Meningkatkan Kompetensi Menjaga Keutuhan NKRI Melalui Metode Sosiodrama

UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI MENJAGA KEUTUHAN NKRI MELALUI METODE SOSIODRAMA KELAS V SD NEGERI 02 KRANDON KECAMATAN KESESI KABUPATEN PEKALONGAN SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Oleh Sri Lestari, S.Pd.SD

ABSTRAK

Tujuan Penelitian ini adalah untuk meningkatkan kompetensi peserta didik pada pelajaran PPKn materi menjaga keutuhan NKRI. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Hasil penelitian ini adalah pada proses pembelajaran menjaga keutuhan NKRI melalui metode sosiodrama pada kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan semakin baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil tindakan pada siklus I pada pertemuan awal memperoleh skor 55% dan pada tindakan kedua memperoleh skor 75% ada peningkatan sebesar 20%. Pada siklus II ada peningkatan hasil tindakan pada pertemuan awal memperoleh skor 81% dan pada tindakan kedua memperoleh skor 93%. Hasil belajar yang diperoleh peserta didik dalam pembelajaran menjaga keutuhan NKRI melalui metode sosiodrama pada kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan meningkat. Pada siklus I hasil tes siswa pada pertemuan pertama rata-rata nilai 67 atau dalam kategori tinggi dan pada pertemuan kedua rata-rata nilai 71 atau dalam kategori tinggi. Pada siklus II ada peningkatan yang sangat signifikan hasil tes siswa pada pertemuan pertama rata-rata nilai 77,5 atau dalam kategori tinggi dan pertemuan kedua rata-rata nilai 91 atau dalam kategori sangat tinggi. Perubahan perilaku peserta didik dalam pembelajaran menjaga keutuhan NKRI melalui metode sosiodrama pada kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan semakin meningkat. Pada hasil aktivitas siswa di siklus I pada pertemuan awal memperoleh skor 41,4% atau dalam kategori sedang dan pada pertemuan kadua memperoleh skor 51% (sedang). Dan pada siklus II hasil aktivitas siswa pada pertemuan awal memperoleh skor 67% atau dalam kategori tinggi dan pada pertemuan kadua memperoleh skor 93% atau dalam kategori sangat tinggi. Berdasarkan temuan tersebut, maka kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode sosiodrama dinyatakan berhasil karena sudah memenuhi indikator keberhasilan yang ditentukan yaitu 75% peserta didik telah mencapai KKM yang ditetapkan yaitu 75, aktifitas belajar peserta didik rata-rata minimal 75%, dan perubahan perilaku peserta didik kearah positif dan terjadi peningkatan nilai rata-rata hasil tes formatif dari siklus I ke siklus II.

Kata kunci: kompetensi, PKn, metode sosiodrama

PENDAHULUAN

Dalam proses belajar tidak dipungkiri lagi bahwa pembelajaran PKn di Sekolah Dasar belum sesuai dengan yang diharapkan. Berbagai macam keluhan dalam pembelajaran PKn di Sekolah Dasar sering terjadi seperti sulit mengerjakan soal, sulit memahami materi, malas belajar, kurang bergairah, tetapi yang utama adalah hasil belajar yang rendah, hal ini ditandai dengan banyaknya peserta didik yang kurang aktif dalam bertanya dan mengemukakan pendapat, tidak mau melibatkan diri dalam diskusi kelompok, kurangnya ketertarikan peserta didik mengikuti kegiatan pembelajaran sehingga kurang memperhatikan penjelasan guru, dan peserta didik cepat merasa bosan saat mengikuti kegiatan pembelajaran PKn, di samping itu guru dalam mengajar juga kurang bervariasi dengan menerapkan metode-metode pembelajaran yang kooperatif dan inovatif sehingga dalam pembelajaran guru menjadi lebih mendominasi dan kurang melibatkan peserta didik dalam pembelajaran hal ini menjadi kurang bermaknanya bagi peserta didik, guru juga belum mengaitkan materi pembelajaran dengan permasalahan yang ada di kehidupan sehari-hari, guru kurang memotivasi peserta didik dalam pembelajaran PKn, sehingga peserta didik kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran PKn. Peserta didik lebih banyak hanya mendengarkan materi, sehingga kemampuan mengingat materi pada pembelajaran PKn kurang optimal.

Hal tersebut mengakibatkan pembelajaran PKn di dalam kelas terkesan monoton dan kurang mengaktifkan peserta didik yang berakibat pada rendahnya hasil belajar peserta didik. Dari berbagai permasalahan tersebut berdampak pada rendahnya hasil belajar peserta didik, seperti juga terjadi pada kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi. Data awal hasil belajar mata pelajaran PKn pada peserta didik kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi menunjukkan bahwa pada ulangan harian PKn, terdapat banyak peserta didik yang nilainya masih dibawah kriteria yang ditetapkan, yaitu 75. Dari seluruh jumlah peserta didik kelas V (20 Peserta didik) lebih dari setengahnya belum mencapai nilai KKM. Persentasenya 60% (12 peserta didik) belum tuntas, dan 40% (8 peserta didik) yang sudah tuntas, dengan perolehan nilai terendah 50 dan nilai tertinggi 80. Rata-rata nilai kelas pada mata pelajaran PKn ini hanya 64,5.

Berdasarkan permasalahan yang terjadi, maka untuk mengatasi pembelajaran tersebut perlu dilakukan perubahan dalam metode pembelajaran yang dilaksanakan. Usaha yang ditempuh penulis adalah dengan menerapkan metode sosiodrama dalam proses pembelajaran. Alasan penggunaan metode sosiodrama dalam penelitian ini adalah bertujuan untuk membantu meningkatkan kemampuan bagi peserta didik dengan bermain peran secara sederhana.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah adalah sebagai berikut: 1) bagaimana proses pembelajaran menjaga keutuhan NKRI melalui metode sosiodrama pada kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan?, 2) bagaimana peningkatan hasil belajar yang diperoleh peserta didik dalam pembelajaran menjaga keutuhan NKRI melalui metode sosiodrama pada kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan?, 3) bagaimana perubahan perilaku peserta didik dalam pembelajaran menjaga keutuhan NKRI melalui metode sosiodrama pada kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan

LANDASAN TEORI

Pembelajaran PKn di SD

Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang standar isi tertulis bahwa pendidikan kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.

Mata Pelajaran PKn ditingkat SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: a) berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan, b) berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta anti-korupsi, c) berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya, d) berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (Permendiknas, 2006:271).

Metode Pembelajaran Sosiodrama

Metode berasal dari bahasa latin meta yang berarti “melalui” dan hodos yang berarti “jalan ke” atau “cara ke”. Dalam bahasa arab, metode disebut tariqah artinya” jalan”, “ sistem” atau “ketertiban” dalam mengerjakan sesuatu. Sebagai suatu istilah, metode berarti suatu sistem atau cara yang mengatur suatu cita-cita  (M. Sudiyono, 2009:180).

Metode Sosiodrama adalah metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial, permasalahan yang menyangkut hubungan antara manusia seperti masalah kenakalan remaja, narkoba, gambaran keluarga yang otoriter, dan lain sebagainya. Sosiodrama digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan akan masalah-masalah sosial serta mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memecahkanya (Wina Sanjaya,  2007:159).

Dengan demikian metode sosiodrama adalah penyajian bahan dengan cara memperlihatkan peragaan, baik dalam bentuk uraian maupun kenyataan. Semuanya berbentuk tingkah laku dalam hubungan sosial yang kemudian di minta beberapa peserta didik untuk memerankannya (Ramayulis, 2005: 341).

Suatu metode pasti mempunyai tujuan penerapannya dalam pembelajaran. Adapun tujuan dari metode sosiodrama menurut Ramayulis adalah sebagai berikut: memahami perasaan orang lain, membagi tanggung jawab dan memikulnya, menghargai pendapat orang lain, mengambil keputusan dalam kelompok, memperbaiki hubungan sosial, mengenali nilai-nilai dan sikap-sikap, menanggulangi atau memperbaiki sikap-sikap yang salah (Ramayulis, 2010:273 -274).

Langkah-langkah Penerapan sosiodrama dalam pembelajaran

Menurut Mulyadi (2011:136) setiap metode pembelajaran aktif, ada beberapa langkah-langkah yang harus dilakukan dalam penerapan metode sosiodrama sebagai berikut: 1) guru menyiapkan skenario yang akan ditampilkan, 2) menunjuk beberapa peserta didik untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari sebelum kegiatan belajar mengajar, 3) guru membentuk kelompok dengan menyesuaikan jumlah peserta didik, 4) memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai, 5) memanggil para peserta didik yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan, 6) peserta didik tetap berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan, 7) setelah selesai melakukan penampilan, masing-masing peserta didik diberi lembar kerja untuk membahas penampilan yang selesai diperagakan, 8) masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya, 9) guru memberi kesimpulan secara umum, 10) evaluasi, dan 11) penutup.

Sedangkan menurut Menurut Hanafiah dan Cucu Suhana (2009:47) dalam penerapan metode sosiodrama dalam pembelajaran terdapat beberapa langkah-langkah yang harus dilaksanakan sebagai berikut: 1) guru menyusun skenario yang akan ditampilkan, 2) menunjuk beberapa peserta didik untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari sebelum pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, 3) guru membentuk kelompok peserta didik yang beranggotakan beberapa peserta didik, 4) memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai, 5) memanggil para peserta didik yang sudah ditunjuk untuk melakonkan scenario yang sudah dipersiapkan, 6) masing-masing peserta didik berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan, 7) setelah selesai ditampilkan, masing-masing peserta didik diberikan lembar kerja untuk membahas atau memberi penilaian atas penampilan masing-masing kelompok, 8) masing-masing kelompok menyampaikan hasil, 9) guru memberikan kesimpulan secara umum, 10) guru melakukan  evaluasi, 11) penutup.

Berdasarkan dua pendapat di atas, secara garis besar peneliti dapat menyimpulkan bahwa langkah-langkah pembelajaran dengan metode sosiodrama adalah sebagai berikut: 1) guru menjelaskan secara garis besar masalah atau topik yang akan dimainkan, 2) guru memilih pemain secara acak, mempersiapkan penonton dan persiapan tempat, 3) guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mempersiapkan diri beberapa hari sebelum penampilan, 4) pelaksanaan bermain peran oleh para pemain, 5) evaluasi pemberian soal dan tindak lanjut yang dapat berupa diskusi ataupun tanya jawab.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada peserta didik kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan pada semester I tahun pelajaran 2015/2016. Masing-masing siklus dilakukan pembelajaran sebanyak dua kali pertemuan. Siklus I dilaksanakan pada hari Senin, 24 Agustus 2015, hari Senin, 31 Agustus 2015 sedangkan siklus II dilaksanakan pada hari Senin, 7 September 2015, dan hari Rabu, 14 September 2015.

Subyek dalam penelitihan ini adalah peserta didik kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan yang terdiri atas 20 peserta didik dengan rincian laki-laki 10 orang dan perempuan 10 orang. Variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : proses pembelajaran PKn menggunakan metode sosiodrama, dan hasil belajar dan aktivitas peserta didik dalam pembelajaran dengan menggunakan metode sosiodrama.

Pengamatan yang dilakukan secara kolaborasi yang melibatkan teman sejawat sebagai observer di kelas menggunakan instrumen penelitian sebagai berikut: Proses pembelajaran: lembar observasi, prilaku peserta didik, lembar observasi, tes hasil belajar, soal dan lembar jawab.Teknik pengumpulan data menggunakan: Lembar Observasi, Tes, Dokumentasi.

Analisis data dilakukan dengan analisis diskripsif komparatif yaitu membandingkan nilai tes antara siklus dengan indikator kerja. Jadi analisis data pada penelitian ini dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil test dianalisis secara kuantitatif berdasarkan prosentase..

Indikator Keberhasilan: minimal 75% peserta didik telah mencapai kkm yang ditetapkan yaitu 75, ada peningkatan aktifitas belajar peserta didik rata-rata minimal 75%, perubahan perilaku kearah positif.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Data awal hasil belajar mata pelajaran PKn pada peserta didik kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi menunjukkan bahwa pada ulangan harian PKn, terdapat banyak peserta didik yang nilainya masih dibawah kriteria yang ditetapkan, yaitu 75. Dari seluruh jumlah peserta didik kelas V (20 peserta didik) lebih dari setengahnya belum mencapai nilai KKM. Persentasenya 60% (12 peserta didik) belum tuntas, dan 40% (8 peserta didik) yang sudah tuntas, dengan perolehan nilai terendah 40 dan nilai tertinggi 80. Rata-rata nilai kelas pada mata pelajaran PKn ini hanya 64,5. Dari hasil pengamatan awal yang telah dilakukan, ditemukan kelemahan-kelemahan sehingga berakibat pada perilaku dan hasil belajar peserta didik rendah. Kelemahan tersebut antara lain: pembelajaran di kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi masih bersifat teacher centered, rendahnya perilaku belajar peserta didik kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi, penggunaan waktu penyajian materi PKn yang kurang efisien, hasil belajar peserta didik kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi belum maksimal, guru belum secara optimal menggunakan metode pembelajaran yang variasi.

Dari temuan yang diperoleh melalui proses kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan pada 2 siklus dengan 4 kali pertemuan, yaitu masing-masing siklus dilakukan pembelajaran sebanyak dua kali pertemuan. Siklus I dilaksanakan pada hari Senin, 24 Agustus 2015, hari Senin, 31 Agustus 2015 sedangkan siklus II dilaksanakan pada hari Senin, 7 September 2015, dan hari Senin, 14 September 2015, melalui observasi kegiatan belajar mengajar, observasi perilaku peserta didik dalam KBM, penilaian formatif, maka dapat dinyatakan bahwa pembelajaran PKn dengan menggunakan metode sosiodrama efektif dalam pembelajaran menjaga keutuhan NKRI, hal ini terlihat dari:

1. Kegiatan proses belajar mengajar dengan menggunakan metode sosiodrama di kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi sebagaimana direncanakan guru sebelumnya berlangsung dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari presentasi hasil observasi teman sejawat terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan peneliti, pada hasil siklus I kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode sosiodrama dinyatakan cukup efektif, tetapi belum mencapai hasil pembelajaran yang maksimal dikarenakan masih ada beberapa hal yang belum mencapai arah yang diharapkan. Dari hasil tindakan pada pertemuan awal memperoleh skor 55% dan pada tindakan kedua memperoleh skor 75% ada peningkatan sebesar 20%. Pada siklus II ada peningkatan yang sangat signifikan pada kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode sosiodrama dinyatakan sangat efektif, sebab hasil pembelajaran sudah maksimal. Dari hasil tindakan pada pertemuan awal memperoleh skor 81% dan pada tindakan kedua memperoleh skor 93%.

2. Dalam kegiatan pembelajaran mulai dari siklus I sampai siklus II terlihat perilaku peserta didik cukup baik, hal ini sesuai dengan presentasi hasil observasi teman sejawat terhadap perilaku peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar. Pada siklus I perilaku peserta didik dalam pembelajaran dengan menggunakan metode sosiodrama dalam kategori sedang, hal ini dapat dilihat pada hasil tes peserta didik rata-rata nilai 71 atau dalam kategori tinggi. Pada hasil perilaku peserta didik pada pertemuan awal memperoleh skor 41,4% atau dalam kategori sedang dan pada pertemuan kadua memperoleh skor 51% (sedang). Pada siklus II ada peningkatan yang sangat signifikan hasil tes peserta didik rata-rata mencapai nilai 91 atau dalam kategori sangat tinggi. hasil perilaku peserta didik pada pertemuan awal memperoleh skor 67% atau dalam kategori tinggi dan pada pertemuan kadua memperoleh skor 93% atau dalam kategori sangat tinggi. Berdasarkan temuan tersebut, maka kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode sosiodrama dinyatakan berhasil karena sudah memenuhi indikator keberhasilan yang ditentukan yaitu 75% peserta didik telah mencapai KKM yang ditetapkan yaitu 75, aktifitas belajar peserta didik rata-rata minimal 75%, dan perubahan perilaku peserta didik kearah positif dan terjadi peningkatan nilai rata-rata hasil tes formatif dari siklus I ke siklus II. Efektivitas penggunaan metode sosiodrama dalam pembelajaran PKn dengan materi menjaga keutuhan NKRI dimungkinkan karena pada kegiatan belajar mengajar tercipta suasana yang menyenangkan dan peserta didik diajak memahami materi dengan cara yang tidak membuat peserta didik bosan. Para peserta didik juga bisa saling memberikan informasi dan masukan tentang materi yang dipelajari sehingga semakin memantapkan pemahaman mereka tentang materi tersebut. Setiap akhir pertemuan diberikan penghargaan kepada kelompok yang memperoleh nilai tertinggi. Penentuan nilai kelompok yang diambil dari nilai formatif serta nilai pelaksanaan sosiodrama oleh masing-masing kelompok. Oleh karena itu seluruh anggota bertanggungjawab atas kesuksesan kelompoknya selain keberhasilan masing-masing individu. Kesuksesan perorangan sangat mempengaruhi kelompok. Namun setiap anggota kelompok berdasarkan kebersamaan yang mereka alami selama belajar menyebabkan mereka juga sangat memperhatikan keberhasilan kelompok.

SIMPULAN

Simpulan dalam penelitian ini adalah melalui metode sosiodrama dapat meningkatkan kompetensi pembelajaran PKn pada siswa kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan, yang dibuktikan dengan:

1. Proses pembelajaran menjaga keutuhan NKRI melalui metode sosiodrama pada kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan semakin baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi tindakan pada siklus I pada pertemuan awal memperoleh skor 55% dan pada tindakan kedua memperoleh skor 75% ada peningkatan sebesar 20%. Pada siklus II ada peningkatan hasil tindakan pada pertemuan awal memperoleh skor 81% dan pada tindakan kedua memperoleh skor 93%.

2. Hasil belajar yang diperoleh peserta didik dalam pembelajaran menjaga keutuhan NKRI melalui metode sosiodrama pada kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan meningkat. Pada hasil tes siklus I peserta didik memperoleh nilai rata-rata 71 atau dalam kategori tinggi. Pada siklus II ada peningkatan yang sangat signifikan rata-rata nilai mencapai 91 atau dalam kategori sangat tinggi.

Perubahan perilaku peserta didik dalam pembelajaran menjaga keutuhan NKRI melalui metode sosiodrama pada kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan semakin meningkat. Pada hasil aktivitas siswa di siklus I pada pertemuan awal memperoleh skor 41,4% atau dalam kategori sedang dan pada pertemuan kadua memperoleh skor 51% (sedang). Dan pada siklus II hasil aktivitas siswa pada pertemuan awal memperoleh skor 67% atau dalam kategori tinggi dan pada pertemuan kadua memperoleh skor 93% atau dalam kategori sangat tinggi.

Berdasarkan temuan tersebut, maka kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode sosiodrama dinyatakan berhasil karena sudah memenuhi indikator keberhasilan yang ditentukan yaitu 75% peserta didik telah mencapai KKM yang ditetapkan yaitu 75, aktifitas belajar peserta didik rata-rata minimal 75%, dan perubahan perilaku peserta didik kearah positif dan terjadi peningkatan nilai rata-rata hasil tes formatif dari siklus I ke siklus II.

SARAN

Berdasarkan pengalaman selama melakukan penelitian tindakan kelas pada siswa kelas V SD Negeri 02 Krandon Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan, peneliti memberikan saran bagi: 1) siswa, aktivitas siswa dalam pembelajaran meningkat dengan diterapkannya metode sosiodrama. Siswa menjadi lebih antusias dan tertarik mengikuti proses pembelajaran serta lebih bersemangat. Sehingga metode sosiodrama dapat diterapkan untuk meningkatkan aktivitas siswa pada pembelajaran lainnya, siswa perlu dilatih untuk bergaul dan bekerjasama yang harmonis dalam kelompoknya denagn kegiatan yang positif. Oleh karena itu bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas tertentu merupakan cara yang efektif untuk melatih sifat sosial pada siswa 2) Guru, penggunaan metode sosiodrama dapat meningkatkan keterampilan mengajar guru dalam mengajar. Pembelajaran menjadi lebih inovatif, bervariasi, menarik dan menyenangkan.

Oleh karena itu metode sosiodrama dapat digunakan guru dalam proses pembelajaran mata pelajaran yang lainnya, pengelolaan pembelajaran harus selalu ditingkatkan demi terwujudnya kualitas pendidikan, guru sebaiknya mengusahakan menggunakan metode yang bervariatif sehingga siswa tidak merasa jenuh dan bosan selama pembelajaran berlangsung 3) sekolah, dengan menggunakan metode sosiodrama dalam pembelajaran PKn dapat meningkatkan kualitas pembelajaran PKn. Maka metode sosiodrama dapat dijadikan referensi bagi guru maupun sekolah untuk memperbaiki kualitas pembelajaran kuhususnya PKn.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2006. Permendiknas No 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi. Jakarta: Depdiknas.

Hanafiah, Nanang. dan Cucu, Suhana. 2009. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Refika Aditama.

Mulyadi. 2011. Sistem Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.

Ramayulis. 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Ramayulis. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Syah, Muhibin. 2010. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Wina, Sanjaya. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *