infopasti.net

PTK SD Bahasa Indonesia Materi Menulis Pantun Metode Konstektual

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA MATERI MENULIS PANTUN MENGGUNAKAN METODE KONTEKSTUAL BERBASIS MASALAH DI KELAS IV SD NEGERI KAWUNGANTEN LOR 01 KECAMATAN KAWUNGANTEN KABUPATEN CILACAP

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa dan motivasi belajar siswa setelah diterapkannya pembelajaran berbasis masalah. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu : rancangan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri Kawunganten Lor 01 semester 2. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif dan lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analisis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu siklus I (69,48%), siklus II (75,00%), siklus III (78,45). Kesimpulan dari penelitian ini adalah metode pembelajaran berbasis masalah dapat berpengaruh positif terhadap motivasi belajar Siswa Kelas IV SD Negeri Kawunganten Lor 01 sehingga secara langsung meningkatkan prestasi belajar siswa.

Pendahuluan

Menulis pantun merupakan salah satu ketrampilan bidang apresiasi sastra yang harus dikuasai oleh siswa sekolah dasar. Dalam kurikulum bahasa Indonesia, materi menulis kreatif pantun terdapat dalam pembelajaran yang diajarkan di kelas IV, yakni menuliskan pengalaman pribadi yang paling menarik dalam bentuk pantun untuk menyampaikan perasaan ataupun dalam hal belajar, bermain dan berinspirasi. Akan tetapi, pada kenyataannya pembelajaran menulis pantun di sekolah masih banyak kendala dan cenderung untuk dihindari.

Pembelajaran menulis pantun di sekolah dasar dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kamampuan siswa dalam mengapresiasikan karya sastra. Hal ini berkaitan erat dengan latihan mempertajam perasaan, penalaran, dan daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya dan lingkungan hidup. Selain itu fungsi lain dari pantun adalah ekspresi kreatif, yaitu ekspresi dari aktifitas jiwa yang memusatkan  kesan-kesan (kondensasi). Kesan-kesan dapat diperoleh melalui pengalaman dan lingkungan. Oleh karena itu, anggapan bahwa menulis pantun sebagai aktifitas yang sulit sudah seharusnya dihilangkan, khususnya siswa sekolah dasar, karena mereka merupakan siswa yang rata-rata berusia 7-13 tahun. Anak pada usia tersebut sedang berfikir refleksif dan menyatakan operasi mentalnya dengan simbol-simbol. Artinya, mereka bisa mengungkapkan pikiran dan perasaan yang ada pada dirinya dalam bentuk pantun. Namun, kenyataanya di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang belum mampu melaksanakan kegiatan tersebut secara optimal.(Pieget dalam Dahar, 1988).

Di sekolah SD Negeri Kawunganten Lor 01 khususnya, diperoleh informasi bahwa kemampuan siswa dalam menulis pantun masih rendah. Siswa mengalami kesulitan menuangkan pikiran-pikiran dan perasaannya dalam bentuk pantun. Kesulitan yang dihadapi siswa itu ditandai dengan beberapa hal seperti siswa kesulitan menemukan kata pertama dalam pantunnya, mengembangkan ide menjadi pantun karena minimnya penguasaan kosakata, dan menulis pantun karena tidak terbiasa mengemukakan perasaan, pemikiran, dan imajinasinya kedalam pantun.

Kajian Teori

Di dalam istilah hasil belajar, terdapat dua unsur di dalamnya, yaitu unsur hasil dan unsur belajar. Hasil merupakan suatu hal yang telah dicapai orang yang belajar dalam kegiatan belajarnya (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya), sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dari pengertian ini, maka hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.

Belajar itu sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, atau memaknai sesuatu yang diperoleh. Akan tetapi apabila kita bicara tentang hasil belajar, maka hal itu merupakan hasil yang telah dicapai oleh orang yang belajar. Istilah hasil belajar mempunyai hubungan yang erat kaitannya dengan prestasi belajar. Sesungguhnya sangat sulit untuk membedakan pengertian prestasi belajar dengan hasil belajar. Ada yang berpendapat bahwa pengertian hasil belajar dianggap sama dengan pengertian prestasi belajar. Akan tetapi lebih dahulu sebaiknya kita simak pendapat yang mengatakan bahwa hasil belajar berbeda secara prinsipil dengan prestasi belajar. Hasil belajar menunjukkan kualitas jangka waktu yang lebih panjang, misalnya satu cawu, satu semester dan sebagainya. Sedangkan prestasi belajar menunjukkan kualitas yang lebih pendek, misalnya satu pokok bahasan, satu kali ulangan harian dan sebagainya.

Pengertian hasil adalah sebagai keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau skor dari hasil tes mengenai sejumlah pelajaran tertentu. Pengertian hasil secara jelas adalah sebagai berikut, “Hasil yang dicapai oleh tenaga atau daya kerja seseorang dalam waktu tertentu”, Berdasarkan tujuannya, hasil belajar dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

  1. Hasil belajar yang berupa kemampuan keterampilan atau kecakapan di dalam melakukan atau mengerjakan suatu tugas, termasuk di dalamnya keterampilan menggunakan alat.
  2. Hasil belajar yang berupa kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan tentang apa yang dikerjakan.
  3. Hasil belajar yang berupa perubahan sikap dan tingkah laku.

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar

Sejak awal dikembangkannya ilmu pengetahuan tentang perilaku manusia, banyak dibahas mengenai bagaimana mencapai hasil belajar yang efektif. Para pakar di bidang pendidikan dan psikologi mencoba mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Dengan diketahuinya faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar, para pelaksana maupun pelaku kegiatan belajar dapat memberi intervensi positif untuk meningkatkan hasil belajar yang akan diperoleh.

Secara implisit, ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar anak, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

  1. Faktor Internal

Faktor internal meliputi faktor fisiologis, yaitu kondisi jasmani dan keadaan fungsi-fungsi fisiologis. Faktor fisiologis sangat menunjang atau melatar belakangi aktivitas belajar. Keadaan jasmani yang sehat akan lain pengaruhnya dibanding jasmani yang keadaannya kurang sehat. Untuk menjaga agar keadaan jasmani tetap sehat, nutrisi harus cukup. Hal ini disebabkan, kekurangan kadar makanan akan mengakibatkan keadaan jasmani lemah yang mengakibatkan lekas mengantuk dan lelah.

Faktor psikologis, yaitu yang mendorong atau memotivasi belajar. Faktor-faktor tersebut diantaranya :1)Adanya keinginan untuk tahu, 2)Agar mendapatkan simpati dari orang lain.3)Untuk memperbaiki kegagalan,4) Untuk mendapatkan rasa aman.

  1. Faktor Eksternal

Faktor-faktor eksternal, yaitu faktor dari luar diri anak yang ikut mempengaruhi belajar anak, yang antara lain berasal dari orang tua, sekolah, dan masyarakat.1) Faktor yang berasal dari orang tua, 2)Faktor yang berasal dari sekolah,3)Faktor yang berasal dari masyarakat.

Motivasi merupakan dorongan yang ada pada diri anak untuk melakukan suatu tindakan. Besar kecilnya motivasi banyak dipengaruhi oleh kebutuhan individu yang ingin dipenuhi (Suharsimi, 1993: 88). Ada dua macam motivasi yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik adalah motivasi yang ditimbulkan dari dalam diri orang yang bersangkutan. Sedangkan, motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul oleh rangsangan dari luar atau motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar, misalnya angka, ijazah, tingkatan, hadiah, persaingan, pertentangan, sindiran, cemoohan dan hukuman. Motivasi ini tetap diperlukan di sekolah karena tidak semua pelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.

Motivasi Belajar

Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seorang atau organisme yang menyebabkan kesiapan-kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Usman, 2000: 28).

Sedangkan motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu (Djamarah, 2002: 114). Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Bahwa siswa yang termotivasi dalam belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan meyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik.(Nur, 2001: 3)

  1. Prosedur Penelitian

Tahapan Pembelajaran dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur, yang terdiri dari 4 tahap, merencanakan (planning), melakukan tindakan (action), mengamati (observing), dan refleksi (reflecting), (Wardani, dkk (2004:2.3-2.4). Hasil refleksi terhadap tindakan yang dilakukan akan digunakan kembali untuk merevisi rencana jika ternyata tindakan yang dilakukan sebelumnya belum berhasil dalam memecahkan masalah.

Keempat tahap dalam Penelitian Tindakan Kelas tersebut adalah unsur untuk membentuk sebuah siklus, yaitu satu putaran beruntun, dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan refleksi, yang tidak lain adalah evaluasi. Apabila dikaitkan dengan ”bentuk tindakan” sebagaimana disebutkan dalam uraian ini, maka yang dimaksud dengan bentuk tindakan adalah siklus tersebut. Jadi bentuk Penelitian Tindakan Kelas tidak pernah merupakan kegiatan tunggal tetapi selalu berupa rangkaian kegiatan yang akan kembali ke asal, yaitu dalam bentuk siklus (Dr. Sulipan, M.Pd : 2008).

Hasil refleksi terhadap tindakan yang dilakukan akan digunakan kembali untuk merevisi rencana jika ternyata tindakan yang dilakukan belum berhasil memecahkan masalah, seperti tampak pada gambar di bawah ini :

srisuharyat

Gambar.  3.2 Daur Penelitian Tindakan Kelas

Keterangan :

R         : Merencanakan                                   T         : Tindakan

P          : Pengamatan                                       Rf        : Refleksi

S          : Saran dan tindak lanjut

Setelah siklus ini berlangsung tiga kali, mungkin perbaikan yang diinginkan sudah terlaksana. Dalam hal ini daur PTK dengan tujuan perbaikan yang direncanakan sudah berakhir, namun biasanya akan kembali muncul masalah atau kerisauan baru. Masalah ini akan kembali dipecahkan melalui daur PTK berikutnya. Secara rinci tahap-tahap itu adalah :

srisuharyatii

  1. Hasil Penelitian
    1. Data Tentang Perencanaan

Pada Siklus I sampai Siklus III rencana perbaikan pembelajaran dan skenario tindakan dilaksanakan sesuai dengan langkah langkah atau prosedur PTK, namun hasilnya masih belum memuaskan. Untuk mengamati proses pembelajaran pada setiap siklus, disusun lembar observasi siswa dalam pengamatan dan lembar observasi siswa dalam kelompok.

  1. Data Hasil Pelaksanaan Tindakan

Setelah melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia kelas IV untuk materi “pantun” melalui metode pembelajaran berbasis masalah siklus demi siklus, peneliti mencoba mendeskripsikan hasil dalam kegiatan perbaikan tersebut. Deskripsi per siklus seperti pada tabel di bawah ini :

Dari hasil evaluasi siswa kelas IV SD Negeri Kawunganten Lor 01 di atas, dapat diperoleh keterangan sebagai berikut :

  1. Studi Awal

Pada studi awal, sebelum menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah dan hanya menggunakan metode ceramah, siswa yang tuntas belajar sebanyak 9 siswa atau 41% dengan rata-rata 64,55.

  1. Siklus I

Pada perbaikan pembelajaran Siklus I dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah, ternyata hasil yang diperoleh masih sama dengan hasil pada studi awal yaitu 9 siswa atau 41% siswa yang memperoleh nilai tuntas. Namun, rata-rata nilai yang diperoleh meningkat dari studi awal, yang semula 64,55 meningkat menjadi 69,32.

  1. Siklus II

Pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran Siklus II dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah, mengaitkan masalah yang disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari siswa, mengalami peningkatan siswa yang tuntas belajar meskipun belum memenuhi kriteria ketuntasan perbaikan pembelajaran. Siswa yang tuntas dalam siklus ini mencapai 64% dengan rata-rata 73,64.

  1. Siklus III

Pada perbaikan pembelajaran Siklus III ini, untuk memotivasi siswa peneliti lebih dekat lagi dalam mengaitkan masalah atau cerita untuk menjelaskan materi yaitu dengan memunculkan masalah yang benar-benar realita dan dekat dengan siswa. Dalam menjelaskan materi dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah, peneliti mengaitkan masalah yang dilakukan siswa dari rumah ke sekolah dan sampai pulang ke rumah lagi. Ternyata pada Siklus III hasil yang diperoleh sangat baik ini, yaitu siswa yang tuntas belajar mencapai 91% atau 20 siswa. Dalam Siklus III ini, ada peningkatan sebanyak 6 siswa atau 21 % siswa tuntas belajar dan hanya 2 siswa yang tidak tuntas belajar, dan Siklus III mencapai rata-rata nilai 77,27.

Dari keterangan di atas dapat di cermati pada tabel di bawah ini :

Tabel. 4.2. Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Siswa

No Jumlah Siswa Pelaksanaan Siswa tuntas Siswa belum tuntas Nilai Rata-rata
F % F %
1 22 Studi Awal 9 41 13 59 64,55
2 22 Siklus I 9 41 13 59 69,32
3 22 Siklus II 14 64 8 36 73,64
4 22 Siklus III 20 91 2 9 77,27

Dari tabel 4.2. terlihat bahwa :

  1. Setelah perbaikan pembelajaran, pada Siklus I ketuntasan belajar siswa belum mengalami kenaikan dari studi awal.
  2. Siklus II terjadi kenaikan ketuntasan belajar sebesar 23% dari Siklus I.
  3. Pada Siklus III juga terjadi kenaikan ketuntasan belajar sebesar 21% dari Siklus II.

Analisis perkembangan kenaikan ketuntasan belajar siswa sebagai upaya perbaikan pembelajaran dapat digambarkan dalam bentuk grafik seperti pada gambar di bawah ini :

srisuharyatiii

Gambar 4.1. Grafik Rekapitulasi Kenaikan Ketuntasan Belajar

Dari semua hasil pengamatan data di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Siklus I

Pada pembelajaran Siklus I, belum menunjukkan peningkatan  ketuntasan belajar. Siswa yang tuntas belajar masih sama dengan studi awal yaitu sebanyak 9 siswa.

  1. Siklus II

Pada pembelajaran Siklus II, terjadi peningkatan belajar dari Siklus I yaitu sebesar 23%. Perubahan ini akibat guru mengaitkan materi dengan contoh nyata kehidupan sehari-hari siswa untuk meningkatkan pemahaman siswa.

  1. Siklus III

Pada pembelajaran Siklus III, dengan metode pembelajaran berbasis masalah yang dikaitkan dengan kondisi keseharian siswa secara lebih dekat dan benar-benar dirasakan siswa ternyata dapat merubah keaktifan siswa sekaligus meningkatkan ketuntasan belajar siswa. Terbukti pada Siklus III ini terjadi peningkatan ketuntasan belajar siswa mencapai 21% dan memenuhi ketuntasan belajar yang ditentukan.

Data Hasil Pengamatan

Berdasarkan hasil pengamatan (observasi) selama proses perbaikan pembelajaran dari Siklus I sampai Siklus III, bahwa setelah menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah dengan mengaitkan masalah lebih dekat dengan siswa, yaitu apa yang dilakukan siswa dari rumah ke sekolah sampai pulang kembali ternyata mengalami peningkatan keaktifan siswa pada setiap siklusnya. Dapat dilihat dari hasil observasi pada lembar observasi di bawah ini :

Tabel. 4.3. Tabel Rekapitulasi Data Hasil Observasi

No Kegiatan Pembelajaran Keaktifan bekerja dalam kelompok Keaktifan bertanya kepada guru
F % F %
1 Siklus I 11 50 13 59
2 Siklus II 16 73 17 77
3 Siklus III 21 95 20 91

Berdasarkan tabel rekapitulasi data hasil pengamatan (observasi) diperoleh data sebagai berikut :

  1. Keaktifan siswa baik dalam kerja kelompok maupun bertanya kepada guru pada Siklus I sebanyak 50%, dan 59 %
  2. Keaktifan siswa baik dalam kerja kelompok maupun bertanya kepada guru pada Siklus II sebanyak 73%. dan 77%
  3. Keaktifan siswa baik dalam kerja kelompok maupun bertanya kepada guru pada Siklus III keduanya sebanyak 93%.

Dari keterangan di atas dapat di cermati pada tabel dan grafik di bawah ini :

Tabel 4.4. Rata-rata presentase tiap fokus obsesrvasi

No Kegiatan Pembelajaran Respon Siswa
Siswa aktif (%) Siswa  belum aktif (%)
1 Siklus I 50 50
2 Siklus II 75 25
3 Siklus III 93 7

srisuharyatiiii

Gambar 4.2 .Grafik Hasil Analisis Keaktifan Siswa

Berdasarkan tabel dan grafik di atas diperoleh keterangan sebagai berikut :

  1. Keaktifan siswa pada Siklus I sebanyak 50% dan siswa yang belum aktif sebanyak 50%.
  2. Keaktifan siswa pada Siklus II sebanyak 75% dan siswa yang belum aktif sebanyak 25%.
  3. Keaktifan siswa pada Siklus I sebanyak 93% dan siswa yang belum aktif sebanyak 7%.

Data Hasil Refleksi

Setelah penelitian selesai, penulis merefleksi untuk mengkaji, menilai, dan menganalisis  pelaksanaan penelitian dan tindakan perbaikan. Setelah merefleksi diri, penulis menyimpulkan bahwa tidak semua masalah dalam pendidikan yang menyangkut prestasi belajar siswa dapat diselesaikan hanya dengan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Selain itu peneliti menemukan kelemahan dan kelebihan setelah penelitian ini berlangsung yang mempengaruhi hasil perbaikan pembelajaran. Beberapa kelemahan yang dijumpai peneliti antara lain :

  1. Setelah diadakan perbaikan pembelajaran sampai pada Siklus III, ternyata masih ada 2 siswa atau 8 % siswa belum tuntas belajar.
  2. Alat pengumpul data yang digunakan dalam tindakan perbaikan masih terbatas pada lembar observasi dan lembar analisis hasil belajar siswa, sehingga belum dapat menggali data selengkapnya.

Selain kelemahan di atas, peneliti juga menemukan kelebihan selama tindakan perbaikan pembelajaran. Kelebihan tersebut adalah ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus dapat meningkat dan melebihi kriteria ketuntasan perbaikan pembelajaran yang ditentukan.

  1. Pembahasan Setiap Siklus
    1. Siklus I

Pada siklus ini siswa yang tuntas belajar masih jauh di bawah target yang direncanakan karena masih banyak siswa yang belum berhasil membuat pantun sesuai dengan masalah yang diungkapkan guru. Sebagaimana yang terungkap dari dua data yang dikumpulkan oleh pengamat, hal ini disebabkan karena guru hanya menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah dengan menampilkan masalah yang jauh dari keseharian siswa. Dan tidak melibatkan kehidupan siswa secara abstrak. Penyebab lain dikarenakan guru tidak mengkondisikan siswa yang aktif, sehingga banyak siswa yang masih belum aktif mengikuti pembelajaran.

  1. Siklus II

Perbaikan pembelajaran Pada Siklus II menggunakan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa ternyata dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hasil perolehan nilai tes belajar mengalami  peningkatan. Siswa yang tuntas belajar atau telah menguasai materi sebanyak 14 siswa atau  64%  dan siswa yang tidak tuntas belajar sebanyak 8 siswa atau 36% dengan rata-rata nilai 73,64 lebih baik dari pada Siklus I. Peningkatan  prestasi belajar tersebut belum mencapai kriteria yang diinginkan. Faktor penyebab kurang berhasilnya perbaikan pembelajaran pada Siklus II adalah guru hanya mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dan masih kurang dekat dengan keseharian siswa seperti yang dilakukan siswa pada waktu di sekolah baik sebelum berangkat maupun setelah pulang sekolah.

  1. Siklus III

Pada perbaikan pembelajaran Siklus III, peneliti mengaitkan masalah yang diajarkan lebih dekat lagi dengan siswa supaya pembelajaran membuat pantun lebih mudah karena masalah lebih mudah dipahamai siswa. Masalah yang diajarkan berkaitan dengan keseharian siswa sebelum dan sesudah dari sekolah. Setelah pembelajaran berlangsung ternyata hal tersebut memberi dampak yang sangat positif pada Siklus III ini. Ketuntasan belajar siswa yaitu mengalami peningkatan belajar mencapai 20 siswa atau 91 %  dengan rata-rata 77,27.

Dengan melihat keseluruhan siklus dari seklus pertama hingga Siklus III untuk menjawab rumusan masalah pada Bab I, dapat diperoleh hasil sebagai berikut :

  1. Keaktifan Siswa

Hasil observasi kegiatan pengamatan pada akhir siklus (Tabel.4.4) tampak bahwa keaktifan siswa dalam bekerja kelompok maupun dalam bertanya kepada guru sebanyak 93%. Dengan demikian, berdasarkan pertimbangan hal ini termasuk dalam kategori baik. Menurut kelas, hal ini jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan kondisi sebelumnya yang masih banyak siswa tidak aktif.

Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari siklus I, II, dan II) yaitu masing-masing 41%, 64%, dan 91%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.

  1. Prestasi Belajar
Prestasi belajar dan keaktifan siswa Prestasi Belajar
Siklus I Siklus II Siklus III
Nilai terrendah 60 65 65
Nilai tertinggi 90 95 95
Rata-rata kelas 69,32 73,64 77,27
Ketuntasan belajar 41% 64% 91%
Keaktifan bekarja dalam kelompok 50% 73% 95%
Keaktifan dalam bertanya 50% 77% 91%

Tabel  4.5.  Ringkasan prestasi belajar dan keaktifan siswa

Dari tabel 4,5. ringkasan prestasi belajar Bahasa Indonesia dan keaktifan siswa tampak bahwa penerapan metode pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan prestasi belajar baik dari rata-rata maupun ketuntasan klasikal dan dapat meningkatkan kreatifitas siswa

  1. Aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran berbasis masalah dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.

Berdasarkan analisis data juga, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia pada materi pantun yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif.

Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langah-langkah pembelajaran berbasis masalah dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan LKS/menemukan konsep, menjelaskan/melatih menggunakan alat, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar.

Kesimpulan   

Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pembelajaran dengan berbasis masalah memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus bertambahnya rata-rata, yaitu siklus I (69,32), siklus II (73,64), siklus III (77,27).
  2. Penerapan metode pembelajaran berbasis masalah mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang ditunjukan dengan hasil wawancara dengan sebagian siswa, rata-rata jawaban siswa menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengan metode pembelajaran berbasis masalah sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar.

Saran

Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar Bahasa Indonesia lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut:

  1. Untuk melaksanakan metode pembelajaran berbasis masalah memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan model berbasis masalah dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal.
  2. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pembelajaran, walau dalam taraf yang sederhana,  dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.

Tindak lanjut

Berdasarkan kesimpulan dan saran di atas, dapat dikemukakan  tindak lanjut sebagai berikut :

  1. Guru lebih kreatif dan inovatif dalam menyusun strategi dan model pembelajaran sehingga dalam pelaksanaanya siswa lebih mudah memahami pelajaran.
  2. Aktifkan siswa pada setiap pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1993. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Mukhlis, Abdul. (Ed). 2000. Penelitian Tindakan Kelas. Makalah Panitia Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah untuk Guru-guru se-Kabupaten Tuban.

Usman, Uzer. 2000. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nur, Moh. 2001. Pemotivasian Siswa untuk Belajar. Surabaya. University Press. Universitas Negeri Surabaya.

Djamarah. 2002. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Ristasa, Rusna dan Prayitno. 2006. Panduan Penulisan Laporan Perbaikan Pembelajaran, Purwokerto: UPBJJ UT Purwokerto.

Wardani, I.G.A.K.; Wihardit, Kuswaya, Noehi, 2005. Penelitian Tindakan Kelas Jakarta: Pusat Penerbitan Buku Universitas Terbuka.

Dr. Sulipan. 2008. Penelitian Tindakan Kelas .

Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta.

BIODATA

Nama                   : Sri Suharyati, S.Pd.SD

NIP                       : 19631015 199301 2 001

Pangkat/Gol     : Penata Tk.1 / IIId

Jabatan              : Guru Kelas

Unit Kerja         : SD Negeri Kawunganten Lor 01  Kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap 53253




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *