PENGEMBANGAN INDIKATOR SOAL UNTUK MENINGKATKAN MUTU SOAL UJIAN SEKOLAH MATA PELAJARAN UJIAN NASIONAL MELALUI BIMBINGAN KELOMPOK GURU SMK DI KABUPATEN BANYUMAS

3 

ABSTRAK.

Penelitian Tindakan Sekolah ini dimaksudkan sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas penyusunan perencanaan penilaian hasil belajar, terutama pengembangan Indikator Soal sebagai pedoman dalam pengukuran ketercapaian kompetensi. Subjek penelitian ini adalah guru mata pelajaran ujian nasional di lima sekolah dalam wilayah  binaan peneliti, yaitu SMK Wiworotomo, SMK Giripuro, SMK 75-2 Purwokerto, SMK Maarif NU 1 Cilongok dan SMK Diponegoro 2 Rawalo. Masing-masing sekolah diambil 8 orang guru, terdiri atas 2 orang guru Bahasa Indonesia, 2 orang guru Bahasa Inggris, 2 orang guru Matematika, dan 2 orang guru mata pelajaran produktif/kejuruan. Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui studi dokumen, wawancara dan observasi. Hasil penelitian, kemampuan guru dalam mengembangkan Indikator Soal untuk penyusunan perangkat soal Ujian Sekolah dari Kondisi Awal (30,25%) , setelah Tindakan Siklus I (50,75%) dan setelah tindakan Silus II (60,75 %), dengan total kenaikan  sebesar     30,5%. Berdasar hasil penelitian dapat disimpulkan, melalui bimbingan berkelanjutan dapat ditingkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan Indikator Soal untuk penyusunan naskah soal, terutama soal Ujian Sekolah

Kata kunci : Pengembangan Indikator soal, Mutu Soal,  Bimbingan Kelompok

PENDAHULUAN

Mengevaluasi hasil belajar peserta didik sebagai salah satu tugas pokok guru merupakan kegiatan yang sangat penting karena akan menjadi parameter keberhasilan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru dan mengukur pencapaian kompetensi peserta didik. Penyusunan perangkat Ujian Sekolah yang terdiri atas Kisi-kisi Soal, Penyebaran Aspek Kognitif dan Tingkat Kesulitan, Kartu Soal, Naskah Soal, Kunci Jawaban dan Norma Penilaian, pada umumnya lebih dipandang sebagai keharusan administratif, sehingga kualitasnya sangat kurang diperhatikan. Tidak jarang ditemukan pada perangkat soal, antara naskah soal dengan kisi-kisinya kurang sesuai atau bahkan pada beberapa soal Ujian Sekolah, perumusan indikator soal sangat tidak memperhatikan ranah kognitif yang sudah ditetapkan akan diukur pada kisi-kisi  dan rumusan soal tidak  sejalan dengan indikator soal yang sudah ditetapkan.

  1. Identifikasi dan Rumusan Masalah

Dengan latar belakang masalah sebagaimana tersebut di atas, maka permasalahan yang dihadapi penulis dapat diidentifikasi sebagai berikut :

  1. Kurangnya pemahaman guru atas keterkaitan antara komponen-komponen perencanaan penyusuan soal evaluasi belajar, khususnya soal Ujian Sekolah.
  2. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman guru atas pentingnya pengembangan indikator soal dan menjaga konsistensi soal terhadap indikator soal, aspek kognitif dan kompetensi yang akan diukur.
  3. Kurangnya bimbingan teknis terhadap guru dalam menyusun soal evaluasi belajar.

Dengan memperhatikan identifikasi masalah tersebut di atas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :

  1. Apakah kurangnya pemahaman guru atas keterkaitan antara komponen-komponen perencanaan penyusunan soal Ujian Sekolah akan berpengaruh terhadap kualitas soal Ujian Sekolah ?
  2. Apakah kurangnya pengetahuan dan pemahaman guru atas pengembangan indikator soal dan pentingnya menjaga konsistensi soal terhadap indikator soal, aspek kognitif dan kompetensi yang akan diukur akan berakibat terhadap rendahnya kualitas soal Ujian Sekolah ?
  3. Apakah dengan bimbingan teknis penyusunan soal evaluasi belajar kepada guru-guru Mata Pelajaran Ujian Nasional SMK di beberapa SMK wilayah binaan akan dapat mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut dan akan meningkatkan kualitas soal Ujian Sekolah ?
  4. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Melalui bimbingan teknis penyusunan soal evaluasi belajar kepada guru-guru Mata Pelajaran Ujian Nasional  di beberapa SMK wilayah binaan, maka tujuan penelitian yang dilakukan adalah untuk :

  1. Meningkatkan pemahaman guru atas keterkaitan antara komponen-komponen perencanaan penyusunan soal Ujian Sekolah.
  2. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman guru atas pengembangan indikator soal dan pentingnya menjaga konsistensi soal terhadap indikator soal, aspek kognitif dan kompetensi yang akan diukur.
  3. Meningkatkan pengetahuan dan kemampuam guru dalam menyusun perangkat penilaian sehigga dapat meningkatkan kualitas soal evaluasi belajar.

KAJIAN PUSTAKA

  1. Pengertian Evaluasi

Evaluasi program pembelajaran, atau yang lebih lazim disebut sebagai evaluasi belajar, terdiri atas tiga katagori yaitu tes, pengukuran dan penilaian (test, measurement and assesment). Tes merupakan salah satu cara untuk menaksir besarnya kemampuan seseorang secara tidak langsung, yaitu melalui respons seseorang terhadap stimulus atau pertanyaan (Djemari Mardapi, 2008: 67). Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan pengukuran, yaitu alat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu obyek. Obyek ini bisa berupa kemampuan peserta didik, sikap, minat maupun motivasi.

Pengukuran (measurement) dapat didefinisikan sebagai  the process by which information about the attributes or characteristics of thing are determinied and differentiated (Oriondo, 1998: 2).. Allen & Yen mendefinisikan pengukuran sebagai penetapan angka dengan cara sistematik untuk menyatakan keadaan individu (Djemari Mardapi, 2000: 1).

Dengan demikian esensi dari pengukuran adalah kuantifikasi atau penetapan angka tentang karakteristik  atau keadaan individu menurut aturan-aturan tertentu.Pengukuran memiliki konsep yang lebih luas daripada tes  (Eko Putro Widoyoko, 2009: 2).

Penilaian (assesment) memiliki makna yang berbeda dengan evaluasi. Popham (1995: 3) mendefinisikan asesmen dalam konteks pendidikan sebagai sebuah usaha secara formal untuk menentukan status siswa berkenaan dengan berbagai kepentingan pendidikan.Berdasar uraian di atas dapat disimpulkan bahwa assesment atau penilaian dapat diartikan sebagai kegiatan menafsirkan data hasil pengukuran berdasar kriteria maupun aturan-aturan tertentu.

Evaluasi merupakan suatu proses menyediakan informasi yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk menentukan harga dan jasa (the worth and merit) dari tujuan yang dicapai, desain, implementasi dan dampak untuk membantu membuat keputusan, membantu pertanggungjawaban dan meningkatkan pemahaman terhadap fenomena. Menurut rumusan tersebut, inti dari evaluasi adalah penyediaan informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.

Evaluasi belajar yang dilakukan oleh guru pada umumnya lebih menitikberatkan pada penilaian (assesment) yaitu proses sistematis meliputi pengumpulan informasi (angka atau deskripsi verbal), analisis dan interpretasi untuk mengambil keputusan berupa pencapaian hasil belajar peserta didik, yaitu sudah atau belum berhasilnya peserta didik mencapai suatu kompetensi.

Penilaian merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik, pengolahan dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik (Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Mandikdasmen, Direktorat Pembinaan SMK, 2008: 5). Secara umum, pelaksanaan penilaian perlu mempertimbangkan kegunaan dan fungsi penilaian serta menerapkan prinsip-prinsip penilaian.

  1. Pengertian Indikator

Indikator merupakan penanda pencapaian Kompetensi Dasar (KD) yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan:

  1. Tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam KD;
  2. Karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah;
  3. Potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/ daerah.

Dalam mengembangkan pembelajaran dan penilaian, terdapat dua rumusan indikator, yaitu:

  1. Indikator pencapaian kompetensi yang dikenal sebagai indikator;
  2. Indikator penilaian yang digunakan dalam menyusun kisi-kisi dan menulis soal yang di kenal sebagai indikoator soal.

Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja operasional. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu tingkat kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi. Indikator memiliki fungsi yang sangat strategis dalam mengembangkan pencapaian kompetensi berdasarkan SK-KD. Indikator berfungsi sebagai berikut :

  1. Pedoman dalam mengembangkan materi pembelajaran
  2. Pedoman dalam mendesain kegiatan pembelajaran
  3. Pedoman dalam mengembangkan bahan ajar
  4. Pedoman dalam merancang dan melaksanakan penilaian hasil belajar
  1. Pengertian Bimbingan

Menurut M. Ali Satiran yang mengutip dari Crow & Crow dalam Heru Mugiarso : 2004, bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang, baik pria maupun wanita yang telah terlatih dengan baik, memiliki kepribadian dan pendidikan yang memadai kepada seseorang, dari semua usia untuk membantunya mengatur kegiatan, keputusan sendiri, dan menanggung bebannya sendiri. (Jurnal Pendidikan Widyatama ; 2008).

Sedangkan Ngalim Purwanto (2003 ; 170) mengemukakan bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada seorang individu dari setiap umur, untuk menolong dia mengatur kegiatan hidupnya, mengembangkan pendidikan/pandangan hidupnya, membuat putusan-putusan dan memikul beban hidup nya sendiri.

Berdasarkan pengertian bimbingan dari para ahli tersebut, maka bimbingan mengandung empat unsure pokok, yaitu ;

  1. Bimbingan merupakan petunjuk atau penjelasan cara mengerjakan sesuatu.
  2. Bimbingan merupakan suatu proses yang berkelanjutan artinya kegiatan bimbingan merupakan kegiatan yang dilakukan dengan sistematis, berencana, terus-menerus dan terarah untuk mencapai tujuan.
  3. Bimbingan merupakan proses membantu individu atau sekelompok orang kearah tujuan sesuai potensinya.
  4. Bimbingan adalah merupakan tuntunan yang diberikan baik secara perorangan maupun kelompok.
  5. Hipotesis Tindakan

“Melalui bimbingan kelompok berkelanjutan dapat meningkatkan kemampuan Guru SMK Mata Pelajaran Ujian Nasional di wilayah binaan peneliti di  Kabupaten Banyumas dalam mengembangkan Indikator Soal untuk penyusunan perangkat soal Ujian Sekolah”.

METODE DAN TAHAPAN PENELITIAN TINDAKAN

  1. Metode:

Subyek penelitian ini adalah guru mata pelajaran ujian nasional di lima sekolah dalam wilayah  binaan peneliti, yaitu SMK Wiworotomo, SMK Giripuro, SMK 75-2 Purwokerto, SMK Maarif NU 1 Cilongok dan SMK Diponegoro 2 Rawalo. Masing-masing sekolah diambil 8 orang guru, terdiri atas 2 orang guru Bahasa Indonesia, 2 orang guru Bahasa Inggris, 2 orang guru Matematika, dan 2 orang guru mata pelajaran produktif/kejuruan.

Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui studi dokumen, wawancara dan observasi. Studi dokumen dimaksud berupa pengkajian dokumen perangkat soal ujian sekolah tahun 2014/2015. Wawancara dilakukan terhadap guru secara acak mewakili tiap-tiap mata pelajaran pada masing-masing sekolah. Sedangkan observasi dilakukan ketika guru melakukan review dan revisi penyusunan perangkat soal.

  1. Tindakan penelitian
  2. Menyusun perencanaan tindakan

Pada tahap ini peneliti melakukan penyusunan jadwal kegiatan berupa kegiatan awal, tindakan siklus I dan tindakan siklus II.

  1. Pelaksanaan tindakan
  2. Pengamatan Kondisi Awal

Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan awal berupa pengumpulan data dan dokumen berupa perangkat soal ujian sekolah guru mata pelajaran ujian nasional tahun pelajaran 2014/2015. Dokumen tersebut dikaji oleh peneliti, terutama pada aspek penyusunan indikator soal.

  1. Tindakan Siklus I

Pada tahap ini peneliti melakukan bimbingan teknis berkelompok terhadap seluruh guru subyek penelitian di salah satu SMK yang diteliti. Selanjutnya guru diminta untuk mereview dan merevisi perangkat soalnya masing-masing. Berikutnya peneliti mengkaji hasil review dan revisi perangkat soal tersebut untuk direfleksikan hasilnya pada pertemuan berikutnya.

  • Tindakan Siklus II

Pada tahap ini peneliti melakukan bimbingan teknis terhadap guru subyek penelitian di sekolahnya masing-masing untuk kemudian diikuti dengan kegiatan review dan revisi kembali terhadap perangkat soal ujian sekolahnya masing-masing yang telah direview dan direvisi pada siklus I. Peneliti melakukan pengkajian kembali terhadap hasil review dan revisi perangkat soal ujian sekolah tersebut. Kemudian, hasil pengkajian direfleksikan oleh peneliti untuk memperoleh perbandingan perubahan kualitas perangkat soal ujian sekolah.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Kondisi Awal Sebelum Tindakan Penelitian

Sebelum melakukan tindakan, terlebih dahulu peneliti melakukan studi dokumen dan wawancara terhadap 40 orang guru dari 5 (tiga) sekolah yang akan menjadi sasaran penelitian, dengan meminta perangkat soal Ujian Sekolah masing-masing guru dimaksud. Peneliti memeriksa Kelengkapan Perangkat Soal (1), Kesesuaian Indikator Pencapaian Kompetensipada kisi-kisi dengan Indikator Soal pada Kartu Soal (2), Kesesuaian Indikator Soal dengan Aspek Kognitif yang diukur dan Tingkat Kesulitan Soal (3) serta KesesuaianSoal dengan Indikator Soal yang telah dirumuskan (4). Tabel di bawah ini menunjukkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan peneliti :

Tabel 1.    Kemampuan Awal Guru dalam mengembangkan indikator soal untuk penyusunan naskah soal Ujian Sekolah mata pelajaran Ujian Nasional.

No Nama SMK Jml Guru  

Aspek yang diobservasi/diteliti

% Rata-rata Kemamp. Guru
(1) (2) (3) (4)
1. SMK Wiworotomo 8 org 60% 40% 35% 30% 41,25%
2. SMK Giripuro 8 org 65% 45% 30% 30% 42,5%
3. SMK 75-2 Pwt 8 org 45% 30% 25% 20% 30%
4. SMK Maarif NU 1 Clk. 8 org 50% 35% 25% 25% 33,75%
5. SMK Dipo 2 Rwl. 8 org 40% 30% 25% 20% 28,75%
% Rata-rata seluruh sekolah 52% 36% 28% 25% 35,25%

Dari tabel 1 di atas dapat dilihat bahwa kondisi awal kemampuan guru mata pelajaran Ujian Nasional dalam mengembangkan indikator soal untuk Penyusunan Perangkat Soal Ujian Sekolah masih rendah. Rata-rata kemampuan guru dalam memenuhi kriteria dan norma penyusunan perangkat soal berdasar Pedoman Penyusunan Evaluasi Hasil Belajar SMK baru berkisar 35,25%.

Kemampuan awal guru sebagaimana tertuang pada Tabel 1 dapat dilukiskan dengan diagram batang sebagai berikut :

kemampuan-awal

Gambar 1.     Diagram Batang Kemampuan Awal Guru dalam Mengembangkan Indikator Soal untuk Penyusunan Perangkat Soal Ujian Sekolah Mata Pelajaran Ujian Nasional.

  1. Tindakan Siklus I

Guna mengupayakan perbaikan mutu Soal Ujian Sekolah pada mata pelajaran Ujian Nasional, maka peneliti melakukan pembinaan bersama seluruh guru sasaran penelitian (40 orang) di salah satu SMK yang telah ditentukan. Pembinaan dilakukan dengan menitikberatkan pada Penguatan Pemahaman Guru terhadap Pengembangan Indikator Soal, Pemilihan Kata Kerja Operasional yang sesuai dengan aspek kognitif yang akan diukur dan Tingkat Kesulitan Soal serta Kesesuaian Soal dengan Indikator Soal.

Setelah dilakukan pembinaan, seluruh guru tersebut diminta meriview dan merevisi perangkat soal Ujian Sekolah Tahun Pelajaran 2014/2015 yang telah disusunnya. Selajutnya diminta kesepakatan waktu untuk mereview dan merevisi perangkat soal itu dan waktu pengumpulan kembali perangkat soal yang telah direvisi.

Perangkat soal Ujian Sekolah yang telah direview dan direvisi kemudian dianalisis oleh peneliti dan dengan variabel analisis yang sama, hasilnya dapat direfleksikan dalam tabel berikut :

Tabel 2.    Kemampuan Guru dalam mengembangkan indikator soal untuk penyusunan naskah soal Ujian Sekolah mata pelajaran Ujian Nasional setelah Siklus I.

No Nama SMK Jml Guru  

Aspek yang diobservasi/diteliti

% Rata-rata Kemamp. Guru
(1) (2) (3) (4)
1. SMK Wiworotomo 8 org 70% 60% 50% 45% 56,25%
2. SMK Giripuro 8 org 75% 55% 55% 50% 58,75%
3. SMK 75-2 8 org 65% 45% 40% 40% 47,5%
4. SMK Maarif NU Clk. 8 org 60% 45% 45% 35% 46,25%
5. SMK Dipo 2 Rwl. 8 org 55% 50% 40% 35% 45%
% Rata-rata seluruh sekolah 65% 51% 46% 41% 50,75%

Tabel tersebut menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam mengembangkan indikator soal untuk penyusunan naskah soal Ujian Sekolah mengalami kenaikan dari  35,25% pada kondisi awal menjadi 50,75%, atau naik sebesar 15,5%. Kenaikan tiap unsur/variabel yang dianalisis pada siklus I dibanding pada kondisi awal, dapat dituangkan dalam grafik batang sebagai berikut :

siklus-1

Gambar 2.     Diagram Batang Kemampuan Guru dalam Mengembangkan Indikator Soal untuk Penyusunan Naskah Soal Ujian Sekolah Mata Pelajaran Ujian Nasional setelah Tindakan pada Siklus I.

Sedangkan kenaikan prosentase rata-rata kemampuan guru dari kondisi awal dengan kondisi setelah siklus I, dapat dilukiskan dengan diagram polygon berikut :

kondisi-awal-siklus-1

Gambar 3.     Diagram Polygon Kenaikan Kemampuan Guru dalam mengembangkan Indikator soal untuk Penyusunan perangkat soal Ujian Sekolah setelah Siklus I.

  1. Tindakan Siklus II

Kemampuan guru dalam mengembangkan Indikator soal untuk penyusunan naskah soal Ujian Sekolah pada siklus I masih belum memenuhi harapan peneliti. Untuk itu perlu dilakukan tindakan siklus II dalam bentuk bimbingan individu di sekolah masing-masing.

Perangkat soal Ujian Sekolah yang telah direview dan direvisi pada siklus I, dianalisis kembali oleh masing-masing guru untuk disempurnakan. Berbagai kesalahan yang masih terjadi pada penyusunan naskah soal, mulai dari kesesuaian Indikator soal dengan Indikator pencapaian kompetensi, kesesuaian Indikator soal dengan aspek kognitif yang akan diukur dan tingkat kesulitan soal serta kesesuaian soal terhadap Indikator soal masing-masing.

Hasil review dan revisi perangkat soal pada siklus II kemudian dianalisis oleh peneliti dan hasilnya dapat direfleksikan melalui tabel berikut :

Tabel 3.    Kemampuan Guru dalam mengembangkan indikator soal untuk penyusunan naskah soal Ujian Sekolah mata pelajaran Ujian Nasional setelah Siklus II.

No Nama SMK Jml Guru  

Aspek yang diobservasi/diteliti

% Rata-rata Kemamp. Guru
(1) (2) (3) (4)
1. SMK Wiworotomo 8 org 80% 75% 70% 65% 72,5%
2. SMK Giripuro 8 org 85% 75% 75% 70% 76,25%
3. SMK 75-2 8 org 75% 65% 60% 65% 66,25%
4. SMK Maarif NU Clk. 8 org 80% 65% 60% 55% 65%
5. SMK Dipo 2 Rwl. 8 org 70% 60% 55% 50% 58,75%
% Rata-rata seluruh sekolah 65% 51% 46% 41% 67,75%

Kemampuan guru dalam mengembangkan Indikator soal untuk penyusunan naskah soal Ujian Sekolah bagi mata pelajaran Ujian Nasional seperti terlihat pada Tabel 3 di atas menunjukkan terjadinya kenaikan dari 50,75% pada Siklus I menjadi 67,75% setelah Siklus II, atau berarti mengalami kenaikan sebesar 17%. Kenaikan tersebut dapat digambarkan dengan diagram batang sebagai berikut :

siklus-2

Gambar 4.  Diagram Batang Kemampuan Guru dalam mengembangkan indikator soal untuk penyusunan naskah soal Ujian Sekolah mata pelajaran Ujian Nasional setelah Siklus II.

Jika direfleksikan sejak kondisi awal, maka perubahan kemampuan guru mata pelajaran Ujian Nasional dalam mengembangkan Indikator soal untuk menyusun naskah soal Ujian Sekolah, akan terllihat pada diagram polygon dan Grafik perbandingan Kemampuan guru dalam mengembangkan Indikator soal sebagai berikut :

peningkatan-guru

Gambar 5.     Diagram Polygon Peningkatan Kemampuan Guru dalam Mengembangkan Indikator Soal untuk Penyusunan Perangkat Soal Ujian Sekolah dari Kondisi Awal dan Setelah Diambil Tindakan pada  Siklus I dan Siklus II.

peningkatan-kemamuan-grafik-label

Gambar 6.  Grafik Peningkatan Kemampuan Guru Masing-Masing Sekolah dalamMengembangkan Indikator Soal untuk Penyusunan Perangkat Soal Ujian Sekolah dari Kondisi Awal dan Setelah Diambil Tindakan pada  Siklus I dan Siklus II

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tindakan sekolah yang dilakukan di 5 (lima) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terhadap 40 orang guru mata pelajaran Ujian Nasional (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan Kejuruan) dan pembahasan hasil penelitian pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

  1. Bahwa guru mata pelajaran Ujian Nasional di SMK pada umumnya kurang tersentuh oleh pembinaan, baik dalam bentuk Pendidikan dan Pelatihan, peningkatan kompetensi melalui In House Training maupun Workshop, terutama yang berkaitan dengan Penyusunan Alat Evaluasi Belajar.
  2. Melalui bimbingan berkelanjutan dapat ditingkatkan kemampuan guru dalam mengebangkan Indikator Soal untuk penyusunan naskah soal, terutama soal Ujian Sekolah seperti terlihat pada peningkatan prosentase Kemampuan guru dalam mengembangkan Indikator Soal untuk penyusunan perangkat soal Ujian Sekolah dari Kondisi Awal (30,25%) , setelah Tindakan Siklus I (50,75%) dan setelah tindakan Silus II (60,75 %), dengan total kenaikan sebesar     30,5%.  Hal ini juga berarti menjawab Hipotesa Tindakan penelitian.
  3. Melalui bimbingan berkelajutan, guru dapat meningkatkan mutu soal evaluasi belajar, mulai dari penyusunan Kisi-kisi materi pembelajaran, Kisi-kisi penyebaran Aspek Kognitif dan Tingkat kesulitan dan Kesesuaian Indikator soal terhadap Indikator Pencapaian Kompetensi, Aspek Kognitif yang diukur dan butir soal.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas, (2002). Sosialisasi KTSP Model-Model Pembelajaran Efektif, Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas.

Dr. Nana Sudjana, (2011). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Remaja Rosdakarya. Bandung.

Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Mandikdasmen, Direktorat Pembinaan SMK, (2008) : Pedoman Penyusunan Evaluasi Hasil Belajar Sekolah Menengah Kejuruan.

Harrow, A. J. (1972). A taxonomy of the psychomotor domain: A guided for developing behavioral objective. New York: David Mc Key Company.

Mardapi, Dj. dan Ghofur, A, (2004). Pedoman Umum Pengembangan Penilaian; Kurikulum Berbasis Kompetensi SMA. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum.

Mehrens, W.A, and Lehmann, I.J, (1991). Measurement and Evaluation in Education and Psychology. Fort Woth: Holt, Rinehart and Winston, Inc.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Jakarta: Fokus Media.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 14 tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, Jakarta, 2006.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, Jakarta, 2006.

Permendikbud RI Nomor : 81a tahun 2013 tentang : Implementasi Kurikulum (Pedoman Penyusunan dan Pengelolaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).

BIODATA

Nama                        : Drs. H. Haris Nurtiono, M.Si.

NIP                           : 196009181985031015

Pangkat/Golongan    : Pembina Utama Muda/ IVc

Unit Kerja                : Pengawas SMK Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *