MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU DALAM MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS PAIKEM MELALUI “PKPC“ PADA GURU DI SEKOLAH BINAAN KECAMATAN GISTING TANGGAMUS LAMPUNG TAHUN 2015

 

BIODATA PENULIS

Nama               : DARYONO, M.Pd.

NIP                   : 197008201993081001

Pangkat, Gol.  : Pembina TK.I, IV/b

Jabatan            : Pengawas SD

Unit Kerja       : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung

 

ABSTRAK

Penelitian tindakan sekolah ini bertolak dari rendahnya kualitas rencana pelaksanaan pelajaran yang dimiliki guru pada sekolah binaan Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampug. Permasalahan tersebut diharapkan dapat diatasi melalui “PKPC” pendampingan kolaboratif dan peercoaching. Penelitian tindakan sekolah ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran berbasis paikem. Metode penelitian ini mengacu pada prosedur penelitian tindakan (action research) yang dilaksanakan dengan dalam tiga siklus selama enam pertemuan. Hasil dari tindakan melalui pendampingan kolaboratif dan peercoaching adanya peningkatan; (1) aktivitas guru pada siklus1 sangat baik dan baik 71%, cukup 29%, siklus 2 sangat baik dan baik 87,3%, cukup 12,7%, siklus 3 sangat baik dan baik 91,7%, cukup 9,3%; (2) hasil tes kompetensi guru dalam menyusun RPP siklus1 sangat baik dan baik 77,8%, cukup 22,2%, siklus 2 sangat baik dan baik 92,6%, cukup 7,4%; (3) siklus 2 sangat baik dan baik 70,37%, cukup 29,63%, siklus 3 sangat baik dan baik 85,2%, cukup 9,3%. Berdasarkan hasil penelitian tindakan dapat disimpulkan bahwa melalui “PKPC” pendampingan kolaboratif dan peercoaching dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis PAIKEM pada sekolah binaan SD Negeri 1 Campang, SD Negeri 2 Campang, SD Negeri 2 Purwodadi di Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampug.

 

Kata Kunci: Kompetensi Guru dalam Menyusun RPP, Paikem,  PKPC

 

PENDAHULUAN

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan salah satu standar yang harus dikembangkan adalah standar proses. Standar berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan. Standar proses ini berlaku untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah pada standar proses meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk ter­laksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

Bahwa proses pembelajaran harus berlangsung interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan merangsang aktivitas peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Proses pembelajaran yang demikian harus tercermin dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang didesain dan dilakukan guru. Dengan kata lain bahwa guru harus mendesain perencanaan pembelajaran sebaik-baiknya agar pembelajaran dapat terlaksana mencapai tujuan.

Namun kondisi demikian belum sepenuhnya tercapai pada seluruh sekolah binaan, hal ini berdasarkan hasil kepengawasan tahun lalu, pada pengamatan dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran guru kelas di sekolah binaan khususnya SD N 1 Campang, SD N 2 Campang, SD N 2 Purwodadi Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus   semester genap  tahun pelajaran 2014/2015 terlihat bahwa  perencanaan pelaksanaan pembelajaran belum mencerminkan pembelajaran PAIKEM dan RPP yang ada hanya sebatas copy paste sehingga kualitas RPP belum maksimal dan masih banyak yang tidak dapat diterapkan dalam pembelajaran. Kualitas RPP yang ada pada guru 3 sekolah binaan dalam kategori sangat baik 0%, baik 15% dan cukup 85%.

Berdasarkan beberapa hal di atas peneliti mencoba meningkatkan kemampan guru dalam merencanakan kegiatan pembelajaran pada semester ganjil  tahun pelajaran 2015/2016 dengan melaksanakan Penelitian Tindakan Sekolah melalui Pendampingan Kolaboratif dan Peerchoaching (PKPC) pada Guru Sekolah Dasar di Sekolah Binaan Kecamatan Gisting tahun 2015.

 

KAJIAN PUSTAKA

Kompetensi Guru

Mochtar Buchori (1994) dalam Barizi (2009:145) menyebutkan tiga pilar yang harus melekat pada profesional yang baik mengenai etos kerjanya. Pertama, keinginan untuk menjunjung tinggi mutu pekerjaan (job quality), ke dua, menjaga harga diri dalam melaksanakan, ke tiga keinginan untuk memberikan layanan masyarakat melalui karya profesionalnya.

Berdasarkan Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang Standar dan Kualifikasi Tenaga Pendidik sebagai berikut:

1.Kompetensi Paedagogik terdiri:

(1)Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik,moral, spiritual, sosial, kultural,emosional, dan intelektual;

(2)Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik;

(3)Mengembangkan kurikulumyang terkait dengan mata pelajaran yang diampu;

(4)Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik;

(5)Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran;

(6)Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki;

(7)Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik;

(8)Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar;

(9)Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran;

(10)Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

2.Kompetensi Kepribadian terdiri dari:

(1) Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia;

(2) Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlakmulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat;

(3) Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa;

(4) Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri;

(5) Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

3.Kompetensi Sosial terdiri dari:

(1) Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi;

(2) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat;

(3) Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman social budaya;

(4) Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain

4.Kompetensi Profesional terdiri dari :

(1) Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu;

(2) Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu;

(3) Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif;

(4) Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif ;

( 5)  Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran   

Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang standar proses mengisyaratkan bahwa guru diharapkan dapat mengembangkan perencanaan pembelajaran yang baik. Dalam permendiknas tersebut mensyaratkan agar pendidik pada satuan pendidikan  mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam  upaya  mencapai  Kompetensi  Dasar  (KD).  Setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, meaktivitas peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. RPP disusun berdasarkan KD atau subtema yang dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih.

Komponen RPP terdiri atas: Identitas Sekolah yaitu nama satuan pendidikan, Identitas Mata Pelajaran, Materi Pokok, Alokasi Waktu, Tujuan Pembelajaran, Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi; Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Media Pembelajaran, Sumber Belajar. Langkah-Langkah Pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup, Penilaian Hasil Pembelajaran.

Pembelajaran  PAIKEM

PAIKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, menurut Jauhar (2011:150) PAIKEM didefinisikan sebagai pendekatan mengajar (approach to teaching) yang digunakan bersama metode tertentu dan pelbagai media pengajaran yang disertai penataan lingkungan, sedimikian rupa agar proses pembelajaran menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

Sesuai pendapat Jauhar (2011:152) menyampaikan hal-hal yang penting yang harus diperhatikan dalam implementasi pendekatan PAIKEM yaitu:

1) Memahami sifat yang dimiliki siswa;

2) Memahami perkembangan kecerdasan siswa;

3) Mengenal siswa secara perorangan;

4) Memanfaatkan perilaku siswa dalam pengorganisasian belajar;

5) Mengmbangkan kemampuan berfikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah;

6) Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik;

7) Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar;

8) Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar; dan

9) Membedakan antara aktif fisik dengan aktif mental.

Dasar peralihan tersebut di atas sesuai dengan PP No. 19 tahun 2005 tentang Sandar Nasional Pendidikan, Pasal 19, ayat (1) yang berbunyi: “Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik unuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.

Pendampingan Kolaboratif

Pendampingan kolaboratif adalah salah satu bentuk pendampingan dalam pelaksanaan supervisi akademik. Menurut Sahertian, dalam BPG UPTD Disdik Provinsi Jabar (2005). Dalam melaksanakan supervisi akademik, ada tiga model pendampingan yang dapat digunakan, yaitu:

1) Pendekatan Langsung (Direktif);

2) Pendekatan Tidak Langsung (Non-direktif); dan

3) Pendekatan Kolaboratif.

 Peercoaching

Peercoaching adalah suatu metode pengembangan profesional untuk meningkatkan kemitraan  dan menyelesaikan suatu permasalahan yang dihadapi guru. Dalam peer coaching, para guru berbagi pengalaman mereka, saling memberikan masukan, dorongan, bersama-sama memperbaiki keterampilan mengajar, ataupun memecahkan masalah dalam kelas. Kinlaw (dalam Rush, Shelden, & Hanft, dalam Suhartanto, 2009).

Selanjutnya Menurut Robbins dalam Suhartanto (2009), peercoaching adalah suatu proses kepercayaan dimana dua atau lebih guru mitra yang professional bekerja bersama untuk merefleksikan praktik pembelajaran yang sedang dilakukan; memperluas, memperbaiki, dan membangun keterampilan baru; berbagi ide; mengajar satu sama lain, melakukan observasi kelas; atau memecahkan masalah di tempat kerja.

Sedangkan menurut Beavers dalam Suhartanto (2009), peercoaching adalah suatu proses dimana para guru bekerja sama untuk memperkaya kurikulum dan pedagogi dalam mata pelajaran (contohnya dengan pendekatan mata pelajaran dari sudut pandang multikultural) dan untuk membuat hubungan antara mata pelajaran (contohnya dengan mengeksplorasi tempat diaplikasikannya mata pelajaran). Dari pendapat Beavers tersebut bahwa peercoaching adalah suatu proses para guru bekerja sama bertujuan  untuk memperkaya kurikulum dan memperkaya cara mengelola pembelajaran (pedagogi) dalam mata pelajaran.

Tahapan peercoaching disingkat dalam kata GROW ME yang berarti Goal, Reality, Option, What Next, Monitoring, dan Evaluation. Tahapan ini dikembangkan oleh Ng Pak Tee. Penjelasan dari masing-masing tahapan adalah seperti berikut: Goal yaitu tujuan. Tahap ini guru  menyusun tujuan atau target yang diharapkan; Reality yaitu senyatanya. Tahap ini guru menganalisis kondisi nyata saat ini; Option yaitu pilihan, Tahap ini guru menentukan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan tindakan untuk dapat meraih tujuan; What’s Next atau Will  yaitu selanjutnya apa. Tahap ini guru menentukan tindakan-tindakan yang akan dilaksanakan dan melakukan tindakan untuk meraih tujuan; Monitoring  yaitu memonitor. Pada tahap ini guru mengecek atau mengamati tindakan-tindakan yang dilakukan dan kemajuannya; Evaluation yaitu evaluasi. Tahap ini guru melakukan refleksi dan melakukan evaluasi terhadap semua tindakan dan kinerja yang dihasilkan dalam kegiatan peercoaching.

Model-model Peercoaching

1.Mirror Coaching

Choach hanya mengumpulkan data yang diminta oleh guru mitra yang diobservasi. Setelah observasi, Choach memberikan data tersebut kepada guru mitra agar dianalisa. Ini merupakan akhir dari keterlibatan Choach.

2.Collaborative Coaching

Choach masih mengumpulkan data yang diminta oleh guru mitra, tetapi dalam tahapan setelah pertemuan (post-conference) Choach (coach) dan guru bersama-sama menganalisa data. Choach memandu guru mitra untuk melakukan refleksi diri (self-reflection) dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membantu guru menganalisa apakah tujuan pembelajaran telah tercapai atau belum dan  faktor-faktor yang menjadi penyebabkannya.

3.Expert Coaching

Dalam expert coaching seorang tenaga ahli berlaku sebagai Choach. Tenaga ahli tersebut dapat menjadi mentor yang bekerja semata-mata untuk guru baru pada suatu daerah. Tenaga ahli tidak terbatas hanya untuk mengumpulkan data yang diminta oleh guru mitra selama observasi tetapi juga membuat catatan observasi. Selama post-conference seorang mentor memandu dan memimpin diskusi.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian tindakan ini dirancang menggunakan 3 siklus dengan 6 kali pertemuan, yaitu:

(1) siklus pertama pertemuan pertama,

(2) siklus pertama pertemuan kedua;

(3) Siklus kedua pertemuan pertama,

(4) Siklus kedua pertemuan kedua,

(5) Siklus ketiga  pertemuan pertama,

(6) siklus ketiga pertemuan kedua, Tahapan kegiatan setiap siklus yang dilakukan yaitu; kegiatan perencanaan (planing), pelaksanaan (action), dan observasi (observasing).  Refleksi (reflection).

HASIL PENELITIAN

Hasil dari refleksi awal Kompetensi  Guru dalam menyusun RPP pada 3 SD binaan sebelum dilakukan tindakan pada siklus I, didapatkan tingkat kompetensi guru dalam menyusun RPP menunjukkan kompetensi guru dalam menyusun RPP berbasis PAIKEM sebelum dilaksanakan tindakan dalam kategri Baik sebanyak 15% dan Kategori Cukup 85% hal ini menunjukkan bahwa guru belum begitu baik dalam merencanaakan pembelajarannya.

Hasil Siklus 1

Dari hasil pengamatan aktivitas guru dalam kegiatan bahwa aktivitas peserta saat pelaksanaan pendampingan dicapai 37,0 % peserta sangat aktif, 34,1 % peserta aktif, 37,0% peserta cukup aktif. Hasil tes kompetensi guru dalam menyusun RPP pada siklus menunjukkan bahwa  11,1 %, sangat baik, 66% baik dan 22,2% cukup.

Hasil  Siklus 2 

Hasil pengamatan tentang aktivitas guru di dalam kegiatan pemdampingan kolaboratif dan  peer choaching bahwa aktivitas peserta saat pelaksanaan pendampingan adalah sebagi berikut: 54,2 % peserta sangat aktif, 33,1 % peserta aktif, 12,7 % peserta cukup aktif. Dari tes kompetensi guru dalam menyusun RPP 2 menunjukkan hasil 33,3% sangat baik, 59,3% baik, 7,4% cukup. Dari hasil penilaian produk RPP berbasis Paikem melalui Pendampingan Kolaboratif dan Peercoaching  menunjukkan kualitas RPP, sangat Baik 0%, baik 70,37%, cukup 29,63%.                               

Hasil Siklus 3

Hasil pengamatan tentang aktivitas guru di dalam kegiatan pemdampingan kolaboratif dan  peer choaching menunjukkan bahwa aktivitas peserta saat pelaksanaan pendampingan adalah 69,2 % sangat aktif, 21,5 % aktif, dan 9,3 %  cukup akrif.

Hasil penilaian produk RPP berbasis Paikem melalui pendampingan kolaboratif dan peercoaching menunjukkan bahwa telah mencapai 22,2% dalam kategori sangat baik dan 63,0% dalam kategori baik, sehingga telah mencapai 85,2 % guru mencapai kualitas RPP baik dan sangat baik.

 

PEMBAHASAN

Hasil pengamatan aktivitas Guru dalam pendampingan mengalami kenaikan. Data dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Keaktifan Guru dari Siklus 1, 2 dan 3

 

 

 

 

 

 

Data di atas dapat disajikan dalam bentuk diagram  berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari diagram di atas dapat kita lihat bahwa terjadi peningkatan aktivitas guru dalam mengikuti kegiatan pendampingan kolaboratif dan peercoaching.

Hasil tes kompetensi guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) pada siklus 1 dan 2 dikelompokkan dalam kategori sangat baik, baik, cukup dan kurang tertuang dalam Tabel 2 berikut.

 

 

 

 

 

Dari tabel dan diagram dapat disampaikan bahwa melalui pendampingan kolaboratif dan peercoaching meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis PAIKEM. Hasil penilaian produk RPP berbasis PAIKEM dari kondisi awal sebelum adanya tindakan dan setelah adanya tindakan siklus 1, dan 2 dapat ditunjukkan pada tabel berikut:

 

 

 

 

 

Sesuai data di atas baik berupa tabel maupun grafik menggambarkan bahwa semua komponen penelitian yaitu aktivitas guru saat pendampingan,  hasil tes kompetensi guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dari  satu siklus ke siklus berikutnya selalu mengalami perbaikan atau kualitasnya makin mengalami kenaikan. Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan metode pendampingan  kolaboratif dan peercoaching telah tepat.

Pendampingan kolaboratif sangat sesuai dengan pendidikan orang dewasa (andragogi) bagi guru. Pada pendampingan kolaboratif  menumbuhkan sifat kerja sama , sehingga guru merasa berkedudukan setara dengan pendamping. Hal ini menyebabkan peserta merasa senang dan dihargai, di samping itu dengan pendampingan kolaboratif  hambatan psykologis peserta untuk bisa berbuat menjadi hilang, maka jika ada guru yang belum jelas mereka tak malu dan tak sungkan untuk bertanya dengan pendamping.

Demikian juga penerapan metode peercoaching, terjadi suatu proses yaitu para guru bekerja sama yang bertujuan  memperkaya kompetensi guru dalam hal ini kompetensi dalam menyusun RPP berbasis PAIKEM. Dikaitkan dengan pendapat Kinlaw (dalam Rush, Shelden, & Hanft, dalam suhartanto (2009), bahwa Peercoaching adalah suatu metode pengembangan profesional untuk meningkatkan kemitraan  dan menyelesaikan suatu permasalahan yang dihadapi guru. Dalam peercoaching, berbagi pengalaman, saling memberikan masukan, bersama-sama memperbaiki kompetensi, maupun dalam memecahkan masalah pembelajaran.

Dengan demikian melalui peercoaching dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis PAIKEM sesuai hasil penelitian yaitu: kondisi awal sangat baik 0%, baik 15%, cukup 85%, kurang 0%; siklus 2 sangat baik 0 %; baik 70,37%, cukup 29,63%, kurang 0%; siklus 3 sangat baik 22,2%, baik 63%, cukup 14,8%, kurang 0%.

 

PENUTUP

Pendampingan Kolaboratif dan peercoaching mampu meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran berbasis paikem  pada Guru sekolah binaan SD N 1 Campang, SD N 2 Campang dan SD N 1 Campang Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus tahun 2015.

Saran yang dapat diberikan kepada Pengawas Sekolah antara lain: 1) Pengawas hendaknya selalu berusaha meningkatkan kualitas pembinaan kompetensi guru; 2) Pendampingan kolaboratif  dan  peercoaching dapat dijadikan salah satu cara para guru dalam berbagi pengalaman, saling memberikan masukan, bersama-sama memperbaiki kompetensi, maupun dalam memecahkan masalah pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Barizi, Ahmad. 2009. Menjadi Guru Unggul. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

BPG UPTD Diskdik Jabar. 2005. Supervisi Akademik, Jawa Barat: BPG UPTD Disdik.

Jauhar, Muhammad. 2011. Implementasi Paikem. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Kemendiknas. 2007. Permendiknas No. 16 Tahun 2017 tentang Standar dan Kualifikasi Tenaga Pendidik. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional

Kemendiknas. 2007. Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional.

Kemenpan dan RB. 2009. Jabatan Fungsional Guru Dan Angka Kreditnya. Jakarta: Kementerian  Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformas

2003. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.

2005. Peraturan pemerintah No. 19 Tahun 2005 Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: RI

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi pada Standar Proses, Jakarta: Kencana Prenada Group.

Suhartanto , Jamhari.  2009. Peer Coaching” Salah Satu Model Pembinaan Guru”. Jakarta:

http://www.temple.edu/lss/pdf/publications/pubs2009-5.pdf. akses Maret 2015.

Wardani. IG.AK. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.

 

 

 

 

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *