Penelitian Tindakan Sekolah Melalui Supervisi dan bimbingan Pribadi

MENINGKATKAN DISIPLIN MENGAJAR GURU MELALUI SUPERVISI DAN BIMBINGAN PRIBADI DI SD NEGERI PASURUHAN 03 TAHUN PELAJARAN 2015/2016

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan supervisi dan bimbingan pribadi dalam meningkatkan disiplin guru di SD Negeri Pasuruhan 03 Tahun Pelajaran 2015/2016. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus masing-masing terdiri atas tahapan perencanaan, tindakan obervasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui lembar pengamatan tiap pertemuan oleh observer untuk melihat data tentang kedisiplinan guru dalam kehadiran, berpakaian, penyusunan RPP dan dalam pembelajaran. Hasil yang diperoleh dari Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) melalui supervisi dan bimbingan pribadi, memperlihatkan adanya peningkatan hasil yaitu rata-rata disiplin guru 67,88 pada siklus I menjadi 79,17 pada siklus II. Berdasar hasil penellitian menunjukkan bahwa supervisi dan bimbingan pribadi dapat meningkatkan disiplin guru dalam mengajar

Kata kunci : supervisi, disiplin mengajar guru

 

PENDAHULUAN                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 Latar Belakang

Kesadaran guru untuk disiplin masih sangat kurang. Hal ini dapat dilihat dari jam hadir guru yang rata-rata di atas jam tujuh padahal jam masuk sekolah jam tujuh. Akibatnya jam masuk anak mundur dari jadwal yang seharusnya. Hal ini tentu saja berpengaruh pada mutu dan prestasi belajar anak. Dalam berpakaian guru tidak sesuai dengan aturan yang ada. Sikap kurang disiplin ini tentunya berdampak juga terhadap kedisiplinan anak.

Hasil wawancara dan perbincangan dengan guru, guru di SD Negeri Pasuruhan 03 kurang disiplin waktu karena harus menyelesaikan pekerjaannya di rumah dan rumahnya jauh. Ada juga yang beralasana karena disiplin dan tidak disiplin sama saja dalam kenaikan tingkat, tidak ada penghargaan dari sekolah, dan beberapa alasan lain. Untuk itu peneliti selaku supervisor dan kepala sekolah di SD Negeri Pasuruhan 03 berusaha untuk meningkatkan disiplin guru di sekolah tempat peneliti bertugas.

Berdasarkan masalah tersebut, peneliti nerusaha untuk mengadakan perbaikan terhadap masalah tersebut dengan mengadakan supervisi dan bimbingan secara indiidu

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah pengadaan Supervisi dan bimbingan dapat meningkatkan disiplin mengajar guru di SD Negeri Pasuruhan 03 Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap Tahun Pelajaran 2015/2016?

KAJIAN PUSTAKA

Disiplin Mengajar di Kelas

Menurut Ibnu Suwandi dan Anno D. Sanjari (1997:11-12) disiplin diartikan sebagai 1) latihan yang memperkuat, 2) koreksi dan sanksi, 3) kendali atau terciptanya ketertiban dan keteraturan, 4) system aturan dan tata laku. Nasution (1980:63) menjelaskan bahwa disiplin berasal dari Bahasa Yunani “Disiplus” yang artinya murid atau pengikut seorang guru. Seorang murid atau pengikut harus tunduk kepada peraturan. Karena itu disiplin berarti kesediaan untuk mematuhi ketertiban agar murid dapat belajar. Sedangkan Suwandi dan Sanjari (1997:12) mengartikan disiplin sebagai kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu system yang mengharuskan orang tunduk pada keputusan, perintah, atau peraturan yang berlaku.

Surya dan Yamin (1980:13) menjelaskan bahwa mengajar merupakan suatu proses yang dilakukan individu untuk memberikan materi ajar kepada peserta didik, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi pengetahuan yang dikembangkan melalui wahana sekolah. Hamalik (1980:28), berpendapat bahwa mengajar sebagai suatu pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan yang diberikan kepada peserta didik di sekolah.

The Liang Gie (1985:60) mengungkapkan bahwa usaha apapun, ketenangan dan kedisiplinan merupakan kunci untuk memperoleh hasil yang baik. Hal ini pun berlaku dalam pembelajaran. Ketidakdisiplinan akan membuat materi yang harus diberikan dalam pembelajaran tidak akan dapat diselesaikan yang akan berdampak pada prestasi dan hasil belajarb anak.

Guru dikatakan mengajar dengan disiplin apabila telah menaati semua peraturan atau tata tertib di sekolah. Guru yang menaati peraturan akan mempunyai sikap: 1) aktif masuk sekolah, 2) tertib di dalam kelas, 3) aktif dalam  memberikan materi ajar sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran di kelas.

Selayang Pandang tentang Kompetensi dan Profesionalisme Guru

Kompetensi guru yang baik diwujudkan dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan perbuatan dalam menjalankan fungsinya sebagai seorang guru secara professional. Untuk memperoleh gambaran yang terukur dan memberikan nilai untuk setiap kemampuan, maka perlu ditetapkan kinerja pada setiap kemampuan.

Guru adalah tenaga fungsional yang bertugas khusus untuk mengajar, mendidik, melatih, dan menilai hasil pembeajaran peserta didik serta efektifitas mengajar guru. Guru sebagai tugas profesi hakekatnya suatu pernyataan atau janji terbuka, bahwa seseorang akan mengabdikan dirinya pada suatu jabatan atau pekerjaan (Sikun Pribadi dalam Etty, 2003:2). Guru yang professional harus mampu melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Tugas pokok dan fungsi seorang guru yang professional adalah 1) Mampu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran; 2) Mampu mengkontruksi tes hasil belajar yang berkualitas; 3) Terampil menyajikan bahan ajar di kelas dan di luar kelas, professional dalam mengevaluasi hasil belajar. Kewajiban guru dalam melaksanakan tugas hendaknya disiplin, obyektif, jujur, bertanggung jawab, kreatif, inovatif, serta berkinerja.

Kompetensi merupakan spesifikasi dari kemampuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki seseorang serta penerapannya di dalam pekerjaan, sesuai dengan standar kinerja yang dibutuhkan oleh lapangan (Ditjen Dikdasmen, 2004:4). Kompetensi yang harus dikuasai guru antara lain: 1) pengelolaan pembelajaran, 2) pelaksanaan pembelajaran, 3) penilaian hasil belajar, dan 4) tindak lanjut penilaian hasil belajar.

Selain komponen tersebut seorang guru juga harus memiliki pengetahuan tentang landasan pendidikan, kebijakan pendidikan, tingkat perkembangan siswa, pendekatan pembelajaran yang sesuai materi pembelajaran, menerapkan kerja sama dalam pekerjaan, memanfaatkan kemajuan IPTEK dalam pembelajaran. Seorang guru juga harus menguasai kompetensi akademik, yaitu kometensi menguasai keilmuan dan keterampilan sesuai materi pembelajaran (2004:14).

Administrasi Kependidikan

Wijono (1989:14) mendefinisikan administrasi pendidikan sebagai ilmu terapan yang mempelajari keseluruhan proses kerjasama sekelompok orang yang melakukan kegiatan bersama di bidang pendidikan dengan mendayagunakan tenaga dan peralatan serta perlengkapan yang tersedia untuk mencapai tujuan.

Stephen J. Knezevich dalam Sahertian (1985:19) mendefinisikan administrasi sekolah sebagai “school administration is a process concered with creating, maintaining, stimulating, and unifying the energies within an educational institution toward realization of the predetermined objective” di mana administrasi sekolah adalah suatu proses yang terdiri dari usaha mengkreasi, memelihara, menstimulir, dan menyatukan semua daya yang ada pada suatu lembaga pendidikan agar tercapai tujuan yang telah ditentukan lebih dulu. Sahertian (1985:55) mengemukakan administrasi pendidikan sebagai substansi gugusan yang meliputi pengelolaan pengajaran, kesiswaan, personalia, pengelolaan peralatan sekolah, pengelolaan gedung dan perlengkapan sekolah, pengelolaan keuangan sekolah, dan pengelolaan hubungan sekkolah dan masyarakat.

Makna dan Tugas Superviai

Adams dan Dickey dalam Sahertian (2000:17) menjelaskan supervisi sebagai program yang berencana untuk memperbaiki pembelajaran. Sementara Boardman et.al, dalam Sahertian (2000:17) mengemukakan supervisi sebagai usaha untuk menstimulasi, mengkoordinasi, dan membimbing secara kontinu pertumbuhan guru-guru di sekolah baik secara individual maupun kolektif agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam seluruh fungsi pembelajaran.

Nemey (dalam Sahertian, 2000:17) melihat supervisi sebagai suatu prosedur untuk memberi arah serta mengadakan penilaian secara kritis terhadap fungsi pembelajaran. Burton dan Brucner (dalam Sahertian, 2000:17) supervisi adalah suatu teknik pelayanan yang bertujuan untuk mempelajari dan memperbaiki secara bersama-sama faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Kimball Wiles (dalam Sahertian, 2000:18) menjelaskan supervisi sebagai bantuan yang diberikan untuk memperbaiki situasi belajar mengajar agar lebih baik. Sehingga supervisor yang baik memiliki 5 keterampilan dasar, yaitu: a) keterampilan dalam hubungan-hubungan kemanusiaan; b) keterampilan dalam proses kelompok; c) keterampilan dalam mengatur personalia, d) keterampilan dalam kepemimpinan pendidikan, e) keterampilan dalam mengevaluasi (Sahertian, 2000:18)

Menurut Sahertian (1985:24) tujuan konkret dari supervisi adalah untuk membantu guru dalam: 1) melihat dengan jelas tujuan-tujuan pendidikan, 2) membimbing siswa dalam mencari pengalaman belajar, 3) menggunakan sumber-sumber belajar, 4) menggunakan metode dan alat-alat pembelajaran, 5) memenuhi kebutuhan belajar siswa, 6) menilai kemajuan peserta didik dan hasil pekerjaan guru itu sendiri, 7) membina reaksi mental atau moral kerja guru dalam pertumbuhan pribadinya, 8) Membantu guru baru di sekolah sehingga mereka merasa senang dengan tugasnya, 9) agar kebih mudah mengadakan penyesuaian terhadap masyarakat dan cara-cara menggunakan sumber-sumber masyarakat, 10) memanfaatkan waktu dan tenaga dalam pembinaan sekolah.

Aplikasi Kewajiban Supervior Kependidikan

Prinsip dalam melaksanakan supervisi adalah ilimiah (scientific), demokratis, kerjasama, serta konstruktif dan kreati. Umumnya alat dan teknik supervisi dibedakan dalam dua macam alat atau teknik. John Minor Gwyn (dalam Sahertian, 2000:52) mengemukakan dua teknik supervisi yaitu teknik yang bersifat individual dan teknik yang bersifat kelompok.

Dalam penelitian ini, konteksnya adalah teknik supervisi individual. Teknik supervisi pendidikan yang bersifat individual antara lain kunjungan kelas, percakapan pribadi, saling mengunjungi kelas, dan menilai diri sendiri. Tekhnik kunjungan kelas dibedakan menjadi kunjungan tanpa diberitahu, kunjungan memberitahu lebih dulu, kunjungan atas undangan guru.

Melalui kunjungan kelas, seorang supervisor dapat mengobservasi situasi belajar mengajar yang sebenarnya. Teknik observasi dapat dilakukan dengan dua teknik yaitu teknik observasi langsung (direct observation) merupakan teknik observasi menggunakan alat observasi. Supervisor mencatat absen yang dilihat pada saat guru mengajar. Teknik observasi tidak langsung merupakan teknik observasi di mana orang yang diobservasi dibatasi.

Syarat untuk memperoleh data dalam observasi tergantung dari sikap dan cara pengamat ketika mengadakan observasi. Adapun syarat-syarat tersebut adalah 1) menciptakan situasi yang wajar, 2) membedakan mana yang penting dicatat dan mana yang kurang penting, 3) Bukan melihat kelemahan, melainkan melihat bagaimana memperbaikinya, 4) memperhatikan kegiatan atau reaksi siswa tentang proses belajar.

Segala sesuatu yang dicatat dan dikumpulkan dalam observasi harus memenuhi beberapa syarat, yaitu 1) bersifat obyektif yaitu segala sesuatu yang dicatat adalah data yang sebenarnya tanpa ada pengaruh unsur subyektif dari supervisor; 2) apa yang dicatat harus tepat sasaran; 3) data yang dicatat harus dapat dipercaya.

Untuk memperoleh data tentang situasi belajar mengajar digunakan alat berupa check list yaitu suatu alat untuk mengumpulkan data dalam melengkapi keterangan-keterangan yang lebih obyektif terhadap situasi belajar mengajar yang terjadi di dalam kelas. Menurut George Kyte dalam Sahertian (2000:74) ada dua jenis percakapan pribadi melalui kunjungan kelas, yaitu percakapan pribadi setelah kunjungan kelas (formal) yakni setelah supervisor mengadakan kunjungan kelas dibuat kesepakatan bersama untuk mengadakan individual conference. Dan percakapan pribadi melalui percakapan biasa sehari-hari (informal). Hal ini dilakukan oleh kepala sekolah dalam perbincangan sehari-hari dikemukakan sesuai masalah yang dihadapi oleh guru.

Sweringen dalam Sahertian (2000:75) membagi teknik percakapan pribadi menjadi 3 jenis, yaitu: 1) classroom-conference merupakan percakapan pada saat siswa tidak ada lagi di kelas, misal pada saat siswa sedang istirahat; 2) officeconference merupakan percakapan yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang guru; 3) casual conference merupakan percakapan yang dilaksanakan secara kebetulan, yang tidak diharapkan.

METODE PENELITIAN

Penelitian Tindakan Sekolah ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Pasuruhan 03 Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap. Penelitian diadakan selama dua bulan yaitu bulan September s/d Oktober 2015. Subjek dalam penelitian ini adalah sikap disiplin guru SD Negeri Pasuruhan 03 saat jam masuk kantor hingga KBM selesai.

Prosedur Penelitian Tindakan sekolah

Penelitian tindakan sekolah merupakan penelitian bersiklus yang dalam tiap siklusnya terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Setelah melalui satu siklus, penulis merefleksi hasil penelitian, jika hasil yang dihasilkan belum sesuai dengan indikator yang ditentukan, maka penelitian dilanjutkan pada siklus berikutnya sampai dicapai hasil yang sesuai dengan indikator yang diharapkan.

Dalam siklus pertama langkah-langkah yang diterapkan oleh penulis adalah sebaga berikut.

Perencanaan

Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah sebagai berikut.

  • Mengadakan pertemuan dengan guru-guru di SD Negeri Pasuruhan 03 guru yang berjumlah 6 orang
  • Membuat jadwal pengarahan dan pembinaan
  • Menyusun jadwal supervisi
  • Memberikan pengarahan dan pembinaan tentang pentingnya kedisiplinan.
  • Menekankan pada guru untuk berlatih disiplin dan menjelaskan tentang adanya inspeksi tentang kehadiran dan persiapan sebelum melaksanakan KBM.

Pelaksanaan

  • Memberikan jadwal pelaksanaan program pembinaan kedisiplinan.
  • Melaksanakan pembinaan kedisiplinan sesuai dengan jadwal.
  • Melaksanakan supervisi sebagai tindak lanjut pembinaan yang telah dilaksanakan.

Observasi

  • Supervisor mengobservasi kedisiplinan guru. Supervisi yang diamati adalah kehadiran guru, seragam guru, kesiapan guru dalam memberikan materi ajar, dan kesiapan guru dalam menaati tata tertib yang berlaku di sekolah.
  • Supervisor mencatat hasil pengamatan pada lembar observasi yang telah disediakan sebelumnya.

Refleksi

  • Menganalisis hasil pembinaan terhadap guru dan pengaruhnya pada kedisiplinan guru.
  • Menganalisis kelemahan-kelemahan untuk perbaikan pada siklus selanjutnya.

Langkah-langkah tersebut diulangai pada siklus kedua dengan mengadakan perbaikan sesuai dengan catatan hasil observasi dan refleksi peneliti. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila 75 persen guru dapat tuntas sikap disiplin pada masing-masing aspek yang diamati. Guru tuntas disiplin apabila penialaian dalam aspek yang diamati memperoleh nilai 75.

 

HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian Tindakan Sekolah

Penelitian Tindakan Sekolah yang dilakanakan di SD Negeri Pasuruhan 03 Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Penelitian dilaksanakan dalam diua siklus dengan subyek penelitian berjumlah delapan orang.Hasil tindakan pada siklus pertama adalah sebagai berikut

Tabel 4.1 Hasil Observasi Siklus I

No Nama Guru (samaran) Cek Point Kedisiplinan
Ketepatan waktu mengajar Kerapihan seragam guru Kerajinan penyususnan RPP Pelaksanaan RPP pada KBM
1 RM 62 72 75 71
2 AS 61 74 68 72
3 SWS 67 75 68 77
4 SL 63 68 62 73
5 SN 60 68 61 51
6 SALI 60 69 67 51
Rata-rata 62,17 71.00 66.83 65.83

Berdasarkan data di atas, hasil tindakan pada siklus I kurang memuaskan sehingga diadakan tindakan pada siklus II. Hasil tindakan pada siklus II adalah sebagai berikut.

Tabel 4.2 Hasil Observasi Siklus II

No Nama Guru (samaran) Cek Point Kedisiplinan
Ketepatan waktu mengajar Kerapihan seragam guru Kerajinan penyususnan RPP Pelaksanaan RPP pada KBM
1 RM 78 79 81 82
2 AS 76 75 76 76
3 SWS 81 83 78 87
4 SL 83 74 79 81
5 SN 77 72 80 80
6 SALI 84 78 80 80
Rata-rata 79.83 76.83 79.00 81.00

Dari tabel di atas hasil tindakan pada siklus II megalami peningkatan. Oleh karena itukepala sekolah memberikan penghargaan nilai B+ bagi ke enam guru tersebut dalam pembinaan kedisiplinan KBM di SD Negeri Pasuruhan 03 Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap.

Pembahasan Hasil Penelitian

Hasil pelaksanaan tindakan siklus I dengan mengadakan supervisi, terlihat bahwa diperoleh nilai rata-rata kedisplinan 67,88. Ini masih sangat kurang dari indikator yang telah ditetapkan. Setelah diadakan tindakan pada siklus II terjadi peningkatan yang signifikan yaitu menjadi 79,17. Disiplin guru rata-rata sudah berada pada kategori “BAIK”. Sehingga peneliti menganggap bahwa hasil penelitian sudah sesuai dengan indikator yang ditetapkan sehingga penelitian dihentikan pada siklsu II.

Tabel 4.3 Rekap hasil Observasi Siklus I dan II

No Siklus Cek Point Kedisiplinan
Ketepatan waktu mengajar Kerapihan seragam guru Kerajinan penyususnan RPP Pelaksanaan RPP pada KBM
1 Siklus I 62,17 71.00 66.83 65.83
2 Siklus II 79.83 76.83 79.00 81.00

Dari data pada tabel di atas dapat digambarkan dalam grafik berikut.

sarmann

Gambar 2. Diagram Peningkatan Disiplin Guru Siklus I dan II

Dari grafik diketahui bahwa disiplin guru meningkat di setiap siklus perbaikan. Dengan mengadakan inspeksi dan kunjungan dinas secara teratur, serta bimbingan dari kepala sekolah dapat meningkatkan disiplin guru, baik dalam bertingkah laku maupun dalam melaksanakan pembelajaran. Sehingga dapat ditarik kesimpulan, bahwa pengadaan supervisi dan bimbingan secara pribadi dapat meningkatkan disiplin guru di SD Negeri Pasuruhan 03.

KESIMPULAN

Berdasarkan analisis data hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan supervisi dan kunjungan dinas oleh kepala sekolah sangat membantu guru di SD Negeri pasuruhan 03 untuk meningkatkan disiplin. Dengan hasil sebagai berikut: Adanya peningkatan hasil yaitu rata-rata disiplin guru 67,88 pada siklus I menjadi 79, 17 pada siklus II, Sikap guru yang mencerminkan kedisiplinan akan sangat berpengaruh terhadap hasil kinerja mengajar di kelas. Sehingga perlu kiranya seorang guru untuk lebih meningkatkan disiplin di sekolah untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Agar guru lebih disiplin, kepala sekolah hendaknya dapat mendorong guru untuk selalu menaati peraturan dan tata tertib yang ada di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Ad. Rucijakker. 1984. Mengajar dengan Sukses. Jakarta: PT Gramedia dengan YKPTK

Arikunto, Suharsimi. 192. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rienka Cipta.

Djumbur I dan Moh. Surya. 1975. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Bandung: CV Ilmu

Ditjen Dikdasmen. 2004. Kompetensi Guru.

Etty R. 2003. Pengantar Hukun Internasional. Bandung

Hakim Nasution,A .(1980). Landasan Matematika, Jakarta : Bharata Aksara.

Moh. Surya dan Moh. Yamin. 1980. Pengajaran Remidial. Jakarta: Depdikbud.

Nasin Surya Suwandi dan Anno D. Sanjari. 1997. Disiplin di sekola. Seri Gerakan Disiplin Nasional. Jakarta: PT Grafnndo Media Pratama.

Oemar Hamalik. 1980. Metode Belajar dan Kesulitan Belajar. Badung: Tarsito

Poerwodarminto. W.J.S. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: balai Pustaka.

Nasution. S. 1980. Didaktik Azas-azas Mengajar. Bandung: Jemmar

Nasution. S. 1980. Metode Research. Bandung: Jemmar.

Sahertian. 1985. Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan di Sekolah. Surabaya: Usaha Nasional

Sutrisno, Hadi. 1981. Stastistik Jilid II. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fak Psy. UGM.

Sudikin, dkk. 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Insan Cendekia.

The Liang Gie. 1985. Cara Belajar yang Efisien. Yogyakarta: Pusat Kemajuan Studi.

Tarni Farida. 2003. Kedisiplinan sebagai Motivator Kerja Mandiri. Jakarta: Pusat Kajian YLKI.

Biodata : SARMAN


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *