PTK SD Kelincahan dan Kecepatan Dalam Bermain Sepak Bola

UPAYA MENINGKATKAN KELINCAHAN DAN KECEPATAN DALAM BERMAIN SEPAK BOLA MELALUI METODE DEMONSTRASI PADA PESERTA DIDIK KELAS VI SD NEGERI DUMELING O2 KECAMATAN WANASARI KABUPATEN BREBES SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2015/2016

sugengnur

ABSTRAK

          Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar dasar-dasar sepakbola pada siswa setelah diterapkannya metode demonstrasi, mengetahui motivasi belajar dasar-dasar sepakbola setelah diterapkannya metode demonstrasi. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan, kegiatan, pengamatan dan refleksi. Sasaran penelitian ini adalah peserta didik Kelas VI SD Negeri Dumeling 02. Dari data diperoleh berupa hasil tes praktik, lembar observasi kegiatan belajar mengajar didapat bahwa prestasi belajar siswa mengalami  peningkatakan dari siklus I sampai II yaitu, siklus I (61.54%), siklus II (89,74%) untuk ranah psikomotor, siklus I (84,62%). Siklus II (100%) untuk ranah afektif Simpulan dari penelitian ini adalah metode demonstrasi dapat berpengaruh positif  terhadap motivasi belajar peserta didik Kelas VI SD Negeri Dumeling 02 serta model pembejalaran dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani.

Kata  kunci: Prestasi  belajar  Penjas, metode demonstrasi 

PENDAHULUAN

              Sepakbola  adalah salah satu jenis olah  raga yang sangat digemari orang seluruh dunia. Olah raga ini sangat universal. Selain digemari orang laki-laki olah raga ini juga digemari para perempuan tidak hanya tua muda bahkan anak-anak. Olah raga ini melibatkan 11 orang dalam satu teamnya. Untuk menjadi pemenang dalam suatu pertandingan harus melawan satu team lainnya. Para pemain sepak bola memperebutkan sebuah bola untuk dimasukkan ke dalam gawang yang dijaga  seorang penjaga gawang.

              Olah raga ini menjadi sangat menarik karena selain hanya memperebutkan sebuah bola dilapangan dengan menggunakan kaki tetapi juga terlihat gaya-gaya permainannya dalam memperebutkan bola untuk memasukkan bola ke dalam gawang lawan. Oleh karena olah raga ini melibatkan banyak orang tentunya kerjasama team yang baik sangat dibutuhkan selain teknik bermain yang baik. Sepak bola merupakan olah raga yang simple, sederhana dan murah. Seorang pemain sepak bola harus mempunyai kecepatan dan kelincahan yang lebih, bagi setiap pemain merupakan mudah dan sukses untuik mencetak gol, dan mempertahankan kemasukan bola. Dengan kemampuan kecepatan dan kelincahan akan memudahkan pemain tersebut dalam rangka membawa bola (menggiring bola) ke hadapan gawang lawan. Seorang pemain yang mempunyai kelincahan dan kecepatan yang bagus, bola yang digiring bagaikan lekat di kaki dan tentu mudah melewati halangan lawan dan tidak mudah dikelabuhi lawan.

              Berdasarkan uraian-uraian diatas, cabang olah raga bola sepak bola menarik untuk dikaji bersama sehingga perkembangan sepak bola Indonesia semakin diminati masyarakat sekaligus mampu duduk sejajar dengen klub-klub di negeri luar. Rumusan masalah : (1) Seberapa besar peningkatan prestasi penguasaan dasar-dasar sepak bola dengan diterapkannya metode demonstrasi pada peserta didik Kelas VI di SD Negeri Dumeling 02? (2) Seberapa besar pengaruh metode demonstrasi terhadap motivasi belajar dasar-dasar sepakbola pada peserta didik Kelas VI di SD Negeri Dumeling 02?

 

LANDASAN TEORETIS

Teknik Gerakan dengan Bola Pola Penyerangan

          Pemain yang menguasai bola, sebelum bola tersebut dioperkan kepada temannya akan melakukan gerakan dengan bola, baik itu berupa “berlari dengan bola” atau gerakan menggiring bola. Memang terdapat sedikit perbedaan antara “ berlari dengan bola” dan menggiring bola. Berlari dengan bola selalu dalam jangkauan. Langkah konstan  dan tidak terlalu sering menyentuh bola. Sedangkan menggiring bola adalah mengubah arah dan kecepatan bola dengan sentuhan-sentuhan kaki yang cepat.

           Teknik gerakan dengan bola pada pola penyerangan sebagai berikut: (1)Wall Pass  atau Operan Satu-Dua Wall Pass atau operan satu-dua memang merupakan gerak yang sangat sederhana dari dua orang pemain. Pemain A mengoper bola pada b, kemudian lari ke posisi baru. Pemain B tanpa menahan bola mengoper kembali kepada A yang menerima bola tersebut pada posisi baru.  (2) Lemparan ke dalam jika dilakukan secara baik, berencana dan dilatih dengan sunguh-sungguh maka lemparan ke dalam dapat menjadi awal dari serangan yang berbahaya. Terutama sekali jika lemparan ke dalam ini terjadi di daerah pertahaan lawan. (3) Tendangan penjuru keberhasilan tendangan sudut ke kotak  penalti bergantung kepada dua hal yaitu keterampilan pemain penyerang dalam menyundul bola  ke gawang lawan dan kemampuan pihak bertahan untuk menyapu bola-bla tinggi didaerah penalti, termasuk kemahiran penjaga gawang dalam memotong dan menangkap bola-bola tinggi di kotak penalti.

Teknik Gerakan dengan  Bola Pola Pertahanan

          Dalam permainan sepak bola dikenal tiga  bariasan pemain yaitu (1) Barisan Penyerang, (2) Barisan Pemain lapangan tengah (3) barisan pertahanan (pemain belakang). Pemain belakang atau barisan pertahanan ini mempunyai “ tugas utama”, untuk mempertahankan dan melindungi daerah berbahaya atau gawangnya dari serangan lawan. Dalam menjalankan tugas utama ini, terdapat cara-cara, tugas, pola teknik, atau strategi tertentu yang perlu dipahami. Hal ini diperlukan agar dalam menjalankan kegiatan sebagai pemain bertahan, pertahanan itu terlaksana dengan terkoordinir dan terpola serta merupakan gerakan bersama bukan tindakan sendiri-sendiri yang lepas satu sama lain.

Metode Demonstrasi

Penggunaan metode demonstrasi dapat diterapkan dengan syarat memiliki keahlian untuk mendemonstrasikan alat atau melaksanakan kegiatan tertentu seperti kegiatan yang sesungguhnya. Keahlian mendemonstrasikan tersebut harus dimiliki oleh guru atau pelatih yang ditunjuk, setelah didemonstrasikan, siswa diberi kesempatan melakukan latihan keterampilan seperti yang diperagakan oleh guru atau pelatih. Metode demonstrasi ini sangat efektif menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaan seperti Bagaimana Prosesnya? Terdiri dari unsur apa? Cara mana yang paling baik? Bagaimana dapat diketahui kebenarannya? Melalui pengamatan induktif

Metode demonstrasi dapat dilaksanakan: (1) Manakala kegiatan pembelajaran bersifat formal, magang atau latihan (2) Bila materi pelajaran berbentuk keterampilan gerak, petunjuk sederhana untuk melakukan keterampilan dengan menggunakan bahasa asing dan prosedur melaksanakan suatu kegiatan. (3) Manakala guru, pelatih, instruktur bermaksud menyederhanakan akan pelaksanaan suatu prosedur maupun dasar teorinya. (4) Pengajar bermaksud menunjukkan suatu standar penampilan. (5)Untuk menumbuhkan motivasi siswa tentang latihan/praktif yang kita laksanakan. (6) Untuk dapat mengurangi kesalahan-kesalahan bila dibandingka dengan kegiatan hanya mendengar ceramah atau membaca di dalam buku, karena siswa memperoleh gambaran yang jelas atau eksperimen. (7) Bila beberapa masalah yang menimbulkan pertanyaan pada siswa dapat dijawab lebih teliti waktu proses demonstrasi atau eksperimen. (8) Bila siswa turut aktif bereksperimen maka ia akan memperoleh pengalaman-pengalaman praktik untuk mengembangkan kecakapan dan memperoleh pengakuan dan pengharapan dari lingkungan sosial.

Kerangka Berpikir

Pelaksanaan metode demonstrasi dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani (Penjas) yang diberikan oleh peneliti merupakan kegiatan pembelajaran dengan model yang menurut kesepakatan dengan teman sejawat adalah salah satu pilihan yang disepakati. Dalam obeservasi awal melalui pembelajaran konvensional peneliti menjumpai banyak keluhan peserta didik tentang ketidakberhasilaannya dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani (Penjas),  tantang ketidakaktifan peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran Pendidikan Jasmani (Penjas).

Ketepatan dalam menerapkan model pembelajaran yang dilakukan peneliti sangat penting. Sehingga peneliti segera dapat mengatasi masalah-masalah yang dijumpai oleh peserta didik dengan cara pembelajaran dengan metode demonstrasi. Pada siklus 1 pertama pembelajaran dengan metode demonstrasi mata pelajaran Pendidikan Jasmani (Penjas) diperlukan waktu 2 X 35 menit (dua jam pelajaran), sedangkan pada siklus 2 dua paling sedikit 4 X 35 menit (empat jam pelajaran) atau disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.

Karena dalam model pembelajaran metode demonstrasi menggunakan praktik latihan kecepatan dan kelincahan dalam bermasin sepakbola, peneliti berusaha membuat suasana menyenangkan peserta didik agar semaksimal  mungkin untuk mengatasi berbagai hal termasuk masalah hasil belajar peserta didik, sebab ada kemungkinan masalah ketidakan dan kekurangberhasilan dalam belajar ada kaitannya dengan masalah lain yang mungkin dapat segera dianalisis. Oleh sebab itu langkah-langkah yang dilakukan peneliti menjadi sangat menentukan apakah penerapan metode demonstrasi berhasil sesuai dengan yang direncanakan.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka berpikir tersebut, peneliti berasumsi bahwa: diduga dengan model pembelajaran metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani peserta didik Kelas VI SD Negeri Dumeling 02 Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri  Dumeling 02 Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016. Penelitian dilakukan sebanyak dua siklus. Masing-masing siklus dilakukan kegiatan pembelajaran sebanyak dua kali pertemuan dan pendampingan. Siklus I dilaksanakan pada bulan September  2015, siklus II bulan Oktober 2015.

Subjek penelitian adalah peserta didik kelas VI SD Negeri Dumeling  02 Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes Semester I Tahun Pelajaran 2014/2015 yang jumlahnya sebanyak 39 peserta didik. Dari jumlah tersebut terdiri dari 20 peserta didik laki-laki dan 19 peserta didik perempuan.

Sumber data dari penelitian ini: 1) guru, 2) peserta didik, dan 3) teman sejawat, data-data ulangan harian dan analisis ulangan harian: a) hasil observasi  dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani, b) catatan harian, c) saran dari observer yang dilakukan sebelum, selama, dan sesudah tindakan penelitian, dan d) dokumentasi selama tindakan diberikan.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: (1) Silabus, (2) Rencana Pelaksanaan  Pembelajaran (RPP), (3) Lembar observasi Kegiatan Belajar Mengajar (4) Angket motivasi terhadap metode demonstrasi (5) Tes praktek (6) Lembar observasi penilaian kinerja siswa ranah psikomotor dan (6) Lembar observasi penilaian kinreja siswa ranah afektif.

Untuk mengetahui efektifan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakananalisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisa deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai sisw juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktifitas siswa selama proses pembelajran Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa tes praktek pada setiap akhir putaran,

Indikator Kinerja

Indikator kinerja penelitian ini adalah: adanya peningkatan perolehan nilai rata-rata kelas hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani (Penjas) dengan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) 70 dengan ketuntasan kelas adalah ≥ 85%.

HASIL PENELITIAN

Siklus I

          secara garis besar kegiatan belajar mengajar dengan metode pembelajaran kooperatif model Demonstrasi sudah dilaksanakan dengan baik, walaupun peran guru masih cukup dominant untuk memberikan penjelasan dan arahan karena model tersebut masih dirasakan baru oleh siswa. Berikutnya adalah rekapitulasi hasil tes formatif siswa seperti terlihat pada tabel berikut ini:

     Tabel 1 Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus I

No Uraian Hasil Siklus I
1

2

3

Nilai rata-rata tes formatif

Jumlah siswa yang tuntas belajar

Ps  Prosentase ketuntasan belajar

76,15

24

61,54

          Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan metode Demonstasi diperoleh nilai rata-rata presentasi belajar siswa adalah 76,15 dan ketuntasan belajar mencapai 61,54% atau ada 24 siswa dari 39 siswa sudah tuntas belajar. Hasl tersebut  menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai ³70 hanya sebesar 61,5% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksud dan digunakan guru dengan menerapkan model pembelajaran metode demonstrasi.

Analisis data penelitian Siklus I

  1. Ranah Psikomotor: Siswa yang mendapat nilai 60 tidak ada, siswa yang mendapat nilai 70 sebanyak 15 (38,46%), siswa yang mendapat nilai 80 sebanyak 24 (61,54%), berarti siswa yang mendapat nilai diatas 70 sebanyak 61, 54%, secara klasikal termasuk kategori belum tuntas.
  2. Ranah Afektif: Siswa yang mendapat nilai C sebanyak 6 (15,38%), siswa yang mendapat nilai B sebanyak 26 (66,6%), siswa yang mendapat nilai A sebanyak 7 (17,95%), berarti siswa yang mendapat nilai diatas C sebanyak 84,62%, secara klasikal termasuk kategori tuntas.

Siklus II   

    Tabel 2 Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus II

No Uraian Hasil Siklus I
1

2

3

Nilai rata-rata tes formatif

Jumlah siswa yang tuntas belajar

Prosentase ketuntasan belajar

81,79

35

89,74

        Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai rata-rata tes praktek sebesar 81,79 dan dari 39 siswa yang telah tuntas sebanyak 35 siswa an 4 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 89,74% (termasuk kategori tuntas). Hasil pada siklus II ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus I.  Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus II ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran metode demonstrasi sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dala memahami materi yang telah diberikan.

Analisis data penelitian Siklus II

  1. Ranah Psikomotor: Siswa yang mendapat nilai 60 tidak ada, siswa yang mendapat nilai 70 sebanyak 4 (10,36%), siswa yang mendapat nilai 80 sebanyak 24 (61,53%), siswa yang mendapat nilai 90 sebanyak11 (28,21%), berarti siswa yang mendapat nilai diatas 70 sebanyak 89,74%, secara klasikal termasuk kategori tuntas.
  2. Ranah Afektif: Siswa yang mendapat nilai C tidak ada, siswa yang mendapat nilai B sebanyak 13 (33,33%), siswa yang mendapat nilai A sebanyak 26 (66,67%), berarti  siswa yang mendapat nilai diatas C mencapai 100% secara klasikal termasuk kategori tuntas. Mengingat hasil observasi selama siklus II nilai yang diperoleh siswa dalam penilaian kinerja ranah psikomotorik 89,74% memperoleh nilai diatas 70 dan ranah afektif 100%  memperoleh nilai diatas C secara keseluruhan ranah psikomotorik dan ranah afektif telah tercapai ketuntasan belajar, maka penelitian ini diakhiri  pada siklus II

 

PENUTUP

Simpulan

                 Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus dan berdasarkan seluruh pembahaan serta analisis yang telah dilakukan dapa disimpulkan sebagai berikut

  1. Pembelajaran dengan metode pembelajaran metode demonstrasi  memiliki  dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai  dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I (61,54%), siklus II (89,74%), sedangkan untuk ranah afektif yaitu siklus I (84,62%), siklus II (100%)
  2. Penerapan metode pembelajaran metode demonstrasi mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang ditunjukkan dengna rata-rata jawaban siswa yang menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengan metode pembelajaran metode Demonstrasi sehingga mereka menjati termotivasi untuk belajar.

Saran

                          Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut:

  1. Untuk melaksanakan metode pembelajaran demonstasi  memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan metode demonstrasi  dalam proses  belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal.
  2. Dalam rangka meningkatkan  prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
  3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SD Negeri Dumeling 02 Tahun Pelajaran 2015/2016
  1. Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik.

 

DAFTAR  PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi , 2012. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta PT. Rineksa Cipta

Bachrie, Eddy, dkk. 2012. Buku Kerja Pelatih Sepakbola Remaja. Bandung; Binacipta

Betty, C. Eric. 2007. Latihan Sepakbola Metode Baru Pertahanan. Bandung; Pioner Jaya

Coever, Weil. 2012; Sepakbola Pembinaan Pemain Ideal. Jakarta; PT Gramedia.

Engkos S.R. 2014. Penjaskes. Jakarta; Erlangga

Remmy, Muchtar. 2012 . Olah Raga Pilihan Sepak Bola, Jakarta; Depdikbud Dirjen Dikti

Roji. 2006. Penjaskes 3, Jakarta; Intan  Parawara

Sajono, 2006. Pembinaan dan Kondisi fisik, Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti

Slamet, S.R. 2014.Penjaskes 3. Jakarta; Tiga  Serangkai

Sneyer, J. 2008. Sepakbola Latihan dan Strategi,  Jakarta; PT. Rosda Karya

Suharno. 2006, Ilmu Kepelatihan Olah Raga. Yogyakarta; IKIP Yogyakarta.

Syafi’I, Imam, 2009, Sepakbola Dasar. Surabaya; UM Press IKIP Surabaya

Syarifuddin, Aib. 2007, Penjaskes 1,2,3, Jakarta; PT. Gramedia Widiasmara Indonesia

 

BIODATA

Nama             : SUGENG NURBEKTI, S.Pd

NIP                 : 196109091983044 1 004

Pangkat         : Pembina, IV/a

Jabatan          : Guru Penjaskes

Unit Kerja      : SDN Dumeling 02 Kec. Wanasari Brebes




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *