PTK SMP Bahasa Indonesia Keterampilan Menulis Tipe STAD

UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS BAHASA INDONESIA MELALUI METODE COOPERATIVE LEARNING TIPE STAD

sukardi

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk meningkatkan prestasi pembelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan penerapan metode Cooperative Learning diharapkan dapat meningkatkan keterampilan menulis Bahasa Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan subjek penelitian peserta didik  kelas VIII E SMP Negeri 2 Cilongok. Penelitian ini difokuskan pada penerapan Metode Cooperative Learning Tipe STAD di kelas VIII E. Data yang diperoleh melalui observasi (pengamatan), angket, wawancara, dokumen serta tes. Penelitian tindakan kelas ini terlaksana dalam 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis Bahasa Indonesia berhasil dengan baik. Hal ini terlihat pada perubahan kegiatan pembelajaran di kelas. Pada siklus 1 siswa masih terlihat malu, canggung dan masih ada yang kurang memperhatikan penjelasan guru. Pada siklus 2, tampak peserta didik lebih berani untuk bertanya dan menyampaikan pendapatnya. Peningkatan prestasi belajar ditunjukkan dengan keaktifan peserta didik, juga ditunjukkan dengan ketuntasan belajar secara klasikal naik dari 81.25 % menjadi 90.63 %, sedangkan rata-rata prestasi belajar siswa naik dari 82,94 pada siklus 1 menjadi 85.03 pada siklus 2.

Kata Kunci    :  Ketrampilan Menulis, Cooperative Learning, STAD.

 

PENDAHULUAN

Lembaga pendidikan dikatakan berhasil apabila hasil belajar peserta didik memuaskan. Seorang pendidik juga akan bangga apabila peserta didik hasil belajarnya baik karena barometer keberhasilan peserta didik adalah hasil belajar. Kenyataan di lapangan sekarang hasil belajar peserta didik belum memuaskan. Ini menunjukkan bahwa kemampuan belajar peserta didik rendah. Saat proses belajar mengajar tampak tidak bersemangat, kemampuan bertanya rendah. Dalam kegiatan kelompok peserta didik kurang aktif, tidak mau mengemukakan pendapat, kerja sama kurang dan pasif.

Peneliti berkeinginan dalam proses pembelajaran guru banyak melibatkan peserta didik dan mengubah cara belajar konvensional dengan model pembelajaran kooperatif, serta tersedianya fasilitas pembelajaran yang memadai. Kenyataan yang terjadi masih banyak guru yang menggunakan model ceramah dan menganggap bahwa dirinya adalah super power.

Berdasarkan analisis dan masalah di kelas VIII E  SMP Negeri 2 Cilongok, Kabupaten Banyumas, peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut:

“Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar peserta didik pada pembelajaran  Bahasa Indonesia setelah mengikuti metode Cooperative Learning tipe STAD di kelas VIII E SMP Negeri 2 Cilongok?”

Dalam penelitian ini peneliti menetapkan tujuan sebagai berikut:

  1. Meningkatkan prestasi belajar peserta didik pada pembelajaran bahasa Indonesia melalui cooperative learning.
  2. Meningkatkan keaktifan peserta didik pada pembelajaran bahasa Indonesia melalui cooperative learning.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat anatara lain:

  1. Meningkatkan peran serta aktif peserta didik dalam proses pembelajaran.
  2. Meningkatkan prestasi belajar dan keaktifan peserta didik.
  3. Menumbuhkan minat guru dalam melakukan inovasi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan di SMP Negeri 2 Cilongok.

KAJIAN  PUSTAKA

Hakikat Menulis

         Menurut Tarigan (2008: 3) menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini, penulis haruslah terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata. Keterampilan menulis ini tidak akan datang secara otomatis, tetapi harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur.

Hakikat Keterampilan Menulis

Menurut Morsey (dalam Tarigan, 2008: 4) keterampilan menulis merupakan  suatu ciri dari orang yang terpelajar atau bangsa yang terpelajar. Sehubungan dengan hal ini, ada seorang penulis yang mengatakan bahwa “menulis” dipergunakan untuk  melaporkan/memberitahukan, dan mempengaruhi, dan maksud serta tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh orang-orang yang dapat menyusun pikirannya dan mengutarakannya dengan jelas. Kejelasan ini bergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata, dan struktur kalimat.

Hakikat Bahasa Indonesia

 Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara  menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan nasional.(Sisdiknas, 2003: 23). Bahasa Indonesia merupakan sarana komunikasi dan sastra merupakan salah satu hasil budaya yang menggunakan bahasa sebagai sarana kreativitas. Sementara itu, bahasa dan sastra Indonesia seharusnya diajarkan kepada siswa melalui pendekatan yang sesuai dengan hakikat dan fungsinya. Pendekatan pembelajaran bahasa yang menekankan aspek kinerja atau keterampilan berbahasa dan fungsi bahasa adalah pendekatan komunikatif,  sedangkan pendekatan pembelajaran sastra yang menekankan apresiasi sastra adalah pendekatan apresiasif. (Depdiknas: 2007)

 

Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

  1. Pengertian Cooperative Learning

             Cooperative Learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim.

            Menurut Johnson (dalam Isjoni: 2007: 15) Cooperative Learning mengandung arti  bekerja bersama  dalam mencapai tujuan bersama. Dalam kegiatan kooperatif, siswa mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh anggota kelompok. Belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok itu. Prosedur cooperative learning didesain untuk mengaktifkan siswa melalui inkuiri dan diskusi dalam kelompok kecil yang terdiri atas 4-6 orang.

  1. Tipe Pembelajaran Kooperatif ( Cooperative Learning)

Student Teams Achievement Division (STAD)

Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelopmpok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis dan penghargaan kelompok.

Menghitung skor individu menurut Slavin (dalam Trianto, 2007: 55-56) untuk memberikan skor perkembangan individu dihitung seperti pada Tabel 2.2 : Penghitungan Skor Perkembangan

Nilai Tes Skor Perkembangan
Lebih dari 10 poin di bawah skor awal

10 – 1 poin di bawah skor awal

Skor awal sampai 10 poin di atas skor awal

Lebih dari 10 poin di atas skor awal

Nilai sempurna (tanpa memperhatikan skor awal)

5 poin

10 poin

20 poin

30 poin

 

30 poin

Menghitung Skor Kelompok

Skor kelompok ini dihitung dengan membuat rata-rata skor perkembangan anggota kelompok, yaitu dengan menjumlah semua skor perkembangan yang diperoleh anggota kelompok dibagi dengan jumlah anggota kelompok. Sesuai dengan rata-rata skor perkembangan kelompok, diperoleh kategori skor kelompok seperti tercamtum pada tabel berikut:

Tabel 2.3: Tingkat Penghargaan Kelompok

Rata-rata Tim Predikat
0 ≤  Nilai  ≤ 5

5 ≤  Nilai ≤ 15

15 ≤  Nilai  ≤ 25

25 ≤  Nilai  ≤ 30

Tim baik

Tim hebat

Tim super

Pemberian hadiah dan pengakuan skor kelompok setelah masing-masing kelompok memperoleh predikat, guru memberikan hadiah/penghargaan kepada masing-masing kelompok sesuai dengan predikatnya.

Kerangka Pikir

Pada kondisi awal hasil belajar peserta didik rendah dan mutu pembelajaran masih rendah juga. Selanjutnya pada rencana tindakan siklus 1 dengan menerapkan model STAD dan media pembelajaran yang baik siswa akan mengalami peningkatan mutu pembelajaran. Jika belum berhasil maka optimalisasi model STAD akan meningkatkan mutu pembelajaran dan sekaligus meningkatkan minat belajar peserta didik terhadap mata pelajaran Bahasa Indonsia.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian pustaka di atas, maka dapat diasumsikan hipotesis tindakannya adalah dengan menerapkan metode Cooperative Learning tipe STAD dalam pembelajaran Bahasa Indonesia,  maka prestasi belajar peserta didik mata pelajaran Bahasa Indonesia  akan meningkat.

METODOLOGI  PENELITIAN

            Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII E SMP Negeri 2 Cilongok, Kabupaten Banyumas, tahun pelajaran 2014/2015. Objek penelitian ini adalah kegiatan selama proses pembelajaran dan hasil belajar. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Langkah-langkah penelitian yang akan dilaksanakan mengacu pada model Kemis dan Mc. Taggart (dalam Bangun, 2013: 20) yaitu setiap siklus tindakan meliputi perencanaan (planning), melakukan tindakan (acting), mengamati (observing), dan refleksi (reflecting).

Peneliti mendesain atau merancang pembelajaran Bahasa Indonesia. Peneliti sebagai guru yang mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai pelaksana tindakan kelas (PTK) sedangkan guru lain sebagai kolaborator yang mengamati jalannya KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Waktu yang digunakan untuk menyelesaikan penelitian tindakan kelas ini adalah pada bulan Februari 2015 sampai dengan Juni 2015.

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: pengamatan, tes /kuis, dokumentasi, angket dan wawancara. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Seorang siswa telah tuntas belajar apabila telah mencapai skor 75% atau nilai 75, dan kelas disebut tuntas belajar apabila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 75%.

Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan  terdiri atas minimal dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu: planning (perencanaan), acting (pelaksanaan tindakan), observing (pengamatan), dan reflecting (refleksi).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Pembelajaran Sebelum Pelaksanaan

Sebelum pembelajaran pada siklus 1 dilaksanakan, guru menjelaskan tentang pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) dengan tipe STAD dan  cara penilaian kepada  peserta didik. Kemudian peserta didik dibagi menjadi 8 kelompok, tiap kelompok terdiri atas 4 orang peserta didik. Jumlah peserta didik ada 32  orang, sehingga ada 8 kelompok.

  1. Pelaksanaan Tindakan Siklus 1
  2. Perencanaan

Pada siklus ini, kompetensi dasar yang  direncanakan akan dikuasai oleh peserta didik adalah Menulis teks berita secara singkat, padat, dan jelas. Indikator materi yang berkaitan dengan kompetensi ini yang akan didiskusikan oleh 8 kelompok

  1. Deskripsi Data Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan pada siklus 1  pertemuan pertama dimulai hari Selasa, 10 Maret 2015. Setiap pertemuan terdiri 2 jam pelajaran selama 80 menit. Secara rinci pelaksanaannya sebagai berikut:

  1. Pembukaan

Pelaksanaan pembelajaran diawali dengan presensi kelas, diteruskan dengan guru menayangkan dan menjelaskan tujuan pembelajaran. Guru menjelaskan cara kerja pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD. Guru memberikan apersepsi dan motivasi dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Peserta didik dibagi dalam kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4 peserta didik. Guru memberikan satu set topik kepada masing-masing kelompok yang harus dikerjakan oleh peserta didik.

  1. Inti

Peserta didik berdiskusi dan menyusun bahan untuk presentasi.

Guru memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan diskusi kelompok. Guru membimbing peserta didik dalam mengerjakan tugas kelompok. Peserta didik membuat laporan hasil diskusi kelompok, dan melakukan presentasi secara kelompok dalam diskusi kelas. Guru bersama peserta didik bersepakat untuk meluruskan pemahaman materi menulis teks berita yang didiskusikan. Guru memberikan apresiasi terhadap peserta didik yang berani menyampaikan pendapatnya.

  1. Penutup

Penutup pembelajaran siklus 1 dilaksanakan pada pertemuan ke-2. Peserta didik mengerjakan kuis secara individu dalam waktu 20 menit. Penilaian kuis dilakukan bersama-sama dengan peserta didik dan guru memberikan pedoman penilaiannya. Selain itu guru juga memberikan lembar penilaian untuk menghitung poin peningkatan individu dan menentukan nilai kelompok.

  1. Hasil Refleksi

Berdasarkan hasil pengamatan, hasil analisis, hasil angket dan hasil wawancara informal dengan peserta didik, pada siklus 1 diperoleh refleksi pembelajaran sebagai berikut:

  1. Peserta didik kelihatan belum begitu paham dengan tugas-tugas yang diberikan dalam pembelajaran kooperatif karena mereka biasa pasif dalam setiap KBM. Mereka bingung ketika harus menerangkan kepada kelompok lain dalam diskusi kelas, sebagian besar mereka hanya membacakan materi.
  2. Peserta didik yang pandai terlihat menguasai jalannya diskusi, karena mereka memahami apa yang dikehendaki guru.
  3. Kurangnya buku sumber yang dipakai peserta didik, karena hanya sebagian kecil yang memiliki buku Materi Belajar, selain buku paket Bahasa Indonesia. Sebagian dari mereka hanya memiliki buku LKS.
  4. Peserta didik memerlukan bimbingan dan motivasi individu dan kelompok, sehingga guru bahasa Indonesia dan kolaborator ikut membantu membimbing peserta didik dalam diskusi.
  5. Secara klasikal, peserta didik yang tuntas belajar 81,25 %, sehingga belum mencapai ketuntasan kelas sebanyak 85 %.
  6. Prestasi rata-rata peserta didik 82.94, sehingga sudah mencapai rata-rata 75.
  7. Dari 8 kelompok, sudah berhasil meraih penghargaan. Mereka belum puas karena belum maksimal.
  8. Pelaksanaan Tindakan Siklus 2
  9. Perencanaan

Pada siklus 2 ini, materi yang akan dikuasai dan didiskusikan oleh peserta didik adalah tentang Menulis slogan/poster untuk berbagai keperluan dengan pilihan kata dan kalimat yang bervariasi serta persuasi.

  1. Deskripsi Data Pelaksanaan Tindakan

Siklus 2 ini dilaksanakan 2 minggu atau 3 pertemuan yaitu pada tanggal 24 Maret 2015 sampai dengan 14 April 2015. Deskripsi pembelajaran pada siklus 2

  1. Observasi (Pengamatan)

Pada siklus ke-2 dengan materi Menulis slogan/poster  untuk berbagai keperluan dengan pilihan kata dan kalimat yang bervariasi, serta persuasi. Setelah guru menjelaskan materi slogan/poster secara garis besar, kemudian peserta didik berdiskusi dalam kelompok. Peserta didik sudah tidak bingung lagi. Guru tidak sesibuk siklus 1. Guru memantau proses diskusi ke-8 kelompok dan diskusi kelas. Peserta memahami arti pentingnya kerja sama untuk meraih prestari belajar dalam diskusi kelompok. Mereka memiliki rasa saling ketergantungan di antara anggota kelompok. Saat diskusi kelompok saling memberikan masukan materi yang akan dipresentasikan dalam diskusi kelas. Setiap kelompok merasa senang karena dapat mempresentasikan di depan dalam diskusi kelas.

Akhir dari siklus 2 ini adalah dengan pemberian kuis atau tes. Sesudah selesai mengerjakan, guru langsung mencocokan hasil pekerjaan mereka. Kemudian menghitung sumbangan mereka ke kelompok dan menghitung penghargaan kelompok. Semua peserta didik senang karena semua kelompok berhasil memperoleh penghargaan kelompok. Untuk kelompok C dan E  memperoleh penghargaan Tim Baik. Kelompok  A, B, D, F, H memperoleh penghargaan Tim Hebat, sedangkan kelompok G mendapat penghargaan Tim Super. Kemudian untuk ketuntasan belajar kelas juga naik mencapai 90,63 %.

  1. Hasil Refleksi

Alokasi waktu untuk setiap komponen pembelajaran sudah tepat, sesuai dengan perencanaan. Preserta didik tidak canggung lagi dalam pembelajaran ini, baik dalam diskusi kelompok maupun diskusi kelas. Peserta didik kelihatan senang dalam melaksanakan pembelajaran dan tipe STAD. Kerja sama dan tanggung jawab peserta didik  dalam diskusi semakin hidup. Ketergantungan antarpeserta didik dalam kelompok juga sangat nampak. Peserta didik bersemangat karena mereka tidak ingin kelompoknya mendapat predikat jelek. Semangat belajar ini ditunjukkan banyaknya peserta didik yang tuntas belajar mencapai 90,63 %. Rata-rata prestasi belajar peserta didik naik dari 82,94 menjadi 85,03 berarti melebihi target rata-rata prestasi peserta didik 75,00.

        Berdasarkan kriteria ketuntasan belajar secara klasikal yang mencapai  90,63 %, dan rata-rata nilai yang dicapai peserta didik adalah 85,03 maka penelitian tindakan kelas sudah memenuhi target.

Pembahasan

Pengamatan kepada peserta didik  tentang minat dan prestasi belajar dilaksanakan sebelum pembelajaran, kemudian dilanjutkan sosialisasi tentang Cooperative Learning dengan tipe STAD. Setelah dilakukan apersepsi, peserta didik dibagi dalam kelompok yang terdiri atas 4 peserta didik. Pada siklus 1, peserta didik masih terasa asing dengan metode Cooperative Learning melalui tipe STAD. Peserta didik terlihat bingung. Namun dengan bimbingan guru yang telaten dan serius, akhirnya peserta didik dalam mengikuti pembelajaran dengan baik. Setelah peserta didik dapat merasakan penerapan metode cooperative learning, peserta didik terlihat senang dengan tipe STAD. Hal ini ditandai dengan kerja sama dalam kelompok.

Pada siklus 2 ini, aktivitas peserta didik secara individu maupun kelompok tampak meningkat. Indikator peningkatan aktivitas pembelajaran diketahui dari  serius dalam mengerjakan tugas dan  semangat saat diskusi kelompok. Melalui kerja sama yang baik dan kompak, mereka ingin agar nilai individu naik untuk dapat menyumbangkan kepada kelompoknya, sehingga penghargaan kelompok juga menjadi baik.

Dalam penelitian ini, penghargaan kelompok yang diperoleh dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel  10 : Penghargaan kelompok

NO NAMA KELOMPOK SIKLUS 1 SIKLUS 2
1 A Tim Hebat Tim Hebat
2 B Tim Hebat Tim Hebat
3 C Tim Hebat Tim Baik
4 D Tim Hebat Tim Hebat
5 E Tim Hebat Tim Baik
6 F Tim Hebat Tim Hebat
7 G Tim Hebat Tim Super
8 H Tim Super Tim Hebat

Berdasarkan tabel di atas, kegiatan proses belajar mengalami kemajuan dengan ditandai dengan perkembangan ketuntasan belajar yang mencapai 90,63 % pada siklus 2. Kemudian rata-rata prestasi belajar peserta didik juga naik dari  82,94 menjadi 85,03. Pada siklus 2 ini semua kelompok  mendapatkan penghargaan yaitu kelompok C dan E dari Tim Hebat menjadi Tim Baik mengalami penurunan, kelompok H dari Tim Super menjadi Tim Hebat, kelompok A, B, D, dan F  tetap Tim Hebat, sedangkan  kelompok G dari Tim Hebat menjadi Tim Super pada siklus 2.

            Berdasarkan wawancara informan  dengan peserta didik, Pembelajaran bahasa Indonesia dengan metode Cooperative Learning dengan tipe STAD pada umumnya positif. Peserta didik merasa senang, aktivitas pembelajaran tidak tegang tetapi santai. Peserta didik berani untuk mengemukakan pendapatnya dan tumbuh rasa solidaritas.

Keberhasilan proses pembelajaran dengan metode Cooperative Learning dapat dilihat dalam diagram di bawah ini.

sukard

Gambar 3 : Diagram prestasi belajar pseserta didik

sukar

Gambar 4 : Diagram ketuntasan belajar secara klasikal

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menerapkan metode Cooperative Learning tipe STAD dapat meningkatkan prestasi pembelajaran. Hal ini dibuktikan dengan semakin kooperatifnya para peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia sejak siklus 1 hingga siklus 2. Di samping itu kooperatifnya peserta didik  dalam pembelajaran juga berdampak pada prestasi belajar peserta didik.

Ketuntasan belajar secara klasikal naik secara signifikan yaitu pasa siklus 1  sebesar 71.88 % menjadi 81.25 %iklus 2. Nilai rata-rata prestasi belajar  naik yaitu pada siklus 1 sebesar 82.94 menjadi 85.03 pada siklus 2. Peserta didik tampak senang dan berani mengemukakan pendapatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anita Lie. 2008. Cooperative Learning. Jakarta:  Gamedia.

Depdiknas. 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2007. Model Silabus dan RPP bahasa Indonesia. Jakarta: Depdiknas.

Isjoni. 2007. Cooperative Learning. Bandung: Alfabeta.

Slavin. 2009. Cooperative Learning. Bandung: Nusa Indah.

Suharsimi  Arikunto. (2010). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Tarigan. 2008. Menulis sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Tim. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontruktivitik. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Zaenal Aqib. 2013. Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif).  Bandung: Yrama Widya.

Akhadiah dkk. 1998. Hakikat Keterampilan Menulis. Diakses tanggal 27 Januari 2015 dari (http://bahasa.kompasiana.com/2012/03/25/hakikat-keterampilan-menulis-449101.html)

Biodata  :

Nama               : Sukardi, S.Pd.

Mapel              : Bahasa Indonesia

Sekolah           : SMP Negeri 2 Cilongok, Banyumas




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *