Model CIRC Dalam Memahami Isi Teks Bahasa Inggris

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CIRC (COOPERATED INTEGRATED READINGAND COMPOSITION) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR DALAM MEMAHAMI ISI TEKS BAHASA INGGRIS BAGI SISWA KELAS XII IPS 3 SMAN 1 PURWANEGARA SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN 2015 / 2016

Nuryanti

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah menerapkan model  pembelajaran CIRC untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dalam memahami isi teks bahasa Inggris bagi siswa kelas XII IPS 3 SMAN 1 Purwanegara semester gasal tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian dilakukan melalui dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, tes dan dokumentasi. Penerapan model pembelajaran CIRC telah meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa yang ditunjukkan dari hasil analisis data pada pra siklus ada 10 orang (41,6%) siswa dengan tingkat aktivitas kategori tinggi menjadi 14 orang (58,3%) siswa pada siklus I dan menjadi 20 orang (83,3%) pada siklus II. Sedangkan, hasil belajar siswa dari nilai rata-rata 61,9  pada pra siklus menjadi 71,3 pada siklus I dan mencapai nilai rata-rata 82,1 pada siklus II. Prosentase ketuntasan belajar meningkat dari 25% pada pra siklus menjadi 67% disiklus I dan di akhir siklus II meningkat lagi menjadi 88%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dalam memahami isi teks bahasa Inggris bagi siswa kelas XII IPS 3 SMAN 1 Purwanegara semester gasal tahun pelajaran 2015/2016.

 

Kata Kunci: Aktivitas Belajar, Hasil Belajar, Model Pembelajaran CIRC

  1. PENDAHULUAN

     Mata pelajaran Bahasa Inggris selalu dianggap sulit oleh siswa, sehingga aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ini banyak yang rendah.  Hal ini disebabkan karena bahasa Inggris merupakan bahasa asing yang sangat jarang sekali mereka dengar dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, bahasa Inggris menggunakan ketrampilan yang berbeda-beda dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah, antara lain membaca (Reading), menulis (Writing), mendengarkan (Listening), berbicara (Speaking).

Pada kompetensi dasar membaca ( Reading) di Kelas XII semester gasal  materinya berisi tentang teks bahasa Inggris yang membutuhkan banyak pemahaman karena kosakatanya semakin kompleks sehingga siswa banyak yang kurang berminat terhadap materi ini, sehingga siswa banyak yang tidak aktif. Selain itu, kondisi siswa kelas XII IPS 3 SMAN 1 Purwanegara yang berjumlah 24 siswa, terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan relatif  heterogen, baik dari segi ekonomi, kemampuan akademik, kreativitas maupun sarana yang dimilikinya juga mempengaruhi keaktifan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran. Begitu pula dengan cara penyampaian guru yang cenderung monoton, banyak ceramah dan konvensional membuat banyak siswa yang bercerita sendiri saat pembelajaran berlangsung. Kurangnya aktivitas siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris berakibat pada hasil belajar siswa yang tidak memuaskan.

Di kelas XII IPS 3 SMAN 1 Purwanegara semester gasal tahun pelajaran 2015/2016 data pra siklus dengan materi Narrative Text belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Dari 24 siswa dengan metode ceramah hanya 10 siswa atau 41,6% yang aktif dan 6  siswa yang mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Selebihnya 14 siswa atau 58,3% kurang aktif dan 18 siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM. Sedangkan KKM  untuk mata pelajaran Bahasa Inggris kelas XII IPS 3 SMAN 1 Purwanegara semester gasal tahun pelajaran 2015/2016 yaitu 75.

Menyadari kenyataan  bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa tidak sesuai dengan harapan, guru merefleksi diri dan terdorong untuk melakukan perbaikan pembelajaran, kemudian mencari alternatif pemecahan masalah yang dihadapi dengan melakukan penelitian tindakan kelas (PTK). Tindakan yang dilakukan  untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan menggunakan metode kooperatif model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) khususnya dalam mengajarkan bagaimana memahami isi teks bahasa Inggris. Harapan peneliti dengan mengubah pola pembelajaran ini dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam memahami isi teks pada mata pelajaran bahasa Inggris.

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan batasan masalah di atas maka dibuatlah rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut: “Apakah melalui model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dalam memahami isi teks bahasa Inggris bagi siswa kelas XII IPS 3 SMAN 1 Purwanegara semester gasal tahun pelajaran 2015/2016?”

  1. KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
  2. Model Pembelajaran CIRC

Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar secara berkelompok dan guru memberikan materi untuk dipahami siswa, kemudian siswa menyusun kembali pemahaman materi yang didiskusikan dengan kelompoknya kemudian dituangkan dalam kalimat sendiri. Hal ini sesuai dengan pendapat Robert E. Slavin (2005 : 203) yang menyatakan bahwa tujuan utama dari CIRC adalah menggunakan tim-tim kooperatif untuk membantu para siswa mempelajari kemampuan memahami bacaan yang dapat diaplikasikan secara luas.

Dalam model pembelajaran CIRC, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 6 siswa. Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa.

Menurut Kadek Lia Wahyuni Parinu, dkk ( 2013 : 2) langkah-langkah model pembelajaran CIRC terdiri dari empat langkah yaitu sebagai berikut: 1) Fase pertama, yaitu orientasi. 2) Fase kedua, yaitu organisasi. 3) Fase ketiga, yaitu pengenalan konsep 4) Fase keempat yaitu fase publikasi.

Kekuatan model pembelajaran CIRC yaitu: 1) Siswa dapat memberikan tanggapannya secara bebas. 2) Dominasi guru dalam pembelajaran berkurang 3) Siswa termotivasi pada hasil secara teliti, karena bekerja dalam kelompok 4) Para siswa dapat memahami makna soal dan saling mengecek pekerjaannya 5) Membantu siswa yang lemah 6) Meningkatkan hasil belajar khususnya dalam menyelesaikan soal yang berbentuk pemecahan masalah 7) Dilatih untuk dapat bekerjasama dan menghargai pendapat orang lain. (Suprijono, 2009 : 131).

Adapun kelemahan model pembelajaran CIRC adalah : 1) Pada saat presentasi hanya siswa yang aktif yang tampil. 2) Membutuhkan waktu yang lama ketika diskusi berlangsung. (Suprijono, 2009:132).

  1. Aktivitas Belajar

Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar secara aktif dengan menggunakan otak baik untuk menentukan ide pokok materi pelajaran, memecahkan masalah/persoalan atau mengaplikasikan apa yang baru saja mereka pelajari kedalam satu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Dengan belajar aktif siswa diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran. Dengan cara ini biasanya siswa akan merasakan suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan sehingga prestasi belajar dapat dimaksimalkan (Slameto, 2008 : 68).

Menurut Moedjiono (1995 : 76) agar aktif belajar maka diperlukan secara terpadu, berkesinambungan dari berbagai hal,antara lain: a) Mengarah pada jenis interaksi yang optimal dalam arti menggunakan komunikasi interaksi optimal bukan hanya satu arah, b) Menurut berbagai jenis aktivitas peserta didik, misalnya keberanian memberikan urun pendapat, mencari alat dan sumber dan sebagainya, c) Strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan yang hendak di capai, d) Menggunakan berbagai metode dan teknik, e) Menggunakan berbagai macam atau variasi media, alat peraga atau alat bantu, f) Mengarah ke berbagai sumber belajar, g) Menuntut perubahan guru dalam cara pembelajaran.

Aktivitas belajar ada bermacam-macam, menurut Paul D. Dierich (dalam Hamalik 2003 ;172) membagi kegiatan belajar dalam 6 kelompok, ialah : a) Kegiatan visual, misalnya membaca, b) Kegiatan lisan, mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, mengemukakan pendapat, dan interupsi. c) Kegiatan mendengar : mendengarkan penyajian bahan , d) Kegiatan menulis : membuat rangkuman, dan mengerjakan tes, e) Kegiatan mental : merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, dan menganalisis, f) Kegiatan emosional : minat, berani, dan tenang.

  1. Hasil Belajar Bahasa Inggris

            Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Nana Sudjana (2009: 3) mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dimyati dan Mudjiono (2006: 3-4) juga menyebutkan hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.

Hasil belajar yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar kognitif dan instrumen yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa pada aspek kognitif adalah tes tertulis.

Secara sederhana bahasa Inggris dapat didefinisikan sebagai suatu bahasa. Ketika berbicara tentang bahasa Inggris, maka gambaran orang merujuk pada empat skill; listening (mendengar), speaking (berbicara), reading (membaca), dan writing (menulis). Di samping itu, dari keempat skill tersebut sangat dipengaruhi oleh keterampilan lain seperti pronunciation (pengucapan), grammar (tata bahasa), vocabulary (kosakata), dan spelling (ejaan).

            Dengan demikian, yang dimaksud dengan hasil belajar bahasa Inggris adalah kemampuan memperoleh, memproses, dan memahami bahasa Inggris sebagai hasil dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. Kemampuan ini mencakup kompetensi mendengar, berbicara, membaca, dan menulis dan unjuk kerja (performa) yang melibatkan aspek-aspek sosial kebahasaan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan memperoleh bahasa merujuk pada kawasan kognisi, memproses informasi yang diperoleh sebagai kawasan afektif, dan memproduksi bahasa Inggris sebagai kawasan psikomotorik.

Dalam penelitian tindakan kelas ini, hasil belajar bahasa Inggris yang dimaksud adalah nilai siswa dalam memahami isi teks bahasa Inggris yang diperoleh siswa kelas XII IPS 3 SMAN 1 Purwanegara pada semester I tahun pelajaran 2015/2016 setelah melalui tes sikus I dan tes siklus II.

III. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMAN 1 Purwanegara dengan subyek penelitian siswa kelas XII IPS 3 semester gasal tahun ajaran 2015/2016 yang berjumlah 24 siswa, terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan.

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a) Sumber data siswa: data tentang aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung, data tentang hasil belajar siswa dalam memahami isi teks bahasa Inggris, b) Sumber data guru: data ketrampilan guru merencanakan perbaikan pembelajaran, data ketrampilan guru selama proses pembelajaran berlangsung dan implementasi penerapan model pembelajaran CIRC, c) Sumber data kolaboratif: hasil observasi terhadap aktivitas belajar siswa dalam memahami isi teks bahasa Inggris yang dilakukan oleh teman sejawat/pengamat dengan menggunakan lembar pengamatan dan hasil refleksi bersama antara peneliti dan kolaborator.

Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini meliputi: 1) Teknik tes; berupa tes hasil belajar yang terdiri dari: 20 soal pilihan ganda, 10 soal isian singkat dan 5 soal uraian, 2) Teknik observasi; yang dilakukan meliputi pengamatan tentang aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran dan pengamatan tentang penerapan model pembelajaran CIRC oleh guru selama proses belajar mengajar berlangsung didalam kelas, 3) Teknik dokumentasi; yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumen pra siklus, siklus I dan siklus II tentang aktivitas dan hasil belajar siswa serta dokumen perangkat pembelajaran, serta foto selama pelaksanaan penelitian ini berlangsung.

Pada penelitian ini teknik dan alat pengumpulan data menggunakan : 1) Teknik tes yang digunakan adalah tes hasil belajar dalam memahami isi teks bahasa Inggris. Langkah yang dilakukan dalam menyusun tes hasil belajar ini meliputi : a) menyusun kisi kisi b). membuat butir soal c). menentukan kunci jawaban d).  menentukan kriteria/ pedoman penskoran dan membuat tabel penialaian 2). Teknik pengamatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pengamatan tentang aktivitas siswa dalam proses pembelajaran serta pengamatan tentang penerapan model pembelajaran CIRC dalam proses pembelajaran. Langkah yang dilakukan dalam menyusun instrument aktivitas siswa meliputi : a) kisi-kisi aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar b). indikator aktivitas siswa c). butir pernyataan aktivitas siswa d). lembar pengamatan aktivitas siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengamati aktifitas menggunakan lembar pengamatan kemampuan aktivitas  terdiri dari sepuluh aspek/indikator, yaitu a) Mempunyai antusias dalam bertanya, b) Konsentrasi mendengarkan penjelasan guru, c) Membaca teks dengan aktif (memberi tanda tertentu pada teks), d) Mencatat materi pelajaran, e) Menulis catatan kecil dalam teks, f) Mampu menyampaikan pendapat dengan baik didalam kelas, g) Aktif mengemukakan pendapat dalam berdiskusi kelompok, h) Aktif dalam memperbaiki kesalahan atau kekurangan dalam diskusi kelompok, i) Antusias dalam menanggapi laporan hasil diskusi kelompok lain, j) Mampu melaporkan hasil diskusi kelompok di depan kelas. 3) Teknik Dokumentasi : Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumen tiap  siklus tentang aktifitas  dan hasil belajar serta dokumen perangkat pembelajaran. Selain hal tersebut digunakan dokumentasi foto kegiatan pembelajaran. Dokumentasi diambil pada saat pembelajaran berlangsung sebagai bukti fisik kegiatan pembelajaran.

            Pada penelitian ini validasi tes hasil belajar menggunakan validasi empirik dan validasi teorik yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif sedang data pengamatan menggunakan triangulasi sumber, triangulasi metode dan triangulasi peneliti.

Penelitian dilaksanakan dengan dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Tiap siklus melalui tahapan sebagai berikut : perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi dengan menggunakan model pembelajaran CIRC.

Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti menggunakan analisis deskriptif komparatif yaitu dengan membandingkan secara tertulis nilai-nilai yang ada. Analisa data dilakukan sejak awal sampai akhir yang merupakan kesatuan yang tak terpisahkan antara tahap pengumpulan dan analisa data. Analisis data juga dilakukan dengan model prosentase. Data hasil observasi dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif berdasarkan hasil pengamatan dan refleksi.

Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah peningkatan aktivitas dan hasil belajar dalam memahami isi teks bahasa Inggris bagi siswa kelas XII IPS 3 SMAN 1 Purwanegara semester gasal tahun pelajaran 2015/2016. Kriteria yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :

  1. Aktivitas belajar siswa terhadap penerapan model pembelajaran CIRC dinyatakan berhasil jika 80% atau 19 siswa dari 24 siswa mencapai kriteria yang tinggi.
  2. Hasil belajar siswa terhadap penerapan model pembelajaran CIRC dinyatakan berhasil jika 85 % atau 20 siswa dari 24 siswa tuntas dalam belajar.

  1. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  2. Deskripsi Kondisi Awal

Sebagaimana telah diuraikan pada latar belakang bahwa kondisi awal atau pra siklus penelitian tindakan kelas ini, siswa kelas XII IPS 3 SMAN 1 Purwanegara semester gasal tahun pelajaran 2015/2016 untuk mata pelajaran bahasa Inggris khususnya dalam memahami isi teks bahasa Inggris yang aktivitas belajar dan rata-rata hasil belajarnya masih rendah.

Dari hasil observasi yang dilakukan terhadap proses pembelajaran mata pelajaran bahasa Inggris diperoleh data sebagai berikut: dari jumlah siswa sebanyak 24 orang hanya 10 siswa yang menunjukkan aktivitas belajar tinggi, 5 siswa menunjukkan aktivitas belajar sedang , dan 9 siswa menunjukkan aktivitas belajar rendah. Pemahaman isi teks bahasa Inggris juga masih rendah seperti terlihat pada hasil belajar yang diperoleh dari 24 siswa hanya ada 6 siswa atau 25 % yang mencapai tuntas belajar dan 18 siswa atau 75 % belum tuntas belajar. Rata-rata hasil ulangan belum sesuai harapan yaitu hanya memperoleh nilai rata-rata 61,9.

Hal ini disebabkan karena pembelajaran masih bersifat guru sentris dan monoton karena menggunakan metode ceramah tunggal. Dalam diri siswa belum muncul sikap kompetitif karena tidak ada pemecahan masalah dalam kelompok. Hasil analisis data siklus I dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 4.1

Data Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Pra Siklus

No Kriteria Jumlah Siswa Prosentase Nilai

Rata-Rata

1. Aktivitas Siswa Tinggi 10 41,6% 61,9
2. Aktivitas Siswa Sedang 5 20,9%
3. Aktivitas Siswa Rendah 9 37,5%
5. Siswa Tuntas Belajar 6 25%
6. Siswa Tidak Tuntas Belajar 18 75%

 

  1. Deskripsi Siklus I

Pembelajaran pada siklus I secara umum berlangsung cukup baik dalam arti semua fase-fase sudah berjalan runtut. Meskipun demikian, masih ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Salah satu hal yang perlu diadakan perbaikan adalah pengorganisasian kelompok belajar didalam kelas. Didalam kelompok masih terlihat beberapa siswa yang bersikap pasif atau tidak terlibat aktif dalam diskusi kelompok. Peran siswa yang mempunyai daya serap rendah dan siswa dengan daya serap tinggi belum mampu menuntaskan permasalahan didalam kerja kelompok, baik dalam berpendapat maupun memecahkan masalah. Namun dari beberapa kekurangan yang ada pada pembelajaran dengan model konvensional di pra siklus dapat diatasi pada siklus I yang telah menerapkan model pembelajaran CIRC dengan membentuk kelompok besar yang terdiri dari 6 siswa disetiap kelompok.

Agar lebih jelas, hasil analisis perbandingan aktivitas belajar siswa dari pra siklus dan siklus I disajikan dalam bentuk grafik diagram batang sebagai berikut:

Grafik 4.1

Perbandingan Aktivitas Belajar Siswa Pra Siklus dan Siklus I

       

Dari grafik diatas kita tahu bahwa siswa yang aktif dengan kategori tinggi didalam kelas ketika pra siklus sejumlah 10 siswa naik menjadi 14 siswa di siklus I. Sedangkan siswa yang aktif dengan kategori sedang dari para siklus dan siklus I tetap sama yaitu 5 siswa. Akan tetapi siswa dengan kategori rendah atau tidak aktif didalam kelas berkurang dari pra siklus 9 siswa menjadi 7 siswa disiklus I. Prosentase keaktifan juga menunjukkan kenaikan dari 41,6% di pra siklus meningkat menjadi 58,3% di siklus I.

Selain mengenai aktivitas belajar, didalam siklus I ini juga membahas tentang hasil belajar siswa dalam memahami isi teks bahasa Inggris. Sebelum menggunakan model pembelajaran CIRC dan masih menggunakan metode ceramah, kemampuan siswa dalam memahami isi teks bahasa Inggris sangat rendah. Tetapi setelah peneliti memperbaiki pembelajaran dengan melakukan penelitian tindakan kelas di siklus I dengan model pembelajaran CIRC menggunakan kelompok besar dapat meningkatkan hasil belajar dalam memahami isi teks bahasa Inggris. Hal ini berdasarkan hasil data yang tercantum dalam tabel berikut ini:

Tabel 4.2

Perbandingan Hasil Belajar Siswa Pra Siklus dan Siklus I

No Hasil Belajar Tuntas Prosentase

Ketuntasan

Nilai Tertinggi Nilai Terendah Rata-Rata
1 Pra Siklus 6 25% 80 40 61,9
2 Siklus I 16 67% 88 34 71,3

 Dari tabel di atas sangat terlihat kalau prosentase ketuntasan di pra siklus yang semula hanya 25% naik menjadi 67%, siswa yang tuntas di pra siklus dari 6 siswa naik menjadi 16 siswa. Nilai yang didapat siswapun juga sangat kompetitif. Nilai tertinggi pra siklus 80 sedangkan di siklus I adalah 88. Untuk nilai terendah pra siklus 40 sedangkan di siklus I yaitu 34. Rata-rata dari pra siklus 61,9 juga naik menjadi 71,3.

Akan tetapi karena belum memenuhi target dari indikator keberhasilan yaitu 80% ketercapaian untuk aktivitas belajar siswa dan 85% ketercapaian untuk hasil belajar siswa, maka peneliti dibantu kolaborator melakukan perbaikan dalam proses pembelajaran. Peneliti masih tetap menggunakan model pembelajaran CIRC, akan tetapi diubah dalam pengorganisasian kelompok. Dalam siklus I menggunakan kelompok besar yang terdiri dari 6 siswa disetiap kelompok, di siklus II menjadi kelompok kecil yang beranggotakan 4 siswa disetiap kelompok agar aktivitas dan hasil belajar siswa menunjukkan hasil yang sangat signifikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Dimyati (2001:46) yang menyatakan bahwa pembelajaran menjadi efektif jika dilakukan secara kelompok kecil. Selain itu kelebihan menggunakan kelompok kecil adalah dapat menciptakan situasi belajar mengajar yang menyenangkan, siswa dapat berlatih kerjasama dengan teman didalam satu kelompok untuk menuangkan ide atau gagasan.

III. Deskripsi Siklus II

Dengan merujuk pada refleksi pembelajaran siklus I, proses pembelajaran pada siklus II masih menggunakan model pembelajaran yang sama, hal ini juga karena siswa telah memiliki modal dasar pemahaman isi teks bahasa Inggris dengan model pembelajaran CIRC pada siklus I. Peneliti hanya merubah pengorganisasian siswa yang semula menggunakan kelompok besar menjadi kelompok yang lebih kecil agar pembelajaran berjalan lebih dinamis.

Ditinjau dari aktivitas belajar siswa dari pra siklus, siklus I dan siklus II, ternyata hasilnya mengalami kenaikkan yang signifikan. Hasil analisis perbandingan aktivitas siswa ditiap siklus dalam memahami isi teks bahasa Inggris dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel 4.3

Rekapitulasi Hasil Pengamatan Aktivitas Belajar Siswa

Pra Siklus, Siklus I, Dan Siklus II

No Pembelajaran Aktivitas Belajar
Tinggi Sedang Rendah Prosentase Ketercapaian
1 PRA SIKLUS 10 5 9 41,6%
2 SIKLUS I 14 5 5 58,3%
3 SIKLUS II 20 4 83,3%

Data dari tabel diatas menyatakan bahwa aktivitas belajar siswa dengan kategori tinggi di pra siklus ada 10 siswa atau 41,6%, disiklus I meningkat menjadi 14 siswa atau 58,3%, kemudian disiklus II naik lagi menjadi 20 siswa atau 83,3%. Sedangkan aktivitas belajar dengan kategori sedang dari pra siklus dan siklus I yang sama jumlahnya yaitu 5 siswa atau 20,8% berkurang menjadi 4 siswa atau 16,6% di siklus II. Adapun untuk kategori rendah yang semula 9 siswa atau 37,5% di pra siklus menjadi 5 siswa atau 20,8% disiklus I dan  menjadi kosong atau tidak ada siswa dengan kategori aktivitas rendah di siklus II.

Keberhasilan ini bukan hanya pada peningkatan aktivitas belajar siswa semata tetapi juga peningkatan pada nilai hasil belajar siswa dalam memahami isi teks bahasa Inggris. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan rata-rata kelas yaitu dari rata-rata 71,3 disiklus I menjadi 82,1 di siklus II. Walau demikian masih ada tiga siswa yang belum mencapai batas ketuntasan minimal. Secara klasikal pembelajaran pada siklus II dengan model pembelajaran CIRC telah berhasil. Analisis perbandingan hasil belajar siswa tiap siklus dapat dilihat pada grafik berikut ini:

Grafik 4.2

Perbandingan Hasil Belajar Siswa Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

Dari grafik di atas kita dapat membandingkan prosentase ketuntasan hasil belajar dari pra siklus yang semula hanya 25% atau 6 siswa yang tuntas belajar, disiklus I 67% naik menjadi 67% atau 14 siswa tuntas belajar, sedangkan di siklus II meningkat secara signifikan menjadi 88% atau 21 siswa yang tuntas belajar. Nilai yang didapat siswapun juga sangat kompetitif. Nilai tertinggi di pra siklus hanya 80 ketika disiklus I menjadi 88 sedangkan di siklus II naik menjadi 94. Peningkatan yang nyata juga ditunjukkan pada nilai rata-rata hasil belajar siswa yaitu 61,9 di pra siklus naik menjadi 71,3 di siklus I dan meningkat lagi di siklus II menjadi 82,1.

Secara klasikal pembelajaran pada siklus II menggunakan model pembelajaran CIRC dengan kelompok kecil telah terbukti berhasil dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam memahami isi teks bahasa Inggris. Hal ini berdasarkan data yang didapat dari analisis aktivitas belajar siswa siklus II yang telah mencapai 83,3% atau 20 siswa aktif didalam kelas. Ini artinya indikator keberhasilan aktivitas belajar sebesar 80% telah tercapai. Sedangkan hasil belajar siswa dengan prosentase ketuntasan telah mencapai 88% atau 21 siswa telah  memenuhi kriteria ketuntasan belajar (KKM), menunjukkan jika indikator keberhasilan hasil belajar siswa 85% juga telah tercapai dan disepakati oleh peneliti dan kolaborator bahwa penelitian diakhiri di siklus II.

  1. KESIMPULAN DAN SARAN
  2. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1) Penerapan model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan aktivitas belajar dalam memahami isi teks bahasa Inggris bagi siswa kelas XII IPS 3 SMAN 1 Purwanegara semester gasal tahun pelajaran 2015/2016 dari hasil pengamatan siklus II menunjukkan aktivitas belajar siswa dengan kategori tinggi mencapai 83,3%, ini berarti indikator keberhasilan 80% siswa aktif telah tercapai.

2) Penerapan model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan hasil belajar dalam memahami isi teks bahasa Inggris bagi siswa kelas XII IPS 3 SMAN 1 Purwanegara semester gasal tahun pelajaran 2015/2016 yang ditunjukkan dari tes hasil belajar siklus II diperoleh data prosentase ketuntasan  21 siswa atau 88%, ini berarti telah mencapai indikator keberhasilan sebesar 85% siswa tuntas belajar.

  1. Saran

Semua siswa hendaknya lebih bersemangat belajar dengan  diterapkannya model pembelajaran CIRC oleh guru dalam pelaksanaan pembelajaran baik untuk mata pelajaran bahasa Inggris maupun mata pelajaran yang lainnya.

Guru diharapkan mampu melakukan inovasi pembelajaran melalui berbagai model pembelajaran kooperatif antara lain model pembelajaran CIRC agar menciptakan suasana yang menarik dan menyenangkan bagi siswa agar siswa aktif dan terlibat dalam pembelajaran, nyaman, serta tidak merasa bosan.

  1. DAFTAR PUSTAKA

Darsono. 2000. Efektifitas Belajar di Sekolah. Jakarta. Depdikbud.

Hamalik. 2003. Aktivitas-aktivitas Dalam Pembelajaran. Bandung. Rosdakarya

Slavin, R.E. 2008. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung. Nusa Media

Saptono. 2003. Macam-macam Model Pembelajaran. Semarang. Aneka Ilmu

Solihin dan Raharjo. 2007. Cooperative Learning. Jakarta. Bumi Aksara

https://izzaaljannah55.wordpress.com/2013/05/19/model-pembelajaran-cooperative-integrated-reading-and-composition/ diakses pada 21 Agustus 2015

http://modelpembelajaranmukhlis.blogspot.co.id/2015/09/pengertian-langkah-langkah-kelebihan_2.html diakses pada 21 Agustus 2015

Bidodata Peneliti:

NAMA                                                : NURYANTI, S.Pd

NIP                                                     : 19790613 201001 2 012

TEMPAT/ TANGGAL LAHIR         : SRAGEN / 13 JUNI 1979

ALAMAT RUMAH                           : KELURAHAN REJASA RT 03/04, KEC. MADUKARA, KAB. BANJARNEGARA

NOMOR HP                                       : 085227710763

GURU MAPEL                                  : BAHASA INGGRIS

SEKOLAH                                         : SMAN 1 PURWANEGARA

ALAMAT SEKOLAH                        : JL RAYA PURWANEGARA, KEC. PURWANEGARA, KAB. BANJARNEGARA 53472




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *