Meningkatkan Hasil Belajar Ipa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 2 ADIWARNO  KECAMATAN SELOMERTO KABUPATEN WONOSOBO SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2016/2017

Oleh : Yuli Harsoyo, S.Pd

ABSTRAK

Latar belakang dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 2 Adiwarno pada mata pelajaran IPA masih rendah. Dari 14 siswa hanya 5 siswa atau 35% yang mendapat nilai mencapai KKM ≥70, sedangkan 9 siswa lainnya atau 65% belum mencapai KKM ≥70. Salah satu upaya yang dilakukan guru untuk menjawab permasalahan di atas adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share dalam pembelajaran IPA. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPA melalui model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share pada siswa kelas V SD Negeri 2 Adiwarno Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri 2 Adiwarno yang berjumlah 14 siswa. Rencana tindakan yang penulis rencanakan untuk mengatasi masalah ketidak tuntasan nilai siswa pada mata pelajaran IPA adalah dengan melaksanakan perbaikan pembelajaran dengan dua siklus yaitu siklus I dan siklus II.          Hasil analisis data penelitian menunjukkanbahwa ada peningkatan hasil belajar IPA dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipa TPS. Hal ini terlihat dari: 1) Ketuntasan belajar; pra siklus: 35%, siklus I; 71%, siklus II: 100%. 2) Rata-rata kelas; pra siklus: 54,28, siklus I: 68,57, siklus II: 84,28. 3) Nilai terendah; pra siklus: 30, siklus I: 40, siklus II: 70. 4) Nilai tertinggi; pra siklus: 70, siklus I: 90, siklus II: 100. Dengan demikan dapat disimpulkan bahwa penerapan model kooperatif tipe Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas V SD Negeri 2 Adiwarno kecamatan Selomerto kabupaten Wonosobo semester I tahun pelajaran 2016/2017.

Kata Kunci : Hasil belajar IPA, Model pembelajaran kooperatif, Think Pair Share

PENDAHULUAN

Berdasarkan observasi awal di SD Negeri 2 Adiwarno menunjukkan bahwa nilai ketuntasan belajar siswa kelas V pada mata pelajaran IPA menunjukkan hasil yang kurang optimal. Dari 14 siswa yang mencapai nilai ketuntasan minimal (KKM≥70) baru 5 siswa atau sebesar 35% sedangkan siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan berjumlah 9 siswa atau sebesar 65%. Setelah peneliti teliti lebih lanjut, belum berhasilnya semua siswa mencapai ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran IPA, karena selama pembelajaran berlangsung siswa kurang memperhatikan materi yang disampaikan oleh guru ternyata dalam kegiatan pembelajaran guru masih menggunakan metode pembelajaran yang tradisional. Dalam menerangkan pelajaran guru lebih banyak menggunakan metode ceramah dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, catat dan hafal sehingga kegiatan pembelajaran menjadi monoton, kurang menarik, tampak membosankan, menjenuhkan, dan kurang dapat membuat siswa bersemangat dalam belajar. Salah satu model yang dapat mengarahkan kepada siswa untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung adalah model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share).

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka identifikasi masalahnya adalah: nilai ketuntasan belajar IPA kelas V masih rendah yaitu baru mencapai 35%. Hal ini disebabkan pembelajarannya masih berpusat pada guru. Berdasarkan identifikasi masalah di atas, penulis merumuskan masalah penelitian, yaitu: “Apakah penerapan model kooperatif tipe Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas V SD Negeri 2 Adiwarno Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017?”. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPA melalui penerapan model kooperatif  tipe Think Pair Share pada siswa kelas V SD Negeri 2 Adiwarno Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017.

KAJIAN PUSTAKA

Hasil Belajar

Nana Sudjana (1995:30) mengemukakan bahwa ”prestasi belajar merupakan bentuk-bentuk kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar”.  Senada dengan hal tersebut, I Wayan Nurkancana (1990:27) dalam bukunya Evaluasi Hasil Belajar menjelaskan bahwa hasil belajar adalah ”kecakapan baru yang diperoleh seorang individu yang mempengaruhi tingkah lakunya”. Berdasarkan dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil usaha belajar yang dicapai seorang siswa berupa suatu kecakapan dari kegiatan belajar bidang akademik di sekolah yang berupa ranah pengetahuan, nilai dan sikap serta keterampilan yang diperoleh siswa dari mengerjakan soal tes formatif yang ditunjukkan dengan nilai dan setiap akhir semester dilaporkan dengan rapor.

Menurut Gagne (dalam Suprijono, 2009:5-6) menyatakan bahwa bentuk hasil belajar terdiri dari 5 kategori, yaitu: ”informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap dan keterampilan motoris”. Muhibbin Syah (2000:132), secara global juga mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa terdiri dari 3 macam, yaitu: faktor internal, yakni kondisi jasmani dan rohani siswa, faktor eksternal, yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa dan faktor pendekatan belajar, yakni stretegi dan metode yang digunakan siswa untuk belajar.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think Pair Share)

Slavin (2008:4) mendefinisikan bahwa pembelajaran kooperatif adalah strategi mengajar di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran. Think Pair Share (TPS) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana yang memiliki prosedur secara eksplisit untuk memberi peserta didik waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain.

Ciri yang dimiliki dari model Think Pair Share ini adalah adanya aktivitas siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya. Keunggulan yang dimiliki dari model Think Pair Share ini adalah dapat menumbuhkan kerja sama, kelas menjadi lebih hidup, dapat mengoptimalisasi partisipasi siswa dalam pembelajaran, dan dapat meningkatkan daya pikir siswa (Isjoni, 2009: 112). Adapun sisi kelemahannya dalam penerapan metode Think Pair Share, antara lain: alokasi waktu sering sulit dikendalikan, sehingga pokok bahasan tidak tuntas, karena jika penguasaan materi belum cukup akan terjadi perdebatan panjang.

Langkah-langkah dalam penerapan model kooperatif Think Pair Share (TPS) dalam pembelajaran adalah sebagai berikut; 1) Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai; 2) Peserta didik diminta untuk berfikir tentang materi atau permasalahan yang disampaikan guru; 3) Peserta didik diminta untuk berpasang-pasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengemukakan hasil diskusinya; 4) Guru memimpin pleno kecil dan masing-masing kelompok mengemukakan hasil diskusinya; 5) Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan oleh siswa; 6) Guru memberikan kesimpulan. 7) Penutup (Frank Lyman dalam Depdiknas, 2008).

Adapun kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan guru dalam menerapkan model Think Pair Share dalam pembelajaran IPA di SD adalah sebagai berikut; Tahap 1: Thingking (berpikir), tahap 2: Pairing (berpasangan), tahap 3: Sharing (berbagi).

Kerangka Berfikir

Hasil belajar yang dicapai seorang siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor utama yang mempengaruhi minat belajar siswa dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari individu sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar individu/lingkungan. Salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar siswa penerapan model pembelajaran. Penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share akan dapat menumbuhkan kerja sama, kelas menjadi lebih hidup, dapat mengoptimalisasi partisipasi siswa dalam pembelajaran, dan dapat meningkatkan daya pikir siswa. Tumbuhnya akivitas dan kerjasama pada diri siswa akan mampu meningkatkan perhatian dan minat belajar siswa. Siswa yang memiliki perhatian dan minat akan memudahkan siswa untuk mencerna, mengingat dan menguasai materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Kemampuan mencerna, mengingat dan menguasai materi pelajaran merupakan salah satu kemampuan kognitif yang merupakan indikator dari prestasi belajar siswa. Dengan demikian, penerapan model kooperatif Think Pair Share efektif dalam meningkatkan hasil belajar yang dicapai oleh siswa.

Hipotesis Tindakan

“Penerapan model kooperatif tipe Think Pair Share  diduga dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas V SD Negeri 2 Adiwarno kecamatan Selomerto kabupaten Wonosobo semester I tahun pelajaran 2016/2017”.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas V semester I tahun pelajaran 2016/2017 di SD Negeri 2 Adiwarno Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo. Subyek dari penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri 2 Adiwarno dengan jumlah siswa 14 siswa, yang terdiri dari 6 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Adapun variabel bebas (X) adalah penerapan penerapan model kooperatif tipe Think Pair Share. Sedangkan variabel terikat (Y) adalah meningkatkan hasil belajar IPA.

Rencana tindakan yang penulis rencanakan untuk mengatasi masalah ketidaktuntasan nilai siswa pada mata pelajaran IPA Kelas V Semester I adalah dengan melaksanakan perbaikan pembelajaran dengan melaksanakan dua siklus, yaitu: Siklus I, dan Siklus II. Adapun model penelitian tindakan kelas ini dirancang menurut Kurt Lewin (dalam Zainal Aqib, 2006:21) yang mencakup empat kegiatan utama yang ada pada setiap siklus adalah: (1) menyusun rencana tindakan (planning), (2) pelaksanaan tindakan (acting), (3) Pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).

Instrumen pengumpulan data yang penulis gunakan mengacu dan ditujukan untuk mengumpulkan data yang meliputi 3 hal, yaitu: kemampuan guru dalam membelajarkan dengan metode Think Pair Share, perilaku/aktivitas peserta didik, dan hasil belajar peserta didik. Adapun teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan terdiri dari 2 macam, yaitu teknik tes dan teknik nontes. Dalam penelitian ini, peneliti menentukan indikator hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA yang tuntas diharapkan dapat mencapai 85%  KKM ≥ 70.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal (Pra Siklus)

Sebelum penelitian dilakukan, dalam kegiatan pembelajaran IPA di Kelas V guru masih menggunakan metode pembelajaran tradisional. Dalam menerangkan pelajaran guru lebih banyak menggunakan metode ceramah dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, catat dan hafal sehingga kegiatan pembelajaran menjadi monoton, kurang menarik, tampak membosankan, serta menjenuhkan siswa. Hal ini menjadikan siswa kurang bersemangat dalam belajar dan siswa kurang memperhatikan materi yang disampaikan oleh guru. Agar diperoleh gambaran yang lebih jelas tentang kondisi awal (pra siklus) mengenai hasil belajar IPA kelas V, peneliti mengadakan tes awal berupa tes tertulis. Adapun hasil tes awal tersebut adalah sebagai berikut:

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa hanya 5 siswa atau 35% yang masuk dalam kategori tuntas atau mendapat nilai di atas KKM ≥ 70. Sedangkan 9 siswa atau 65% belum tuntas. Nilai tertinggi yang dicapai hanya 70, nilai terendah 30 dan rata-rata 54,28. Berdasarkan dari data-data di atas, terlihat dengan jelas bahwa nilai hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA pada pra siklus masih rendah.

Deskripsi Pelaksanaan Siklus I

Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti membuat suatu rencana tindakan penelitian untuk siklus I dengan menyusun tiga kegiatan, yaitu; menyusun RPP, menyusun lembar pengamatan dan rancangan dokumentasi terhadap pelaksanaan pembelajaran, membentuk dan mempersiapkan tim.

Tindakan pembelajaran siklus I dilaksanakan 6 jam pelajaran (6 x 35 menit). Dalam pelaksanaan tindakan, guru menerapkan apa yang sudah di rencanakan sebelumnya dalam rencana tindakan. Setelah tindakan pembelajaran pada siklus I dilakukan, diperoleh hasil tindakan yang meliputi hasil pengamatan dan hasil tes. berdasarkan dari nilai hasil observasi aktivitas guru dalam pembelajaran termasuk dalam kategori baik. Sedangkan hasil pengamatan aktivitas siswa peneliti sudah bisa meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran melalui penerapan model kooperatif tipe TPS (Think Pair Share). Adapun hasil tes yang diperoleh siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:

Berdasarkan tabel 2, dapat dilihat bahwa 10 siswa atau 71% sudah masuk dalam kategori tuntas atau mendapat nilai di atas KKM ≥ 70. Sedangkan 4 siswa atau 29% belum tuntas. Nilai tertinggi yang dicapai hanya 90, nilai terendah 40 dan rata-rata 68,57. Walaupun sudah mengalami peningkatan jika dibanding dengan pra siklus, hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA pada siklus I ini belum mencapai indikator kinerja yang peneliti tetapkan.

Dilihat dari segi aktivitas guru maupun siswa, sudah masuk dalam kategori baik. Akan tetapi pembelajaran masih belum sempurna, masih ada kekurangan. Masih ada siswa yang belum siap dan kurang semangat dalam pembelajaran. Selain itu, nilai hasil belajar siswa belum mencapai indikator kinerja yang peneliti tetapkan yaitu ketuntasan belajar IPA juga baru mencapai 71% atau belum mencapai indikator kinerja 85%.

Deskripsi Pelaksanaan Siklus II

Berdasarkan hasil refleksi dan evaluasi pelaksanaan tindakan siklus I, diketahui bahwa hasil belajar siswa masih rendah belum mencapai indikator yang peneliti tetapkan dan pelaksanaan pembelajaran belum sepenuhnya baik. Untuk itu peneliti menyusun kembali rencana tindakan siklus II yang tertuang dalam RPP Siklus II, namun di dalamnya terdapat perbaikan berupa penambahan media gambar.

Tindakan pembelajaran siklus II dilaksanakan dengan alokasi waktu 3 kali pertemuan (6 x 35 menit). Dalam pelaksanaan tindakan, peneliti menerapkan apa yang sudah direncanakan sebelumnya dalam perancanaan tindakan. Setelah tindakan pembelajaran pada siklus II dilakukan, diperoleh hasil pengamatan tentang aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran dan tes tentang hasil belajar siswa.

Dalam siklus II ini peneliti sudah bisa meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran melalui penerapan model kooperatif tipe TPS (Think Pair Share). Siswa yang tidak aktif, tidak inisiatif, tidak konsentrasi, dan tidak kerjasama sudah tidak ada. Adapun tes hasil belajar IPA siswa pada siklus II seperti pada tabel berikut:

Berdasarkan tabel 3, dapat dilihat bahwa seluruh siswa sejumlah 14 siswa atau 100% sudah masuk dalam kategori tuntas atau mendapat nilai di atas KKM ≥ 70. Nilai terendah yang dicapai 70, nilai tertinggi 100 dan rata-rata 84,28. Berdasarkan dari data-data di atas, terlihat dengan jelas bahwa nilai hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA pada siklus II sudah mengalami peningkatan bila dibandingkan dari siklus I.

Pembelajaran pada siklus II melalui penerapan metode TPS adalah dapat meningkatkan aktivitas guru dalam mengajar dan aktivitas guru dalam belajar. Penerapan model kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) akan mampu menjadikan kegiatan pembelajaran lebih menyenangkan, siswa lebih aktif dan bekerjasama dengan temannya. Adanya peningkatan aktivitas siswa tersebut akan dapat menjadikan hasil belajar siswa akan lebih meningkat. Sedangkan kelemahan yang ditemukan dalam kegiatan pembelajaran siklus II adalah bahwa pembelajaran melalui penerapan model kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) akan membawa hasil yang maksimal jika skenario pembelajaran yang telah disusun oleh guru dilaksanakan dengan sepenuhnya oleh siswa dan guru memanfaatkan media pembelajaran, terutama media audio visual.

Dengan memperhatikan indikator kinerja yang telah ditetapkan, peneliti menilai bahwa penelitian tindakan yang telah dilaksanakan sampai siklus II ini sudah berhasil. Indikator kinerja yang telah peneliti tetapkan, yaitu minimal 85% siswa mencapai nilai ketuntasan minimal IPA sebesar 70 sudah tercapai. Melihat data tersebut, maka peneliti sudah tidak melaksanakan tindakan pada siklus berikutnya.

Pembahasan Seluruh Siklus

Setelah peneliti melaksanakan 2 (dua) kali siklus pembelajaran maka terkumpul data-data penelitian. Penilaian terhadap variabel terpengaruh (Y) yaitu tentang hasil belajar IPA siswa dari pra siklus sampai siklus II berakhir juga menunjukkan adanya peningkatan ketuntasan belajar siswa. Sebelum adanya tindakan (pra siklus) hasil belajar siswa baru 35% siswa yang mencapai nilai ketuntasan. Hal ini berarti masih 65% siswa yang belum mencapai nilai Ketuntasan Minimal (KKM). Kemudian pada siklus I, hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA meningkat menjadi 71%. Hal ini berarti ada 29% siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan minimal.

Pada siklus II, hasil belajar siswa meningkat menjadi 100%. Hal ini berarti bahwa hasil belajar siswa pada siklus II ini sudah mencapai indikator kinerja yang telah peneliti tetapkan yaitu 85%. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada tabel dan gambar berikut:

Diagram 1. Perbandingan Hasil Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II

Berdasarkan dari uraian di atas, maka dapat peneliti kemukakan bahwa penerapan metode Think Pair Share (TPS) mampu meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Siswa menjadi lebih aktif, inisiatif, konsentrasi dan kerjasama dengan teman yang lain. Meningkatnya aktivitas siswa dalam pembelajaran ini telah dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan demikian, metode Think Pair Share dapat diterapkan dalam pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ”Penerapan model kooperatif tipe Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas V SD Negeri 2 Adiwarno Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017”. Hal ini dikarenakan penerapan model kooperatif tipe Think Pair Share mampu meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Siswa akan menjadi lebih aktif, inisiatif, kosentrasi serta menumbuhkan kerjasama antar siswa. Meningkatnya aktivitas siswa dalam pembelajaran ini dapat meningkatkan nilai hasil belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. 2010. Standar Isi IPA. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

Isjoni, 2009. Pembelajaran Kooperatif: Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi Antar Peserta Didik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Slavin, Robert E. 2008. Cooperative Learning; Teori, Riset dan Praktik, terj. Nurulita Yusron. Bandung: Nusa Media.

Sudjana, Nana. 1995. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.

Suprijono, Agus. 2009. Cooperatif Learning dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Supriyadi, 2001. Pembelajaran Kooperatif. Jakarta: Gramedia.

Syah, Muhibbin. 2000. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *