Meningkatkan Hasil Belajar Ipa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI WONOREJO  KECAMATAN SELOMERTO KABUPATEN WONOSOBO

Oleh : Eko Sri Murdaningsih, S.Pd

ABSTRAK

Latar belakang masalah dalam penelitian ini adalah nilai rata-rata kelas untuk mata pelajaran IPA dari 30 siswa hanya mencapai 51,33. Hanya ada 9 siswa ( 30%) yang mencapai batas KKM yang telah ditetapkan yaitu  ≥ 70 dan 21 siswa (70%) belum mencapai batas KKM. Nilai tertinggi yang dicapai siswa 80 dan nilai terendah yang dicapai 35. Masalah yang dirumuskan sebagai berikut: “Apakah dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas IV SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo Semester I Tahun 2016/2017”.  Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Model PTK yang digunakan adalah model spiral dari Kemmis, S. dan Mc Taggart, R dengan menggunakan 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 3 tahap yakni 1) perencanaan tindakan, 2) pelaksanaan tindakan dan pengamatan, dan 3) refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SD Negeri Wonorejo, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo sebanyak 30 siswa. Teknik pengumpulan data dengan teknik tes dan teknik observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan hasil belajar IPA setelah menggunakan model pembelajaran jigsaw. Hal ini tampak pada ketuntasan belajar yaitu 30% pada prasiklus, naik pada siklus I menjadi 60% serta 90% pada siklus II, dan skor rata-rata yakni pada kondisi pra siklus sebesar 51,33, siklus I naik menjadi 65,67 dan pada siklus II naik lagi menjadi 76,17.

Kata kunci: Hasil belajar IPA, Model Pembelajaran Kooperatif, Jigsaw

PENDAHULUAN

Model pembelajaraan IPA yang dikembangkan berdasarkan pandangan konstruktivisme memperhatikan dan mempertimbangkan pengetahuan awal siswa yang mungkin diperoleh dari luar sekolah. Hasil observasi yang telah dilakukan, menunjukkan dari 30 siswa yang terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan mendapat nilai 70 ke atas hanya 9 anak atau sekitar 30% dan 21 anak atau sekitar 70% mendapat nilai kurang dari nilai KKM yang sudah ditetapkan yaitu 70. Rata-rata nilai seluruh siswa hanya mencapai 51,33. Nilai tertinggi yang dicapai siswa 80 dan nilai terendah yang dicapai 35. Penguasaan materi dinyatakan tuntas apabila rata-rata nilai IPA siswa mencapai 75%. Dari perolehan nilai tersebut menunjukkan bahwa penguasaan materi belum tuntas. Rendahnya hasil belajar di SD Negeri Wonorejo Kec. Selomerto Kab. Wonosobo, disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: (1) pandangan siswa yang masih holistik atau global pada obyek tertentu; (2) minat siswa masih sangat rendah; (3) kurangnya media yang tepat dan membuat siswa tertarik pada pembelajaran IPA; (4) guru yang tidak menerapkan model pembelajaran yang inovatif, konstruktif, dan terkesan statis; (5) keadaan kelas yang sering kacau karena jumlahnya banyak didominasi siswa laki-laki. Kondisi ini merupakan masalah yang perlu dicarikan pemecahannya. Salah satu langkah awal yang perlu dipersiapkan dalam usaha mensukseskan pembelajaran adalah dengan menentukan metode pembelajaran yang tepat yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa.

Model Pembelajaran Jigsaw adalah model pembelajaran dimana siswa diajak untuk dapat berfikir kritis dan mencari solusi untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi. Untuk itu, guru hendaknya berupaya melakukan perubahan pembelajaran dengan mengaktifkan siswa agar hasil belajar siswa menjadi meningkat. Oleh karena itu, penulis terdorong untuk melakukan penelitian yang berjudul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA Melalui Model Pembelajaran Jigsaw Pada Siswa Kelas IV SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017 “.

Permasalahan yang dapat diindentifikasi terkait dengan pembelajaran IPA bagi siswa kelas IV SD Negeri Wonorejo adalah :

1. 70 % dari 30 siswa kelas IV SD Negeri Wonorejo belum dapat mencapai KKM (≥ 70) yang ditetapkan.

2. Aktivitas siswa dalam pembelajaran hanya diam saja, dan tidak dilibatkan dalam pembelajaran, bahkan siswa cenderung mengantuk serta siswa terlihat pasif.

3. Dalam pembelajaran IPA, siswa belum pernah diajak untuk dapat berfikir kritis dan mencari solusi untk dapat pemecahkan masalah yang dihadapi.

4. Dalam pembelajaran di kelas, guru hanya mengacu kepada banyaknya materi yang diberikan siswa, sehingga guru menyampaikan materi dengan metode ceramah terus. Keadaan inilah yang menjadikan siswa jenuh, tidak terdorong untuk terlibat berpikir. Siswa menjadi tidak kreatif apabila menghadapi permasalahan yang ada. Siswa menjadi diam saja, ketika harus menyampaikan pendapat. Tragisnya kondisi ini tidak pernah terjadi, karena memang guru mendominasi situasi pembelajaran. Pembelajaran lebih berpusat pada guru.

5. Guru tidak pernah membuat variasi dalam pembelajaran, pembelajaran yang terjadi monoton dengan ceramah saja.

Adapun tujuan yang dirumuskan dalam penelitian adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPA kompetensi dasar Mendeskripsikan hubungan antara struktur kerangka tubuh manusia dengan fungsinya, dapat dilakukan melalui model pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw pada siswa kelas IV SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017.

KAJIAN PUSTAKA

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) didefinisikan sebagai kumpulan pengetahuan yang tersusun secara terbimbing. Hal ini sejalan dengan kurikulum KTSP (Depdiknas RI No. 22, 2006) bahwa “IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan”. Selain itu IPA juga merupakan ilmu yang bersifat empirik dan membahas tentang fakta serta gejala alam.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 1997). Model mengajar jigsaw dikembangkan oleh Aronson et.al sebagai metode kooperatif learning. Model ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Dalam model ini siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.

Model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang dengan memperhatikan keheterogenan, bekerjasama positif dan setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari masalah tertentu dari materi yang diberikan dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan (Lie, A., 1994).

Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini memandang bahwa keberhasilan dalam belajar bukan semata-mata harus diperoleh oleh guru, melainkan bisa juga di pihak lain yang terlibat dalam pembelajaran itu, yaitu teman. Jadi keberhasilan belajar dalam pendekatan ini bukan hanya ditentukan oleh kemampuan individu secara utuh, melainkan perolehan itu akan baik bila dilakukan secara bersama-sama dalam kelompok kecil yang terstruktur dengan baik. Menurut Arends (1997) keunggulan kooperatif tipe jigsaw adalah:

1. Meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain.

2. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain.

3. Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.

Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004:22). Hasil belajar digunakan oleh guru untuk menjadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Dalam dunia pendidikan instrumen yang sering digunakan untuk mengukur kemampuan siswa seperti tes, lembar observasi, panduan wawancara, skala sikap dan angket.

Kerangka Berpikir

Hipotesis Tindakan

Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw diduga dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa Kelas IV SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini termasuk dalam jenis Penelitian Tindakan Kelas. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo. Sekolah ini terletak di Jl. Banyumas Km. 03, tepatnya di kelurahan Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo. Subjek dari penelitian ini adalah siswa di kelas IV SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo yang terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan sehingga jumlah siswanya adalah 30 siswa. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan pada bulan September – November 2016 di Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Jigsaw. Sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar.

Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan dalam dua siklus yang dipergunakan adalah model spiral, yang dikemukakan oleh C.Kemmis dan Mc.Taggart, R melalui siklus yang terdiri dari 3 tahap yakni rencana tindakan, tindakan dan observasi, dan refleksi. Setiap tahap terdir dari beberapa langkah yang nantinya akan diterapkan pada RPP pula. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik tes dan non tes. Tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal IPA. Dalam observasi penelitian ini digunakan untuk mengamati aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw. Dalam penelitian ini peneliti menentukan aspek-aspek yang di analisa berupa jumlah jawaban yang benar, jumlah jawaban yang salah, nilai rata-rata kelas, ketuntasan belajar secara individu dan ketuntasan belajar secara klasikal. Analisis tingkat keberhasilan atau persentase ketuntasan belajar siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung pada setiap siklusnya, dilakukan dengan cara memberikan evaluasi atau tes akhir siklus berupa soal tes tertulis, dihitung menggunakan rumus.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan data berupa nilai tes yang dianalisis dengan analisis deskriptif kuantitatif yaitu berbentuk angka-angka yang diperoleh dari tes tertulis dan deskriptif kualitatif yaitu berupa kata-kata atau penjelasan yang diperoleh dari lembar observasi. Kemudian hasilnya dianalisis dengan deskriptif komparatif, yaitu membandingkan nilai siklus I dan siklus II. Kemudian membuat kesimpulan berdasarkan hasil deskripsi data.

Indikator keberhasilan siklus dalam penelitian ini adalah 75% siswa telah memenuhi nilai KKM yang telah ditentukan sekolah yaitu ≥ 70. Bila siswa belum memenuhi indikator yang ditentukan maka pembelajaran pada siklus tersebut harus diulang.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kegiatan belajar mengajar sebelum penelitian ini dilakukan, guru dalam mengajar masih menggunakan metode ceramah. Karena metode yang digunakan masih belum tepat, akibatnya siswa menjadi jenuh, tidak tertarik terhadap pelajaran, ramai sendiri di dalam kelas sehingga mengakibatkan siswa tidak dapat menguasai pelajaran yang telah disampaikan guru. Kondisi pembelajaran seperti itu berdampak pada hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Wonorejo pada mata pelajaran IPA, sebelum siklus I (pra Siklus) banyak siswa yang belum mencapai KKM yaitu ≥ 70. Dari 30 siswa yang ada, hanya 9 siswa (30%) yang mencapai KKM dan 21 siswa lainnya (70%) belum mencapai KKM. Nilai tertinggi yang dicapai adalah 80 dan yang terendah adalah 35. Sedangkan nilai rata-rata yang didapat siswa 51,33.

Deskripsi Siklus I

Perencanaan dilakukan dengan menyiapkan RPP, media, KTSP, maupun lembar pengamatan. Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan tindakan dan observasi. Siklus I dilaksanakan 2 kali pertemuan pada bulan September. Pengamatan hasil belajar pada siklus I terdapat kenaikan presentase ketuntasan. Dari 30 siswa terdapat 18 siswa ( 60% ) yang mencapai KKM, sedangkan 12 siswa ( 40%) belum mencapai KKM. Adapun hasil nilai siklus I dapat dijelaskan bahwa perolehan nilai tertinggi adalah 85 dan terendah adalah 50 dengan nilai rata-rata kelas sebesar 65,67.

Tabel 1 Ketuntasan Belajar Siklus 1

Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar antara pra siklus dengan siklus I. Meskipun sudah terjadi peningkatan, namun hasil tersebut belum optimal karena jumlah siswa belum mencapai 75% dari jumlah siswa keseluruhan. Sedangkan kegiatan pembelajaran ini dapat terlihat dari hasil observasi bahwa masih terdapat beberapa anak yang kurang aktif dan kurang berkonsentrasi dalam melakukan pembelajaran. Misalnya dalam hal bertanya anak masih kurang aktif, dan hanya ada beberapa siswa yang menanggapi proses pembelajaran. Kinerja guru dalam mengajar juga belum semuanya terlaksana karena waktu terbuang sia-sia karena guru banyak bercerita.

Deskripsi Siklus II

Perencanaan pada siklus II dilakukan dengan menyiapkan RPP, media, KTSP, maupun lembar pengamatan. Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan tindakan dan observasi. Siklus II dilaksanakan 2 kali pertemuan pembelajaran pada bulan Oktober. Peningkatan hasil belajar siswa pada siklus II terdapat kenaikan yang cukup baik bila dibandingkan dengan hasil belajar pada siklus I, dan dapat dilihat dari table ketuntasan belajar seperti dalam tabet 4.8 di bawah ini

Tabel 2. Ketuntasan belajar siklus II

Dari 30 siswa terdapat 27 siswa ( 90%) yang mencapai KKM, sedangkan 3 siswa (10%  )belum mencapai KKM. Adapun hasil nilai siklus I dapat dijelaskan bahwa perolehan nilai tertinggi adalah 100 dan terendah adalah 55 dengan nilai rata-rata kelas sebesar 76,17.

Berdasarkan hasil tes pra siklus sampai siklus II menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar. Dari 30 siswa pada pra siklus yang mencapai KKM sebanyak 9 siswa (30%), sedangkan pada siklus I yang mencapai KKM sebanyak 18 siswa (60%). Serta pada siklus II terjadi kenaikan yang cukup baik yaitu sebanyak 27 siswa dengan Persentase ketuntasan 90% dan nilai rata-rata 76,17, ini adalah perolehan yang sangat baik karena sudah melampaui ketuntasan yang sudah ditetapkan yaitu 75 %.

Tabel 3. Perbandingan ketuntasan belajar Prasiklus, Siklus I dan Siklus II

Sedangkan perbandingan nilai rata-rata antar siklus dapat dijelaskan dalam tabel di bawah ini:

Tabel 4 Perbandingan Nilai Antar Siklus

Dari data yang diperoleh diatas terlihat bahwa kinerja guru sangat baik. Guru disini juga telah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan silabus dan RPP yang telah direncanakan terlebih dahulu. Jadi, apabila guru telah mengajar sesuai yang telah direncanakan dengan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan, maka siswa akan beraktifitas sesuai dengan yang diharapkan sehingga siswa dapat memahami materi dan hasil belajar juga meningkat. Mengingat bahwa ketuntasan belajar siswa telah melampaui batas indikator kinerja yang ditetapkan yaitu ketuntasan belajar siswa minimal 75%, maka penelitianpun dihentikan sampai di sini.

PENUTUP

Simpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh peneliti, maka diapat ditarik simpulan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terbukti dapat meningkatkan hasil belajar IPA bagi siswa kelas IV di SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo demester I tahun pelajaran 2016/2017. Hal ini nampak pada ketuntasan belajar yaitu 30% pada prasiklus, naik pada siklus I menjadi 60% serta 90% pada siklus II, dan skor rata-rata yakni pada kondisi pra siklus sebesar 51,33, siklus I naik menjadi 65,67 dan pada siklus II naik lagi menjadi 76,17

Saran

1. Bagi Kepala Sekolah

Hendaknya memfasilitasi dan mendorong para guru agar lebih meningkatkan potensi dan kreativitas dalam mengajar sehingga siswa lebih berhasil mengikuti kegiatan pembelajran dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

2. Bagi guru

a. Dalam pembelajaran IPA hendaknya menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe jigsaw karena berdasarkan penelitian telah terbukti bahwa model pembelajaran ini lebih dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

b. Hendaknya menumbuhkan serta meningkatkan hasil belajar siswa yang akan membawa dampak positif prestasi siswa sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai.

c. Lebih kreatif dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran sehingga siswa lebih aktif dan berhasil dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.

3. Bagi para peneliti

Diharapkan dapat melakukan penelitian lanjutan terutama pada dunia pendidikan sehingga dapat memajukanbangsa dan negara ke arah yang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Arend. 1997. Pembelajaran Kooperatif Jigsaw. Diakses tanggal 7 September 2016 http://ipotes.wordpress.com/2008/05/15/pembelajaran-kooperatif-tipe-jigsaw/.

Badan Standar Nasional. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi (Model-model Pengajaran Dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam). Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.

Lie, A. 1994. Cooperative Learning. Jakarta : PT Grasindo

Sudjana, Nana. 1987. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *