PTK SD : Belajar IPA Alat Pencernaan Manusia Melalui Model TSTS

ratinahMENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA ALAT PENCERNAAN MANUSIA MELALAUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TIPE THREE STAY THREE STRAY (TSTS)

ABSTRAK

Tujuan Penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPA padaalat pencernaan Bentuk makanan pada manusia. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan selama dua siklus. Tiap siklus terdiri dari 4 tahapan yakni perencana, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek dan sumber data pada penelitian ini adalah guru dan siswa kelas VI. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dokumentasi, wawancara, observasi dan tes. Pada penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik sebagai validitas data. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif komparatif dan analisis interaktif. Simpulan penelitian ini adalah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe three stay three stray dapat meningkatkan IPA. Yaitu Pada pra tindakan, nilai rata-rata pemahaman konsep siswa adalah 62,62; siklus I nilai rata-rata pemahaman konsep siswa meningkat menjadai 70,29; siklus II rata-rata pemahaman konsep siswa meningkat menjadi 82,08. Ketuntasan klasikal siswa pada pra tindakan sebanyak 7 siswa (29%); siklus I sebanyak 14 siswa (71%) dan siklus II sebanyak 19 siswa (92%).

Kata kunci :Hasil belajar IPA,  Three Stay Three Stray (TSTS)

PENDAHULUAN

Ilmu pengetahuan alam (IPA) adalah ilmu yang mempelajari alam dengan segala isinya, atau secara sederhana merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis tentang gejala alam (sukardjo, 2005). Untuk dapat memahami tentang gejala-gejala tersebut maka setiap manusia perlu untuk mempelajarnya melalui pembelajaran IPA di semua jenjang pendidikan. Pembelajaran IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasa kumpulan pengetahuan berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Proses penemuan ini, melibatkan sikap dan keterampilan siswa. IPA sebagai proses merupakan kesatuan kegiatan yang meliputi mengamati, menggolongkan, mengukur, mengomunikasikan, menginterprestasikan data, memprediksi, menggunakan alat, melakukan percobaan dan menyimpulkan (Haryono, 2013:45)

            Salah satu materi yang ada di dalam silabus kelas VI semester 2 adalah Alat Pencernaan Manusia. Berdasarkan pengamatan  yang dilakukan di SDN Pagubugan Kulon 3, diperoleh informasi bahwa pemahaman Alat Pencernaan Manusia masih  rendah , dibawah KKM( 70). Hal ini dibuktikan dengan hasil , dari 24 siswa, 17 siswa atau 71% siswa mendapat nilai dibawah KKM (70). Sedangkan yang mendapatkan nilai lebih atau sama dengan KKM hanya 7 atau siswa 28%, dengan nilai rata rata kelas 62,67.

            Beberapa faktor yang menjadi penyebab permasalahan tersebut antara lain: 1) proses pembelajaran yang masih menerapkan model konvensional dengan guru sebagai pusat pembelajaran. Siswa berperan pasif dalam pembelajaran. Mereka hanya duduk medengarkan, mencatat apa yang disampaikan guru dan kemudian mengerjakan yang diperintahakan tanpa memahami seluk beluk materi tersebut; 2) penerapan model dalam pembelajaran yang kurang. Hal inilah yang mengakibatkan pemahaman  siswa tentang Alat Pencernaan Manusia kurang, karena seharusnya dalam pembelajran IPA, siswa harus terlibat aktif dalam pembelajaran. Tidak hanya sekedar sebagai pengamat. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu solusi untuk dapat mengatasi masalah tersebut. Salah satu alternatifnya dengan menerapkan model pembelajaran yang inovatif yang mengikutsertakan siswa dalam pembelajaran dan guru hanya sebagai fasilitator.

            Salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman Alat Pencernaan Manusia pada siswa kelas VI SDN Pagubugan Kulon 3 adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif. Seperti yang disampaikan Isjoni (2013:23) bahwa dengan melaksanakan model pembelajaran kooperatif dalam proses pembelajaran, akan memungkinkan siswa meraih keberhasilan dalam belajar. Model pembelajaran ini akan membantu siswa mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan secara penuh. Siswa tidak hanya berperan sebagai objek pembelajaran, tetapi juga sebagai tutor bagi teman sebayanya. Salah satu tiper model kooperatif tersebut adalah Three Stay Three Stray (TSTS).

            Model pembelajaran ini merupakan sistem pemeblajaran kelompok yang memungkinkan setiap kelompok yang saling berbagi informasi dengan kelompok-kelompok lain (Huda, 2013:140). Tujuan dari model ini adalah agar siswa dapat saling bekerjasama, bertanggung jawab, saling membantu memecahkan masalah dan saling mendorong untuk berprestasi. Medel ini juga melatih siswa untuk bersosialisasi dengan baik.

            Langkah pembelajaran model kooperatif tipe Three Stay Three Stray (TSTS) adalah:

  1. Siswa bekerja sama untuk menyelesaikan lembar kerja siswa dalam kelompok berenam seperti biasa.
  2. Setelah selesai, tiga orang dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertemu (stray) ke tiga kelompok lain.
  3. Tiga orang yang tinggal dalam kelompok (stay) bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ketamu mereka.
  4. Tamu mohon diri, kembali ke kelompok mereka sendiri dan masing-masing melaporkan tamuan mereka dari kelompok lain.
  5. Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.

Salah satu kelebihan dari model pembelajaran tipe ini adalah meningkatkan prestasi belajar dan daya ingat. Karena semua siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, dan semua anggota kelompok diharuskan melaporkan hasil-hasil kunjungannya ke kelompok lain (bagi siswa yang berpencar atau stray) dan hasil-hasil yang diperoleh saat kunjungan tamu di kelompok mereka (bagi siswa yang tinggal atau stay), maka dapat memberikan efek peningkatan prestasi belajar dan daya ingat (Faiq, 2013).

            Berdasarkan uraian di atas, dirumuskan permasalahan yakni apakah penerapan model kooperatif Three Sray Three Stray dapat meningkatkan hasi belajar materi Altat pencernaan manusi  siswa kelas VI SDN Pagubugan Kulon 3 tahun pelajaran.2014/2015?

METODE PENELITIAN

Waktu Penelitian Tindakan Kelas dimulai bulan September sampai Desember 2014. Tempat dilaksanakannya penelitian ini adalah di SDN Pagubugan Kulon 3 Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas VI berjumlah 24 orang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 7 orang perempuan. 0byek penelitian adalah rendahnya keaktifan siswa dalam proses pembelajaran sehingga siswa mengalami kesulitan dalam dalam memahami prinsip-prinsip IPA, yang pada akhirnya perolehan hasil belajar IPA siswa kelas VI SD Negeri Pagubugan Kulon o3 semester I tahun pelajaran 2014/2015 kurang memuaskan.

PROSEDUR PENELITIAN.

Penelitian Tindakan Kelas sebagaimana dinyatakan oleh Kemmis dan Mc.Tanggart (dalam Dwijoseno,2014) merupakannpenelitan yang bersiklus, yang terdiri dari rencana (planning),aksi(acting),pengamatan(observing),dan refleksi(reflecting). Dalam penelitian ini tekhnik tes berupa tes tertulis untuk memperoleh data tentang hasil belajar tentang IPA pada materi Alat pencernaa manusia.

Analisis Data

  1. Untuk data kuantitatif yaitu hasil belajar IPA,data dianalisis dengandeskriptif komparatif dilanjutkan dengan refleksi. Diskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai hasil pembelajaran dari kondisi awal dibanding dengan nilai hasil belajar siklus 1dan siklus2.Refleksi yaitu membuat simpulan berdasarkan diskriptif komparatif kemudian memberikan ulasan dan menentukan action planj/tindak lanjut
  2. Untuk data kuantitatif yaitu keaktifan siswa,data dianalisi dengan deskrptif kuantitati kemudian dilanjutkan refleksi Diskriptif kualitatif adalah membandingkan data kualitatif dari keaktifan siswa saat mengikuti pembelajaran da kondisi awal,siklus 1 dan siklu2.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Siklus 1

            Sebelum melaksanakan tindakan, terlebih dahulu dilakukan beberapa kegiatan yaitu observasi, wawancara, dan tes evaluasi pra tindakan. Berdasarkan tes pra tindakan tentang pemahaman Alat Pencernaan Manusia telah dilaksanakan, dipeoleh data yang menunjukan sebagian besar siswa kelas VI SDN Pagubugan Kulon 3, belum mencapai ketuntasan dengan KKM  yang telah ditentuakan yaitu 70. Data frekuensi nilai pemahaman konsep Alat Pencernaan Manusia pada pra tindakan dapat dilihat pada  sebagai berikut :

Tabel 1

No interval frekfensi presentas
1 25-34 1 4%
2 35-44 2 8%
3 45-54 2 8&
4 55-64 9 35%
5 65-74 3 12%
6 75-84 7 29%
Nilai taa-rata 1504:24=62,62
Ketuntasan klaksikal (10:24)x100%=41,66

. Distribusi Frekuensi Nilai Pemahamanp Alat Pencernaan Manusia. Selanjutnya dilakukan tinadakan pada siklus 1 dengan menggunakan model

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai rata rata siswa 62,62 dandari 24 siswa 14 siswa nilainya di bawah KKM atau58,3,%,dan baru 10 siwa yang nilainya sama atau diatas KKM (70) atau 41,7 %

Selanjutnya dilakukan tindakan pada siklus 1 dengan menggunakan model kooperatif tipe Three Stay Three Stray untuk meningkatkan pemahaman konsep berdasarkan Tabel 1 di atas, dapat diketahui bahwa dari 24 siswa 14 diantaranya atau 58,3% siswa nilainya dibawah KKM dan baru 10 siswa atau 41,7%  siswa yang mencapai KKM 70.

            Hasil pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Three Stay Three Stray disajikan pada tabel 2 berikut ini.

N0 Interval Frekvensi Presentase
1 27-38 5 21%
2 39-50 1 4%
3 51-62 1 4%
4 63-74 0 0%
5 75-86 11 46%
6 87-98 6 25%
Nilai Rata-rata 1687:24’70,29
Ketuntasan klaksikal (17;24)x100%=71%

Tabel 2. Disribusi Frekuensi Nilai Pemahaman Alat pencernaan Manusia Siklus 1.

Berdasarkan tabel Distribusi frekvensi di atas, menunjukan bahwa nilai pada siklus 1 mencapai rata-rata  71%  atau sebanyak 17 siswa yang mempunyai nilai diatas atau lebih dari KKM(70) , dan sisanya   yang mendapat nilai diatas di bawah  KKM (70).

Deskripsi Siklus II

            Karena pada siklus 1 belum mencapai indikator kinerja yang ditentukan yakni 85% siswa yang mencapai nilai lebih dari atau sama dengan 70, maka dilakukan tindakan pada siklus II. Pada siklus II menunjukan peningkatan pemahaman Alat Pencernaan Manusia dengan tetap menggunakan model kooperatif tipe Three Stay Three Stray.

Distribusi nilai pemahaman Alat Pencernaan Manusia pada siklus II dapat dilihat pada tabel 3 sebagai berikut.

No Interval Frekvensi Presentase
1 62-67 2 8%
2 68-73 0 0%
3 74-79 8 34
4 80-85 2 8%
5 86-91 6 25%
6 92-97 6 25%
Nilai 1970:24=82,08
Ketuntasan klasikal (22:24)x100%=91,6%

Tabel 3. Disribusi Frekuensi Nilai Pemahaman Konsep Faktor Penyebab Perubahan Benda Siklus II

            Data di atas menunjukan bahwa nilai siswa meningkat dengan ketuntasan klasikal 91,6% atau sebanyak 22 siswa sudah mendapat nilai sesuai atau lebih dari KKM.

PEMBAHASAN

             Uraian hasil penelitian di atas menunjukan bahwa terjadi peningkatan nilai pemahaman konsep penyebab perubahan benda pada pra tindakan, siklus 1 dan siklus II melalui penerapan model kooperatif tipe Three Stay Three Stray.

            Pada tahap pra tindakan, nilai yang dicapai siswa dengan ketuntasan klasikal 62,62%. Setelah diadakan tindakan pada siklus I, nilai siswa meningkat dengan ketuntasan klasikal mencapai 82,08%. Namun, karena indikator kinerja pada penelitian ini yaitu ketuntasan 85% belum mencapai, maka dilanjutkan tindakan pada siklus II. Pada siklus ini terjadi peningkatan nilai pemahaman konsep alat pencernaan manusi . Nilai rata-rata siswa pada siklus II meningkat menjadi 82,08 dengan ketuntasan klasikal mencapai 91,6% atau 22 siswa sudah mencapai nilai tuntas. Dengan tercapainya indikator kinerja yakni 85% siswa mencapai > 70, maka penelitian ini dihentikan di siklus II.

            Peningkatan nilai pemahaman Alat Pencernaan Manusia pada tahap pra tindakan, siklus I samapai siklus II data dilihat pada data perbandingan nilai pemahaman konsep pada Tahap 4 sebagai berikut :

Keterangan Pratindakan Siklus  1 Siklus 2
Nilai Terendah 28 29 60
Rata=rata Nilai 62,62 70,29 82,08
Nilai Tertimggi 84 9597 97
Ketuntasan 29% 71% 92%

Tabel 4. Perbandingan Rekap Nilai Terendah, Nilai Rata-rata dan Nilai Tertinggi pada Pratindakan, Siklus I dan Siklus II

            Perbandingan rekapitulasi nilai terendah, nilai rata-rata dan nilai tertinggi siswa di atas dapat disajikan dalam bentuk grafik pada gambar berikut:

ratinahh

Gambar 2. Grafik Perbandingan Rekapitulasi Nilai Terendah, Nilai Rata-Rata, Nilai Tertinggi antara siklus Siswa Kelas VI SDN Pagubugan Kulon 3.

            Berdasarkan tabel distribusi frekuensi nilai di atas menunjukan bahwa rata-rata pada siklus I mencapai 70,29 dengan 71% atau sebanyak 17 siswa yang mempunyai nilai lebih dari atau sama dengan 70, dan sisanya 4 siswa yang mendapatkan nilai dibawah 70.

Deskripsi Siklus II

            Karena pada siklus 1 belum mencapai indikator kinerja yang ditentukan yakni 85% siswa yang mencapai nilai lebih dari atau sama dengan 70, maka dilakukan tindakan pasa siklus II. Pada siklus II menunjukan peningkatan pemahaman Alat pencernaan Manusia  dengan tetap menggunakan model kooperatif tipe Three Stay Three Stray.

            Peningkatan yang terjadi setelah dilakukan tindakan dengan menggunakan model kooperatif tipe Three Stay Three Stray menunjukan bahwa Three Stay Three Stray terbukti dapat menarik minat siswa untuk belajar sehingga dapat meningkatkan pemahaman konsep Alat Pencernaan Manusia. Hasil analisis dapat dilihat peningkatan aktivitas dari siklus I ke siklus II, yaitu sebesar 21%. Hasil belajar IPA juga menunjukan peningkatan nilai rata-rata pada siklus I ke siklus II sebesar 25,8%. Peningkatan nilai rata-rata pada stiap siklusnya yang berdampak positif terhadap ketuntasan belajar. Pada akhir siklus II masih terdapat 2 siswa yang belum tuntas dalam belajar (< 70), hal ini disebabkan adanya faktor intern dari diri siswa.

            Penerapan Three Stay Three Stray dalam pembelajaran IPA materi faktor penyebab perubahan benda membuat siswa menjadi aktif dan memungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru yang diperoleh dari bertamu. Seperti yang sampaikan Faiq, bahwa melalui model kooperatif tipe Three Stay Three Stray siswa akan memperoleh keuntungan salah satunya yaitu belajar bermakna. Kecenderungan belajar siswa menjadi lebih bermakna memberikan kesempatan terhadap siswa untuk membentuk konsep secara mandiri dengan cara-cara mereka sendiri dan melalui model-model pemecahan masalah.

SIMPULAN

            Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang dilaksanakan dalam dua siklus membuktikan bahwa dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Three Stay Three Stray dapat meningkatkan pemahaman konsep faktor penyebab perubahan benda bagi siswa kelas VI SDN Pagubugan Kulon 3 tahun pelajaran 2014/2015…..

            Peningkatan pemahaman materi Alat pencernaan manusia  tersebut dibuktikan dengan meningkatkan rata-rata kelas  da ketuntasan yang dicapai siswa pada siklusnya. Pada pra tindakan, nilai rata-rata pemahaman konsep siswa adalah 62,62; siklus I nilai rata-rata pemahaman konsep siswa meningkat menjadai 70,29; siklus II rata-rata pemahaman konsep siswa meningkat menjadi 82,08. Ketuntasan klasikal siswa pada pra tindakan sebanyak 7 siswa (29%); siklus I sebanyak 14 siswa (71%) dan siklus II sebanyak 19 siswa (92%).

            Berdasarkan hasil siklus analisis dan refleksi dari siklus II, peneliti menyimpulkan bahwa tindakan sudah berhasil dengan indikator ketuntasan siswa mencapai 92% atau telah melampaui indikator yang telah ditetapkan (85%), maka penelitian ini dihentikan smapai pada siklus II

SARAN

  1. Bagi guru.

Saran  ditujukan pada guru kelas , jika menjumpai masalah yang sama dengan peeliti dapat mengadopsi langkah – langkah yang telah di tempuh oleh peneliti,karena terbukti berhasil dalam meningkatakan hasil belajar siswa

  1. Bagi Kepala Sekolah

Kepala sekolah bisa menganjurkan guru-guru untuk menggunakan Metode TSTS dalam pembelajaran IPA materi Alat pencernaan manusia,atau materi lain karna tepat dan menyenangka bagi siswa.

                                                      DAFTAR PUSTAKA

Faiq M, (2013). Mengimplementasi model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay  Two Stay  dalam kuswardiatun

-Haryono.(2013).Pembelajaran  IPA yang menarik dan mengasyikan . Yogyakarta :Kepel Press.

-Huda,M(2013). Cooperative Learning. Bandung : Alfabeta.

BIODATA

NAMA            :  RATINAH

NIP                 :  19670804 200604 2 007

UNIT KERJA :  SD N PAGUBUGAN KULON 03

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *