PTK SD Laporan Teks Insvestigasi Melalaui Pendekatan Saintifik

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENJELASKAN DAN MENYAJIKAN LAPORAN TENTANG TEKS INSVESTIGASI MELALUI PENDEKATAN SAINTIFIK MODEL KOOPERATIF TEKNIK GROUP INSVESTIGATION DI KELAS VI SEMESTER 1 SD NEGERI CIMUNDING 01 TAHUN 2015/2016.

sudirman

ABSTRAK

 

           Pelaksanaaan kegiatan penelitian dillakukan sampai 2 siklus perbaikan, dengan alokasi waktu 4 x 35 menit untuk setiap pelaksanaan kegiatan perbaikan pembelajaran. Dalam setiap siklus dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, peleksanaan, observasi dan refleksi. Pada pelaksanaan kegiatan perbaikan pembelajaran siklus I, ternyata mengalami peningkatan dari sebelum dilaksanakan perbaikan. Hasil nilai  rata-rata kelas pada siklus I untuk aspek pengetahuan mencapai 69,68, dan untuk aspek keterampilan 63,00 siswa yang memperoleh nilai mencapai KKM atau lebih 8 siswa dari 13 siswa kelas VI, sedang 5 siswa lainnya masih di bawah KKM meskipun mereka mendapat nilai yang meningkat dari hasil tes kondisi awal. Dengan kondisi seperti ini peneliti belum merasa puas , maka perbaikan pembelajaran dilaksanakan lagi pada siklus II. Setelah peneliti melaksankan siklus II, maka peneliti merasa puas, hal ini dikarenakan hasil dari kegiatan pembelajaran siklus II sudah dapat membuktikan hipotesis tindakan, dan indkator kinerja. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siklus II, yakni nilai rata-rata kelas aspek pengetahuan mencapai 80 hal ini sudah melampaui KKM yang ditetapkan, sedang ketuntasan belajar klasikal mencapai 92,31 % atau sekitar 12 siswa yang mengalami ketuntasan, sedang 1 lainnya masih di memperoleh nilai di bawah KKM dan untuk aspek keterampilan nilai rata-rata 70 ketuntasan belajar 100 %.

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif, Saintifik, Group Insvestigation, Prestasi BelajarAktivitas siswa.

 

PENDAHULUAN

                  Dalam pembelajaran tematik terpadu di Kelas VI SD Negeri Cimunding 01 tema 2  Persatuan dalam Perbedaan, subtema 1 Rukun dalam Perbedaan pada pembelajaran 1 terdiri dari beberapa muatan pelajaran yang terintegrasi, yaitu : muatan IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan PPKn. Penyajian pelajaran disajikan secara tematik terpadu menerapkan pendekatan saintifik, dan penilaian autentik. Dari hasil penilaian akhir pembelajaran ternyata nilai setiap kompetensi dasar untuk setiap muatan belum mencapai hasil yang optimal, terutama untuk muatan Bahasa Indonesia kompetensi dasar 3.1 Menggali informasi dari teks laporan investigasi tentang ciri khusus makhluk hidup dan lingkungan, serta campuran dan larutan dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku. 4.1 Mengamati, mengolah, dan menyajikan teks laporan investigasi tentang ciri khusus makhluk hidup dan lingkungan, serta campuran dan larutan secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku, indikator 3.1.1 Menjelaskan informasi penting tentang ciri khusus tumbuhan setelah melakukan kegiatan petualangan, 4.1.1 Menyajikan teks laporan setelah melakukan kegiatan petualangan di sekitar sekolah. Untuk KD 3.1 nilai rata-rata kelas hanya mencapai 56,00 dan KD 4.1 hanya mencapai 48,00.

           Dari permasalahan tersebut peneliti berdiskusi dengan guru-guru SD Negeri Cimunding 01, bahwa rendahnya nilai muatan Bahasa Indonesia perlu di adakan perbaikan. Setelah peneliti merefleksi hasil pembelajaran ternyata rendahnya nilai muatan Bahasa Indonesia KD 3.1 Indikator 3.1.1 dan KD 4.1 Indikator 4.1.1 disebabkan, diantaranya antara lain; a) Guru masih kesulitan menyajikan pembelajaran tematik terpadu karena barang baru, b) pembelajaran tematik terpadu menuntut korelasi muatan pembelajaran, berbeda dengan kurikulum 2006 yang alokasi waktu khusus untuk satu mata pelajaran; c) siswa belum terbiasa dengan pembelajaran tematik terpadu,sehingga aktivitas siswa berkurang, d) Bahan atau materi ajar (buku paket untuk siswa) masih terbatas; e) penyajian pembelajaran masih berpusat pada guru; f) guru belum sepenuhnya menerapkan pendekatan saintifik dan model pembelajaran apa yang digunakan. Dari indetifikasi permaslahan tersebut memicu peneliti untuk segera memperbaiki pembelajaran yang telah dilaksanakan.

RUMUSAN MASALAH

           Berdasar dari permasalahan dan identifikasi masalah di atas, maka peneliti bersama teman sejawat, akan melakukan penelitian tindakan kelas dengan rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah cara meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran tematik terpadu yang telah dilaksanakan?
  2. Apakah penerapan pendekatan Saintifik dengan Model Kooperatif Teknik Group Insvestigation dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada muatan pembelajaran Bahasa Indonesia Kompetensi Dasar 3.1 Indikator 3.1.1 Menjelaskan informasi penting tentang ciri khusus tumbuhan setelah melakukan kegiatan petualangan, dan Kompetensi dasar 4.1 indikator 4.1.1 Menyajikan teks laporan setelah melakukan kegiatan petualangan di sekitar sekolah di Kelas VI Semester 1 tahun pelajaran 2015/2016?

 

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Pembelajaran Tematik Terpadu

Pembelajaran tematik terpadu merupakan salah satu model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik. Pembelajaran terpadu didefinisikan sebagai pembelajaran yang menghubungkan berbagai gagasan, konsep, keterampilan, sikap, dan nilai, baik antar mata pelajaran maupun dalam satu mata pelajaran. Pembelajaran tematik memberi penekanan pada pemilihan suatu tema yang spesifik yang sesuai dengan materi pelajaran, untuk mengajar satu atau beberapa konsep yang memadukan berbagai informasi.

Pembelajaran tematik terpadu berdasar pada filsafat konstruktivisme yang berpandangan bahwa pengetahuan yang dimiliki peserta didik merupakan hasil bentukan peserta didik sendiri. Materi Pelatihan Implementasi Kurikulum Jenjang Sekolah Dasar Tahun 2015

Peserta didik membentuk pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungan, bukan hasil bentukan orang lain. Proses pembentukan pengetahuan tersebut berlangsung secara terus menerus sehingga pengetahuan yang dimiliki peserta didik menjadi semakin lengkap.

Pembelajaran tematik terpadu menekankan pada keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.

Pembelajaran tematik terpadu lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar peserta didik. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga peserta didik akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu peserta didik dalam membentuk pengetahuannya, karena sesuai dengan tahap perkembangannya peserta didik yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik).

Pendekatan Saintifik

Penerapan pendekatan saintifik dalam Kurikulum 2013 menggunakan modus pembelajaran langsung (direct instructional) dan tidak langsung (indirect instructional). Pembelajaran langsung adalah pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan menggunakan pengetahuan peserta didik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan RPP.

Pendekatan saintifik meliputi lima pengalaman belajar yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, mengasosiasi/mengolah informasi, dan mengomunikasikan.

Model Pembelajaran Kooperatif (Dr. Rusman, M.Pd. 2010)

             Menurut Slavin (2007) pembelajaran kooperatif menggalakan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Model pemeblajaran ini ini dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme yang lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky. Berdasarkan penelitian Piaget yang pertama dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak (Ratna, 1988:181).

            Dalam model pembelajaran kooperatif ini guru lebih berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ke arah pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri. Guru tidak ahanya memberikan pengetahuan pada siswa tetapi juga harus membangun pengetahuan dalam pikirannya.

            Menurut pandangan Piaget dan Vigotsky adanya hakikat sosial dari sebuah proses belajar dan juga tentang penggunaan kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan anggotanya yang beragam, sehingga terjadi perubahan konseptual.

           Berkaitan dengan karya vigotsky dan penjelasan Piaget, para konstruktivisme menekankan pentingnya interaksi dengan teman sebaya, melalui pembentukan kelompok belajar. Dengan kelompok belajar memberikan kepada siswa secara aktif dan kesempatan untuk mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan siswa kepada teman akan membantunya untuk melihat sesuatu dengan lebih jelas bahkan melihat ketidaksesuaian pandangan mereka sendiri.

Prosedur Pembelajaran Kooperatif

  • Penjelasan Materi, tahap ini merupakan tahapan pnyampaian pokok-pokok materi plajaran sebelum siwa belajar dalam kelompok. Tujuan tahpa ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran
  • Belajar Kelompok, tahap ini dilakukan setelah guru memberikan penjelasan materi, siswa bekerja dalam kelompok yang telah dibentuk sebelumnya.
  • Penilaian, penilaian dalam pembelajaran kooperatif bisa dilakukan melalui tes atau kuis, yang dilakukan secara individu atau kelompok. Tes individu akan memberikan penilaian kmampuan individu, sedangkan klompok akan memberikan penilaian pada kmampuan klompoknya, seperti dijelaskan Sanjaya (2006: 247). Hasil trakhir setiap siswa adalah menggabungkan keduanya dan dibagi dua.
  • Pengakuan tim, adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah, dengan harapan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi lebih baik lagi.

Insvestigasi Kelompok (Group Insvestigation) (Dr. Rusman, M.Pd. 2010)

          Strategi belajar kooperatif GI dikembangkan oleh Shlomo Sharan dan Yael Sharan di Universitas Tel Aviv Isral. Secara umum perencanaan pengorganisasian klas dengan menggunakan teknik koopreatif GI adalah klompok dibentuk oleh siswa itu sendiri dengan beranggotakan 2-6 orang, tiap kelompok bebas memilih subtopik dari kesluruhan unit materi (pokok bahasan) yang akan diajarkan, dan kemudian membuat atau menghasilkan laporan kelompok. Selanjutnya setiap kelompok mepresentasikan atau memamerkan laporannya kepada seluruh kelas, untuk berbagi dan saling tukar informasi temuan mereka (Burns, et al., tanpa tahun). Menurut Slavin (1995a), trategi kooperatif GI sebenarnya dilandasi oleh pilosofi belajar John Dewey.

          Belajar kooperatif dengan teknik GI sangat cocok untuk bidang kajian yang memerlukan kegiatan studi proyek terintegrasi (Slavin, 1995a) yang mengarah kepadda kegiatan perolehan, analisis, dan sintesis informasi dalam upaya untuk memecahklan suatu masalah. Oleh karenanya, kesuksessan implementasi teknik kooperatif Gi sangat tergantung dari pelatihan awal dalam penguasaan keterampilan komunikasi dan soial. Tugas-tugas akademik harus diarahkan kepada pemberian kesempatan bagi anggota kelompok untuk memeberikan berbagai macam kontribusinya, bukan hanya sekedar di desain untuk mendapat jawaban dari suatu pertanyaan yang bersifat factual (apa, ipa, dimana, atau sejenisnya). Menurut Slavin (1995a), strategi belajar koopratif GI sangatlah ideal diterapkan dalam pelajaran biologi (IPA). Dengan topik materi IPA yang cukup luas dan desain tugas-tugas atau sub-subtopik yang mengarah kepada kegiatan metode ilmiah, diharapkan siswa dalam kelompoknya dapat saling memberi kontribusi brdasarkan pengalaman sehari-harinya.

           Implementasi strategi belajar kooperatif GI dalam pembelajaran secara umum dibagi menjadi enam langkah yaitu : (1) mengiddentifikasi topik dan mengorganiasikan siswa ke dalam kelompok ,(2) merencanakan tugas-tugas belajar direncanakan seecara bersama oleh para siswa dalam klompok masing-masing, (3) melaksanakan insvestigasi siswa mencari informasi, menganalisis data dan membuat kesimpulan, (4) menyiapkan laporan akhir (5) mempresentasikan laporan akhir.(6) Evaluasi.

Hakikat Menulis (Santosa Puji, dkk.2008)

           Menulis dapat dianggap sebagai proses ataupun suatu hasil. Menulis merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menghasilkan sebuah tulisan. Menghasilkan karya tulis, kemudian dapat digunakan sebagai bahan pembelajran atau diserahkan kepada seseorang sebagai bukti karya ilmiah, kemudian akan dinilai , menuntut seorang penulis memahami betul arti kata menulis. Seorang penulis yang memahami dengan baik makna kata menulis akan betul-betul peduli terhadap kejelasan apa yang ditulis, kekuatan tulisan itu dalam mempengaruhi orang lain, keaslian pikiran yang hendak dituangkan dalam tulisa, kepiawaian penulis dalam memilih dan mengolah kata-kata.

Seorang penulis yang paham betul akan konsekuensi sebuah tulisan pasti akan mempertimbangkan respon yang akan diperolehnya jika tulisannya dibaca orang lain.

           Dilihat dari prosesnya, menulis mulai dari suatu yang tidak tampak sebab apa yang hendak ditulis masih berbentuk pikiran, bersifat sangat pribadi. Jika penulis seorang siswa, guru hendaknya belajar merasakan kesulitan siswa yang sering dihadapi ketika menulis. Guru yang memahami kesulitan yang sering dihadapi siswanya ketika menulis akan berpendapat bahwa menulis karangan itu tidak ahrus sekali jadi. Adakalanya sebuah kalimar telah selesai ditulis, tetapi kelanjutanya sulit didapat. Jika hal ini terjadi maka guru menyarankan agar siswanya mengubah arah atau tujuan tulisnanya. Menugaskan siswa membuat karangan dengan judul tertentu disertai petunjuk-petunjuk praktis cara menulisnya adalah contoh pembelajaran menulis yang ditekankan pada hasilnya, bukan pada prosesnya.

           Dilihat dari prosesnya, pembelajaran menulis menuntut kerja keras guru untuk membuat pembelajarannya dikelas menjadi kegiatan yang menyenangkan sehingga siswa tidak merasa dipaksa untuk dapat membuat sebuah karangan, atau sebuah laporan atau sebaliknya, siswa merasa senang karena diajak guru untuk mengarang atau menulis.

HIPOTESIS TINDAKAN

Diduga dengan menerapkan pendekatan saintifik model pembelajaran kooperatif teknik group insvestigation akan dapat meningkatkan aktivitas serta hasil belajar pada muatan pembelajaran Bahasa Indonnesia kompetensi dasar 3.1 indikator 3.1.1 Menjelaskan informasi penting tentang ciri khusus tumbuhan setelah melakukan kegiatan petualangan, dan Kompetensi dasar 4.1 indikator 4.1.1 Menyajikan teks laporan setelah melakukan kegiatan petualangan di sekitar sekolah.

METODE PENELITIAN

Lokasi penelitian adalah SD Negeri Cimunding 01, Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes. Waktu Penelitian pada semester 1 Tahun Pelajaran 2015/2016, dari tahap perencanaan, pengjuan proposal, tahap pelaksanaan, sampai tahap pelaporan. Subyek siswa kelas VI SD Negeri Cimunding 01, Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes, dengan jumlah siswa 13 terdiri dari 6 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan.

  Prosedur penelitian Tindakan Kelas terhadap muatan pembelajaran Bahasa Indonesia materi laporan teks insvestigasi akan peneliti lakukan sampai dua siklus perbaikan. Dalam setiap siklus terdapat empat fase yang meliputi (1) merencanakan PTK, (2) melaksanakan PTK, (3) melaksanakan observasi, dan (4) melakukan refleksi. Keempat fase tersebut direncanakan dan dilaksanakan untuk meningkatkan hasil belajar dan meningkatkan minat belajar siswa tentang pembelajaran IPA materi perubahan sifat benda. Dalam penelitian ini observer melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran yang dilakukan peneliti menggunakan pedoman observasi yamng telah dibuat.

Teknik yang dignakan adalah teknik tes yang digunakan adalah tes yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Tes tersebut merupakan pelaksanaan evaluasi proses yaitu evaluasi yang dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung dan tes formatif di akhir pembelajaran. Angket/questioner digunakan untuk menyaring pendapat siswa tentang pembelajaran, asal dibuat sederhana dan juga memuat pertanyaan yang direspon secara bebas (terbuka) oleh siswa. Angket ini dilaksanakan di akhir siklus perbaikan pembelajaran untuk mengetahui sejauh mana minat belajar siswa tentang melakukan perkalian yang hasilnya bilangan dua angka.

Pada setiap akhir pembelajaran setiap pertemuan dan setiap siklus peneliti melakukan analisis data hasil pengamatan dan data hasil tes. Data hasil pengamatan dianalisis dengan tahapan-tahapan sebagai berikut, (1) mereduksi data, (2) menganalisis data, dan (3) melaporkan data, (Wardani, 2002:2.28). Kegiatan mereduksi data adalah kegiatan membuang data yang tidak relevan dengan pedoman observasi dan mencatat data yang dapat digunakan untuk laporan hasil penelitian.

Hasil pengolahan hasil tes tersebut digunakan untuk membuktikan hipotesis. Apabila dari hasil pengolahan data tersebut diperoleh peningkatan hasil belajar berarti hipotesis terbukti. Sebaliknya, jika tidak terjadi peningkatan hasil belajar hipotesis tidak terbukti.

Teknik analisi data yang digunakan adalah: data berupa hasil belajar muatan pelajaran Bahasa Indonesia yang dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dengan menentukan mean atau rerata. Adapun penyajian data kuantitatif dipaparkan dalam bentuk presentase. Hasil penghitungan dikonsultasikan dengan kriteria ketuntasan belajar siswa yang dikelompokkan ke dalam dua kategori tuntas ≥ 67 dan tidak tuntas < 67. Data kualitatif berupa data hasil observasi aktifitas siswa dan aktifitas guru dalam pembelajaran tematik terpadu, serta hasil catatan lapangan dan angket dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif. Data kualitatif dipaparkan dalam kalimat yang dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.

INDIKATOR KINERJA

Pembelajaran Tematik Terpadu dengan pendektan Saintifik Model Kooperatif Teknik Group Insvestigasi dapat meningkatkan hasil belajar kemampuan menjelaskan dan menyajikan laporan teks insvestigasi pada siswa kelas VI SD Negeri Cimunding 01, Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes dengan indikator sebagai berikut:

  1. Aktivitas siswa dalam pembelajaran Tematik Terpadu menggunakan Model Kooperatif Teknik Group Insvestigation meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik.
  2. Aktivitas guru dalam pembelajaran Tematik Terpadu menggunakan Model Kooperatif Teknik Group Insvestigation meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik.
  3. 75 % siswa kelas VI SD Negeri Cimunding 01, mengalami ketuntasan belajar individual sebesar ≥ 67 dalam pembelajaran muatan Bahasa Indonesia Kompetensi Dasar 3.1 dan 4.1

 

HASIL PENELITIAN

Kondisi Awal

Hasil pembelajaran prasiklus menunjukkan bahwa penilaian autentik   yang meliputi       penilaian sikap, pengetahuan , dan keterampilan dalah sebagai berikut :

  • Penilaian sikap spiritual dan sosial menunjukkan bahwa siswa kelas VI SD Negeri Cimunding 01 sudah kategori baik.
  • Penilaian aspek pengetahuan untuk setiap muatan muatan pembelajaran menunjukkan hasil di atas KKM, hanya pada muatan Bahasa Indonesia nilai pengetahuan maupun nilai keterampilan masih di bawah KKM, yakni untuk KD 3.1 indikator 3.1.1 nilai rata-rata 58,00 dan untuk nilai keterampilannya 56,25 sedangkan KKM ditetapkan 67,00, prosentase ketuntasan secara klasikal hanya mencapai 57,14 %.
  • Penilaian Aktivitas siswa dan Keterampilan Guru Dalam Menyajikan pembelajaran, untuk aktivitas siswa hasil observasi menunjukkan kategori Cukup, dan keterampilan guru juga masih kategori

 

Hasil Penelitian Siklus I

 Dari data hasil observasi perbaikan pembelajaran Siklus I ternyata hasilnya sebagai berikut:

  • Untuk nilai aspek pengetahuan (KD 3.1 ) Nilai rata-rata 69,86, sedang siswa yang mengalami ketuntasan sebanyak 8 atau 61,54 %, siswa yang belum tuntas sebanyak 5 siswa atau38,46 %.
  • Untuk aspek keterampilan nilai rata-rata 63,00 dan siswa yang tuntas sebanyak 6 siswa atau 46,15 %.
  • Untuk aktivtas siswa dan keterampilan guru dalam menyajikan pembelajaran, menunjukkan peningkatan siswa secara individu sudah terlibat aktif walau masih ada beberapa anak yang, masih malu menanya, tidak mau mengeluarkan pendapat,. Hasil pengamatan terhadap peneliti observer menyimpulkan bahwa penyajian pembelajaran sudah sesuai dengan tahapan RPP siklus I, dan hasil penilaian kategori

          Dari hasil refleksi maka, peneliti  menemukan akar penyebab masalah bahwa nilai rata-rata KD 3.1 masih belum mencapai KKM, yaitu antara lain ; a) Bahan atau materi (teks laporan Insvestigasi) hanya untuk kelompok, guru tidak membagikan (teks laporan Insvestigasi) untuk setiap siswa, sehingga beberapa siswa tidak sempat mempelajrinya; b) peneliti kurang menjelaskan Struktur, isi, keruntutan, tanda baca dan huruf besar dari teks laporan insvestigasi; c) siswa belum memahami arti kata-kata sulit yang mereka temukan di teks insvestigasi,

          Untuk KD 4.1 indikator 4.1.1 nilai rata-rata 63 masih belum mencapai KKM, siswa yang tuntas hanya 6 siswa atau 46,15 %, penyebabnya adalah; a) siswa belum paham tentang struktur laporan, isi, keruntutan, dan penulisam tanda baca dan huruf besar. b) peneliti kurang menjelaskan tentang struktur laporan, isi, keruntutan, dan penulisam tanda baca dan huruf besar dan kurang  membimbing ketika siswa melakukan insvestigasi.

Solusi untuk mengatasi permasalahan di atas peneliti akan merencanakan perbaikan pembelajaran pada siklus II, dengan mengatasi permasalahan tadi, diantaranya ;  a) guru akan menyiapkan bahan atau materi untuk setiap individu; b) pemneliti akan lebih rinci menjelaskan tentang struktur, isi, keruntutan serta tanda baca dan huruf besar; c) pembagian kelompok dirubah anggotanya, untuk ketua kelompok tetap, bagi siswa yang nilainya cukup menonjol disebar ke lima kelompok yang ada, sehingga anggota kolompok berimbang sesuai dengan pemahaman dan kemampuannya. Solusi ini dijadikan bahan untuk membuat Rencana Perbaikan Pembelajaran Siklus II.

Hasil Penelitian Siklus II

Dari data hasil observasi perbaikan pembelajaran Siklus II hasilnya sebagai berikut:

  • Untuk nilai aspek pengetahuan (KD 3.1 ) Nilai rata-rata 80, sedang siswa yang mengalami ketuntasan sebanyak 12 atau 92,31%, siswa yang belum tuntas sebanyak 1siswa atau 7,69 %.
  • Untuk aspek keterampilan nilai rata-rata 70,00 dan siswa yang tuntas sebanyak 13 siswa atau 100 %.
  • Untuk aktivtas siswa dan keterampilan guru dalam menyajikan pembelajaran, menunjukkan peningkatan siswa secara individu sudah terlibat aktif walau masih ada beberapa anak yang, masih malu menanya, tidak mau mengeluarkan pendapat,. Hasil pengamatan terhadap peneliti observer menyimpulkan bahwa penyajian pembelajaran sudah sesuai dengan tahapan RPP siklus I, dan hasil penilaian kategori Sangat Baik.

 

PEMBAHASAN

Peningkaan Nilai rata-rata Kelas :

Nilai rata-rata kondisi awal untuk KD 3.1 : 58,00 dan KD 4.1 : 56,25 meningkat di siklus I KD 3.1 menjadi 69,86, KD 4.1 menjadi 63,00, sampai di siklus II nilai rata-rata meningkat secara optimal KD 3.1 menjadi 80,00 dan KD 4.1 menjadi 70,00. Data tersebut peneliti sajikan dalam bentuk tabel dan diagram di bawah ini:

Tabel 1 Peningkatan Nilai Rata-rata Kelas

Kondisi Aspek Pengetahuan KD 3.1 Aspek Keterampilan KD 4.1
Prasiklus 58,00 56,25
Siklus I 69,86 63,00
Siklus II 80,00 70,00

dirman2

Peningkatan Prosentase Ketuntasan Belajar Klasikal :

Prosentase Ketuntasan Belajar di kondisi awal untuk aspek KD 3.1 siswa tuntas sebanyak 5 siswa atau 38,46 %, dan KD 4.1 hanya 6 siswayang tuntas atau 46,15%, meningkat di siklus I KD 3.1 menjadi 8 siswa yang tuntasa atau 61,54 %, KD 4.1 menjadi 7 siswa yang tuntas atau 53,84 %, dan meningkat lagi pada siklus II KD 3.1 menjadi 12  siswa yang tuntas atau 92,30 %, KD 4.1 menjadi 13 siswa yang tuntas atau 100%.

Tabel 2 Peningkatan Prosentase Ketuntasan Belajar

Kondisi Aspek Pengetahuan KD 3.1 Aspek Keterampilan KD 4.1
Prasiklus 38,46 % 40 %
Siklus I 46,15 % 53,85  %
Siklus II 92,31% 100 %

 dirman

Dari hasil pembahasan setiap kondisi ternyata pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas yang peneliti lakukan sampai 2 siklus perbaikan sudah dapat menjawab hipotesis dan rumusan indikator kinerja peneliti, sehingga peneliti merasa bahwa penelitian sudah di anggap selesai dan tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya. Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa dengan pendekatan Saintifik Model Kooperatif dengan teknik Group Insvestigation dapat meningkatkan aktivitas serta hasil belajar siswa pada pembelajaran tematik terpadu untuk muatan Bahasa Indonesia materi menjelaskan dan menyajiklan teks laporan hasil insvestigasi di Kelas VI SD Negeri Cimunding 01, Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes.

 

SIMPULAN

Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan salah satu model pembelajaran Kooperatif yakni Group Insvestigation,  maka suasana pembelajaran akan lebih menarik dan menyenangkan anak sehingga mereka aktif dalam mengikuti pembelajaran dan hasil belajar pun mengalami peningkatan, secara rinci dapat dijelaskan :

  1. Belajar sambil bermain berpetualang, dan dengan pemberian motivasi serta penguatan pada siswa, akan lebih meningkatkan aktivitas siswa dan mengasyikan sehingga hasil belajar pun meningkat secara signifikan.
  2. Terbukti bahwa nilai rat-rata kelas dan Ketuntasan Belajar mengalami peningkatan dari mulai kegiatan pembelajaran Prasiklus, Siklus I, dan Siklus II.
  3. Pendekatan Saintifik dengan Model pembelajaran Kooperatif Teknik Group Insvestigation dapat membawa situasi belajar menyenangkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Mulyani Sumantri,2007. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta :Universitas Terbuka.

Udin S.Winataputra, dkk. 2007.Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta :Universitas Terbuka

Panitia Sertifikasi Guru Rayon 112.  (2012) Bahan Ajar Pendidikan dan Latihan Profesi Guru dalam Jabatan . Semarang : Universitas Negeri Semarang.

Dr. Rusman, M.Pd. 2010. Model-Model Pembelajaran. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Santosa Puji, dkk. 2008. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta:Universitas Terbuka.

Sofiyanti Ai, dkk. 2015. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum.Jakarta : Kemendikbud.

BIODATA PENULIS

Nama                               : Sudirman,  S.Pd.SD

NIP                                   : 19640105 198608 1 001

Tempat, Tgl Lahir          : Brebes, 5 Januari 1964

Pangkat/Gol                   : Pembina / IV A

Unit Kerja                       : SD Negeri Cimunding 01 UPT Dinas Pendidikan Kec. Banjarharja,   Kab. Brebes




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *