PTS SD SMP SMA Menyusun Rencana Kerja Sekolah Melalui Pembimbingan

UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH DALAM MENYUSUN RENCANA KERJA SEKOLAH MELALUI PEMBIMBINGAN DI GUGUS GAJAH MADA UPT DINDIKPORA KECAMATAN PUNGGELAN KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN  2015

krisno

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan kompetensi kepala sekolah dalam menyusun Rencana Kerja Sekolah melalui pembimbingan di Gugus Gajah Mada UPT Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kecamatan Punggelan Kabupaten Banjarnegara Tahun Pelajaran 2015/2016. Metode yang penulis gunakan adalah metode penelitian tindakan sekolah yang diprogramkan dalam dua siklus. Hasil penelitian tindakan sekolah ini, ini menujukan  adanya  peningkatan kompetensi kepala sekolah dari sebelum penelitian tindakan sekolah sampai akhir siklus yaitu; 1) Nilai rata- rata/ skor yang diperoleh kepala sekolah sebesar 44% sebelum penelitian; 2) Nilai rata- rata/ skor 59,3 pada siklus 1; 3) Nilai rata- rata/ skor 87,5 pada siklus 2 atau akhir siklus. Dari analisis data yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, Teknik Pembimbingan dapat meningkatkan Kompetensi Kepala Sekolah dalam menyusun Rencana Kerja Sekolah se-Gugus Gajah Mada UPT Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kecamatan Punggelan Kabupaten Banjarnegara Tahun Pelajaran 2015/2016..

Kata Kunci: Pembimbingan, kompetensi kepala sekolah,Rencana Kerja Sekolah,

PENDAHULUAN

Dalam Permendiknas Nomor 19 tahun 2007 tentang  Standar Pengelolaan menyebutkan bahwa  setiap sekolah harus menyusun Rencana Kerja Sekolah (RKS).  Ketentuan ini diperkuat juga melalui Peraturan Pemerintah nomor  17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan  Pasal 51, menyatakan bahwa satuan pendidikan usia dini, pendidikan dasar dan menengah  harus membuat kebijakan tentang perencanaan program dan pelaksanaannya secara transparan dan akuntabel.

Salah satu komponen Standar Pelayanan Minimum (SPM)  yaitu penyusunan Rencana Kerja Sekolah. Rencana Kerja Sekolah juga menjadi sumber informasi kebijakan untuk penyusunan program pengembangan pendidikan kabupaten/kota. Karena itulah, Rencana Kerja Sekolah menjadi bagian yang integral dalam penjaminan dan peningkatan mutu. Sekalipun kegiatan Rencana Kerja Sekolah berbasis sekolah, kegiatan ini membutuhkan keterlibatan dan dukungan orang-orang yang bekerja dari berbagai tingkatan yang berbeda dalam sistem ini untuk membantu terjaminnya transparansi dan validitas proses.

Proses penyusunan Rencana Kerja Sekolah  harus menjadi suatu refleksi untuk mengubah dan memperbaiki tata kerja.  Karena itu, hanya akan dianggap berhasil jika dapat membawa sekolah pada peningkatan pelayanan pendidikan dan hasilnya bagi para peserta didik. Dengan begitu, sekolah akan berperan penting dalam peningkatan mutu dan memberikan penjaminan  terhadap pelayanan pendidikan yang bermutu.

  Mengingat pentingnya penyusunan Rencana Kerja Sekolah yang  harus dikerjakan setiap tahun oleh Tim Pengembang sekolah (TPS) maka pelaksanaannya disamping diberikan soasialisasi juga harus dibimbing oleh pengawas. Dengan pembimbingan  yang dilakukan oleh pengawas gugus, warga sekolah akan lebih terarah dalam menyusun Hal itu terjadi karena ada nara sumber yang dijadikan tempat bertanya, dan apabila ada hal-hal yang belum tepat akan segera dibetulkan.

Tujuan dari penelitian tindakan sekolah ini yaitu untuk meningkatkan Untuk meningkatkan kompetensi Kepala sekolah dalam meyusunan Rencana Kerja Sekolah se Gugus Gajah Mada UPT Dindikpora Kecamatan Punggelan Kabupaten Banjarnegara Tahun Pelajaran 2015/2016.

Penelitian ini memiliki beberapa manfaat, yaitu: (a) mendapatkan pengetahuan atau teori baru tentang cara penyusunan Rencana Kerja Sekolahdandapat memberikan pembinaan dan pendampingan bagi Kepala Sekolah (b) manfaat praktis,meningkatkan aktivitas dan kompetensi kepala sekolah dalam meyusun Rencana Kerja Sekolah.

Berdasarkan uraian masalah di atas peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: ”Apakah melalui pembimbingan dapat meningkatkan kompetensi Kepala Sekolah dalam meyusunan Rencana Kerja Sekolah Se- Gugus Gajah Mada UPT Dindikpora Kecamatan Punggelan Kabupaten Banjarnegara tahun pelajaran 2015/2016?”

KAJIAN PUSTAKA

Kompetensi Kepala Sekolah

Kepala sekolah memegang peran sentral dalam menghimpun, memanfaatkan dan menggerakkan secara optimal seluruh potensi dan sumber daya yang terbatas untuk membawa sekolah dan masyarakat sekolah yang dikelolanya mencapai tujuan yang ditetapkan. Untuk keberhasilan dalam melaksanakan tugasnya, seorang kepala sekolah harus memiliki kemampuan managerial yang handal dan memiliki kepribadian yang baik serta dapat memainkan berbagai peran yang sesuai dengan karakteristik sekolah yang dipimpin. Mulyasa (2004: 98) melukiskan keberhasilan kepala sekolah dapat diukur kualitas kinerjanya dalam berperan sebagai: (a) educator (pendidik), (b) manager (manajer), (c) administrator (pembina tata usaha), (d) supervisor (penyelia), (e) leader (pemimpin), (f) inovator (mengembangkan model-model yang inovatif), (g) motivator (memberikan motivasi).

Pelaksanaan peran, fungsi dan tugas tersebut tidak dapat dipisahkan satu dan yang lain, karena saling terkait dan saling mempengaruhi, serta menyatu dalam pribadi seorang kepala sekolah. Kepala sekolah yang demikian akan mampu mendorong isi menjadi aksi nyata dalam pengelolaan sekolah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 13 tahun 2007 tanggal 17 April 2007 tentang standar kepala sekolah, menyebutkan bahwa kepala sekolah harus mempunyai dimensi kompetensi: (a) kepribadian, (b) manajerial, (c) kewirausahaan,                  (d) supervisi, dan (e) sosial.

Dalam Dimensi kompetensi manajerial, kepala sekolah harus dapat merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, memimpin, mendayagunakan seluruh sumber daya, mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran, serta mengendalikan organisasi dalam rangka pencapaianan tujuan pendidikan. Penyusunan KTSP yang merupakan kurikulum operasional harus disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan merupakan kompetensi kepala sekolah yang harus dipenuhi.

Tugas dan Fungsi Pengawas

Tugas pokok pengawas sekolah/satuan pendidikan adalah melakukan penilaian dan pembinaan dengan melaksanakan fungsi-fungsi supervisi, baik supervisi akademik maupun supervisi manajerial. Berdasarkan tugas pokok dan fungsi di atas minimal ada tiga kegiatan yang harus dilaksanakan pengawas yakni:

  1. Melakukan pembinaan pengembangan kualitas sekolah, kinerja kepala sekolah, kinerja guru, dan kinerja seluruh staf sekolah.
  2. Melakukan evaluasi dan monitoring pelaksanaan program sekolah beserta pengembangannya.
  3. Melakukan penilaian terhadap proses dan hasil program pengembangan sekolah secara kolaboratif dengan stakeholder sekolah.

Pembimbingan

        Pembimbingan yang dilakukan pengawas pada kepala sekolah binaan meliputi 5 aspek yakni: (1) Pembimbingan cara menyusun perencanaan supervisi Akademik, (2) Pembimbingan cara melaksanakan supervisi akademik.(3) Pembimbingan cara menganalisis hasil pelaksanaan supervisi akademik,(4) Pembimbingan cara menyusun program umpan balik dan rencana tindak lanjut,(5) Pembimbingan caa menyusun laporan hasil pelaksanaan supervisi akademik

Rencana Kerja sekolah

            Rencana Kerja sekolah  adalah suatu dokumen Sekolah yang menggambarkan tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu satu sampai empat tahun yang berkaitan dengan mutu lulusan yang ingin dicapai dan perbaikan komponen yang mendukung peningkatan mutu lulusan berdasarkan Visi, Misi dan Tujuan Sekolah. RKS disusun oleh Tim yang dibentuk oleh Kepala Sekolah, terdiri dari unsur-unsur : Kepala Sekolah ,Pendidik dan Tenaga Kependidikan ,Komite Sekolah, Peserta Didik (untuk SMP, SMA, SMK).

Fungsi Rencana Kerja sekolah

  1. Sebagai pedoman pengelolaan sekolah
  2. Sebagai gambaran kinerja sekolah empat tahun dan satu tahun yang akan datang
  3. Sebagai wujud akuntabilitas dan transparasi sekolah kepada pemangku kepentingan (stakeholders)
  4. Sebagai pengendali program dan kegiatan sekolah. Sebagai alat evaluasi dan bahan perencanaan kerja  sekolah jangka menengah dan satu tahun beriku

Untuk Sekolah Swasta pengesahan oleh penyelenggara pendidikan (Yayasan)

METODOLOGI  PENELITIAN

Subjek penelitian ini adalah kepala sekolah dasar yang tergabung di Gugus Gajah Mada berjumlah 9 orang dengan fokus penelitian aktivitas dan kompetensi kepala sekolah dalam melaksanakan RKS.

Data dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primernya adalah aktivitas dan kompetensi kepala sekolah dalam menyusun RKS, diperoleh dari kepala sekolah dan data sekundernya keaktifan kepala sekolah dalam mengikuti sosialisasi, pembinaan dan pendampingan pelaksanaan serta penyusunan RKSS.

Data yang digunakan dalam penelitian harus benar-benar valid. Untuk itu data yang digunakan harus diperiksa dulu validitasnya. Ada lima cara untuk menguji validitas data, yaitu: triangulasi data, review informan, member check, data base, dan penyusunan mata rantai bukti penelitian. Dalam penelitian ini pemeriksaan validitas data dilakukan dengan dua cara yaitu triangulasi data dan review informan.

Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa lembar hasilobsevasi dan hasil wawancara. Analisis data observasi, yaitu data observasi yang telah diperoleh dihitung kemudian di persentase. Dengan demikian dapat diketahui sejauh mana pemahaman terhadap RKS yang telah dikuasai. Hasil analisis data observasi kemudian disajikan secara diskriptik. Analisis hasil wawancara, yaitu hasil wawancara dengan objek penelitian dianalisis secara kualitatif diskriptif untuk melengkapi dari hasil angket, sehingga diperoleh data mengenai kompetensi kepala sekolah.

Penelitian ini menggunakan model spiral dari Kemmis dan Taggart yang dikembangkan Kemmis dan Taggart yang dikutip Sukardi (2010:214) terdiri atas dua siklus dan masing-masing siklus menggunakan empat komponen tindakan yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi dalam suatu spiral yang terkait.

PELAKSANAAN PENELITIAN

Siklus I

  1. Rencana Tindakan dalam tahap perencanaan disiapkan hal-hal sebagai berikut:(1) Membuat undangan sosialisasi RKS, yang harus dihadiri oleh Kepala Sekolah dan seorang guru, (2)Menyusun dan mempersiapkan lembar observasi, (3) Menyusun materi sosialisasi RKS, (4) Mempersiapkan sarana dan media yang akan digunakan
  2. Pelaksanaan Tindakan : Tindakan didahului dengan tanya jawab untuk mengetahui kondisi awal pemahaman kepala sekolah/guru terhadap RKS dilanjutkan dengan sosialisasi RKS menggunakan powerpoint. Draft Laporan RKS agar disiapkan sekolah dalam kurun waktu 7 hari setelah pelaksanaan sosialisasi. Pelaksanaannya tindakan bersifat fleksibel dan terbuka terhadap perubahan-perubahan. Peneliti mengamati partisipasi dan pemahaman kepala sekolah/guru terhadap RKS.
  1. Observasi

Observasi dilaksanakan selama siklus berlangsung di sekolah dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Observasi dilakukan untuk melihat secara langsung bagaimana partisipasi, pemahaman, dan kinerja Kepala Sekolah dalam memahami instrumen RKS. Observasi dilakukan peneliti dibantu asisten peneliti dengan pedoman observasi. Setelah itu dilakukan wawancara.

  1. Refleksi

Data yang diperoleh pada lembar observasi dianalisis, kemudian dilakukan refleksi. Pelaksanaan refleksi berupa diskusi antara peneliti dengan subjek penelitian. Diskusi tersebut bertujuan untuk mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilakukan yaitu dengan cara melakukan penilaian terhadap proses yang terjadi, masalah yang muncul, dan segala hal yang berkaitan dengan tindakan yang dilakukan. Setelah itu mencari jalan keluar terhadap masalah-masalah yang mungkin timbul agar dapat rencana perbaikan pada siklus II.

Siklus II

  1. Rencana Tindakan

     Mempersiapkan rencana pendampingan untuk melakukan pembinaan/ bimbingan pelaksanaan dan pembuatan laporan RKS, mempersiapkan lembar observasi, mempersiapkan pedoman wawancara / tanya jawab, dan mempersiapkan sarana dan media yang akan digunakan

  1. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan pada siklus II, pengawas mengadakan pendampingan ke masing-masing sekolah untuk memberikan pembinaan/bimbingan pelaksanaan dan pembuatan laporan RKS.

  1. Observasi

Observasi dilaksanakan selama siklus II berlangsung di sekolah dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Lembar observasi yang digunakan sama seperti lembar observasi pada siklus I. Setelah itu dilakukan wawancara.

  1. Refleksi

Refleksi pada siklus II digunakan untuk membedakan hasil siklus I dengan siklus II apakah ada peningkatan kompetensi kepala sekolah. Jika belum ada peningkatan , maka siklus dapat diulang kembali.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Siklus 1.

Pengamatan dilakukan oleh peneliti dibantu oleh pengawas lain. Dari pengamatan yang dilakukan, subjek penelitian mengikuti sosialisasi  dengan antusias. Hal yang dibahas antara lain: merumuskan Tantangan, merumuskan Pemecahan mantangan / masalah,  merumuskan Program dan Kegiatan, dan perencanaan biaya. Pertanyaan yang muncul waktu  saat siklus 1 antara lain:

  1. Apakah perbedaan RKS dan Program Tahunan Sekolah?
  2. Apakah RKS itu adalah yang dimaksud RKS pada pertanyaan instrumen Akreditasi no 108?
  3. Bagaimana cara mengisi ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator berdasarkan 8 Standar Nasional Pendidikan?
  4. Bagaimana cara menyusun RKS?

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul tidak langsung dijawab oleh fasilitaror (Pengawas) namun dikembalikan kepada peserta workshop dan disimpulkan/ di luruskan oleh fasilitator. Rerata perolehan skor observasi pada siklus I adalah 14,7(59,3%).

Siklus 2

Kepala sekolah telah membentuk TPS yang dituangkan dalam SK. Personal yang ditunjuk dalam TPS terdiri atas kepala sekolah, unsur guru, unsur komite sekolah dan pengawas sekolah sebagai fasilitator, sudah sesuai dengan Panduan Teknis RKS. Format dan konsideran surat keputusan sudah betul dan sesuai dengan kaidah penulisan SK. Semua anggota TPS antusias dalam mengikuti pendampingan/ pembimbingan RKS. Kompetensi Kepala Sekolah dalam melaksanakan RKS meningkat, hal ini dibuktikan dengan kecakapan Kepala Sekolah dalam memimpin TPS untuk mengadakan review laporan RKS. Rerata perolehan skor  observasi pada siklus II adalah 21 (87,5%).

Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus II, sudah nampak ada peningkatan kompetensi kepala sekolah dalam menyususn RKS. TPS melaksanakan RKS dilandasi dengan sikap kejujuran dan dapat memaknai instrumen RKS dalam menilai kinerja, dibandingkan dengan SPM dan SNP dalam 4 tingkat ketercapaian. Perolehan skor pengamatan pada siklus II ada peningkatan sebesar 32 % jika dibandingkan dengan siklus I.

Tabel 4.2 Perbandingan Kompetensi Kepala Sekolah Menyusun RKS

No. Kondisi Capaian Hasil
1 Kondisi Awal 44%
2 Siklus I 59,3%
3 Siklus II 87,5%

Berdasarkan tabel tersebut dapat juga ditampilkan dalam bentuk gambar grafik sebagai berikut.

 krisnoa

Gambar 4.1 Perbandingan Kompetensi Kepala Sekolah Menyusun RKSS

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan landasan terori, data yang diperoleh, serta pembahasan siklus I dengan siklus II, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Setelah diadakan pembimbingan, Kepala Sekolah se-Gugus Gajah Mada UPT Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kecamatan Punggelan Kabupaten Banjarnegara dapat meningkatkan aktivitas kompetensinya dalam menyusun RKS. Membuat kepala sekolah mampu menjelaskan prosedur dan langkah-langkah dalam menyusun laporan RKS, menjawab secara runtut setiap pertanyaan tentang RKS, terdapat peningkatan aktivitas dan kompetensi melaksanakan RKS dari 59% menjadi 87,5%.
  2. Melalui pembimbingan, pengawas sekolah dapat meningkatkan kompetensi kepala sekolah dalam menyusun RKS.

Saran-saran

Sebagai salah satu upaya untuk berpartisipasi dalam meningkatkan mutu pendidikan, khususnya peningkatan aktivitas dan kompetensi kepala sekolah maka peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut.

  1. Ditujukan kepada kepala sekolah, yaitu jangan ragu-ragu atau malu bertanya kepada pengawas, jika ada hal-hal baru yang belum diketahui/dipahami, selalu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman terhadap perubahan kebijakan, terutama kebijakan pendidikan dan selalu meningkatkan kompetensinya sebagai kepala sekolah melalui berbagai macam cara.
  2. Ditujukan kepada pengawas sekolah, yaitu lakukan pembinaan pengembangan kualitas sekolah, kinerja kepala sekolah, kinerja guru, dan kinerja seluruh staf sekolah, lakukan evaluasi dan monitoring pelaksanaan program sekolah beserta pengembangannya dan lakukan penilaian terhadap proses dan hasil program pengembangan sekolah secara kolaboratif dengan stakeholder

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2004. Standar Kompetensi Kepala Sekolah TK,SD, SMP, SMA, SMK & SLB. Jakarta: BP. Cipta Karya.

Kementrian Pendidikan Nasional-Kementrian Agama: 2010. Laporan Penelitian Tindakan Sekolah Sebagai Karya Tulis Ilmiah dalam Kegiatan Pengembangan Profesi Pengawa.

Mulyasa. 2004. Paradigma Pendidikan Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Panduan Teknis RKS. 2010. Implementasi RKS di Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

Sukardi. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

BIODATA PENULIS

            Nama                                 : Krisno Adi, S.Pd., M.Pd.

            NIP                                   : 19671105 198910 1 003

            Jabatan                             : Pengawas TK/ SD

           Golongan / Ruang            : Pembina / IV a

            Unit Kerja                          :  UPT Dindikpora Kecamatan Punggelan Kabupaten Banjarnegara

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *