setelah pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran dengan metode eksperimen. Berdasarkan tes formatif I diketahui data persentase ketuntasan belajar dan nilai rata-rata kelas. Pada pelaksanaan tes formatif siklus I, hanya ada 7 siswa dari 29 siswa  nilai rata-rata kelas mencapai 64,75 setara 24,13%.

  1. Refleksi

     Penerapan model pembelajaran metode eksperimen pada materi bagian-bagian lidah dan fungsinya pada siklus I belum menunjukkan adanya keberhasilan yang memuaskan bagi peneliti. Perolehan hasil belajar siswa menujukkan bahwa dalam tes formatif nilai rata-rata kelas sebesar 64,75 dan presentase ketuntasan belajar klasikalnya mencapai 24,23 %. Nilai ketuntasan minimal (KKM) 64. Perolehan hasil belajar belum memenuhi kriteria ketuntasan belajar klasikal yakni 75%. Dari 29 siswa ada 7 siswa yang memenuhi nilai KKM dan masih ada 22 siswa yang mendapat nilai di bawah KKM. Hasil refleksi pada siklus I ini akan menjadi landasan untuk melanjutkan ke siklus II dengan perbaikan-perbaikan  penelitian agar siklus II dapat berjalan lebih baik.

Pembahasan pada siklus II

             Pada siklus ini peserta didik diharapkan untuk menjadi mandiri tidak tergantung kepada teman sekelompoknya. Hal ini diwujudkan dalam pembentukan kelompok yang hanya terdiri dari 4 sampai 5 orang peserta didik. Dalam prakteknya, ternyata memerlukan pengkondisian kelas yang optimal. Peserta didik diminta untuk merasakan sendiri apa yang harus dilakukan dalam tugas LKS tanpa kecuali. ”untuk memudahkan peserta didik memahami konsep yang belum dikuasainya, guru sebaiknya menggunakan berbagai alat peraga dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menggunakan alat peraga tersebut.” (DR. Suciati, dkk., 2007: 5. 17).

  1. Hasil Belajar siswa

     Setelah dilakukan perbaikan-perbaikan pada siklus I, maka guru berusaha meningkatkan  performansinya,  baik  dari  perencanaan  maupun  pelaksanaan pembelajaran. Hasil tesformatif siklus II mengalami peningkatan. Pencapaian nilai rata-rata kelas pada siklus I mencapai 64,75 dan pada siklus II meningkat menjadi 76,06. Jumlah siswa yang mengikuti tes formatif yakni 29 siswa. Pada pelaksanaan siklus II terdapat jumlah siswa yang tuntas belajar yaitu 24 siswa dengan persentase ketuntasan belajar 82,75%, sedangkan 1 siswa tidak tuntas belajar dengan persentase 17,25%,. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I kesiklus II.

  1. Refleksi

      Kurang  berhasilnya  proses  pembelajaran  yang  terjadi  pada  siklus  I membuat peneliti perlu melaksanakan tindakan perbaikan. Dalam siklus II, penerapan metode eksperimen pada materi bagian-bagian lidah dan fungsinya di kelas V SD Negeri Jepara Wetan 03 dapat dikatakan berhasil.

     Perolehan tes formatif pada siklus II menunjukkan peningkatan, baik dari nilai rata-rata maupun persentase ketuntasan belajar klasikal. Nilai rata-rata kelas meningkat dari 64,75 menjadi 76,06 dan persentase ketuntasan belajar klasikal dari 24,13 % menjadi 82,75 %. Perolehan ini sudah mencapai kriteria yang ditentukan yaitu nilai rata-rata 65 dan persentase tuntas klasikal 75%.Dan siswa yang belum mecapai kriteria ketuntasan (65) jumlahnya semakin berkurang.Pada siklus I terdapat 22 siswa yang belum mencapai KKM dan pada siklus II hanya 5 siswa yang belum mencapai KKM.Hal ini menunjukkan adanya keberhasilan pembelajaran siklus II.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil perbaikan pembelajaran mata pelajaran IPA dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Penerapan metode eksperimen dalam pembelajaran di sekolah dasar memerlukan strategi yang bervariasi agar dapat memotivasi peserta didik untuk melakukannya.
  2. Metode eksperimen dapat meningkatkan motivasi peserta didik untuk lebih aktif dalam pembelajaran di kelas.
  3. Melalui metode eksperimen materi yang disampaikan oleh guru akan lebih cepat difahami peserta didik dan ingatan peserta didik terhadap materi pelajaran akan lebih kuat dan lebih tahan lama, karena peserta didik terlibat langsung terhadap materi/objek yang dipelajarinya.
  4. Metode eksperimen diterapkan bagi pelajaran-pelajaran yang belum diajarkan atau diterangkan oleh metode lain, sehingga metode eksperimen akan lebih terasa benar fungsinya bagi peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

Asep Herry Hernawan dkk. (2007). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta. Universitas Terbuka.

Dinas Pendidikan Kabupaten Cilacap. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar/Madrasah Ibtidaiyah.

Furqon,Ph,D. (2001). Mimbar Pendidikan No.3 Tahun XX 2001. Bandung. University Press Universitas Pendidikan Indonesia.

Sumantri, Mulyani.  Nana Syaodih. (2006). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta. Universitas Terbuka.

Suciati, DR. dkk. (2007). Belajar dan Pembelajaran 2. Jakarta. Universitas Terbuka.

Syamsudin, Abin. Budiman, Nandang. (2006). Profesi Keguruan 2. Jakarta. Universitas Terbuka.

Wardani, I.G.A.K,  Siti Julaeha, Ngadi Marsinah. (2007). Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta. Universitas Terbuka.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *