Penelitian Tindakan Kelas TK Metode Bermain Peran

PENGARUH METODE BERMAIN PERAN TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA KELOMPOK B  TAMAN  KANAK-KANAK KARTINI KARANGTALUN KECAMATAN CILACAP UTARA KABUPATEN CILACAP

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui apakah metode bermain peran berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan berbicara kelompok B TK Kartini Karangtalun Cilacap. Penelitian dilakukan selama 2 siklus dengan tahap perencanaa, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian sebagai berikut: 1) pembelajaran dengan menggunakan metode   bermain peran yang dilakukan  dengan  baik  dapat  meningkatkan kemarnpuan  berbicara pada anak kelompok B TK Kartini Karangtalun Cilacap Utara; 2) Daya serap siswa terhadap pembelajaran rata-rata  tinggi   mencapai  54% pada siklus pertama,  dan 87.5% pada siklus kedua.

Kata kunci: metode   bermain   peran, kemampuan berbicara.

PENDAHULUAN

Perkembangan bahasa  merupakan   salah  satu  dari  kemampuan dasar yang   dimiliki anak. Perkembangan berbicara merupakan suatu proses yang menggunakan bahasa ekspresif dalam membentuk arti kata. Perkembangan berbicara  pada anak berawal dari anak  menggumam maupun membeo. Ketika anak tumbuh  dan   berkembang,  terjadi peningkatan baik dalam  hal kuantitas maupun kualitas (keluwesan dan  kerumitan) produk bahasanya. Secara bertahap kemampuan anak meningkat bermula dari mengekspresikan suara saja hingga mengekspresikannya dengan komunikasi. Komunikasi anak bermula dengan menggunakan gerakan  dan  isyarat  untuk menunjukan keinginannya secara bertahap kemudian berkembang menjadi  komunikasi melalui ujaran yang tepat dan jelas. Menurut  Haris & Sipay (dalam Dhieni, 2008:3.5) rnenyatakan  bahwa  “menjelang  usia 5-6 tahun, anak mernahami sekitar 8000 kata dan dalam satu tahun   berikutnya  kernampuan  anak dapat mencapai  9000 kata”.

Menurut  buku  Didaktik  Metodik TK (Depdikbud 1998) Bahwa “Metode  Bermain  Peran merupakan pemeranan   tokoh-tokoh   atau  benda-benda  disekitar  anak  dengan  tujuan untuk mengembangkan daya  khayal (imajinasi) dan penghayatan   terhadap  bahan  pengembangan yang dilaksanakan. Dengan demikian bermain peran berarti mendaramatisikan cara tingkah laku didalam hubungan sosial  dan menekankan kenyataan anak  diturutsertakan  dalam  memainkan  peran  di dalarn mendrarnatisiskan masalah-maslaah   hubungan  sosial.

Jenis  kegiatan  bermain  peran  di TK  yaitu  sebagai  seorang  pemberi jasa seperti dokter, tukang pos, tukang sayur, clan sebagainya. Dalam penggunaannya dapat menggunakan alat-alat atau sarana  yang  diperlukan antara lain : ruang  tamu,  ruang  tidur,  tempat  tidur  boneka,  ruang dapur beserta perlengakapan lainnya.  Kegiatan bermain  peran  di TK disamping fantasi  dan emosi  yang  menyertai   permainan   itu,  anak  belajar  berbicara sesuai  dengan  peran  yang  dimainkan, belajar mendengarkan dengan  baik, dan melihat  hubungan  antar berbagai  peran yang dimainkan  bersama.

Menurut  Dhieni  (2008: 7.27)  bahwa  “Untuk  pengembangan bahasa anak di Taman Kanak-kanak, metode bermain peran sangat baik untuk mengembangkan kemampuan    anak berbahasa   reseptif dan  ekspresif. Dalam  kegiatan  bermain  peran terjadi  aktivitas  berbahasa  melalui  dialog atau percakapan  serta  pertunjukan  ekspresi  karakter  peran atau tokoh yang dimainkan  oleh para  pemain. Karena  pada  saat dialog  terjadi  komunikasi timbal balik. Maka dapat disimpulkan bahwa metode bermain peran dapat bermanfaat  untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak, baik secara reseptif maupun ekspresif.

Berdasarkan latar  belakang di atas,  dapat  dirumuskan permasalahan  sebagai berikut: “adakah   pengaruh metode bermain peran terhadap peningkatan  kemampuan berbicara kelompok B TK Kartini Karangtalun  Cilacap?”.

KAJIAN TEORI  

Peran   dapat   didefinisikan   sebagai   suatu  rangkaian perasaan,  ucapan dan tindakan, sebagai suatu pola hubungan  unik yang ditunjukkan   oleh  individu   terhadap   individu   lain.  Peran  yang  dimainkan individu   dalam   hidupnya   dipengaruhi    oleh   persepsi   individu   terhadap dirinya   dan  terhadap   orang   lain.  Oleh  sebab   itu,  untuk  dapat  berperan dengan  baik, diperlukan  pemahaman  terhadap  peran pribadi  dan orang  lain. Pemahaman    tersebut   tidak   terbatas   pada   tindakan,   tetapi   pada   factor penentunya, yakni perasaan, persepsi dan sikap. Bermain peran berusaha membantu   individu   untuk   memahami   perannya   sendiri  dan  peran  yang dimainkan orang lain sambil mengerti perasaan, sikap dan nilai yang mendasarinya.

Bermain  peran  dalam  pembelajaran merupakan usaha  untuk  memecahkan masalah melalui peragaan, serta langkah-langkah identifikasi masalah, analisis, pemeranan, dan  diskusi. Untuk   kepentingan tersebut, sejumlah peserta    didik   bertindak   sebagai pemeran dan   yang  lainnya  sebagai pengamat.  Seorang  pemeran  harus  mampu  menghayati  peran  yang dimainkannya.  Melalui  peran,  peserta  didik  berinteraksi  dengan  orang  lain yang juga  membawakan  peran tertentu sesuai dengan tema yang dipilih.

Selama  pembelajaran berlangsung,   setiap  pemeranan   dapat  melatih sikap   empati,   simpati,  rasa benci,   marah,   senang,   dan peran lainnya. Pemeranan tenggelam dalam  peran yang dimainkannya  sedangkan pengamat  melibatkan  dirinya  secara  emosional  dan  berusaha mengidentifikasikan  perasaan  dengan  perasaan  yang tengah  bergejolak  dan menguasai  pemeranan.

Bermain     peran    mikro,     anak-anak     belajar     menjadi     sutradara, memainkan   boneka,  dan  mainan  berukuran   kecil  seperti  rumah-rumahan, kursi sofa mini, tempat tidur mini (seperti bermain  boneka barbie). Biasanya mereka  akan menciptakan  percakapan  sendiri. Dalam  bermain  peran makro,  anak berperan  menjadi  seseorang  yang mereka  inginkan.  Bisa mama,  papa, tante,polisi,  sopir, pilot, dsb.

Dalam pembelajaran  partisipatif  terdapat  tiga pihak sebagai pemegang peran  seperti  diungkapkan  oleh Prof. H.D.  Sudjana  S., S.Pd., M.Ed., Ph.D. yakni  pendidik,   peserta   didik,   dan  kurikulum   yang  menjadi   kepedulian keduanya,    yaitu   kepedulian   pendidik   dan  peserta   didik   (siswa,   warga belajar,  peserta  latihan).  Pendidik   dengan  penamaan   lain  baginya   seperti pamong  belajar,  pembimbing,  dan pelatih  atau widyaiswara,  adalah sebagai pemegang  utama dalam setiap strategi kegiatan  pembelajaran.

Tahap-tahap bermain peran di taman kanak-kanak, menurut Shaftel (1967)  mengemukakan  sembilan tahap bermain peran yang dapat dijadikan  pedoman  dalam pembelajaran: 1) Menghangatkan   suasana dan memotivasi  peserta didik; 2) Memilih  partisipan/peran; 3) Menyusun  tahap-tahap peran; 4) Menyiapkan pengamat; 5) Pemeranan; 6) Diskusi dan Evaluasi; 7) Pemeranan Ulang; 8) Diskusi dan Evaluasi Tahap dua; 9) Membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan

“Berbicara  secara umum dapat diartikan sebagai suatu penyampaian maksud  (ide,  pikiran,isi  hati)  seseorang  kepada  orang  lain dengan menggunakan   bahasa  lisan sehingga  maksud  tersebut  dipahami  oleh  orang lain”.  Zamzani  dan  Haryadi,  (1996:  54).  Pengertian  secara  khusus  banyak dikemukakan  oleh para pakar  seperti  Tarigan  dalam  Zamzani  dan Haryadi, (1996: 54) mengemukakan “Berbicara adalah    kemarnpuan mengucapkan  bunyi artikulasi  atau kata-kata  untuk mengekspresikan menyatakan pikiran, gagasan dan perasaan”. “Berbicara pada hakikatnya merupakan proses  komunikasi,  sebab di dalamnya  terjadipemindahan   pesan dari  suatu  sumber   ke  tempat   lain”.   Zamzani   dan  Haryadi,   (1996   :54). Berbicara   merupak:an  bentuk   perilaku   yang   memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis,semantik, dan linguistik. Langkah-langkah berbicara  yaitu: 1) Menyeleksi  dan memusatkan pembicaraan; 2) Menentukan  tujuan khusus pembicaraan; 3) Menganalisis  pendengar  dansituasi; 4)  Meogumpulkan  materi pembicaraan; 5) Menyusun  kerangka  dasar pembicaraan; 6) Mengembangkan  kerangka dasar; 7) Berlatih dengan suara keras, jelas,  dan lancer; dan 8)   Menyajikan  pembicaraan. Hipotesis tindakan “Dengan metode bermain peran yang dilaksanakan dengan alat peraga yang mendukung peran yang dimainkan diharapkan anak akan lebih percaya diri dalam berbicara”

METODE PENELITIAN

Penelitian   ini    adalah  penelitian  tindakan  (action  research),   dimana menurut  Hisley  (1972)  “Penelitian   tindakan  merupakan  bentuk  intervensi skala kecil dalam hal fungsinya  dunia nyata ini (kegiatan  nyata di lapangan) dan  pemeriksaan   dengan  cermat  apakah  intervensi   ini  efektif  atau  tidak. Dengan   demikian penelitian tindakan bukan merupakan eksperimental, tetapi merupakan penelitian yang berdasarkan permasalahan. Desain rancangan  penelitian  yang digunakan  dalam penelitian  ini adalah  mengikuti langkah-langkah yang dikembangkan oleh  Kemmis  clan McTogart  (Dalam Zuriah:2003;73) yang   terdiri    dari   “planning, action,  observation dan reflection”,

Subyek  penelitian  dalam  penelitian  ini adalah  anak  Kelompok  B TK Kartini   Karangtalun   tahun   pelajaran   2015/2016,  yang   dilakukan   secara kolaborasi   antara  dua  orang  guru  dan  satu  orang  kepala  sekolah.  Jumlah siswa  di  kelompok   B  terdiri  dari  13 anak  laki-laki  dan   11   orang  anak perempuan.   Adapun    tema   yang   diangkat    yaitu   “Kebutuhan”    waktu pelaksanaan  terdiri dari 2 siklus dan kedua siklus tersebut  dilaksanakan  pada tanggal  06 sampai dengan  10 Oktober 2015 (siklus  1) dan tanggal  13 sampai dengan  17 Oktober  2015 (siklus 2).

Kriteria  untuk   mengukur  tingkat  keberhasilan  upaya  perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut: 1) Proses perbaikan pembelajaran secara individual dinyatakan berhasil, jika  75% dari jumlah anak dalam kelas dapat bermain peran sesuai dengan yang dipilih. 2) Proses   perbaikan   pembelajaran   secara   klasikal   dinyatakan    berhasil jika  75% dari keseluruhan  anak  dalam  kelas sudah  memperoleh   nilai kriterikeberhasilan    seperti   diatas   yaitu    menguasai    75%   materi kegiatan  yang diberikan.

HASIL  PENELITIAN

Pelaksanaan Siklus 1

Dilaksanakan   tanggal  06  sampai  dengan  10 Oktober  2015,  dengan  Tema “Kebutuhan”, Metode yang digunakan  adalah Bermain  Peran. Adapun langkah-langkah  yang telah dilaksanakan  adalah: Kegiatan  pembukaan (salam, doa, bernyanyi, tanya jawab   tentang mengapa  harus makan? Menangkap  clan melempar bola besar sambil diam di tempat. Kegiatan inti (menggambar  bebas dan menceritakan isi gambar kepada  temannya, bermain peran “Penjual dan Pembeli”. Istirahat, cuci tangan, doa, makan, bermain. Kegiatan penutup, menyanyikan lagu “Sepiring Nasi”, diskusi dan tanya jawab, bernyanyi, doa, salam.

Pelaksanaan observasi  dilakukan  bersamaan dengan  pelaksanaan tindakan.  Hasil observasi  pada siklus  l menunjukkan guru belum  terlalu   optimal   dalam   menggunakan    metode bermain peran dalam pembelajaran, pada tahap kegiatan  inti tidak dilakukan  pengelolaan  interaksi kelas   secara   optimal   sehingga   anak  ada  yang  masih   ribut sendiri, pengunaan   waktu  juga   belum   ditepati   sesuai  dengan   yang direncanakan,  sehingga  tidak dilaksanakan  kegiatan  mengulas kembali  atau review  dan siswa tidak  diberi kesempatan  untuk bertanya.

Berdasarkan   hasil  observasi  dan  hasil  belajar   siswa  pada  siklus  1, ditemukan  sejumlah  permasalahan   anak,  yaitu  pada proses  dan hasil belajar   anak. Pada   proses   kegiatan pembelajaran, yaitu kegiatan bermain peran sebagian anak masih takut mengungkapkan imajinasinya dan masih kurang aktif dalam berbicara/berdialog. Sedangkan  hasil belajar  siswa pada  siklus 1 menunjukkan  persentase 54%. Pada  pra perbaikan  jumlah   anak  yang  mencapai indicator sebanyak 6  orang dan  setelah  diadakan  perbaikan  jumlah  anak  yang dapat   mencapai   indikator   sebanyak 13  orang,  jika dibandingkan  dengan    kondisi    sebelumnya, hal   ini   telah   menunjukkan     suatu kemajuan  yaitu  adanya  kenaikan  sebanyak   7 orang.  Namun  masih rendah dan belum mencapai  indikator  keberhasilan.  Karena hanya ada 13 orang   anak  dari  24 anak yang  dapat meningkatkan kemampuannya.

Untuk  meningkatkan aspek yang masih  kurang pada siklus 1, maka  perlu  adanya  perbaikan  untuk  indakan   selanjutnya dengan cara sebagai berikut: 1)   Mengoptimalkan    penggunaan  metode yang dipakai guru; 2)  Penggelolaan   interaksi   kelas   harus tepat   sehingga anak dapat belajar dengan baik dan menyenangkan; 3) Penggunaan  alokasi  waktu  harus  sesuai  dengan   alokasi  waktu yang  ditentukan   sehingga   ada  waktu   untuk   diskusi   dan  tanya jawab.

Pelaksanaan Siklus 2

Pelaksanaan    siklus  2  dilaksanakan   tanggal   13  sampai   dengan   17 Oktober  2015, dengan  tema “Kebutuhan” dan sub tema  “Makanan”,   dengan  mengunakan   metode  bermain  peran.  Adapun langkah langkah yang telah dilaksanakan  pada siklus ke 2 ini   adalah: 1).  Kegiatan  Pembukaan (salam, doa, bernyanyi, tanya jawab  tentang sebab akibat susah makan, praktek  langsung berjalan  di titian sambil membawa  piring). 2).   Kegiatan  inti (bermain  peran “Makan  di meja makan”, bentuk buah-buahan  dengan plastisin). 3) Istirahat (cuci tangan, doa, makan, bermain) 4). Kegiatan penutup (bergerak bebas dengan  iringan music, menggulas  kegiatan  dan tanya jawab, bernyanyi, doa, salam).

Pelaksanaan    observasi   dilakukan    bersamaan dengan   pelaksanaan tindakan Hasil observasi  pada siklus 2 menunjukkan: guru  sudah  berupaya   mengoptimalkan    kegiatan   dengan  metode bermain  peran, guru   sudah    meningkatkan    penggunaan   waktu   dan   mengelola interaksi  kelas dengan baik, kegiatan      pernbelajaran      dimulai     dengan      tahap     orientasi, implementasi    dan  review   serta   anak   diberi   kesempatan    untuk bertanya.

Hasil  observasi   dan  hasil  belajar  anak  pada  siklus   2  rnenunjukkan adanya    perbaikan,   baik  hasil   belajar   maupun  proses  belajar.   Pada proses   kegiatan   pembelajaran    sudah   dapat   berjalan   dengan   baik, sedangkan  basil  belajar  anak  pada  siklus  2 telah  rnencapai  87.5%, jika    dibandingkan     dengan    kondisi    sebelumnya, hal ini sudah menunjukan  ketercapaian  indicator.

Indikator  yang nampak pada keberhasilan  siklus 2 adalah: 1)  Anak  rata-rata   tertarik   dan antusias   terhadap   kegiatan   bermain peran, 2).  Anak     menjadi     berani     tampil     dan    dapat     mengungkapkan; 3) imajinasinya dalam bermain  peran; 4) 3.  Anak rnarnpu rnemainkan  beberapa  peran dengan baik; 5) Anak terlibat aktif dalam pembelajaran  di kelas; 6) Anak dapat melaksana.kan kegiatan dengan menyenangkan  melalui bermain  peran.

PEMBAHASAN

Dari  hasil  perbaikan   siklus  1    ini  menunjukkan   adanya  peningkatan kemampuan  berbicara  anak dalam  kegiatan  pernbelajaran.  Hal ini terbukti dari  perbandingan   antara  pra perbaikan  clan  setelah  perbaikan.   Dari  data terlihat   bahwa   sebelum   perbaikan   jumlah   anak   yang   dapat   mencapai indikator  hanya 6 orang sedangkan  data setelah perbaikan  naik menjadi  13 orang  dari jumlah   anak  yaitu  24 orang,  ini menggambarkan   bahwa  ada kenaikan  sekitar 29 % dari sebelum perbaikan.

Refleksi  proses pembelajaran  yang dilakukan  oleh peneliti  pada siklus ini  menunjukkan  hasil siklus yang lebih baik. Faktor-faktor  keberhasilan  dan kelemahan  yang tampak pada siklus I: 1)   54% anak dapat  meningkatkan   kemampuan  berbicara  melalui  metode bermain peran, 2) Sebagian  besar anak belum bisa aktif dalam bermain peran, 3) Sebagian besar anak masih takut dalam mengungkapkan  imajinasinya, 4) Guru belum   bisa   mengoptimalkan metode   yang  digunakan   dalam bermain peran.

Dari temuan-temuan di atas dapat diperoleh  keterangan  bahwa  secara keseluruhan anak belum dapat mencapai indikator yang ditetapkan, sehingga  diperlukan  perbaikan  siklus ke 2.

Berdasarkan pelaksanaan   kegiatan  pembelajaran   pada  siklus  1    maka pada  siklus  2 pelaksanaan pembelajaran  sudah  berjalan  dengan  baik,  ini dapat dilihat pada data dari 24 orang anak hanya 3 orang anak yang belum mencapai  indikator  yang  ditetapkan.  Hal  ini dapat  dilihat  dari  prosentase perbandingan   antara  siklus  1    dan  siklus  2, yaitu  54%  pada  siklus  1    dan 87 .5% di siklus 2.

Refleksi proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti pada siklus ini  menunjukkan  basil siklus yang lebih baik. Faktor-faktor   keberhasilan  pada siklus 2 ini dapat di capai karena: 1) 87.5% anak dapat  meningkatkan kemampuan berbicara    melalui metode bermain peran, 2) Anak menjadi berani tampil dan berani mengungkapkan   imajinasinya ketika bermain  peran. 3) Anak mampu memainkan  beberapa macam  peran dengan baik, 4) Anak  aktif  dalam  pembelajaran   karena  mempunyai  minat  yang  besar pada kegiatan bermain peran, 5) Anak dapat melaksanakan kegiatan dengan   menyenangkan  pada kegiatan  bermain  peran.

KESIMPULAN

Berdasarkan  hasil penelitian  tersebut diperoleh kesimpulan  bahwa: 1) pembelajaran dengan menggunakan metode bermain peran yang dilakukan dengan baik dapat meningkatkan kemarnpuan berbicara pada anak kelompok B TK Kartini Karangtalun  Cilacap Utara; 2)  Daya serap  siswa terhadap pembelajaran rata-rata  tinggi mencapai 54% pada siklus pertama,  dan 87.5% pada siklus kedua.

DAFTAR PUSTAKA

Santrock,  Jhon W. 2007. Perkembangan  Anak. Jakarta: Erlangga

Dhieni, Nurbiana.  2008.  Metode   Pengembangan   Bahasa.   Jakarta:   Universitas terbuka

Fikriyanti, Mirroh.2013. Perkembangan Anak  Usia Emas (Golden Age).Y ogyakarta.  Laras Media prima. Jakarta:  Departemen  Pendidikan  dan Kebudayaan

Hurlock,  Elizabeth.  1978. Perkembangan  Anak  (jilid  1). Jakarta: Erlangga Indrawati,   Lilik. 2012. Pengaruh Penggunaan Metode Bermain  peran  terhadap Perkembangan  Bahasa Anak Kelompok A. Surabaya:  Skripsi Unpublished

R,  Moeslichatoen. 1996. Metode Pengajaran di Taman  Kanak-kanak.   Malang: Depdikbud

Depdiknas  (2004) Kurikulum  Pedoman Penyusunan  Silabus Jakarta:  Depdiknas Dhieni    Nurbiana,  dkk. (2005) Metode Pengembangan Bahasa Jakarta. Universitas Terbuka

Gunarti Winda, Suryani  Lilis, Muis Azizah (2008)  Metode  Pengembangan Perilaku dan  Kemampuan   Dasar  AUD, Jakarta:  Universitas Terbuka

Tim   PKP   PG-PAUD    (2009) Panduan Kemantapan Kemampuan MengajarProfesional Jakarta: Universitas Terbuka

Wardhani Igak, Wihardit Kuswaya, (2008) Penelitian   Tindakan  Ke/as   Jakarta:Universitas Terbuka.

 

BIODATA PENULIS

Nama               : SITI KHOLIFAH,S.Pd

NIP                 :  19610716  198603 2 010

Unit kerja        : TK KARTINI KARANGTALUN  UPT DISDIKPORA CILACAP UTARA


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *