http://www.infopasti.net/meningkatkan-sikap-nasionalisme-siswa-yang-dilakukan-melalui-penerapan-metode-pembelajaran-kooperatif-tipe-think-pair-square-tps/

PTK SMP SIkap Nasionalisme Siswa Melalui Metode Think Pair Square

MENINGKATKAN SIKAP NASIONALISME SISWA MELALUI IMPLEMENTASI METODE PEMBELAJARAN THINK PAIR SQUARE DALAM MATA PELAJARAN IPS

muhtahim

ABSTRAK

Penelitian tindakan kelas ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan sikap nasionalisme siswa yang dilakukan melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe think pair square (TPS) pada siswa kelas VIII D SMP N 1 Cilongok untuk semester 1 tahun 2015/2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode itu dapat meningkatkan sikap nasionalisme siswa. Hal ini dibuktikan pada pembelajaran siklus 1, rata-rata nilai  kuis  sikap nasionalisme siswa berjumlah 84,41 dan pada siklus 2  berjumlah 86,78. Padahal pada evaluasi pra siklus 1, rata-rata nilai kuis secara keseluruhan hanya berjumlah 67,97. Sedang ketuntasan belajar kelas pada siklus 1 mencapai 87,50%, dan pada siklus 2 mencapai 93,75%. Padahal pada hasil evaluasi pra siklus 1, ketuntasan belajar kelas secara keseluruhan hanya mencapai 9,3%. Peningkatan nilai sikap nasionalisme siswa tersebut, terjadi karena adanya peningkatan proses belajar yang berupa kecakapan sosial siswa dalam penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe think pair square (TPS).

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif, Think Pair Square (TPS), Sikap Nasionalisme Siswa.

 

Pendahuluan

          Sebagai salah satu sekolah yang menerapkan Kurikulum 2006, SMP Negeri 1 Cilongok mempunyai visi “Unggul dalam prestasi, santun dalam perilaku serta berbudi pekerti luhur yang dilandasi iman dan takwa”. Sedang salah satu misi untuk mencapai visi tersebut adalah melaksanakan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) sehingga siswa berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang ada. Sedangkan salah satu tujuan yang ingin dicapai ialah meningkatkan prestasi di bidang akademik dan non akademik. Adapun salah satu pembelajaran yang relevan dengan PAKEM adalah CTL (contextual teaching and learning ).

      Namun hingga sekarang, kami merasa dalam melakukan proses pembelajaran IPS di SMP Negeri 1 Cilongok, masih banyak dipengaruhi oleh pandangan bahwa pengetahuan merupakan seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang harus dihafalkan. Sehingga terdapat adagium, khususnya di kalangan siswa bahwa “Pelajaran IPS merupakan pelajaran hafalan”. Dengan demikian pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang sudah jadi, yang tinggal ditransfer dari guru kepada siswa. Sehingga guru dianggap sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, dan sangat dominan dalam pembelajaran IPS di kelas.

      Sementara itu, siswa juga dituntut untuk mendengar, mencatat penjelasan dan meniru apa yang dilakukan guru. Sehingga kegiatan belajar siswa bersifat pasif dan lebih banyak sebagai obyek, serta kurang mendapat kesempatan melalui belajar kelompok. Dengan demikian, hasil pembelajaran menjadi kurang bermakna, yang ditandai oleh rendahnya hasil belajar khususnya dalam aspek sikap. Hal ini dapat diamati, bila pada proses pembelajaran siswa tampak sudah paham, tapi ternyata sikapnya kurang mencerminkan   apa yang dipahaminya.

      Sedangkan berdasarkan hasil evaluasi pra siklus tentang sikap nasionalisme  siswa, diperoleh data sikap nasionalisme siswa kelas VIII D paling rendah dibandingkan kelas VIII lain yang diajar peneliti yaitu hanya mendapat rata-rata nilai 67,97. Rata-rata nilai tersebut masih di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk kelas VIII yaitu 75. Adapun secara klasikal yang tuntas hanya 3 anak ((9,3%) dari 32 siswa. Padahal sikap nasionalisme perlu ditumbuhkan pada setiap orang termasuk siswa. Sebab bila sikap nasionalisme semakin kuat, maka makin kuatlah Negara Indonesia.

      Jika hal itu dibiarkan terus, maka dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang hasil belajar IPS dalam aspek afektif akan tetap rendah. Menyadari ada yang belum optimalnya hasil belajar IPS, maka kami sebagai guru perlu mencari solusi untuk melakukan perbaikan proses pembelajaran di kelas. Untuk mengatasi rendahnya sikap nasionalisme siswa tersebut, maka peneliti akan memilih menggunakan metode pembelajaran think pair square (TPS). Metode ini dipilih, karena sesuai dengan pendapat Anita Lie (2003:56) yaitu dapat memberi kesempatan siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Bahkan sedikitnya memberi delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukan partisipasi mereka kepada orang lain. Adapun yang menjadi rumusan masalahnya adalah apakah penerapan metode pembelajaran think pair square (TPS) dalam konsep proses kebangkitan nasional Indonesia dapat meningkatkan sikap nasionalisme siswa kelas VIII D SMPN 1 Cilongok ?

 

Konsep tentang Sikap

             Kalau kita perhatikan dengan cermat kompetensi dasar yang berkaitan dengan konsep proses kebangkitan nasional Indonesia untuk kelas VIII SMP, belum mengarah pada tujuan yang berkaitan dengan sikap nasionalisme. Sebab dalam kompetensi dasarnya hanya menyebutkan “Menjelaskan proses perkembangan kolonialisme dan imperialisme Barat serta pengaruh yang ditimbulkannya di berbagai daerah (KD 2.1) dan “Menguraikan proses terbentuknya kesadaran nasional, identitas Indonesia, dan perkembangan pergerakan kebangsaan Indonesia (KD 2.2.). Padahal Benyamin Bloom (dalam Ella Yulaelawati, 2004 : 58) menggolongkan tiga kategori perilaku belajar saling berkaitan dan saling melengkapi yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Adapun menurut Nana Sudjana (2009 : 29-30) penilaian hasil belajar afektif kurang mendapat perhatian dari para guru. Para guru lebih banyak menilai ranah kognitif semata. Tapi sekalipun bahan pelajaran berisi ranah kognitif, ranah afektif harus menjadi bagian integral dari bahan tersebut dan harus tampak dalam proses belajar dan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Oleh sebab itu, sangat penting untuk dinilai hasil-hasilnya. Sedang menurut Kosasih Djahiri (dalam Sutarjo Adisusilo, 2012 :251) dalam pembelajaran maupun evaluasi, guru selain harus menekankan unsur peristiwa, konsep, dan norma, juga unsur nilainya. Karena nilai dibalik materi ajar itulah yang harus diutamakan.

           Adapun hasil belajar ranah afektif yang akan di nilai dalam pembelajaran proses kebangkitan nasional Indonesia adalah yang berkaitan dengan sikap nasionalisme menurut konsep Pancasila. Sebab mata pelajaran IPS Sejarah mempunyai fungsi sosiologis yang sangat penting yaitu mewariskan nila-nilai yang positif kepada generasi sekarang atau yang akan datang apa yang telah diperjuangkan oleh generasi yang lampau. Sebagaimana telah diketahui, bahwa sikap seseorang itu berkembang karena ada masukan dari figur-figur tertentu yang dijadikan model atau rujukan. Misalnya para tokoh kebangkitan nasional Indonesia. Dari tokoh idola itu, seseorang siswa dapat menyerap nilai-nilai nasionalisme untuk kemudian dijadikan sebagai bagian dari sikap dirinya.

         Mengenai pengertian sikap, terdapat berbagai pendapat di antara para ahli. Menurut Anastasi (dalam Depdikbud , 2004 ? :133), sikap diartikan sebagai kecenderungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap sesuatu obyek. Sedang menurut Thurstone (dalam Depdiknas, 2004 : 7) sikap adalah intensitas positip atau negatif  terhadap obyek psikologi. Obyek ini bisa berupa simbol, orang, slogan, ide atau tindakan. Adapun menurut Inge Hutagalung (2007: 52 ), unsur yang harus ada pada sikap adalah :

  1. Mempunyai obyektifitas tertentu seperti obyek, simbol, orang, slogan, ide, tindakan, benda, konsep dan lain- lain.
  2. Ada unsur penilaian seperti suka dan tidak suka, positif atau negatif, setuju atau tidak setuju.

           Menurut Bimo Walgito (2003 : 11), para ahli pada umumnya berpendapat bahwa sikap itu mengandung komponen yang membentuk struktur sikap yaitu :

  1. Komponen kognitif (komponen perseptual) yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap obyek.
  2. Komponen afektif (komponen emosional) yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap obyek sikap. Rasa senang merupakan hal yang positif, sedang rasa tidak senang merupakan hal yang negatif. Komponen ini menunjukan arah sikap yaitu positif dan negatif.
  3. Komponen konatif (komponen perilaku) yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap obyek sikap. Komponen ini menunjukan intensitas sikap yaitu menunjukan besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap obyek sikap.

          Ketiga komponen sikap ini saling terkait erat. Dengan mengetahui  kognitif dan afektif seseorang terhadap sesuatu obyek sikap tertentu, maka akan dapat diketahui pula kecenderungan perilakunya. Walaupun dalam kenyataannya tidak selalu suatu sikap tertentu berakhir dengan perilaku yang sesuai dengan sikap.

Konsep Nasionalisme Menurut Pancasila

          Menurut Ernest Renan, syarat bangsa yaitu adanya sebuah le desir d’etre ensemble atau kehendak untuk bersatu. Untuk membentuk sebuah bangsa, orang-orangnya perlu merasa diri bersatu dan mau bersatu. Keinginan untuk bersatu itu bisa disebabkan oleh persamaan latar belakang sejarah, kebudayaan, tradisi, dan kepentingan. Keinginan untuk bersatu itu mempunyai pengaruh yang besar bagi sebuah bangsa (Wahyudi Djaya, 2009 :13)

          Adapun menurut Soeprapto (1995: 11) nasionalisme diartikan sebagai suatu paham yang menyatakan bahwa loyalitas tertinggi terhadap masalah duniawi (supreme secular loyality) dari setiap warga bangsa ditujukan kepada negara bangsa. Sedang menurut Hans Kohn (1984: 1) nasionalisme diterjemahkan sebagai suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan.

          Namun paham nasionalisme Indonesia berbeda dengan paham nasionalisme yang ada di negara lain. Karena paham nasionalisme Indonesia tercermin dalam sila ketiga Pancasila yaitu Persatuan Indonesia. Namun meskipun persatuan merupakan unsur yang paling pokok dalam paham nasionalisme, namun bukan satu-satunya. Paham nasionalisme lebih luas dari pada hanya unsur persatuan. Bahkan menurut Nasikun (2010 : 83) Pancasila pada hakekatnya bahkan dapat dipandang sebagai perwujudan daripada nasionalisme itu sendiri.

          Sebagai dasar filsafat negara, Pancasila merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan apalagi diubah. Sebagaimana tertulis dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinia keempat, hubungan antar sila merupakan rangkaian yang utuh, saling menjiwai, dan memiliki hubungan hierarkis atau tidak bisa diacak susunannya. Selain itu, setiap sila merupakan sumber nilai yang dijabarkan dalam batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945. Kelima sila tersebut dipakai sebagai dasar filosofis ideologis untuk mewujudkan tujuan didirikannya Negara Indonesia yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, meningkatkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian yang abadi, dan keadilan sosial (Wahyudi Djaya, 2009 :64)

          Sebagai sebuah ideologi, Pancasila bersifat terbuka. Sebagai ideologi yang terbuka, Pancasila hanya berisi nilai-nilai dasar. Adapun penerjemahannya ke dalam tujuan-tujuan dan norma sosial-politik selalu dapat dipertanyakan dan disesuaikan dengan nilai dan prinsip moral yang berkembang di masyarakat. Operasional cita-cita yang akan dicapai tidak dapat ditentukan secara apriori, tetapi harus disepakati secara demokratis. Dengan sendirinya ideologi terbuka bersifat inklusif, tidak totaliter, dan tidak dapat dipakai melegitimasi kekuasaan sekelompok orang. Ideologi terbuka hanya dapat ada dan mengada dalam sistem yang demokratis (Wahyudi Djaya, 2009 :6)

          Menurut Pancasila, paham kebangsaan Indonesia adalah paham yang memiliki landasan spiritual, karena bersilakan Ketuhanan Yang Maha Esa. Di samping itu, paham kebangsaan Indonesia juga memiliki landasan moral dan etik, karena tidak menempatkan bangsa kita di atas bangsa lain, tetapi menghargai harkat dan martabat kemanusiaan serta hak dan kewajiban asasi manusia. Karena itu paham kebangsaan kita mempunyai unsur kemanusiaan yang adil dan beradab. Oleh karena itu pula paham kebangsaan Indonesia mengakui adanya nilai-nilai universal kemanusiaan (lihat Ginandjar Kartasasmita, 1994:241).

          Sebagai unsur pokok paham kebangsaan Indonesia adalah Persatuan Indonesia, yang merupakan sila yang ketiga dari Pancasila. Wawasan kebangsaan ini menekankan kepada seluruh bangsa agar menempatkan persatuan, kesatuan serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas pribadi atau golongan. Diharapkan manusia Indonesia sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan bangsa. Wawasan kebangsaan mengembangkan persatuan Indonesia sedemikian rupa sehingga azas Bhineka Tunggal Ika dipertahankan. Persatuan tidak boleh mematikan keaneka dan kemajemukan. Sebaliknya keaneka dan kemajemukan tidak boleh menjadi pemecah, tetapi menjadi hal yang memperkaya persatuan. Wawasan kebangsaan tidak memberi tempat kepada patriotisme yang picik. Yang diamanatkan ialah agar para warga membina dengan jiwa besar dengan setia cinta akan tanah air, tetapi tanpa kepicikan jiwa (Idup Suhady dan AM Sinaga, 2003 : 26).

          Mau tidak mau paham kebangsaan selalu berkaitan erat dengan demokrasi. Tanpa demokrasi, kebangsaan akan mati bahkan merosot menjadi fasisme/naziisme, yang bukan saja berbahaya bagi berbagai minoritas dalam bangsa yang bersangkutan, tetapi juga berbahaya bagi bangsa lain (Idup Suhady dan AM Sinaga, 2003 : 87). Oleh karena itu, paham kebangsaan kita adalah paham demokrasi, sebagaimana tercantum dalam sila keempat yaitu kerakyatan yang dipimpin hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Namun kebangsaan dan demokrasi bukanlah tujuan; tapi merupakan sarana dan wahana untuk mencapai masyarakat adil dan makmur. Hal ini secara jelas tersurat dalam sila kelima yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Metode Pembelajaran Think Pair Square (TPS)

  1. Cara Belajar Menurut Teori Kognitif Jean Piaget

          Menurut Jean Piaget (dalam Muhibbin Syah, 2009 : 33-34  ) anak yang berusia antara 11-15 tahun berada pada perkembangan kognitif yang disebut tahap formal operasional. Pada tahap ini, seorang remaja [SMP] telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yakni : 1) kapasitas menggunakan hipotesis ; dan 2) kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Dengan kapasitas menggunakan hipotesis, seorang remaja [SMP] akan mampu berfikir hipotesis, yakni berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang ia respon. Selanjutnya, dengan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak, remaja  [SMP] tersebut akan mampu mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak.

          Implikasi pendidikan atau bimbingan dari periode berfikir operasional formal ini, adalah perlunya disiapkan program pendidikan atau bimbingan yang memfasilitasi perkembangan kemampuan berfikir siswa. Upaya yang dapat dilakukan antara lain : (1) penggunaan metode mengajar yang mendorong anak untuk aktif bertanya, menggunakan gagasan, atau mengujicobakan suatu materi ; dan (2) melakukan dialog, diskusi, atau curah pendapat dengan siswa tentang masalah-masalah sosial, baik itu menyangkut sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah maupun kewarganegaraan (Depdiknas, 2003 : 5)

          Menurut Piaget (dalam Wina Sanjaya, 2009 : 124) siswa sudah memiliki kemampuan untuk mengkontruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang dikontruksi oleh anak akan menjadi pengetahuan yang bermakna, sedangkan pengetahuan yang hanya diperoleh melalui pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Pengetahuan itu hanya untuk diingat sementara setelah itu dilupakan.

          Menurut Piaget (t.n., 2014 : 17), dalam mengkontruksi pengetahuan dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi terhadap skema yang sudah ada. Skema adalah suatu struktur mental atau struktur kognitif yang dengannya seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya. Skema tidak pernah berhenti berubah. Proses yang menyebabkan terjadinya perubahan skemata disebut dengan adaptasi.

          Lebih lanjut Piaget (dalam Sjarkowi, 2010 : 53) menyatakan bahwa keberadaan formasi afektif dapat mempengaruhi struktur kognitif, tetapi karena struktur kognitif menjadi dasar untuk bertindak, maka seluruh tindakan moral tetap bersumber dari kognitif. Perkembangan formasi afektif tidak mendahului ataupun membelakangi formasi struktur kognitif, tetapi ia berkembang secara bersamaan dengan struktur kognitif.

  1. Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran

          Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran (contextual teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Nurhadi, 2002 : 5)

          Menurut Wina Sanjaya (2009 : 255) ada tiga hal yang harus dipahami dalam konsep tentang pendekatan kontekstual di atas tersebut. Pertama, CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, yang diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran. Kedua, CTL mendorong agar siswa menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, di mana siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengkorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan bermakna secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak mudah dilupakan. Dan ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, yaitu CTL bukan hanya mengharapkan dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehar-hari. Materi pelajaran dalam konteks CTL bukan untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan, akan tetapi sebagai usaha mereka dalam mengarungi kehidupan nyata. CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran menurut Wina Sanjaya (2009 : 264-269) memiliki 7 asas atau komponen yaitu kontruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian nyata.

  1. Langkah-langkah Metode Think Pair Square (TPS)

        Metode think pair square termasuk dalam model pembelajaran kooperatif. Menurut Roger dkk (dalam Miftahul Huda, 2011 : 29), bahwa pembelajaran kooperatif merupakan aktifitas pembelajaran kelompok yang diorganisir oleh satu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada perubahan informasi secara sosial diantara kelompok-kelompok pembelajar yang didalamnya setiap pembelajar bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota yang lain .

        Belajar melalui pembelajaran kooperatif, dapat dijelaskan dari empat perspektif yaitu :

  1. Perspektif motivasi yaitu struktur tujuan kooperatif menciptakan sebuah situasi dimana satu-satunya cara anggota kelompok bisa meraih tujuan pribadi mereka adalah jika kelompok mereka bisa sukses (Robert E. Slavin, 2010 : 34).
  2. Perspektif sosial yaitu bahwa melalui kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam belajar karena mereka menginginkan semua anggota kelompok memperoleh keberhasilan (Wina Sanjaya, 2009 : 244).
  3. Perspektif perkembangan kognitif yaitu bahwa dengan adanya interaksi antara anggota kelompok dapat mengembangkan prestasi siswa dengan berfikir mengolah berbagai informasi (Wina Sanjaya, 2009 : 44).
  4. Perspektif elaborasi kognitif yaitu jika informasi ingin di pertahankan di dalam memori dan berhubungan dengan informasi yang sudah ada di dalam memori, orang yang belajar harus terlibat dalam semacam pengaturan kembali kognitif atau elaborasi dari materi. Salah satu cara elaborasi yang paling efektif adalah menjelaskan materinya kepada orang lain (Robert E. Slavin 2010 : 38).

       Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran think pair square (TPS) yang lebih rinci adalah sebagai berikut :

  1. Guru mengali pengetahuan awal siswa.
  2. Guru membagi siswa dalam kelompok berempat. Tiap kelompok diupayakan memiliki anggota yang heterogen; baik dalam kemampuan akademis, jenis kelamin, ras dan etnis.
  3. Guru membagi lembar kerja siswa (LKS) kepada seluruh siswa.
  4. Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan LKS secara individu (think).
  5. Siswa berpasangan dengan salah satu teman dalam kelompok berempat dan mendiskusikan jawaban LKS yang telah dikerjakan secara individu (pair).
  6. Kedua pasangan siswa kembali bertemu dalam kelompok berempat untuk berdiskusi mengenai permasalahan yang sama dalam LKS, dengan cara saling menyampaikan hasil kerjanya (square).
  7. Beberapa kelompok berempat tampil di depan kelas untuk mempresentasikan jawaban LKS.
  8. Guru melakukan ulasan terhadap topik pembelajaran telah yang dipelajari.
  9. Guru melakukan evaluasi untuk mengetahui hasil belajar siswa yang berupa sikap nasionalisme.

          Dalam pembelajaran dengan metode kooperatif ini ada dua macam skor yaitu skor awal dan skor kemajuan. Siswa akan memperoleh skor kemajuan (berupa poin tambahan), jika mereka mampu menunjukkan skor/nilai yang meningkat (lihat tabel skala penskoran poin kemajuan pada tabel 1).

Tabel 1 : Skala Penskoran Poin Kemajuan Siswa

Menurut Robert E. Slavin ( 2010 : 159 )

Kriteria Keberhasilan Skor Kuis Poin Kemajuan
– Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5
– 10-1 poin di bawah skor awal 10
– Skor awal sampai 10 poin diatas skor awal 20
– Lebih 10 poin di atas skor awal 30
– Kertas jawaban sempurna ( Terlepas dari skor awal ) 30

               Untuk menghitung skor kelompok, tiap poin kemajuan semua anggota kelompok, akan dicatat pada lembar rangkuman kelompok. Setiap kelompok yang memperoleh rata-rata skor peningkatan mencapai/melebihi 25, akan disebut super team. Sedang kelompok yang mencapai skor 20 sampai kurang dari 25, akan disebut great team. Sementara itu, kelompok yang mencapai skor 15 sampai kurang dari 20, akan disebut good team (Miftahul Huda, 2011 : 191 ).

Tabel 2 : Penentuan Skor dan Penghargaan Kelompok

Menurut Miftahul Huda (2011 : 192) yang telah dirubah seperlunya oleh peneliti.

Kriteria Skor Rata-rata Tim Penghargaan
15  sampai < 20 Good Team
20  sampai < 25 Great Team
25  sampai < 30 Super Team


Pembahasan

        Pada pelaksanaan pembelajaran siklus 1 khususnya pada pertemuan pertama, proses belajar dalam penerapan metode think pair square  belum menonjol. Pada awalnya siswa terlihat seperti belajar sendiri-sendiri. Sehingga guru harus mengingatkan apa hakekat belajar secara kelompok dan memberi bimbingan belajar pada siswa. Bahkan dalam siklus 1 pertemuan 1 dan 2 kegiatan belajar yang berupa presentasi hasil belajar kelompok di depan kelas dan evaluasi hasil belajar tidak sempat dilaksanakan. Namun pada siklus 1 pertemuan 3 berikutnya, keadaan tersebut sudah tidak terjadi lagi. Karena itu, pada siklus 1 secara keseluruhan proses belajar dalam penerapan metode think pair square sudah berlangsung baik. Selanjutnya pada siklus 2, proses belajar siswa dalam menerapkan metode think pair square semakin meningkat lagi dan bahkan mendapat kategori baik sekali.

         Baiknya proses belajar siswa dalam penerapan metode pembelajaran think pair square (TPS), di samping karena diamati oleh guru kolaborator, juga karena siswa diuji secara individual  melalui kuis yang berupa skala sikap nasionalisme. Perolehan nilai kuis anggota kelompok, akan menentukan skor yang diperoleh kelompok mereka. Jadi setiap anggota harus berusaha memperoleh nilai maksimal dalam mengerjakan kuis, jika kelompok mereka ingin memperoleh poin kemajuan yang tinggi. Sebagai ukuran, apakah nilai individu meningkat atau tidak, adalah nilai atau skor awal mereka sendiri. Oleh karena itu, untuk meraih tujuan personal mereka, anggota kelompok harus membantu teman satu kelompoknya agar kelompok mereka berhasil. Dan yang lebih penting lagi adalah mereka saling mendorong anggota satu kelompoknya untuk melakukan usaha maksimal.

          Sedang guru akan memberikan penghargaan (reward) bagi kelompok yang memperoleh poin kemajuan, baik good team, great team atau super team yang berupa tambahan nilai. Tambahan nilai 1 diberikan kepada kelompok belajar yang mendapat predikat good team. Sedang tambahan nilai 2 dan 3 diberikan kepada masing-masing kelompok belajar yang mendapat predikat great team dan super team. Pemberian penghargaan ini, semakin meningkatkan motivasi belajar siswa dalam  penerapan metode  pembelajaran  think

pairsquare(TPS)
Pengaruh dari  proses belajar siswa yang baik sekali dalam penerapan metode pembelajaran think pair square (TPS) adalah meningkatnya hasil belajar yang berupa sikap nasionalisme siswa. Jika pada evaluasi pra siklus 1 nilai rata-rata sikap nasionalisme siswa hanya sebesar 67,97, maka setelah penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe think pair square (TPS) pada siklus 1, nilai rata-ratanya meningkat menjadi 84,41. Bahkan pada pembelajaran siklus 2, nilai rata-ratanya meningkat lagi menjadi 86,78 (Lihat tabel 3)

Tabel 3 :

Rata-Rata Nilai Kuis dan Ketuntasan Belajar Kelas VIII D Siklus 1dan 2

Rumusan masalah Jenis Rata-rata Pra Siklus

 

Siklus 1 Siklus 2
Apakah implementasi  metode pembelajar an  think pair square  dapat meningkatkan hasil belajar yangberupa sikap nasionalisme siswa kelas VIII D SMPN 1 Cilongok ? Nilai Kuis

 

Ketuntasan Belajar Kelas

 

67,97

9,3%

84,41

87,50%

86,78

93,75%

          Bila ketuntasan belajar secara klasikal pada evaluasi sikap nasionalisme siswa pada pra siklus 1 hanya sebesar 9,3 %, maka pada pembelajaran siklus 2 meningkat menjadi 87,50 %. Bahkan pada pembelajaran  siklus 2, tingkat ketuntasan belajarnya mencapai 93,75 %. Dengan demikian, ketuntasan belajar secara klasikal, baik pada siklus 1 maupun siklus 2, telah melebihi 85%. Oleh karena itu, pembelajaran konsep proses kebangkitan nasional Indonesia yang menerapkan metode pembelajaran think pair square (TPS) di kelas VIII D dapat meningkatkan sikap nasionalisme siswa (lihat gambar diagram 1 dan 2)

muhtahi

Meningkatnya sikap nasionalisme siswa, akibat penerapan metode pembelajaran think pair square (TPS) ini, sesuai dengan teori belajar yang dikemukakan oleh Jean Piaget (dalam Wina Sanjaya, 2009:124). Dalam teori itu dikatakan bahwa siswa sudah memiliki kemampuan untuk mengkontruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang dikontruksi oleh anak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Sedang pengetahuan yang diterima melalui pemberitahuan, tidak akan menjadi pengetahuan bermakna. Pengetahuan itu hanya akan diingat sementara, setelah itu dilupakan.

          Oleh karena itu, selain dapat meningkatkan pengetahuan siswa, kegiatan belajar dalam penerapan metode pembelajaran  think pair square (TPS) juga dapat meningkatkan sikap nasionalisme. Sebab menurut Bimo Walgito (2003:129-121), untuk membentuk sikap dapat dilakukan melalui komponen kognitif, komponen afektif dan komponen konatif. Bila melalui komponen kognitif, dapat dilakukan dengan cara memberi pengetahuan, pendapat ataupun hal lain sehingga dengan materi tersebut akan berubahlah komponen kognitifnya. Bila komponen kognitifnya berubah, maka akan berubahlah komponen afektifnya dan pada akhirnya akan berubahlah sikapnya.

          Sedang menurut Dewa Eka Prayoga (2013:63), kehidupan manusia 88 % dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar. Oleh sebab itu informasi apa yang pernah diterima, direkam dan disimpan dalam pikiran bawah sadar siswa sangat berpengaruh terhadap tingkah laku manusia. Oleh karena itu, pikiran siswa sangat perlu diberi informasi yang positif seperti peristiwa sejarah yang berkaitan dengan proses kebangkitan nasional Indonesia. Sehingga sikap nasionalisme siswa dapat berkembang dan meningkat sesuai dengan usianya. Namun agar tidak terjerumus pada kegiatan indoktrinasi, dalam penanaman sikap nasionalisme siswa perlu didasarkan pada pemahaman atau penalaran yang bersifat rasional. Sehingga pertentangan antara id, super ego dan dunia luar bisa dihindari dan selanjutnya ego dapat mengintegrasikan ketiga aspek kepribadian tersebut. Dengan demikian siswa akan mengalami keselarasan batin serta hubungan dengan dunia luar dapat berlangsung baik dan efektif (Lihat dalam Sumadi Suryabrata, 1983 : 163).

Kesimpulan

          Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran think pair square (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar yang berupa sikap nasionalisme siswa kelas VIII D SMPN 1 Cilongok. Peningkatan itu tampak pada rata-rata nilai hasil kuis evaluasi pembelajaran siklus 1 sebesar 84,41 dan pada siklus 2 sebesar 86,78. Padahal nilai pada pra siklus 1 hanya sebesar 67,97. Sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus 1 dapat mencapai 87,50 % dan pada siklus 2 meningkat menjadi 93,75%. Hal ini berarti ketuntasan belajar secara klasikal sudah di atas 85%. Padahal pada pra siklus 1, ketuntasan belajar secara klasikal hanya mencapai 9,3%.

DAFTAR PUSTAKA

Adisusilo, Sutarjo. (2012). Pembelajaran Nilai Karakter. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.

_________. (2004). Pedoman Penilaian Ranah Afektif. Jakarta : Depdiknas.

Djaya, Wahyudi. (2009). Pancasila di Antara Ideologi Besar Dunia. Klaten : Cempaka Putih.

Huda, Miftahul. (2011). Cooperative Learning : Metode, Teknik, Struktur dan Penerapan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Hutagalung, Inge. (2007). Pengembangan Kepribadian : Tinjauan Praktis Menuju Pribadi Positif. Jakarta : Indeks.

Kartasasmita, Ginanjar. (1994) “Pembangunan dan Wawasan Kebangsaan “ Bela Negara : Peningkatan Kualitas Pengamalan Wawasan Kebangsaan Dalam Pembangunan Jangka Panjang Kedua. Jakarta : Purna Bhakti Negara.

Kohn, Hans. (1984). Nasionalisme : Arti dan Sejarahnya. Terjemahan Sumantri Mertodipura. Jakarta : PT Pembangunan dan PT Erlangga.

Lie, Anita. (2003). Cooperative Learning : Mempraktekan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta : PT Grasindo.

Nasikun. (2010). Sistem Sosial Indonesia. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.

Nurhadi. (2002). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)). Jakarta : Depdiknas.

Pembelajaran di SMP untuk Implementasi Kurikulum 2013”. Pelangi Februari-Maret 2014.

Sanjaya, Wina. (2009). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Perdana Media Group.

Sjarkawi. (2010). Pembentukan Kepribadian Anak : Peran Moral, Intelektual, Emosional, dan Sosial Sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri. Jakarta : Bumi Aksara.

Slavin, Robert E. (2010). Cooperative Learning : Teori, Riset dan Praktek. Diterjemahkan oleh Nurulita Yusron. Bandung : Nusa Media.

Soeprapto “Sasaran Pendidikan Wawasan Kebangsaan”, Mimbar Nomer 67/XII-1994/1995.

Sudjana, Nana. (2009). Penilaian Hasil Prestasi Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosda Karya.

Suhadi, Idup dan Sinaga, A.M. (2003). Wawasan Kebangsaan dalam Kerangka Negara Kesatuan RI. Jakarta : Lembaga Administrasi Negara.

Syah, Muhibbin. (2009). Psikhologi Belajar. Jakarta : Rajagrafindo Persada.

Walgito, Bimo. (2003). Psikhologi Sosial : Suatu Pengantar. Yogyakarta : Andi.

Yulaelawati, Ella. (2004). Kurikulum dan Pembelajaran : Filososfi, teori dan Aplikasi. Jakarta : Pakaraya.

BIODATA PENULIS 

 NAMA                   : DRS. MUHTAMIM

NIP                         : 196405201989031019

PANGKAT/GOL.  : Pembina/IVa

JABATAN             : Guru IPS

UNIT KERJA        : SMPN 1 Cilongok-Kab. Banyumas




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *