Meningkatkan Hasil Belajar Ipa Hubungan Antara Suhu, Sifat Hantaran, Dan Kegunaan Benda Melalui Penggunaan Alat Peraga Kit Ipa

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA HUBUNGAN ANTARA SUHU, SIFAT HANTARAN, DAN KEGUNAAN BENDA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA KIT IPA BAGI SISWA KELAS VI SD 1 NEGERI WINDUJAYA PADA SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2016/ 2017

Oleh : Darsiti, S.Pd.SD

ABSTRAK

Penelitian tindakan kelas ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPA sekolah dasar melalui penggunaan alat peraga KIT IPA. Sedangkan secara khusus bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPA sekolah dasar melalui penggunaan alat peraga KIT IPA bagi siswa kelas VI SD Negeri 1 Windujaya pada semester I tahun pelajaran 2016/ 2017. Penelitian dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2016/ 2017 bertempat di SD Negeri 1 Windujaya Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng. Subyek penelitiannya adalah seluruh siswa kelas VI SD Negeri 1 Windujaya pada semester I tahun pelajaran 2016/ 2017 yang berjumlah 16 siswa yang teridiri 7 siswa perempuan dan 9 siswa laki-laki.Teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah teknik tes. Sesuai dengan materi pelajaran yaitu hubungan antara suhu, sifat hantaran, dan kegunaan benda maka tes yang digunakan adalah tes tertulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penggunaan alat peraga KIT IPA, hasil belajar IPA hubungan antara suhu, sifat hantaran, dan kegunaan benda siswa kelas VI SD Negeri 1 Windujaya pada semester I tahun pelajaran 2016/ 2017 dapat ditingkatkan. Dari rata-rata nilai pada kondisi awal yang hanya 59,38 dapat ditingkatkan menjadi 83,12 pada kondisi akhir. Kesimpulan berdasarkan data empirik sesuai dengan pengajuan hipotesis berdasarkan kajian teoritik yaitu “ melalui penggunaan alat peraga KIT IPA dapat meningkatkan hasil belajar IPA hubungan antara suhu, sifat hantaran, dan kegunaan benda bagi siswa kelas VI SD Negeri 1 Windujaya pada Semester I Tahun Pelajaran 2016/ 2017”.

Kata kunci: alat peraga, suhu, sifat hantaran,  dan hasil belajar

PENDAHULUAN

Proses pembelajaran IPA di kelas VI SD Negeri 1 Windujaya Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng sampai saat ini masih belum memperlihatkan hasil yang memuaskan. Dari dua kali mengerjakan tugas harian mata pelajaran IPA, nilai rata-rata yang diperoleh hanya 59,38 (lima sembilan koma tiga delapan).

Di sisi lain, dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) telah ditentukan bahwa kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk mata pelajaran IPA adalah 70. Artinya bahwa siswa dapat dinyatakan tuntas dalam mempelajari suatu materi pelajaran IPA manakala mereka dapat mencapai nilai minimal 70. KKM ini sebagai prasarat siswa dapat melanjutkan pelajaran berikutnya, sebab materi pelajaran-materi pelajaran yang ditargetkan dalam kurikulum merupakan satu rangkaian berjenjang. Siswa akan lebih mudah mempelajari suatu materi pelajaran apabila telah memahami materi berikutnya. Di samping itu, pencapaian KKM ini merupakan syarat bagi siswa untuk dapat lulus. Siswa yang dinyatakan lulus berarti mereka dinyatakan pula telah siap mengikuti program pembelajaran di tingkat berikutnya. Untuk siswa kelas VI yang lulus berarti mereka telah siap mengikuti program pembelajaran jenjang berikutnya. Semakin tinggi tingkatan atau jenjang sekolah maka semakin tinggi pula tingkat kesulitan materi pelajarannya. Itulah esensi dasar mengapa dalam KTSP ditentukan pula KKM masing-masing mata pelajaran.

Dengan mencermati uraian di atas maka jelaslah terlihat adanya kesenjangan antara kenyataan yang ada dengan harapan yang diinginkan. Kenyataan yang ada menunjukkan masih rendahnya hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 1 Windujaya khususnya mata pelajaran IPA. Di sisi lain munculnya harapan semua pihak  baik guru, maupun orang tua/ wali siswa agar semua siswa kelas VI SD 1 Windujaya dapat mencapai nilai hasil belajar minimal atau sama dengan kriteria ketuntasan minimal sehingga pada akhir tahun pelajaran mereka dapat lulus. Bahkan bukan hanya sekedar lulus, tetapi dapat memperoleh nilai yang sangat memuaskan.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan masih rendahnya hasil  belajar bagi siswa kelas VI SD Negeri 1 Windujaya pada semester I tahun pelajaran 2016/2017. Misalnya karena terlalu seringnya pergantian  kurikulum, atau materi mata pelajaran IPA masih terlalu sukar untuk tingkatan siswa sekolah dasar kelas VI atau alokasi waktu yang tersedia untuk mata pelajaran IPA terlalu sedikit atau tidak tepatnya teknik penanaman konsep dasar mata pelajaran IPA atau penggunaan media yang  tidak tepat atau minimnya alat peraga untuk pembelajaran IPA atau mungkin guru belum menggunakan alat peraga untuk mata pelajaran IPA.

Dari sekian banyak penyebab rendahnya hasil belajar tersebut tidak mungkin akan dapat dibahas seluruhnya dalam penelitian tindakan kelas ini. Sesuai dengan kaidah yang berlaku bahwa dalam satu penelitian hanya mungkin untuk menyelidiki satu permasalahan, dan juga untuk memudahkan dalam proses penelitian tindakan sekolah ini maka peneliti hanya akan berupaya meningkatkan hasil belajar bagi siswa kelas VI SD Negeri 1 Windujaya pada semester I tahun pelajaran 2016/2017 melalui Penggunaan Alat Peraga KIT IPA. Penggunaan Alat Peraga KIT IPA mempunyai kecenderungan mengalami peningkatan keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang pada muara akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II.

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah sebagaimana dijelaskan di atas maka dibuatlah rumusan masalah dalam penelitian tindakan sekolah ini, yaitu: “Apakah melalui penggunaan alat peraga KIT IPA dapat meningkatkan hasil belajar IPA hubungan antara suhu, sifat hantaran, dan kegunaan benda bagi siswa kelas VI SD Negeri 1 Windujaya pada semester I Tahun Pelajaran 2016/ 2017?”

KAJIAN TEORI

1. Hasil Belajar IPA Hubungan antara Suhu, Sifat Hantaran dan Kegunaan Benda

a. Hakekat Belajar

Apakah belajar itu? Banyak pakar bidang pendidikan yang merumuskan teori tentang belajar. Dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti menyajikan teori tentang belajar dari beberapa tokoh pendidikan.

Belajar adalah proses perubahan tingkah laku, akibat interaksi individu dengan lingkungannya. (Sumiati dan Asra, 2011:38). Proses perubahan perilaku mencakup pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, sikap, kemampuan berpikir, penghargaan terhadap sesuatu, minat dan sebagainya.

Sedangkan belajar menurut Gagne dalam Najib Sulhan (2002:5) adalah sebuah proses perubahan tingkah laku yang meliputi perubahan kecenderungan manusia, seperti sikap, minat, atau nilai dan perubahan kemampuannya, yakni peningkatan kemampuan untuk melakukan berbagai kinerja. Dengan demikian, belajar pada dasarnya dapat dipandang sebagai suatu proses perubahan yang terjadi pada tingkah laku siswa sebagai subjek didik akibat adanya peningkatan pengetahuan, ketrampilan, nilai, sikap, minat, apresiasi, kemampuan berpikir logis dan kritis, kemampuan interaktif, dan kreativitas yang telah dicapai.

b. Hasil Belajar

Menurut Sumiati dan Asra (2011:38) bahwa perubahan perilaku adalah hasil belajar. Artinya, seseorang dikatakan telah belajar, jika ia dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan sebelumnya.

Kemudian, hasil belajar dapat disamakan pengertiannya dengan produk belajar, yaitu suatu pola perbuatan, nilai, makna, apresiasi, kecakapan, ketrampilan, yang berguna bagi masyarakat.(Tim Pengembang MKDK IKIP Semarang, 1990:172). Ada tiga ranah hasil belajar, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ranah kognitif adalah hasil belajar yang berupa pengetahuan-pengetahuan atau kemampuan-kemampuan baru yang bersifat keilmuan. Ranah afektif adalah hasil belajar yang berupa perubahan-perubahan perilaku sebagai akibat telah dilakukannya proses belajar. Sedangkan ranah psikomotorik adalah hasil belajar yang berupa ketrampilan-ketrampilan praktis oleh anggota badan, seperti tangan, kaki, alat indera dan sebagainya. Untuk matapelajaran IPA, hasil belajar yang diperoleh peserta didik lebih dominan pada ranah kognitif.

c. Hasil Belajar IPA

Yang dimaksud dengan hasil belajar IPA adalah hasil belajar yang dicapai peserta didik  dalam mata pelajaran IPA setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar mata pelajaran IPA dalam waktu kurun waktu tertentu dan program tertentu. Kurun waktu yang dipergunakan untuk penelitian tindakan kelas ini adalah dua minggu sesuai dengan jumlah siklus yang dilaksanakan, yaitu masing-masing siklus dilaksanakan selama satu minggu. Tingdakan-tindakan dalam siklus tersebut dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2016/2017. Sedangkan program yang dilaksanakan adalah pembelajaran tentang hubungan antara suhu,sifat hantaran dan kegunaan benda.Program pembelajaran tersebut meliputi konduktor panas,isolator panas dan proses perpindahan panas.Materi pelajaran dalam siklus I adalah tentang konduktor dan isolator panas. Sedangkan materi pelajaran siklus II adalah tentang proses perpindahan panas.

d. Hubungan Antara Suhu, Sifat Hantaran, dan Kegunaan Benda

Sesuai dengan silabus Kurikulum Sekolah Dasar Negeri 1 Windujaya mata pelajaran IPA Kelas VI semester I tahun pelajaran 2016/2017 disebutkan bahwa hubungan antara suhu,sifat hantaran dan kegunaan benda yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Konduktor dan isolator panas.

2. Proses perpindahan panas

e. Hasil Belajar IPA Saling  Hubungan antara Suhu,Sifat Hantaran dan Kegunaan Benda

Yang dimaksud hasil belajar IPA adalah hasil belajar yang dicapai peserta didik dalam mata pelajaran IPA setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam kurun waktu tertentu atau program tertentu. Hasil belajar tersebutberupa kemampuan-kemampuan baru yang meliputi pola perbuatan, nilai, makna, sikap, apresiasi, kecakapan, ketrampilan, yang berguna untuk memecahkan problematika dalam mata pelajaran IPA khususnya dan problematika sosial pada umumnya.

Sebagai bukti telah dikuasainya kemampuan-kemampuan baru oleh peserta didik dinyatakan dengan nilai yang berupa angka-angka. Makin tinggi nilai yang diperoleh peserta didik berarti makin tinggi pula tingkat kemampuan-kemampuan baru yang dikuasainya. Penilaian kelas dapat dilaksanakan melalui teknik tes (tertulis, lisan, dan perbuatan) dan non tes yang berupa pemberian tugas, tes perbuatan/ praktik dan kumpulan hasil kerja siswa (portopolio). (Depdiknas, 2002:5). Adapun jenis penilaian kelas meliputi ulangan harian, pemberian tugas, dan ulangan umum.

Dalam penelitian tindakan kelas ini hasil belajar IPA yang dimaksud adalah nilai mata pelajaran IPA hubungan antara suhu, sifat hantaran dan kegunaan benda yang diperoleh siswa kelas VI SD Negeri 1Windujaya Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas pada semester I tahun pelajaran 2016/2017 yang meliputi konduktor panas, isolator panas danposes perpindahan panas.(Tim KTSP SD Negeri 1 Windujaya, 2016/2017:4)

2. Alat Peraga KIT IPA

a. Alat Peraga

Alat peraga adalah alat pengajaran yang hanya untuk satu jam pelajaran saja. Apakah manfaat dari alat pengajaran/ alat peraga tersebut? Manfaat dari alat peraga tersebut adalah membantu cara guru memberikan pelajaran, agar murid dapat lebih jelas menerima keterangan-keterangan tersebut. Abu Ahmadi dalam Teguh Zaenudin (2009:12). Alat peraga tersebut juga disebut sebagai alat bantu mengajar, yaitu segala sesuatu yang digunakan oleh guru untuk memahamkan anak-anak mengenai pelajaran yang masih belum jalas, belum dimengerti, ataupun masih dirasa sulit.

b. KIT IPA

KIT IPA yang dimaksud dalam penelitian tindakan kelas ini adalah kotak yang berisi seperangkat peralatan yang digunakan sebagai alat peraga dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang mempunyai bentuk dan besaran sesuai dengan keperluan yang digunakan ketika menjelaskan materi pelajaran IPA hubungan antara suhu,sifat hantaran dan kegunaan benda.

c. Alat Peraga KIT IPA

Alat peraga KIT IPA adalah alat yang digunakan dalam pembelajaran hubungan antara suhu,sifat hantaran dan kegunaan benda, sebagai materi pelajaran dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi konduktor dan isolator panas, dan proses perpindahan panas. Dalam penyampaian materi pelajaran, peneliti menggunakan alat peraga KIT IPA untuk memperjelas materi pembelajaran tentang konduktor dan isolator panas,  proses perpindahan panas kemudian siswa memperagakannya.

KERANGKA BERPIKIR

Kegiatan penelitian secara ringkas dapat dilihat dalam gambar kerangka berpikir di halaman berikut ini :

METODOLOGI PENELITIAN

Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa kelas VI SD Negeri 1 Windujaya Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas pada semester I tahun pelajaran 2016/ 2017, berjumlah 16 siswa yang terdiri dari 7 siswa perempuan dan 9 siswa laki-laki.

Penelitian Tindakan Kelas ini hanya menggunakan sumber data primer yang berasal dari subjek penelitian. Data dari subjek penelitian tersebut adalah berupa nilai hasil belajar siswa. Ada tiga macam nilai yang diambil dari subjek penelitian, yaitu nilai kondisi awal, nilai siklus I, dan nilai akhir siklus II. Dari tiga macam nilai tersebut yang dijadikan sebagai dasar penentuan ada tidaknya peningkatan hasil belajar adalah nilai kondisi awal dan nilai akhir siklus. Karena dalam penelitian tindakan kelas ini terdapat dua siklus, maka terdapat dua nilai akhir siklus, yaitu nilai akhir siklus I dan nilai akhir siklus II. Nilai pertama diperoleh melalui tes di akhir siklus I, dan nilai kedua diperoleh melalui tes di akhir siklus II. Yang dijadikan sebagai dasar penentuan ada tidaknya peningkatan hasil belajar siswa nilai akhir siklus II (sebagai nilai kondisi akhir). Untuk kepentingan pengumpulan data dalam Penelitian Tindakan Kelas ini digunakan teknik tes. Sesuai dengan materi mata pelajaran yang diambil dalam penelitian tindakan kelas ini, yaitu mata pelajaran IPA kelas VI semester I dengan materi pelajaran hubungan antara suhu, sifat hantaran, dan kegunaan benda, maka teknik tes yang diambil untuk pengumpul data adalah tes tertulis.

Analisis data dalam peneliitian tindakan kelas ini adalah menggunakan analisis deskriptif komparatif, yaitu membandingkan secara tertulis nilai-nilai yang ada. Nilai-nilai yang diperbandingkan adalah nilai rata-rata kondisi awal, nilai rata-rata kondisi akhir siiklus I, dan nilai rata-rata kondisi akhir siklus II. Deskriptif komparatif tersebut meliputi : 1) Deskriptif komparatif kondisi awal dengan kondisi akhir siklus I. Nilai rata-rata pada kondisi awal dibandingkan dengan nilai rata-rata kondisi akhir siklus I. 2) Deskriptif komparatif kondisi akhir siklus I dengan kondisi akhir siklus II. Nilai rata-rata pada kondisi akhir siklus I dibandingkan dengan nilai rata-rata kondisi akhir siklus II. 3) Deskriptif komparatif kondisi awal dengan kondisi akhir siklus II. Nilai rata-rata pada kondisi awal dibandingkan dengan nilai rata-rata kondisi akhir siklus II.

Penelitian tindakan kelas dikatakan berhasil apabila nilai rata-rata subyek penelitian mengalami peningkatan. Nilai rata-rata pada kondisi awal mengalami peningkatan pada kondisi akhir siklus II. Atau dapat dikatakan bahwa penelitian tindakan kelas disebut berhasil apabila nilai rata-rata subyek penelitian pada kondisi akhir siklus II lebih tinggi daripada nilai rata-rata pada kondisi awal.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Deskripsi Kondisi Awal

Sebagaimana tertulis pada latar belakang masalah bahwa pada kondisi awal penelitian tindakan kelas ini, nilai hasil belajar mata pelajaran IPA hubungan antara suhu, sifat hantaran, dan kegunaan benda siswa kelas VI SD Negeri 1 Windujaya Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng  tahun pelajaran 2016/2017 rata-ratanya masih rendah. Rata-rata perolehan nilai masih belum memenuhi harapan. Dari 16 siswa kelas VI yang mengikuti ulangan harian IPA, diperoleh nilai rata-rata 59,38. Nilai tertinggi 80 dan nilai terendah 20.

Dikaitan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dari 16 siswa yang mengikuti ulangan harian mata pelajaran IPA pentingnya pelestarian jenis makhluk hidup untuk mencegah kepunahan, hanya 7 siswa (43,75%) yang mencapai ketuntasan. Sedangkan siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan minimal ada 9 siswa (56,25%). KKM mata pelajaran IPA kelas VIadalah 70.

2. Deskripsi Siklus I

Siklus I dilaksanakan pada minggu ketiga bulan September 2016. Guru peneliti mengambil data melalui serangkaian tindakan dari dua kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin tanggal 19 September 2016. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 21 September 2016.

Siklus I untuk menyampaikan materi konduktor dan isolator panas. Untuk menyampaikan materi pembelajaran, peneliti menggunakan alat peraga KIT IPA.Siswa dibagi tiga kelompok, duduk saling berhadapan. Dua kelompok beranggotakan masing-masing 5 Siswa. Sedangkan satu kelompok beranggotakan 6 siswa. Siklus I terdiri dari planning, acting, observing, dan reflecting.

Setelah peneliti melakukan tindakan di siklus I, peneliti mengakhirinya dengan mengadakan tes akhir siklus I. Subjek penelitian diberi tugas untuk mengerjakan tes akhir siklus I. Tes akhir Siklus I dikerjakan secara individual. Dari 16 siswa kelas VI SD Negeri 1 Windujaya Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng yang mengikuti tes akhir siklus I, diperoleh nilai rata-rata 69,37. Nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 30.

Dikaitkan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dari 16 siswa yang mengikuti tes akhir siklus I mata pelajaran IPAkonduktor dan isolator panas terdapat 10 siswa (62,5%) yang mencapai ketuntasan. Sedangkan siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan minimal ada 6 siswa (37,5%). KKM mata pelajaran IPA kelas VI adalahl 70.

 

Nilai rata-rata pada kondisi awal sebesar 59,38 meningkat menjadi 69,37 pada akhir siklus I (meningkat sebesar 9,99%). Nilai tertinggi pada kondisi awal sebesar 80 meningkat menjadi 100  pada akhir siklus I  (meningkat sebesar 25 %) . Nilai terendah pada kondisi awal sebesar 20 meningkat menjadi 30 pada akhir siklus I  (meningkat sebesar 50 %). Selengkapnya perhatikan tabel berikut:

3. Deskripsi Siklus II

Siklus II dilaksanakan pada minggu ke-4 September 2016. Guru peneliti mengambil data melalui serangkaian tindakan dari dua kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin  tanggal 26 September 2016. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 28 September 2016.

Siklus II untuk menyampaikan materi proses perpindahan panas. Untuk menyampaikan materi pembelajaran, peneliti menggunkan alat peraga KIT IPA secara individual.

Setelah peneliti melakukan tindakan di siklus II, peneliti mengakhirinya dengan mengadakan tes akhir siklus II. Subjek penelitian diberi tugas mengerjakan soal tes siklus II. Tes akhir Siklus II dikerjakan secara individual.  Dari 16 siswakelas VISD Negeri 1 Windujaya Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng yang mengikuti tes akhir siklus II, diperoleh nilai rata-rata 83,12. Nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 60.

a. Reflecting  Kondisi Akhir  Siklus I dengan Kondisi Akhir Siklus II

Nilai rata-rata pada kondisi akhir siklus I sebesar 69,37 meningkat menjadi 83,12 pada akhir siklus II (meningkat sebesar 12,70%). Nilai tertinggi pada kondisi akhir siklus I sebesar 100 dan pada akhir siklus II juga 100 ( meningkat sebesar 0%) . Nilai terendah pada kondisi akhir siklus I sebesar 30 meningkat menjadi 60 pada akhir siklus II  (meningkat sebesar 100%). Perhatikan table berikut :

b. Reflecting  Kondisi Awal dengan Kondisi Akhir Siklus II

Nilai rata-rata pada kondisi awal sebesar 59,38 meningkat menjadi 83,12pada akhir siklus II (meningkat sebesar 39,97%). Nilai tertinggi pada kondisi awal sebesar 80 meningkat menjadi 100 pada akhir siklus II  (meningkat sebesar 25 %) . Nilai terendah pada kondisi awal sebesar 20 meningkat menjadi 60 pada akhir siklus II  (meningkat sebesar 200%).

4. Pembahasan Antar Siklus

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh guru peneliti sejak dari kondisi awal, kondisi di akhir siklus I, sampai dengan kondisi di akhir siklus II, sesuai dengan data-data yang diperoleh ternyata terjadi dinamika perubahan hasil belajar. Pada saat kondisi awal, nilai rata-rata subjek penelitian hanya 59,38. Setelah peneliti melakukan tindakan di siklus I, nilai rata-rata subjek penelitian menjadi 69,37. Ketika dilakukan penilaian di akhir siklus II, ternyata nilai rata-rata subjek penelitian menjadi 83,12 Data hasil belajar subjek penelitian mulai dari kondisi awal, kondisi akhir siklus I sampai dengan kondisi akhir siklus  II  dapat disimak pada tabel berikut ini :

Dinamika perubahan hasil belajar dari kondisi awal, kondisi di akhir siklus I, sampai dengan kondisi di akhir siklus II (kondisi akhir) akan lebih jelas terlihat dalam diagram di bawah ini :

Kiranya perlu diketahui bahwa keberhasilan penelitian tindakan kelas adalah ditentukan oleh perbandingan nilai  rata-rata kondisi awal dengan kondisi rata-rata kondisi akhir (kondisi pada akhir siklus II). Penelitian tindakan kelas dikatakan berhasil apabila nilai rata-rata subyek peneitian mengalami peningkatan dari kondisi  awal ke kondisi akhir siklus II.

Sebagaimana tertulis di bagian terdahulu bahwa nilai rata-rata subjek penelitian pada saat kondisi awal adalah 59,38 sedangkan nilai rata-rata subjek penelitian pada kondisi akhir (kondisi pada akhir siklus II) adalah 83,12 Dengan demikian dari kondisi awal ke kondisi akhir, nilai rata-rata hasil belajar subjek penelitian mengalami peningkatan sebesar 23,74 poin (39,97 %). Perubahan nilai rata-rata tersebut dapat lebih terlihat dengan jelas pada diagram berikut ini :

PENUTUP

Data-data empirik yang dikumpulkan selama proses penelitian tindakan kelas sebgaimana tertulis dalam bab IV menunjukkan bahwa tindakan kelas yang dilakukan oleh guru peneliti dalam siklus I dengan menggunakan alat peraga KIT IPA secara kelompok telah berhasil meningkatkan hasil belajar subjek penelitian. Nilai rata-rata pada kondisi awal yang hanya 59,38 dapat ditingkatkan menjadi 69,37 di akhir siklus I.

Pada siklus II, guru peneliti melakukan perubahan teknik penggunaan alat peraga KIT IPA. Alat peraga KIT IPA diubah penggunaannya menjadi secara individual pada siklus II. Dengan perubahan teknik penggunaan alat peraga KIT IPA tersebut menunjukkan bahwa nilai rata-rata di akhir siklus II mengalami peningkatan manjadi 83,12 Kalau kondisi awal hanya 59,38 sedangkan nilai rata-rata pada kondisi akhir siklus II menembus angka 83,12 berarti telah terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 23,74 poin atau meningkat sebesar 39,97%.

Berdasarkan data empirik yang dikumpulkan dalam penelitian tindakan kelas sebagaimana tertulis di atas menunjukkan bahwa tindakan kelas yang dilakukan oleh guru peneliti telah berhasil meningkatkan hasil belajar IPA hubungan antar suhu, sifat hantaran dan kegunaan benda bagi siswa kelas VI SD Negeri 1 Windujaya pada semester I tahun pelajaran 2016/2017.

Kesimpulan berdasarkan data empirik tersebut sesuai dengan pengajuan hipotesis berdasarkan kajian teoritis sebagaimana tercantum dalam bab II yang berbunyi : “Melalui penggunaan alat peraga KIT IPA dapat meningkatkan hasil belajar IPA hubungan antara sifat hantaran dan kegunaan benda bagi siswa kelas VI SD Negeri 1 Windujaya pada semester I Tahun Pelajaran 2016/2017”.

DAFTAR PUSTAKA

Najib Sulhan. 2006. Pembangunan Karakter pada Anak. Surabaya Intelektual club: Surabaya.

 

Sumiati dan Asra.2011.Metode Pembelajaran.CV Wacana Prima: Bandung.

 

Teguh Zaenudin. 2009. Laporan Hasil Penelitian Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Operasi Bilangan Bulat melalui Penggunaan Alat Peraga Manik-manik Bagi Siswa Kelas IV SD Negeri Kecil Kalipagu Pada Semester II Tahun Pelajaran 2008/ 2009.

 

Tim Pengembang MKDK IKIP Semarang. 1990. Psikologi Belajar. IKIP Semarang Press: Semarang.

 

…. 2002. Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kelas di SD, SDLB, SLB, tingkat Sekolah Dasar dan MI. Ditjen Dikdasmen. Depdiknas: Jakarta




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *