Penelitian Tindakan Kelas SMP Mapel Matematika

MODEL PBL BERPENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KERJASAMA DAN LITERASI MATEMATIKA MATERI ARITMETIKA SOSIAL

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perangkat pembelajaran matematika yang valid, praktis, dan efektif. Jenis penelitian ini adalah pengembangan dengan model Borg dan Gall dan disederhanakan menjadi 6 langkah utama yaitu: penelitian dan pengumpulan data, perencanaan, pengembangan format produk awal, uji coba lapangan awal, merevisi hasil uji coba, dan uji pelaksanaan lapangan. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan adalah silabus, RPP, LKS, buku siswa, dan TKLM. Analisis data untuk menilai kevalidan perangkat pembelajaran dilakukan oleh 5 validator menggunakan instrumen lembar validasi. Kepraktisan perangkat dinilai menggunakan lembar pengamatan kemampuan guru mengelola kelas dan lembar angket respon siswa. Keefektifan dinilai berdasarkan hasil uji ketuntasan, uji banding t-test, uji regresi linier, uji gain dan uji peningkatan t-test. Hasil pengembangan perangkat pembelajaran yang dihitung dengan nilai maksimum 5,00 adalah sebagai berikut: 1)Perangkat pembelajaran yang dikembangkan valid yaitu silabus dengan skor rata-rata 4,18 (baik), RPP dengan skor 4,03 (baik), buku siswa dengan skor 4,04 (baik), LKS dengan skor 3,96 (baik), instrumen pengamatan kerjasama dengan skor 4,14 (sangat baik), instrumen pengamatan keterampilan literasi matematika dengan skor 4,06 (sangat baik), instrumen pengamatan kemampuan guru mengelola kelas dengan skor 4,16 (sangat baik), instrumen angket respon siswa terhadap pembelajaran dengan skor 4,06 (sangat baik) dan tes TKLM dengan skor  3,9 (baik). 2) Perangkat pembelajaran dinyatakan praktis, yaitu: a) hasil pengamatan kemampuan guru mengelola kelas mempunyai rata-rata 4,43 dengan kriteria sangat baik, b) respon siswa baik dengan rata-rata 3,85. 3) Pembelajaran matematika dinyatakan efektif, yaitu: a) KLM mencapai ketuntasan individual, KLM mencapai ketuntasan klasikal dengan ketuntasan mencapai lebih dari 75%; b) Perbedaan nilai rata-rata kelas yang diajar dengan model PBL berpendekatan kontekstual 80,00 lebih baik dari kelas yang diajar dengan model konvensional 64,42; c) adanya pengaruh positif karakter kerjasama dan keterampilan literasi matematika terhadap KLM sebesar 82,1%; dan d) adanya peningkatan kerjasama, keterampilan literasi matematika dan kemampuan literasi matematika di kelas dengan model PBL berependekatan kontekstual.

Kata Kunci: Kerjasama, Literasi matematika, PBL, Pengembangan perangkat pembelajaran, Valid, Praktis, Efektif.

 

Pendahuluan

Kemampuan literasi matematika merupakan kemampuan mendasar yang harus dimiliki siswa dalam belajar matematika, sehingga literasi matematika harus diletakkan sebagai tujuan utama pembelajaran matematika. Kenyataanya aspek pola berpikir matematika, seperti mengatur strategi dan bernalar belum merupakan tujuan utama pembelajaran matematika sekolah saat ini. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan dan kreativitas siswa dalam belajar matematika sehingga belajar menjadi bermakna adalah pendekatan kontekstual. Pembelajaran  kontekstual merupakan  konsep belajar  yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Nurhadi, 2004: 103). Literasi matematika dalam PISA adalah kemampuan siswa dalam menganalisa, memberikan alasan, dan menyampaikan ide secara efektif, merumuskan, memecahkan, dan menginterpretasi masalah-masalah matematika dalam berbagai bentuk dan situasi, OECD (2009a).  Penilaian yang digunakan adalah fokus kepada masalah-masalah dalam kehidupan nyata.

Sikap kerjasama dan keaktifan dalam proses pembelajaran di SMPN 4 Sumbang pun terbilang rendah. Kurangnya kerjasama antar siswa ini tercermin ketika proses diskusi berlangsung  semua anggota belum terlibat secara aktif, siswa hanya mendengarkan informasi yang diberikan oleh guru. Berdasarkan latar belakang tersebut, dirumuskan permasalahan bagaimana pengembangan dan hasil pengembangan perangkat pembelajaran matematika dengan model PBL berpendekatan kontekstual untuk meningkatkan kerjasama dan literasi matematika pada materi aritmetika sosial kelas VII yang valid, apakah perangkat pembelajaran matematika yang dikembangkan dengan model PBL berpendekatan kontekstual untuk meningkatkan kerjasama dan literasi matematika pada materi aritmetika sosial kelas VII praktis, apakah pembelajaran matematika dengan model PBL berpendekatan kontekstual untuk meningkatkan kerjasama dan literasi matematika pada materi aritmetika sosial kelas VII efektif.

Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan perangkat pembelajaran matematika dengan model PBL berpendekatan kontekstual untuk meningkatkan kerjasama dan literasi matematika pada materi aritmetika sosial kelas VII yang valid, menghasilkan perangkat pembelajaran matematika dengan model PBL berpendekatan kontekstual untuk meningkatkan kerjasama dan literasi matematika pada materi aritmetika sosial kelas VII yang praktis, membuktikan efektifitas pembelajaran matematika dengan model PBL berpendekatan kontekstual untuk meningkatkan kerjasama dan literasi matematika pada materi aritmetika sosial kelas VII. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Seseorang akan  ;  belajar dengan mengasosiasikan fenomena baru ke dalam skema yang telah ia punya.

Menurut John Dewey (dalam Mudjiman 2008 :54) proses belajar hanya akan terjadi kalau siswa dihadapkan kepada masalah dari kehidupan nyata untuk dipecahkan. Dalam membahas dan menjawab masalah, siswa harus terlibat dalam kegiatan nyata misalnya mengobservasi, mengumpulkan data dan menganalisisnya bersama kawan-kawan lain dalam kelompok atau di kelasnya.

Menurut Piaget, pengamatan sangat penting dan menjadi dasar dalam menuntun proses berpikir anak, berbeda dengan perbuatan melihat yang hanya melibatkan mata, pengamatan melibatkan seluruh indra, menyimpan kesan lebih lama dan menimbulkan sensasi yang membekas pada siswa. Sedangkan Vygotsky menekankan pada internal interaksi sosial dan melakukan rekonstruksi pengetahuan dari lingkungan sosialnya.

Menurut Nurhadi, dkk (2004:56) pembelajaran berbasis masalah (PBL) adalah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari mata pelajaran. Langkah-langkah pembelajaran atau sintaks model problem based learning menurut Arends (2008), yaitu: (1) siswa diberikan permasalahan; (2) mereka berdiskusi tentang masalah dan bekerja dalam kelompok kecil, mengumpulkan informasi yang digunakan untuk memecahkan masalah yang diberikan; (3) semua siswa secara bersama-sama membandingkan hasil temuan dan berdiskusi untuk menarik kesimpulan; (4) presentasi hasil diskusi; dan (5) refleksi dan evaluasi hasil pembelajaran.

Sardiman (2012:222) menyatakan bahwa pendekatan kontekstual dalam pembelajaran merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru untuk mengaitkan antara materi ajar dengan situasi dunia nyata si siswa, yang dapat mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dipelajari dengan penerapannnya dalam kehidupan para siswa sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Menurut Sardiman (2012) pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh aspek yang perlu mendapatkan perhatian yaitu kontruktivisme (contructivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning cummunity), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), penilaian sebenarnya (authentic assessment).

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yaitu pengembangan perangkat pembelajaran matematika dengan model PBL berpendekatan kontekstual. Pengembangan perangkat pembelajaran ini difokuskan pada penyusunan perangkat pembelajaran yang memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kerjasama dan literasi matematika siswa yang memenuhi kriteria efektif pada materi aritmetika sosial.

Perangkat pembelajaran yang dikembangkan meliputi Silabus, RPP, buku siswa, LKS, dan tes kemampuan literasi matematika. Model pengembangan perangkat yang akan digunakan pada penelitian ini adalah model Borg & Gall (1989) dengan 6 langkah yaitu penelitian dan pengumpulan data (research and information collecting), perencanaan (planning), pengembangan format produk awal (develop preliminary form of product), uji coba lapangan awal (preliminary field testing), merevisi hasil uji coba  (main product revision), dan uji pelaksanaan lapangan (main field testing), Sukmadinata, N. S. (2012).

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII B di SMP Negeri 4 Sumbang tahun pelajaran 2015/2016. Berdasarkan pretest yang dilakukan dipilih lima orang untuk mengukur karakter kerjasama dan keterampilan literasi matematika siswa secara lebih mendalam. Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar validasi perangkat, lembar pengamatan karakter kerjasama siswa, lembar pengamatan ketrampilan literasi matematika, lembar pengamatan kemampuan guru mengelola pembelajaran, lembar wawancara kerjasama, angket respon siswa, dan tes kemampuan literasi matematika.

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan pengamatan, wawancara dan dokumentasi. Metode analisis data pada penelitian ini terdiri dari uji validitas, uji kepraktisan perangkat pembelajaran, dan uji keefektifan pembelajaran. Analisis data untuk menilai kevalidan perangkat pembelajaran dilakukan oleh 5 validator menggunakan instrumen lembar validasi. Kepraktisan perangkat dinilai menggunakan lembar pengamatan kemampuan guru mengelola kelas dan lembar angket respon siswa. Keefektifan dinilai berdasarkan hasil uji ketuntasan, uji banding t-test, uji pengaruh atau regresi linier, uji gain dan uji t uji beda peningkatan, Nieveen, N. (1999).

Hasil validasi silabus diperoleh skor rata-rata nilai 4,18 (skor tertinggi 5) yang berarti perangkat silabus termasuk dalam kategori baik, hasil validasi RPP diperoleh skor rata-rata nilai 4,03 yang berarti perangkat RPP termasuk dalam kategori baik, hasil validasi buku siswa diperoleh skor rata-rata nilai 4, yang berarti perangkat buku siswa termasuk dalam kategori baik,  hasil validasi LKS diperoleh skor rata-rata nilai 3,96 yang berarti perangkat LKS termasuk dalam kategori baik, hasil validasi TKLM diperoleh skor rata-rata nilai 3,9 yang berarti perangkat dalam kategori baik.

Hasil uji validitas butir soal pretest menghasilkan nilai rxy > 0,349 untuk 10 soal sehingga dinyatakan valid. Hasil perhitungan uji reliabilitas butir soal pre test menghasilkan nilai r11 = 0,952 > 0,349 dengan derajat signifikansi 5% maka reliabilitas soal baik. Hasil perhitungan uji validitas butir soal post test 7 butir soal menghasilkan nilai rxy >  0,349 sehingga dinyatakan valid. Hasil perhitungan uji reliabilitas butir soal post test menghasilkan nilai r11 = 0,888 > 0,349 dengan derajat signifikansi 5 %, maka dapat disimpulkan butir soal post test mempunyai reliabilitas baik.

Hasil validasi instrumen instrumen kerjasama diperoleh skor rata-rata nilai 4,14 (baik), instrumen keterampilan literasi matematika diperoleh skor rata-rata nilai 4,06 (baik), instrumen kemampuan guru mengelola kelas diperoleh skor rata-rata nilai 4,16 (baik), angket respon siswa terhadap pembelajaran diperoleh skor rata-rata nilai 4,06 (baik). Hasil pengamatan kemampuan guru didapatkan rata-rata kemampuan guru mengelola pembelajaran adalah 4,43 (sangat baik) dan data respons siswa diperoleh rata-rata respon siswa sebesar 3,85 sehingga dapat dikatakan respon siswa terhadap pembelajaran positif.

Pembelajaran matematika materi aritmetika sosial model PBL berpendekatan kontekstual dinyatakan efektif, hal ini terlihat dari hasil ketuntasan individual diperoleh lebih dari 75% siswa telah mencapai KKM (66);  rataan hasil literasi matematika kelas yang mendapat perlakuan memperoleh 80,  lebih baik dari pada kelas yang tidak mendapat perlakuan yang hanya 64,42;  adanya pengaruh positif karakter kerjasama dan keterampilan literasi matematika terhadap kemampuan literasi matematika sebesar 82,1%; dan adanya peningkatan kerjasama, keterampilan literasi matematika dan kemampuan literasi matematika di kelas yang mendapat perlakuan.

Proses pengembangan diawali dengan menyusun perangkat pembelajaran sebagai draf awal selanjutnya dilakukan validasi oleh para ahli dibidangnya. Setelah  validasi oleh para ahli, tes KLM diujicobakan terlebih dahulu di kelas uji coba untuk mengetahui validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya beda soal. Perangkat pembelajaran dikatakan valid apabila perangkat yang dikembangkan telah divalidasi oleh ahli (validator) dan mendapat minimal nilai dengan kategori baik.

Prototipe 2 perangkat pembelajaran yang valid diujicobakan pada kelas eksperimen sehingga diperoleh perangkat pembelajaran yang praktis dan efektif sebagai bentuk final dari perangkat pembelajaran. Berdasarkan hasil validasi secara umum validator menyatakan silabus, RPP, buku siswa, LKS, dan TKLM sudah baik dan dapat digunakan dengan sedikit revisi.

Respons siswa diperoleh bahwa siswa memberikan respons positif karena untuk menumbuhkan motivasi belajar kontekstual telah digunakan dalam proses pembelajaran, sehingga siswa mempunyai respons positif untuk mengikuti pembelajaran. Hal ini sesuai pendapat Sardiman (2012:222) yang menunjukan bahwa pendekatan kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dipelajari dengan penerapannnya dalam kehidupan para siswa sehari-hari.

Uji ketuntasan secara individual dan uji ketuntasan secara klasikal pada nilai rata-rata TKLM kelas dengan model PBL berpendekatan kontekstual  telah tercapai. Hasil ini mendukung penelitian Munir, Widodo, dan Wardono (2012) yang mengembangkan perangkat pembelajaran dengan hasil siswa di kelas dengan model PBL telah mencapai ketuntasan belajar klasikal.Keberhasilan ini disebabkan karena pembelajaran menggunakan perangkat yang dikembangkan sesuai skenario model PBL berpendekatan kontekstual dan sejalan dengan  pendapat Padmavathy dan Mareesh (2013) yang menguraikan tahapan dalam pelaksanaan pembelajaran dengan model PBL yaitu pembelajaran dimulai dengan masalah yang harus dipecahkan, dan masalah ini diajukan  sedemikian rupa sehingga siswa mendapatkan pengetahuan baru sebelum mereka dapat memecahkan masalah. Siswa menafsirkan masalah, mengumpulkan informasi yang dibutuhkan, mengidentifikasi solusi yang mungkin, mengevaluasi pilihan-pilihan, dan menyimpulkan hasil pekerjaan.

Hasil analisis uji beda rata-rata tes kemampuan literasi matematika antara kelas dengan model PBL berpendekatan kontekstual lebih baik dibandingkan dengan kelas dengan pembelajaran konvensional. Hal ini disebabkan karena kelas dengan model PBL berpendekatan kontekstual lebih menekankan pada keaktifan dengan cara kerja kelompok secara heterogen dalam memecahkan permasalahan. Siswa diberikan masalah untuk diidentifikasi dan mencari sendiri informasi yang diperlukan untuk memecahkan permasalahan tersebut. Hasil pemecahan masalah kemudian dipresentasikan untuk ditanggapi oleh siswa lainnya.

Uji pengaruh dalam penelitian ini adalah pengaruh karakter kerjasama dan keterampilan literasi terhadap kemampuan literasi matematika. Berdasarkan perhitungan yang diperoleh sebelumnya, terlihat bahwa ada pengaruh yang cukup signifikan untuk karakter kerjasama dan keterampilan literasi terhadap kemampuan literasi matematika. Hal ini terlihat pula dari nilai pengamatan karakter kerjasama, nilai pengamatan keterampilan literasi matematika, dan nilai tes kemampuan literasi matematika pada kelas dengan model PBL berpendekatan kontekstual menunjukkan adanya pengaruh positif antar variabel-variabel tersebut.

Berdasarkan pengamatan, siswa lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran dan keterampilan terbangun melalui kegiatan diantaranya adalah mengidentifikasi masalah, mencari informasi yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah, diskusi, dan kegiatan presentasi hasil diskusi. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Etherington (2011) yang menyatakan pembelajaran model PBL memiliki dampak positif terhadap motivasi siswa.

Pembelajaran dengan pengembangan perangkat model PBL berpendekatan kontekstual mengalami peningkatan kemampuan literasi matematika.  Mudjiman (2008) menyatakan guru sebaiknya membiasakan siswa melakukan kegiatan secara mandiri atau kelompok, membiasakan siswa melakukan refleksi, membiasakan siswa melakukan self assessment, membiasakan berpikir kritis, membuat berbagai keputusan, membiasakan berpikir menyeluruh tidak sepotong-potong, membiasakan mempraktikkan konsep-konsep yang dipelajari, dan membiasakan kerja kelompok.

Berdasarkan pembahasan keseluruhan di atas, penelitian ini telah menghasilkan perangkat pembelajaran matematika yang valid dan praktis serta proses pembelajaran yang efektif. Dapat disimpulkan, penelitian ini telah berhasil memperoleh tujuan penelitian yang diharapkan.

Kesimpulan:

  1. Pengembangan perangkat pembelajaran matematika model PBL berpendekatan kontekstual materi aritmetika sosial kelas VII ini menggunakan model pengembangan Borg & Gall (Research & Development) yang dimodifikasi menjadi 6 langkah. Berdasarkan pertimbangan para ahli,  pengembangan perangkat pembelajaran materi aritmetika sosial model PBL berpendekatan kontekstual dinyatakan valid. Hal ini ditunjukkan dari hasil rata-rata validasi ahli untuk silabus adalah 4,17 (baik),  RPP adalah 4,02 (baik),  LKS adalah 3,96 (baik), buku siswa adalah 4,06 (baik), dan TKLM adalah 3,85 (baik).
  2. Pembelajaran matematika materi aritmetika sosial model PBL berpendekatan kontekstual diinyatakan praktis, yaitu data kemampuan guru dalam mengelola kelas dalam kategori “baik”, hasil perhitungan respon siswa kategori “baik”.
  3. Pembelajaran matematika materi aritmetika sosial model PBL berpendekatan kontekstual dinyatakan efektif, karena tuntas individual dan klasikal, rataan hasil literasi matematika kelas model PBL berpendekatan kontekstual  lebih baik dari pada kelas pembelajaran konvensional, karakter kerjasama dan keterampilan literasi matematika berpengaruh positif terhadap kemampuan literasi matematika, dan terdapat peningkatan kemampuan literasi matematika.

Saran dalam penelitian ini adalah kelemahan model PBL berpendekatan kontekstual yaitu dalam pelaksanaan tugas mandiri yang dilakukan secara kelompok, siswa kelompok bawah harus selalu diingatkan agar menyelesaikan tugas dengan serius dan tepat waktu, dan guru juga memperhatikan penanaman karakter dan keterampilan dan tidak hanya memperhatikan kemampuannya saja.

DAFAR PUSTAKA

Etherington. 2011. Investigative Primary Science: A Problem-based Learning Approach. Australian Journal of Teacher Education, vol. 36, No. 9, 36-57.

Mudjiman,H. 2008. Belajar Mandiri. Surakarta. LPP UNS

Nurhadi. 2004. Pendekatan Kontekstual. (Contextual Teaching and Learning CTL). Departemen Pendidikan Nasional.

Nieveen, N. 1999.  Prototyping to Reach Product Quality.  Dalam Jan Van den Akker. R.M. Branh,K. Gustafson, N. Nieveen & Tj. Plomp (Eds) Design Approaches and Tools in Education and Training,  125 – 135. Dordrecht, Nederland: Kluwer Academic Publisher.

Padmavathy dan Mareesh. 2013. Effectiveness of    Problem   Based Learning In Mathematics. International Multidisciplinary e-Journal, vol 2, No. 1, 45-51.

Sardiman, A.M. 2012. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sukmadinata, N. S. 2012. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *