Penelitian Tindakan Kelas SD Model NHT

MENINGKATKAN AKTIVITAS SERTA HASIL BELAJAR SISWA MELAKUKAN PERCAKAPAN MELALUI TELEPON DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN NUMBER HEADS TOGETHER (NHT)

ABSTRAK 

Tujuan Penelitian adalah untuk meningkatkan aktivitas serta hasil belajar dalam melakukan percakapan melalui telepon menggunakan kalimat ringkas dengan penerapan model NHT pada kelas III SD Negeri Bojongsari 01, Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes. Subjek Penelitian adalah Siswa kelas III SD Negeri Bojongsari 01, Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes. Dari hasil penelitian diperoleh data pada prasiklus, yakni 41,18 %, Siklus I. 61,74 %.dan  siklus II yaitu mencapai 82,35 %. Dengan menerapakan model pembelajaran NHT, ternyata kegiatan pembelajaran lebih menyenangkan dan menarik minat dan aktivitas siswa, sehingga aktivitas dan hasil belajar meningkat.

Kata Kunci :Model Pembelajaran NHT, aktivitas, hasil belajar, telepon

 

PENDAHULUAN

Struktur Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) penyajian pembelajarannya menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan tematik untuk kelas I, II, dan III, sedang untuk kelas IV, V, dan VI menggunkan pendekatan mata pelajaran. Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna pada siswa.

Dalam menyajikan pembelajaran tema “Komunikasi” yang telah dilaksanakan oleh peneliti pada tanggal 12 Februari 2014 yang didalamnya terkait beberapa mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia, PKn, dan IPS ternyata hasilnya kurang memuaskan, hanya 41,18 % siswa yang tuntas,dan 58,82 % belum tuntas, dengan perhitungan dari jumlah kelas III SD Negeri Bojongsari 01 sebanyak 39 siswa yang hadir, hanya 16 siswa yang tuntas, sedang 23 lainnya belum tuntas. Sedangkan Kriteria Ketuntasan Minimal yakni 75.

Dari ketiga mata pelajaran terkait tema “Komunikasi” ternyata Kompetesi Dasar untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia yang masih belum mencapai KKM. Kurang berhasilnya pembelajaran tema “Komunikasi” peneliti merefleksi dengan menganalisis masalah dalam penyajian pembelajaran, adapun hasil analisis masalah sebagai berikut :

  1. Pembelajaran terlalu monoton, guru menyajikan pembelajaran dengan metode ceramah, terkesan siswa kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran.
  2. Guru tidak berusaha kreatif untuk menggunakan media/alat pembelajaran yang tepat.
  3. Guru tidak menggunakan model pembelajaran yang tepat.
  4. Guru kurang memberikan latihan, dan kurang memberikan motivasi.

Dari analisis masalah di atas, peneliti akan mengadakan perbaikan pembelajaran dan terfokus pada kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia, yaitu (a)  Membuat percakapan melalui telepon, (b) Melakukan bermain peran dengan alat komunikasi telepon, dan (c) Memperagakan percakapan melalui telepon, yang akan dilaksanakan dua siklus perbaikan. Untuk dapat mengatasi masalah maka peneliti akan menyajikan pembelajaran dengan mencoba menggunakan model pembelajaran Number Head Together (NHT). NHT adalah salah satu model pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM).

Berdasar analisis di atas, rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut ; Apakah penggunaan model pembelajaran NHT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa  dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kompetensi dasar “Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman secara lisan dengan bertelepon dan bercerita” di kelas III SD Negeri Bojongsari 01, Kecamatan Losari Kabupaten Brebes ?

 

KAJIAN TEORI TEORI

Hakikat Bahasa

  1. Pengertian Bahasa

Beberapa pengertian bahasa yang telah dirumuskan oleh beberapa ahli, anatara lain :

  • Bahasa adalah sebuah simbol bunyi yang arbiter yang digunakan untuk komunikasi manusia (Wardhaugh, 1972)
  • Bahasa adalah sebuah alat untuk mengkomunikasikan gagasan atau perasaan secara sistematis melalui penggunaan tanda, suasra, gerak, atau tanda-tanda yang disepakati, yang memiliki makna yang dipahami (Webster`s New Collegiate Dictionary, 1981).
  • Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbiter, yang dipergunakan oleh para anggota social untuk berkomunikasi, bekerjasama, dan mengidentifikasi diri (Kentjono, Ed, 1984:2).
  • Bahasa adalah salah satu dari sejumlah sistem makna yang secara bersama-sama membentuk budaya manusia (Halliday dalam Hasan, 1991).
  • Bahasa dalah suatu bentuk ungkapan yang bentuk dasarnya ujaran.

Walaupun beragam  definisi yang dibuat, pada dasarnya konsep bahasa memiliki beberapa karakteristik yakni, bahasa merupakan sebuah sistem,merupakan lambang bunyi ujaran yang arbiter, bersifat konvensional dan komunikatif.

Fungsi Bahasa

Secara umum bahasa memiliki fungsi personal dan sosial. Fungsi  sosial mengacu pada peranan bahasa sebagai alat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan setiap diri manusia sebagai makhluk individu.. Adapun fungsi sosial mengacu pada peranan bahasa sebagai alat komunikasi dan berinteraksi antar individu atau antar kelompok sosial.

Halliday (1975, dalam Tomkins dan Hoskisson, 1995) secara khusus mengidentifikasi fungsi-fungsi bahasa seperti, (a) fungsi personal yaitu penggunaan bahasa untuk mengungkapkan pendapat, pikiran, sikap, atau perasaan pemakainya., (a) Fungsi regulator, yaitu penggunaan bahasa untuk mempengaruhi sikap dan pikiran/pendapat orang lain, seperti bujukan, , rayuan, permohonan atau perintah, (c) Fungsi interaksional, yaitu penggunaan bahasa untuk menjalin kontak dan menjaga hubngan social seperti sapaan, basa-basi, atau penghiburan, (d) Fungsi informatif, yaitu penggunaan bahasa untuk menyampaikan informasi ilmu pengetahuan atau budaya, (e) Fungsi heuristic yaitu penggunaan bahasa untk belajar atau memperoleh informasi seperti pertanyaan, permintaan, penjelasan atas sesuatu hal.(f) Fungsi Imajinatif, yaitu penggunaan bahasa untuk memenuhi dan menyalurkan rasa estetetis (indah), seperti nyanyian dan karya sastra. (g) Fungsi instrumental, yaitu penggunaan bahasa untuk mengungkapkan keinginan atau kebutuhan pemakainya.

Pembelajaran Bahasa

Halliday (1979, dalam Goodman, dkk, 1987) menyatakan ada tiga tipe belajar yang melibatkan bahasa, yaitu belajar bahasa, belajar melalui bahasa, dan belajar tentang bahasa.

Seseorang belajar bahasa dengan fokus pada penguasaan kemampuan berbahasa atau kemampuan berkomunikasi melalui bahasa yang digunakannya. Kemampuan ini melibatkan dua hal, yaitu (1) kemampuan menyampaikan pesan, baik secara lisan maupun tulisan, (2)kemampuan memahami, menafsirkan, dan menerima pesan, baik yang disampaikan secara lisan maupun tulisan. Secara implisit kemampuan-kemampuan itu tentu saja melibatkan penguasaan kaidah bahasa serta pragmatik. Kemampuan pragmatik merupakan kesanggupan pengguna bahasa untuk menggunakan bahasa dalam berbagai situasi yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan, tujuan, dan konteks berbahasa itu sendiri.

Belajar melalui bahasa maksudnya seseorang menggunakan bahasa untuk mempelajari pengetahuan, sikap, keterampilan. Dalam konteks ini bahasa berfungsi sebagai ala untuk mempelajari sesuatu, seperti Matematika, IPA Sejarah dan Kewarganegaraan.

Belajar tentang bahasa maksudnya seseorang mempelajari bahasa untuk mengetahui segala hal yang terdapat pada suatu bahasa, seperti sejarah, sistem bahasa, kaidah berbahasa, dan produk bahasa seperti sastra.

Belajar bahasa Indonesia untuk siswa SD pada dasarnya bertujuan untuk mengasah dan membekali mereka dengan kemampuan berkomunikasi atau kemampuan menerapkan bahasa Indonesia dengan tepat untuk berbagai tujuan dan dalam konteks yang berbeda. Dengan kata lain pembelajaran bahasa Indonesia  berfokus pada penguasaan berbahasa (tipe 1 :belajar bahasa), untuk dapat diterapkan bagi berbagai keperluan dalam bermacam situasi, seperti belajar berpikir, berekspresi, bersosialisasi, atau bergaul, dan berapresiasi, (tipe 2 : belajar melalui bahasa), agar siswa dapat berkomunikasi dengan baik maka siswa perlu menguasai kaidah-kaidah bahasa dengan baik , (tipe 3 : belajar tentang bahasa). Dalam konteks ini penguasaan kaidah bahasa bukan tujuan, melainkan hanyalah sebagai alat agar kemampuan berbahasanya dapat berkembang dengan baik.

Dengan demikian, ketiga tipe belajar tersebut saling terkait. Ketiganya terjadi secara bersamaan daam belajar bahasa. Ketika siswa belajar kemampuan berbahasa yang terkait dengan penggunaan dan konteksnya, ia pun belajar tentang kaidah bahasa, dan sekaligus belajar menggunakan bahasa untuk mempelajari berbagai mata pelajaran.

Keterampilan Berbicara

Hakikat Berbicara

Berbicara secara umum dapat diartikan suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain (Depdikbud, 1984/1985 :7).

Pengertian secara khusus banyak dikemukakan para pakar. Tarigan (1983 :15) misalnya, mengemukakan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.

Berbicara merupakan tuntutan kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial agar mereka dapat berkomunikasi dengan sesamanya. Stewart dan Kenner Zimmer (Depdikbud, 1984/1985 :8) memandang kebutuhan akan komunikasi yang efektif dianggap sebagai suatu yang esensial untuk mencapai  keberhasilan dalam setiap individu, baik aktivitas individu maupun kelompok.

Bahan dan Strategi Pengajaran Berbicara

Tujuan utama pembelajaran berbicara di SD adalah melatih siswa dapat berbicara dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Untuk mencapai tujuan tersebut, guru dapat menggunakan bahan pembelajaran membaca atau menulis, kosakata, dan sastra sebagai bahan pembelajaran berbicara, misalnya menceritakan pengalaman yang mengesankan, menceritakan kembali cerita yang pernah dibaca atau didengar, mengungkapkan pengalaman pribadi, bertanya jawab berdasarkan bacaan, bermain peran, berpidato.

Banyak cara untuk melaksanakan pembelajaran berbicara di SD, misalnya siswa diminta merespons secara lisan gambar yang diperlihatkan guru, bermain tebak-tebakan, menceritakan isi bacaan, bertanya jawab, mendiskusikan bagian cerita yang menarik, membicarakan keindahan sebuah puisi, melanjutkan cerita guru, berdialog, dan sebagainya. Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan bahwa pembelajaramn berbicara harus dikaitkan dengan pembelajaran keterampilan lainnya.

Untuk memantau kemajuan siswa daam berbicara, guru dapat melakukannya ketika siswa sedang melaksanakan kegiatan diskusi kelompok, Tanya jawab, dan sebagainya. Pengamatan guru terhadap aktivitas berbicara siswa  dapat direkam dengan menggunakan format yang telah dipersiapkan sebelumnya. Faktor-faktor yang diamati adalah lafal kata, intonasi kalimat, kosakata, tata bahasa, kefasihan bicara, dan pemahaman.

Pengajaran Berbicara

Dalam praktik biasanya, pembelajaran berbicara dilakukan dengan menyuruh murid berdiri di depan kelas untuk berbicara misalnya bercerita atau berpidato. Siswa yang lain diminta mendengarkan dan tidak mengganggu.  Akibatnya pengajaran berbicara di sekolah-sekolah itu kurang menarik. Siswa yang mendapat giliran merasa tertekan sebab disamping  siswaitu harus mempersiapkan nbahan, sering kali guru melontarkan kritik yang berlebih-lebihan. Sementara itu siswa yang lain merasa kurang terikat pada kegiatan kecuali ketika mereka mendapat giliran.

Agar seluruh anggota kelas dapat terlibat dalam kegiatan pembelajaran berbicara sebaiknya pembelajaran berbicara mempunyai aspek komunikasi dua arah dan fungsional. Pendengar selain berkewajiban menyimak, ia berhak untuk memberikan umpan balik. Tugas guru adalah mengembangkan pembelajaran berbicara menjadi kelas yang dinamis, hidup, dan diminati oleh anak.

Pembicara yang baik perlu didukung oleh pendengar yang baik (kritis, responsif) dengan demikian akan terjadi interaksi timbl balik antara pembicara dengan pendengar sehingga tercipta pembicaraan yang hidup.

Topik pembicaraan juga sangat menentukan berhasil tidaknya suatu kegiatan berbicara. Topik pembicaraan dinilai baik apabila menarik bagi pembicara dan pendengar, misalnya aktual, relevan dengan kepentingan partisipan.

Kegiatan berbicara acap kali ditopang dengan persiapan tertulis, baik berupa referensi yang harus dibaca maupun konsep yang akan disampaikan. Pokok pembicraan itu ada baiknya dipersiapkan dalam bentuk tertulis (naskah, teks).

Pengajaran berbicara perlu memperhatikan dua faktor yang mendukung kea rah tercapainya pembicaraan yang efektif, yaitu faktor kebahasaan dan non kebahasaan. Faktor kebahasaan yang perlu diperhatikan ialah (1) pelafalan bunyi bahasa, (2) penggunaan intonasi, (3) pemilihan kata dan ungkapan, (4) penyusunan kalimat dan paragraph,. Sementara itu faktor non kebahasaan yang mendukung keefektifan berbicara ialah (1) ketenangan dan kegairahan, (2) keterbukaan, (3) keintiman, (4) isyarat nonverbal, dan (5) topik pembicaraan.

Model Pembelajaran Number Heads Together (NHT)

Model pembelajaran NHT memiliki langkah-langkah kegiatan pembelajaran sebagai berikut:

  1. Siswa dibagi dalam kelompok.
  2. Tiap siswa dalam kelompok mendapat nomor.
  3. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
  4. Kelompok mendiskusikan jawabannya yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya.
  5. Guru memenggil salah satu nomor siswa dan nomor yang dipanggil mempresentasikan hasil kerjasama mereka Kelompok yang lain memberikan tanggapan terhadap hasil presentasi siswa yang maju.
  6. Guru menunjuk nomor yang lain.
  7. Kesimpulan

KERANGKA BERPIKIR

Kondisi Awal

Dalam pembelajaran tematik tema komunkasi di kelas IV , Rabu 12 Februari 2014 yang mengaitkan beberapa mata pelajaran (Bahasa Indonesia, PKn , dan IPS) ternyata hasilnya kurang memuaskan, yakni ketuntasan belajar hanya mencapai 41,18 %, dari 39 siswa yang hadir hanya 16 siswa yang tuntas. Dari hasil analisis refleksi ternyata kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia yang masih belum mencapai KKM.

Tindakan Perbaikan

Perbaikan pembelajaran menerapkan model Number Head Together (NHT), diawali kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan akhir.

Kondisi Akhir

Diharapkan aktivitas serta hasil belajar siswa kelas III SD Negeri Bojongsari 01 tentang kompetensi dasar “Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman secara lisan dengan bertelepon dan bercerita” dapat meningkat sesuai dengan pencapaian KKM (75 %)

 

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan  di SD Negeri Bojongsari 01,Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes. Subjek penelitian adalah siswa  kelas III SD Negeri Bojongsari 01 yang berjumlah 31 anak, terdiri atas 9 anak perempuan dan 25 anak laki-laki.

Prosedur penelitian Tindakan Kelas terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia kompetensi dasar Melakukan percakapan melalui telepon/alat komunikasi sederhana menggunakan kalimat ringkas di SD Bojongsari 01  kelas III akan peneliti lakukan sampai dua siklus perbaikan. Dalam setiap siklus terdapat empat fase yang meliputi (1) merencanakan PTK, (2) melaksanakan PTK, (3) melaksanakan observasi, dan (4) melakukan refleksi. Keempat fase tersebut direncanakan dan dilaksanakan untuk meningkatkan hasil belajar dan meningkatkan minat belajar siswa tentang kompetensi dasar Melakukan percakapan melalui telepon/alat komunikasi sederhana menggunakan kalimat ringkas.

Fase-fase pada siklus pertama dirancang dari hasil refleksi kegiatan pembelajaran sehari-hari (Prasiklus). Sedang fase pada siklus kedua dirancang dari refleksi siklus pertama. Dengan cara demikian diharapkan pada siklus kedua seluruh siswa kelas III SD Negeri Bojongsari 01 dapat meningkatkan hasil belajarnya tentang melakukan percakapan melalui telepon/alat komunikasi sederhana menggunakan kalimat ringkas.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, teknis tes, dan angket/Quesioner. Teknik observasi digunakan untuk memperoleh data pembelajaran perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka yang akan disajikan dalam deskripsi hasil penelitian. Teknis tes digunakan untuk mengumpulkan data hasil tes, sedang teknik angket digunakn untuk mengetahui sejauh mana minat siswa terhadap pembelajaran.

Pada setiap akhir pembelajaran setiap pertemuan dan setiap siklus peneliti melakukan analisis data hasil pengamatan dan data hasil tes. Data hasil pengamatan dianalisis dengan tahapan-tahapan sebagai berikut, (1) mereduksi data, (2) menganalisis data, dan (3) melaporkan data, (Wardani, 2002:2.28).

 

HASIL PENELITIAN

Hasil Penelitian Siklus I

Hasil analisis terhadap ketercapaian setiap indikator oleh seluruh siswa dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata skor indikator 1 , adalah 7,03 KKM yang telah ditetapkan yaitu 7,5. Jadi skor rata-rata belum mencapai KKM.Skor rata-rata indikator 2 yaitu adalah 27,23 dan KKM yang ditetapkan yaitu 25, jadi ketercapaian rata-rata indicator 2 telah mencapai KKM.Skor rata-rata indikator 3 yaitu 42,23 dan KKM yang ditentukan yaitu 45. jadi untuk indikator 3 ini belum dianggap tercapai.Jumlah seluruh skor yang dicapai oleh seluruh indikator adalah 76,48. Bila dibandingkan dengan skor maksimal yaitu skor 100 atau maka terdapat kekurangan 23,52. Bila dibandingkan dengan skor KKM yaitu 75 , maka terdapat kelebihan 1,48.Jika dilihat dari ketuntasan belajar siswa dari 39 jumlah siswa kelas III SD Negeri Bojongsari 01, yang telah tuntas sebanyak 24 atau 61,74 %, dan yang belum tuntas sebanyak 15 siswa atau 38,26 %. Jadi untuk mencapai ketuntasan belajar siswa yang ditentukan yaitu 75 %. Maka perlu diadakan perbaikan pembelajaran siklus II.Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa indikator yang menjadi masalah dan harus dicarikan penyebab serta solusinya adalah indikator 1 dan indikator 3.

Penyebab Kegagalan dan Solusinya

Penyebab kegagalan dari indikator  1 , adalah disebabkan oleh 13 siswa memperoleh skor di bawah KKM, hal ini disebabkan karena  mereka belum lancar membaca dan belum memahami soal, juga tidak terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran, ketika membaca soal mereka masih mengeja dan belum dapat memahami soal.

Solusi untuk mengatasi kegagalan tersebut Peneliti akan selalu membimbing dan memberikan motivasi baik secara individu maupun kelompok  agar mereka turut aktif dalam kegiatan pembelajaran, serta memberikan contoh cara melakukan percakapan dengan bahasa yang santun, kalimat ringkas dengan lafal dan intonasi yang tepat.

Hasil Penelitian Siklus II

Hasil analisis terhadap ketercapaian setiap indikator oleh seluruh siswa dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata skor indikator 1 , adalah 3  KKM yang telah ditetapkan yaitu 30 Jadi skor rata-rata sudah melebihi  KKM .Skor rata-rata indikator 3 yaitu adalah 46,30 dan KKM yang ditetapkan yaitu 45 , jadi ketercapaian rata-rata indikator 3 telah melebihi KKM.Jumlah seluruh skor yang dicapai oleh seluruh indikator adalah 79,90. Bila dibandingkan dengan skor maksimal yaitu skor 100 atau maka terdapat kekurangan 20,10. Bila dibandingkan dengan skor KKM yaitu75 maka terdapat kelebihan 4,90.Jika dilihat dari ketuntasan belajar siswa dari 39 jumlah siswa kelas III SD Negeri Bojongsari 01, yang telah tuntas sebanyak 32 atau 82,35 %, dan yang belum tuntas sebanyak 7 siswa atau 17,65 %. Berdasarkan hasil refleksi  di atas dapat dijelaskan bahwa perbaikan pembelajaran Siklus ke II telah berhasil, hal ini dilihat dari peningkatan ketuntasan belajar yaitu selisih ketuntasan belajar Siklus I dengan siklus II , Ketuntasan Belajar pada Siklus I adalah 61,74 % sedangkan Ketuntasan Belajar pada Siklus II 82,35 %, jadi ada peningkatan sebesar 20,61 %.

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Tabel Hasil Analisis Penilaian Prasiklus

Jumlah Siswa Siswa yang Memperoleh Nilai
< 75 ≥ 75 T BT
39 siswa 23 siswa 16 siswa 41,18 % 58,82  %

Prosentase Ketuntasan Belajar :

KKM : 75

Siswa yang memperoleh < 75   = 23siswa  = 58,82 %

Siswa yang memperoleh ≥75    = 16siswa  =41,18 %

Ketuntasan Belajar = 58,82%

Tabel Hasil Evaluasi Siklus I

Jumlah Siswa Siswa yang Memperoleh Nilai
< 75 ≥ 75 Tuntas Belum Tuntas
39 siswa 15 siswa 24 siswa 61,74% 38,26%

Prosentase Ketuntasan Belajar :

KKM : 75

Siswa yang memeperoleh nilai kurang dari 75 = 15  = 38,26 %

Siswa yang memperoleh nilai ≥ 75 = 24  = 61,74%

Ketuntasan Belajar = 61,74%

Tabel Hasil Analisis Penilaian Siklus II

Jumlah Siswa Siswa yang Memperoleh Nilai
< 75 ≥ 75 Tuntas Belum Tuntas
39 siswa 7 siswa 32 siswa 82,35% 17,65%

Prosentase Ketuntasan Belajar :

KKM : 75

Siswa yang memeperoleh nilai kurang dari 75 = 7 siswa =  17,65 %

Siswa yang memperoleh nilai ≥ 75 = 32 siswa   = 82,35 %

Ketuntasan Belajar = 82,35 %

Tabel Prosentase Ketuntasan Belajar dari Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II

PRASIKLUS SIKLUS I SIKLUS II
HASIL  KKM HASIL KKM HASIL KKM
41,18% 75 % 61,74% 75 % 82,35 % 75 %

Grafik Peningkatan Prosentasi Ketuntasan Belajar

Prasiklus, Siklus I, damn Sikluss II

 1

Dari tabel dan grafik prosentase di atas dapat disimpulkan bahwa, kegiatan perbaikan pembelajaran dari prasiklus ,Siklus I dan Siklus II, pencapaian ketuntasan belajar mengalami kenaikan yang signifikan, dari muali Prasiklus ke Siklus I naik dari 41,18 % menjadi 61,74 %, dan dari siklus I ke siklus II naik dari 61,74 % menjadi 82,35 %, dan jika dilihat dari hasil penilaian kerja kelompok maka setiap aspek penilaian mengalami kenaikan untuk setiap kelompoknya, dengan demikian peneliti merasa bahwa kegiatan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Number Heads Together (NHT) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil prestasi belajar siswa.

 

SIMPULAN

Dari hasil penelitian serta pembahasan, dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran Number Heads Together (NHT) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kompetensi dasar “Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman secara lisan dengan bertelepon dan bercerita” di kelas III SD Negeri Bojongsari 01, Kecamatan Losari Kabupaten Brebes.

Dari hasil penelitian diperoleh data pada prasiklus, yakni 41,18 %, Siklus I. 61,74 %.dan  siklus II yaitu mencapai 82,35 %. Dengan menerapakan model pembelajaran NHT, ternyata kegiatan pembelajaran lebih menyenangkan dan menarik minat dan aktivitas siswa, sehingga aktivitas dan hasil belajar meningkat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standar Nasiona Pendidikan (2007). Standar Kompetensi Lulusan di Sekolah Dasar. Jakarta. Direktorat Jendral ManajemenPendidikan Dasar dan Menengah.

Badan Standar Nasional Pendidikan.(2007). Standar Isi (Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum) untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta : Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Departemen Pendidikan Nasional RI (2007). Standar kompetensi dan kompetensi dasar tingkat SD/MI. Jakarta: Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Puji Santoso, dkk (2008). Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta : Universitas Terbuka.

Suparno, Yunus Muhammad (2003). Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka.

Wardani I.G.A.K, dkk.(2006). Teknik Menulis Karya Ilmiah. Jakarta  Universitas Terbuka.

Wardani, I.G.A.K. (2007) Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta : Universitas  Terbuka.

Yetti Mulyati. (2008). Keterampilan Berbahasa Indonesia SD.Jakarta : Universitas Terbuka.

BIODATA PENULIS

NAMA                                                : SUGENG SUYONO, S.Pd.

TEMPAT/TG.LAHIR                        : KLATEN, 7 AGUSTUS 1958

PANGKAT GOL/RUANG               : PEMBINA IV A

JABATAN                                          ; KEPALA SEKOLAH

UNIT KERJA                                     : SD NEGERI BOJONGSARI 01

ALAMAT RUMAH                           : DS.JATISEENG, KEC. CILEDUG, KAB.CIREBON.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *