MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN GURU IPA DENGAN EFEKTIFITAS “SUKA EVA” PENGAWAS SEKOLAH DI SMP WILAYAH BINAAN KABUPATEN BANYUMAS SEMESTER GASAL TAHUN 2014/2015

sujiranto

ABSTRAK

 

Nama : Sujiranto, S.IP.,M.Pd. Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas. Meningkatkan kualitas pembelajaran guru IPA dengan pendekatan “Sukaeva” di SMP  binaan Pengawas Sekolah Kabupaten Banyumas semester gasal tahun pelajaran 2014/2015.

Berdasarkan lemahnya hasil supervisi akademik pada semester genap tahun pelajaran 2013/2014 rata-rata masih bernilai cukup, maka peneliti perlu melakukan Penelitian Tindakan Sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan proes pembeajaran di kelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan Supervisi akademik dan Evaluasi di tujuh SMP binaan pengawas wilayah Kabupaten Banyumas. Hasil  penelitian ini bahwa pada awal sebelum penelitian hasil supervisi menunjukkan hasil yang sangat rendah yaitu 70,5  Hasil ini masuk dalam kategori cukup. Setelah dilakukan pembinaan dan dilakukan supervisi oleh pengawas sekolah pada siklus 1 hasil dari 7 guru nilai rata-rata menjadi 81,274 atau 71,429% termasuk hasilnya yang baik, dan 28,571 % nilai masih cukup. Pada siklus kedua nilai rata-rata 89,575 yang kategori amat baik ada 4 dari 7, atau 57,143% dan yang kategori baik ada 3 atau 42,857. Jadi dari siklus 1 ke siklus 2 ada peningkatan kualitas pembelajaran guru naik sebesar 8,301. Peningkatan kualitas guru akan mempengaruhi kualitas pembelajaran, yang  berdampak langsung pada peningkatan kemampuan peserta didik. Demikian hasil penelitian tindakan sekolah yang peneliti laksanakan semoga bermanfaat untuk peningkatan mutu pendidikan.

Kata Kunci: Supervisi Akademik, Evaluasi, dan kualitas guru.

 

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas sangat terkait erat dengan keberhasilan peningkatan kompetensi dan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan  tanpa menafikan faktor-faktor lainnya seperti sarana dan prasarana dan pembiayaan. Pengawas sekolah merupakan salah satu bagian dari pendidik dan tenaga kependidikan yang posisinya memegang peran yang signifikan dan strategis dalam meningkatkan profesionalisme guru dan mutu pendidikan di sekolah.

Suatu kekeliruan, apabila seorang guru mengajarkan IPA dengan cara mentransfer apa-apa yang tersebut dalam buku teks kepada anak didiknya. Hal ini disebabkan apa yang ada dalam buku teks itu baru merupakan satu sisi dari IPA, sedangkan pada hakikatnya produk IPA tidak dapat dipisahkan dari proses IPA. Dalam pengajaran IPA seorang guru dituntut untuk dapat mengajak anak didiknya memanfaatkan alam sekitar sebagai sumber belajar (Hendro Darmodjo, dkk: 1991) sehingga siswa memperoleh kemampuan untuk menggali pengetahuan itu dari alam bebas, tidak hanya dari buku teks.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti selaku observer sekaligus pengawas sekolah di SMP binaan penulis sendiri, merasa punya tanggung jawab profesional dan perlu untuk  memberikan arahan, binaan,  supervisi  dan evaluasi kepada guru yang mengajar mata pelajaran IPA  dengan pendekatan terhadap keefektifan pembelajaran IPA.

Rumusan Masalah   

Sebagai acuan dalam melaksanakan penelitian tindakan, maka dirumuskan satu permasalahan sebagai berikut :

  1. Apakah dengan menggunakan pendekatan Supervisi Akademik dan Evaluasi atau “SuKa Eva” dapat meningkatkan kinerja atau kualitas  guru IPA dalam melaksanakan proses pembelajaran  di  sekolah binaan  Kabupaten  Banyumas?
  2. Apakah dengan pendekatan “Suka Eva” dapat meningkatkan kreativitas dan inovasi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran

 

  1. KAJIAN PUSTAKA

Salah satu standar yang memegang peran penting dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah adalah standar pendidik dan tenaga kependidikan. Pengawas sekolah merupakan salah satu tenaga kependidikan yang memegang peran strategis dalam meningkatkan profesionalisme guru dan mutu pendidikan di sekolah.

  1. Pengawas Sekolah

Pengertian

Pengawas sekolah adalah guru pegawai negeri sipil yang diangkat dalam jabatan pengawas sekolah (PP 74 tahun 2008). Pengawasan adalah kegiatan pengawas sekolah dalam menyusun program pengawasan, melaksanakan program pengawasan, evaluasi hasil pelaksanaan program, dan melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional guru.

Maka peranan Dinas Pendidikan menjadi penting di mana harus dapat memahami proses adopsi, implementasi dan keberlangsungan serta berhati – hati atau cepat tanggap dalam menghadapi faktor – faktor yang terkait dengan pengembangan profesional pengawas. Jadi dapat disimpulkan bahwa pengembangan pengawas ini dilaksanakan guna menjawab tantangan dunia pendidikan kita, dalam hal ini guna peningkatan kinerja profesional pengawas.

  1. Supervisi Akademik

Supervisi akademik atau instruksional adalah yang berkenaan dengan efektifitas eksternal—biasanya berkenaan dengan aspek kualitatif, yang memberi jawaban pada pertanyaan bagaimana siswa belajar lebih baik. Dukungan dan evaluasi merupakan dua fungsi utama untuk tipe supervisi ini. Tipe supervisi ini secara eksklusif dilaksanakan oleh staf pengawas lapangan untuk mengevaluasi hasil kerja guru. Jadi tujuan supervisi akademik adalah meningkatkan mutu pembelajaran. (Rusyan A. Tabrani, dkk. 1989)

Supervisi akademik merupakan kegiatan terencana yang ditujukan pada aspek kualitatif sekolah dengan membantu guru melalui dukungan dan evaluasi pada proses belajar dan pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar.

  1. Hakekat IPA

Ilmu Pengetahuan Alam menawarkan cara-cara untuk kita dapat memahami kejadian-kejadian di alam dan agar kita dapat hidup di alam ini. Ilmu Pengetahuan Alam sebagai produk tidak dapat dipisahkan dari hakikatnya sebagai proses. Produk IPA adalah fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip serta teori-teori. Prosedur yang digunakan oleh para ilmuwan untuk mempelajari alam ini adalah prosedur empirik dan analisis.( Moh Uzer Usman 2000), Proses empirik dalam IPA mencakup observasi, klasifikasi dan pengukuran. Sedangkan dalam prosedur analitik ilmuwan menginterprestasikan penemuan. Mereka dengan mempergunakan proses-proses seperti hipotesis, eksperimentasi terkontrol, menarik kesimpulan dan memprediksi.

  1. Kerangka Berfikir

 Dari uraian diatas mulai dari latar belakang dan didukung oleh kajian teori maka keranga berfikir disini adalah sebagai berikut: bahwa pada data awal peneliti mengamati dari guru-guru IPA disekolah binaan selama melaksanakan proses pembelajaran masih banyak yang kurang memanfaatkan alat-alat IPA, setelah melalui pembinaan, supervisi dan evaluasi diharapkan dapat meningkatkan kemampuan proses pembelajaran secara profesional. Dan berdampak bisa meningkatkan hasil belajar peserta

  1. METODE PENELITIAN

Profesi  pengawas merupakan profesi yang strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan, maka pengawas harus selalu meningkatkan kompetensinya dan selalu berusaha mengembangkannya, sejalan dengan pengembangan sumber daya manusia yaitu upaya manajemen yang terencana dan dilakukan secara berkesinambungan untuk meningkatkan kompetensi dan unjuk kerja organisasi melalui program pelatihan, pendidikan dan pengembangan yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja, Moekijat (1981: 20) mengemukakan bahwa: “Pengembangan adalah usaha untuk memperbaiki pelaksanaan pekerjaan sekarang maupun yang akan datang dengan memberikan informasi, mempengaruhi sikap dan menambah pengetahuan”.

  1. Setting Penelitian

Penelitian tindakan ini dilaksanakan yang dimulai dengan perencanaan sampai dengan penyusunan laporan yaitu pada bulan Januari sampai dengan bulan Mei semester genap tahun pelajaran 2014-2015.

  1. Subyek Penelitian

Peneliti selaku pengawas sekolah mempunyai 15 sekolah binaan yang terdiri dari 8 sekolah swasta dan 7 sekolah Negeri yang tersebardi seluruh wilayah kabupaten Banyumas. Dalam penelitian ini peneliti sengaja hanya memilih sekolah yang negeri saja yang berjumlah 7 sekolah, dengan pertimbangan yang rata-rata gurunya mempunyai kualifikasi hampir sama antara guru satu dengan lainnya.

  1. HASIL TINDAKAN DAN  PEMBAHASAN

Kondidi Awal

Sekolah binaan pengawas sebagai sasaran penelitian tindakan tersebar di 5 kecamatan yaitu kecamatan kalibagor ada 3 SMP, kecamatan Baturaden ada 1 SMP, kecamatan Patikraja ada 1 SMP, kecamatan Rawalo ada 1 SMP, dan kecamatan Sumpyuh ada 1 SMP. Dari hasil monitoring spontan oleh pengawas sekolah sebagian besar sekolah tersebut dalam melaksanakan proses pembelajaran cenderung pasif, konvensional, monoton dan hanya ceramah. Dengan melihat hasil tersebut maka penulis berkeinginan mengatahui apa penyebab permasalahan tersebut, dan mulailah sebuah perencanaan penelitian yang diawali dengan penyusunan perencanaan.

Siklus I

  1. Planning Action

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat penelitian yang terdiri dari instrumen wawancara, instrumen pengamatan perencanaan pembelajaran  dan istrumen pelaksanaan proses pembelajaan. Dan mencari kesepakan dengan guru untuk dilakukan supervisi akademik atau kunjungan kelas.

  1. Action atau tindakan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan  di 7 SMP Negeri  di wilayah Kabupaten  Banyumas Tahun Pelajaran 2014 / 2014 dengan jumlah 7 Guru. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai observer. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan oleh guru. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar.

NO PENDHL KEGIATAN INTI P. MEDIA PENUTUP SKOR NILAI
EKSP ELA KONF
1 19 22 24 21 17 17 120 81,081
2 23 26 23 24 15 20 131 88,514
3 22 19 25 19 18 19 122 82,432
4 22 17 25 25 18 16 123 83,108
5 23 21 24 24 16 13 121 81,757
6 21 19 21 22 18 19 120 81,081
7 20 16 25 20 5 19 105 70,946
JML 150 140 167 155 107 123 842 568,191
Rerata skor 21,43 20,00 23,86 22,14 15,29 17,57 120,29 81,275
rerata Nilai 76,531 83,333 85,204 92,262 76,429 73,214

Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1: Analisis  Observasi  Siklus  I

      Berdasarkan hasil pengamatan dari pelaksanaan program pembelajaran diatas bahwa pada siklus 1 nilai rata-rata nilai pendahuluan  adalah 76,531 dari 7 responden yang diteliti, Kegiatan Inti untuk eksplorasi yaitu 83,33 dari 7 responden nilai. Proses pembelajaran dari kegiatan elaborasi mempunyai hasil rata-rata yaitu 85,204, kegiatan konfirmasi mendapat nilai rata-rata 92,262, sedangkan pemanfaatn media pembelajaran mendapat skor rata-rata 76,249 dan penutupan mendapat nilai ratarata-rata 73,214. Secara umum hasil ini belum begitu baik. Secara individu masil dari supervisi yang dilaksanakan oleh peneliti pada siklus ke dua adalah sebagai berikut pada responden 1 skor pendahuluan adalah 19, ekplorasi mendapat skor 22, elaborasi mendapat skor 24, konfirmasi mendapat skor 21, pemanfaatan media memperoleh skor 17, penutupan mendapat skor 17 dan total memperoleh skor 120 dengan total nila 81, 081 masuk dalam kategori cukup.  Sedangkan pada responden yang kedua kegiatan pendahuluan mendapat skor 23, kegiatan inti pada eksplorasi mendapat skor 26, kegiatan elaborasi mendapat skor 23, kegiatan konfirmasi mendapat skor 24, pemanfaatan media pembelajaran memperoleh skor15, penutupan memperoleh skor 20 total perolehan skor 131 dengan nilai akhir 88, 514. Pada responden 3 pendahuluan memperoleh skor 22, ekplorasi memperoleh skor 19, elaborasi memperoleh skor 25, konfirmasi memperoleh skor 19, pemanfaatan media memperoleh skor 18, dan penutupan memperoleh skor 19, skor total yang diperoleh berjumlah 122 dengan nilai akhir sebesar 82,432. Pada responden 4 pendahuluan memperoleh skor 22, eksplorasi memperoleh skor 17, elaborasi memperoleh skor 25, konfirmasi memperoleh skor 25, pemanfaatan media  18,  dan penutupan mendapat skor 16, jumlah skor perolehan yaitu sebesar 123 dengan nilai akhir berjumlah 83,108. Pada responden 5 perolehan skor pada pendahuluan adalah 23, kegiatan inti eksplorasi 21, elaborasi mendapat skor 24, konfirmasi dengan skor 24, pemnafaatan media16, penutup skor 13 dan total nilai dari seluruhnya yaitu 81, 757. Responden 6 mempunyai skor pendahuluan 21, eksploasi 19, elaborasi 21, konfirmasi 22, Pemanfaatan media 18, penutup 19, dan nilai total sebesar 81,081. Respoden 7 mendapat skor pendahuluan20, ekplorasi 16, elaborasi 25, konfirmasi 20, pemanfaatan media 5, penutup 19 dan total nilai 70, 946. Dan dari rata-rata semua responden untuk pendahuluan 76,531 masuk kategori baik, elaborasi mendapat skor 83,33 kategori baik, konfirmasi 92, 262, pemanfaatan media 76,429 kategori baik, dan penutup 73,214 kategori cukup. Total rata-rata dar semua hasil pengamatan pada siklus pertama adalah 81, 275. Hasil ini berdasarkan acuan pada penilaian termasuk dalam kategori baik. Namun masih ada nilai yang cukup yaitu pada pelaksanaan penutupan, karena selama kesimpulan data yang diperoleh peneliti memang masih banyak yang belum memenuhi standar, maka berdasarkan data pada siklus pertama perlu adanya siklus yang lanjutan yaitu siklus ke dua setelah para responden dikumpulkan dan diberi pembinaan hasil dari evaluasi proses pembelajaran.

Untuk lebih jelas dari uraian diatas dapat  jelaskan di dengan tabel dibawah ini:

1

Grafik : 4.1 Hasil pengamatan pada siklus 1

  1. Refleksi

Pada siklus pertama dari 7 responden yang diteliti dalam proses pembelajaran belum menunjukkan hasil yang menggembirakan yaitu aktivitas peserta didik masih belum optimal, walaupun dari 7 responden sudah menunjukkan hasil baik, namun untuk pembukaan dan penutupan serta pemanfaatn media masih kurang baik karena data kuantitaf masih bernilai 76,531, penutupan 73,214 dan pemanfaatn media 76,429. Ini artinya proses pembelajaran belum optimal. Untuk mengoptimalkan hasil proses pembelajaran agar supaya peserta didik dapat mengikuti pembelajaran dengan baik maka perlu adanya upaya peningkatan kreativitas guru agar pembelajaran lebih menyenangkan bagi peserta didik

  1. Siklus II

Planning Action

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat penelitian yang terdiri dari instrumen wawancara, instrumen pengamatan perencanaan pembelajaran  dan instrumen pelaksanaan proses pembelajaan. Dan mencari kesepakan dengan guru-guru yang jumlahnya 7 dan jarak sekolah satu dengan yang cukup jauh, untuk dapat dilakukan supervisi akademik atau kunjungan kelas pada tahap yang kedua.

b.Action atau tindakan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan  di 7 SMP Negeri  di wilayah Kabupaten  Banyumas Tahun Pelajaran 2014 / 2015 dengan jumlah 7 Guru. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai observer. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan oleh guru. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar.

Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut:

 Resp Pendh KEGIATAN INTI P. MEDIA PENUTUP NILAI
EKSP ELA KONF
1 19  23 26 22 19 20 87,162
2 23 26 25 24 18 22 93,243
3 24 23 26 22 20 21 91,892
4 22 19 26 25 22 22 91,892
5 23 23 26 24 29 17 95,946
6 21 20 22 22 20 23 86,486
7 20 21 25 20 14 19 80,405
Rerata skor 21,71 22,14 25,14 22,71 20,29 20,57 89,575
rerata Nilai 77,551 92,262 89,796 94,643 101,429 85,714

Tabel 4.2: Analisis  Observasi  Siklus  II

      Berdasarkan hasil pengamatan dari pelaksanaan program pembelajaran diatas bahwa pada siklus 1 nilai rata-rata nilai pendahuluan  adalah 77,552 dari 7 responden yang diteliti, Kegiatan Inti untuk eksplorasi yaitu 92,262 dari 7 responden nilai. Proses pembelajaran dari kegiatan elaborasi mempunyai hasil rata-rata yaitu 89,796, kegiatan konfirmasi mendapat nilai rata-rata 94,643, sedangkan pemanfaatn media pembelajaran mendapat skor rata-rata 101,429 dan penutupan mendapat nilai ratarata-rata 85,714. Secara umum hasil ini amat baik.

Secara individu masil dari supervisi yang dilaksanakan oleh peneliti pada siklus ke dua adalah sebagai berikut pada responden 1 skor pendahuluan adalah 19, ekplorasi mendapat skor 23, elaborasi mendapat skor 26, konfirmasi mendapat skor 22, pemanfaatan media memperoleh skor 19, penutupan mendapat skor 20  dengan total nila1 87,162 masuk dalam kategori Amat Baik.  Sedangkan pada responden yang kedua kegiatan pendahuluan mendapat skor 23, kegiatan inti pada eksplorasi mendapat skor 26, kegiatan elaborasi mendapat skor 25, kegiatan konfirmasi mendapat skor 24, pemanfaatan media pembelajaran memperoleh skor 18, penutupan memperoleh skor 22 total nilai akhir 93, 243. Pada responden 3 pendahuluan memperoleh skor 24, ekplorasi memperoleh skor 23, elaborasi memperoleh skor 26, konfirmasi memperoleh skor 22, pemanfaatan media memperoleh skor 20, dan penutupan memperoleh skor 21, nilai akhir sebesar 91,892. Pada responden 4 pendahuluan memperoleh skor 22, eksplorasi memperoleh skor 19, elaborasi memperoleh skor 26, konfirmasi memperoleh skor 25, pemanfaatan media  22,  dan penutupan mendapat skor 22, jumlah nilai akhir berjumlah 91,892. Pada responden 5 perolehan skor pada pendahuluan adalah 23, kegiatan inti eksplorasi 23, elaborasi mendapat skor 26, konfirmasi dengan skor 24, pemanfaatan media 20, penutup skor 17 dan total nilai dari seluruhnya yaitu 91, 757. Responden 6 mempunyai skor pendahuluan 21, eksploasi 20, elaborasi 22, konfirmasi 22, Pemanfaatan media 20, penutup 23, dan nilai total sebesar 86,4816 Respoden 7 mendapat skor pendahuluan 20, ekplorasi 21, elaborasi 25, konfirmasi 20, pemanfaatn media 14, penutup 19 dan total nilai 80, 405. Dan dari rata-rata semua responden untuk pendahuluan 76,531 masuk kategori baik, elaborasi mendapat skor 83,33 kategori baik, konfirmasi 92, 262, pemanfaatan media 76,429 kategori baik, dan penutup 73,214 kategori cukup. Total rata-rata dari semua hasil pengamatan pada siklus pertama adalah 89, 575. Hasil ini berdasarkan acuan pada penilaian termasuk dalam kategori  baik. Karena kategori nilai amat baik itu 91,00 – 100, kategori baik 76,00-85,99, kategori cukup 60,00-75,99. Kategori kurang yaitu nilai kurang dari 60,00.

Untuk lebih jelas perhatikan hasil grafik dibawah ini:

2

c.Refleksi

Pada siklus kedua dari 7 responden yang diteliti dalam proses pembelajaran  menunjukkan hasil yang menggembirakan yaitu aktivitas guru sudah lebih kreatif dan inoatif peserta didik lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran di kelas, walaupun dari 7 responden sudah menunjukkan hasil amat baik dan ada yang baik, namun untuk pembukaan dan penutupan  masih kurang  karena data kuantitaf masih bernilai 77,551, penutupan 85,714. Ini artinya proses pembelajaran belum optimal walaupun sudah  mengalami peningkatan yang siknifikan, karena rata-rata guru dalam melaksanakan pendahuluan dan penutupan  belum menunjukan hasil yang amat baik baru dalam taraf yang baik. Untuk mengoptimalkan hasil proses pembelajaran agar supaya peserta didik dapat mengikuti pembelajaran dengan baik maka perlu adanya upaya peningkatan kreativitas guru agar pembelajaran lebih menyenangkan bagi peserta didik.

Untuk itu responden  di beri penjelasan-penjelasan tentang kelemahan-kelemahan selama prses pembelajaran, dengan diketahuinya kelemahan tersebut maka guru akan berupaya meperbaiki pembelajaran pada kegiatan berikutya.

  1. Pembahasan Atas Hasil Tindakan

Ketuntasan Kinerja Guru

       Berdasarkan dari data, tabel dan  hasil  uraian siklus satu dan siklus dua, 81,081, guru 2 nilai 88,514, guru 3 nilai 82, 432, guru 4 nilai 83,108, guru 5 nilai 81,757, guru 6 nilai 81, 081, guru 7 nilai 70, 946. Dari 7 guru yang bernilai amat baik belum ada, kategori baik ada 6 dan kategori cukup ada 1. Sedangkan pada siklus kedua guru 1 nilai 87,162, guru 2 nilai 93, 243, guru 3 nilai 91,892, guru 4 nilai 91,892, guru 5 nilai 95,946, guru 6 nilai 86,486, guru 7 nilai 80,405.

       Dari hasil diatas berarti ada peningkatan nilai dari masing-masing guru setelah dilakukan evaluasi oleh pengawas sekolah, yaitu pada guru 1 pada awal siklus  1 nilai 81,081 pada siklus 2 menjadi 87,162 berarti ada peningkatan 6,081. Pada responden siklus 1 88,514 siklus 2 menjadi 93,243 jadi naik 4,729. Responden 3 pada siklus 1 mendapat nilai 82,432 pada siklus 2 mendapat nilai 91,892 jadi mengalami kenaikan 9,460. Responden 4 siklus 1 mendapat nilai 83,108 sedang pada siklus 2 mendapat nilai 91,892 jadi naik 8,784. Pada responde 5 siklus 1 mendapat nilai 81,575 sedang pada siklus 2 menjadi 95,946 jadi mengalami keanikan sebesar 14, 189. Responden 6 siklus1 memeproleh nilai 81,081 pada siklus kke 2 mendapat nilai 86, 486 jadi mengalami kenaikan sebesar 5,405. Pada responden 7 pada siklus 1 mendapat nilai 70,946 pada siklus ke 2 mendapat nilai 80,405. Dan rata-rata keseluruhan mengalami kenaikan juga yaitu dari siklus 1 nilai 81,874 pada siklus ke 2 naik menjadi 89,575 jadi mengalami kenaikan sebesar 8,03. Data disajikan dalam bentuk tabel seperti diabawah ini.

No Resp Hasil siklus 1 Hasil Siklus 2 Peningkatan
1 81,081 87,162 6,081
2 88,514 93,243 4,729
3 82,432 91,892 9,460
4 83,108 91,892 8,784
5 81,757 95,946 14,189
6 81,081 86,486 5,405
7 70,946 80,405 9,459
Rata-rata 81,274 89,575 8,301

Tabel 4.3: Perbandingan hasil siklus 1 dan siklus 2

Data diatas menunjukkan adanya peningkatan hasil penelitian tindakan dari siklus 1 ke siklus 2, dari ketujuh responden yang diteliti responden nomor 5 mengalami peningkatan yang paling tinggi yaitu 14,189, sedangkan peningkatan yang paling rendah yaitu pada responden 6 yaitu meningkat sebesar 5,405.  Secara keseluruhan peninkatan total sebesar 8,301. Untuk lebih jelas bisa dilihat pada grafik 4:3  dibawah ini.

3

                        Gambar : 4.3 : Grafik hasil peningkatan siklus 1 dan siklus 2

Melalui hasil peneilitian tindakan ini menunjukkan bahwa pelaksanaan supervisi dan evaluasi oleh pengawas sekolah   secara rutin memiliki dampak positif dalam meningkatkan Kinerja Guru. Hal ini dapat dilihat dari semakin maningkatnya kreativitas guru dalam menyajikan materi pelajaran kepada peserta didik. Dan  pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru juga menunjukkan hasil yang positif. Terlihat hasil wawaacara peneliti dengan peserta didik dari siklus I ke siklus II  ketuntasan belajar siswa secara klasikal juga telah tercapai.

  1. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas guru dalam proses pembelajaran   dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap Kinerja Guru yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata guru pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.

Pada siklus satu rata-rata dari 7 guru yang diamati menunjukkan hasil yang positif  hasil diperoleh pada siklus satu yaitu 81,274 sedang pada siklus kedua mengalami peningkatan yaitu menjadi 89,575. Dari siklus 1 ke siklus 2 meningkat sebesar 8,301.

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses  pembelajaran  dengan metode  pembelajaran pada materi pelajaran yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas isiwa dapat dikategorikan aktif.

  1. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil peneitian  pengawas di  Sekolah SMP Negeri/swasta   Kabupaten  Banyumas  Jawa Tengah Tahun Pelajaran 2014 / 2015 dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pelaksanaan Supervisi akademik secara rutin oleh pengawas sekolah dapat meningkatkan Kinerja Guru. Yang terbukti bahwa pada siklus 1 kinerja guru rata-rata nilai dari 7 guru yang diteliti adalah 81,274 dan pada siklus 2 menjadi 89,575 jadi kinerja guru meningkat sebesar 8,301 peningkatan ini cukup signifikan.
  2. Pelaksanaan Supervisi akademik dan evaluasi oleh pengawas sekolah yang dilaksanakan secara rutin dan berkala  ternyata dapat meningkatkan kinerja, kreativitas dan inovasi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Yang terbukti bahwa pada siklus 1 hanya ada 2 guru dari 7 guru atau 28,571% yang melaksanakan pembelajaran dengan kreativitas, sedang pada siklus 2 meningkat menjadi 6 guru dari 7 guru yang diamati atau sebesar 85,714%.

Saran

Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya bahwa, pelaksanaan supervisi akademik pengawas sekolah dan pelaksanaan evaluasi dapat mingkatkan kinerja guru dan kreativitas guru, yang berefek dapat mempengaruhi proses pembelajaran  lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi peserta didik, maka disampaikan saran sebagai berikut: Pelaksanaan Supervisi akademik dan evaluasi untuk dapat dilaksanakan secara rutin oleh pengawas sekolah di sekolah binaan masing-masing. Sesuai dengan Standart pelayanan minimal maka pengawas sedikitnya melaksanakan supervisi akademik 2 kali dalam satu tahun. Demikian kesimpulan dan saran atau rekomendasi yang bisa penulis sampaikan pada laporan penelitian tindakan sekolah ini dan minta maaf jika masih banyak kekurangan.

DAFTAR PUSTAKA

–     Atmadi dan Y Setianingsih. 2002. Transformasi Pendidikan Memasuki Millineum Ketiga. Yogyakarta : Kanisius.

–  Aqib Zainal. 2010. Penelitian Tindakan Sekolah. Bandung: CV.Yrama Widya.

–     Dimyati dan Mudjiono. 2003. Belajar dan Pembelajaran. Solo : Depdikbud dan Rineka Cipta.

– Hendra Darmodjo dan Jenny R. E Kaligis (1993). Pendidikan IPA 2. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

–     Moh Uzer Usman 2000, Upaya Optimalisasi Belajar Mengajar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

–   – Rusyan A. Tabrani, dkk. 1989. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remadja Karya.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *