infopasti.net

PTK SMA Model CTL Untuk Meningkatkan Daya Serap Fisika

MODEL PEMBELAJARAN CTL UNTUK MENINGKATAN DAYA SERAP FISIKA TENTANG FLUIDA DIAM BAGI SISWA SMA NEGERI 2 KEBUMEN KELAS XI.IPA.2 SEMESTER GASAL TAHUN 2012/2013

ABSTRAK

            Daya serap siswa terhadap mata pelajaran Fisika di kelas XI.IPA.2 SMA Negeri 2 Kebumen Kabupaten Kebumen masih rendah (4,63). Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah ketidaktepatan pemilihan metode belajar. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk membuktikan bahwa daya serap siswa pada mata pelajaran fisika di kelas IX.IA.2 SMA Negeri 2 Kebumen Kabupaten Kebumen dapat meningkat dengan digunakannya model pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning). Dipilih kelas XI.IA.2 karena kelas ini menunjukan prestasi belajar yang paling rendah pada mata pelajaran fisika dari tujuh kelas yang ada. Jumlah siswa seluruhnya 37 siswa terdiri dari 21 siswa putri dan 16 siswa putra. PTK ini terdiri empat siklus dengan setiap siklus terdiri atas (1) perencanaan (2) pelaksanaan (3) observasi dan (4) refleksi. Data tersebut dianalisis melalui tiga tahapan reduksi data, paparan data, dan penyimpulan. Hasil PTK menunjukan ada peningkatan daya serap siswa dari siklus I sampai III, tetapi batas ketuntasan belum tercapai. Nilai rata-rata kelas juga menunjukan peningkatan pada setiap siklusnya. Rentangan nilai juga semakin menyempit. Simpulan PTK ini adalah model pembelajaran CTL dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan daya serap siswa pada mata pelajaran fisika di kelas IX.IPA.2 SMA Negeri 2 Kebumen Kabupaten Kebumen. Namun, mengingat pelaksanaan PTK baru berjalan tiga siklus, PTK perlu dilanjutkan dengan menambah jumlah siklus hingga mendapat hasil yang lebih nyata. Dengan melihat hasil yang sudah dicapai melalui model pembelajaran CTL dapat meningkatkan daya serap siswa dan meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa, strategi serupa bisa diterapkan sepanjang kelas yang memiliki karakteristik yang sama atau mirip.

Kata kunci : daya serap , CTL , Fluida diam

PENDAHULUAN

Pengalaman pada hasil ulangan harian pertama pada semester gasal tahun pelajaran 2012/2013 menunjukan bahwa prestasi belajar siswa kelas XI.IPA.2 SMA Negeri 2 Kebumen Kabupaten Kebumen pada mata pelajaran Fisika masih relatife rendah.Kenyataan ini bisa dilihat dari hasil ulangan harian yang menunjukan ketuntasan belajar baik secara individual maupun secara klasikal belum sesuai yang diharapkan (60 %), sedangkan rata-rata daya serap siswa hanya 4,63. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor, salah satunya adalah bahwa pada proses pembelajaran Fisika semakin bergeser dari rel yang seharusnya, yakni dari pembelajaran yang akrab dengan praktek atau percobaan, laboratorium, dan lingkungan, ke sebuah pembelajaran ceramah, latihan soal, jarang dan bahkan tidak pernah menggunakan fasilitas laboratorium atau fasilitas yang ada di lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat tinggal siswa.

Salah satu Model Pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang akan digunakan dalam objek penelitian ini adalah model pembelajaran pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning / CTL). Mengapa pendekatan konstektual sebagai pilihan dalam pembelajaran fisika ? Ada beberapa alasan yang mendasari mengapa pendekatan kontekstual menjadi pilihan pada pembelajaran fisika antara lain sebagai berikut  :

  1. Fisika adalah pembelajaran yang tidak dapat dipisahkan dari lingkungan, oleh sebab itu dalam pembelajarannya pun tidak boleh mengabaikan aspek lingkungan. CTL maupun mengaitkan antara materi pelajaran di sekolah dengan lingkungan dimana siswa berada.
  2. CTL adalah sebuah pembelajaran yang tidak berorientasi pada penguasaan materi semata, tetapi meletakkan dasar-dasar pengetahuan yang mendalam dimana siswa kaya akan pemahaman masalah dan cara untuk menyelesaikannya. Dan inilah sebenarnya inti dari pengajaran fisika.
  3. Dalam KTSP, pembelajaran kontekstual menjadi tumpuan harapan pendidikan dan pengajaran dalam upaya “menghidupkan” kelas secara maksimal.
  4. CTL dapat mengubah tradisi dari teacher-oriented ke student-oriented yang lebih memberdayakan siswa.

Berdasarkan latar belakang masalah,identifikasi masalah dan pembatasan masalah tersebut di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut  :

  1. Apakah melalui model pembelajaran CTL dapat meningkatkan daya serap fisika tentang fluida diam bagi siswa kelas XI.IPA.2 SMA Negeri 2 Kebumen pada semester gasal tahun 2012/2013?
  2. Sejauh mana pendekatan contextual teaching and learning dapat meningkatkan daya serap siswa pada mata pelajaran fisika pokok bahasan fluida diam ?

Ausebel (dalam Noehi, 2002 : 43) dalam bukunya Educational Psychology : A Cognitive View, menyatakan bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar adalah apa yang telah diketahui siswa. Menurut Gagne (dalam Noehi, 2002 : 43) agar terjadi belajar bermakna maka konsep baru atau pengetahuan baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif siswa. Belajar ini merupakan suatu proses yang memungkinkan seseorang untuk mengubah tingkah lakunya cukup cepat, dan perubahan tersebut bersifat relatif tetap, sehingga perubahan yang serupa tidak perlu terjadi berulang kali setiap menghadapi situasi yang baru. Supaya terjadi kaitan yang kuat dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip baru ini, para siswa diajak untuk bersikap kritis, yaitu penerimaannya melalui tahap negoisasi. Penerimaan konsep dan prinsip baru tanpa tahap negoisasi ini disebut pembelajaran hapalan (rote learning), yang tidak mendukung pembelajaran bermakna (meaningful learning) dan akan lekas terlupakan (Depdiknas, 2000).

Menurut filosofi konstruktivisme pengetahuan bersifat non-objektif, temporer, dan selalu berubah. Segala sesuatu bersifat temporer, berubah, dan tidak menentu. Kitalah yang memberi makna terhadap realitas yang ada. Pengatahuan tidak pasti dan tidak tetap. Belajar adalah pemaknaan pengetahuan dan mengajar diartikan sebagai kegiatan atau proses menggali makna, bukan memindahkan pengetahuan kepada orang yang belajar (Nurhadi dan Agus, 2003 : 9).

Menurut Johnson (dalam Agus dan Nurhadi, 2002 : 12) CTL merupakan proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam  bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sistem CTL akan menuntun siswa melalui kedelapan komponen utama CTL : melakukan hubungan yang bermakna, mengerjakan pekerjaan yang berarti, mengatur cara belajar sendiri, bekerjasama, berfikir kritis dan kreatif, memelihara/merawat pribadi siswa, mencapai standar yang tinggi.

Berdasarkan uraian latar belakang masalah ,rumusan masalah ,kajian teori dan kerangka berfikir diatas maka dapat diajukan hipotesis tindakan sebagai berikut melalui model pembelajaran CTL  dapat meningkatkan daya serap fisika tentang fluida diam bagi siswa SMA Negeri 2 Kebumen  Kelas XI.IPA.2 pada semester gasal tahun pelajaran 2012/2013. Penelitaian tindakan kelas dilakukan di kelas XI.IPA.2 SMA Negeri 2  Kabupaten Kebumen semester gasal tahun pelajaran 2012/2013, dari empat kelas pararel yang ada kelas XI.IPA.2. Kelas ini memiliki jumlah siswa 37 siswa, dengan rincian 21 siswa putrid dan 16 siswa putra. Dipilihnya kelas XI.IPA.2 karena beberapa alasan, Kelas XI.IPA.2 menunjukan kecenderungan memiliki prestasi belajar yang lebih rendah di bandingkan dengan kelas lain pada beberapa ulangan harian.Skor yang diperoleh relatif lebih berfariasi dengan rentangan nilai yang cukup besar. Suasana kelas kurang bergairah, sebagian besar siswa masih pasif, kurang berani bertanya dan mengemukakan pendapat.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

Sebagai umpan balik dari pelaksanaan model pembelajaran CTL pada siklus I dengan sub pokok bahasan tekanan hidrostatik diberikan ulangan  harian 2 yang diikuti seluruh siswa kelas XI.IPA.2. Hasil tes diperoleh nilai rata-rata kelas 5,32, nilai tertinggi 7,0, dan nilai terendah 2,9, dan jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 9 siswa (24 %). Hasil evaluasi prestasi belajar siswa pada siklus II dengan sub pokok bahasan mengapung, melayang, dan tenggelam melalui ulangan harian 3 yang diikuti oleh 36 siswa dari 37 siswa kelas XI.IPA.2 diperoleh nilai rata-rata kelas 5,77, nilai tertinggi 8,6, dan nilai terendah 3,2. Jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 14 siswa (39 %). Sedangkan pada soal uraian kesalahan dalam mengkonversi satuan sudah banyak berkurang. Ketelitian siswa dalam mengerjakan soal uraian masih sangat kurang, baik dalam memahami soal maupun dalam penyelesaian soal. Pelaksanaan ulangan harian pada siklus III diperoleh hasil ke 4, nilai rata-rata kelas 6,25, nilai tertinggi 8,2, nilai terendah 4,6, dan jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 20 siswa (54 %) dari 37 siswa.

Pembahasan hasil daya serap dan frequensi dari siklus I merupakan siklus penjajakan atau penyesuaian siswa, dari kebiasaan belajar yang hanya dituntun melalui metode ceramah oleh guru ke metode yang belajar yang berorientasi pada siswa. Memperkenalkan suatu metode baru kepada siswa tidak bisa diharapkan langsung berhasil. Kendala-kendala yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya akan muncul pada saat pelaksanaan, seperti adanya perasaan enggan untuk mengubah kebiasaan belajar yang sudah dilakukan sekian lama. Hal ini bisa di tunjukan pada hasil angket pada siklus I yang menganggap bahwa belajar dengan model pembelajaran CTL hanya akan menambah beban kerja (27 %), bahkan membuang waktu saja (24 %), dan hanya (18 %) yang menganggap belajar dengan CTL menyenangkan, menggairahkan dalam belajar, dan memudahkan untuk menguasai materi. Sebagian besar siswa (42 %) menghendaki guru mengerjakan strategi-strategi belajar.

Disisi lain keberanian siswa untuk bertanya masih kurang, hanya beberapa siswa tertentu yang berani menanyakan hal-hal yang belum paham kepada guru, sedangkan sebagian besar siswa masih enggan untuk bertanya dan dalam menjawab pertanyaanpun masih serentak. Suasana belajar agak ramai, banyak siswa yang bercerita sendiri. Keadaan ini mungkin bisa dimaklumi karena setiap kelompok beranggotakan siswa cukup banyak (7 sampai 8 siswa).

Dengan belajar pada keadaan tersebut perlu adanya langkah-langkah perbaikan untuk pelaksanaan KBM pada siklus II, diantaranya adalah sebagai berikut  :

  1. Untuk menghindari kesalahan dalam melakukan percobaan perlu adanya pnjelasan lagi dari guru tentang prosedur meskipun sudah ada petunjuk percobaan.
  2. Agar pembelajaran kooperatif lebih meningkat, perlu di bentuk kelompok yang beranggotakan lebih kecil lagi yaitu setiap kelompok beranggotakan 4 sampai 5 orang. Pembagian kelompok dilakukan oleh guru dengan memperhatikan kemampuan akademik siswa.
  3. Dikembangkan sikap berani bertanya dan berani menjawab pertanyaan pada siswa.

Pembahasan hasil daya serap dan frequensi siklus II dari data tabel 3 jika di refleksikan dengan hasil daya serap dan frequensi siklus I dari data tabel 2 dapat dijelaskan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, telah dilakukan perbaikan pada siklus II. Hasil belajar pada siklus II menunjukan adanya peningkatan, meskipun tidak begitu signifikan. Nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan dari 5,32 menjadi 5,77. Jumlah siswa yang tuntas belajar juga menunjukan peningkatan dari 9 anak (24 %) menjadi 14 anak (39 %), namun ketuntasan belajar baik secara individu maupun klasikal belum tercapai. Ada beberapa hal yang mempengaruhi peningkatan hasil belajar ini.

Siswa sudah memahami belajar dengan model pembelajaran CTL. Hasil angket pada siklus II menunjukan peningkatan persentase yang memberikan jawaban positif dan menurunnya persentase siswa yang memberikan jawaban negatif terhadap model pembelajaran CTL. Kesalahan dalam prosedur percobaan sudah berkurang, hanya kecerobohan-kecerobohan kecil dalam percobaan masih dijumpai, seperti dalam menambahkan air tidak sedikit demi sedikit, tetapi langsung banyak, sehingga hasil percobaan tidak seperti yang diharapkan.

Aktivitas siswa sudah mulai merata, karena dengan kelompok yang jumlah anggotanya lebih sedikit, setiap personil dalam kelompok tersebut mendapat tugas kerja. Ini menyebabkan suasana kelas relatif tenang tidak seramai pada siklus I dan siswa yang nganggur hampir tidak ada. Namun demikian dari pengalaman belajar pada siklus II ada hal yang cukup menarik bahwa kemampuan psikomotorik beberapa siswa tidak sinergis dengan kemampuan kognitif. Ada siswa yang nilai kognitifnya baik tetapi kurang cekatan dalam melakukan percobaan. Hal ini umumnya dialami oleh siswa putri, sedangkan siswa putra pada umumnya lebih agresif dalam melakukan percobaan.

Pembahasan hasil daya serap dan frequensi dari siklus III data tabel 4 jika direfleksikan dengan hasil daya serap dan frequensi kondisi awal dapat dijelaskan dengan histogram di bawah ini. Pembahasan daya serap dan frequensi jika di refleksika dari siklus III secara keseluruhan sampai kondisi awal dapat dijelaskan dengan histogram di bawah ini.

 histogramaDari histogram diatas dapat dijelaskan daya serap dan frequensi dari kondisi awal ke siklus I ada peningkatan,daya serap dan frequensi dari siklus I ke siklus II ada peningkatan, daya serap dan frequensi dari siklus II ke siklus III ada peningkatan dan daya serap dan frequensi dari kondisi awal ke siklus III ada peningkatan.

Untuk lebih jelasnya lagi dapat melihat data nilai secara keseluruhan melalui histogram di bawah ini.

histogramDari histogram diatas dapat dijelaskan (nilai rata-rata kelas,nilai tertinggi dan nilai terendah) dari kondisi awal ke siklus I ada peningkatan, (nilai rata-rata kelas,nilai tertinggidan nilai terendah) dari siklus I ke siklus II ada peningkatan, (nilai rata-rata kelas,nilai tertinggidan nilai terendah) dari siklus II ke siklus III ada peningkatan dan (nilai rata-rata kelas,nilai tertinggidan nilai terendah)  dari kondisi awal ke siklus III ada peningkatan.Jadi dapat di simpulkan melalui model pembelajaran CTL(Contextual Teaching and Learning) dapat meningkatkan daya serap Fisika tentang fluida diam.

Selama siklus III dilakukan perbaikan berdasarkan hasil refleksi pada siklus II. Aktivitas siswa tampak lebih tertib, masing-masing anggota sudah, mengerti tugas dan tanggungjawabnya. Pertanyaan yang keluar dari pokok bahasan dan hanya bersifat sendau gurau sudah sangat berkurang. Siswa sudah semakin serius dalam melakukan percobaan dan kesalahan-kesalahan dalam melakukan percobaan tidak lagi banyak dijumpai.

Masalah klasik yang dihadapi pada pembelajaran fisika adalah kemampuan matematis dari siswa pada umumnya masih lemah, sebagaiman hasil angket kesulitan mempelajari fisika adalah pada hitungan matematisnya (42 %) padahal untuk memahami suatu konsep dalam fisika tidak jarang membutuhkan pengetahuan dasar matematis yang memadai. Di kelas XI.IPA.2, secara umum kemampuan dasar tentang matematika masih sangat kurang, sehingga untuk materi maupun soal yang membutuhkan pemahaman secara matematis sedikit mengalami kesulitan. Kendala ini membuat siswa dalam mempelajari fisika membutuhkan waktu yang lebih lama. Sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan ini memang butuh waktu dan kerjasama lintas mata pelajaran, khususnya antara mata pelajaran fisika dan matematika yang selam ini belum pernah dilaksanakan. Namun demikian dengan penerapan model pembelajaran CTL beban matematis sedikit terkurangi. Anggapan bahwa pelajaran fisika sarat dengan hitungan matematis sudah mulai berkurang.

Sebagaimana dikemukakan di depan bahwa sesuatu yang sangat utama dalam pembelajaran fisika tetapi sekarang banyak diabaikan bahkan ditinggalkan oleh guru adalah kegiatan praktikum di laboratorium. Hasil angket menunjukan bahwa sebagian besar siswa lebih senang kegiatan praktikum di laboratorium daripada membahas materi di kelas (54 %). Akan tetapi untuk melaksanakan kegiatan ini di SMA Negeri 2 Kebumen Kabupaten Kebumen belum bisa dijalankan sepenuhnya, mengingat laboratorium dan fasilitasnya belum memadai. Pada saat ini SMA Negeri 2 Kebumen Kabupaten Kebumen baru mempunyai 1 laboratorium yang digunakan sebaga laboratorium barsama fisika, kimia, dan biologi. Harapan ke depan sekaligus menyongsong Kurikulum Berbasis Kompetensi keberadaan laboratorium untuk mata pelajaran fisika, kimia, dan biologi menjadi hal yang sangat penting, agar pembelajaran mata pelajaran tersebut dapat berjalan secara optimal.Dari pembahasan hasil angket yang di peroleh dari kondisi awal,kondisi siklus I,kondisi siklus II dan siklus III ada peningkatan siswa lebih senang kegiatan praktikum di laboratorium. Jadi dapat di simpulkan melalui model pembelajaran CTL dengan memfungsikan kegiatan praktikum di laboratorium siswa cenderung lebih senang dan mudah memahami Fisika tentang” Fluida Diam”.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

   Berdasarkan pada hasil penelitian siklus 1, siklus 2, dan siklus 3 yang menerapkan melalui model pembelajaran  CTL (Contextual Teaching and Learning), menunjukan bahwa pembelajaran menjadi menyenangkan, menggairahkan, siswa menjadi aktif, kreatif, antusias. Materi lebih mudah dipahami oleh siswa (bermakna). Dengan demikian, simpulan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut  :

  1. Penerapan melalui model pembelajaran CTL dalam mempelajari materi Fisika tentang “Fluida Diam” baik secara teori maupun secara empiris dapat meningkatkan daya serap siswa secara klasikal bagi siswa kelas XI.IPA.2 SMA Negeri 2 Kebumen pada semester gasal tahun 2012/2013 di Kabupaten Kebumen.
  2. Dengan menfungsikan kembali laboratorium sebagai sentral pembelajaran fisika melalui model pembelajaran CTL, pembelajaran fisika tentang” Fluida Diam” lebih produktif menyenangkan dan mudah dipahami (bermakna) bagi siswa kela XI.IPA.2 SMA Negeri 2 Kebumen pada semester gasal Tahun 2012/2013di Kabupaten Kebumen.
  3. Dengan model pembelajaran CTL dalam pembelajaran Fisika materi tentang Fluida Diam, tiga aspek kemampuan yang ada pada diri siswa yakni aspek efektif, kognitif, dan psikomotorik dapat berkembang secara optimal bagi siswa kela XI.IPA.2 SMA Negeri 2 Kebumen pada semester gasal Tahun 2012/2013 di Kabupaten Kebumen .

Saran

Dengan melihat hasil yang dicapai dengan penggunaan model pembelajaran  CTL dalam meningkatkan daya serap siswa kelas XI.IPA.2 SMA Negeri 2 Kebumen Kabupaten Kebumen, agar pembelajaran fisika lebih efektif disarankan hal-hal sebagai berikut  :

  1. Model pembelajaran CTL dapat diterapkan sepanjang kelas dan untuk semua mata pelajaran disesuaikan dengan karakteristiknya masing-masing.
  2. Sarana dan prasarana laboratorium lebih ditingkatkan dan menggairahkan kembali akan pentingnya fungsi laboratorium bagi sebuah pembelajaran fisika
  3. Lebih ditingkatkan kerjasama lintas mata pelajaran, khususnya untuk mata pelajaran matematika dengan fisika. Masalah klasik yang sampai saat ini menjadi penghambat dalam pembelajaran fisika adalah kemampuan matematis dari siswa yang lemah.

DAFTAR PUSTAKA

Marthen Kanginan. 2000. Fisika IB. Jakarta. Erlangga

Nasution, Noehi dan A.A. Ketut Budiastra. 2002. Modul Pendidikan IPA di SD. Jakarta  :  Universitas Terbuka.

Nurhadi dan Agus Gerrad Senduk. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapan dalam KBK. Malang. Universitas Negeri Malang.

Sentana, Tata. 1992. Fluida dan Kesetimbangan Benda Tegar. Bandung. Pakar.  Raya

Taranggono, Agus. 2000. Sains Fisika IB. 2000. Jakarta. Bumi Aksara.

Tim Penyusun Pedoman Kurikulum. 2000, Metode Alternatif Belajar / Mengajar IPA. Jakarta. Depdiknas. Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pendidikan Menengah Umum. Proyek Peningkatan Mutu SMU.

BIODATA

Nama          : R.Hady Wahono

Unit Kerja   : SMA N 2 Kebumen

Pangkat/Gol : Pembina Utama  Muda/IV/c




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *