PTK SD Mapel IPS Makna Peninggalan Sejarah Metode Diskusi

PENGGUNAAN METODE DISKUSI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL TENTANG MAKNA PENINGGALAN SEJARAH YANG BERSKALA NASIONAL  DARI MASA HINDU- BUDHA DAN ISLAM DI INDONESIA PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 2 PURWODADI

rodiyah

Oleh:

Rodiyah, S.Pd

 

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Meningkatkan hasil belajar IPS tentang Makna peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa hindu budha dan islam di Indonesia pada siswa kelas V di SD Negeri 2 Purwodadi. 2. Meningkatkan keaktifan siswa belajar IPS tentang Makna peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa hindu budha dan islam di Indonesia pada siswa kelas V di SD Negeri 2 Purwodadi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri 2 Purwodadi UPK Tambak Kabupaten Banyumas jumlah siswa 25 yang terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 10 perempuan. Hasil penelitian membuktikan bahwa dengan menggunakan metode diskusi pada mata pelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Peningkatan tersebut dikarenakan respon siswa yang semakin meningkat terhadap Proses Belajar Mengajar (PBM). Pada kondisi awal nilai rata-rata yang diperoleh siswa sebesar 57,2. Setelah diberi tindakan pada siklus I nilainya meningkat menjadi 69,2 sedangkan pada siklus II nilainya meningkat lagi menjadi 75,2. Peningkatan hasil belajar tersebut didukung pula dengan adanya peningkatan persentase ketuntasan nilai siswa yaitu (1) kondisi awal siswa persentase ketuntasan sebesar 32%; (2) persentase ketuntasan pada siklus I sebesar 79%; (3) persentase ketuntasan siklus II sebesar 88%.

Kata Kunci : Metode Diskusi, Prestasi Belajar dan Keaktifan siswa Belajar IPS.

PENDAHULUAN

Sesuai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tujuan pelajaran IPS adalah 1) mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya, 2) memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan ketrampilan dalam kehidupan sosial, 3) memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, 4) memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.

Untuk mencapai tujuan tersebut guru harus mampu bertindak secara profesional meningkatkan proses pembelajarannya, dengan indikator: 1) menguasai materi yang akan dibelajarkan kepada siswa, 2) mampu membelajarkan dengan baik kepada siswa, 3) mampu menilai kinerjanya sendiri. Keberhasilan proses pembelajaran ditunjukkan dengan  dikuasainya materi pembelajaran oleh siswa. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya siswa yang telah memperoleh nilai tuntas. Siswa yang telah menguasai 75% dari materi pembelajaran, dinyatakan telah tuntas dalam pembelajaran tersebut, sehingga pembelajaran dapat dilanjutkan pada urutan materi berikutnya dengan memberikan pengayaan sebelumnya.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan yang terjadi pada pembelajaran IPS khususnya materi makna peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu- Budha dan Islam di Indonesia di kelas V SD Negeri 2 Purwodadi Kecamatan Tambak. Dari nilai KKM yang telah ditentukan yaitu 65, perolehan nilai ketuntasan klasikal masih jauh dari harapan. Hal ini terbukti dari 25 orang siswa, baru 12 orang siswa atau 48 % siswa yang menguasai materi sesuai KKM dan masih ada 13 siswa atau 52 % siswa yang belum tuntas.

Berdasarkaan keadaan tersebut, maka penulis mencoba melakukan upaya perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berjudul ”Penggunaan Metode Diskusi dalam Meningkatkan Hasil Belajar  IPS tentang makna peninggalan- peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu- Budha dan Islam di Indonesia pada Siswa Kelas V SDN 2 Purwodadi”.

Untuk mengetahui tentang penggunaan metode diskusi dalam peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS tentang makna peninggalan-peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu- Budha dan Islam di Indonesia di kelas V SDN 2 Purwodadi Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah penggunaan metode diskusi dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran IPS tentang makna peninggalan-peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu–Budha dan Islam di Indonesia kelas V SD Negeri 2 Purwodadi?
  2. Apakah penggunaan metode diskusi dapat meningkatkan penguasaan siswa dalam pembelajaran IPS tentang makna peninggalan – peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu–Budha dan Islam di Indonesia di kelas V SD Negeri 2 Purwodadi?
  3. Bagaimana tanggapan siswa setelah diberi tindakan penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran IPS?

Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pelajaran IPS kelas V semester 1 terdapat hanya satu Standar Kompetensi yaitu 1 menghargai berbagai bentuk peninggalan dan tokoh sejarah yang berskala nasional pada masa Hindu-Budha dan Islam, keragaman kenampakan alam dan suku bangsa, serta kegiatan ekonomi di Indonesia. Terdapat 5 Kompetensi Dasar. Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini peneliti mengambil Kompetensi Dasar tentang 1.1 Mengenal makna peninggalan-peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu- Budha dan Islam di Indonesia.Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPS tentang makna peninggalan-peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu- Budha dan Islam di Indonesia  bisa tercapai, maka peneliti akan menggunakan metode pembelajaran yang tepat.

Menurut A. Gafur, (2006:9) pengertian sejarah meliputi: (a)  sejarah sebagai peristiwa/kejadian yang bersifat obyektif-faktual, obyektif berarti kejadian apa adanya, faktual berarti kejadian nyata. (b) sejarah sebagai cerita atau kisah, yaitu rekontruksi atau penggambaran sejarah sebagai peristiwa, (3) sejarah kependekan dari ilmu sejarah, yaitu disiplin ilmu yang mempelajari peristiwa/rekontruksi berupa kisah, atau cerita tentang peristiwa itu. Ruang lingkup sejarah meliputi konsep waktu, ruang, dan manusia. Sedangkan menurut Rochiati, 1994 (dalam Ischak, 2004:2.14) menjelaskan bahwa aspek sejarah memiliki cakupan materi dasar waktu dan peristiwa. Pada pembelajaran mulai di SD tingkat paling rendah, disampaikan dengan cara pendekatan keluarga yaitu dari nama-nama anggota keluarga, tanggal lahir setiap anggota keluarga mulai dari ayah, ibu, hingga anggota keluarga yang terkecil. Dengan cara seperti ini anak akan belajar mengenal waktu, masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang.

Metode adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Makin baik metode itu makin efektif pula pencapaian tujuan. Untuk menetapkan lebih dahulu sebuah metode dapat disebut baik, diperlukan patokan yang bersumber dari beberapa faktor, faktor utama yamg menentukan adalah tujuan yang akan di capai. Metode diskusi atau musyawarah adalah suatu metode yang digunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan dengan satu jawaban atau satu cara saja secara bersama-sama. Suryosubroto, 1997 (dalam Trianto 2007: 117) diskusi adalah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa orang yang tergabung dalam satu kelompok, untuk saling bertukar pendapat tentang suatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan mendapatkan jawaban dan kebenaran atas suatu masalah.

Sedangkan menurut Arends, 1997 (dalam Trianto, 2007: 117) dalam pemebalajaran, diskusi mempunyai arti suatu situasi di mana guru dengan siswa atau siswa dengan siswa yang saling bertukar pendapat secara lisan, saling berbagi gagasan dan berpendapat. Pertanyaan yang ditujukkan untuk membangkitkan diskusi berada pada tingkat kognitif lebih tinggi. Arends juga membagi beberapa strategi diskusi yang meliputi:

  1. Berpikir-berpasangan-berbagi

Terdapat tiga tahap dalam teknik ini yaitu, 1) berpikir, guru mengajukan pertanyaan/permasalah dan memberi kesempatan berpikir sebelum siswa menjawab permasalahan yang diajukan, 2) berpasangan, guru meminta siswa berpasangan untuk menjawab permasalahan, 3) berbagi, guru meminta siswa secara berpasangan menyampaikan jawaban permasalahan pada yang lain.

  1. Kelompok aktif

Dalam kelompok aktif, guru meminta siswa membentuk kelompok-kelompok yang terdiri atas 3-6 siswa untuk mendiskusikan tentang ide siswa pada meteri pembelajaran.

  1. Bola pantai

Guru membekali bola kepada salah seorang siswa untuk memulai diskusi dengan pengetian bahwa, hanya siswa yang memegang bola yang boleh berbicara. Siswa lain mengangkat tangan agar mendapat bola jika ingin mendapat giliran berbicara.

Mempertimbangkan hal tersebut di atas, disusun hipotesis tindakan sebagai berikut:

  1. Penggunaan metode diskusi dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran IPS tentang makna peninggalan- peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu- Budha dan Islam di Indonesia pada siswa kelas V SD Negeri 2 Purwodadi.
  2. Penggunaan metode diskusi dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS tentang makna peninggalan- peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu- Budha dan Islam di Indonesia pada siswa kelas V SD Negeri 2 Purwodadi.
  3. Tanggapan siswa setelah diberi tindakan menggunakan metode diskusi positif.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun 2015/2016. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Purwodadi Unit Pendidikan Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri 2 Purwodadi Unit Pendidikan Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas, pada tahun pelajaran 2015/ 2016. dengan jumlah siswa 25 siswa yang terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan.

 Selaku kolaborator adalah Sugeng Suwarto SPd SD guru kelas IV SD Negeri 2 Purwodadi. Teknik pengumpulan data tindakan diskusi (variabel X) adalah teknik pengamatan, sehingga alat yang digunakan adalah lembar penilaian kegiatan siswa pada setiap kelompok belajar. Teknik pengumpulan data prestasi belajar makna peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu- Budha dan Islam di Indonesia (variabel Y) adalah teknik tes, sedangkan alat yang digunakan adalah soal tes tertulis. Indikator adalah penanda yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan berhasil tidaknya penelitian yang dilakukan. Dalam penelitian ini, indikator yang digunakan yaitu :

  1. Pembelajaran menggunakan diskusi yang dilakukan guru minimal mendapat kategori baik dengan skor 18 atau 51%.
  2. Nilai prestasi belajar makna peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia siswa kelas V SD Negeri 2 Purwodadi meningkat, rata-rata minimal 65 (KKM).
  3. Rata-rata tanggapan positif siswa setelah diberi tindakan minimal 70%.

Penelitian yang dilaksanakan pada penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara sistematis refleksi terhadap berbagai tindakan dilakukan guru yang sekaligus sebagai peneliti. Perbaikan pembelajaran dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), observasi (observing) dan refleksi (reflecting). Hasil dari refleksi terhadap tindakan yang dilaksanakan akan dijadikan pedoman untuk melakukan revisi rencana perbaikan selanjutnya jika tindakan yang dilakukan belum berhasil memecahkan masalah (IGAK Wardhani, 2007:2.4).

Prestasi siswa sebelum perbaikan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tentang makna peninggalan sejarah yang berskala Nasional dari asa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia kelas V SD Negeri 2 Purwodadi tergolong rendah. Pada ulangan yang diadakan diperoleh nilai sebagai berikut : pada studi awal, dari 25 siswa yang terdiri dari 15 laki-laki dan 10 perempuan, nilai rata-rata  dengan nilai tertinggi 80, dan nilai terendah 20 Ada 3 anak yang nilainya 20, hanya ada 8 anak yang tuntas atau 32%. Peneliti menilai pembelajaran menggunakan model diskusi pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tentang Makna Peninggalan Sejarah yang Berskala Nasional dari Masa Hindu- Budha dan Islam di Indonesia kelas V SD Negeri 2 Purwodadi belum pernah dilakukan sebelumnya. Model pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa. Setelah kolaborator mengevaluasi peneliti dalam pelaksanaan proses pembelajaran, hasil evaluasi diperoleh nilai rata-rata 26 atau 72% atau cukup.

rod

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Tanggapan siswa terhadap kegiatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tentang Makna Peninggalan Sejarah yang Berskala Nasional dari Masa Hindu- Budha dan Islam di Indonesia kelas V SD Negeri 2 Purwodadi sebelum diadakan diskusi hanya 8 siswa yang aktif dari 25 siswa dalam proses pembelajaran.

Deskripsi Siklus I

Penelitian ini dibagi dalam dua pertemuan. Pertemuan I pada hari Jumat, 11 September 2015 dilanjutkan pertemuan II pada hari Jumat 18 September 2015. Peneliti menjelaskan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran dan mempersiapkan siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Peneliti membagi siswa menjadi 5 kelompok dari 25 siswa, tiap kelompok terdiri dari 5 siswa. Kemudian peneliti mengatur tempat duduk siswa dengan posisi berhadapan. Lalu menyiapkan lembar observasi yang akan digunakan kolaborator untuk mengobservasi kegiatan penelitian. Selama proses pembelajaran, disiapkan juga lembar kerja siswa (LKS) dan lembar evaluasi. Lembar evaluasi digunakan untuk mengetahui tingkat penguasaan materi siswa. Pada tahap evaluasi, data pemahaman konsep dan hasil belajar IPS menghasilkan nilai 69,2.

Data hasil pengamatan pada proses tindakan dengan Model Pembelajaran Diskusi, Peneliti bekerja sama dengan kolaborator untuk mengamati tindakan peneliti dalam proses pembelajaran. Hasil pengamatan yang didokumentasikan dalam lembar pengamatan menunjukkan skor yang dicapai oleh peneliti 28 atau 77,7%. Hasil tersebut termasuk ke dalam kategori amat baik.

Data Tanggapan Siswa dalam proses belajar mengajar menggunakan metode diskusi siswa memberi tanggapan lebih senang karena pembelajaran tersebut tidak membosankan, aktif, dan tidak tegang. Ada 19 anak atau 76% yang memberi tanggapan positif. Keaktifan bekerjasama dalam kegiatan kelompok siswa naik 11 (44% ). Pada siklus pertama perbaikan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  tentang  makna peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu- Budha dan Islam di Indonesia di Kelas V SD Negeri 2 Purwodadi belum mencapai kriteria keberhasilan yang ditentukan, karena dari hasil belajar yang diperoleh, nilai ketuntasan rata-rata kelas baru 57,2.

Berdasarkan hasil diskusi balikan dengan kolaborator tentang faktor penyebab tidak tercapainya pembelajaran yang maksimal adalah : Hasil perbaikan pembelajaran pada siklus I belum optimal, namun sedikit ada perubahan yang lebih baik. Hanya kerjasama  siswa jauh lebih meningkat 44 % jika dibandingkan pada studi awal.

Deskripsi Siklus II

Pelaksanaan siklus II terbagi ke dalam pertemuan I hari Jumat, 25September 2015 dan pertemuan II hari Jumat, 2 Oktober 2015. Penelitian ini dibagi dalam dua pertemuan. Pertemuan I pada hari Jumat, 25 September 2015 dilanjutkan pertemuan II pada hari Jumat 2 oktober 2015. Peneliti menjelaskan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran dan mempersiapkan siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.

  rodi

Gambar 1 Diskusi Siwa

rodiy

Gambar 2 Salah Satu Siswa Melaporkan Hasil Diskusi

Pada tahap evaluasi data Pemahaman Konsep dan Hasil Belajar IPS berupa nilai tes formatif siswa pada siklus I nilai rata-rata kelas 69,2%, setelah diadakan perbaikan siklus II nilai rata-rata kelas naik menjadi 75,2%. Siswa yang tuntas pada siklus I baru 19 siswa dari 25 siswa (76%) dan pada siklus II meningkat menjadi 22 siswa dari 25 siswa (88 %). Sedangkan data Hasil Pengamatan Pada Proses Tindakan dengan Model Pembelajaran Diskusi hasil pengamatan yang didokumentasikan dalam lembar pengamatan menunjukkan skor yang dicapai oleh peneliti 31 atau 86%. Hasil tersebut termasuk ke dalama kategori amat baik. Data Tanggapan Siswa untuk tahap pengamatan pada siklus II ini, dilakukan bersama dengan teman sejawat merekam kerjasama siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung, data yang diperoleh pada tahap observasi kali ini siswa yang aktif bekerjasama dalam kegiatan kelompok sebanyak  22 siswa atau 88 %.

Dari studi awal ke siklus I, keaktifan bekerja sama dalam kegiatan kelompok siswa naik 11  siswa, dan dari siklus I ke siklus II naik 3 siswa maka dapat dilihat keaktifan siswa dalam kegiatan diskusi kelompok sekarang 22 siswa dari jumlah keseluruhan 25 siswa.

Tabel 1

Perbandingan Data Awal, Data Siklus I dan Data Siklus II

No. Variabel Pra Siklus Siklus I Siklus II
1.  X (Metode Pembelajaran) 72 % 75% 86%
2. Y1 (Prestasi Siswa) 57,2 69,2 75,2
3. Y2 (Tanggapan Siswa) 32 % 76  % 88%

Dari hasil refleksi tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa tindakan perbaikan yang dilakukam telah berhasil. Meski masih ada hal-hal yang harus diperbaiki. Berarti upaya perbaikan pembelajatran berakhir disiklus II. Beberapa kendala selama proses pembelajaran berlangsung yaitu :

  1. Ketika mendiskusikan pembelajaran terlihat kondusif hanya dibarisan belakang ada 2 siswa yang masih terlihat main-main sendiri ada 1 siswa yang terlihat tidak semangat.
  2. Ketika pembagian kelompok diskusi berlangsung keadaan mulai terkendali.
  3. Ketika dibagikan lembar kerja kepada masing-masing kelompok sudah tidak ada siswa yang berebut lembar soal.
  4. Dalam kerja kelompok siswa mengerjakan dengan antusias dan ada beberapa anak yang tidak aktif dalam kegiatan mereka hanya diam saja.
  5. Setelah selesai mengerjakan lembar kerja diskusi perwakilan kelompok maju tapi masih ada kelompok yang malu untuk maju dan guru harus membujuknya untuk maju.

Berdasarkan data yang terkumpul dan data hasil diskusi peneliti menelaah dan menyimpulkan bahwa pelaksanaan tindakan siklus II sudah meningkat,hal ini terlihat dari jumlah siswa 25, yang tuntas belajar sebanyak 22 siswa atau rata-rata ketuntasan 88 % dan kerjasama siswa dalam kegiatan diskusi kelompok meningkat menjadi 22 siswa ( 88 % ).

Hasil Belajar Siswa

Tingkat pemahaman siswa terhadap pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Makna peninggalan- peninggalan sejarah skala nasional pada masa hindu, budha dan islam berdasarkan analisis data diatas dapat dinyatakan bahwa dengan penggunaan metode  diskusi kelompok menunjukkan kenaikan angka pemahaman dan ketuntasan belajar yang sangat signifikan seperti terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2

Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Siswa

 

Tahap

Hasil Belajar Siswa
Nilai rata-rata Kelas Tuntas Persentase Belum Tuntas Persentase
Pra Siklus

Siklus I

Siklus II

57,2

69,2

75,2

8

19

22

32

76

88

17

6

3

68

24

12

Pada siklus I, angka ketuntasan siswa naik 44% (bertambah 11 siswa dari sebelum pra siklus). Pada siklus II, angka ketuntasan siswa naik 14% (bertambah 3 siswa dari siklus I). Pada siklus I, nilai rata-rata kelas mengalami kenaikan sebesar 44% dari pra siklus. Pada siklus II, nilai rata-rata kelas mengalami kenaikan sebesar 12% dari siklus I.

Tabel 3

Rekapitulasi Tanggapan Siswa

No Pembelajaran Jumlah Siswa yang Memberikan Tanggapan Positif Persentase
1 Pra Siklus 8 32
2 Siklus I 19 76
3 Siklus  II 22 88

PEMBAHASAN

Pada pra siklus siswa yang tuntas belajar ada 8 dari 25 siswa (32 %) dengan rata-rata nilai 57,2. Sedangkan siswa yang belum tuntas sebanyak 17 siswa dari 25 siswa (68%). Setelah di laksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus pertama, yaitu dengan menerapkan metode  diskusi kelompok, ternyata hasil pembelajaran sudah menunjukan peningkatan. Hal ini dibuktikan siswa yang tuntas belajar adalah 19 siswa dari 25 siswa (76%), dengan rata-rata nilai 69,2. Sedangkan tingkat kreativitasbelajar siswa pada siklus 1 baru mencapai 19 siswa dari 25 siswa (76%). Masih ada 6 siswa yang belum tuntas belajar (24%), hal ini terjadi karena siswa belum memahami konsep tentang makna peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia  dengan benar.

Orientasi pelaksanaan perbaikan pada siklus II untuk menanggulangi siswa yang lamban berfikir,maka anak diminta untuk mengerjakan lembar latihan soal secara individual. Hal ini dilakukan agar setiap siswa dapat memahami makna peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia yang benar. Pada siklus kedua pembelajaran tampak lebih menyenangkan dan aktif,ini dapat dilihat dari hasil evaluasi. Pada siklus kedua ada 22 dari 25 siswa yang tuntas belajar atau 88%, dan nilai rata-rata 80. Dari 23 siswa ternyata ada 3 siswa yang belum tuntas belajar, ini dikarenakan daya tangkapnya memang rendah atau faktor intelegensi siswa. Pada siklus II ini kreativitas belajar siswa juga mengalami peningkatan yang sangat drastis dan juga sangat memuaskan, terbukti dengan hasil pengamatan oleh observer bahwa 22 siswa (88%) siswa mengalami peningkatan kreativitas belajar.

Dalam pembelajaran IPS tentang makna peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia  menggunakan metode diskusi menunjukan hasil yang sangat baik. Hasil capaian nilai rata-rata yang telah melampaui KKM dan juga peningkatan kreativitas belajar siswa yang mencapai angka 88%.

PENUTUP

Berdasarkan hasil analisis data pada bab IV dengan mempertimbangkan rumusan masalah dan tujuan penelitian pada bab I dapat dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Penggunaan metode diskusi dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran IPS tentang peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia . Hal ini terbukti adanya peningkatan tanggapan positif siswa terhadap model pembelajaran diskusi yaitu siklus I tingkat tanggapan posistif siswa 76% dan siklus II sebesar 88%.
  2. Penggunaan metode diskusi dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS tentang peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia. Hal ini juga terbukti adanya peningkatan tingkat ketuntasan siswa yaitu pada pra siklus mencapai 32%, siklus I mencapai 76%, siklus II mencapai 88%.
  3. Tanggapan siswa dari data awal hanya 8 siswa atau 32% memberi tanggapan positif, pada siklus II menjadi 19 atau 76%, dan pada siklus II menjadi 22 anak atau 88% memberi tanggapan positif.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ischak. 1998. Pendidikan IPS SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Milan, Rianto. 2007. Pengelolaan Kelas Model Pakem. Malang: PPPTK PKn/IPS

Mulyasa, E. 2005. Menjadi Guru Professional Menciptakan Pembelajaran Kreatif

dan Menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif berorientasi Konstruktivisme.Jakarta: Prestasi Pustaka

Wardani, IGAK; Wihardit K; Nasuetion N. 2007. Penelitian Tindakan Kelas.

Jakarta: Universitas Terbuka.

BIODATA PENULIS

Nama                         : Rodiyah, S.PdSD

NIP                             : 19681006 1994032005

Jabatan                      : Guru Kelas

Golongan ruang       : IIIc

Unit Kerja                 : SDN 2 Purwodadi, UPK Tambak, Banyumas

Alamat Unit Kerja   : Jl. Balai Desa Purwodadi, Rt 06/Rw 02, Tambak, Banyumas




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *