http://www.infopasti.net/meningkatkan-kompetensi-guru-dalam-mengelolah-administrasi-kelas-melalui-supervisi-klinis-pada-guru-di-sdn-widarapayung-wetan-01-binangun-cilacap/

PTS SD Guru Mengelola Administrasi Kelas Melalui Supervisi Klinis

MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU DALAM MENGELOLAH ADMINISTRASI KELAS MELALUI SUPERVISI KLINIS PADA GURU DI SDN WIDARAPAYUNG WETAN 01 BINANGUN CILACAP

sumarno

Abstract

The purpose of this research is to know utuk teacher competence in managing the administration of clinical supervision in the classroom through teacher at SDN Widarapayung Wetan 01 first academic year 2014/2015. To achieve these objectives the efforts made to improve the quality of education SDN Widarapayung Wetan 01, In an effort to improve the quality of education, teacher competence is one very important factor. Teacher competencies include pedagogical competence, personal competence, social competence and professional competence. Efforts to improve teacher competence can be done by optimizing the role of head stsekolah, as: educators, managers, administrators, supervisors, leaders, creators and entrepreneurs working climate. The research method is the module cycle digunakanan Kemmis and Taggart on top of action planning, implementation of action, observation, and reflection. The results obtained are in the first cycle has not been able to finish well. The results obtained in the first cycle if categorized both 48% and 55% less category. and therefore in order to enhance the ability of teachers to manage classes conducted on the second cycle is 100% is quite good. While on the second cycle in a teacher’s ability to manage class administration through clinical supervision has increased.

Kata Kunci: Kompetensi guru; peran kepala sekolah; supervisi klinis.

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklaq mulia sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara demokratis serta bertanggung jawab (UU No. 20 Tahun 2003:7. dalam Depdiknas, 2007).

Sehubungan dengan keluarnya UU No.20 Tahun 2003 Tentang sistem Pendidikan Nasional Kemudian disusul Peraturan pemerintah No.19 Tahun 2005 Tentang Standart Nasional Pendidikan (SNP) khususnya pasal 57, supervisi manajerial dan akademik dilakukan secara teratur dan berkesinambungan oleh Kepala Sekolah dan Kepala Satuan Pendidikan.

Berdasarkan ketentuan tersebut di atas, untuk mengetahui daya serap seorang guru dalam mengelolah administrasi kelas. Administrasi kelas sebagai cermin dalam pendidikan atau proses belajar mengajar. Oleh sebab itu guru harus di supervisi manejerial dalam pengelolaan administrasi kelas.

Merujuk pada hal-hal di atas kepala sekolah di harap menilai kompetensi guru dalam mengelolah kelas. Binaan kepala sekolah SDN Widarapayung Wetan 01 terdapat 11 guru, 80 % guru masih kebingungan untuk mengelolah administrasi kelas, apalagi administrasi kelas siswa kelas I, kelas II, dan kelas III yakni pembelajaran yang berdasarkan tematik. Pembelajaran tematik guru masih kebingungan untuk cara membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan persiapan harian 20 % guru sudah menguasai dalam mengelolah kelas.

Berdasarkan studi awal guru ada beberapa administrasi kelas yang masih belum terselesaian dengan sempurna. Oleh sebab itu alternatif tindakan yang dilakukan oleh kepala sekolah membina guru itu mampu untuk mengelolah kelas dengan baik melalui pembinaan kepala sekolah dan setiap bulan ada supervisi menejerial.

Tujuan pembinaan kepala sekolah dan supervisi klinis menjadi harapan sekolah menjadi lebih baik. Pendekatan supervisi klinis (Clinical approach) diharapkan menjadi acuan kegiatan fungsi pembinaan, pemantauan, dan penilaian terhadap guru dalam melaksanakan tugas di kelas.

KAJIAN PUSTAKA

  1. Kompetensi Guru

            Di dalam PP RI No. 19 tahun 2005 tentang SNP pada apasal 28 ayat 3 disebutkan ada 4 dimensi kompetensi guru, yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional (BSNP, 2005). Kompetensi pedagogik adalah tuntutan agar guru memahami metodik didaktik, memiliki perangkat pembelajaran termasuk menyusun melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Kompetensi kepribadian guru memiliki akhlakul kharimah, dapat diteladani. Kompetensi profesional adalah menguasai mata pelajaran yang akan disampaiakan kepada siswa dan menguasai administrasi untuk mengajar. kopetensi soisal adalah tuntutan berkomunikasi dengan baik. Hal terlihat pada tabel berikut.

1

Gambar 1: Kompetensi guru (BSNP,2005)

  1. Supervisi Klinis

            Klinis dalam supervisi dapat diartikan sebagai kolegial, kolaboratif memiliki keterampilan pelayanan dan perilaku etis, telah menjadi imperative dalam melaksanakan supervisi klinis (Sahertia, 1990:58). Siklus supervisi yang secara klasikal ada 8 macam tahapan klinis yaitu (1) meletakkan hubungan yang baik; (2) merencanakan bersama guru; (3) merencanakan kegiatan supervisi; (3) megobservasi; (4) menganalisis; (5) menganalisis data hasil observasi; (6) merencanakan percakapan; (7) mengadakan percakapan; dan (8) memperbaiki rencana (Cogan dalam Sahertia, 1990:59).

            Dari 8 macam tahapan supervisi klinis tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut.

  • Meletakkan hubungan yang baik. Bahwa antara kepala sekolah dan guru terjalin hubungan harmonis, saling menyatu dengan yang lain dan berkomunikasi secara lancar.
  • Merencanakan bersama guru. Bahwa sebelum pelaksanaan observasi atau penilaian administrasi kelas diadakan pertemuan untuk menyepakati untuk mengidentifikasi permasalahan. Lalu membuat perencanaan observasi (tindakan) bersama-sama tentang alat penilaian administrasi kelas.
  • Merencanakan kegiatan observasi. Supervisi klinis membuat perencanaan tindakan yang akan diperbaiki tentang penilaian.
  • Supervisi klinis menindaklanjuti rencana menjadi tindakan kegiatan berupa pengamatan dalam hal ini masalah penilaian.
  • Menganalisis data dari observasi. Dapat diartikan menyusun refleksi dan lapoaran hasil observasi tentang penilaian.
  • Merencanakan percakapan. Merencanakan diskusi, tanya jawab tentang penyunan adminstrasi kelas yang terdapat RPP, silabus, persiapan mengajar, Bank Data Siswa (BDS), program semester, buku perkembangan anak didik, buku keuangan, buku tamu, buku BP, buku kecakapan hidup untuk siswa, dan hasil penilaian untuk siswa.
  • Mengadakan percakapan. Tindakan percakapan antara kepala sekolah dan guru tentang penyusunan administrasi kelas.
  • Memperbaiki Rencana. Perbaikan rencana tindak tentang permasalahan penyusunan administrasi kelas, pensekoran, dan perbaiakan nilai bagi guru.

Berdasarkan penjelasan di atas, pendekatan supervisi klinis tersebut bersifat imperatif. Artinya ada unsur-unsur yang bersifat memerintah, memberikan komando, mempunyai memberikan komando, mempunyai hak memberi komando, bersifat menguatkan.

  1. Kompetensi Guru dalam Supervisi

            Menurut Sudjana (2008:8) kompetensi supervisi manajerial dan kompetensi penelitian pengembangan adalah (1) kompetensi supervisi manajerial adalah kemampuan kepala sekolah dalam melaksanakan pengawasan manajerial yakni menilai dan membina guru atau tenaga kependidikan sekolah dalam mempertinggi kualitas pengeloalaan dan administrasi kelas; (2) kompetensi penelitian dan pengembangan adalah kemampuan kepala sekolah dalam merencanakan dan melaksanakan penilaian serta menggunakan hasil-hasilnya untuk kepentingan peningkatan mutu pendidikan.

  1. Efektivitas Supervisi Klinis Terhadap Peningkatan Kemampuan Guru dalam pengelolaan Administrasi Kelas.

            Supervisi klinis terhadap kemampuan guru  antara lain (1) supervisi kinis kepala sekolah telah menentukan pokok permasalahan yang akan diobservasi  di sekolah. Observasi terfokus pada penyusunan administrasi kelas; (2) fokus supervisi klinis pada pengolahan kelas, mereka bisa termotivasi mengikuti pembinaan guna meningkatkan wawasan tentang tentang penyusunan administrasi kelas dan melaksanakannya; (3) guru diminta mengisi angket pemahaman pengalaman menyusun administrasi kelas, guru akan memiliki kesan seberapa keadaan mereka dibanding tuntutan isi angket; (4) posisi guru-guru pada tindakan observasi supervisi klinis sesungguhnya sambil belajar untuk memperbaiki kekurangan dalam meyusun administrasi kelas.

  1. Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kompetensi Guru

Agar proses pendidikan dapat berjalan efektif dan efisien, guru dituntut memiliki kompetensi yang memadai, baik dari segi jenis maupun isinya. Namun, jika kita selami lebih dalam lagi tentang isi yang terkandung dari setiap jenis kompetensi, –sebagaimana disampaikan oleh para ahli maupun dalam perspektif kebijakan pemerintah-, kiranya untuk menjadi guru yang kompeten bukan sesuatu yang sederhana, untuk mewujudkan dan meningkatkan kompetensi guru diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dan komprehensif.

Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006), terdapat tujuh peran utama kepala sekolah yaitu, sebagai : (1) educator (pendidik); (2) manajer; (3) administrator; (4) supervisor (penyelia); (5) leader (pemimpin); (6) pencipta iklim kerja; dan (7) wirausahawan;

Merujuk kepada tujuh peran kepala sekolah sebagaimana disampaikan oleh Depdiknas di atas, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas hubungan antara peran kepala sekolah dengan peningkatan kompetensi guru.

  1. Kepala sekolah sebagai educator (pendidik)

Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dan guru merupakan pelaksana dan pengembang utama kurikulum di sekolah. Kepala sekolah yang menunjukkan komitmen tinggi dan fokus terhadap pengembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolahnya tentu saja akan sangat memperhatikan tingkat kompetensi yang dimiliki gurunya, sekaligus juga akan senantiasa berusaha memfasilitasi dan mendorong agar para guru dapat secara terus menerus meningkatkan kompetensinya, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien.

  1. Kepala sekolah sebagai manajer

Dalam mengelola tenaga kependidikan, salah satu tugas yang harus dilakukan kepala sekolah adalah melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan profesi para guru. Dalam hal ini, kepala sekolah seyogyanya dapat memfasiltasi dan memberikan kesempatan yang luas kepada para guru untuk dapat melaksanakan kegiatan pengembangan profesi melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik yang dilaksanakan di sekolah, –seperti : MGMP/MGP tingkat sekolah, in house training, diskusi profesional dan sebagainya–, atau melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan di luar sekolah, seperti : kesempatan melanjutkan pendidikan atau mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang diselenggarakan pihak lain.

  1. Kepala sekolah sebagai administrator

Khususnya berkenaan dengan pengelolaan keuangan, bahwa untuk tercapainya peningkatan kompetensi guru tidak lepas dari faktor biaya. Seberapa besar sekolah dapat mengalokasikan anggaran peningkatan kompetensi guru tentunya akan mempengaruhi terhadap tingkat kompetensi para gurunya. Oleh karena itu kepala sekolah seyogyanya dapat mengalokasikan anggaran yang memadai bagi upaya peningkatan kompetensi guru.

  1. Kepala sekolah sebagai supervisor

Untuk mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran, secara berkala kepala sekolah perlu melaksanakan kegiatan supervisi, yang dapat dilakukan melalui kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode, media yang digunakan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (E. Mulyasa, 2004). Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui kelemahan sekaligus keunggulan guru dalam melaksanakan pembelajaran, tingkat penguasaan kompetensi guru yang bersangkutan, selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan dan tindak lanjut tertentu sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus mempertahankan keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran.
Jones dkk. sebagaimana disampaikan oleh Sudarwan Danim (2002) menyatakan bahwa “ menghadapi kurikulum yang berisi perubahan-perubahan yang cukup besar dalam tujuan, isi, metode dan evaluasi pengajarannya, sudah sewajarnya kalau para guru mengharapkan saran dan bimbingan dari kepala sekolah mereka”. Dari ungkapan ini, mengandung makna bahwa kepala sekolah harus betul-betul menguasai tentang kurikulum sekolah. Mustahil seorang kepala sekolah dapat memberikan saran dan bimbingan kepada guru, sementara dia sendiri tidak menguasainya dengan baik

  1. Kepala sekolah sebagai leader (pemimpin)

Gaya kepemimpinan kepala sekolah seperti apakah yang dapat menumbuh-suburkan kreativitas sekaligus dapat mendorong terhadap peningkatan kompetensi guru ? Dalam teori kepemimpinan setidaknya kita mengenal dua gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, seorang kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Kendati demikian menarik untuk dipertimbangkan dari hasil studi yang dilakukan Bambang Budi Wiyono (2000) terhadap 64 kepala sekolah dan 256 guru Sekolah Dasar di Bantul terungkap bahwa ethos kerja guru lebih tinggi ketika dipimpin oleh kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada manusia.
Kepemimpinan seseorang sangat berkaitan dengan kepribadian dan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin akan tercermin dalam sifat-sifat sebagai barikut : (1) jujur; (2) percaya diri; (3) tanggung jawab; (4) berani mengambil resiko dan keputusan; (5) berjiwa besar; (6) emosi yang stabil, dan (7) teladan (E. Mulyasa, 2003).

  1. Kepala sekolah sebagai pencipta iklim kerja

Budaya dan iklim kerja yang kondusif akan memungkinkan setiap guru lebih termotivasi untuk menunjukkan kinerjanya secara unggul, yang disertai usaha untuk meningkatkan kompetensinya. Oleh karena itu, dalam upaya menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif, kepala sekolah hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) para guru akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan menyenangkan, (2) tujuan kegiatan perlu disusun dengan dengan jelas dan diinformasikan kepada para guru sehingga mereka mengetahui tujuan dia bekerja, para guru juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut, (3) para guru harus selalu diberitahu tentang dari setiap pekerjaannya, (4) pemberian hadiah lebih baik dari hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan, (5) usahakan untuk memenuhi kebutuhan sosio-psiko-fisik guru, sehingga memperoleh kepuasan (modifikasi dari pemikiran E. Mulayasa tentang Kepala Sekolah sebagai Motivator, E. Mulyasa, 2003).

  1. Kepala sekolah sebagai wirausahawan

Dalam menerapkan prinsip-prinsip kewirausaan dihubungkan dengan peningkatan kompetensi guru, maka kepala sekolah seyogyanya dapat menciptakan pembaharuan, keunggulan komparatif, serta memanfaatkan berbagai peluang. Kepala sekolah dengan sikap kewirauhasaan yang kuat akan berani melakukan perubahan-perubahan yang inovatif di sekolahnya, termasuk perubahan dalam hal-hal yang berhubungan dengan proses pembelajaran siswa beserta kompetensi gurunya.

Sejauh mana kepala sekolah dapat mewujudkan peran-peran di atas, secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kompetensi guru, yang pada gilirannya dapat membawa efek terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

 

METODE PENELITIAN

  1. Rancangan Penelitian

            Penelitian ini menggunakan rancanganpenelitian tindakan sekolah yang dilakukan oleh kepala sekolah. Penelitian ini dilakukan karena ada guru yang belum menyusun administrasi kelas dengan baik. Hal tersebut dampak pada pencapaian hasil pbelajar siswa pada di kelas. permasalahan ini ditindak lanjuti dengan pertemuan sebagai fungsi supervisi klinis pada guru. Hasil ini diterapkan pada administrasi di kelas dengan cara mengajar pada masing-masing guru.

1). Tempat Penelitian

Lokasi tempat penulis melaksanakan penelitian adalah SD Negeri Widarapayung Wetan 01, Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap.

2). Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah guru SDN Widarapayung Wetan 01 Tahun pelajaran 2014/2015 yang berjumlah 11 guru. Data guru SDN Widarapayng Wetan 01 sebagai berikut,

Tabel 3.1 Daftr Nama Guru SDN Widarapayung Wetan 01

No Nama/NIP Jabatan Mengajar Kelas
1 SATIMIN, S.Pd.SD Kepala Sekolah Mapel PKn Kelas IV-VI
NIP. 19581224 197803 2 009
2 WARSINI, A.Ma.Pd Guru Kelas Kelas III
NIP. 19580513 197803 2 007
3 MUROKIBAH, A.Ma.Pd Guru Kelas Kelas II
NIP. 19590424 197907 2 001
4 Drs. SUMINO Guru Kelas Kelas IV
NIP. 19570104 198010 2 002
5 SOWO, S.Pd.SD Guru Kelas Kelas VI
NIP. 19610710 198201 2 020
6 NUR EKO S., S.Pd.SD Guru Kelas Kelas V
NIP. 19800306 200903 1 005
7 MARMAH, S.Pd.SD Guru Kelas Kelas I
NIP. –
8 EKA AFRIANTI RIANA, S.Pd.SD Guru SBK Mapel SBK
NIP. –
10 YUNIATI, S.Pd.I Guru PAI Mapel PAI
NIP. –
11 SYAIFUL APRIANA, S.Pd Guru Pendjas Mapel Olahraga
NIP. –

3). Waktu Penelitian

Penelitian tindakan sekolah ini diperkirakan akan dilaksanakan dalam waktu 1 bulan mulai bulan Juli 2014.

  1. Prosedur Penilaian

Prosedur yang dilaksanakan dalam penelitian tindakan sekolah ini berbentuk siklus yang akan berlangsung lebih dari satu siklus bergantung dari tingkat keberhasilan dari target yang akan dicapai, dimana setiap siklus bisa terdiri dari satu atau lebih pertemuan. Adapun prosedur penelitian yang dipilih yaitu dengan menggunakan model spiral dari Kemmis dan Mc Taggart (1998). Siklus model Kemmis dan Mc Taggart ini dilakukan secara berulang dan berkelanjutan.

Langkah-langkah pada modul siklus Kemmis dan Taggart yaitu sebagai berikut:

  1. Perencanaan tindakan
  2. Pelaksanaan tindakan
  3. Observasi
  4. refleksi.

Perencanaan tindakan

Tahap ini mencakup semua perencanaan tindakan seperti pembuatan administrasi kelas seperti RPP, silabus, persiapan mengajar, Bank Data Siswa (BDS), program semester, buku perkembangan anak didik, buku keuangan, buku tamu, buku BP, buku kecakapan hidup untuk siswa, dan hasil penilaian untuk siswa.

Dalam tahap ini penulis menetapkan seluruh rencana tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki praktik penyusunan administrasi kelas yaitu:

  • Memberikan pembinaan pada guru.
  • Memberikan contoh cara mengisi administrasi.
  • Menjelaskan administrasi kelas yang akan dikerjakan.
  • Memilih prosedur evaluasi penelitian.
  • Melaksanakan tindakan.
  • Menyiapkan administrasi kelas.
  1. Pelaksanaan Tindakan

Dalam tahap ini langkah-langkah pembelajaran dan tindakan mengacu pada perencanaan yang telah dibuat yaitu: Menyusun administrasi kelas yang terdiri atas RPP, silabus, persiapan mengajar, Bank Data Siswa (BDS), program semester, buku perkembangan anak didik, buku keuangan, buku tamu, buku Bimbingan Penyuluhan (BP), buku kecakapan hidup untuk siswa, dan hasil penilaian untuk siswa.

  1. Observasi

Pada tahap ini terdiri dari pengumpulan data serta mencatat kinerja guru pada saat pelaksanaan tindakan berlangsung. Observer bertugas mengamati kinerja guru dalam penyusunan administrasi kelas dengan mengacu pada lembar observasi.

Observasi ini dilakukan oleh peneliti yaitu dengan mengamati kinerja guru dalam penyusunan administrasi kelas. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah kinerja guru sudah sesuai dengan apa yang tercantum dalam lembar observasi atau tidak. Sehingga hasil observasi dapat diperbaiki pada siklus berikutnya.

  1. Refleksi

Refleksi merupakan pengkajian hasil data yang telah diperoleh saat observasi oleh peneliti, praktikan dan pembimbing. Refleksi berguna untuk memberikan makna terhadap proses dan hasil (perubahan) yang telah dilakukan. Hasil refleksi yang ada dijadikan bahan pertimbangan untuk membuat perencanaan tindakan dalam siklus selanjutnya yang berkelanjutan sampai administrasi kelas dinyatakan baik dan berhasil.

Peneliti akan melakukan refleksi diakhir penilaian kinerja guru dengan merenungkan kembali secara intensif kejadian atau peristiwa yang menyebabkan sesuatu yang diharapkan atau tidak diharapkan. Refleksi merupakan bagian yang sangat penting untuk memahami dan memberikan makna terhadap penyusunan administrasi kelas yang terjadi dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Mengecek kelengkapan data pengumpulan data yang terjaring selama proses tindakan.
  • Mendiskusikan dan pengumpulan data antara kinerja guru dalam penyusunan adinistrasi kelas, peneliti atau kepala sekolah (pembimbing) berupa hasil nilai kinerja guru dalam pembuatan/penyusunan administrasi kelas, hasil pengamatan, catatan lapangan, dan lain-lain.
  • Penyusunan rencana tindakan berikutnya yang dirumuskan dalam skenario pembelajaran dengan berdasarkan pada analisis data dari proses dalam tindakan sebelumnya untuk memperbaiki proses pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus I untuk menyusun tindakan yang akan dilakukan pada siklus II.
  1. Instrumen Penelitian
  2. Pedoman Observasi

Pedoman observasi yang dilakukan peneliti, untuk mengamati seluruh kinerja guru. Tujuan tindakan observasi adalah untuk memperoleh data kinerja guru dalam penyusunan administrasi kelas sehingga didapatkan hasil perubahan kinerja guru dalam penyusunan administrasi kelas.

  1. Pedoman Wawancara

Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Yang diwawancarai oleh peneliti adalah guru. Pedoman wawancara ini bisa mengenai kinerja guru yang telah dilaksanakan. Tujuan diadakannya wawancara adalah untuk memperoleh data verbal atau konfirmasi dari kinerja guru mengenai penyebab kesulitan dalam penyusunan administrasi kelas di SDN Widarapayung Wetan 01.

  1. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data melihat dari kinerja guru dalam menyusun administrasi kelas. Adapun kisi-kisi yang diambil data dalam penelitian ini adalah,

  1. Metode Analisis Data

Data yang sudah terkumpul disusun dalam tabel dan dan dinyatakan dalam presentase antara lain jumlah yang baik dan yang kurang baik. Adapun kriteria presentase jika tergolong baik di atas 70 %. Jika tergolong kurang di bawah 70 %.

HASIL PENELITIAN

Implementasi Supervisi Manajemen Sekolah pada Administrasi Kelas di SDN Widarapayung Wetan 01.

  1. Siklus I

Siklus I yang dilaksanakan pada hari Senin 12 Juli 2014. Pada awal ajaran baru sebelum proses pembelajaran dimulai. Sebelum awal penelitian diadakan rapat dan pembinaan dalam penyusunan administrasi kelas. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian penyusunan administrasi kelas. Dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap sebagai berikut:

  1. Perencanaan

Dalam tahap perencanaan ini, peneliti harus mempersiapkan semua pendukung maupun komponen pelaksanaan penelitian seperti:

  1. menetapkan hal yang dikerjakan oleh guru.
  2. menyiapkan hal yang akan disusun seperti perencanaan program tahunan, program semester, program RPP, dan silabus.
  3. mencermati administrasi yang di selesaikan
  4. memahami isi SK dan KD untuk menyusun program tahunan, program semester, program RPP, dan silabus.
  5. kepala sekolah melakukan pembinaan pada guru pada forum kemajuan kompetensi guru SDN Widarapayung Wetan 01.
  6. kepala sekolah melakukan pelatihan tentang penyusunan administrasi kelas.
  7. guru mengaji hasil forum pembinaan dan mengaji SK dan KD untuk menyusun RPP serta mengaji visi dan misi sekolah SDN Widarapayung Wetan 01.

Implementasi

Kegiatan yang dilakukan dalam implementasi yaitu sebagai berikut:

a).  Mendata nama-nama guru yang mengumpulakan hasil kinerjanya.

b). Tiap guru menyerahkan hasil kinerja kepada kepala sekolah.

c). Hasil pekerjaan guru tentang administrasi kelas, dikumpulkan di kepala sekolah. Kepala sekolah menyeleksi, menilai, dan mengevaluasi hasil kinerja guru.

d). Kepala sekolah mendata administrasi yang dikerjakan guru. Setelah mendata kepala sekolah mengevaluasi hasil kinerja guru.

e). Setelah mengevaluasi kinerja guru, kepala sekolah memasukan penilaian ke lembar instrumen yang sudah ditetapkan di bab III.

f). Kepala sekolah menganalisis hasil kinerja guru apakah guru tersebut tergolong baik atau masih kurang.

g) kepala sekolah memperesentasi hasil kinerja guru tentang penyusunan administrasi kelas.

Observasi

Kegiatan observasi berlangsung pada saat yang hampir bersamaan dengan kegiatan implementasi. Pada saat peneliti mengadakan pengamatan terhadap kinerja guru. Hasil pengamatan peneliti terhadap kinerja guru tentang penyusunan administrasi kelas pada siklus I yaitu sebagai berikut: pada ajaran baru penelitian ini berlangsung melukukan penelitian dan merencanakan administrasi kelas yang akan di ajarkan kepada anak didiknya pada tahun pelajaran 2014/2015. Penyusunan administrasi kelas disusun sebelum pelaksanaan pembelajaran. Penyusunan program sekolah diikuti oleh kepala sekolah, komite, dan guru melalui forum.

Refleksi

Hasil penelitian/observasi kinerja guru pada siklus I dapat digolongkan dalam kategori kurang. Oleh karena itu peneliti menyimpulkan bahwa ketidak berhasilan penyusunan administrasi kelas dengan waktu yang singkat pada siklus I disebabkan beberapa hal di bawah ini:

  1. Guru masih kurang berfikir kritis tentang keadaan siswa dan masih juga kurang mengaitkan kondisi siswa yang dialaminya serta lingkungan siswa.Waktu yang disediakan terlalu pendek. c.Guru masih kesusahan tentang menghitung jam efektif. d.Kendala dialami guru adalah tentang penyusunan program semester, program tahunan, dan RPP. e.Guru masih kurang memahami tentang SK dan KD dalam penyusunan RPP

Berdasarkan asumsi di atas, peneliti merancang pada tindakan padaa siklus II dengan tindak lanjut sebagai berikut:a). Melakukan pembinaan kepada guru. b).Guru mengaji tentang SK dan KD. c)Guru menafsir pengalaman yang dilakukan pembelajaran yang dilakukan sebelumnya.

  1. Siklus II
  2. Perencanaan

Siklus II dilaksanakan pada hari Senin, 19 Juli 2014. perbaikan pada sikulus I. Penelitian ini dilakukan awal masuk tahun ajaran baru 2014/2015. Pada tahap perencanaan ini, yaitu,

  1. mempersiapkan kinerja guru perbaikan dalam perbaikan siklus I. 2) menyiapkan instrumen penelitian yang dilakukan oleh kepala sekolah. 3) guru menyiapkan hal yang akan di evaluasi. 4) menyusun administrasi yang sudah ditetapkan pada awal forum yakni hal-hal yang dinilai dan dijelaskan pada bab III, dan . 5) mempersiapkan daftar nilai.
  2. Implementasi

Kegiatan yang dilakukan dalam implementasi sebagai berikut:a) Peneliti melakukan pembinaan pada guru. b) Guru mgerjakan administrasi kelas.c) Guru mengumpulkan hasil kinerja. d)Kepala sekolah menganalisis hasil kinerja guru e) kepala sekolah memberikan penilaian kepada guru.f) Kepala sekolah menganalisis hasil penilaian.g) Kepala sekolah memberikan hasil kinerja guru apakah guru tersebut tergolong baik atau masih kurang

  1. Observasi

Kegiatan observasi pada siklus II yaitu mengadakan pengamatan kinerja guru selama menyelesaikan administrasi kelas.

Hasil pengamatan selama menyelesaikan administrasi kelas pada tahun pelajaran 2014/2015 pada siklus kedua, banyak guru dapat menyelesaikan dengan sungguh-sungguh di banding pada siklus II.

  1. Refleksi

Hasil observasi tes pada siklus II dapat digolongkan dalam kategori baik. Oleh karena itu, peneliti menyimpulkan:

  1. Administrasi kelas sudah terkonsep oleh guru, guru bisa membayangkan atau membuat rancangan yang akan dikerjakan pada pengajaran di tahun pelajaran 2014/2015.
  2. Ada sebagian guru yang masih kurang memahami kondisi sekolah karena masih kurang percaya kepada anak didiknya apakah mampu atu tidak jika guru menyusun rancangan yang dibuat.
  3. Data Analisis Siklus I

Selanjutnya, peneliti menganalisis hasil penelitian dengan cara menyusun distribusi frekuensi dan mencari nilai rata-ratanya.

Tabel 4.1

Hasil Penilaian Kinerja Guru dalam Menyelesaikan  Administrasi Kelas pada

Siklus I

2

Hasil analisis kinerja guru dalam mengelolah kelas pada siklus I dikatogori baik adalah 48 %. Jika dikategorikan kurang adalah 52 %. Dari hasil analisis penelitian ini kepala sekolah melakukan tindakan pembinaan dan melakukan penilaian lagi pada siklus II.

  1. Data Analisis Siklus II

Selanjutnya, peneliti menganalisis hasil penelitian dengan cara menyusun distribusi frekuensi dan mencari nilai rata-ratanya.

3

Hasil analisis kinerja guru dalam mengelolah administrasi kelas pada siklus I dikatogori baik adalah 100 %. Jika dikategorikan kurang adalah 0 %. Hasil penelitian kemampuan guru tentang penyusunan administrasi kelas dikategorikan baik.

  1. Interpretasi

Berdasarkan analisis data tersebut, maka interpretasi yang dapat ditulis dari penelitian ini terhadap objek penelitian yaitu kemampuan guru tentang penyusunan administrasi kelas dikategorikan baik..

Kemampuan guru tentang mengelolah administrasi kelas pada siklus I dikatogorikan baik menghasilkan presentase 48 % dan dikategorikan kurang presentasenya adalah 52 % lalu diujicobakan pada siklus II. Adapun perubahan pada siklus II. Perubahan ini diperoleh melalui pembinaan guru kepada kepala sekolah dan pengawas TK/SD. Pada kelemahan siklus II perlu diperhatikan kelemahan yang ada pada siklus I. Kelemahan-kelemahan pada siklus I itu banyak kebingungan pada guru-guru di SDN Widarapayung Wetan 01. Alternatif yang dilakukukan oleh kepala sekolah dan pengawas adalah pembinaan individu pada guru.

Hasil kemampuan guru dalam mengelolah administrasi kelas pada siklus II adalah dapat dilihat dari hasil analisis dan mengunakan rumus presentase diperoleh 100% baik.

 

SIMPULAN DAN SARAN

  1. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan, kepala sekolah melakukan penelitian ini demi meningkatkan mutu pendidikan. Yang dinilai adalah administrasi kelas. Administrasi kelas yang disusun pada tahun pelajaran 2014/2015. Pada siklus I belum mampu menyelesaikan dengan baik. Hasil yang diperoleh pada siklus I jika dikategorikan baik 47 % dan kategori kurang 53 %.oleh sebab itu demi meningkatkan kemampuan guru dalam mengelolah kelas dilakukan pada siklus II adalah 100 % dikatakan baik. Sedangkan pada siklus II kemampuan guru dalam mengelolah administrasi kelas dengan melalui supervisi klinis  mengalami peningkatan.

         2. Saran

Beberapa kesimpulan di atas yang menunjukkan bahwa guru SDN Widarapayung Wetan 01 tahun ajaran 2014/2015 lebih meningkat dari tahun sebelumnya. Mengelolah administrasi kelas tidak hanya di awal pembelajaran, tapi juga bisa ada pembaharuan di tengah-tengah kegiatan. Apabila ada pembaharuan maka guru membuat hasil revisi yang dibuat pada awal ajaran baru. Secara keseluruhan guru sudah mampu menyusun administrasi kelasdengan baik. Berdasarkan hal tersebut maka saran yang dapat penulis sampaikan adalah hendaknya para pengajar lebih meningkatakan kompetensi sebagai guru.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.

Depdiknas. 2007. Pedoman Penilaian Hasil Belajar di Sekolah Dasar. Jakarta: Dirjen Manajemen SD dan Menengah

Kemmis, S. dan Mc. Taggart, R. 1988. The Action Research Planner. Victoria Dearcin University Press. .2007. Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta.

Suhertian dkk. 1990. Supervisi Pendidikan dalam Rangka Program In-service Education. Jakarta: Rineka Cipta RC.020.90

Sudjana. 1991. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Rineka Cipta.

NAMA                        : SUMARNO, S.Pd

NIP                              : 19611110 1980 12 2 005

PANGKAT/GOL       :  PEMBINA /IVa

JABATAN                  : PENGAWAS SEKOLAH MADYA

UNIT KERJA             : UPT DISDIKPORA KECAMATAN

                                        BINANGUN KABUPATEN CILACAP


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *