PTK SD Matematika Materi Perkalian Susun Ke Bawah Cara Pendek

PENINGKATAN MINAT DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA MATERI PERKALIAN SUSUN KE BAWAH CARA PENDEK MELALUI COOPERATIF LEARNING TEKNIK TUTOR SEBAYA  DI KELAS IV SD NEGERI BANJARLOR II

kartini     

Abstrak

           Kartini, S.Pd.SD: Tujuan Penelitian ini adalah meningkatkan minat dan hasil belajar siswa tentang perkalian susun ke bawah cara pendek di kelas IV SD negeri Banjarlor 02, Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes. Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti melakukan kegiatan penelitian tindakan kelas denga 2 siklus perbaikan. Kegiatan perbaikan pembebelajaran akan menerapkan pendekatan Cooperatif Learning dengan teknik tutor sebaya. Karena diduga dengan penerapan pendekatan kooperatif dengan teknik tutor  sebaya akan dapat meningkatkan minat dan hasil belajar matematika tentang perkalian susun ke bawah cara pendek. Setelah melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran pada siklus I, ternyata ada perubahan, yakni adanya peningkatan minat serta hasil belajar siswa . Nilai rata-rata kelas 72,60 berati melebihi KKM yang ditentukan, sedang siswa yang memperoleh nilai di atas KKM 17 siswa atau 65,38  %, dan yang di bawah KKM 9 siswa atau 34,62 %. Prosentase ketuntasan belajar mencapai 65,38 %. Berdasarkan hasil refleksi penelitian siklus I, peneliti menganggap bahwa kegiatan penelitian harus dilanjutkan agar mencapai hasil yang benar-benar optimal. Setelah merefleksi dan menganalisisi kekurangan pada pembelajaran siklus I, peneliti merencanakan dan melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran siklus II. ternyata hasilnya cukup memuaskan, hal ini dillihat dari Nilai rata-rata kelas 83,65 berati sudah melampaui KKM yang ditentukan, sedang siswa yang memperoleh nilai di atas KKM 24 siswa atau 92,31 %, dan yang di bawah KKM 2 siswa atau 7,69 %. Prosentase ketuntasan belajar mencapai 92,31 %. Berdasarkan hasil penelitian siklus I dan II, terbukti bahwa penerapan pendekatan Kooperatif Learning teknik tutor sebaya dapat menarik minat dan hasil beljar siswa pada pembelajaran matematika tentang perkalian susun ke bawah secara optimal.

          .

Kata kunci : Cooperattif Learning, Tutor Sebaya, Minat, Hasil belajar.

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

          Pada kegiatan pembelajaran sehari-hari untuk pembelajaran matematika kompetensi perkalian susun ke bawah cara pendek di kelas IV SD Negeri Banjarlor 02, masih banyak siswa yang melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal perkalian susun ke bawah. Berdasarkan pengalaman dilapangan terungkap bahwa penyebab permasalahan tersebut muncul antara lain adalah : (1) Siswa tidak hafal fakta dasar perkalian  dan guru melaksanakan pembelajaran hanya dengan lisan dan mencongak sehingga membosankan dan menakutkan, (2) Guru melakukan pembelajaran perkalian susun kebawah cara pendek dengan memberikan langkah-langkah pengerjaan secara hafalan.

          Berdasar hal tersebut di atas, telah dilakukan suatu penelitian untuk mencari kejelasan tentang penyebab kesalahan siswa dalam mengerjakan perkalian susun ke bawah cara pendek. Dalam penelitian ini telah dilakukan pembelajaran tindakan yang menekankan pada pemahaman proses, dengan cara melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan yang menekankan kontruktivis dan teori Bruner yaitu, enaktif, ekonik,  dan simbolik.

         Fokus penelitian, bahwa berdasarkan uraian di atas, telah dilakukan PTK dengan memfokuskan pada penyebab kesalahan siswa dalam mengerjakan perkalian susun ke bawah cara pendek, yaitu menentukan sebab-sebab kesalahan siswa dengan memeriksa setiap kesalahan. Berdasarkan penyebab kesalahan-kesalahan tersebut dilakukan usaha untuk memperbaikinya dalam pembelajaran.

          Sesuai dengan fokus penelitian di atas, telah disusun rumusan maslah yang di ajukan mejadi pertanyaan sebagai berikut : (1) Apa saja yang menjadi penyebab kesalahan siswa pada perkalian susun ke bawah dengan cara pendek?, (2) Strategi pembelajaran apa yang dapat dilakukan untuk memberi motivasi sehingga dapat memperbaiki penyebab kesalahan siswa.

          Untuk dapat menjawab rumusan masalah di atas maka dilakukan perbaikan pembelajaran melalui kegiatan penelitian tindakan kelas yang akan menerapkan strategi pembelajaran yaitu Cooperatif Learning dengan tekknik tutor sebaya. Diharapkan dengan strategi pembelajaran ini siswa akan terlibat aktif serta termotivasi untuk belajar matematika pada materi  perkalian susun ke bawah cara pendek sehingga dapat meminimalisir kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal perkalian susun ke bawah cara pendek, sehingga prestasi siswa meningkat secara optimal.

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum : (a) Mendeskripsikan penyebab kesalahan siswa pada perkalian susun ke bawah cara pendek, (b) Mencari strategi pembelajaran yang dapat memberi motivasi kepada siswa dalam perkalian susun ke bawah dengancara pendek di kelas IV.

Tujuan Khususnya meningkatkan minat dan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika materi perkalian susun ke bawah cara pendek melalui cooperatif Learning teknik tutor sebaya di kelas IV SD Negeri Banjarlor 02, Kecamatan banjarharja Kabupaten Brebes.

Manfaat Penelitian

Bagi Siswa : (a) Siswa akan lebih paham cara menyelesaikan soal perkalian susun ke bawah cara pendek, (b) Siswa akan lebih termotivasi  sehingga minatnya meningkat dalam belajar matematika, (c) Hasil belajar siswa meningkat.

Bagi Guru/Peneliti: (a) Akan dapat menemukan penyebab kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal perkalian susun ke bawah cara pendek, (b) Guru akan bertambah pengalaman dalam hal mengembangkan profesinya terutama dalam hal penyajian pembelajaran yang bermakna, (c) Dapat memperbaiki pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan hasil yang optimal

Bagi Sekolah: (a) Menjadi bahan kajian untuk melakukan penelitian tindakan kelas mata pelajaran lain, (b) Dengan banyak melakukan kegiatan penelitian sedikit banyaknya dapat memberikan konstribusi dalam meningkattkan kualitas atau mutu pendidikan di sekolah tersebut.

KAJIAN PUSTAKA

Landasan Teori

Teori Belajar yang Melandasi Pembelajaran Matematika

Anak akan lebh mudah belajar sesuatu bila belajar itu didasarkan pada apa yangtelah diketahui. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu materi matematika yang baru, maka pengalaman belajar yang lalu akan mempengaruhi proses belajar materi yang baru tersebut.

Meurut Hudoyo (1998, 2-6)sekedar penggrojokan prinsip-prinsip matematika tanpa mempedulikan pengetahuan siswa, maka tidak akan terjadi proses asimilasi (proses mengaborsi pengalaman baru ke dalam pengetahuan anak) dan akomodasi (proses mengaborsi pengalaman baru dengan jalan mengadakan modifikasi pengetahuan yang ada). Atau bahkan membentuk pengalaman yang benar-benar baru. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan pengetahuan, sehingga yang terdiri dari konsep-konsep dan prinsip-prinsip terkait satu sama lain bagaikan jaring laba-laba. Belajar matematika merupakan proses membangu  atau mengkonstruksi konsep-konsep dan prinsip-prinsip, tidak sekedar penggrojokan yang terkesan pasif dan statis, namun belajar itu aktif dan dinamis.

Hal tersebut akan terwujud bila pendekatan pembelajaran yang digunakan mengacu pada pandangan konstruktivis. Konstuktivis adalah suatu pandangan dalam mengajar dan belajar, dimana siswa membangun sendiri arti dari pengalamannya dan interaksi dengan orang lain, sedangkan tugas guru adalah memberikan pengalaman yang bermakna  bagi siswa (Arend, 1997:125). Hudoyo (1998 : 7) mengatakan bahwa pembelajaran matematika menurut pandangan konstruktivis secara  spesifik antara lain bercirikan sebagai berikut :

  • Siswa terlibat aktif dalam belajar. Siswa belajar materi matematika secara bermakna dengan belajar dan berpikir.
  • Informasi yang baru harus dikaitkan dengan informasi yang lalu, sehingga menyatu dengan pengetahuan yang dimiliki.
  • Orientasi pembelajaran adalah insvestigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.

Disamping pendekatan pembelajaran yang mengacu pada pandangan konstruktivis perlu juga dipertimbangkan tahapan perkembangan mental siswa dalam mempelajari matematika. Bruner dalam  )(dalam Orton, 1992:151) menyatakan bahwa siswa dalam belajar konsep matematika melalui 3 tahap yaitu enaktif, ekonik, dan simbolik. Tahap enaktif yaitu tahap belajar dengan memanipulasi benda atau obyek konkrit, tahap ekonik adalah tahap belajar dengan mengguakan gambar, dan tahap simbolik adalah tahap belajar matematika melalui memanipulasi lambang atau simbol.

Pembelajaran yang mengacu pada pandangan konstruktivis menuntut siswa untu aktif belajar dan berpikir. Untuk itu diperlukan motivasi yang kuat dari siswa. Meurut Purwanto (1984.64-65) motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Dalam belajar motivasi itu sangat penting dan merupakan syarat mutlak untuk belajar. Guru harus memberikan motivasi yang tepat untuk mendorong agar siswa belajar dengan segenap  tenaga dan pikiranya. Motivasi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu motivasi instrinsik (berasal dalam dirinya) dan motivasi ekstrinsik (berasal dari luar).

Pembelajaran Kooperatif (Cooperatif Learning)

Menurut Slavin (2007) pembelajaran kooperatif menggalakan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Model pembelajaran ini ini dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme yang lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky. Berdasarkan penelitian Piaget yang pertama dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak (Ratna, 1988:181).

Dalam model pembelajaran kooperatif ini guru lebih berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ke arah pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri. Guru tidak hanya memberikan pengetahuan pada siswa tetapi juga harus membangun pengetahuan dalam pikirannya.

Menurut pandangan Piaget dan Vigotsky adanya hakikat sosial dari sebuah proses belajar dan juga tentang penggunaan kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan anggotanya yang beragam, sehingga terjadi perubahan konseptual.

Berkaitan dengan karya vigotsky dan penjelasan Piaget, para konstruktivisme menekankan pentingnya interaksi dengan teman sebaya, melalui pembentukan kelompok belajar. Dengan kelompok belajar memberikan kepada siswa secara aktif dan kesempatan untuk mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan siswa kepada teman akan membantunya untuk melihat sesuatu dengan lebih jelas bahkan melihat ketidaksesuaian pandangan mereka sendiri.

Konsep Dasar Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran koopratif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 – 6 orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.

Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi (Nurulhayati, 2002 : 25). Dalam sistim belajar yang kooperatif, siswa belajar bekerja sama dengan anggota lainnya.

Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan (Sanjaya, 2006:239).

Tom V. Savage (1987 : 217) mengemukakan bahwa cooperative learning adalah suatu pendekatan yang menekankan kerja sama dalam kelompok.

Terdapat empat hal penting dalam strategi pembelajaran kooperatif, yakni : (1) adanya pesrta didik dalam kelompok, (2) adanya aturan main (role) dalam kelompok, (3) adanya upaya belajar dalam kelompok, (4) adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok.

Berkenaan dengan pengelompokkan siswa dapat ditentukan berdasarkan atas : (1) minat dan bakat siswa, (2) latar belakang kemampuan siswa, (3) perpaduan antara minat dan bakat siswa dan latar kemampuan siswa.

Nurulhayati, (2002:25-28), mengemukakan lima unsur dasar model cooperative learning yaitu : (1) ketergantungan yang positif, (2) pertanggungan individual, (3) kemampuan bersosialisasi, (4) tatap muka, dan (5) evaluasi proses kelompok.

Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif

Karakteristik atau ciri-ciri pembelajaran koopratif dapat dijelaskan sebagai berikut :

  • Pembelajaran secara TIM

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dilakukan secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan, oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar, setiap anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.

  • Didasarkan pada Manajemen kooperatif

Manajemen mempunyai tiga fungsi yaitu : (a) fungsi manajemen sebagai perencanaan pelaksanaan menunjukkan bahwa pembelajaran koopratif dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, dan langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan (b) fungsi manajemen sebagai organisasi menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan dengan efektif, (c) fungsi manajemen sebagai kontrol, menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui bentuk tes maupun non tes.

  • Kemauan untuk Bekerja sama

Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok, oleh karenanya prinsip kebersamaan atau kerja sama perlu ditekankan dalam pembelajaran kooperatif. Tanpa kerja sama yang baik pembelajaran kooperatif tidak akan mencapai hasil yang optimal.

  • Keterampilan Bekerja sama

Kemampuan bekerja sama itu dipraktikan melalui aktivitas dalam kegiatan pembelajaran secara berkelompok. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

Prosedur Pembelajaran Kooperatif

  • Penjelasan Materi, tahap ini merupakan tahapan penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan tahapan ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran
  • Belajar Kelompok, tahap ini dilakukan setelah guru memberikan penjelasan materi, siswa bekerja dalam kelompok yang telah dibentuk sebelumnya.
  • Penilaian, penilaian dalam pembelajaran kooperatif bisa dilakukan melalui tes atau kuis, yang dilakukan secara individu atau kelompok. Tes individu akan memberikan penilaian kemampuan individu, sedangkan kelompok akan memberikan penilaian pada kemampuan kelompoknya, seperti dijelaskan Sanjaya (2006: 247). Hasil terakhir setiap siswa adalah menggabungkan keduanya dan dibagi dua.
  • Pengakuan tim, adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah, dengan harapan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi lebih baik lagi.

Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting, dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat dibidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, nalisis, teori peluang, dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.

Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama.

Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut : (1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan anatarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau logaritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah, (2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, (3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh, (4) Mengomunikasikan gagasan dengan symbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah, (5) Memiliki sikap menghargai keguanaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran.

Diagnosis Kesalahan Siswa dan Remidinya dalam Perkalian Susun ke Bawah Cara Pendek

Menurut Troutman (1991:230-231) para pendidik pada akhir-akhir ini  banyak melakukan diskusi mengenai upaya mendiagnossi kesalahan-kesalahan matematika  yang dilakukan siswa. Melakukan diagnosis berarti meneliti secara cermat kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dan menentukan mengapa kesalahan-kesalahan tersebut bisa terjadi. Sedangkan Remidi menurut Ischak (1982 :42) bertujuan memberi bantuan , baik yang berupa perlakuan pengajaran maupun berupa bimbingan, dalam mengatasi kasus-kasus yang dihadapi siswa, agar secara tuntas dapat menguasai bahan pelajaran yang diberikan.

Pembelajaran Perkalian 2 Bilangan Cacah Susun Ke Bawah Cara Pendek

Sesuai fakta yang ada di sekolah ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran perkalian susun ke bawah cara pendek, yaitu berdasar kesalahan-kesalahan yang banyak dilakukan siswa. Antara lain ; (1) tidak menguasai fakta dasar perkalian, (2) tidak memahami alogaritma perkalian 2 bilangan cacah susun ke bawah cara pendek, (3) tidak tahu nilai tempat.

Kennedy (1994:360-366) menyatakan bahwa sifat distributif sangat bermanfaat dalam mengerjakan perkalian yang menggunakan bilangan besar, yaitu bilangan yang lebih dari 10, dan alogaritma  perkalian atau rangkaian langkah untuk menentukan hasil. Karena perkalian dengan bilangan yang besar memerlukan langkah-langkah dan keterampilan dalam menambahkan hasil untuk setiap bagiannya, maka alogaritmanya lebih kompleks dan sulit dipelajari siswa. Siswa harus mempunyai pengetahuan yang baik mengenai fakta dasar perkalian dan nilai tempat yang telah dikenalnya utuk menggambarkan kalimat perkaliannya. Sedangkan Troutman (1991:113-114) mengatakan bahwa untuk menghitung hasil perkalian bilangan besar misal 42 x 496, maka langkah yang diperlukan adalah : (1) menafsirkan hasil perkalian, (2) menguasai fakta dasar perkalian, (3) menggambarkannya dengan model persegipanjang dan , (4) sifat perkalian.

 Kerangka Pikirkartin

Hipotesis Tindakan

Diduga dengan menerapkan pembelajaran kooperatif (cooperatif learning) teknik tutor sebaya dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa  pada pembelajaran matematika materi perkalian 2 bilangan cacah susun ke bawah cara pendek di kelas IV SD Negeri Banjarlor 02 Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes.

 

METODOLOGI PENELITIAN

Subjek Penelitian

Setting/Tempat Penelitian

Tempat penelitian adalah di SD Negeri Banjarlor 02 UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Banjarharja, Kabpaten Brebes.

Waktu penelitian

Waktu penelitian selama 6 bulan pada semester pertama tahun pelajaran 2014/2015, mulai dari tahap pembuatan proposal, pelaksanaan pemrbaikan dan pembuatan laporan PTK.

Bidang Kajian : Mata Pelajaran Matematika materi perkalian susun ke bawah cara pendek

Kelas : Kelas yang dijadikan subyek penelitian adalah Kelas IV SD Negeri Banjarlor 02, dengan jumlah siswa 26 , terdiri dari 13 siswa laki-laki, dan 13 siswa perempuan.

Karakteristik Siswa

Latar belakang siswa kelas IV SD Banjarlor 02, beragam dari kemampuan intelgensi, status sosial ekonomi, latar belakang pendidikan orang tua. Kemampuan intelgensi siswa kelas IV adalah pada garis normal, ada satu dua orang yang kemampuannya di atas rata-rata, sebaliknya ada juga yang di bawah rata-rata (lamban), status ekonomi beragam sebagaian besar berkecukupan, ada yang termasuk siswa mendapat BSM, sedangkan latar belakang pendidikan orang tua sebagian besar lulusan SD.

Peneliti dan Observer

Peneliti : Ibu Kartini selaku Kepala Sekolah SD Negeri 01 Banjarlor 02, observer ditetapkan antara lain : 1) Sdr. Subai, S.Pd.SD, 2) Hanna Faridah, S.Pd. dan 3) Dewi Purbasari, S.Pd.SD.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan karena penelitian tindakan kelas adalah merupakan penelitian yang lebih sesuai dengan tugas pokok dan fungsi guru, meningkatkan kualitas pembelajaran, meningkatkan kualitas siswa, serta mencapai tujuan pembelajaran atau pendidikan.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research yang merupakan bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, dilakukan untuk meningkatkan kematangan rasional dari tindakan-tindakan dalam melakukan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi tempat praktek pembelajaran tersebut dilakukan.

Dalam penelitian ini memakai Penelitian tindakan kelas adalah bentuk kajian yang bersifat reflektif. Pada penelitian ini disamping untuk memantu permasalahan belajar yang dihadapi siswa juga membantu guru dalam upaya memperbaiki cara mengajarnya selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Refleksi tindakan yang diperoleh bisa berupa (a) praktik-praktik sosial atau pendidikan yang dilakukan oleh guru, (b) pemahaman terhadap praktik-praktik tersebut dan (c) situasi yang melatarbelakangi praktik itu dilaksanakan. Penelitian tindakan kelas dilakukan secara kolaboratif, untuk kemantapan rasional dalam pelaksanaan tugas, serta memperbaiki kondisi tempat praktik pembelajaran sendiri.

Prosedur penelitian ada 4 tahap. Yaitu tahap perencanaan, tahap pelakasanaan tindakan, tahap observasi dan  refleksi.

Data dan Sumber Data

Data penelitian diperoleh dari hasil tes, hasil observasi, dan hasil angket/questioner sehingga data terkumpul berupa : (1) jawaban tertulis dari tes siswa, (2) aktivitas siswa dan guru (3)  hasil respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Observasi

Dalam penelitian ini observer melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran yang dilakukan peneliti, menggunakan pedoman observasi yang telah disiapkan.

Teknik Tes

Teknik tes yang digunakan  adalah tes yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Tes tersebut adalah pelaksanaan penilaian pada proses yang dilaksanakan selama kegiatan pembelajaran.

Teknik Angket/Quesioner

Angket/quesioner, atau penilaian diri digunakan untuk menyaring pendapat siswa tentang pemahaman materi pembelajaran, dibuat sederhana dan juga pertanyaan yang direspon secara bebas dan terbuka oleh siswa. Angket ini dilakssanakan diakhir siklus perbaikan pembelajaran untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran yang dipelajari.

Teknik Pengolahan Data

Pada setiap akhir pembelajaran peneliti melakukan analisis data hasil observasi dan hasil penilaian yang dilaksanakan. Data hasil pengamatan dianalisis dengan tahapan-tahapan sebagai berikut, (1) mereduksi data, (2) menganalisis/mengorganisasikan data, dan (3) melaporkan data. (Wardani, 2002:2.28).

Kegiatan mereduksi data adalah kegiatan membuang data yang tidak relevan dengan pedoman observasi dan mencatat data yang dapat digunakan untuk laporan hasil penelitian. Kegiatan mengorganiisasikan data adalah kegiatan mengurutkan atau mendeskripsikan data secara kronologis sesuai dengan urutan kegiatan pembellajaran.

Selanjutnya, data yang telah diorganisasikan tersebut dijadikan bahan laporan hasil penelitian. Bahan laporan tersebut disusun secara sistematis yang berupa deskripsi pembelajaran atau hasil penelitian.

Data yang digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar adalah data hasil penilaian siklus pertama dan siklus kedua. Data-data tersebut berupa angka untuk penilaian pengetahuan dan keterampilan. Untuk penilaian sikap berupa skala sikap (sangat Baik, Baik, Cukup, Kurang).

Teknik kuantitatif yang digunakan dalam peneliitian ini adalah mencari selisih hasil penilaian siklus kedua dikurangi hasil penilaian siklus pertama. Selisih keduanya merupakan hasill bellajar (Arikuntoo, 1998: 84). Adapun selisih-selisih yang dicari adalah selisih ketercapaian setiap tugas dan seleisih ketercapaian seluruh tugas. Hasil pengolahan data tersebut diubah ke dalamm bentuk diagram batang dan diagram lingkaran.

Hasil pengolahan penilaian tersebut digunakan untuk membuktikan hipotesis. Apabila dari hasil pengolahan data tersebut diperoleh peningkattan hasil belajar berarti hipotesis terbukti, sebaliknyya jika tidak terjadi peningkatan hasil belajar hipotesis tidak terbukti.

Indikator Kinerja   

Dengan menerapkan pembelajaran kooperatif (Cooperatif Learning) diharapkan hasil belajar pembelajaran Matematika kompetensi perkalian susun ke bawawah cara pendek, akan meningkat secara signifikan, sekurang-kurangnya rata-rata kelas mencapai angka 65 dan prosentase ketuntasan minimal 75 %

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Hasil Penelitian Kondisi Awal /Prasiklus

Kegiatan pembelajaran yang diobservasi atau diteliti adalah kegiatan pembelajaran matematika pada hari Kamis tanggal 29 Agustus 2014, yaitu tentang perkalian susun ke bawah cara pendek di kelas IV SD Negeri Banjarlor 02.

Adapun hasil observasi dideskripsikan sebagai berikut :

Kegiatan pembelajaran diawali dengan kegiatan apersepsi, dengan pertanyaan mencongak guru menanyakan beberpa soal perkalian bilangan, terlihat siswa belum berani menjawab, hal ini dikerenakan rasa takut salah, atau bingung karena belum menguasai fakta dasar perkalian. Setelah guru melakukan apersepsi, kemudian menjelaskan materi tenang perkalian susun ke bawah cara pendek. Sertelah selesai menjelaskan guru membagi lembar kerja untuk dikerjakan oleh kelompok. Pekerjaan kelompok dikumpulkan dan guru memerikasa dan menilai, ternyata hasilnya kurang memuaskan. Kemudian guru membagi lembar evaluasi/tes formatif untuk dikerjakan siswa secara individu, dan hasil penilaian tes formatif seperti tabel di bawah ini :

Siswa yang mendapat nilai < 65 = 18 siswa = 69,24%

Siswa yang mendapat nilai ≥ 65 = 8 siswa = 30,76%

Nilai Rata-Rata = 56,25

Ketuntasan Belajar = 30,76 %

Hasil Refleksi Kondisi Awal

Dari hasil observasi didapat hasil belajar antara lain; siswa yang mendapat nilai di bawah KKM (65) adalah 18 atau 69,24% dari jumlah siswa kelas IV SD Negeri Banjarlor 02, dan siswa yang mendapat nilai sama atau lebih dengan 65 adalah 8 siswa atau 30,76  %. Sedangkan nilai rata-rata kelas adalah 56,25 dismpulkan bahwa hasil pembelajaran pada kondisi awal jauh dari harapan peneliti, sehingga peneliti bersama observer sepakat untuk melakukan perbaikan pembelajaran melalui kegiatan penelitian Tindakan Kelas.

Hasil Penelitian Siklus I

Hasil Refleksi

Hasil belajar pembelajaran siklus I adalah sebagai berikut :

  1. Hasil nilai rata-rata kerja kelompok untuk kelompok MAWAR nilai 71,25 kategori CUKUP BAIK, untuk kelompok DAHLIA. Nilai 73,75 kategori CUKUP BAIK, untuk kelompok ANGGREK nilai 80 kategori SUDAH BAIK dan kelompok MELATI nilai 67,5 kategori CUKUP
  2. Hasil penilaian tes formatif : Nilai rata-rata kelas 72,60 beratimelebihi KKM yang ditentukan, sedang siswa yang memperoleh nilai di atas KKM 17 siswa atau 65,38  %, dan yang di bawah KKM 9 siswa atau 34,62 %. Prosentase ketuntasan belajar mencapai 65,38 %.

Meskipun nilai rata-rata sudah di atas KKM tetpi ketuntasan secara klasikal belum mencapai 75 %, maka peneliti merasa bahwa kegiatan perbaikan pembelajaran siklus I di anggap belum menjawab atau membuktikan hippotesis dan indikator kinerja. Untuk itu peneliti bersama observer merefleksi apa yang menjadi penyebab kegagalan dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran di siklus I, dan segera mencari solusi untuk mengatasinmya.

Penyebab masih kurangnya pencapaian hasil belajar antara lain :

  • Masih sebagian besar siswa belum aktif dalam kerja kelompok mereka hanya mengandalkan temannya yang pandai dan aktif.
  • Siswa yang belum paham cara menyelesaikan perkalian susun ke bawah tidak mau bertanya pada temannya yang ditunjuk menjadi tutor sebaya.
  • Peneliti tidak sempat memberikan bimbingan pada semua kelompok, hanya mengandalkan tutor sebaya.

Berdasar atas penyebab yang ditemukan  di atas maka peneliti bersama observer merancang Renccana Perbaikan Pembelajaran untuk Siklus II, yang kiranya dapat mengatasi kekurangan tersebut, diantaranya antara lain :

  • Pembagian kelompok dilihat berdasarkan hasil penilaian siklus I , siswa yang mendapat nilai di atas KKM disebar rata ke semua kelompok.
  • Peneliti akan berusaha memberikan motivasi serta bimbingan agar siswa seluruhnya terlibat aktif dalam proses kegiatan belajar, dan berani bertanya baik pada teman, tutor sebaya, atau pada peneliti.

Hasil Penelitian Siklus II

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus II, dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 26 September 2014 dengan alokasi waktu  4 x 35 menit (140 menit). Pengamatan tetap dilakukan oleh observer yang telah ditetapkan.

Hasil pengamatan kegiatan perbaikan pembelajaran Siklus II dideskripsikan seperti berikut :

Tahap Refleksi

Hasil belajar pembelajaran siklus I adalah sebagai berikut :

  1. Hasil nilai rata-rata kerja kelompok untuk kelompok Mawar, Dahlia, Anggrek, Melati nilai sudah mencapai kategori Sudah Baik
  2. Hasil penilaian tes formatif : Nilai rata-rata kelas 83,65 berati sudah melampaui KKM yang ditentukan, sedang siswa yang memperoleh nilai di atas KKM 24 siswa atau 92,31 %, dan yang di bawah KKM 2 siswa atau 7,69 %. Prosentase ketuntasan belajar mencapai 92,31 %.

Pembahasan

Pembahasan pada Kondisi Awal (Prasiklus)

Dari hasil observasi pada kondisi awal didapat hasil belajar antara lain; siswa yang mendapat nilai di bawah KKM (65) adalah 18 atau 69,24% dari jumlah siswa kelas IV SD Negeri Banjarlor 02, dan siswa yang mendapat nilai sama atau lebih dengan 65 adalah 8 siswa atau 30,76  %. Sedangkan nilai rata-rata kelas adalah 56,25, nilai tertinggi 87,5, nilai terendah 37,5, maka disimpulkan bahwa hasil pembelajaran pada kondisi awal jauh dari harapan peneliti.

Dengan melihat kenyataan di atas, maka dilaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran pada siklus I, dengan maksud memperbaiki /meningkatkanprestasi belajar siswa pada materi perkalian susun ke bawah cara pendek, dengen penerapan pembelajaran kooperatif teknik tutor sebaya.

Pembahasan Hasil Penelitian  Siklus I

Setelah dilaksanakan perbaikan pembelajaran siklus I, ternyata dengan menerapkan pembelajaran kooperatif teknik tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa, terbukti dari hasil refleksi siklus I yang antara lain adalah :

Hasil belajar pembelajaran siklus I adalah sebagai berikut :

Penilaian Hasil Kerja Kelompok

Hasil nilai rata-rata kerja kelompok untuk kelompok MAWAR nilai 71,25 kategori CUKUP BAIK, untuk kelompok DAHLIA. Nilai 73,75 kategori CUKUP BAIK, untuk kelompok ANGGREK nilai 80  kategori SUDAH BAIK dan kelompok MELATI nilai 67,5 kategori CUKUP

Hasil penilaian tes formatif :

Nilai rata-rata kelas 72,60 beratimelebihi KKM yang ditentukan, sedang siswa yang memperoleh nilai di atas KKM 17 siswa atau 65,38  %, dan yang di bawah KKM 9 siswa atau 34,62 %. Prosentase ketuntasan belajar mencapai 65,38 %.

Meskipun nilai rata-rata sudah di atas KKM tetpi ketuntasan secara klasikal belum mencapai 75 %, maka peneliti merasa bahwa kegiatan perbaikan pembelajaran siklus I di anggap belum menjawab atau membuktikan hippotesis dan indikator kinerja. Untuk itu peneliti bersama observer merefleksi apa yang menjadi penyebab kegagalan dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran di siklus I, dan segera mencari solusi untuk mengatasinmya.

Pembahasan Hasil Penelitian Siklus II

Setelah dilaksanakan tindakan perbaikan pembelajaran siklus II, dan hasil nya direfleksi oleh peneliti bersama teman sejawat, ternyata hasil belajar meningkat secara signifikan, baik penilaian kerja kelompok maupun hasil penilaian tes formatif, yang secara rinc dijelaskan sebagai berikut :

  1. Hasil Penilaian Kerja Kelompok

Hasil nilai rata-raata kerja kelompok untuk kelompok Mawar, Dahlia, Anggrek, Melati nilai sudah mencapai kategori Sudah Baik. Hal ini pengaruh meningkatnya aktivitas siswa dalam kelompok juga Tutor sebaya.

  1. Hasil Penilaian Tes Formatif :

Nilai rata-rata kelas 83,65 berati sudah melampaui KKM yang ditentukan, sedang siswa yang memperoleh nilai di atas KKM 24 siswa atau 92,31 %, dan yang di bawah KKM 2 siswa atau 7,69 %. Prosentase ketuntasan belajar mencapai 92,31 %. Nilai tertinggi 100, dan nlai terendah 62,5.

Untuk dapat memperjelas gambaran hasil penelitian, peneliti memaparkan bagaimana peningkatan hasil belajar siswa baik dilihat dari peningkatan keuntasan belajar maupun peningkatan nilai rata-rata dari mulai kondisi awal asampai siklus II.

Untuk peningkatan prosentase ketuntasan belajar secara klasikal adalah pada kondisi awal hanya mencapai 30, 74 % atau hanya 8 siswa yang tuntas dari 26 siswa kelas IV, pada siklus I meningkat menjadi 65,38 % atau 17 siswa mengalami ketuntasan, dan pada siklus II meningkat menjadi 92,31 %, atau 24 siswa yang mengalami ketuntasan belajar.

Data tersebut disajikan dalam tabel di bawah ini :

Tabel 4.9 Peningkatan Prosentase Ketuntasan Belajar

Kondisi Jumlah Siswa Tuntas Prosentase
Prasiklus 8 30, 74 %
Siklus I 17 65,38 %
Siklus II 24 92,31 %,

Data tabel tersebut disajikan dalam bentuk diagram di bawah ini :

Diagram 4.1 Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa

kart

Dari peningkatan jumlah siswa serta prosentasenya membuktikan terjadi  selisih antara prosentase  ketuntasan belajar siklus I dengan siklus II yaitu 26,93 %.

Untuk peningkatan hasil belajar yakni tentang perolehan nilai rata-rata kelas adalah  pada kondisi awal nilai rata-rata kelas mencapai 56,25, meningkat pada siklus I menjadi 72,60, dan pada siklus II menjadi 83,65.

Data tersebut dijasajikan pada tabel di bawah ini :

Kondisi Nilai Rata-Rata Kelas
Prasiklus 56,25
Siklus I 72,60
Siklus II 83,65

Tabel peningkatan nilai-rata-rata kelas tersebut disajikan dalam bentuk diagram di bawah ini :

Diagram 4.2 Peningkatan Nilai Rata-Rata Kelas
karti

Berdasar data hasil penelitian dan pembahasan tersebut membuktikan bahwa kegiatan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan pembelajaran kooperatif teknik tutor sebaya dapat meningkatkan aktivitas serta hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika kompetensi perkalian susun ke bawah cara pendek.  Walaupun masih ada dua siswa yang masih di bawah KKM tetapi kalau dilihat dari peningkatan nilai kedua siswa tersebut mengalami peningkatan nilai. Dengan kenyataan hasil inilah peneliti menganggap kegiatan penelitian dianggap selesai tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Berdasar dari hasil refleksi kegiatan awal bahwa kebanyakan kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal perkalian susun ke bawah cara pendek adalah siswa belum menguasai fakta dasar perkalian, nilai temapt, tidak memahami langkah-langkah pengerjaan.
  2. Strategi pembelajaran yang digunakan dalam penelitian adalah mengacu kepada pandangan teori Bruner dan konstrukstivis, yaitu pembelajaran Kooperatif dengan memberdayakan Tutor Sebaya, ternyata dapat meningkatkan aktivitas serta hasil belajar siswa tentang perkalian susun ke bawah cara pendek. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan aktivitas siswa dalam belajar sehingga berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar.

Saran/Rekomendasi

Setelah melaksanakan kegiatan penelitian ini penulis merasa cukup berhasil, dan berharap kepada semua guru/tenaga pendidik khususnya guru-guru SD Negeri Banjarlor 02, umumnya kalangan guru di setiap satuan pendidikan, seyogyanya :

  1. Agar senantiasa dapat melakukan kegiatan Penelitian Tindakan Kelas, sehingga dengan melakukan PTK tersebut kendala, kesulitan, yang dihadapi di kelas dapat teratasi.
  2. Dalam menyajikan suatu materi dalam pembelajaran , harus dapat memilih strategi atau metode yang tepat, agar hasil atau tujuan pembelajaran tercapai secara optimal.
  3. Karena penelitian ini membutuhkan kerja sama antar stake holder (kepala Sekolah, Guru-guru, dan tenaga pendidik lainnya), juga membutuhkan waktu serta biaya, diharapkan agar pihak sekolah dapat membantu guna lancarnya pelaksanaan kegiatan Penelitian yang dilaksanakan.

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah Syaiful Bahri. 2014. Strategi Belajar Mengajar.(Edisi Revisi). Jakarta : Rineka Cipta

Djamarah Syaiful Bahri. 2010. Guru dan Anak Didik. Jakarta : PT Rineka Cipta

Drs.Rusman, M.Pd. 2014. Model-Model Pembelajaran. Jakarta :  PT Raja grafindo Persada

Muhsetyo Gatot, dkk. Pembelajaran Matematika SD. Jakarta : Universitas Terbuka.

Winataputra Udin s. Dkk. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta :Universitas Terbuka

Wardhani IGAK, dkk. Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta : Universitas Terbuka

BIODATA

NAMA                : KARTINI, S.Pd.SD

NIP                      : 19620408 198304 2 007

GOL/RUANG    : PEMBINA / IV A

JABATAN          : KEPALA SD N BANJARLOR 02

UNIT KERJA     : SD N BANJARLOR 02 UPT  DINAS PENDIDIKAN KEC. BANJARHARJA-BREBES




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *