Metode Bimbingan Teknis Kepala Sekolah Dalam Meningkatan Kemampuan Guru Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

PENERAPAN METODE BIMBINGAN TEKNIS KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATAN KEMAMPUAN GURU MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) DI SDN 3 LINGGASARI UPK KEMBARAN PADA SEMESTER 1 TAHUN 2016/2017

Oleh : Umi Indriyati, S.Pd

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 3 Linggasari Kembaran, bertujuan mengetahui sejauh mana kemampuan guru dalam membuat dan menyusun RPP sebagai bagian dari kewajiban dan tugas profesionalisme, rangka meningkatkan mutu kwalitas pembelajaran yang dilakukannya. Penelitian ini adalah penelitian tindakan sekolah, dengan subyek penelitian adalah guru yang mengajar di SD Negeri 3 Linggasari yang berjumlah 10 orang. Penelitian ini difokuskan pada penerapan metode bimbingan teknis yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap 10 guru kelas. Prosedur penelitian tindakan sekolah ini meliputi :1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan 3) observasi, 4) refleksi dalam setiap siklus. Data yang diperoleh melalui observasi (pengamatan),  wawancara, serta unjuk kerja. Penelitian terlaksana dalam 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan bimbingan teknis kepala sekolah berhasil baik. Peningkatan kemampuan guru dalam menyusun RPP pada kondisi awal 27%, pada akhir siklus 1 sebesar 63% dan pada akhir siklus 2 sebesar 87%., sedangkan target atai indikator kinerja sebesar 85%.

Kata  Kunci : Bimbingan teknis, kemampuan guru, RPP

PENDAHULUAN

Kepala Sekolah sebagai pimpinan di sekolah merupakan salah satu faktor penyumbang keberhasilan upaya penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan pencitraan publik, dalam upaya mewujudkan sekolah yang mampu membentuk insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Keberhasilan kepala Sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah tidak terlepas dari kompetensi dan kemampuannya melaksanakan tugas, peran, dan fungsinya sebagai kepala sekolah.

Mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 13/2007, tentang Standar Kepala Sekolah disebutkan bahwa Kepala Sekolah harus memiliki kompetensi sebagai berikut yaitu kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervise dan sosial. Sebagai konsekuensinya, seluruh kegiatan di sekolah baik secara akademik maupun non akademik harus mampu menjamin adanya peningkatan kelima dimensi kompetensi tersebut.

Pembelajaran yang disiapkan guru selama ini di SD Negeri 3 Linggasari Kecamatan Kembaran belum sepenuhnya maksimal, oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan dan ditingkatkan agar mendukung proses pembelajaran yang hendak dilakukan. Selama ini hampir semua guru kurang menyiapkan rencana pembelajaran yang akan dilaksanakan, bahkan kadang-kadang ada guru yang tidak membuat rencana pembelajaran. Sehingga dalam kegiatan pembelajaran terlihat kurang tersusun dengan baik, kurang tertib sehingga menyebabkan kerugian bagi siswa itu sendiri, yang pada akhirnya hasil belajar kurang.

Oleh karena itu, pengembangan mutu proses pembelajaran difokuskan pada upaya untuk mempraktikkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional guru dalam rangka membuat dan menyusun perangkat pembelajaran, antara lain adalah rencana pelaksanaan pembelajaran.Untuk mengatasi masalah tersebut maka kepala sekolah perlu melakukan tindakan, yaitu dengan melakukan bimbingan kepada para guru, dengan harapan melalui bimbingan dari kepala sekolah tentang cara membuat dan menyusun rencana perbaikan pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan guru menjadi lebih baik. Sedangkan langkah yang tepat untuk mengatasi masalah diatas, adalah dengan melakukan penelitian tindakan sekolah.

Secara rinci diungkap Suyanto (2001) bahwa selama kemampuan profesional guru belum bias mencapai tataran ideal guru bersangkutan harus mendapatkan pelatihan yang terus menerus. Dalam era globalisasi seperti sekarang semua ilmu pengetahuan cepat usang.Apalagi kalau guru tidak di-training dan tidak bias memperoleh akses informasi yang baru dan jika itu terjadi maka guru akan ketinggalan, maka tidak ragu lagi bahwa untuk mencapai kualitas pendidikan yang baik maka guru harus selalu ditingkatkan kemampuannya agar guru selalu segar informasinya, kuat etos kerjanya, dan cerdas akalnya.

Dari identifikasi dan pembatasan masalah, maka peneliti merumuskan masalah adalah: Apakah melalui pembimbingan teknis kepala sekolah dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di SD Negeri 3 Linggasari Kecamatan Kembaran?

TINJAUAN PUSTAKA

Bimbingan Teknis Kepala Sekolah

Salah satu tugas kepala sekolah/madrasah adalah melaksanakan bimbingan teknis Kepala Sekolah.Untuk melaksanakan bimbingan teknis Kepala Sekolah secara efektif diperlukan keterampilan konseptual, interpersonal dan teknikal (Glickman, at al. 2007). Oleh sebab itu, setiap kepala sekolah/madrasah harus memiliki dan menguasai konsep bimbingan teknis Kepala Sekolah yang meliputi: pengertian, tujuan dan fungsi, prinsip-prinsip, dan dimensi-dimensi substansi bimbingan teknis Kepala Sekolah.

Kompetensi bimbingan teknis Kepala Sekolah intinya adalah membina guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran. Sasaran bimbingan teknis Kepala Sekolah adalah guru dalam melaksanakan pro­ses pembelajaran, yang terdiri dari materi pokok dalam proses pembelajaran, penyusunan silabus dan RPP, pemilihan strategi/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan teknologi informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran serta penelitian tindakan kelas. Oleh karena itu, materi ini diharapkan dapat memberikan wawasan kepada Kepala Sekolah dalam meningkatkan kompetensi bimbingan teknis Kepala Sekolah yang meliputi: (1) memahami konsep bimbingan teknis Kepala Sekolah, (2) membuat rencana program bimbingan teknis Kepala Sekolah, (3) menerapkan teknik-teknik bimbingan teknis Kepala Sekolah, (4) menerapkan supervisi klinis, dan (5) melaksanakan tindak lanjut bimbingan teknis Kepala Sekolah.

Bimbingan dalam rangka menemukan pribadi seseorang dimaksudkan untuk membantu seseorang mengenal kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Bila bimbingan dimaksudkan pada pribadi seorang guru, maka bisa dikatakan bahwa bimbingan dalam rangka mengenali lingkungan untuk membantu guru mennyesuaikan diri dengan alam sekolah yang ada. Sedangkan bimbingan dalam rangka merencanakan masa depan dimaksudkan untuk membantu guru memikirkan dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya dan kariernya di masa depan. Bimbingan berasal dari bahasa Inggris “Guidance” yang diartikan usaha menolong orang lain untuk mengembangkan pandangannya tentang diri sendiri, orang lain dan masyarakat sekitarnya agar mampu menganalisa masalah-masalah atau kesukaran-kesukaran yang dihadapi dengan menetapkan sendiri keputusan terbaik dalam menyelesaikan masalah atau kesukaran yang dihadapinya itu. Berkenaan dengan bimbingan, banyak ahli yang mengemukakan pendapatnya berdasarkan sudut pandang berbeda-beda walaupun pada prinsipnya membuahkan pengertian atau defenisi yang hampir sama.

Ada pula Siti Rahayu Hadionoto (1979:1) mengemukakan bahwa : Bimbingan tidak berarti memaksakan sesuatu pendapat kepada orang lain, baik orang tua, muda maupun anak-anak untuk mengembangkan pandangannya sendiri, membuat putusan-putusan sendiri. Jadi dengan kata lain, bimbingan adalah menolong seseorang membantu didalam menemukan penyelesaian masalah bagi dirinya sendiri hingga menuju kebahagiaan hidupnya.

Secara global pendapat di atas mengatakan bahwa bimbingan diberikan oleh seseorang yang dinamakan pembimbing kepada individu yang dibimbing bukanlah karena suatu paksaan, melainkan pemberian yang bersifat saling berbagi sekedar membantu didalam menemukan penyelesaian masalah dirinya. Bilamana bimbingan terjadi di lingkungan kampus/pendidikan yang melibatkan seorang dosen dan mahasiswa, maka dosen memberikan bimbingan atas dasar bukan paksaan tetapi kewajiban sebagai dosen atas mahasiswanya, di dalam menyelesaikan berbagai macam tugas pendidikan. Hal ini juga berarti bimbingan oleh kepala sekolah kepada para guru di sekolah yang dipimpinnya.

Winkel (Dewa Ketut Sukardi 1983:23), mengemukakan bahwa, ada tiga macam bimbingan yakni bimbingan profesi (Vocational Guidance), bimbingan belajar (Educational Guidance) dan bimbingan sosial pribadi (Personal Guidance). Vocational Guidance adalah bimbingan dalam memilih pekerjaan atau jabatan atau profesi dalam mempersiapkan untuk memasuki lapangan pekerjaan dan dalam menyesuaikan diri dengan tuntunan dari jenis pekerjaan tertentu. Educational Guidance adalah bimbingan dalam hal menentukan cara belajar yang tepat, dalam mengatasi kesukaran-kesukaran mengenai belajar dan dalam memilih jenis atau jurusan sekolah lanjutan yang sesuai. Personal Guidance adalah bimbingan dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan dalam diri sendiri, bila kesulitan tertentu berlangsung terus dan tidak mendapat penyelesaiannya dan terancamlah kebahagiaan hidup, bahkan akan timbul gangguan-gangguan mental. Dari pengertian bimbingan, dapat diketahui bahwa bimbingan itu merupakan bantuan yang dapat diberikan kepada individu untuk menghindari kesulitan, ini berarti bimbingan disini bersifat preventif (mencegah) sedangkan bimbingan yang bersifat kuratif (pencegahan). Adapun yang akan dicapai ialah hidup bagi individu atau sekumpulan individu.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian bimbingan adalah merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada seseorang atau beberapa orang individu baik anak-anak, remaja maupun dewasa agar orang, individu itu dapat mengenali dirinya, dapat mengembangkan kemampuannya dan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Bimbingan merupakan proses bantuan yang diberikan seseorang kepada orang lain dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi dan atau untuk membantu merencanakan masa depan sehingga memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan hidup. Dan proses bimbingan tersebut tidak terbatas di sekolah semata, tetapi juga dibutuhkan dalam keluarga ataupun dalam kehidupan sosial.

Bimbingan teknis Kepala Sekolah adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran (Daresh, 1989, Glickman, et al. 2007). Bimbingan teknis Kepala Sekolah tidak terlepas dari penilaian kinerja  guru dalam mengelola pembelajaran. Sergiovanni (1987) menegaskan bahwa refleksi praktis penilaian kinerja guru dalam bimbingan teknis Kepala Sekolah adalah melihat kondisi nyata kinerja guru untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, misalnya apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas? Apa yang sebenarnya dilakukan oleh guru dan siswa di dalam kelas?, aktivitas-aktivitas mana dari keseluruhan aktivitas di dalam kelas itu yang bermakna bagi guru dan murid?, apa yang telah dilakukan oleh guru dalam mencapai tujuan akademik? Apa kelebihan dan kekurangan guru dan bagaimana cara mengembangkannya? Berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini akan diperoleh informasi mengenai kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Namun satu hal yang perlu ditegaskan di sini, bahwa setelah melakukan penilaian kinerja tidak berarti selesailah pelaksanaan bimbingan teknis Kepala Sekolah, melainkan harus dilanjutkan dengan tindak lanjutnya berupa pembuatan program bimbingan teknis Kepala Sekolah dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.

Kemampuan Guru dalam Menyusun RPP

Kemampuan (abilities) seseorang akan turut serta menentukan perilaku dan hasilnya. Yang dimaksud kemampuan atau abilities ialah bakat yang melekat pada seseorang untuk melakukan suatu kegiatan secara phisik atau mental yang iaperoleh sejak lahir, belajar, dan dari pengalaman (Soehardi,2003:24). Sedangkan menurut Stepen P. Robbins dalam bukunya Perilaku Organisasi (2003:52) kemampuan adalah suatu kapasitas individu untuk melaksanakan tugas dalam pekerjaan terrtentu. Soelaiman (2007:112) kemampuan adalah sifat yang dibawa lahir atau dipelajari yang memungkinkan seseorang yang dapat menyelesaikan pekerjaannya, baik secara mental ataupun fisik. Karyawan dalam suatu organisasi, meskipun dimotivasi dengan baik, tetapi tdak semua memiliki kemampuan untuk bekerja dengan baik. Kemampuan dan keterampilan memainkan peranan utama dalam perilaku dan kinerja individu. Keterampilan adalah kecakapan yangberhubungan dengan tugas yang di miliki dan dipergunakan oleh seseorang padawaktu yang tepat.

Menurut Robert Kreitner (2005:185) yang dimaksud dengan kemampuan adalah karakteristik stabil yang berkaitan dengan kemampuan maksimum phisik mental seseorang. Menurut Stephen P. Robins (2006,46) Kemampuan (ability) adalah kapasitas individu untuk melaksanakan berbagai tugas dalam pekerjaan tertentu. Seluruh kemampuan seorang individu pada hakekatnya tersusun dari dua perangkat factor yaitu kemampuan intelektual dan kemampuan phisik. Sedangkan menurut Mc Shane dan Glinow dalam Buyung (2007:37) ability the natural aptitudes and learned capabilities required to successfullycomplete a task (kemampuan adalah kecerdasan-kecerdasan alami dan kapabilitas dipelajari yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu tugas). Kecerdasan adalah bakat alami yang membantu para karyawan mempelajari tugas-tugas tertentu lebih cepat dan mengerjakannya lebih baik.

Undang-Undang Guru dan Dosen Republik Indonesia No.14 Tahun 2005 ”Guru adalah pendidik  profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”. Selanjutnya UU No.20 Tahun 2003 pasal 39 ayat 2 tentang sistem pendidikan nasional  menyatakan, ”pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan  dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pendampingandan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.”

Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan, ”pendidik (guru) harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa guru adalah tenaga pendidik yang profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik, dan bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran.

Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan RPP. Silabus merupakan sebagian sub-sistem pembelajaran yang terdiri dari atau yang satu sama yang lain saling berhubungan dalam rangka mencapai tujuan. Hal penting yang berkaitan dengan pembelajaran adalah penjabaran tujuan yang disusun berdasarkan indikator yang ditetapkan. Philip Combs (dalam Kurniawati, 2009: 66) menyatakan bahwa perencanaan program pembelajaran merupakan suatu penetapan yang memuat komponen-komponen pembelajaran secara sistematis. Analisis sistematis merupakan proses perkembangan pendidikan yang akan mencapai tujuan pendidikan agar lebih efektif dan efisien disusun secara logis, rasional, sesuai dengan kebutuhan siswa, sekolah, dan daerah (masyarakat). Perencanaan program pembelajaran adalah hasil pemikiran, berupa keputusan yang akan dilaksanakan.

Selanjutnya  Oemar Hakim (dalam Kurniawati 2009:74) menyatakan, ”bahwa  perencanaan program pembelajaran pada hakekatnya merupakan perencanaan program jangka pendek untuk memperkirakan suatu proyeksi  tentang sesuatu yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran”. Permendiknas No. 103 tahun 2014 menyatakan, “Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar dalam beberapa pertemuan yang mengacu pada standar isi, standar kelulusan dan telah dijabarkan dalam silabus”

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan  pembelajaran adalah suatu upaya menyusun perencanaan pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum sesuai dengan kebutuhan siswa, sekolah, dan daerah.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian  pembelajaran  untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus. Maka ringkasnya RPP  adalah  rencana operasional kegiatan pembelajaran setiap atau beberapa KD dalam setiap tatap muka di kelas. Lingkup RPP paling  luas mencakup 1 kompetensi dasar yang terdiri atas 1 indikator atau beberapa indikator untuk 1 kali pertemuan atau lebih. RPP harus berupa kegiatan konkret setapak demi setapak yang dilakukan oleh guru di kelas dalam mendampingi peserta didik. Satu hal yang amat penting dalam penyusunan RPP adalah bahwa kegiatan pembelajaran harus diarahkan agar berfokus pada peserta didik, sedangkan guru berperan sebagai pendamping atau fasilitator.Artinya, ketikaguru  memilih pendekatan, metode, materi,  pengalaman  belajar, interaksi belajar mengajar harus memungkinkan peserta  didik berinteraksi dan aktif, sedang guru memfasilitasi dan mendampinginya.

Program pembelajaran yang sudah dituangkan di dalam silabus diimplementasikan oleh guru dengan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP yang memuat hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu kompetensi dasar, merupakan pegangan guru dalam melaksanakan pembelajaran.Dalam menyusun RPP guru harus mencantumkan standar kompetensi, kompetensi dasar, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, sumber belajar dan evaluasi (Lukmanul Hakim, 2008).

Kerangka Pikir

Pada kondisi awal sebagian besar guru di SDN 3 Linggasari Kecamatan Kembaran kurang atau bahkan tidak membuat RPP sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas. Hal ini bisa dimengerti karena kebiasaan mengajar yang telah dilakukannya dari dulu. Pola pembelajaran yang monoton, bahkan materi yang itu itu saja, sehingga dirasakan oleh guru sudah hafal. Namun hal ini kurang mendukung terciptanya kualitas pendidikan, dimana ilmu dan pengetahuan bergerak dinamis yang seharusnya guru selalu menciptakan ide-ide segar untuk menumbuhkan kualitas pembelajaran sehingga hasil yang dirasakan untuk siswa terlihat meningkat.

Rencana pelaksanaan pembelajaran adalah salah satu perangkat pembelajaran agar tujuan pembelajaran itu berhasil sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Dengan rencana pelaksanaan pembelajaran, guru akan mudah menata, mengatur bahkan mengevaluasi sejauh mana metode, materi, dan tujuan pembelajaran tercapai atau belum. Oleh sebab itu untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, maka guru perlu bimbingan teknis baik secara individu maupun kelompok dalam membuat dan menyusun RPP, hal ini untuk menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan merencanakan system pembelajaran yang baik dan bermutu. Langkah bimbingan teknis kepala sekolah juga untuk memberikan penilaian kinerja guru sampai sejauh mana kemampuan profesionalisme.

Dalam penelitian tindakan sekolah ini, akan dilakukan 2 siklus, yaitu siklus pertama dan siklus kedua. Ini dilakukan apabila hasil siklus pertama kurang sesuai harapan maka akan direvisi dan dilakukan tindakan siklus kedua.Dalam siklus 1 tindakan bimbingan teknis dilakukan secara individu dan waktunya di sesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Untuk melihat dan mengetahui sejauh mana bimbingan tersebut berhasil, maka peneliti harus melihat obyek penelitiannya, yaitu saat guru melaksanakan proses atau mengimplementasikan kegiatan belajar mengajar berdasarkan RPP yang telah disusunnya. Hal ini juga dilakukan pada siklus 2 namun dalam bimbingannya secara berkelompok, disesuaikan berdasarkan kelas atas dan kelas bawah. Adapun kerangka pikir penelitian tindakan ini digambarkan sebagai berikut :

Hipotesa Tindakan

Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir di atas, maka dapat diasumsikan hipotesa tindakannya adalah :dengan menerapkan metode bimbingan teknis kepala sekolah, guru dapat meningkatkan kemampuannya membuat dan menyusun RPP yang baik sesuai dengan kaidah yang berlaku.

METODE PENELITIAN

Subyek penelitian ini adalah guru SD Negeri 3 Linggasari Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas sebanyak 11 guru kelas. Obyek penelitian ini adalah kegiatan guru dalam proses belajar mengajar, yang diawali dengan membuat dan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dilanjutkan dengan implementasi pelaksanaan pembelajaran dikelas dan hasil dari kegiatan pembelajaran.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah (PTS). Langkah-langkah penelitian yang akan dilaksanakan mengacu pada model Kemis dan Mc.Taggart (1988) seperti halnya peneltian tindakan kelas. Setiap siklus tindakan meliputi perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Waktu yang digunakan untuk penelitian tindakan sekolah ini pada bulan September 2016 sampai dengan Desember 2016.

Untuk memperoleh data-data penelitian tersebut disusunlah instrumen penelitian berdasarkan kajian pustaka dan diskusi. Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu : 1) Pengamatan/Observasi, instrumen yang digunakan selama pengamatan adalah lembar pengamatan yang berisi kisi-kisi pengamatan agar pencatatan pengamatan lebih sistematis. Peneliti akan melakukan pengamatan terhadap guru dalam menerapkan RPP selama pembelajaran di kelas; 2) Evaluasi, evaluasi digunakan untuk mengetahui dan menilai kemampuan serta resistensi guru dalam membuat dan menyusun RPP selama bimbingan teknis kepala sekolah, baik secara individu maupun kelompok; 3) Wawancara, wawancara digunakan untuk melengkapi informasi mengenai penerapan bimbingan teknis yang dilakukan oleh kepala sekolah. Wawancara dalam hal ini adalah untuk cross check apabila ada hal-hal yang tidak dapat atau kurang jelas diamati pada saat observasi.

Indikator Keberhasilan

Kriteria keberhasilan ditetapkan masing-masing guru maupun secara keseluruhan dinyatakan tuntas atau berhasil jika mencapai nilai sebagai berikut :

1. Kriteria keberhasilan / ketuntasan dalam menyusun RPP, Guru dinyatakan telah berhasil menyusun rencana perbaikan pembelajaran  jika hasil persentase skor minimal 80% yang  artinya minimal ada 4 aspek yang mendapatkan skor 3 dan 4 aspek mendapat skor 2.

2. Penelitian ini dianggap selesai atau berhasil jika 100% dari guru yang menjadi subyek penelitian telah mendapat skor maksimal 18.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Awal

Kondisi awal kemampuan para guru di SD Negeri 3 Linggasari Kecamatan Kembaran dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) masih kurang bahkan ada yang sama sekali tidak pernah membuat (tabel 4.1). Hal ini terlihat dari hasil pengamatan/observasi serta wawancara peneliti bahwa dari 11 orang guru hanya 3 atau (27,3%) orang saja yang setiap melakukan pembelajaran menyiapkan RPP, sedangkan 8 atau (72,7%) guru lainnya kadang membuat kadang tidak namun lebih sering tidak sama sekali. Dampak dari kebiasaan itu adalah tidak teramatinya kemampuan guru yang sebenarnya dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebelum melakukan pembelajaran.

Deskripsi Siklus I

Bentuk tindak kepemimpinan ini berupa pembinaan (bimbingan teknis baik secara individu maupun kelompok) kepada guru-guru kelas 1 sampai dengan kelas 6, yang berjumlah 11 orang guru melalui bimbingan teknis kepala sekolah. Agar mampu menyusun scenario pembelajaran melalui penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai sumber belajar secara efektif.

Pada siklus 1 bimbingan dilakukan secara individual. Guru mengisi daftar hadir yang disediakan. Kepala Sekolah/peneliti memberi penjelasan dan pemaparan tentang maksud dan tujuan bimbingan mengenai penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)  yang sesuai dengan BNSP. Peneliti menguraikan dan menjelaskan secara umum petunjuk tentang penyusunan dan format dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Peneliti mencontohkan format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Berkaitan dengan lembar format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)  peneliti menguraikan satu persatu item dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)  tersebut, misalnya mencantumkan identitas, tujuan, materi, metode, langkah-langkah pembelajaran, sumber belajar, alat dan bahan, serta evaluasi. Sesekali dilakukan dengan tanya jawab secara timbal balik, saat bimbingan berlangsung. Guru mencoba menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan petunjuk peneliti.

Pada pertemuan kedua langkah yang di tempuh peneliti adalah sama seperti pertemuan pertama, masih bimbingan secara individu. Hal inipun masih dibantu oleh kolaborator yang berfungsi membantu memberi penegasan. Langkah-langkah juga sama. Pada pertemuan 2, sifatnya hanya pemantapan dan ingin melihat hasil susunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat guru di rumah. Pada pertemuan kedua ini juga setiap guru harus mendapatkan bimbingan yang sama dari Kepala Sekolah.

Kegiatan pemberian bimbingan siklus I tersebut dilaksanakan sesuai  jadwal  yakni  pasca  kegiatan  proses   belajar   mengajar siklus I, tepatnya pada setiap hari Senin (12-9-2016 dan 19-9-2016). Sebagaimana dapat dilihat pada gambar 4.1.di bawah ini.

Observasi tindakan bimbingan teknis kepala sekolah dilakukan oleh peneliti bersama Kepala SDN Larangan (Tri Hastuti, S.Pd) sebagai kolaborator terhadap guru saat pelaksanaan kunjungan kelas dengan menggunakan instrumen lembar Observasi kunjungan kelas, maupun saat kegiatan pemberian bimbingan kepala sekolah dengan menggunakan instrumen lembar Observasi kegiatan bimbingan. Kemudian dilanjutkan dengan evaluasi untuk memperoleh hasil dari bimbingan yang telah dilaksanakan. Observasi tindakan bimbingan kepala sekolah kepada guru dilakukan setiap kali pertemuan dan terus dilakukan evaluasi untuk mempersiapkan tahap berikutnya. Observasi tindakan bimbingan teknis dilaksanakan pasca kegiatan Supervisi Kunjungan Kelas Siklus I tepatnya pada setiap hari Senin (12-9-2016 dan 19-9-2016).

Pada pelaksanaan tindakan siklus I ini dilakukan observasi oleh kolaborator terhadap guru saat pemberian bimbingan kepala sekolah dengan menggunakan instrumen lembar Observasi kegiatan bimbingan.  Pada siklus I yang berlangsung pasca kegiatan Supervisi Kunjungan Kelas Siklus I tepatnya pada setiap hari Senin (12-9-2016 dan 26-9-2016), guru-guru masih tampak enggan untuk mengikuti pemberian bimbingan, dikarenakan Kepala Sekolah terlebih dahulu meninjau dokumen yang dimiliki guru terkait dengan rencana program pembelajaran untuk mengetahui apakah guru-guru sudah menyusun rencana program pembelajaran sesuai aturan, dan berkelanjutan.

Pada kegiatan ini ditemukan: ada 52% dari 11 orang guru yang tidak menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sedangkan 48% dari 11 orang guru sudah menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai aturan dan mencakup segala sesuatu yang berhubungan dengan materi yang akan diajarkan. Tidak ada guru yang bertanya mengenai instrumen atau langkah-langkah menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), tidak ada guru yang megevaluasi diri.

Guru tampak tidak begitu antusias, tidak aktif, tidak adanya kerja sama antar guru walaupun masih mengalami kesulitan. Tidak semua guru bertanggung jawab dan tepat waktu dalam menghadiri kegiatan pemberian bimbingan Kepala Sekolah.

Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Kepala Sekolah menyarankan agar sebelum berakhirnya pemberian bimbingan siklus I ini, semua guru dapat menyusun dan menunjukkan instrumen (dokumen) yang diibutuhkan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai aturan yang berlaku. Guru dikatakan mampu dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) apabila dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tersebut: mencantumkan Identitas; mencantumkan Tujuan Pembelajaran; mencantumkan Materi Pembelajaran; mencantumkan Metode Pembelajaran; mencantumkan Langkah-langkah Pembelajaran; mencantumkan Sumber Belajar; Alat dan Bahan; serta  mencantumkan Evaluasi.

Kepala Sekolah mengakhiri tindakannya dengan mengadakan tinjauan ulang dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) semua guru, sebagai kegiatan tindak lanjut. Diperoleh data 52% dari 11 orang guru telah menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai aturan dan berkelanjutan. Sedangkan 48% dari 11 orang guru tidak menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai aturan dan berkelanjutan. Sehingga pemberian bimbingan Kepala Sekolah belum dapat meningkatkan kemampuan guru SDN 3 Linggasari dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai aturan dan berkelanjutan. Dapat diketahui bahwa hasil skor tindakan bimbingan teknis kepala sekolah yang dilakukan peneliti baru mencapai 52%, sehingga skor tindakan bimbingan teknis belum dapat memenuhi target yang telah ditentukan (85%). Karena dapat dikatatakan meningkatkan kemampuan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), apabila prosentase skor hasil tindakan bimbingan teknis minimal sama dengan target (85%).

Pada bimbingan kedua, guru diajak menyusun skenario Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) wajib digunakan sebagai pedoman selama proses kegiatan belajar mengajar. Guru harus mencantumkan Kompetensi Dasar yang hendak diajarkan, indikator dan tujuan yang akan dicapai, serta langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung,

Setelah para guru secara individu membuat skenario atau rancangan pembelajaran dan kemudian memaparkannya pada saat melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar di kelas masing-masing.  Terbukti guru yang telah/dapat menyusun RPP sesuai pembelajaran yang sebenarnya, sebagaimana hasil skor tindakan bimbingan teknis kepala sekolah yang dilakukan peneliti baru mencapai 63%. Sehingga skor tindakan bimbingan teknis pada siklus I pertemuan 2 inipun, belum dapat memenuhi target yang telah ditentukan (85%). Karena dapat dikatatakan meningkatkan kemampuan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), apabila prosentase skor hasil tindakan bimbingan teknis minimal sama dengan target (85%).

Deskripsi Siklus II

KepalaSekolah/peneliti memberi penjelasan dan pemaparan tentang maksud dan tujuan bimbingan mengenai penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan BNSP. Peneliti menguraikan dan menjelaskan secara umum petunjuk tentang penyusunan dan format dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Peneliti mencontohkan format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan diberikan kepada guru untuk diperhatikan lembar format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tersebut. Berkaitan dengan lembar format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) peneliti menguraikan satu persatu item dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tersebut, misalnya mencantumkan identitas, tujuan, materi, metode, langkah-langkah pembelajaran, sumber belajar, alat dan bahan, serta evaluasi.

Sesekali dilakukan dengan tanya jawab secara timbal balik, saat bimbingan berlangsung. Guru mencoba menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan petunjuk peneliti. Peneliti memperhatikan dan mengamati setiap tindakan yang dilakukan oleh guru saat menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Perkembangan dilakukan secara tatap muka langsung, sekaligus diskusi terbuka. Peneliti memberikan kesempatan kepada guru untuk bertanya mengenai kesulitan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), khususnya yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diajarkan.

Pada pertemuan kedua langkah yang ditempuh peneliti bersama kolaborator adalah sama seperti pertemuan pertama, menggunakan bimbingan secara kelompok. Langkah-langkah  pemberian bimbinganpun juga sama. Pada pertemuan 2 ini, sifatnya hanya untuk pemantapan dan ingin melihat hasil penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat guru di rumah. Pada pertemuan kedua ini juga setiap kelompok,  baik kelompok kelas rendah maupun kelompok kelas tinggi harus mendapatkan bimbingan yang sama.

Pemberian bimbingan kepada semua guru (11) orang guru yang ada di SDN 3 Linggasari mengenai “Manfaat mengevaluasi kemampuan guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Profesionalnya seorang guru”.

Observasi tindakan bimbingan teknis dilaksanakan pasca kegiatan Supervisi Kunjungan Kelas Siklus II tepatnya pada setiap hari Senin (10-10-2016 dan 24-10-2016).

Pada siklus II yang berlangsung pasca kegiatan Supervisi Kunjungan Kelas Siklus II tepatnya pada hari Senin (10-10-2016 dan 24-10-2017), guru-guru sudah merasa enjoi untuk mengikuti pemberian bimbingan, dikarenakan Kepala Sekolah terlebih dahulu meninjau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun guru, untuk mengetahui apakah guru-guru sudah membiasakan diri menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai aturan, dan berkelanjutan. Pada kegiatan ini ditemukan 71% dari 11 orang guru tidak menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), 29% dari 11 orang guru telah menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai aturan dan mencakup segala sesuatu yang berhubungan dengan materi yang diajarkan. Mayoritas guru sudah memahami instrumen atau langkah-langkah menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), semua guru sudah megevaluasi diri.

Pada bimbingan selanjutnya hampir semua guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan berpedoman pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuatnya sendiri, dan membuktikan dari pengalaman mereka masing-masing bahwa hasil pembelajaran yang diberikan lebih baik. Hasil akhir dari bimbingan teknis kepala sekolah mengenai kemampuan guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang benar telah menunjukkan atau mampu mencapai 87%. Kondisi ini tentu saja akan berimbas pada hasil pembelajaran yang lebih baik, dan tentunya profesionalisme sebagai guru harus ditingkatkan.

Kenaikan kemampuan guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) antara data siklus 1 sampai siklus 2 sebesar 20%. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan pembimbingan kepala sekolah sudah ada peningkatan yang berarti. Pada tindakan siklus 2 sudah nampak koordinasinya antara peneliti dengan para guru, sehingga guru sudah cukup memahami materi dengan waktu yang cukup. Kerja sama antara guru yang dilaksanakan secara bergantian cukup memberikan nuansa yang lain selama dalam proses tindakan pembimbingan. Semoga kerjasama dan koordinasi yang baik terus terbina setiap harinya.

PEMBAHASAN

Penelitian tindakan sekolah ini dilakukan karena adanya fenomena rendahnya kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Padahal kegiatan tersebut sangat bermanfaat baik bagi guru yang bersangkutan, siswa, dan juga kepala sekolah sebagai penanggung jawab. Secara  teoritis diperolehnya teori baru, sebagai bahan kajian untuk mengembangkan penelitian lanjutan. Secara praktis, membuat suasana sekolah yang kondusif, dapat  membimbing guru dalam hal administrasi bagikepala sekolah.

Guru senantiasa meningkatkan kompetensinya, menjadi lebih menguasai bahan ajar, ide guru lebih berkembang, membantu guru dalam mencari solusi atau alternative pembelajaran.  Bagi Sekolah, ketepatan dalam menentukan kebijakan terkait permasalahan yang dihadapi guru. Ketepatan dalam menentukan kebijakan terkait upaya peningkatan mutu sekolah. Apabila data hasil pencapaian pengembangan keprofesian  berkelanjutan yang disampaikan tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, maka berdampak pada kesalahan pengambilan kebijaksanaan yang diambil kepala sekolah dalam rangka meningkatkan kemampuan guru dalam kemampuan guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) melalui supervisi dan bimbingan teknik yang merupakan cirri-ciri kompetensi guru yang profesional.

Setelah melihat hasil tindakan pembimbingan di atas menunjukkan bahwa tujuan penelitian secara umum telah terpenuhi, yaitu untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Sedangkan tujuan khusus untuk meningkatkan kemampuan guru melalui bimbingan teknik, ternyata telah terpenuhi dengan adanya indikator tindakan pembimbingan individu maupun kelompok oleh peneliti. Hasil tindakan pembimbingan sampai siklus 2 meningkat mencapai 87%, di mana sebelum adanya tindakan pembimbingan hanya 27% kemampuan guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa tindakan yang berbunyi “Penerapan Metode Bimbingan Teknis Kepala Sekolah Dalam Meningkatan Kemampuan Guru Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di SDN 3 Linggasari Kec. Kembaran” terbukti benar. Hal ini dibuktikan dengan:

1. Kegiatan bimbingan teknis Kepala Sekolah yang dilakukan kepada guru kelas dapat meningkatkan kemampuannya dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)  sesuai dengan pembelajaran yang sebenarnya.

2. Peningkatan persentase kemampuan guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) terlihat dari tindakan bimbingan pertama sampai terakhir menunjukkan peningkatan yang signifikan.

3. Peningkatan kemampuan guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berimbas pada kegiatan belajar mengajar yang lebih baik sehingga mutu dari pembelajaran jelas  meningkat. Tebukti bahwa target kemampuan guru adalah 85% tercapai pada akhir siklus 2 yaitu sebesar 87%.

DAFTAR PUSTAKA

Bimo, Walgito. 1995. Bimbingan dan Penyuluhan Di Sekolah. Yogyakarta : Andi Offset.

Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta : Depdiknas.

Dewa LS. 1998. Bimbingan Karir di Sekolah-Sekolah. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Gagne, Robert N, & Leslie J. Briggs. 1979. Principle of Instruction Design. New York : Holt, Rinehart & winston.

Lukmanul, Hakiim. 2008. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima.

Skinner, Charles E. 1974. Educational Psychology. New Delhi : Prenticd-Hall of India, Private Ltd.

Sumiati, Asra. 2007. Metode Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima.

Winkel. 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta : PT. Grasindo.


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *