PTK SD Belajar Lompat Jauh Gaya Jongkok Melalui Gawang dan Peti

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK MELALUI GAWANG DAN PETI LOMPAT PADA SISWA KELAS V SD NEGERI KARANGKANDRI 03 

kumpul lompat gawang

ABSTRAK.

Tujuan penelitian ini adalah : 1). Sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi lompat jauh gaya jongkok siswa kelas V SD Negeri Karangkandri 03 tahun pelajaran 2011/2012, 2). Melalui gawang dan peti lompat prestasi lompat jauh gaya jongkok siswa kelas V SD Negeri Karangkandri 03 dapat meningkat. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan dimulai bulan juli 2012 sampai dengan bulan september 2012 pada siswa kelas V SD Negeri Karangkandri 03 dengan menggunakan 2 siklus. Tehnik pengumpulan data menggunakan tes perbuatan. Data awal sebelum pelaksanaan perbaikan rata-rata prestasi lompat jauh gaya jongkok siswa kelas V SD Negeri Karangkandri 03 adalah 59,54 yang berarti masih dibawah kriteria ketuntasan minimal yang ditentukan sebesar 75. Setelah pelaksanaan perbaikan pembelajaran lompat jauh gaya jongkok dilaksanakan melalui lompat gawang prestasi lompat jauh gaya jongkok siswa kelas V SD Negeri Karangkandri 03 mengalami peningkatan. Pada siklus 1 rata-ratanya 71,81 siklus II menggunakan alat bantu peti lompat rata-ratanya 75.

Kata kunci : lompat jauh gaya jongkok, gawang dan peti lompat, prestasi belajar.

PENDAHULUAN

Lompat jauh merupakan salah satu nomor dalam atletik yang sudah diajarkan pada siswa Sekolah Dasar (SD). Tujuan utama dalam melakukan lompat jauh adalah untuk mencapai hasil lompatan sejauh-jauhnya. Untuk dapat mencapai hasil lompatan yang sejauh-jauhnya seorang pelompat harus memiliki kondisi fisik dan penguasaan tehnik yang baik.

Dalam lompat jauh terdapat berbagai macan gaya atau sikap badan, pada saat melayang di udara antara lain yaitu gaya jongkok, gaya berjalan di udara dan gaya menggantung. Gaya lompat jauh yang paling mudah untuk diajarkan pada pemula seperti siswa di SD adalah lompat jauh gaya jongkok. Lompat jauh gaya jongkok gerakannya lebih sederhana dan lebih mudah untuk dilakukannya.

Hasil belajar lompat jauh pada siswa kelas V SD Negeri Karangkandri  03 Cilacap pada umumnya masih rendah. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata lompat jauh pada saat tes formatif masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal  (KKM) yang sudah ditentukan sebesar 75. Dari jumlah siswa sebanyak 33 siswa terdiri yang nilainya melebihi KKM sejumlah 5 orang.

Pada umumnya kesalahan yang dilakukan pada siswa kelas V SD Negeri Karangkandri  03 Cilacap pada saat melompat yaitu gerakan tumpuan dan gerakan saat melayang di udara yang kurang baik. Hal ini menyebabkan hasil lompatan yang dicapai kurang optimal.

Dari uraian di atas menunjukkan kemampuan siswa dalam meningkatkan prestasi lompat jauh dengan gaya jongkok  perlu ditingkatkan. Oleh sebab itu perlu ditempuh strategi pembelajaran yang inovatif. Salah satu upaya yang akan dilakukan dengan menggunakan alat bantu pembelajaran

          Berdasarkan  latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah  tersebut diatas ,diajukan rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah proses meningkatkan prestasi belajar lompat jauh gaya jongkok dengan alat bantu pembelajaran pada siswa kelas V SD Negeri Karangkandri 03?
  2. Seberapa besar peningkatan hasil belajar lompat jauh gaya jongkok dengan menggunakan alat bantu pembelajaran bagi siswa kelas V SD Negeri Karangkandri 03?
  3. Bagaimanakah perubahan prilaku yang menyertai prestasi belajar lompat jauh gaya jongkok dengan menggunakan alat bantu pembelajaran bagi siswa kelas V SD Negeri Karangkandri 03?

. Menurut Yoyo Bahagia dkk.(2000: 16) bahwa, ”Tujuan awalan lompat jauh adalah untuk mendapatkan posisi optimal atlet untuk melakukan tolakan kaki (take of) dengan kecepatan lari dan menolak secara terkontrol” Jarver (1986:34) mengemukakan bahwa “maksudnya berlari sebelum melompat itu adalah untuk meningkatkan percepatan horisontal secara maksimum tanpa menimbulkan hambatan sewaktu take of” Awalan lompat jauh diawali dengan berlari secepat-cepatnya sebelum salah satu kaki menumpu pada balok tumpuan. dilihat pada Gambar berikut :

kumpul1

Gambar 1. Teknik Awalan Lompat Jauh.

Tolakan Kaki (Take off).

Yoyo Bahagia dkk. (2000:16)  mengemukakan bahwa,’tujuan tolakan kaki (take off) adalah untuk memperoleh kecepatan vertikal (mengangkat titik berat badan) dengan cara memanfaatkan kecepatan horisontal sedemikian rupa dengan kaki tolak mengerahkan gaya yang sangat besar, diperlukan kekuatan otot tungkai yang disertai dengan kecepatan menumpu untuk melompat. Menurut Aip Syarifudin (1992:92) bahwa, “Bersamaan dengan menolakkan tungkai yang sekuat-kuatnya ke atas ke depan pada papan tolakan, tungkai belakang diayunkan  sekuat-kuatnya ke atas ke depan lurus dibantu dengan mengayunkan kedua lengan dari belakang ke depan atas”

Melayang di Udara (Flight).

 Menurut Aip Syarifudin (1992:93) adalah, pada waktu lepas dari tanah (papan tolakan), keadaan sikap badan di udara jongkok dengan jalan membulatkan badan dengan kedua kaki dijulurkan ke depan, kemudian mendarat pada kedua kaki dengan bagian tumit lebih dahulu, kedua tangan ke depan. Posisi tubuh pada saat lompat jauh gaya jongkok pada saat melayang di udara yaitu seolah-olah membentuk sikap berjongkok pada waktu di udara.

Pendaratan (Landing).

 Menurut Soegito dkk (1993:148) pelaksanaan teknik pendaratan lompat jauh pada saat badan akan terjatuh di tanah lakukan gerakan pendaratan sebagai berikut:

  1. Luruskan kedua kaki ke depan.
  2. Rapatkan kedua kaki.
  3. Bungkukkan badan ke depan.
  4. Ayunkan kedua tangan ke depan.
  5. Berat badan di bawa ke depan.

Hakekat Pembelajaran Lompat Jauh Dengan Alat Bantu Gawang.

            Pelaksanaan pembelajaran lompat jauh dengan alat bantu gawang yaitu siswa melakukan lompat jauh dengan tehnik yang benar, siswa melompat melewati alat bantu berupa gawang yang dipasang di depan tumpukan. Bentuk pembelajaran ini merupakan bentuk latihan dari Gerry A.Carr (1996:153). Gambaran pelaksanaan pembelajaran ini adalah sebagai berikut.

kumpul2

Gambar 5. Pembelajaran lompat jauh dengan alat bantu gawang.

(Gerry A. Carr, 1996:153)

 

Pembelajaran Lompat Jauh Dengan Alat Bantu Peti Lompat.

Gunter Bernhard (1993;87) mengemukakan tentang penggunaan alat bantu peti dalam pembelajaran lompat jauh sebagai berikut; “ Meloncat membentang dari sebuah peti atau sebuah papan loncatan dengan sikap jongkok yang dalam, gerakan membentang harus mengakibatkan penarikan (holtrekken)” pembelajaran ini dilakukan pada peti sehingga siswa dituntut untuk melakukan lompatan dengan ketinggian yang baik. Ballesteros (1989:56) mengatakan bahwa, Dengan lari awalan, melompat ke atas dengan meletakkan kaki penolak pada suatu box/kotak/peti dan mendorong ke atas kuat-kuat dengan lutut dari kaki ayun dan gerak lengan seimbang.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir tersebut diatas diajukan hipotesis tindakan sbb:” Melalui alat bantu gawang dan peti lompat dapat meningkatkan hasil belajar lompat jauh gaya jongkok

 

METODE PENELITIAN

PTK dilaksanakan 2 siklus,siklus 1 7 sept 2012 dan 12 sept 2012.silkus ii 14 sept 2012 dan 19 sept 2012. Subyek penelitian siswa kelas V SD Negeri Karangkandri 03 tahun pelajaran 2011/2012 .berjumlah 33 siswa. Sumber data diperoleh dengan mengadakan tes lompat jauh gaya jongkok di akhir siklus untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar siswa peneliti mengadakan tes perbuatan/praktik. Validasi data menggunakan teknik triangulasi  dengan melakukan hal-hal sebagai berikut: 1) Triangulasi data yakni dengan membandingkan data antara hasil tes praktek lompat jauh di  siklus ke I dan siklus  ke II; 2) Melaksanakan tes lompat jauh sebanyak tiga kali lompatan yang dilakukan siswa; dan 3) Melakukan pengolahan dan analisis ulang dari data yang terkumpul.

Indikator kerja prestaasi belajar dalam pembelajaran materi lompat jauh gaya jongkok   dikatakan  tinggi apabila rata-rata prosentase dari hasil belajar siswa lebih dari dari 70 % dengan rata-rata kelas 75. Penelitian dilakukan di SD Negeri Karangkandri 03 Jalan Lingkar timur no 57 Karangkandri-Kesugihan- Cilacap. Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini meliputi dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Refleksi pada siklus 1 akan digunakan untuk menyempurnakan siklus II.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.

Deskripsi Kondisi Awal.

Pada kondisi awal peneliti dalam kegiatan penyusunan RPP belum maksimal pada saat melaksanakan pembelajaran langkah-langkah pembelajaran belum sempurna, pada kegiatan pendahuluan belum terlihat ada apersepsi tanpa penggunaan alat bantu pembelajaran, hal ini dapat dilihat

keterangan sebagai berikut :

  1. Pada studi awal, siswa yang tuntas sebanyak 5 siswa dari 33 siswa (15%) dengan nilai rata-rata 59,54.
  2. Pada studi awal siswa yang belum tuntas sebanyak 28 siswa dari 33 siswa  (84%).

Deskripsi Hasil Siklus 1       

Peneliti menyusun skenario pembelajaran dan skenario tindakan berdasarkan hipotesis peneliti menyiapkan   lembar observasi. Langkah-langkah pembelajaran siklus I. Jumat, 7 September 2012 (pertemuan ke 1). Kegiatan awal (10 menit) siswa dibariskan menjadi empat bagian, berdoa, apersepsi, pemanasan; mendemonstrasikan materi inti yang akan dilakukan/dipelajari; Kegiatan inti (45 menit) guru menjelaskan teknik melompat dengan alat gawang, siswa melakukan lompatan sesuai petunjuk guru Tes lompat jauh gaya jongkok; Kegiatan akhir (10 menit) melaksanakan pendinginan dan guru menutup pelajaran dengan berdoa dan memberi salam.

  kumpul3          kumpul4

 Gambar 1 Guru memberi penjelasan                       Gambar 2 Guru memberi contoh

Siklus I, Rabu, 12 september 2012  (pertemuan ke 2), kegiatan awal (10 menit) siswa dibagi menjadi empat bagian. Melakukan kegiatan pemanasan yang berorientasi pada kegiatan inti. Mendemonstrasikan materi inti yang akan dilakukan/dipelajari. Kegiatan inti (45 menit) guru menjelaskan teknik melompat dengan gawang yang benar, siswa melakukan lompatan tiap kelompok dan dilaksanakan tiga kali lompatan, diambil nilainya, Kegiatan akhir (10 menit) melaksanakan pendinginan dan guru menutup pelajaran dengan berdoa dan memberi salam.

kump            kumpu

        Gambar 3 Guru memberi contoh                                 Gambar 4 Anak sedang melompat

Observer mengamati kegiatan, kekurangan pada siklus I antara lain  pembagian kelompok masih terlalu sedikit, siswa belum aktif dan ragu-ragu. Temuan dari pengamat tentang masih banyaknya siswa yang belum aktif dan ragu-ragu pada saat melakukan lompatan dengan alat bantu gawang, menjadi bahan refleksi bagi penulis. Untuk solusi yang paling cocok adalah mengganti alat bantu dengan papan loncat.

  1. Pada siklus 1, siswa yang tuntas belajar sebanyak 12 siswa dari 33 siswa  (36 %) dengan nilai rata-rata 71,81.
  2. Siswa yang belum tuntas sebanyak 25 siswa dari 33 siswa (75 %).

Dalam kegiatan ini peneliti mengadakan wawancara dengan observer  setelah selesai pembelajaran dan mencari solusi guna perbaikan pembelajaran .

Beberapa keberhasilaan yang diperoleh siswa pada siklus I menunjukkan peningkatan namun belum maksimal. Hal ini disebabkan masih ada siswa yang tidak terlihat aktif dan prestasinya masih dibawah KKM atau belum sesuai dengan indikator  keberhasilan  yang diharapkan peneliti.

Deskripsi Siklus II

Peneliti menyusun rencana pembelajaran beserta perangkat pembelajaran dan skenario tindakan berdasarkan hipotesis tindakan yang telah dirumuskan dengan memperhatikan kekurangan dalam proses pembelajaran  pada siklus 1, skenario tindakan mencakup langkah-langkah yang akan dilakukan peneliti sebagai berikut:  1) Menambah variasi pemanasan lari, lompat; 2) Membuat peti lompat sebagai awalan lompat. Pelaksanaan penelitian Tindakan pada siklus II peneliti melaksanakan pembelajaran sesuai sekenario pembelajaran. Langkah-langkah pembelajaran siklus II pertemuan ke 1, dilaksanakan hari Jumat,  tanggal 14 september 2012. Kegiatan awal (10 menit), memberi salam dan menanyakan keadaan siswa., Siswa dibariskan menjadi empat bersaf, berdoa, apersepsi, dan melakukan permainan,jalan, lari, lompat, loncat. Kegiatan inti (45 menit) sesuai landasan teori, langkah-langkah yang diambil pada kegiatan inti  adalah: 1) Guru menjelaskan tehnik lompat jauh; 2) Membagi siswa menjadi empat kelompok; 3) Memberikan petunjuk cara melakukan lompat jauh dengan bantuan peti lompat; 4) Mendemonstrasikan alat bantu peti lompat,diikuti siswa mencoba melakukan lompatan; dan 5) Siswa melakukan tes lompat jauh. Kegiatan akhir (10 menit) lLatihan pendinginan dan evaluasi kegiatan siswa. Pengamatan tindakan .secara umum pengamat memberikan komentar positif.

 kumpp                          kumppu

Gambar 5 Anak melompat menggunakan alat                            Gambar 6 Guru memberi contoh

Siklus II, Rabu  tanggal 19 september 2012, kegiatan awal (10 menit) Siswa dibariskan menjadi empat bersaf, berdoa, presensi, dan melakukan permainan,jalan, lari, lompat, loncat.

      Kegiatan inti (45 menit) membagi siswa menjadi empat kelompok, menjelaskan tehnik lompat jauh, memberikan petunjuk cara melakukan lompat jauh dengan bantuan peti lompat; Mendemonstrasikan alat bantu peti lompat; Siswa melakukan tes lompat jauh; Kegiatan akhir (10 menit) latihan penutup diisi dengan penjelasan evaluasi.

            Berdasarkan kenyataan yang dihadapi pada kondisi awal dan siklus I, pelaksanaan pembelajaran siklus II jauh lebih baik. Oleh sebab itu langkah refleksi digunakan untuk menganalisis keberhasilan.

  1. Pada siklus II, siswa yang tuntas belajar sebanyak 31 siswa dari 33 siswa  (93,93 %) dengan nilai rata-rata 75
  2. Pada siklus II siswa yang belum tuntas sebanyak 2 siswa dari 33 siswa (06,06 %).
    • Refleksi

Dari hasil  pengamatan/observasi  pembelajaran penjasorkes materi lompat jauh gaya jongkok dengan alat bantu peti lompat  di siklus II terlihat adanya penyempurnaan prestasi belajar. Hasil tersebut dapat ditampilkan dalam diagram batang sebagai berikut.

Diagram 1 Hasil data awal, siklus 1 dan siklus 2

 kumpul

Pembahasan/Diskusi

Tindakan kondisi awal peneliti belum menggunakan alat bantu pembelajaran Sementara pada siklus ke 1 peneliti sudah menggunakan alat bantu pembelajaran gawang untuk mengajar, sedangkan pada siklus II peneliti lebih menyempurnakan alat bantu pembelajaran dengan menggunakan peti lompat memperhatikan kekurangan-kekurangan pada siklus I.

Pada kegiatan pengamatan pada kondisi awal hasil yang ditampilkan ketika peneliti  mengajar belum menggunakan alat bantu pembelajaran, ini dibuktikan dari hasil pengamatan cara mengajar dengan menggunakan alat bantu gawang. hasil tersebut dianalisis sebagai rujukan di siklus II. Hasil pengamatan pada siklus II mengalami peningkatan yang signifikan, dibuktikan dengan hasil pembelajaran yang meningkat menjadi 78,80 serta ketuntasan mencapai 85,71% hanya 3 anak yang belum maksimal.

Pembahasan hasil refleksi h diadakan refleksi setelah kondisi awal dan siklus 1 dengan mempelajari kekurangan disiklus I dalam pembelajaran lompat jauh gaya jongkok, peneliti menganalisa dan menyempurnakan alat bantu pembelajaran, ternyata hasilnya memuaskan di siklus II. Prestasi  siswa kelas V SDN Karangkandri  03 lompat jauh dengan gaya jongkok meningkat ketuntasan 93,93 % membuktikan bahwa siswa aktif. Dengan nilai rata –rata 75.

Dengan kondisi demikian secara keseluruhan pembelajaran penjasorkes   materi lompat jauh gaya jongkok  siswa kelas V SDN Karangkandri 03 dengan menerapkan alat bantu pembelajaran gawang dan peti lompat dinyatakan berhasil. Dengan hasil analisis yang telah dilaksanakan pada siklus 1 dan II, menunjukan bahwa penelitian ini mendukung Indikator kerja dan Hipotesis.

 

PENUTUP

Simpulan

  1. Dengan menerapkan alat bantu pembelajaran dalam pembelajaran penjasorkes materi lompat jauh dengan gaya jongkok terbukti dapat meningkatkan prestasi  belajar siswa kelas V SD Negeri Karangkandri
  2. Dengan menerapkan alat bantu pembelajaran lompat jauh dengan gaya jongkok pada siswa kelas V SD Negeri Karangkandri 03, terjadi perubahan prilaku pada siswa semakin menyenangi dan mempunyai keberanian untuk melompat lebih jauh/

Penelitian Tindakan kelas dengan alat bantu gawang dan peti lompat berhasil meningkatkan prestasi,guru akan termotivasi. Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian untuk guru: gunakan alat bantu pembelajaran pada lompat jauh dengan gaya jongkok. Untuk Kepala Sekolah memberikan sosialisasi hasil-hasil inovasi yang sudah ada.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ballesteros,J M. 1989. Pedoman Latihan Dasar Atletik. Alih Bahasa S.D.S. Jakarta: PB. PASI.

Bernhard, G 1993. Atletik Prinsip Dasar latihan Lompat Tinggi, Jauh, Jangkit dan Lompat Galah. Alih Bahasa Tim Redaktur Effhar & Dahara Prize Offset. Semarang : Effhar dan Dahara Prize Offset.

Carr, G. A. 1997 Atletik Untuk Sekolah, Alih Bahasa Eri Desmarini Nasution. Jakarta : PT. Rajagrofindo Persada.

Jarver, J 1986. Blajar dan berlatih Atletik, Alih Bahasa BE. Handoko. Bandung: Pionir Jaya.

Syarifudin Aip. 1992. Atletik. Jakarta: Departemen pendidikan dan Kebudayaan.

Soegito, Bambang Wijanarko & Ismaryati. 1993. Pendidikan Atletik. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan . Direktorat Jendral pendidikan dan kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Menengah,

Direktorat Pendidikan Guru  dan tenaga Teknis Bagian Proyek Peningkatan Mutu guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.

Yoyo Bahagia, Ucup Yusuf & Adang Suherman. 2000. Atletik. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.

BIODATA PENULIS

Nama :   Kumpul S.Pd

Jab    :   Kepala Sekolah SD Negeri Planjan 03 Kesugihan – Cilacap.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *